Wednesday, November 14, 2012

KlabKlassik Edisi Nonton: Menyimak Musik Latar dari Film The Social Network (2010)



Minggu, 18 November 2012
pk. 15.00 - 18.00
Tobucil n Klabs, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan terbuka untuk umum

Diangkat dari buku The Accidental Billionaires karya Ben Mezrich, sutradara David Fincher (Fight Club, Se7en)  dengan penulis skenario Aaron Sorkin (The West Wing) bekerja sama untuk mengeksplorasi makna sukses di awal abad ke-21 dari perspektif para inovator teknologi yang merevolusi cara berkomunikasi jutaan orang di seluruh dunia. Di tahun 2003, internet yang sebelumnya teknologi mahal menjadi terjangkau oleh massa. Internet membuat mudah untuk tetap saling berhubungan dengan berbagai orang dari belahan dunia ketika seorang programer komputer dari Universitas Harvard, Mark Zuckerberg (Jesse Eisenberg), meluncurkan sebuah website jejaring sosial dengan potensi untuk mengubah tatanan masyarakat dunia.

Zuckerberg menjadi milyuner dan menikmati kesuksesan hidup. Meski demikian, dibalik kesuksesannya, Zuckerberg harus membayar mahal dengan kehidupan pribadinya yang menderita karena sengketa hukum dan kenyataan pahit lima ratus orang temannya yang awalnya mendukung ia hingga ke puncak karir akhirnya mengkhianatinya

Pemilihan musik latar yang bernuansa techno di film ini sepertinya cocok mewakili kegalauan alam pikir masyarakat digital saat ini. Digarap apik oleh Trent Reznor (eks Nine Inch Nails) berdua dengan Atticus Ross sukses meraih Academy Award untuk Best Original Score. Kerjasama mereka dengan sutradara David Fincher terus berlanjut belakangan mereka menggarap latar untuk film The Girl with The Dragon Tattoo.

Monday, November 12, 2012

Kursi Panas KlabKlassik

Minggu, 11 November 2012

KlabKlassik mempunyai program baru tapi lama, namanya 'kursi panas'. Apa gerangan? Satu per satu pemain tampil, menunjukkan satu dua karya untuk diapresiasi bersama. Meski baru diadakan kembali, sesungguhnya kegiatan ini justru yang paling purba. Awal mula KK berkumpul, acara inilah satu-satunya andalan untuk memikat pengunjung.  

Yang hadir untuk tampil tidak banyak, hanya berempat. Ada Rendy, Tubagus, Mas Dudi dan Syarif. Namun penampilan yang sedikit itu menjadi cukup berbobot oleh sebab kehadiran mahasiswi psikologi bernama Irsa yang tengah dalam penelitian. Ia sedang meneliti apa yang disebut dengan flow dalam bermusik, yaitu suatu kondisi yang berada di ambang sadar dan tidak sadar, yang amat mungkin dialami musisi ketika ia sedang peak performance.

Sebelum satu per satu peserta tampil, semuanya larut dalam diskusi bersama Irsa. Diskusi tersebut ada di seputar definisi peak performance sendiri. "Sangat relatif," menurut Beben, "Saya termasuk orang yang latihan menjadi semangat ketika ada penonton," Ada juga, kata Rendy, "Orang yang melamai peak performance justru ketika sendiri. Ketika tampil eh malah kacau." Mengukur peak performance dalam musik terbilang sulit. Barometer yang digunakan oleh Irsa pun tadinya lebih banyak diaplikasikan dalam dunia olahraga. "Di dunia olahraga," kata Irsa, "lebih mudah untuk mengukur peak performance." Ini belum ditambah faktor-faktor lain seperti jenis musik, penonton, tingkat kemahiran, ataupun situasi bermain. Tidak satupun bisa menunjukkan kemutlakkan dalam menentukan peak performance dalam musik.



Akhirnya, ketimbang berlarut-larut, Irsa diminta untuk melakukan penilaian terhadap performa mereka-mereka yang akan tampil di "kursi panas". Satu per satu bergiliran mereka "naik panggung" memainkan mulai dari Etude karya Francisco Tarrega, Revoir Paris karya Charles Trenet yang diaransemen ulang oleh Roland Dyens, Etude no. 20 karya Leo Brouwer dan Danza Caracteristica juga karya Leo Brouwer. Keempat penampilan tersebut malah membuat Irsa semakin bingun, terutama oleh kehadiran Jazzy yang dengan enteng berkata, "Peak performance? Ya ketika lagu selesai. Itu artinya tugas selesai." Kalimat yang dicetuskannya membuat seisi beranda berderai tawa.

Thursday, November 01, 2012

Resital Kecil Afdhal Zikri

Rabu, 31 Oktober 2012

Tepat di hari terakhir bulan Oktober, publik Bandung kembali mendapatkan suguhan konser musik klasik. Kali ini pemain utamanya adalah peniup oboe asal Yogyakarta bernama Afdhal Zikri. Lulusan kampus ISI tersebut memainkan empat karya ditambah dua encore.

Sebelum memulai lagu pertama, pemain oboe yang agak pemalu tersebut memperkenalkan penampilannya sebagai "resital kecil". Sedari awal, Afdhal dan seorang pianis pengiring bernama Andika Dyaniswara, sudah mengajak bintang tamu bernama Eya Grimonia, pemain biola asal Bandung. Memainkan karya barok dari J.S. Bach berjudul Concerto for Oboe and Violin in D minor, antara oboe dan biola bergerak dinamis seolah berkejaran. Pasca penampilan mereka bertiga, setelah itu Afdhal mempersilakan pianisnya yang dipanggil Denis, untuk bermain solo. Katanya, "Agar ia tidak hanya tampil sebagai pengiring, melainkan juga diberi kesempatan untuk unjuk gigi."Setelah Denis bermain solo, Afdhal kembali naik panggung untuk berduet. Kali ini karya yang dimainkannya adalah Le Lever de Lune karya Camille Saint-Saëns.

Sayang sekali rupanya Afdhal tidak mempertimbangkan waktu yang terlalu singkat, sehingga break yang dilakukan pasca Le Lever de Lune  terbilang janggal karena penampilan sesi pertama baru berlangsung sekitar lima belas menit. Sepuluh menit kemudian, setelah sesi istirahat selesai, terdapat insiden kecil: Ada gangguan pada oboe milik si pemain! Gangguan ini nyaris membatalkan konser karena oboe tersebut tidak bisa dipakai kembali. Beruntung ada salah satu penonton yang membawa instrumen oboe, sehingga Afdhal bisa melanjutkan sesi kedua dengan lagu Sonata in D Major karya Camille Saint-Saëns dan sebuah karya dari komposer asal Yogya, Gardika Gigih Pradipta, berjudul Kita Kan Naik Kereta yang Sama.

Meski resitalnya terbilang singkat, namun penampilan Afdhal sendiri cukup memikat sehingga penonton meminta encore. Lagu yang dipilih untuk encore ini terbilang menarik. Pertama, Afdhal memainkan satu karya cukup terkenal dari film The Mission (1976) berjudul Gabriel's Oboe. Karya garapan Ennio Morricone ini, meski pendek, namun lantunannya amat membius. Penonton rupanya tidak merasa cukup hanya dengan satu encore. Tepuk tangan panjang membuat Afdhal terpaksa memainkan lagu Cinta Satu Malam yang ternyata menjadi penutup yang hangat untuk malam yang dingin.


Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.