Monday, May 28, 2012

Meski Sains Mendekati, Musik Tetaplah Misteri

Minggu, 27 Mei 2012

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang kali ini menghadirkan Dien Fakhri Iqbal Marpaung sebagai pembicara. Topiknya adalah “Terapi Musik bagi Jiwa, Raga, dan Bangsa”. Kebetulan wilayah kajian Iqbal adalah psikologi dan kerapkali merambah bidang neurosains yang belakangan sedang cukup populer itu. 

Diecky (kiri) dan narasumber Iqbal.

Sebelum diskusi dimulai, Iqbal memberi semacam jalan masuk berupa video tentang kajian neurosains. Video dokumenter tersebut beberapa bagian di dalamnya adalah wawancara dengan musisi ternama semisal Yo Yo Ma dan Bobby McFerrin, dihubungkan dengan kajian pengaruh musik terhadap otak. Selain itu, ada semacam penelitian menarik tentang universalitas musik. Ada peneliti yang masuk ke pedalaman Afrika dan menemukan suku yang tidak pernah tersentuh musik Barat. Suku tersebut bahkan tidak punya padanan bagi kata “musik” dalam bahasanya. Ternyata beberapa musik klasik yang disajikan dengan tema senang, sedih, dan takut, mendapat reaksi yang sesuai setelah diperdengarkan pada mereka. Artinya, memang ada yang universal dalam musik, meskipun yang semacam ini bisa diperdebatkan.

Setelah video diputar sekitar hampir satu jam, Iqbal baru memulai pembahasannya. Pembahasan tentang musik terapi ini, saking menariknya, menjadi timbul banyak pertanyaan. Iqbal mendapat bombardir. Misalnya, apa sebenarnya pengaruh musik bagi otak? Yang beredar kebanyakan adalah tentang aktivasi otak kiri yang isinya intuisi dan kreativitas. Otak kiri berbeda dengan otak kanan yang katanya khusus untuk berpikir rasional dan matematis. Pemikiran semacam ini keliru, karena musik berguna untuk sinkronisasi otak kiri dan otak kanan. Seorang musisi yang integral seyogianya juga cerdas dalam berpikir rasional.

Neurosains, meski menjadi bidang keilmuan yang cukup canggih, namun tetap tidak bisa menyentuh inti musik di titiknya yang terdalam. ”Tetap,” kata Iqbal, ”Sebelum melakukan terapi, seyogianya kita menggeluti perilaku si pasien.” Artinya tidak ada musik yang universal bisa dipakai sebagai terapi, ia tetap abstrak dan tak bisa ditangkap objektivitasnya. Misalnya, musik yang mengandung suara air dipercaya bisa menenangkan pasien. Tapi bagaimana jika pasien dulunya adalah korban tsunami?

Maka itu, kata Iqbal, penguasaan akan filsafat juga dibutuhkan dalam pemilihan musik terapi. Seseorang harus memahami filsafat bahagia, yaitu semacam orientasi pasien tentang apa yang membuatnya bahagia. Iqbal menawarkan empat yang membuat seseorang bahagia, apakah itu pemenuhan kebetuhan, bertahan dalam penderitaan, keseimbangan, atau misteri. Jika itu bisa digali terlebih dahulu, maka nantinya bisa menjadi pedoman dalam menentukan musik apa yang cocok untuk terapi.

Musik agaknya tetap menjadi msalah satu misteri terbesar dalam kehidupan. Sains, filsafat, hingga teknologi tidak bisa memecahkan betul-betul secara akurat apa sesungguhnya musik itu. Musik adalah sebuah pengejawantahan metafisika yang paling ”mendekati”, maka itu ia paling absurd dan tidak bisa ditangkap. Jika menyerah, maka jawaban yang tepat untuk menerjemahkan arti musik barangkali adalah berdasarkan tujuan musik itu sendiri. Schopenhauer mengatakan, ”Musik adalah pengalaman keterlepasan dari ruang dan waktu. Dengan musik, manusia akan dengan serta merta menyadari eksistensi dirinya sendiri yang menyedihkan.” Definisi yang absurd, tapi agaknya akurat.

No comments:

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.