Tuesday, August 15, 2017

An Evening with Paganini



AN EVENING WITH PAGANINI 
Konser Duo Memainkan Karya-Karya Niccolo Paganini 

Robert Brown (violin) - Lianto Tjahjoputro (gitar)

Sabtu, 19 Agustus 2017
Auditorium IFI - Bandung
Jalan Purnawarman no. 32
Jam 19.30 - 21.00

Tiket Rp. 50.000
Narahubung: Syarif Maulana (0817212404) 

Program:
1. Centone di Sonate n.1.violin and guitar
     Introduzione Larghetto
     Allegro Maestoso tempo di marcia
     Rondoncino
2. Op3. N.4  violin and guitar
     Andante Largo
     Allegretto
3. Caprice n. 24 Guitar solo

Interval

4. Centone di Sonate n. 3 violin and guitar
     Introduzione prestissimo
     Larghetto cantabile
5. Op.3 n. 4 violin and guitar
     Andante
     allegro vivo e spiritoso
6. Caprice n. 5 guitar solo
7. Caprice n. 17 violin solo
8. Caprice 24 violin and guitar

Minggu, 20 Agustus 2017

Masterclass Robert Brown
Jonim Musik
Jalan Bukit Dago Selatan No. 31
Narahubung: Goeti (0812-2347-730)

Masterclass Lianto Tjahjoputro
Kitharra Guitar Shop
Jalan Sukasenang V no. 3
Narahubung: Kristianus (0857-2052-6364)

Aktif: Rp. 350.000
Pasif: Rp. 100.000

Lianto Tjahjoputro, merupakan salah satu gitaris klasik Indonesia yang tinggal di Bali. Lahir di Banyuwangi, 14 Januari 1963, dan belajar gitar sejak usia 11 tahun kepada ayahnya. Ia juga belajar di Yasmi Surabaya kepada para gurunya yaitu Trie, Priadi, Yanto dan Jos Breddie (salah seorang murid Dick Visser di Belanda). Pada tahun 1984 Ia belajar kepada Profesor Eliot Fisk (salah seorang murid Andres Segovia) di Koln, Jerman Barat. Tahun  1991 Ia menang dalam acara Mimbar Juara Indonesia Gitar Klasik (Indonesian Classical Guitar Champion). Namanya juga tercatat dalam ensiklopedi musik internasional “Enciclopedia de la Guitarra”, yang diterbitkan oleh Fransisco Herrera. Di tahun 2008 channel-nya “Virtuoso Guitarist from Indonesia” di youtube cukup banyak menyedot perhatian dunia. Sejak tahun 2009 – 2014, Lianto Tjahjoputro banyak mentranskripsi lagu - lagu yang awalnya impossible atau tidak mungkin untuk dimainkan di gitar, diantaranya adalah Campanella karya Franz Liszt, Johannes Passion karya Bach (Herr ünser Herrscher) yang dikerjakan selama 2 tahun, dan Matthaus Passion karya Bach (Kommt, ihr  Töchter, helft mir klagen) yang dikerjakan selama 3 tahun.

Robert Brown (Putu Merta), lahir di Amerika Serikat dan merupakan lulusan dari Manhattan School of Music dengan gelar Bachelor of Music dan Master of Music. Beliau memiliki pengalaman panjang dan bervariasi sebagai musisi dan pemain orkestra yang pernah bekerja dengan ensemble seperti: the Houston, Atlanta and American symphony orchestras di Amerika Serikat, "Les Arts Florissant" di Paris, "l'Orchestra del Accademia Nazionale di Santa Cecilia "di Roma, dan " Orchestra of the Age Enlightment "di London dan dengan konduktor seperti; Leopold Stokowski, Sir John Barbirolli, dan Carlos Kleiber. Beliau adalah anggota pendiri dari periode instrumen ensemble Italia "Europa Galante" yang telah mengadakan tur di berbagai negara. Ia telah menikah dengan seorang wanita Bali, dan sekarang ia pun memiliki nama Bali.

