Monday, May 28, 2012

Meski Sains Mendekati, Musik Tetaplah Misteri

Minggu, 27 Mei 2012

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang kali ini menghadirkan Dien Fakhri Iqbal Marpaung sebagai pembicara. Topiknya adalah “Terapi Musik bagi Jiwa, Raga, dan Bangsa”. Kebetulan wilayah kajian Iqbal adalah psikologi dan kerapkali merambah bidang neurosains yang belakangan sedang cukup populer itu. 

Diecky (kiri) dan narasumber Iqbal.

Sebelum diskusi dimulai, Iqbal memberi semacam jalan masuk berupa video tentang kajian neurosains. Video dokumenter tersebut beberapa bagian di dalamnya adalah wawancara dengan musisi ternama semisal Yo Yo Ma dan Bobby McFerrin, dihubungkan dengan kajian pengaruh musik terhadap otak. Selain itu, ada semacam penelitian menarik tentang universalitas musik. Ada peneliti yang masuk ke pedalaman Afrika dan menemukan suku yang tidak pernah tersentuh musik Barat. Suku tersebut bahkan tidak punya padanan bagi kata “musik” dalam bahasanya. Ternyata beberapa musik klasik yang disajikan dengan tema senang, sedih, dan takut, mendapat reaksi yang sesuai setelah diperdengarkan pada mereka. Artinya, memang ada yang universal dalam musik, meskipun yang semacam ini bisa diperdebatkan.

Setelah video diputar sekitar hampir satu jam, Iqbal baru memulai pembahasannya. Pembahasan tentang musik terapi ini, saking menariknya, menjadi timbul banyak pertanyaan. Iqbal mendapat bombardir. Misalnya, apa sebenarnya pengaruh musik bagi otak? Yang beredar kebanyakan adalah tentang aktivasi otak kiri yang isinya intuisi dan kreativitas. Otak kiri berbeda dengan otak kanan yang katanya khusus untuk berpikir rasional dan matematis. Pemikiran semacam ini keliru, karena musik berguna untuk sinkronisasi otak kiri dan otak kanan. Seorang musisi yang integral seyogianya juga cerdas dalam berpikir rasional.

Neurosains, meski menjadi bidang keilmuan yang cukup canggih, namun tetap tidak bisa menyentuh inti musik di titiknya yang terdalam. ”Tetap,” kata Iqbal, ”Sebelum melakukan terapi, seyogianya kita menggeluti perilaku si pasien.” Artinya tidak ada musik yang universal bisa dipakai sebagai terapi, ia tetap abstrak dan tak bisa ditangkap objektivitasnya. Misalnya, musik yang mengandung suara air dipercaya bisa menenangkan pasien. Tapi bagaimana jika pasien dulunya adalah korban tsunami?

Maka itu, kata Iqbal, penguasaan akan filsafat juga dibutuhkan dalam pemilihan musik terapi. Seseorang harus memahami filsafat bahagia, yaitu semacam orientasi pasien tentang apa yang membuatnya bahagia. Iqbal menawarkan empat yang membuat seseorang bahagia, apakah itu pemenuhan kebetuhan, bertahan dalam penderitaan, keseimbangan, atau misteri. Jika itu bisa digali terlebih dahulu, maka nantinya bisa menjadi pedoman dalam menentukan musik apa yang cocok untuk terapi.

Musik agaknya tetap menjadi msalah satu misteri terbesar dalam kehidupan. Sains, filsafat, hingga teknologi tidak bisa memecahkan betul-betul secara akurat apa sesungguhnya musik itu. Musik adalah sebuah pengejawantahan metafisika yang paling ”mendekati”, maka itu ia paling absurd dan tidak bisa ditangkap. Jika menyerah, maka jawaban yang tepat untuk menerjemahkan arti musik barangkali adalah berdasarkan tujuan musik itu sendiri. Schopenhauer mengatakan, ”Musik adalah pengalaman keterlepasan dari ruang dan waktu. Dengan musik, manusia akan dengan serta merta menyadari eksistensi dirinya sendiri yang menyedihkan.” Definisi yang absurd, tapi agaknya akurat.

