Wednesday, June 27, 2012

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Mengenal Musik Ska

Minggu, 1 Juli 2012
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Pk. 15.00 - 17.00
Gratis dan Terbuka untuk Umum

Narasumber: Rahardianto


Salah satu genre musik yang sudah cukup familiar di telinga banyak orang. Sekitar akhir tahun 90an, ska mengalami booming luar biasa di Indonesia, kembali ke masa itu, ska bukan hanya menjadi konsumsi mereka yang berada pada zona subkultur, tetapi juga menjadi konsumsi mainstream sebagaimana boyband/girlband saat ini.

Sebagaimana musik yang laku secara musiman (baca: trend), ska pun punah di tahun kedua eksistensi mereka di media elektronik lokal. Tidak sedikit yang menyebut bahwa musik ini hanyalah sekedar musik musiman, yang bahkan hingga detik ini, hamper tidak pernah lagi terdengar gaungnya. Lalu benarkah ska hanyalah sebuah genre musiman? Untuk di Indonesia, fenomenanya memang demikian. Hal yang berbeda adalah ketika melihat ke akar kemunculannya, Ska bukanlah genre musik tahun 90an, gelombang pertamanya sudah muncul sejak akhir 1950an di Jamaica, bahkan sebelum kemunculan Reggae.

Dalam perkembangannya, ska telah banyak berevolusi bahkan hingga bentuk yang sama sekali berbeda dengan embrio nya. Perkawinan silang sebagai proses akulturasi dengan genre musik lain pun telah dilakukan sepanjang perjalanannya, yang melahirkan belasan bentuk baru, lengkap dari yang masih membawa gen nenek moyangnya hingga yang terdengar sebagai sebuah genre musik yang sama sekali baru.


