Monday, October 29, 2012

Kampanye Musik Tanpa Jarak

Minggu, 29 Oktober 2012



Sore itu hujan teramat deras. Beranda Tobucil yang bersiap diwarnai suara gesekan biola Ammy Kurniawan, menjadi tertunda untuk beberapa saat.


Kang Ammy adalah pemain biola band 4 Peniti yang juga aktif sebagai pengajar di jalan Progo nomor 15. Ini bukan pertama kalinya ia menghangatkan Tobucil. Selain memberikan workshop seperti kemarin ini, Kang Ammy juga pernah tampil di Crafty Days bersama sejumlah anak didiknya. Pertemuan yang menjadi bagian dari agenda KlabKlassik kali ini, Kang Ammy juga mengusung tema: Tentang bagaimana mengapresiasi musik secara live. Yang hadir cukup banyak, sekitar lima belas orang. Hal tersebut terhitung lumayan karena hujan berlangsung deras sekali.

Kang Ammy memulainya dengan pembukaan sedikit. "Saya pernah berusaha merekam permainan seorang pemain biola dengan handycam. Namun karena terlalu terpesona, saya menjadi tidak peduli akan niat saya untuk merekam," ujar Ammy. Ia justru heran, hari ini orang-orang yang menonton konser musik begitu giat merekam, padahal tujuan musik live, kata Kang Ammy, "Agar kita bisa menghayati langsung musik dengan seluruh indra kita. Karena hal tersebut tidak bisa dinikmati sepenuhnya ketika di layar kaca ataupun radio. Tapi mengapa kita seringkali memberi jarak lagi dengan cara merekamnya? Apa karena gadget yang canggih?"

Selain penekanan pada apresiasi, kang Ammy juga menekankan pentingnya para musisi untuk berimprovisasi pada saat live. "Improvisasi ini tidak hanya dalam bentuk musik itu sendiri, tapi juga dalam bentuk performa," ujar Kang ammy yang mengingatkan bahwa ia pernah mengangkat telepon ketika di atas panggung dan berkata, "Saya sedang main!" Intinya, bermain musik, bagi Kang Ammy, berarti menghibur dengan berbagi. Lebih jauh lagi ia merenungkan, bahwa sangat bagus kalau berbagi itu tanpa jarak, "Ya seperti sekarang ini," katanya sambil menunjuk suasana di beranda Tobucil yang tidak ada panggung dan relatif egaliter. Kang Ammy ingin agar konser-konser berikutnya ia selenggarakan dari garasi ke garasi.

Kang Ammy tidak langsung bermain biola, ia terlebih dahulu memainkan gitar demi mengiringi orang-orang yang hadir. Shandieka mendapat gilirannya dengan memainkan All My Loving karya The Beatles. Kang Ammy memuji Shandieka karena keberaniannya untuk berimprovisasi di tengah-tengah lagu. Untuk menularkan keberanian ini ke peserta lainnya, Kang Ammy menyuruh para pemain untuk berimprovisasi satu per satu hanya dengan lima nada. Kang Ammy kemudian mengiringinya dengan progresi blues.





Suasana makin menghangat ketika Kang Ammy mulai beraksi dengan biolanya. Ia tidak hanya bermain akustik, melainkan menggunakan sejumlah efek. Efek ini, katanya, "Karena saya selalu sendirian kalau main, jadi saya menggunakan efek ini untuk mengiringi diri sendiri." Kang Ammy pun kemudian mendemonstrasikan permainan yang memukau, sangat orkestratif, meskipun sendirian. Kata Kang Ammy, "Nyesel kalau tidak mencoba alat ini, saya tidak akan mengajarkannya di saat les," Atas "ancaman" tersebut, satu per satu peserta yang tadinya pemalu pun mencoba satu per satu. Para peserta menjadi sadar akan satu hal: Bahwa hanya dalam kondisi musik tanpa jarak seperti ini, interaksi dan dialog intens terjadi.



Sunday, October 28, 2012

RGB Manggung Lagi

Minggu, 28 Januari 2012

Ririungan Gitar Bandung (RGB) terakhir tampil adalah di acara Classical Guitar Fiesta 2012 Juli lalu. Penampilan kali ini tidak seperti sebelumnya yang mengambil tempat di gedung konser. RGB mendapat kesempatan tampil di acara Car Free Day (CFD) Buah Batu. Artinya, RGB tampil di aspal jalan, di tengah kerumunan.