Sunday, May 07, 2017

Profil Juri Kompetisi Gitar KlabKlassik

Jubing Kristianto


Jubing Kristianto adalah gitaris akustik tunggal di Indonesia yang paling sering tampil di beragam jenis even, konser, serta stasiun-stasiun radio dan televisi nasional. Ia telah menghasilkan lima album solo gitar akustik --Becak Fantasy (2007),  Hujan Fantasy (2008),  Delman Fantasy (2009), Kaki Langit (2011), dan Pagi Putih (2011) -- yang mendapat sambutan positif dari penikmat dan pengamat musik, serta media massa. Jubing dikenal mampu menghadirkan berbagai suasana dan emosi cukup lewat petikan enam senar gitarnya.  Lingkup jenis musik yang ia mainkan bermacam-macam mulai dari klasik, pop, rock, jazz,  hingga etnik. Permainan gitarnya juga banyak menginspirasi generasi lebih muda untuk menekuni seni bermain gitar tunggal. Penghargaan yang pernah ia peroleh antara lain: 

- Nominasi solois instrumentalia terbaik "Anugerah Musik Indonesia 2011" untuk album Kaki Langit  
- Nominasi album instrumentalia terbaik "Anugerah Musik Indonesia 2010" untuk Delman Fantasy
- Majalah Rolling Stone Indonesia memilih Becak Fantasy sebagai "20 Album Indonesia Terbaik 2008".  
- Majalah GitarPlus memilih Hujan Fantasy sebagai salah satu "album gitar yang paling menggetarkan tahun 2008" 

Jubing juga juga menulis buku Gitarpedia: Buku Pintar Gitaris (2005) dan Membongkar Rahasia Chord Gitar (2007). Keduanya diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama dan telah mengalami cetak ulang. Artist-endorsee untuk gitar akustik Yamaha dan ampli VOX ini mulai belajar gitar klasik sejak tahun 1981. Kemudian tahun 1987, 1992, 1994, dan 1995, ia menjadi Juara I kompetisi gitar akustik Yamaha Festival Gitar Indonesia. Ia juga pernah meraih Distinguished Award pada Yamaha South-East Asian Guitar Festival 1984 di Hongkong.

Ridwan B. Tjiptahardja
Ridwan B. Tjiptahardja merupakan gitaris klasik dan guru gitar senior di Bandung. Ridwan dikenal sebagai gitaris dengan tone color yang tebal dengan petikan kuat. Prestasi yang pernah diraihnya antara Juara I Solo Gitar di LPK Aryanti Bandung (1993), Juara I Festival Gitar Klasik - Pameran Bandung Expo (1994), Finalis Yamaha Festival Gitar Indonesia (1995), Juara II Klasik Senior - Yamaha Festival Gitar Indonesia (1996), Juara I Klasik Senior - Yamaha Festival Gitar Indonesia (1997), Juara II Festival Gitar Akustik Se-Jawa Bali (1998), dan Juara II Klasik Senior - Yamaha Festival Gitar Indonesia (1999), Finalis International Guitar Competition di Singapore (2005). Selain mengajar dan tampil, Ridwan juga diundang sebagai seminator untuk guru-guru Yamaha Music di Bandung, penguji tetap ujian Yamaha Music dan Mawar Music setiap tahun, dan juri di beberapa kompetisi gitar klasik.


Ance Pareira

Ance lahir dari keluarga musisi di Flores, mulai belajar musik di Mattaloko Seminary di Flores. Ia pernah mengikuti masterclass dari Tadashi Koizumi, Bubby Chen, Josh Breddy dan Danny Tumiwa.  Dari tahun 1973 sampai 1987, Ance menjadi instruktur di YMI Bandung dan Ujungpandang. Kemudian dari tahun 1988 dan 1995, ia menjadi chief instructor di Purwacaraka Music Studio Bandung (PCMS) serta penyusun buku gitar klasik dan pemberi seminar para instruktur PCMS: How to Teach Better. Sudah tak terhitung berapa murid yang berhasil di tangannya. Dua diantaranya adalah Royke B. Koapaha dan Venche Manuhutu.