Thursday, May 24, 2012

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Terapi Musik buat Jiwa, Raga dan Bangsa

Minggu, 27 Mei 2012
Pk. 15.00 - 17.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56 Bandung
Prolog oleh Dien Fakhri Iqbal
Walau musik itu ‘didengar’ oleh telinga, namun pada hakikatnya dia menyentuh dengan menggetarkan gendang telinga, lapisan tertipis dan tersensitif dari bagian tubuh manusia. Tak heran, musik-musik yang menyentuh hati mampu menggetarkan seluruh tubuh pendengarnya.
Musik telah hadir seusia peradaban manusia. Kain bermain musik untuk mengusir duka lara akibat pembunuhan yang ia lakukan terhadap Habel, saudara sekandungnya, Daud bermain harpa untuk Raja Saul, Hippocrates memainkan musik untuk pasien-pasiennya, dan Aristotle menjelaskan musik sebagai penyucian emosi. Di abad ke-13, rumah sakit di Arab mempunyai ruangan khusus untuk musik diperdengarkan.



Kini, di dunia Barat sana, terapis musik sudah menjadi sebuah profesi yang mapan.  Musik sudah menjadi titik temu kerja yang kompak yang melibatkan berbagai bidang disiplin ilmu murni dan terapan, seperti pedagog, andragog, dokter, psikiater, biolog, musikus, psikolog, fisikiwan, ahli otak, musikolog, atau entolog. Di sana, keprofesian sudah melebur dan memusatkan perhatian pada penanganan masalah yang lebih spesifik. Di Bandung, untuk menyebutkannya dengan semangat seperti di Indonesia, perbincangan musik sebagai terapi, atau sebagai media yang memiliki efek terapeutik, rasanya memang jarang disebut-sebut. Justru yang hadir lebih intens adalah menjamurnya karaoke-karaoke, musik dengan syair yang mendayu-dayu atau hiruk pikuk, debat tradisi versus barat, wabah musik asia timur – Jepang dan Korea, atau indie vs major label. Terapi musik atau efek terapeutik musik justru seringkali tidak tersentuh, padahal musik memiliki efek yang sangat personal dan bersifat sangat biografis, baik pada komponis, musisi, maupun para pendengarnya.
Perbincangan kali ini adalah mencoba membuka dan berbagi wawasan seputar efek-efek penyembuhan (fisik) dan pemulihan (psikis) yang terfasilitasi oleh musik, bagaimana mekanisme kerjanya secara spesifik,  penyusunan sasaran atau target dan bagaimana cara mengevaluasi serta mengembangkan sebuah program dengan lebih terarah. Perbincangan kritis mengenai bagaimana terapi musik yang pas untuk keadaan berbangsa dan negara, sudah barang tentu diharapkan menjadi bagian penting dari diskusi kali ini. Dalam mimpi yang baik, di waktu semakin hiruk pikuk ini, setidaknya kita punya OST untuk berhening diri dan menemukan sekumpulan bunyi yang mampu merepresentasikan keadaan kita saat. Semoga.
 
Acara ini Gratis dan terbuka untuk umum. Mari berbincang!!