Sunday, June 24, 2012

Edisi Playlist yang Penuh Keprihatinan

Minggu, 24 Juni 2012


Berbeda dengan edisi-edisi sebelumnya, Adrian Benn sang koordinator memberikan satu topik yang cukup menyulitkan di KlabKlassik Edisi Playlist #14 kali ini. Ia memilihkan topik tentang musik Indonesia. Tapi yang membuat sulit bukanlah musik Indonesia itu -karena perbendaharaan musik kita tidak bisa dikatakan miskin-, melainkan batasan waktunya yang tahun 2000 ke atas! Hal tersebut agaknya membuat para peserta kelimpungan karena rasanya musik Indonesia justru mengalami stagnasi sejak tahun 2000-an. Generasi terbaik terakhir barangkali muncul di era 90-an sebelum akhirnya musik menjadi semacam mie instan yang dikonsumsi lalu dibuang. Namun dalam keterbatasan itu, para peserta tetap berusaha membawa musik yang sesuai topik. 
1. Putri Penelope - Keong Racun (Syarif Maulana)
Lagu ini jelas tidak bisa dibilang lagu yang menonjol secara teknis di tahun 2000-an. Tapi tidak mungkin dipungkiri bahwa lagu ini pernah amat booming oleh sebab penampilan absurd Sinta dan Jojo.  Keong Racun, disebut Esoy sebagai mixing yang tidak terlalu bagus, jika dibandingkan dengan musik-musik Republik Cinta atau bahkan ia juga mengacu pada Dangdut Pantura. Perlu diakui bahwa youtube, dengan Sinta - Jojo sebagai aktornya, membuat lagu ini amat tenar tanpa usah mempertimbangkan aspek kualitas. Ini contoh kondisi musik Indonesia hari ini yang seringkali dibesarkan oleh hal-hal yang justru non-teknis!
2. Efek Rumah Kaca - Lagu Kesepian (Sutrisna)
Efek Rumah Kaca, menurut Rahar, barangkali merupakan salah satu band yang cukup kritis dan ideologis di tahun 2000-an. Keberadaannya menjadi oase bagi band Indonesia yang tengah marak dengan tema cinta-cinta-an. Meski demikian, Esoy juga mengritik keberadaan anak-anak muda masa itu yang seolah keren dengan mengenakan kaos Efek Rumah Kaca padahal tidak terlalu paham konten kritisinya. "Kayaknya udah rebel banget gitu pake kaos Efek Rumah Kaca atau Aksara Records biarpun gak ngerti juga," tambahnya.
3. Gigi - 11 Januari (Royke Ng)
Band yang dipilih Royke barangkali adalah salah satu dari sedikit band yang tidak terpengaruh oleh "wabah 2000-an". Gigi tetap konsisten dengan musik yang berkualitas, meski lagu ini terancam dituduh ikut pasar karena juga menye-menye. Namun menye-menye-nya Gigi, diakui Royke, masih berkualitas. Karena katanya, "Gua pernah coba ulik lagunya, ternyata tanpa chord. Dewa Budjana hanya menggunakan guide tone dalam membimbing nyanyian Armand Maulana." Hal tersebut setidaknya menunjukkan bahwa Gigi tetap berbeda dari lagu cinta band kebanyakan yang relatif mudah ditebak progresinya. Meskipun Diecky menolak pendapat Royke bahwa ada karya yang tanpa chord, "Bahkan karya kontrapung Bach saja, ada chord-nya."
4. Saurasama - Fajar di Atas Awan (Esa Esoy)
Lagu pilihan Esoy ini adalah lagu dengan durasi cukup panjang yakni sekitar tujuh menit. Meski demikian, musiknya tidak membosankan dan diakui Iqbal, sangat meditatif. Terasa sekali bahwa musik yang dimainkan adalah gabungan harmonisasi Barat dengan lantunan vokal yang terdengar punya sari-sari Sumatra Utara. Kata Esoy, musik ini tidak populer di Indonesia, tapi di suatu majalah luar negeri, rating-nya pernah mengalahkan Coldplay! Lagi-lagi ini menunjukkan kelemahan masyarakat kita dalam mengapresiasi musik anak bangsa. Diecky juga menambahkan bahwa hanya ada dua universitas di Indonesia yang mempunyai jurusan etnomusikologi. Satu di ISI Yogyakarta, satu lagi di Unimed Medan. Medan, yang notabene tempat bernaungnya Saurasama, sering mendapat pujian sebagai pengkaji etnomusikologi yang cukup serius.
5. Musik Tradisional Dayak - Sape (Dien Fakhri Iqbal)
Meski tidak bisa disebut sebagai musik tahun 2000-an, tapi musik yang dibawa Iqbal ini cukup bisa dijadikan renungan kekinian. Musik berdurasi enam menitan tersebut dimainkan dengan instrumen tradisional Dayak bernama sampek. Isinya relatif monoton, dengan petikan-petikan yang seolah-olah improvisatif, tapi kata Diecky, "Tidak, aku pernah ke Pontianak dan bertanya apakah cara main mereka itu adalah berimprovisasi? Mereka menolak mengatakan itu improvisasi karena katanya sudah berpakem. Bahkan lagu selesai pun mereka tidak punya patokan, kalau mereka mau selesai ya langsung selesai!" Hal tersebut menjadi pelajaran bagi musik Indonesia yang terkena "wabah 2000-an", yang kita sudah tahu arah lagunya mau kemana bahkan ketika kita baru saja mendengar intro-nya!
6. Frau - I'm a Sir (Adrian Benn)