Tuesday, May 02, 2017

Daftarkan Diri Anda / Murid-Murid Anda di Kompetisi Gitar Klabklassik


Setelah menyelenggarakan festival gitar klasik bertajuk Classical Guitar Fiesta di tahun 2006, 2008, 2010, 2012, dan 2014, KlabKlassik kali ini membuat format lain yaitu kompetisi gitar. Kompetisi Gitar KlabKlassik adalah yang pertama kali diadakan dan dikhususkan bagi para peserta berusia muda, yaitu dalam rentang sembilan hingga delapan belas tahun. Sasaran ini dibuat sebagai bentuk konsistensi KlabKlassik dalam pemberdayaan masyarakat melalui musik klasik, yang sangat penting dibangun sejak remaja, bahkan anak-anak. Kompetisi Gitar KlabKlassik, yang diselenggarakan pada tanggal 29 - 30 Juli 2017 di Pusat Kebudayaan Prancis - Bandung (IFI - Bandung) ini, mengundang tiga gitaris dan juga guru gitar klasik senior yaitu Jubing Kristiano, Ridwan B. Tjiptahardja, dan Ance Pareira sebagai juri. Mari ikuti Kompetisi Gitar KlabKlassik untuk sebuah pengalaman berkompetisi yang sehat dan mendidik.  

Download formulirnya di sini atau di sini atau dapat dengan mengirimkan e-mail kosong dengan subjek "formulir pendaftaran klabklassik" ke kgkk0717@gmail.com.

Monday, April 24, 2017

Musik Klasik Bandung Pasca Mutia Dharma

Mutia Dharma (tengah) bersama saya ketika siaran di 100.4 KLCBS dalam rangka konser Ragazze Quartet (2014)

Tanggal 27 Februari kemarin, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, di ruang ICU RS Santo Yusuf, seorang aktivis musik klasik berjuang meregang nyawa melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya dalam setahun terakhir. Tubuh sang aktivis tersebut akhirnya menyerah dan memilih untuk melepas jiwa pada Sang Khalik. Mutia Dharma adalah aktivis musik klasik yang bisa dikatakan tidak tertandingi di Bandung. Entah berapa banyak konser dan workshop yang sudah ia adakan, baik level lokal maupun internasional. Jika berusaha dikira-kira, pada masa jayanya (sebelum beliau mulai sakit), konser yang diadakan Mutia -dengan Classicorp Indonesia sebagai benderanya- bisa sampai paling sedikit dua bulan sekali diadakan -frekuensi lebih dari cukup untuk musik yang tidak terlalu banyak penggemarnya-. Artinya, wafatnya Mutia bisa menjadi dampak serius. Jika tidak ada regenerasi yang kuat, maka ini sama juga dengan kematian penyelenggaraan musik klasik di Kota Bandung.

