Wednesday, October 22, 2014

Kembali dengan Musik Avant-Garde

Minggu, 12 Oktober 2014

Setelah hampir setahun tidak mengadakan kegiatan pertemuan rutin komunitas, Klabklassik kembali berkumpul di tempat yang baru. Kali ini tempat berkumpulnya adalah di Herbsays, Jalan Cisangkuy nomor 48. Topik yang dibahas adalah musik avant-garde, dengan pembicara Rahardianto. Herbsays adalah toko yang menjual kue-kue serta minuman yang mengandung herbal. Kebetulan sekali bahwa halaman toko tersebut cukup luas, lengang, dan juga dipenuhi tumbuh-tumbuhan sehingga suasana menjadi sejuk juga asri. 


Diskusi mengenai musik avant-garde tidak diawali dengan definisi, melainkan dengan mendengarkan musik. Rahar mengawali dengan memutar karya dari Luigi Russolo yang berjudul Veglio di Una Citta. Apa yang diperdengarkan oleh Rahar adalah semacam bebunyian yang tidak secara khusus membentuk melodi, ritem, dan harmoni. Jika musik Russolo tersebut berasal dari zaman ini, tentu sudah banyak yang melakukannya. Namun Rahar kemudian memaparkan fakta, bahwa Russolo lahir pada tahun 1883 atau akhir zaman romantik. Seharusnya, ia menyesuaikan diri dengan semangat zaman dan membuat musik seperti umumnya dibuat di masa itu. "Itulah sebabnya kenapa musik Russolo disebut avant-garde. Ia telah berpikir jauh melampaui jamannya. Bahkan untuk zaman sekarang pun, ia masih dianggap baru," ujar Rahar.

Kemudian Rahar mengajak para peserta diskusi untuk mengalami musik-musik seperti You Know You Know (dari Mahavishnu Orchestra), Air Conditioned Nightmare (Mr. Bungle), Osaka Bondage (Naked City), Laila (Ni Hao), dan Minus Zero (Merzbow). Atas karya-karya tersebut, Rama berpendapat bahwa avant-garde adalah semacam "emansipasi bunyi". "Jadi, bunyi ditempatkan sebagai sesuatu yang luhur dari musik itu sendiri. Pada dasarnya segala bunyi di sekitar itu adalah musik. Sebaliknya, musik di sekitar kita juga merupakan bunyi," lanjut Rama. 

Pertanyaan yang lebih realistis datang dari Leo. Katanya, "Apakah bisa komersil, musik-musik semacam ini?" Rahar menjawabnya dengan candaan, "Wah, kalau soal noise, ada komunitas yang mengatakan bahwa semakin sepi suatu acara, maka acara tersebut semakin sukses." Tapi kemudian Rahar juga menyinggung bahwa yang menentukan apakah sebuah musik dapat komersil atau tidak, adalah masyarakatnya sendiri. "Di wilayah Skandinavia, justru yang menempati papan atas adalah musik metal dan cenderung noise. Musik-musik pop biasanya kurang diminati," tambah Rahar. Juga jangan dilupakan, ungkapnya, bahwa orang-orang seperti Frank Zappa, John Zorn, dan Philip Glass, adalah musisi sekaligus komposer yang dapat hidup di dua dunia: Idealisme dan realisme sekaligus.

Setelah obrolan yang berlangsung selama dua jam tersebut, diskusi ditutup dengan perasaan yang kurang menyenangkan akibat musik demi musik yang memang tidak familiar bagi telinga. 

2 comments:

Wahyu Bolit said...

Mas saya boleh gabung di Klabklassik bandung, saya baru pindah dari padang mas. Saya mau belajar musik klasik mas, tp bingung mau gabung dimana, masalahnya say masih pemula,,mohon bantuannya mas,, :(

Ryan Zapple said...

keren banget ka jadi pingin ikutan hihi BTW aku mau reccomend nih ka mumpung lagi promo JASA SERVICE IPHONE IMAC MACBOOK IPADIPOD DI BANDUNG DAN HARGA TERMURAH

HOSTEL MURAH DI BANDUNG COCOK UNTUK BACKPACKER

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.