Musik dari Frau yang merupakan band asal Yogyakarta ini ditampilkan dalam format ketukan 3/4. Lagu tersebut cukup variatif dan menggigit, bahkan vokalnya tidak terdengar seperti logat lokal. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan dari Diecky, "Jadi apa yang dimaksud dengan musik Indonesia? Apakah yang secara geografis berasal dari Indonesia? Atau menyanyikan lagu-lagu Indonesia? Pertanyaan berikutnya, apa itu lagu Indonesia? Apakah yang industri atau yang tradisi?". Meski demikian, hal tersebut tidak menyurutkan kekaguman peserta pada musikalitas Frau yang notabene di atas rata-rata. Hal menarik muncul dari pengakuan Brigitta yang menyukai Frau oleh sebab diberitahu kawannya bahwa vokalis Frau mirip dengan wajahnya.
7. Anane - Tun Alung Alung (Rahardianto)
Lagu yang dibawa Rahar ini menggabungkan aspek etnik dan harmonisasi Barat sekaligus. Namun ada bedanya dengan musik yang dibawa oleh Esoy, yaitu musik Rahar sedikit lebih rapi dalam pengelemannya. Maksudnya, Dieter Mack, seorang pakar musik dari Jerman pernah berkata tentang kriteria sebuah musik dikatakan berhasil digabungkan aspek Timur dan Baratnya, yaitu, "Ketika kita merasa keduanya tidak terpisah, melainkan menjadi satu entitas yang bisa dikatakan 'banci', tidak Barat, tidak Timur." Jika mengacu pada keberhasilan mengelem versi Dieter Mack, maka musik Rahar dianggap lebih cerdas, meskipun jika demikian bukan berarti Saurasama gagal. Namun kembali ditekankan Diecky, "Seseorang mesti mempunyai kecerdasan agar bisa menggabungkan Timur dan Barat. Tidak boleh hanya asal tempel saja."
8. Ballads of The Cliche - Hot Chocolate (Brigitta Arum Setyorini)
Lagu yang dibawa Brigitta ini terhitung sederhana. Hanya ada gitar, vokal, dan sedikit selipan solo trumpet. Meski demikian, lagu ini diakui Brigitta cukup bermakna bagi dirinya karena sering menemani di kala malam ataupun bangun pagi. Selain itu, dalam pengakuan Rahar, band Ballads of The Cliche juga termasuk band yang stabil dan "tidak berapor merah" di dunia musik Indonesia tahun 2000-an. Mereka juga cukup konsisten di jalur indie. Hal yang sebetulnya patut disayangkan ketika banyak band indie yang tidak memahami indie sebagai sebuah pergerakan, melainkan sebuah aliran tersendiri. Padahal indie seharusnya punya esensi pemberontakan, ketika jalur mainstream dianggap membosankan.
9. Ligro - Orgil (Diecky K. Indrapraja)
Lagu yang dibawa Diecky ini berasal dari genre yang bisa dikatakan jazz. Kelompok trio yang dipimpin Agam Hamzah pada gitar itu menampilkan karya komposisi Haryo Yose Soeyoto dari Bandung. Berdurasi agak panjang, jazz yang ditampilkan ketiganya cukup rumit dan bervariasi, sampai-sampai agak sulit mencari tema lagunya. Yang menjadi menarik adalah kenyataan bahwa bagi orang-orang yang minim apresiasi, musik seperti ini sering dikatakan sebagai chaotic. "Padahal," kata Rahar, "Dalam chaos theory, ada yang disebut ketidakteraturan dalam keteraturan." Tentu saja terlalu mensimplifikasi jika musik buru-buru dikatakan tidak teratur. Setidaknya, keberadaan judul karya, komposisi, dan tema lagu, menunjukkan bahwa lagu tersebut dikonsepsikan secara cermat.
10. JKT48 - Heavy Rotation (Tubagus Phandu Mursahdo)
Lagu pamungkas ini dibawa oleh Tubagus yang notabene merupakan peserta paling muda. Katanya, JKT48 adalah girlband yang bisa dikatakan franchise, karena ada pula di berbagai belahan dunia dengan sempalan angka 48 di belakangnya. Misalnya, di Hongkong ada HKG48. Tubagus mengungkapkan keprihatinan alih-alih kekagumannya terhadap band semacam itu, yang ia tuduh sebagai 'pelacur musik'. Karena apa? "Karena mereka tidak bisa main musik sama sekali. Harmonisasi vokal sedemikian buruk. Tapi dengan sedikit bisa menari dan tampang yang menjual, ketenaran bisa diperoleh," papar Tubagus. Hal yang kemudian disambung oleh Rahar, "Mereka harus banyak belajar dari The Commodores atau Manhattan Transfers," katanya mengacu pada dua kelompok vokal yang mempunyai harmonisasi luar biasa.
Kesepuluh lagu yang diputar tidak semua dihadirkan karena kualitasnya. Ada beberapa peserta yang sengaja membawa lagu yang memang tidak berkualitas sama sekali. Tujuannya bukan hanya sesederhana demi kepuasan mengolok-olok, melainkan lebih dari itu, menyadarkan bahwa musik Indonesia sedang berada dalam titik terendahnya. Industri sudah terlalu menguasai, sehingga musik-musik yang dibuat dengan serius dan bernilai tinggi, tenggelam dalam hiruk pikuk kapitalisme. Inilah dia KlabKlassik Edisi Playlist yang suram. Suram karena mengingat musik Indonesia pasca tahun 2000.