Jam kumpul yang cukup pagi, yakni jam delapan, membuat Rendy Lahope, pemain RGB senior, urung hadir. Yang kemudian tampil sebagai pembuka rata-rata adalah RGB seusia SMP. Lagu pertama adalah Come Together dari The Beatles dengan formasi Trisna, Angga, Lalang, dan Alka. Setelah sukses menyelesaikan lagu pertama, berikutnya RGB memainkan lagu karya Mozart berjudul Romance.. Penampilan RGB kemarin adalah bentuk kerjasama dengan Sekolah Musik Purwatjaraka dan Radio MGT. Sebagian pemain RGB memang les di Purwatjaraka di bawah bimbingan Kang Sutrisna. 


Friday, October 26, 2012

Musik Sore dan Diskusi bersama Ammy Alternative Strings: Bagaimana Mengapresiasi Musik secara Live?



Minggu, 28 Oktober 2012
Pk. 15.00 - 17.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan Terbuka untuk Umum

Penampilan musik secara live tentu saja bukan hal yang aneh di sekitar kita. Kita bisa menemukannya di pinggir jalan, restoran, café, mal, hingga stadion sepakbola. Seiring dengan kecanggihan teknologi, penampilan live tersebut sering terlalu disayangkan untuk hanya disaksikan. Rata-rata orang dengan gadget canggihnya mengabadikan momen langka tersebut agar bisa dikonsumsi kembali di kemudian hari. Namun mari kita pertanyakan ulang: Jika momen live ditujukan agar para apresiator bisa merasakan musik dengan segenap indranya -hal yang tidak bisa maksimal jika disaksikan lewat layar kaca-, maka tidakkah aneh momen tersebut dikembalikan ke "layar kaca" lewat gadget? Dalam arti kata lain, tidakkah aneh ketika jarak antara musisi dan apresiator sudah begitu dekat, kita jauhkan kembali?

Hal ini akan kita perbincangkan bersama-sama dengan Kang Ammy Kurniawan dan kelompok Alternative Strings-nya. Bukan hanya lewat diskusi kata-kata, melainkan juga diskusi bunyi dan rasa.


Monday, October 22, 2012

Resital Oboe "A Debut Recital" oleh Afdhal Zikri


Rabu, 31 Oktober 2012
Auditorium IFI - Bandung
Jl. Purnawarman no. 32, Bandung
Pk. 19.30 - 21.00
HTM: Rp.24.900

Informasi tiket (dijual mulai selasa, 23 Oktober):

Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-426-1548)
Syarif (0817-212-404)

Susunan acara:


- Sonata in d mayor , bagian I dan 2 : “Camille saint saens”
- Kita Kan Naik Kereta yang sama : “Gardika Gigih Pradipta”
- (Trio Oboe violin dan Piano). Feat denish dan eya grimonia
- Concerto for oboe and violin in D minor,bagian 1 “Johan Sebastian Bach” (feat Eya grimonia)

Profil penampil:

AFDHAL ZIKRI ZZ, Oboe
Pertama belajar musik kelas 3 Sd dimulai dengan Instrument gitar kepada Alm. Suhapri (paman), dan setelah lulus Smp melanjutkan pendidikan musiknya ke SMM Jogjakarta. Pertama belajar oboe tahun 2004 dengan bimbingan Drs Sritanto dan melanjutkan pendidikan nya ke ISI Jogjakarta pada tahun 2007, dan menyelesaikan studi disana pada tahun 2012.
Pernah mengikuti SAYOWE (Southeast Asian Youth orchestra and wind ensemble), di Thailand pada tahun 2008, dan menjadi salah satu solis dalam Konsert F hole string ensemble pada tahun 2010 , Pengalaman lain berkesempatan menjadi talent salah seorang “Pemusik Soewito” pada film “SOEGIJA” dengan arahan sutradara Garin nugroho dengan peñata musik Djadug ferianto ,yang dirilis juli kemaren. Dan pernah mengikuti beberapa master class oboe yaitu Dengan Shigeki Sasaki ,2008 di Thailand, Joost flach, 2010 dan 2012 di Malaysia, Amy power di Yogyakarta 2011 dan Niels Hartmann 2012, di Malaysia.