Mari mengulas sedikit saja apa yang sudah dilakukan oleh Mutia semasa hidupnya untuk musik klasik -disamping ia juga aktif sebagai guru piano dan pianis konser- dari sekian banyak kontribusinya. Dari sepuluh tahun pengabdiannya, saya akan coba memaparkan program-programnya dalam tiga atau empat tahun terakhir saja: Resital Piano Danang Dirhamsyah (2013), Resital Biola Tomislav Dimov (2013), Masterclass oleh Tomislav Dimov dan Sam Haywood (2013), French Piano Competition (2013), Piano Pedagogy Workshop (2013), Kuliah dan Masterclass oleh Toru Oyama (2013), Bandung Piano Festival (2013), Klasikfest (2013), Masterclass Piano oleh Patrick Zygmanowski (2013), Konser Love and Misadventure (2014), Wind Festival (2014), Resital Biola Arya Pugala Kitti (2014), Resital Piano Elvira Kartikasari Budiman (2014), Frauenliebe (2014), Cello Class oleh Leslie Tan (2014), A Day at The Piano (2014), Resital Piano Leandro Christian (2014), Resital Vokal Catrina Poor (2014), Konser Ragazze Quartet (2014), Seminar Sehari Pedagogi Piano oleh Iswargia R. Sudarno (2014), Resital Biola dan Piano Finna Kurniawati dan Glenn Bagus (2014), Konser dan Festival Camp oleh Toru Oyama dan Dody Soetanto (2015), Resital Flute dan Piano oleh Marini Widyastari dan Harimada Kusuma (2015), Resital Piano Empat Tangan oleh Dr. Hyeesok Kim dan Dr. Mary Scanlan (2015), Resital Duo Victoria Audrey Saraswati dan Dainis Medjaniks (2015), Resital Biola Arya Pugala Kitti (2015), Bandung String Camp (2015), Ensemble Doulce Memoire (2015), Workshop "Basso Continuo" oleh Adhi Jacinth (2015), Kompetisi Piano untuk Pianis Muda Bandung (2015), Le Carnaval Des Animaux (2015), Chamber Concert (2015), dan Mozartfest (2015). Lalu sepertinya ketika mulai sakit, frekuensi konsernya menjadi turun drastis di tahun 2016 yaitu: Konser Domus String Quartet, Resital Duo Ardelia Padma Sawitri dan Felix Justin, dan terakhir Bandung String Camp.

Dengan produktifitas setinggi itu, rasanya mustahil bagi penyelenggara manapun untuk mampu menyaingi. Sebagai contoh, komunitas yang saya koordinir, KlabKlassik, meski usianya tidak jauh berbeda (sekitar sepuluh tahun), bisa menyelenggarakan lima atau enam konser setahun saja sudah bagus. Memang, fokus kami sedikit berbeda. Jika Classicorp memang mengabdikan diri pada konser-konser dan masterclass, KlabKlassik lebih pada pemberdayaan apresiator melalui komunitas (temu rutin mingguan). Namun poinnya adalah: Tidak ada yang benar-benar bisa menggantikan peran Mutia, setidaknya dalam waktu dekat ini. Celakanya lagi, sudah menjadi rahasia umum, bahwa Mutia adalah seorang petarung: Ia hampir mengerjakan semua konser itu seorang diri. Memang kemudian di hari-H, ia akan merekrut sejumlah orang untuk memberi bantuan, tapi sekali lagi, secara konseptual dan bahkan sejumlah teknis persiapan (seperti desain poster, tiket, booklet, hingga kontak musisi) dilakukannya secara solo. Artinya, bisa jadi, tidak ada suksesor, -yang bahkan dari Classicorp itu sendiri- yang berpotensi melanjutkan jalan pikiran beliau. 

Pasca era Mutia, mungkin penyelenggaraan musik klasik untuk sementara waktu akan jalan sendiri-sendiri. Dalam arti kata, setiap komunitas, setiap musisi, setiap sekolah musik, akan membuat konser dengan kelompoknya sendiri sebagai penyelenggara. Ini tentu saja tidak terlalu menjadi persoalan karena saya yakin setiap kelompok pasti ingin menonjolkan dirinya masing-masing. Hanya saja, dari kacamata publik, kerapatan penyelenggaraan mungkin tampak kurang jelas. Jika di masa Classicorp berjaya, kita bisa dengan mudah menemukan konser hampir sebulan sekali, maka mungkin nantinya -sebagai dampak dari penyelenggaraan masing-masing tersebut- frekuensi konser bisa menjadi tidak jelas: Bisa sebulan ada dua atau tiga konser, atau tidak ada konser sama sekali dalam periode yang lama. Pun hal tersebut bisa juga berdampak pada harga tiket. Setiap kelompok tentu punya persepsinya sendiri mengenai harga tiket, sehingga akhirnya tidak ada standar atau minimal range yang umum (bisa sangat mahal atau bisa juga tidak bayar sama sekali). Pada akhirnya, apresiator menjadi kian tersegmentasi (karena tidak sedikit penonton dari suatu kelompok tidak mau menonton pertunjukkan dari kelompok lain oleh sebab mulai dari harga tiket atau hal macam-macam lainnya). Dampak lebih jauhnya, nasib musisi muda bisa menjadi kurang berkembang karena tidak dihadapkan pada publik yang "sebenarnya" (karena itu tadi, yang menonton mungkin sebagian besar hanya dari kelompoknya sendiri).