Tuesday, May 22, 2012

My Life on Piano: Resital Piano Levi Gunardi


My Life on Piano: Resital Piano Levi Gunardi
Menampilkan Karya-Karya
Bach - Chopin - Liszt - J. Suprana - M. Embut - L. Gunardi

Jumat, 1 Juni 2012
Pk. 19.00
Gd. Yayasan Dana Mulia
Jl. Pasteur no. 12
Bandung

Informasi dan Reservasi:
Syarif (0817-212-404)

Monday, May 21, 2012

Merayakan Kehidupan lewat Lagu Kematian

 
 
Minggu, 20 Mei 2012
Hari Minggu kemarin KlabKlassik Edisi Playlist menyajikan topik yang agaknya ”kontroversial”. Sesuatu yang gelap, misterius, tapi nyata, yaitu kematian.
Ini bukan semata-mata tentang kematian. Sang koordinator, Adrian Benn, menyulap pengantarnya jadi agak ceria, yaitu: ketika kita mati, lagu apa yang ingin kau perdengarkan pada orang lain, yang mengingatkan mereka merayakan kehidupanmu. Walhasil suasana jadi agak gloomy, karena setiap orang jadi merenungkan kematiannya. Inilah dia lagu-lagu yang dihadirkan yang totalnya ada sembilan lagu.
  1. Tori Amos – Crucify (Margaretha Nita)
Lagu pembuka ini meskipun terdengar riang, namun isinya adalah kemarahan. Sesuatu yang kata Nita demikian lekat dengan tema-tema musik Tori Amos pada umumnya. Untuk lagu ini, kemarahan ditujukan pada agama, nilai-nilai masyarakat, dan kekecewaan pada mereka yang kerap membesar-besarkan konsep kematian. Nita menginginkan kematian yang tidak usah menyusahkan yang hidup. Sendiri, di hutan, dan tenggelam bersama keabadian bumi.
  1. Enya – It’s in the Rain (Permata Andhika)
Lagu pilihan Mata ini mulanya ditujukan pada kematian kucing-kucingnya yang ia tinggal seharian tanpa diberi makan. Tidak ada niat buruk di balik itu, Mata hanya berpikir bahwa karena kucing itu punya induk, maka sudah seyogianya sang induk mencarikan makanan. Rasa bersalah akan kematian kucing-kucingnya itu bisa dibuat lega oleh lagu Enya yang sedemikian terkesan “naturalistik”. Dekat dengan alam, seolah memang kucing Mata adalah from dust to dust.
  1. Metallica – Fade to Black (Syarif Maulana)
Lagu dari Syarif ini semacam keinginan pribadi, bahwa ketika kematiannya, mesti ada grup band Metallica menyanyikan lagu ini. Namun terlepas dari itu, lagu tersebut memang mengisahkan kematian. Bahwa kematian adalah sesuatu yang membebaskan: There is nothing more for me, need the end to set me free.
  1. The Gaslight Anthem – We’re Getting divorce, You Keep a Diner (Rahardianto)
Rahar adalah pribadi yang unik, ia menginginkan dan sekaligus meramalkan bahwa kematiannya akan berlangsung tragis dan mungkin saja menyakitkan. Maka itu ia memutar lagu yang juga tragis. Tentang perkawanan yang kemudian bercerai berai karena masing-masing orang mempunyai kehidupan sendiri. Rahar seolah mau mengatakan bahwa kematian pun seyogianya adalah urusan kesendirian, seperti dalam novel Pramoedya Ananta Toer berjudul Bukan Pasar Malam, “Manusia lahir sendiri-sendiri, mati juga sendiri-sendiri. Tidak ramai-ramai seperti pasar malam.” 
  1. Rollies – Salam Terakhir (Esa Esoy)
Lagu pilihan Esoy ini mengingatkan pada pergaulan ayahnya bersama kelompok rock 70-an Indonesia kala itu yang akrab dengan obat-obatan. Gito Rollies, sang vokalis The Rollies, termasuk yang keberadaannya cukup melekat di memori Esoy. Katanya, Gito menutup hidupnya dengan menjadi ustad, sesuatu yang kontradiktif dengan hidup masa mudanya. Ini adalah sebuah upaya untuk khusnul khatimah, mati dengan baik, mengucap salam terakhir pada kehidupan yang pernah membawanya pada puncak dunia. 
  1. Diecky and The G-Spot Tornado Ensemble Modern – Gogoleran (Diecky K. Indrapraja)
Kematian bagi Diecky adalah seperti orang yang baru bangun tidur. Ia sedikit demi sedikit, perlahan-lahan, tadinya mau bangun tapi tidur lagi, atau dalam bahasa Sunda disebut gogoleran alias tidur-tiduran. Maka itu musik hasil komposisinya ini ditutup dengan fade out yang “nanggung”. Seperti mau habis tapi bunyinya muncul lagi sayup-sayup sebelum habis total.
  1. Libera – Going Home (Adrian Benn)
“Kematian yang damai”, dengan bidadari yang mengangkat roh menuju ke surga. Kira-kira inilah kesan yang disematkan pada lagu pilihan Ben yang dibawakan oleh kelompok paduan suara anak-anak bernama Libera. 
  1. Jethro Tull – Skating Away on The Thin Ice of The New Day (Muhammad Al-Mukhlisiddin)
Lagu Jethro Tull ini agak optimistis. Ini adalah tentang berselancar di es yang tipis. Meski es itu kelak retak, harus tetap skating away. Suatu ungkapan bahwa kematian adalah sesuatu yang niscaya, lebih baik menghadapinya dengan sukacita. Namun sisi magis dari lagu ini adalah keberadaan instrumen tabla asal India yang demikian lekat melatari si lagu, membuat kematian mengepung suasana playlist di sore yang habis hujan itu.
  1. Omar Faruk Tekbilek, Yair Dalal & Azam Ali – Inshallah (Dien Fakhri Iqbal Marpaung)
Lagu instrumental kedua setelah musiknya Diecky tersebut, otomatis membawa pendengarnya pada suasana gurun pasir yang sepi dan tak bertuan. Namun titik berat Iqbal bukan pada kesendirian itu, melainkan pada judulnya yaitu inshaallah. Kata Iqbal, kata insha tidak punya padanan dalam bahasa apapun. Itu adalah bentuk perbatasan transsendental antara yang khalik dan yang makhluk.
Lagu dari Iqbal tersebut rupanya menjadi penutup. Yang hadir di edisi playlist itu sendiri ada dua belas orang namun tidak semua membawa lagu. Yang tidak memutar lagu, tetap asyik mengikuti jalannya ritual dan diskusi yang gelap dan galau.
Mati adalah niscaya, apa yang kita lakukan untuk menunggu gong itu berbunyi?