ANDIKA DYANISWARA
Mulai belajar musik pada saat usia 6 tahun dengan belajar keyboard. Pada usia 9 tahun mulai belajar electone dan pada usia 13 tahun mulai belajar piano di bawah bimbingan Tabita Indri Nugroho di Salatiga. Pada tahun 2007 melanjutkan studi di Sekolah Menengah Musik Yogyakarta dengan instrumen mayor Piano, di bawah bimbingan Utari Isfandini. Lalu tahun 2010 melanjutkan ke ISI Yogyakarta, instrument mayor Piano klasik di bawah bimbingan L. Agus Wahyudi M.
Pengalaman :
1. Pianis Orkestra Gita Bahana Nusantara ( 2009 & 2010 )
2. Pianis acara “The Spirit of Love” bersama J-Fantasy Orchestra ( 2009 )
3. Pianis Novell Orchestra ( 2010 – sekarang )
4. Performer 3rd International Chamber Music Festival di Yogyakarta ( 2012 )
5. Peserta Yogyakarta International Music Festival Academy ( 2012 )
6. Pianis pagelaran musik karya Gatot Danar S. “Nawangsari” ( 2012 )
Masterclass dan Workshop
1. Iswargia R. Sudarno ( 2010 )
2. Angela Lopez – Spanyol ( 2010 )
3. Cicilia Yudha – USA ( 2011 )
4. Maestra Ivon Maria ( 2011 )
5. Nadya Janitra ( 2011 )
6. Pujiwati Insia M. Effendi ( 2012 )
7. Ananda Sukarlan ( 2012 )
8. Wibi Soerjadi – Netherland ( 2012 )
9. Aryo Wicaksono – USA ( 2012 )
10. Spencer Myer – USA ( 2012 )

EYA GRIMONIA
Eya mulai belajar piano dan vokal umur 4 (empat) tahun, setahun kemudian ia tertarik dengan biola. Tahun 2004, Eya lulus ujian ABRSM/Royal piano dan biola grade 8 dengan nilai tertinggi. Pendidikan dan lingkungan musik klasiknya selalu Eya pertahankan dari pengajar-pengajarnya diantaranya dari Iswargia R Sudarno (piano) dan Dr. Tomislav Dimov (biola). Selain aktif melakukan resital/konser tunggal iapun aktif mengikuti masterclass dari Prof. Ikuyo Nakamura (Japan), Prof. Sherban Lupu dan Prof. Semion Yerosevich (USA).

Eya Grimonia adalah musisi remaja yang dimiliki Indonesia. Eya mengawali karirnya saat usia 6 (enam) tahun dengan berduet dengan Sherina. Sebagai solois dara manis kelahiran Bandung April 1995 ini terus tampil baik off-air maupun on-air di televisi-televisi nasional. Namun Eya juga sering berkolaborasi dan duet dengan artis/musisi Indonesia lainnya. Sebut saja Vina Panduwinata, Ruth Sahanaya, Bunga Citra Lestari, Elfa’s Singer, Padi, Dwiki Darmawan, Karimata Band dan masih banyak yang lain. Yang mengesankan baginya saat Eya berduet dengan Idris Sardi di Istana Negara tahun 2003. Juga saat Eya tampil pada “Carnival of the Animals” diiringi Jakarta Chamber Orchestra pimpinan Avip Priatna. Tak heran kemampuan dan wawasan bermusiknya dapat berimbang di Klasik dan Kontemporer. Selain bermusik dewasa ini Eya diundang sebagai pembicara dalam program TEDx Bandung dan Future Leader Summit di Undip Semarang.

Sunday, October 21, 2012

Tersedia Dokumentasi Lengkap Classical Guitar Fiesta 2012


Sebelumnya kami mohon maaf karena dokumentasi dari acara yang sudah berlangsung lebih dari tiga bulan yang lalu ini baru bisa disediakan sekarang oleh sebab beberapa kendala.

Classical Guitar Fiesta adalah acara dwitahunan yang diselenggarakan oleh KlabKlassik. Isinya adalah penampilan gitar yang mana para pengisi acaranya dibuka untuk umum dan siapa saja yang mau mendaftar. Dalam setiap pagelarannya, CGF selalu menampilkan bintang tamu gitaris yang sudah malang melintang baik dalam skala nasional maupun internasional. Tahun 2006, bintang tamu yang hadir adalah Royke B. Koapaha; tahun 2008 ada Jubing Kristianto; tahun 2010 adalah Phoa Tjun Jit dan tahun 2012 kembali menghadirkan Jubing Kristianto.