Classicorp bukannya murni netral. Ia juga punya medan sosialnya sendiri: tempat penyelenggaraan yang itu-itu juga, sekolah musik yang diajak yang kurang lebih itu-itu juga, sampai musisi yang kurang lebih itu-itu lagi (terutama yang lokal). Tapi jangan lupa, Classicorp punya jejaring internasional yang luas sehingga ketika musisi-musisi luar negeri sukses didatangkan, dampaknya sangat baik bagi bersatunya seluruh apresiator dan musisi tanpa memandang sekat-sekat kelompok. Pertanyaannya: Siapa yang bisa melanjutkan jejaring internasional Mutia? KlabKlassik pernah beberapa kali mengadakan konser dengan penampil asing (Moritz Ernst, Bruno Procoppio, Urs Bruegger, Alessio Nebiolo, dan sebagainya). Tapi tetap, urusan frekuensi, masih jauh tertinggal dari Classicorp. Sekali lagi, jejaring internasional yang luas dan rapat tetap menjadi pekerjaan rumah bagi siapapun penerus Mutia nantinya.

Terakhir, penting untuk diingat, bahwa sebagaimanapun ramainya konser sepeninggal Mutia, tetap beliau selalu menguatkan rantai agar tidak terputus: aspek edukasi dan pembinaan generasi muda. Harus diakui, Mutia berhasil pelan-pelan membangun ekosistem musik klasik yang bagus dengan terus menyediakan panggung bagi musisi muda -yang dalam beberapa programnya, musisi muda tersebut terlebih dahulu diedukasi ilmu dan pengalaman dari musisi yang sudah malang melintang (misal: program string camp atau masterclass)-. Lewat program ini juga, Mutia berhasil menyatukan banyak orang dalam sebuah energi yang positif -karena demikianlah sifat edukasi jika dijalankan secara tulus-. 

Hanya saja, kalaupun Mutia bersikap seperti seorang petarung solo dalam menghadapi itu semua, pada akhirnya saya bisa mengerti juga. Di Indonesia dan khususnya di Bandung, untuk menjadi penyelenggara musik klasik dibutuhkan keimanan yang tidak main-main. Meski sudah menghadirkan musisi internasional ternama, kehadiran penonton tetap sulit untuk diprediksi -bisa ramai, bisa sedikit sekali-. Pun sponsor dengan dana besar atau media massa belum sepenuhnya menganggap penyelenggaraan musik klasik sebagai hal yang menarik. Penyelenggaraan musik klasik di Bandung, secara umum, masih mengandalkan dana dari tiket atau bahkan patungan dari para pemusik yang akan tampil. Itu sebabnya, mungkin, saya mencoba menebak pikiran Mutia: Daripada ia repot-repot mengajak orang yang belum punya level keimanan yang sama, lebih baik kerja sendiri saja. Hanya saja, ke depannya, meski sikap idealis tersebut terbukti tetap membuat program-program berjalan lancar, namun tetap mempunyai dampak kurang baik bagi regenerasi dan suksesi. Maka, siapapun penerus Mutia, bekerja dalam organisasi, meski kadang harus berbenturan dengan idealisme individu, pada akhirnya, tetap penting. Selain memudahkan kerja lapangan, juga untuk meneruskan tongkat kepemimpinan.

Syarif Maulana

Sunday, April 23, 2017

Menikmati Cello Sonata bersama Dani - Harimada

Minggu, 22 April 2017




KlabKlassik kembali mengadakan konser dengan menghadirkan duet cello – piano lewat penampilan Dani Kurnia dan Harimada Kusuma. Keduanya tampil membawakan tiga buah karya cello sonata dari Chopin, Debussy dan Shostakovich dengan durasi konser sekitar sembilan puluh menit. 

