Friday, March 02, 2012

KlabKlassik Edisi Film: Woodstock (1970) The Documentary Film

Minggu, 4 Maret 2012
Pk. 15.00 - 18.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
(gratis dan terbuka untuk umum)

Majalah Rolling Stone menyebutnya sebagai “50 Moments That Changed the History of Rock and Roll”, ada juga yang menyebutnya Hippiefest, mungkin inilah salah satu tonggak sejarah dalam revolusi budaya pop yang begitu monumental dan penuh fenomena dimana ratusan ribu orang berkumpul dengan damai hanya untuk menikmati musik, ialah Woodstock Music and Art Fair yang terjadi pada tanggal 15 -18 Agustus 1969 menyandang tema “3 days of peace and music”, event ini bertempat di ladang peternakan sapi perah milik seorang petani Max Yasgur seluas 600 hektar di sullivan county sekitar 40 km sebelah barat daya dari kota woodstock, lahan peternakan yang mirip seperti mangkuk kolam itu menjadi saksi sejarah 3 hari yang yang terus menerus hujan dengan ribuan orang hippie mandi lumpur disana. Festival ini disebut Woodstock karena seharusnya dilaksanakan di kota woodstock di ulster county , new york namun pemerintah setempat tidak memberikan izin karena diperkirakan satu juta orang lebih akan datang memenuhi kota apalagi rencana penyelenggara untuk memfasilitasi toilet portable pun akhirnya ditolak oleh dewan kota, tetapi penolakan ini malah membuaat issue event ini jadi semakin booming dan mengundang ketertarikan banyak investor. Amerika saat itu sedang masa resesi setelah perang vietnam yang menciptakan trauma psikologis massal bagi para keluarga veteran yang dikirimkan ke vietnam, woodstock seakan ialah sebuah oase, sebuah kerinduan akan dunia yang damai tanpa kekerasan.

Sejumlah band dan artis yang tampil di Woodstock akhirnya menjadi superstar dan legenda seperti Creedence Clearwater Revival (CCR), The Jefferson Airplane, The Who, Joan Baez (sedang hamil 6 bulan), Janis Joplin with the cosmic blues band, Blood Sweat & Tears, Joe Cocker, Johnny Winter, Ten Years after, Crosby Stills Nash & Young, Jimi Hendrix, dan masih banyak performer lainnya, dibuka oleh Richie Havens dan ditutup sang dewa Jimi Hendrix sungguh event ini takkan pernah terulang dalam sejarah, pada hari pertama juga dibuka dengan opening speech dan doa bersama oleh brahmana Swami Satchidananda seorang guru spiritual yoga india yang bermukim di amerika membuat atmosfir woodstock terasa damai dan sakral.yang tidak terlupakan ialah performance gitar Jimi Hendrix memainkan lagu kebangsaan amerika “Star Spangled Banner” menurut kesaksian, banyak orang merasakan kegetiran perang vietnam dalam sayatan distorsi jimi, mungkin hal ini terpengaruh oleh masa wajib militer yang dijalaninya di tahun 1961. banyak juga band dan artis yang menolak tawaran bermain di woodstock dan sebagian menyesal, The Beatles menolak karena pihak panitia tidak mengizinkan permintaan John Lennon untuk sebuah spot stage bagi istrinya Yoko Ono's Plastic Ono Band, Bob Dylan yang kebetulan rumahnya dekat dengan area woodstock merasa tidak senang dengan aksi para hippie di belakang rumahnya, Jeff Beck sempat ditawarin tapi ia terlanjur membubarkan Band yang dibentuknya, Led Zeppelin bentrok dengan jadwal konsernya di jersey, Procol Harum juga sama sedang schedule Tour. Band yang paling potensial dan dinanti penampilannya di event ini oleh para hippies ialah The Doors, sayangnya tawaran ini ditolak oleh sang gitaris Robbie Krieger dengan alasan masih trauma dengan kasus morrison yang terjadi di monterey pop festival.

Dokumentasi Film Woodstock ini disutradarai oleh Michael wadleigh dan disunting kembali oleh Thelma Schoonmaker dan Martin scorsese, film ini meraih Oscar untuk dokumenter terbaik dan sangat menolong kebangkitan kembali bagi rumah produksi Warner Bros yang hampir bangkrut. Durasi film yang hampir mencapai 3 jam cukup menguras stamina tetapi 3 jam walaupun tidak cukup mewakili 3 hari woodstock yang sebenarnya, seharusnya layak untuk disimak dengan santai dibarengi kopi aroma yang selalu panas :)



No comments:

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.