Momen CGF 2012 diabadikan dalam bentuk dua keping DVD dengan durasi total hampir tiga jam dan termasuk di dalamnya penampilan live dari gitaris fenomenal Jubing Kristianto. DVD ini dapat diperoleh dengan memesan melalui Kristianus (0857-205-26364) dengan harga Rp. 50.000. Pemesanan di wilayah Bandung dapat diantar gratis, sedangkan di luar kota Bandung akan dikenakan biaya ongkos kirim. Harga yang dikenakan ini, selain untuk mengganti ongkos produksi, juga untuk mendanai kegiatan komunitas KlabKlassik yang independen dan non-profit.

Sebagai keterangan tambahan, DVD ini sengaja dibuat dalam format yang hanya bisa dibaca di komputer untuk memudahkan memunggah ke Youtube. Meski demikian, DVD player tertentu bisa juga membaca format semacam ini.

Tarkus dan Pemberontakan Kaum Proletar

Minggu, 21 Oktober 2012


KlabKlassik tengah mencoba inovasi baru. Yang menjadi perbincangan kali ini adalah per karya setelah sebelumnya biasanya pembahasan menyangkut satu tema besar seperti genre musik tertentu. Tarkus karya Emerson, Lake and Palmer (ELP) tahun 1971 -sebuah karya berdurasi dua puluh menit- diperdengarkan hingga tuntas sebelum dibicarakan bersama-sama.

Karya tersebut dihadirkan tanpa jeda. Semua terdiam selama dua puluh menit, menyimak Tarkus yang dibagi tujuh bagian berjudul Eruption, Stones of Years, Iconoclast, Mass, Manticore, Battlefield, dan Aquatarkus. Hanya bermodalkan tiga pemain, band beraliran symphonic progressive rock tersebut menghentak dengan musik yang kompleks dan mengguncang. Sesekali disisipkan juga irama yang lebih lembut agar apresiator bisa menghela napas sebentar, sebelum dipaksa menahan kembali di menit-menit berikutnya. Musik berhenti di dua puluh menit tiga puluh lima detik, menimbulkan tepuk tangan meriah di beranda Tobucil.

"Bosen, ngantuk," begitu tanggapan Kristianus, meski ia juga mengakui kualitas musiknya yang njelimet. Hal yang sama juga diamini oleh Dody dan Mas Dudi yang mengaku memang sedikit jenuh karena durasinya yang panjang. Namun kompleksitas musiknya membuat para peserta diskusi yang hari itu berjumlah delapan tetap bertahan dalam tempat duduknya. "Membuatku ingat animasi yang biasa diproduksi oleh Marvel," ujar Permata yang hari itu hadir mendampingi Iqbal. "Padahal pada masa itu, orang mudah sekali mengapresiasi musik sepanjang dua puluh menit. Sekarang, rasanya lima menit pun sudah kehilangan konsentrasi. Apa karena industri?" tanya Rendy yang dijawab anggukan Kristianus.

Diskusi menjadi menghangat ketika Mas Ismail Reza ikut. Mas Reza langsung mengeluarkan isi pikirannya tentang Tarkus, "Ada orang-orang yang menginterpretasikan Tarkus sebagai representasi ideologi komunis. Hal tersebut wajar karena masa itu komunis sedang hangat-hangatnya, menunjukkan kebesarannya yang mewujud dalam negara semacam Uni Soviet dan RRC." Mengapa ada kekaguman pada komunisme? Bukankah ELP adalah representasi anak muda AS yang notabene waktu itu sedang gencar-gencarnya berperang dingin melawan Uni Soviet? "Iya, justru ini semacam pemberontakan. ELP berasal dari kaum hippies yang tidak setuju terhadap Perang VIetnam. Komunisme menjadi semangat yang diambil untuk menunjukkan masyarakat bawah, jika bersatu, akan mampu menggulung diri seperti Tarkus yang berwujud armadillo alias trenggiling."