Thursday, May 17, 2012

KlabKlassik Edisi Playlist #13 - A Song Of Remembrance



Minggu, 20 Mei 2012
Jam 15.00 - 17.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan Terbuka untuk Umum


Tentang Edisi Playlist

Edisi Playlist bertujuan untuk melatih apresiasi. Memberi pengetahuan tentang keberbedaan selera yang berkembang di masing-masing persona, dan bagaimana cara menghargainya. Terlebih ketika hari ini musik sudah jarang sekali diperlakukan sebagai "musik an sich". Musik sekarang kita dengar sebagai latar belakang, mulai dari berbelanja di mal, menonton televisi, hingga menyetir di mobil. Mari kita duduk, menghargai musik sebagai musik, didengarkan dalam entitasnya yang sejati. Semoga ada kebenaran yang bisa diraih disana. Amin.
 
Tatacara

Peserta kumpul-kumpul berpartisipasi dengan cara membawa satu lagu favoritnya (tidak harus klasik loh!) dalam flashdisk untuk diputar dan diapresiasi bersama-sama. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Latar Belakang Edisi Kali Ini

Keberadaan manusia dalam dunia ini hanya sementara. Sebuah studi menyebutkan rata-rata jangka hidup manusia adalah 67 tahun. Kematian adalah sebuah kepastian yang tidak terhindar.

Tidak, edisi playlist kali ini bukan membahas tentang kematian, tetapi tentang mengenang kehidupan. Itulah sejatinya sebuah upacara pemakaman, yaitu menghidupkan dia yang berpulang sekali lagi di dalam hati kita untuk selamanya, dengan mengenang masa hidup yang telah berlalu.

