Thursday, May 24, 2012

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Terapi Musik buat Jiwa, Raga dan Bangsa

Minggu, 27 Mei 2012
Pk. 15.00 - 17.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56 Bandung
Prolog oleh Dien Fakhri Iqbal
Walau musik itu ‘didengar’ oleh telinga, namun pada hakikatnya dia menyentuh dengan menggetarkan gendang telinga, lapisan tertipis dan tersensitif dari bagian tubuh manusia. Tak heran, musik-musik yang menyentuh hati mampu menggetarkan seluruh tubuh pendengarnya.
Musik telah hadir seusia peradaban manusia. Kain bermain musik untuk mengusir duka lara akibat pembunuhan yang ia lakukan terhadap Habel, saudara sekandungnya, Daud bermain harpa untuk Raja Saul, Hippocrates memainkan musik untuk pasien-pasiennya, dan Aristotle menjelaskan musik sebagai penyucian emosi. Di abad ke-13, rumah sakit di Arab mempunyai ruangan khusus untuk musik diperdengarkan.



Kini, di dunia Barat sana, terapis musik sudah menjadi sebuah profesi yang mapan.  Musik sudah menjadi titik temu kerja yang kompak yang melibatkan berbagai bidang disiplin ilmu murni dan terapan, seperti pedagog, andragog, dokter, psikiater, biolog, musikus, psikolog, fisikiwan, ahli otak, musikolog, atau entolog. Di sana, keprofesian sudah melebur dan memusatkan perhatian pada penanganan masalah yang lebih spesifik. Di Bandung, untuk menyebutkannya dengan semangat seperti di Indonesia, perbincangan musik sebagai terapi, atau sebagai media yang memiliki efek terapeutik, rasanya memang jarang disebut-sebut. Justru yang hadir lebih intens adalah menjamurnya karaoke-karaoke, musik dengan syair yang mendayu-dayu atau hiruk pikuk, debat tradisi versus barat, wabah musik asia timur – Jepang dan Korea, atau indie vs major label. Terapi musik atau efek terapeutik musik justru seringkali tidak tersentuh, padahal musik memiliki efek yang sangat personal dan bersifat sangat biografis, baik pada komponis, musisi, maupun para pendengarnya.
Perbincangan kali ini adalah mencoba membuka dan berbagi wawasan seputar efek-efek penyembuhan (fisik) dan pemulihan (psikis) yang terfasilitasi oleh musik, bagaimana mekanisme kerjanya secara spesifik,  penyusunan sasaran atau target dan bagaimana cara mengevaluasi serta mengembangkan sebuah program dengan lebih terarah. Perbincangan kritis mengenai bagaimana terapi musik yang pas untuk keadaan berbangsa dan negara, sudah barang tentu diharapkan menjadi bagian penting dari diskusi kali ini. Dalam mimpi yang baik, di waktu semakin hiruk pikuk ini, setidaknya kita punya OST untuk berhening diri dan menemukan sekumpulan bunyi yang mampu merepresentasikan keadaan kita saat. Semoga.
 
Acara ini Gratis dan terbuka untuk umum. Mari berbincang!!

No comments:

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.