Mas Reza tidak berhenti sampai di situ. Ia menambahkan simbolisasi Manticore yang disebut dalam movement kelima dalam Tarkus. "Manticore adalah binatang dalam mitos yang jika ia hadir, bisa membusuki lingkungan sekitarnya. Ini bisa jadi merupakan representasi ideologi kapitalis." Lebih lanjut, Mas Reza mengomentari bagian terakhir dari Tarkus berjudul Aquatarkus. Katanya, "Dalam pertarungannya dengan Manticore, Tarkus mengalami kekalahan. Ia pergi ke air dan melahirkan anak-anaknya. Disitulah representasi komunisme kembali ditunjukkan: Meski kalah melawan kapitalisme, namun idenya selalu menggaung."

Pembahasan menjadi masuk ke band ELP itu sendiri. Pada masa itu, lanjut Mas Reza, ada semacam upaya agar musik rock sejajar dengan musik klasik. "Keith Emerson, sang kibordis, kerap membawa wine ketika bermain. Ia ingin menunjukkan bahwa rock juga bisa bergaya aristokrat." Tidak hanya dari gaya, dalam hal bermusik pun, ada semangat untuk memperlihatkan bahwa rock bisa sedemikan kompleks dan dinikmati secara serius. "Keith Emerson tidak hanya berkemampuan tinggi, ia juga pandai bereksperimen. Contohnya adalah penggunaan moog modular synthesizer yang ia gunakan dalam banyak lagu-lagu ELP," lanjut Mas Reza. Alat tersebut adalah yang memungkinkan Emerson menghasilkan bebunyian yang luar biasa aneh pada masanya. "Segala yang berbau elektronis, pada masa itu, sangatlah menghebohkan. Emerson adalah salah satu pelopornya," tambah Mas Reza.

Setelah pemaparan panjang lebar yang bergizi, Mas Reza menambahkan beberapa suplemen musik agar peserta semakin memahami apa itu progressive rock. Mas Reza memutar Mahavishnu Orchestra dan King Crimson beberapa lagu. Pertanyaan semisal, "Apa ciri-ciri progressive rock?" tidak akan serta merta dijawab oleh Mas Reza sebagai rock yang punya ciri-ciri musik kompleks. Pertama-tama ia akan mengatakan bahwa, "Dengerin aja dulu sebanyak-banyaknya, maka kita akan tahu ciri-ciri progressive rock itu sendiri." Tapi jika terpaksa harus mengungkapkan dengan kata-kata, ia akan menjawab, "Pokoknya jika ada lagu cinta tapi alih-alih terdengar galau, tapi malah terdengar suram, maka kita bisa curigai itu progressive rock." Demikian pernyataan tersebut yang langsung disambut tawa para peserta.

Rendi (kiri) dan Mas Reza (kanan)

Thursday, October 18, 2012

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Bertualang Bersama Tarkus

Minggu, 21 Oktober 2012
Pk.15.00 - 17.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56, Bandung
Gratis dan terbuka untuk umum



Tarkus adalah makhluk yang muncul dari letusan gunung berapi. Ia melawan sejumlah musuh berat sebelum bertemu dengan lawannya yang paling pamungkas: Manticore. Sayangnya, melawan yang terakhir ini, Tarkus takluk. Meski takluk, kekalahannya menimbulkan versi lain dari Tarkus, yaitu Aquatarkus: Tarkus yang muncul dari air.

Cerita di atas -meski absurd- digambarkan dengan brilian dalam musik gubahan band progressive rock Emerson, Lake & Palmer berjudul Tarkus. Lagu Tarkus dibagi dalam tujuh bagian yang totalnya berdurasi 20 menit 35 detik. Bagian-bagian tersebut adalah sebagai berikut:

1. Eruption ; 0:00 - 2:43
2. Stones of Years ; 2:44 - 6:28
3. Iconoclast ; 6:29 - 7;44 
4. Mass ; 7:45 - 10:56
5. Manticore ; 10:57 - 12:49
6. Battlefield ; 12:50 - 16:41
7. Aquatarkus ; 16:42 - 20:41


Meski terdengar jenaka, namun ada versi yang mengatakan bahwa Tarkus adalah metafor dari komunisme. Komunisme berhadapan dengan kapitalisme yang diwakili Manticore. Meski komunisme kalah, namun idenya tetap bergema dalam bentuk Tarkus yang baru yaitu Aquatarkus. Karya yang ditulis tahun 1971 itu dimainkan oleh formasi trio yang terdiri dari Keith Emerson (keyboard), Greg Lake (bas) dan Carl Palmer (drum). Tidak bisa dipungkiri, lagu ini adalah salah satu yang paling fenomenal, rumit, tapi juga sukses dalam sejarah rock. 