Nah, seandainya kelak dalam upacara pemakamanmu, ada kesempatan untuk diputarkan atau dimainkan sebuah karya musik untuk merayakan kehidupanmu, karya apa yang akan kau pilih?

Red Beard (1965): Isu Nasionalisme atau Kegilaan?

Minggu, 13 Mei 2012

Hari itu, pukul tiga, KlabKlassik mengadakan acara nonton bareng yang dipandu oleh Yunus Suhendar. Apa yang hendak ditonton bukan film yang bisa dibilang ringan. Film yang diputar adalah film berdurasi 185 menit, hitam putih, berbahasa Jepang, garapan Akira Kurosawa, dan bertemakan mengenai rumah sakit jiwa. 
Acara nonton sore itu menjadi agak ramai oleh sebab kedatangan beberapa mahasiswa antropologi yang berniat untuk meneliti perihal KlabKlassik dan aktivitasnya. Setelah KlabKlassik menjawab beberapa pertanyaan singkat, Diecky "memaksa" para mahasiswa itu untuk ikut serta dalam acara nonton bareng sebelum kemudian merumuskan hasil penelitiannya. Sebelum itu juga, Yunus memberikan sedikit pengantar mengenai film tersebut. Katanya, "Ini film yang sepertinya menginspirasi banyak sekali film yang bertemakan rumah sakit jiwa seperti One Flew Over a Cuckoo's Nest."
Film Red Beard secara garis besar mengisahkan tentang dokter muda bernama Yasumoto yang baru pulang dari Belanda pasca studi kedokteran. Di Jepang, ia ditempatkan untuk mengurusi rumah sakit jiwa pimpinan "Si Janggut Merah", julukan bagi sang pemimpin yang memang punya janggut merah. Konflik terjadi karena ternyata pengetahuan Yasumoto yang sudah dianggap mumpuni dan modern, tidak banyak berarti apa-apa di rumah sakit tersebut. Bertentangan dengan Si Janggut Merah yang rupanya lebih banyak mengandalkan pengalaman serta cara-cara yang dianggap "tradisional" ketimbang kedokteran modern. 
Red Beard rupanya memang bukan film yang terlalu mudah untuk dicerna. Yunus sendiri di tengah-tengah film mengakui sendiri bahwa ia menonton film tersebut dengan sering jeda dan istirahat. Maka dengan sangat menyesal film itu mesti diakhiri sebelum waktunya karena terlihat banyak peserta tidak sanggup lagi berkonsentrasi. Film diselesaikan ketika durasi baru menunjukkan 90 menit saja atau setengah dari total 185 menit.  
Namun hal tersebut tidak mengurungkan suasana diskusi yang justru hidup. Jazzy melihat Red Beard itu sebagai analogi dari Si Janggut Merah yang juga merupakan julukan yang disematkan bagi Frederick I Barbaroosa. Jazzy melihat hal tersebut sebagai simbol nasionalisme. Barbaroosa memang seringkali dikaitkan dengan isu nasionalisme, salah satunya disebabkan oleh penggunaan nama tersebut oleh Adolf Hitler dalam salah satu operasi perangnya. Sama halnya dengan Red Beard  di film Kurosawa yang sedemikian lekat dengan isu nasionalisme. Tambahnya, "Ya, Red Beard mengajarkan kita  bahwa nilai-nilai Barat tidak selalu universal. Ada nilai-nilai nasional, atau bahkan lokal, yang barangkali bisa digunakan untuk menyelesaikan persoalan tertentu, dalam hal ini isu kesehatan." 
Para mahasiswa antropologi tampak kebingungan karena bagaimana bisa acara nonton seperti ini dikaitkan dengan menonton musik klasik? Ada sebetulnya, dan juga dijelaskan dalam diskusi kemarin. Bahwa mengapresiasi kegiatan seni memang ada yang bisa dikategorikan hiburan, ada juga yang bisa digolongkan sebagai kegiatan seni yang serius dan butuh apresiasi tinggi. Sebagaimana halnya dengan mengapresiasi film-film Kurosawa, mengapresiasi musik klasik juga agaknya membutuhkan sedikitnya stamina. Setelah stamina mulai terbiasa, baru yang dibutuhkan berikutnya adalah pengetahuan dan kerendah hatian. Dua yang terakhir ini menjadi hal terpenting bagi penonton manapun sebelum menerima sesuatu yang tampil di hadapan. Jika itu sukses dilakukan, maka tinggal tunggu seni menampilkan keajaibannya, menari di kedalaman batin kita.