Saturday, June 23, 2012

KlabKlassik Edisi Playlist #14: Musik Indonesia Abad ke-21

Minggu, 24 Juni 2012
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Pk. 15.00 - 17.00
Gratis dan Terbuka untuk Umum

Latar Belakang Edisi Kali Ini 

Sebuah survey singkat tentang kondisi musik Indonesia abad 21 (tahun 2000 - skrg) yang dilakukan penulis terhadap sejumlah orang yang bukan pelaku musik, memunculkan kegalauan tersendiri: tidak ada yang bernada positif, dengan dua poin utama yaitu musik industri yang semakin monoton serta berkurangnya kualitas musik yang ditutupi dengan penampilan yang berlebihan demi mengejar profit. Pada saat survey, penulis memang hanya mengarahkan kepada musik Indonesia secara general, dan dari hasilnya sangat terlihat dominasi musik industri pada pola pikir umum. 

Bagaimana dengan kita, setujukah dengan pendapat tersebut? 

Pada edisi playlist kali ini kita akan mencoba menelisik lebih dalam mengenai musik Indonesia dengan konteks kekinian. Tidak spesifik tentang musik industri, tidak juga spesifik tentang kontemporer, atau musik sastra, tetapi secara keseluruhan, yang berarti boleh dari jenis apapun. Silakan bawa sebuah musik hasil karya orang Indonesia setelah tahun 2000 yang menurut anda sukai. Bersama-sama akan kita dengarkan dan apresiasi. 

Tentang Edisi Playlist 

Edisi Playlist bertujuan untuk melatih apresiasi. Memberi pengetahuan tentang keberbedaan selera yang berkembang di masing-masing persona, dan bagaimana cara menghargainya. Terlebih ketika hari ini musik sudah jarang sekali diperlakukan sebagai "musik an sich". Musik sekarang kita dengar sebagai latar belakang, mulai dari berbelanja di mal, menonton televisi, hingga menyetir di mobil. Mari kita duduk, menghargai musik sebagai musik, didengarkan dalam entitasnya yang sejati. Semoga ada kebenaran yang bisa diraih disana. Amin. 

Tatacara Peserta 

kumpul-kumpul berpartisipasi dengan cara membawa satu lagu favoritnya (tidak harus klasik loh!) dalam flashdisk untuk diputar dan diapresiasi bersama-sama. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Tuesday, June 19, 2012

Rirungan Gitar Bandung Bersiap Manggung



Minggu, 17 Juni 2012

Ririungan Gitar Bandung (RGB) dikumpulkan kembali. Untuk kali ini, pesertanya bertambah oleh sebab kebijakan baru berkaitan dengan acara dwitahunan KlabKlassik yaitu Classical Guitar Fiesta (CGF) yang akan digelar Juli bulan depan. Bagi mereka yang tidak lolos audisi, masih berkesempatan untuk tampil lewat keikutsertaan bersama RGB. 

Dari dua puluhan peserta yang tidak lolos, lima diantaranya tertarik untuk ikut RGB. Tidak banyak memang, namun antusiasme itu bisa dianggap berkah jika mengingat RGB yang agak lesu belakangan. Keinginan mengikuti ensembel ini juga bukan semata-mata agar bisa tampil di CGF, tapi juga mempertimbangkan bahwa bermain ensembel sangat bermanfaat bagi perkembangan musikalitas –hal yang luput jika seseorang terus menerus bermain solo-. 

Karya yang sedang dilatih dan nantinya akan dimainkan, adalah karya Mozart yaitu Romance yang diambil dari Eine Kleine Nachtmusic. Meski pertemuan pertama ini karya belum dimainkan hingga selesai, namun masih ada tiga pertemuan lagi menjelang hari-H. Bagi siapapun yang masih berminat untuk gabung, masih bisa hadir di hari Minggu depan tanggal 24 Juni. 

Pertemuan RGB pun ditutup dengan penampilan hiburan dari duet Trisna dan Angga yang memainkan beberapa karya dari Depapepe. Meski baru kelas 2 SMP, musik yang dihadirkan cukup ‘berisi’.

Sunday, June 17, 2012

Isaac Stern dan Keterbukaan Cina

Minggu, 17 Juni 2012 

KlabKlassik Edisi Nonton sore itu menghadirkan film documenter yang sebetulnya pernah diputar sekitar empat tahun lalu ketika KlabKlassik masih berkegiatan di CommonRoom. Film itu berjudul From Mao to Mozart: Isaac Stern in China. 


Film berdurasi sekitar sembilan puluh menit itu dihadirkan Yunus Suhendar, sang koordinator, dengan alasan, “KlabKlassik sekarang sedang giat-giatnya mengadakan acara yang ‘kembali ke musik klasik’,” katanya mengacu pada konser yang digelar KlabKlassik baru-baru ini yaitu Resital Piano Levi Gunardi. Musik klasik di sini diartikan sebagai musik klasik yang secara periodik mengacu pada musik-musik sebelum abad ke-20, yang isinya seputar Renaisans, Barok, Klasik, dan Romantik. 