Mari mengapresiasi dan memperbincangkan, agar kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang selamat telinganya!

Kisah petualangan Tarkus dalam gambar.


Mengapa tidak semua kegiatan KlabKlassik membahas musik klasik? Ini dia pertanggungjawabannya.

Sunday, October 14, 2012

Dari Beranda Mengintip Malena

Minggu, 14 Oktober 2012



Setelah bulan September tidak ada kegiatan sama sekali, KlabKlassik memulai lagi kumpul-kumpulnya bulan ini. Kekosongan di bulan September disebabkan oleh kepergian tiga punggawa KlabKlassik, yang salah satunya adalah yang paling aktif dalam mengkoordinasi kegiatan mingguan, yaitu Diecky K. Indrapraja. Setelah beristirahat sejenak, KlabKlassik memulai aktivitasnya dengan Edisi Nonton. Mas Yunus Suhendar sebagai koordinator membawakan film yang cukup segar: Malena (2000).

Mas Yunus memilih film ini karena selain cukup ringan secara alur cerita, music scoring-nya digarap oleh komposer kenamaan Ennio Morricone. “Ada beberapa karya opera yang ditampilkan dalam film ini,” kata Mas Yunus merujuk pada karya Morricone, komposer yang karyanya cukup terkenal di beberapa film seperti Fistful of Dollars, For a Few Dollars More; The Good, The Bad and The Ugly; The Mission, dan The Untouchables. “Ini adalah film yang Italia banget. Sutradaranya, pemainnya, penata musik, hingga bahasanya adalah Italia,” tambah Mas Yunus beberapa saat sebelum film mulai diputar.

Film Malena yang disutradarai oleh Giuseppe Tornatore ini berpusat pada seorang anak bernama Renato (diperankan oleh Giuseppe Sulfaro) yang sedemikian terobsesi pada seorang wanita cantik di kotanya, Castelcuto. Wanita bernama Malena Scordia (Monica Bellucci) tersebut tidak hanya menjadi idaman si anak, melainkan hampir seluruh pria di Castelcuto. Malena, meski jadi incaran, namun ia tampak setia pada suaminya, seorang serdadu bernama Nino Scordia. Setelah sang suami dikabarkan tewas di medan perang, perhatian seisi kota semakin menjadi-jadi pada Malena. Pun Renato, ia menjadi tambah terobsesi. Ia rajin mengintip Malena di rumahnya, pernah mencuri celana dalamnya, dan membayangkannya hampir di setiap waktu. Meski membuat penonton tertawa-tawa dalam enam puluh menit pertama, namun film ini menjadi tragis menjelang akhir. Terutama oleh pupusnya obsesi anak karena suami Malena, Nino Scordia, ternyata tidak gugur di medan perang.

Selesai menonton film berdurasi 94 menit tersebut, terjadi diskusi kecil. “Penampilan si anak, Renato, begitu fantastis. Menunjukkan gelora yang. belum bisa membedakan mana yang hasrat dan mana yang cinta. Tapi tampak begitu alamiah."ujar Tubagus. Rendy kemudian membandingan dengan film Malena versi yang lain, “Di versi ini, banyak adegan yang disensor karena sedikit porno. Namun adegan yang disensor tersebut, bagi saya, justru penting, Karena harus dieksploitasi bagaimana kegalauan si anak, Renato, yang belum bisa menyeimbangkan antara nafsu dan logikanya.” Mas Yunus kemudian mengomentari musiknya yang digarap Morricone, "Lagu utamanya, yaitu Ma L'Amore No sangat kuat dan menopang film secara keseluruhan. Suara klarinetnya sangat khas."