Thursday, May 10, 2012

Klabklassik Edisi Nonton: Red Beard (1965) Memanusiakan Manusia ala Akira Kurosawa

Minggu, 13 mei
Pukul 15.00 s/d the end
Tempat Tobucil : jl. Aceh no.56 bandung
(Gratis dan terbuka untuk umum)

Plot besar film ini pada dasarnya bersumber dari kompilasi cerita pendek karya penulis shugoro yamamoto yaitu “akahige shinryotan (red beard)” dan adaptasi novel karya Fyodor Dostojevsky “The insulted and the injured” yang menyajikan sublot cerita seorang gadis muda, ottoyo (Terumi Niki)yang diselamatkan dari sebuah rumah bordil oleh dr. niide lalu mengabdi di rumah sakit, film red beard menyoroti masalah kesenjangan sosial dan eksporasi dua tema besar yang selalu diusung sang sutradara akira kurosawa yaitu humanisme dan eksistensialisme.



Bersetting era penguasa shogun di jepang pada abad ke 19, film ini mengajak kita untuk menghayati kesakitan dan penderitaan manusia di sebuah rumah sakit rakyat di kota edo yang dikelola oleh dr. kyojo niide (toshiro mifune) dia dijuluki si janggut merah (red beard), di rumah sakit miliknya para pasien kaum tak mampu dilayani layaknya manusia dan dibolehkan menetap, kaum papa ini merasa betah hidup di rumah sakit itu dan merasa menjadi bagian sebuah keluarga disana. Konflik dimulai saat datangnya seorang dokter muda lulusan kedokteran belanda dari Nagasaki dr.noboru yasumoto (yuzo kayama) yang ditugaskan untuk praktek di rumah sakit tersebut, membawa arogansi merasa bahwa ia seharusnya bekerja sebagai dokter pribadi penguasa shogun,alih alih menjalankan tugasnya ia malah menolak untuk mengobati pasien melawan seluruh aturan rumah sakit dan berharap dengan caranya ini ia akan dikeluarkan oleh niide, tapi naluri manusiawi niide menghadapi dan mengobati para pasiennya penuh kasih, lambat laun melunakan kebekuan hati yasumoto, ketika yasumoto disuruh oleh niide untuk menunggui pasien tua yang sekarat meghadapi ajalnya yasumoto mengikuti detik detik si pasien tua itu menghembuskan nafas terakhirnya meradang kesakitan tanpa meninggalkan sepatah kata pun, pengalaman batin itu merubah pandangan hidup yasumoto untuk selamanya.

Berandai andai film ini menjadi referensi wajib untuk setiap instansi rumah sakit, sebab di dalamnya mengajarkan kemanusiaan bahwa setiap pasien memiliki hak untuk dilayani secara professional tanpa melihat materialnya. Apabila rumah sakit di negeri ini memasang kualifikasi kelas standar pelayanan layaknya memilah penderitaan berdasarkan status dan materialism, sementara di lorong yang gelap si miskin yang sakit makin miris untuk berobat dan datang ke rumah sakit, menyisakan ironi..jadi siapa sebenarnya yang “sakit”…

Pemain                 : toshiro mifune, yuzo kayama, kyoko kagawa, terumi niki
Sutradara            : akira kurosawa           
Durasi                  : 185 menit

