Thursday, November 01, 2012

Resital Kecil Afdhal Zikri

Rabu, 31 Oktober 2012

Tepat di hari terakhir bulan Oktober, publik Bandung kembali mendapatkan suguhan konser musik klasik. Kali ini pemain utamanya adalah peniup oboe asal Yogyakarta bernama Afdhal Zikri. Lulusan kampus ISI tersebut memainkan empat karya ditambah dua encore.

Sebelum memulai lagu pertama, pemain oboe yang agak pemalu tersebut memperkenalkan penampilannya sebagai "resital kecil". Sedari awal, Afdhal dan seorang pianis pengiring bernama Andika Dyaniswara, sudah mengajak bintang tamu bernama Eya Grimonia, pemain biola asal Bandung. Memainkan karya barok dari J.S. Bach berjudul Concerto for Oboe and Violin in D minor, antara oboe dan biola bergerak dinamis seolah berkejaran. Pasca penampilan mereka bertiga, setelah itu Afdhal mempersilakan pianisnya yang dipanggil Denis, untuk bermain solo. Katanya, "Agar ia tidak hanya tampil sebagai pengiring, melainkan juga diberi kesempatan untuk unjuk gigi."Setelah Denis bermain solo, Afdhal kembali naik panggung untuk berduet. Kali ini karya yang dimainkannya adalah Le Lever de Lune karya Camille Saint-Saëns.

Sayang sekali rupanya Afdhal tidak mempertimbangkan waktu yang terlalu singkat, sehingga break yang dilakukan pasca Le Lever de Lune  terbilang janggal karena penampilan sesi pertama baru berlangsung sekitar lima belas menit. Sepuluh menit kemudian, setelah sesi istirahat selesai, terdapat insiden kecil: Ada gangguan pada oboe milik si pemain! Gangguan ini nyaris membatalkan konser karena oboe tersebut tidak bisa dipakai kembali. Beruntung ada salah satu penonton yang membawa instrumen oboe, sehingga Afdhal bisa melanjutkan sesi kedua dengan lagu Sonata in D Major karya Camille Saint-Saëns dan sebuah karya dari komposer asal Yogya, Gardika Gigih Pradipta, berjudul Kita Kan Naik Kereta yang Sama.

Meski resitalnya terbilang singkat, namun penampilan Afdhal sendiri cukup memikat sehingga penonton meminta encore. Lagu yang dipilih untuk encore ini terbilang menarik. Pertama, Afdhal memainkan satu karya cukup terkenal dari film The Mission (1976) berjudul Gabriel's Oboe. Karya garapan Ennio Morricone ini, meski pendek, namun lantunannya amat membius. Penonton rupanya tidak merasa cukup hanya dengan satu encore. Tepuk tangan panjang membuat Afdhal terpaksa memainkan lagu Cinta Satu Malam yang ternyata menjadi penutup yang hangat untuk malam yang dingin.


No comments:

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.