Pembahasan menjadi masuk sedikit tentang voyeurism. Bagaimanapun, aktivitas Renato terhadap Malena bisa dikategorikan sebagai mengintip. Renato mengendap-endap dan melihat Malena di rumahnya lewat lubang kecil, untuk kemudian berfantasi seorang diri di kamarnya. Namun mengintip sendiri bukanlah semata-mata melihat dari lubang kecil. Orang yang menyaksikan televisi punya esensi sama dengan mengintip: Melihat seseorang, menikmati membayangkan kehidupannya, tapi tanpa perlu khawatir orang yang dilihat kemudian balas melihat balik. Apakah hal tersebut hanya terjadi di usia labil seperti Renato? "Tidak," jawab Mas Yunus, "Kawan-kawan saya yang sudah menikah, berfantasi lebih gila daripada remaja." Rudy melanjutkan, "Voyeurism bukan penyimpangan. Ia dimiliki semua pria. Bahkan norma kesusilaan tidak sanggup mengadili hal-hal semacam ini," tutup Rudy.   

Friday, October 12, 2012

KlabKlassik Edisi Nonton: Malena (2000) "Jika Anda Cantik, Bersiaplah untuk Diintip"






Minggu, 14 Oktober 2012
Pukul 15.00 s/d selesai
Tobucil & Klabs, Jl. Aceh No. 56
Gratis dan terbuka untuk umum


Mengambil setting tahun 1940-an era perang dunia kedua, Castelcutto ialah sebuah kota kecil di Italia yang panoramanya dikelilingi oleh pantai nan eksotik. Diceritakan seorang janda muda cantik bernama Malena Scordia (Monica Belucci) lama ditinggal suaminya pergi berperang ke Afrika untuk rezim pemerintahan Benito Musollini. Bertahun-tahun tidak kembali, semua orang mengira sang suami, Nino Scordia (Gaetano Aronica) meninggal di peperangan. Malena secara fisik ialah wanita dewasa yang rupawan sehingga dipuja oleh oleh setiap pria tua maupun muda di Castelcutto, keindahan Malena menyihir seorang bocah labil berumur 13 tahun bernama Renato Amoroso (Giuseppe Sulfaro) yang diam-diam memperhatikan dan memendam hasrat. Dia sangat terobsesi oleh Malena secara sembunyi ia selalu mengikuti kemanapun malena pergi setiap harinya bahkan ia sengaja mengintip ke dalam rumah Malena memperhatikan bagaimana janda cantik ini menjalani kehidupannya seorang diri.

Plot film ini pada dasarnya dibangun atas narasi Renato yang melihat Malena sebagai wanita dewasa dari kacamata bocah berumur tiga belas tahun. Dengan polosnya, ia melihat bagaimana orang-orang dewasa disekitarnya hidup penuh intrik dan kemunafikan. Peran Renato di film ini memberikan gambaran psikologis tentang fase kedewasaan anak manusia yang prosesnya sangat rumit. Banyak sekali hal tabu dalam kehidupan yang sengaja ditampilkan apa adanya, membuat Malena sangat renyah untuk ditonton. Film ini diadaptasi dari cerita yang dibuat Luciano Vincenzoni dan disutradarai oleh Giuseppe Tornatore yang pernah memenangkan Oscar lewat film Cinema Paradiso. Music-scoring yang indah sepanjang film berdurasi 94 menit ini digarap oleh Ennio Morricone.


Monday, October 01, 2012

Mengapa Tidak Semua Kegiatan KlabKlassik berkaitan dengan Musik Klasik?

Meskipun tidak ada yang sungguh-sungguh bertanya tentang hal di atas, namun saya entah kenapa merasa harus menjawabnya. Karena sejak awal tahun 2012, KlabKlassik punya program komunitas baru, yang penjabarannya seperti ini: 

  • Minggu Kedua: Edisi Nonton dengan koordinator Yunus Suhendar. Film yang ditonton memang pernah beberapa kali berkaitan dengan musik klasik seperti From Mao to Mozart dan Amadeus. Namun pernah juga film-film yang tidak ada hubungannya seperti Nosferatu.
  • Minggu Ketiga: Edisi Playlist dengan koordinator Adrian Benn. Ini adalah semacam sesi mendengarkan musik bersama. Peserta membawa lagunya sendiri untuk diapresiasi secara bersama-sama. Lagunya ini dibawa sesuai tema, misalnya: "Blacklist Wedding Song", "Lagu yang ingin Kamu Perdengarkan jika Kamu Mati", "Musik Pengantar Tidur" atau "Inspirasi versus Plagiarisme". Harus musik klasik? Tidak harus!
  • Minggu Keempat: Edisi Bincang-Bincang dengan koordinator Diecky K. Indrapraja. Diskusinya juga tidak melulu tentang musik klasik, bahkan hampir tidak pernah. Edisi ini biasanya mengundang narasumber untuk memperbincangkan musik seperti ska, black metal, blues, hingga psikedelik. 
Lantas, sebelah mana sisi musik klasiknya? Bukankah ini mengkhianati visi dan misi KlabKlassik sendiri? Hal seperti ini pernah berkerut di kening mahasiswa antropologi yang datang untuk meneliti KlabKlassik. Bukan mereka yang bertanya, tapi ketika mahasiswa-mahasiswa tersebut mempresentasikan tentang KlabKlassik di depan kelas, mereka dicecar pertanyaan dari mahasiswa lainnya, "Terus, mana musik klasiknya?" Adrian Benn ketika pertama kali bergabung dengan KlabKlassik pun bertanya-tanya, "Ini bahas apa sih?" tanyanya yang waktu itu sedang membahas musik India oleh Pak Hardianto.