Film From Mao to Mozart menceritakan tentang kehadiran Isaac Stern, seorang violinis terkemuka di Amerika Serikat di Cina yang pada masa itu baru saja membuka diri pada pengaruh Barat. Film itu dibuat pada periode pemerintahan Deng Xiaoping sekitar akhir tahun 70-an. Deng, yang menggantikan Mao Zedong, mengubah jalur kebijakan Cina yang tadinya menganggap Amerika Serikat sebagai imperialis, menjadi sarana untuk mendukung apa yang disebut Deng sebagai “Sosialisme ala Cina”. Kehadiran Isaac Stern lebih dari sekedar workshop musik. Kehadirannya lebih merupakan simbol kesiapan Cina dalam menerima pengaruh-pengaruh baru dari luar. Isaac Stern yang mengunjungi Beijing dan Shanghai, tidak hanya berbagi soal pengalaman-pengalaman bermusiknya, ia juga tampil bersama orkestra setempat. Selain itu, Stern juga disuguhi beberapa penampil berbakat dari negeri tuan rumah, baik di bidang musik klasik Barat maupun musik Cina itu sendiri. 


 Diskusi yang berlangsung setelahnya, sudah dapat diperkirakan, adalah diskusi soal kebudayaan. Diawali dengan pertanyaan, “Apakah ‘tidak apa-apa’, kebudayaan itu bercampur?” Diecky menjawab segera dengan lugas, “Sebetulnya tidak apa-apa, asal memahami akarnya dari mana. Agaknya yang dinamakan kebudayaan itu sendiri tidak terhindarkan untuk bercampurbaur. Tapi kebanyakan dari kita menjadi ‘barat’ oleh sebab tidak tahu akan pilihan-pilihan yang tersedia. Kita menjadi ‘barat’ oleh sebab merasa kebudayaan tersebut adalah satu-satunya yang kita tahu.” Pembicaraan menjadi berkembang ke arah pendidikan ‘berstandar internasional’ yang dikritik Jazzy sebagai rancu. “Biasanya di kita,” kata Jazzy, “asal ngomong Inggris, jadinya standar internasional. Padahal apa yang dinamakan standar internasional sendiri tidak jelas juga. Maka itu sekolah kami memilih nama national plus, sedikit lebih aman,” sambungnya mengacu pada sekolah tempat ia mengajar. 

Obrolan-obrolan kritis tersebut mengantarkan pembicaraan pada ide mengenai diadakannya seminar untuk mengritisi pendidikan musik di Bandung sekarang ini. Ide tersebut disambut positif, plus ajakan bagi KlabKlassik untuk lebih aktif di jalur kritik. Maksudnya, tampilnya banyak musisi, acara, atau konsep-konsep yang dianggap tidak jelas, adalah buah dari tidak adanya kritikus yang berani. Atau kalaupun berani, tidak ada argumen yang dianggap memadai.

Sunday, June 10, 2012

Hasil Audisi Classical Guitar Fiesta 2012




Classical Guitar Fiesta (CGF) 2012 yang akan digelar pada tanggal 13 Juli nanti adalah yang edisi yang keempat. Acara dwitahunan ini dimulai pada tahun 2006 dengan format yang cukup unik: Peserta konser boleh diikuti siapa saja tapi mesti melalui audisi. Yang nantinya lolos audisi, akan tampil kemudian bersama dengan bintang tamu yang diundang oleh panitia.  Di CGF 2006, bintang tamunya adalah Royke B. Koapaha, sedang CGF 2008 diisi oleh Jubing Kristianto, CGF 2010 oleh Phoa Tjun Tjit, dan CGF 2012 nanti akan kembali oleh Jubing. 


Audisi kali ini digelar di ruang alternatif Garasi 10 di Jalan Rebana nomor sepuluh, daerah Buah Batu. Seperti biasa, tim penilai terdiri dari tiga orang. Kali ini, yang bertindak sebagai juri adalah Bilawa Ade Respati, Diecky K. Indrapraja, dan Ibu Pauline Rahmiati. Animo CGF 2012 ini cukup tinggi, dan bisa dibilang paling tinggi dibanding gelaran sebelumnya, yaitu 34 calon peserta. 