Dani – Harimada membuka resitalnya dengan karya Chopin yang berjudul Sonata for Cello and Piano in G Minor, Op. 65. Tidak banyak orang yang mengira bahwa Chopin juga mencipta karya untuk cello. Umumnya, komposer romantik asal Polandia tersebut dikenal karena karya-karyanya untuk piano. Meski demikian, konser kemarin sukses memberi wawasan bagi publik musik klasik Bandung tentang kepiawaian Chopin dalam mencipta karya untuk instrumen non-piano. Karya tersebut ditampilkan dalam empat bagian yaitu Allegro Moderato, Scherzo, Largo, dan Finale. Sonata for Cello and Piano in G Minor, Op. 65. tersebut merupakan salah satu karya yang ditulis Chopin di periode akhir hidupnya. 

Karya berikutnya, Dani – Harimada menampilkan komposisi yang ditulis oleh komposer impresionis asal Prancis, Claude Debussy. Debussy, seperti biasa, punya nuansa modern dalam karyanya yang menunjukkan suatu visi yang melebihi zaman ketika komposisi tersebut ditulis pada awal abad ke-20. Karya berjudul Sonata for Cello and Piano ini terdiri atas tiga gerakan yaitu Prologue, Serenade, dan Lent. Karya ini diwarnai sejumlah teknik pizzicato yang pada masa itu masih sangat jarang. 

Setelah istirahat sekitar lima belas menit, Dani dan Harimada kembali ke atas panggung untuk memainkan karya panjang dari Dmitri Shostakovich yang berjudul Sonata for Cello and Piano in D Minor, Op. 40. Karya yang ditulis oleh komposer Uni Soviet ini terdiri dari empat gerakan yaitu Allegro Non Troppo, Allegro, Largo, dan Allegro. Karya ini ditulis sebagai respon atas kritikan pemimpin Soviet waktu itu, Stalin, yang menyebut karya-karya Shostakovich sebagai “borjuis”. Maka itu, Sonata for Cello and Piano in D Minor, Op. 40 punya unsur-unsur sinis, marah, sekaligus olok-olok – yang ditujukan komposer bagi Stalin-. 

Dani merupakan lulusan dari Pendidikan Seni Musik di Universitas Pendidikan Indonesia. Di luar kampus, ia mendapatkan wawasan bermain cello dan bermain ansambel dengan bergabung bersama Anime Strings Orchestra dengan arahan Haryo Yose Soejoto. Ia pun banyak mendapatkan ilmu dasar bermain cello setelah mengikuti masterclass dengan John Myerscough (Doric String Quartet), dan mengikuti Bandung Music Camp yang di bimbing oleh Damien Ventula (Prancis). Sementara itu, Harimada lulus dari Rotterdams Conservatorium Belanda dan Conservatorium von Amsterdam. Mulai Agustus 2015, Harimada menetap di Indonesia. Ia kini menjadi staf pengajar ahli bidang piano dan koordinator akademik pada Konservatorium Musik Jakarta dan sekolah musik Allegria, Bandung.

Monday, April 03, 2017

Classicares II: Konser Bersama Mengenang Mutia Dharma

Minggu, 2 April 2017

Ririungan Strings Bandung berfoto bersama pasca acara.
Setelah penyelenggaraan Classicares yang menandai berdirinya KlabKlassik pada 9 Desember 2005, acara tersebut diadakan kembali dua belas tahun kemudian dengan nama Classicares II. Penyelenggaraan kedua ini dilakukan dalam rangka memperingati wafatnya aktivis musik klasik Bandung, Mutia Dharma yang berpulang pada tanggal 27 Februari 2017. Mutia adalah pendiri Classicorp Indonesia yang aktif menyelenggarakan konser dan workshop musik klasik di Bandung, baik level nasional maupun internasional. 

