Sunday, July 22, 2012

Mengapresiasi Nosferatu (1922): Kesan Seram bukan Melulu dari Musik

Minggu, 22 Juli 2012


KlabKlassik Edisi Nonton kali ini, Yunus Suhendar sebagai koordinator membawa film klasik Nosferatu karya F. W. Murnau. Karena di waktu yang sama, di beranda Tobucil sedang ada acara Aliansi Jurnalis Independen (AJI), maka acara nonton dipindahkan ke bagian dalam Tobucil.
Nosferatu adalah film bisu berdurasi 97 menit yang diambil dari novel Bram Stoker yang terkenal berjudul Dracula. Berkisah tentang Jonathon Harker yang mendapat surat dari Count Dracula untuk berkunjung ke kastilnya. Untuk apa? Dracula ingin mencari rumah di dekat warga, ia meminta orang untuk membantu surveinya. Namun Harker mencium ada banyak keanehan dari Dracula ini, misalnya, ketika tangannya berdarah karena tergores pisau, Dracula terlihat bergairah dan langsung mengisap darah itu dari tangan Harker. Harker juga di suatu pagi menemukan bahwa lehernya ada dua tanda bekas digigit. Beruntung ada istri Harker bernama Ellen yang sedemikian punya firasat kuat terhadap apa yang terjadi pada suaminya. Setelah membaca buku panduan Dracula, ia menemukan bahwa Dracula bisa dimusnahkan jika seorang wanita dengan hati bersih menyerahkan darahnya untuk dihisap. Ellen berkorban, Count Dracula mati, Harker pun selamat.
Meski musiknya terbilang datar dan tidak ada kejutan-kejutan khas film horror, namun Nosferatu membuat kita tercekam lewat sosok drakula-nya itu sendiri. Ditambah lagi, film yang hitam-putih membuat fokus menjadi lebih tertuju pada sosoknya, bukan dilapisi oleh pesona warna-warni seperti dalam Dracula versi Francis Ford Coppola. Dracula yang disebut terakhir ini, memang juga memiliki sosok Drakula yang menakutkan, namun “keberwarnaan” si film membuat sosoknya tetap nyaman bagi mata.
Hal ini menjadi bahan diskusi yang menarik. Kata Yunus, “Film horror Indonesia misalnya, lebih menekankan pada efek kejut lewat audio. Sehingga jika kita ingin menghindari rasa takut, lebih baik menutup telinga daripada menutup mata. Namun Nosferatu ini kita begitu dihantui oleh visualisasi Count Dracula yang diperankan Max Schreck.” Ia sendiri mengaku mendapat rekomendasi film ini dari Ismail Reza, yang mengatakan bahwa inilah Drakula paling seram sepanjang masa. Hal ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi Tobing Jr., penggiat komunitas Layarkita yang juga menjadi peserta nonton bareng kemarin, bahwa film horror Indonesia sudah diwarnai ketidakbermutuan seperti Nenek Gayung atau Mama Minta Pulsa. “Mereka semestinya belajar dari film horror seperti Nosferatu ini. Kebanyakan sutradara lokal minim referensi. Hanya berkarya dan berkarya, tapi jarang mengacu pada film-film bagus. Sehingga karyanya menjadi kurang baik. Efeknya? Apresiasi penonton menjadi rendah. Lihat betapa kosongnya bioskop ketika Lewat Djam Malam-nya Usmar Ismail diputar. Berbanding terbalik ketika film-film seperti Pocong diputar.” 
Pernyataan kritis seperti ini selalu direspon secara klasik: Realistis dong, hidup ini kan butuh uang. Siapa yang mau bayar untuk nonton film seperti Nosferatu?


Syarif Maulana

No comments:

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.