Setelah melalui proses audisi yang total keseluruhannya mencapai hampir enam jam, juri dengan alot memutuskan empat belas peserta yang berhak tampil di acara CGF 2012 bersama Jubing Kristianto. Inilah dia nama-nama peserta yang lolos audisi (diurut berdasarkan abjad), dan beberapa catatan tambahan yang mesti diperhatikan:

Dennis Hadrian
Dicky Salam
Donny Dwiputra**
Febien Natanael
Gregorius Jovan Kresnadi
Henry Dimas Krishnanda**
Kevin Cahyady
Leonardus Satriyo Wicaksono
Maria Elsa
Rendy Lahope & Joseph Sinaga*
Ryan Sentosa
Teja Kesuma
Timmie Reynaldi
William Ryan

  • Peserta yang lolos audisi akan tampil di CGF 2012 dengan lagu yang sama dengan yang digunakan di audisi.
  • Peserta dengan keterangan *) adalah peserta yang lolos sebagai intermission karena pertimbangan penampilan yang unik dan berbeda.
  • Peserta dengan keterangan **) adalah peserta yang akan dihubungi kembali oleh panitia penyelenggara untuk diajukan beberapa pertimbangan.
  • Bagi peserta yang tidak lolos, masih berkesempatan untuk tampil di CGF 2012 bersama penampilan ensembel gitar Ririungan Gitar Bandung (RGB). Latihan ensembel ini akan dimulai pada tanggal 17 Juni 2012 pk. 13.00 di Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Keanggotaan ensembel ini tidak dipungut biaya tapi mensyaratkan kehadiran latihan yang rutin setiap hari Minggu hingga tiba hari konser (17 Juni, 24 Juni, 1 Juli dan 8 Juli). Keterangan: Lagu yang akan dimainkan nanti, partiturnya akan disediakan oleh pihak panitia.
  • Bagi seluruh peserta audisi, bukti pendaftaran masih diperlukan untuk ditukar dengan tiket masuk konser CGF 2012. Sedangkan nomor urut peserta audisi masih diperlukan untuk door prize gitar Prims (pengambilan doorprize tidak bisa diwakilkan).
Demikian ulasan dan pengumuman dari proses audisi Classical Guitar Fiesta 2012. Selamat bagi seluruh peserta audisi, semuanya berkesempatan menjadi bagian dari acara, mendapatkan hadiah, dan berapresiasi. Terima kasih!

Friday, June 08, 2012

Urutan Peserta Audisi Classical Guitar Fiesta 2012

Classical Guitar Fiesta (CGF) 2012 akan digelar tanggal 13 Juli. Seperti biasa, peserta akan terlebih dahulu diaudisi oleh tiga orang juri. Audisi dilakukan tanggal 10 Juni di Garasi10 dan inilah dia urutan pesertanya.

waktu
Nama Peserta Audisi
10.00-10.05
Rudy Ricky Pradana
10.05-10.10
Teja Kesuma
10.10-10.15
Nico
10.15-10.20
Ryan Sentosa
10.20-10.25
Sebastian Hadinata
10.25-10.30
Ferdy Andi Rivai
10.30-10.35
Kevin Cahyadi
10.35-10.40
Taqyya Naufinda Asnin
10.40-10.45
Nirmaya Arti Utami
10.45-10.50
Jennifer Ruslam
10.50-10.55
Bagas Budi Widya Anindita
10.55.11.00
Febian Natanael
11.00-11.05
David
11.05-11.10
Timmie Reynaldi
11.10-11.15
Sylviani Chandra
11.15-11.20
Ivan Setiawan
11.20-11.25
Tubagus Phandu Mursahdo
11.25-11.30
Donny Dwiputra
11.30-11.35
Amazia Alexander
11.35-11.40
Trisna Karisma & Arina Ghaida
istirahat 1 jam

12.40-12.45
Tai Tzu Lee
12.50-12.55
Cindy Criselda
12.55-13.00
William Ryan
13.05-13.10
Yola Rahmalia Utami
13.15-13.20
Leonardus Satriyo Wicaksono
13.20-13.25
William
13.25-13.30
Rendy Lahope & Joseph Sinaga
13.30-13.35
Gregorius Jovan Kresnadi
13.35-13.40
Dicky Salam
13.40-13.45
Maria Elsa
13.45-13.50
Dennis Hadrian
13.50-13.55
Cerwyn
13.55-14.00
Jardika Eka Tirtana
14.00-14.05
Heny Dimas Krishnanda

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.