Pada Classicares II yang diselenggarakan di Auditorium IFI-Bandung ini, terdapat lebih dari lima puluh musisi ambil bagian. Classicares II juga menampilkan berbagai format mulai dari solo piano, vokal, duo, trio, kuartet hingga orkestra. Para pemain tersebut memainkan karya-karya yang umumnya punya keterkaitan khusus dengan almarhumah. Misalnya, Madqi Piano Trio yang berisi Kiki Abdul Haqqi, Dewi Noergina, dan Martina Sanjaya, mengatakan bahwa lagu Hausmusik karya Carl Bohm yang dibawakannya, merupakan karya yang harusnya dibawakan bersama Mutia. “Namun karena Mbak Mutia sudah pergi, maka kami tidak mungkin memainkannya bersama beliau. Kami akan tetap tampilkan ini bersama Martina, agar Mbak Mutia tetap tersenyum di sana,” ujar Kiki. 

Selain itu, ada juga penampilan Stringtopia, Breeze, Laurentius Quartet, Laurentius Junior Orchestra, Elvira Kartikasari, Andrew Sudjana, Lucia Jesy Dewinda, Issa Teenan, Dani Kurnia, Harimada Kusuma, Mojang String Quartet, Airin Efferin, dan Ririungan Strings Bandung. Penampilan RIriungan Strings Bandung sebagai penutup ini cukup istimewa karena berisi gabungan pemain-pemain instrumen gesek yang dipersatukan secara sengaja untuk acara ini. Ririungan Strings Bandung berlatih dalam waktu seminggu dan dipimpin oleh pengaba Eki Satria. 

Di tengah-tengah acara, terdapat beberapa momen mengharukan misalnya pembukaan sekaligus testimoni dari Direktur IFI – Bandung, Melanie Martini; lalu ungkapan kesan dari kawan Mutia semasa di Melodia, Goeti Rondonuwu; hingga ucapan terima kasih dari Andi Dharma, kakak kandung Mutia, yang harus dibacakan oleh MC karena yang bersangkutan tidak sanggup untuk membacakannya. Kegiatan ini menghasilkan dana sekitar sebelas juta Rupiah yang seluruhnya disumbangkan ke yayasan sosial atas nama Mutia Dharma.

Untuk menyaksikan karya Aleksandr Borodin yang dimainkan oleh Ririungan Strings Bandung, silakan klik link berikut ini.

Saturday, April 01, 2017

CLASSICARES II: Konser Peringatan Wafatnya Aktivis Musik Klasik Bandung, Mutia Dharma


Wafatnya Mutia Dharma pada 27 Februari lalu adalah pukulan telak untuk penyelenggaraan musik klasik di Kota Bandung. Mutia, dengan bendera Classicorps Indonesia -event organizer musik klasik yang ia dirikan-, dapat dikatakan sebagai penyelenggara paling aktif dalam sepuluh tahun terakhir ini. Tidak hanya aktif mendatangkan musisi mancanegara, ia juga memberi banyak panggung bagi musisi lokal.
Classicares II adalah bentuk perhatian atas seluruh jasa-jasa Mutia. Sekian puluh musisi menyatakan dengan sukarela bergabung dengan konser yang mungkin dapat dikatakan sebagai salah satu yang paling besar (diukur dari jumlah partisipan) dalam penyelenggaraan musik klasik di Bandung. Musisi dengan beragam format dan instrumen menyatakan siap menampilkan yang terbaik sembari mendeklarasikan: "Musik Klasik Bandung tidak boleh mati pasca Mutia Dharma. Justru segenap musisi harus bersatu untuk terus menghidupkan spiritnya."
Classicares II akan berlangsung 2 April 2017 di Auditorium IFI - Bandung, Jalan Purnawarman no. 32 jam 17.00. Acara ini bersifat donasi sukarela dan seluruh dana akan disumbangkan ke panti asuhan atas nama Mutia Dharma binti Agus Dharma.

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.