Ini akan saya coba memberi jawaban yang belum tentu memuaskan, dan juga tidak bermaksud sebagai pembelaan diri. Melainkan semacam pertanggungjawaban saja tentang apa yang kami lakukan:

  1. Apa yang dilakukan terkait dengan musik klasik sudah dilakukan lewat konser-konser yang diadakan sekitar dua atau tiga bulan sekali. 
  2. Setiap minggunya, rutin KlabKlassik mengadakan latihan ensembel gitar bernama Ririuangan Gitar Bandung (RGB). Repertoarnya biasanya musik klasik atau minimal dilakukan dengan teknik fingerstyle.
  3. Ada satu kritik dari kami bahwa baik musisi maupun apresiator musik klasik kerap terjebak di menara gading. Misalnya, lagu yang didengar hanya musik klasik, repertoar yang dimainkan hanya musik klasik, sejarah yang dipelajari adalah hanya tentang sejarah musik klasik. Yang demikian tidak bisa dibilang salah jika atas nama profesionalitas musisi. Namun terutama sebagai apresiator, kami menganggap bahwa apresiator yang baik adalah mereka yang bisa mengapresiasi segala jenis musik dan kesenian. Karena kami berasumsi, bahwa tidak ada musik yang baik dan buruk, yang ada hanyalah bagaimana apresiator menempatkan sesuatu dalam konteksnya. Misalnya, membandingkan musik reggae dengan musik mozart tentu saja tidak kontekstual secara timeline sejarah. Namun melihat pengaruh reggae dalam masyarakat Jamaika tentu saja akan membuat kita lebih bijaksana dalam mengapresiasi.
  4. Mereka yang terbiasa mengapresiasi musik klasik, akan mempunyai pisau bedah analisis yang lebih lengkap untuk melihat musik-musik lainnya. Orang yang terbiasa mengapresiasi musik klasik (terutama yang akademisi) akan lebih bisa merasakan melodi, kadens, instrumentasi, harmoni, progresi, tema, dan lain sebagainya (meskipun hal ini tidak mutlak, karena ada apresiator musik klasik yang tak pandai dalam hal semacam ini, ada juga orang non-musik klasik yang peka terhadap analisis). Atas dasar itu, diharapkan pembahasan tentang musik dan kesenian lainnya akan lebih lengkap. Misalnya, membahas film tapi kita bisa dengan jeli mengamati musik latarnya, ditinjau dari instrumentasi dan ketegangan yang dibangunnya.
  5. Dengan membahas musik-musik dari non-klasik, akan hadir juga penikmat-penikmat yang lebih umum. Hal tersebut pernah diungkapkan oleh beberapa orang dari komunitas musik black metal yang hadir ke KlabKlassik. Katanya, "Di kalangan kami sendiri, jarang sekali diskusi seperti ini. Anehnya, diskusi black metal malah dihadirkan di komunitas musik klasik."
Demikian. Diharapkan, dengan program rutin KlabKlassik yang membedah berbagai jenis musik dan seni lainnya, para apresiator menjadi lebih bijak dan arif, bahkan ketika mereka kembali mengapresiasi musik klasik itu sendiri. Selain itu, citra eksklusivitas musik klasik yang kerapkali mengurung diri di menara gading juga bisa diusir jauh-jauh. Harusnya, musik klasik, sebagaimana seni secara umum, bertujuan -kembali lagi- untuk membuat manusia menjadi lebih manusiawi.

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.