Sunday, January 06, 2013

Konser Lintas Batas dari Bimo

Sabtu, 5 Januari 2013

Tahun 2013 baru memasuki hari kelima, Bandung sudah mulai diramaikan oleh konser musik klasik. Yang tampil adalah Satryo Aryobimo Yudomartono, pemain biola asal Bandung yang bersekolah di Prancis -lantas pulang ke Indonesia setahun sekali untuk salah satunya mengadakan resital-. Seperti halnya tahun sebelumnya, Bimo -panggilannya- tidak hanya sekedar menampilkan karya-karya klasik, melainkan juga melakukan berbagai aksi panggung.

Sesi pertama berlangsung serius. Bimo memulainya dengan bermain solo karya Telemann. Setelah itu, ia dan Nesca Alma (piano) berduet menampilkan sejumlah karya dari Schumann, Henry Vieuxtemps, dan Arvo Pärt. Konser ini berlangsung dalam suasana gerah karena penonton yang membludak. Hal ini salah satunya disebabkan oleh sistem pemberian harga tiket yang bebas tergantung apresiasi penonton. Konser ini tidak seperti umumnya yang mana selalu punya harga tiket tetap yang harus ditaati penonton agar bisa masuk.


Setelah sesi pertama yang berlangsung "seperti konser musik klasik pada umumnya", di sesi kedua -setelah break selama dua puluh menit-, Bimo menggebrak dengan sejumlah karya populer baik dari genre reggae, R & B, hingga dangdut. Di posisi piano, kali ini duduk Fero Aldiansyah. Bimo juga mengajak seorang pemain perkusi bernama Irene Edmar Wirawan. Bimo tidak henti-hentinya bercanda dan berjoged di atas panggung membawakan karya-karya seperti Keong Racun, Umbrella, I can Do It, Autumn Leaves, hingga Bamboleo. Pada mulanya, ia menyuguhkan semacam transisi dengan membawakan sejumlah karya klasik yang dibawakan dalam format medley

Meski penuh dengan humor, namun Bimo tetap menunjukkan bahwa dia adalah seorang pemain yang mumpuni. Karya-karya klasik yang dibawakannya di sesi satu adalah karya-karya yang membutuhkan teknik 
baik. Pada sesi kedua, meski sudah menampilkan sesi penuh canda, namun Bimo masih menunjukkan kelasnya lewat improvisasi, permainan efek bebunyian, kecepatan tangan, dan tentu saja eksplorasi aksi panggung. 

Konser musik klasik semacam ini tentu saja menimbulkan pro dan kontra. Ada yang memilih untuk tidak dikategorikan sebagai konser musik klasik karena karya-karya yang ditampilkan tidak lagi identik dengan karya-karya dari periode Renaisans hingga Romantik. Ada juga yang masih tetap merasakan bahwa konser tersebut menarik karena justru mengambil semangat musik klasik untuk kemudian didekonstruksi sehingga mengandung unsur kontemporer. Memang harus diakui, di era sekarang -yang katanya posmodern-, sejumlah narasi yang dulunya berdiri sendiri-sendiri sekarang bisa ditabrakkan, dilebur sesuka hati. 

1 comment:

Satryo Yudomartono said...

Syariep! makasih loh udah ditulisin post ini,, gua juga seneng banget dah bisa maen dengan musisi yang alented yet 'open' ,
Yah kalo konser ini buat pro dan kontra (seperti tahun lalu..) ya biasa lah, namanya juga manusia, kita kan terbatas, jadi ya kita gak bisa 'memuaskan' semua orang.

Menurut gua, musik tuh bukan hanya suara yang kita denger tapi GETARAN yang kita rasakan. Bunyi tuh hasil dari udara yang ikut bergetar karena getaran dari pita suara, senar, benda2 yang dipukul, dan udara menjadi perantara getaran yang akhirnya sampe ke tubuh kita salah satunya lewat telinga kita, dimana kita mendengar variasi suara yang harmonis dan teroganisir, yang kita sebut musik...
TAPI,,,,, orang2 yang gak bisa mendengar pun bisa menikmati musik, mereka gak bisa denger, tapi mereka merasakan getaran2 di beberapa bagian tubuhnya,,, suara rendah mereka biasanya ngerasain di kaki, impact suara di dada, dan frekuensi yang rata2 tinggi di elakang leher ato punggung atas, dll dll....
Jadi ya setiap konser yang kami buat dan mainkan, adalah musik yang 'menggetarkan' kami, bukan semata2 kita maen ini karena ya kita bisa maen ini, jadi ya kita maen ini, musik yang kita sebut klasik dan non klasik...

lagipula, kita gak pernah menyebut kalo ini adalah 'Violin And Viola "Classical" Recital ' ;)

jadi... sampai ketemu tahun depan untuk konser yang lain... dan tanggal 16 di melodia untuk workshop!

Bimo
facebook.com/bejebew
@bejebew

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.