Wednesday, May 02, 2012

Mengurai Kompleksitas Black Metal



Minggu, 29 April 2012


Ternyata keliru, jika menganggap musik klasik sebagai musik yang kompleks baik secara musikalitas maupun historisitas. Hal tersebut baru disadari ketika KlabKlassik mengundang narasumber Black Metal untuk memaparkan sejarahnya. Genre tersebut malah bisa dibilang amat kompleks dan terus berdinamika hingga hari ini. Berbeda dengan musik klasik yang misalnya, dinamikanya agaknya sudah terhenti di persoalan interpretasi alih-alih ideologi.
Rahardianto, sang narasumber, memaparkan sejarah Black Metal dari awal sekali. Ia menyebut Heavy Metal atau Hard Rock sebagai biang keladinya. Band-band seperti Led Zeppelin, Black Sabbath, serta Deep Purple "bertanggungjawab" dalam melahirkan aliran New Wave of British Heavy Metal semisal Iron Maiden atau Def Leppard. Mereka inilah jembatan menuju kelahiran Black Metal. Kata Rahar, "Black Metal adalah musik metal yang meminimalisir unsur-unsur blues dan vokal terlampau estetis yang akrab dengan band-band Heavy Metal."
Embrio Black Metal sendiri, Rahar merunutnya ke band Venom yang melahirkan album berjudul Black Metal di tahun 1982. Banyak yang percaya nama Black Metal itu sendiri adalah pengaruh dari penamaan album tersebut. Rahar menyebut tahun-tahun itu sebagai first wave, yang termasuk di dalamnya juga band-band semacam Hellhamer, Bathory dan Celtic Frost. 
Venom, sang embrio.
Suasana menjadi agak mencekam ketika Rahar berkisah tentang second wave yang diinspirasi oleh band-band dari wilayah Skandinavia. Gelombang kedua ini memiliki beberapa ciri, misalnya gitar yang tremolo picking, drum yang blastbeat, vokal yang scream, serta kualitas rekaman yang raw. Gaya tersebut, kata Rahar, menjadi agak umum, semacam pengukuhan bahwa yang seperti itulah semestinya Black Metal. Ditambahkan pula pentingnya faktor corpse paint, yaitu dilukisnya wajah agar menyerupai mayat dalam performa band Black Metal. Hal yang demikian juga menjadi standar.
Corpse Paint.
Di bagian-bagian penutup, diskusi yang lebih banyak dihadiri oleh anak-anak di genre metal ketimbang di genre klasik tersebut, mengisahkan tentang beberapa kejadian unik yang melibatkan pemain-pemain band di wilayah Black Metal terutama scene Skandinavia. Misalnya, kasus pembakaran beberapa gereja yang dipelopori oleh vokalis Burzum, Varg Vikernes. Selain itu, ada juga kejadian bunuh diri seorang musisi Black Metal yang mana bekas mayatnya malah dipotret untuk dijadikan cover album. 
 Rahar kemudian memaparkan betapa Black Metal hari ini sudah sangat berkembang dan jauh dari akarnya. Ada Black Metal yang lebih depresif karena musiknya tidak kencang namun justru pelan dan membius. Ada Black Metal yang environmentalist karena menggunakan akustikdan meminimalisasi penggunaan pengeras suara! Ini menjadi menarik karena mempertunjukkan kompleksitas tersendiri dari dunia musik metal yang biasanya terlalu disimplifikasi menjadi musik-musik yang berisik saja. Ketika menelusuri sejarahnya macam ini, meskipun singkat, namun terasa kompleksitasnya. Bahwa musik tidak sebatas genjrang-genjreng saja, ada ideologi yang rumit, kuat, keras, dan seringkali filosofis di sana. 
Salah satu presentasi Rahar tentang salah satu perkembangan Black Metal berikutnya: Symphonic Black Metal.

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.