Friday, February 24, 2012

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Musik Psikedelik bersama Ismail Reza


Minggu, 26 Februari 2012
Jam 15.00 - 17.00
Tobucil & Klabs, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan Terbuka untuk Umum
Psikedelik Musik: Spiritualisme dan Budaya
oleh Diecky K. Indrapraja
Psikedelik atau Psychedelic (dalam bahasa inggris), berasal dari akar kata bahasa Yunani psihi (psyche, soul), dan dilosi (manifest), atau secara harfiah bisa disebut manifestasi dari jiwa-jiwa manusia. Manifestasi psikedelik berasar dari pengalaman, pengetahuan, dan pemahaman manusia terhadap sesuatu yang tanpa sadar tidak disadarai (unknowing). Ketidaksadaran atas sesuatu tersebut sebenarnya ada dan tertanam dalam memori, hanya saja beragam belenggu (norma, adat, agama, logika, dsb) yang mengikatnya. Psikedelik memberi ruang kreatif untuk membebaskan belenggu tersebut. Psikedelik membuka seluas-luasnya persepsi manusia melalui halusinasi, trans, ataupun sinestesia, sebagai bentuk perlawanan dan penyanding akan kesadaran imajinasi yang terkekang.
Psikedelik Musik digandang-gandang sebagai respon dari fenomena budaya yang terjadi di Amerika dan Inggris, selanjutnya ditumpahkan dalam bahasa yang lebih musikal. Psikedelik musik dikenal pada akhir tahun 1960-an atau awal 1970-an, bahkan hingga kini. Istilah Psychedelic Folk, Psychedelic Rock, Psychedelic Electronic Music, Trance, New Wave, Space Rock, Glam Rock, hingga Neo-Psychedelia, dan masih banyak lagi sub-genre yang melingkupinya, akan terus dan tetap berkembang sesuai dengan konteks budaya zamannya.
Diskusi musik kali ini akan membedah aspek sejarah Psikedelik sebagai ranah kreatif di dunia musik dan rupa? Bagaimana Psikedelik menstimulus manusia menjadi fana dan peka atas imajinasi dan intuisinya? Apakah Psikedelik musik itu gaya, genre, ataupan cara dalam bermusik? Musik seperti apa yang melingkupi Psikedelik? Mari berbagi, berdiskusi, dan menyimak obrolan sore bersama kami.
Narasumber dalam diskusi sore kali ini adalah Ismail Reza, senior urban desainer, konsultan urban desainer, kolektor piringan hitam, penggemar musik yang jarang digemari orang, dan psikedelik!
Jika realitas begitu menyedihkan dan menakutkan, serta rasionalitas yang ternyata bisa begitu dingin dan kejam, maka marilah kita cari kebenaran dan ketenangan di "alam lain", psikedelik!

KlabKlassik Edisi Playlist #10 - Blacklist Wedding Song: Dari Sonata Artica hingga Kamelot

Minggu, 19 Februari 2012

KlabKlassik Edisi Playlist seperti biasa menghadirkan orang-orang yang mengitari laptop dan speaker. Mereka hendak apa lagi selain mendengarkan musik yang dibawa oleh masing-masing peserta. Musik yang dibawa kali ini mempunyai tema besar yaitu Blacklist Wedding Song. Artinya, ini lagu-lagu yang sekiranya tidak cocok atau tidak pantas dimainkan dalam pesta pernikahan manapun. Lagu yang diputar kemarin adalah ini dia (diurut berdasarkan urutan diputar):
  1. Kingdom of A Heart - Sonata Artica (Diputar oleh Rahardianto)
  2. Mighty and Love - Zeke and the Popo (Laressa Amaly)
  3. Nicole - Etron fou Leloublan (Ismail Reza)
  4. Love Story - Frank Zappa (Diecky K. Indrapraja)
  5. The Face of Love - Nusrat Fateh Ali Khan (Tarlen Handayani)
  6. Love you to Death - Kamelot (Rahardianto)
Dari keseluruhan lagu yang diputar ini, alasan ketidakbolehan untuk diputar di pernikahan beragam. Lagu pertama dari Rahar misalnya, dianggap tidak pantas karena iramanya yang ganjil. Hal yang berlaku juga bagi lagu dari Ismail Reza berjudul Nicole. Bahkan ketika lagu tersebut selesai diputar dan Diecky memberitahukannya via twitter, ada akun dari Prancis yang membalas: foufoufou yang artinya gila gila gila!
Sedangkan Laressa dengan Mighty and Love-nya, lebih meragukan untuk tampil di pesta pernikahan oleh sebab liriknya. Lain halnya dengan Mba Tarlen dengan The Face of Love yang dinyanyikan duet Nusrat Fateh Ali Khan dengan Eddie Vedder. Katanya, ini sangat tidak cocok karena bayangan Mba Tarlen pada lagu ini adalah sama ketika menonton film Dead Man Walking dimana ada adegan Sean Penn mendekati kursi listrik menjelang eksekusi mati. Sedangkan alasan sentimentil justru datang dari Diecky yang memutar Love Story, lagu berdurasi lima puluh tujuh detik saja. Katanya, "Jika aku menikah nanti, aku ingin agar orang mendoakanku dengan cara sejenak hening mendengarkan lagu ini." Loh, katanya jangan diputar di pernikahan? Memang iya, karena hanya pernikahan Diecky yang pantas diputarkan lagu Zappa ini.

Friday, February 17, 2012

Laporan edisi nobar: "Manuel Barruecco A gift and a life"

Edisi nobar film Manuel Barruecco (MB) A gift and a life kali ini dihadiri Beben, Kang Tikno, Aka Patra Suwanda, Royke Ng, Desy, dan komposer Diecky sebagai narasumber. Durasi 59 menit memang jadi terasa lama karena film ini lebih banyak interview daripada performance-nya yang kalau bagi saya pribadi rada membosankan :). Setelah pemutaran film kelar, pertemuan dilanjut dengan diskusi. Royke menggulirkan isu gitaris barat dan non-barat yang memainkan musik eropa. Menurutnya, MB yang dari Kuba bisa menginterpretasikan musik eropa terutama karya Bach sangat fasih. Saya menduga mungkin inilah yang dimaksud dengan universalitas dalam musik walaupun diecky mendebat hal itu: universal dalam hal apanya? tanya diecky...

Kang Tikno sebagai luthier (pembuat) gitar mengulas hal teknis dalam performance gitar klasik panggung profesional, seperti pertimbangan akustika gedung, kualitas gitar yang dipakai, senar, dan semua tools yang sangat penting untuk suatu kualitas performance yang maksimal. Desy cukup menikmati sajian musiknya walaupun bergelut sendiri dengan kesibukannya sambil memotong2 kertas entah dibuat untuk apa saya tidak tahu. Namun ia juga menceritakan pengalamannya ketika menonton suatu konser piano jazz klasik di sebuah hotel yang meski auranya sangat serius, tapi pada saat itu ia cukup menikmatinya. Beben sebagai sebagai penyanyi mengamati adegan ketika MB memberikan masterclass yang terkadang selalu menghentikan studentnya hanya untuk memberikan interpretasi dinamika, menurut beben ini kerap terjadi juga dalam teknis musik vokal, bertujuan frase yang dijalin agar terasa lebih musikal.

Aka sebagai penggiat seni rupa berbagi cerita persiapan pameran instalasinya yang baru beres minggu sebelumnya. Ia menunjukan sketsa gambar kerja rancangan instalasinya meyakinkan kami semua jika persiapan pamerannya kali ini cukup matang, dihubungkan dengan persiapan sebuah resital gitar klasik hal ini sepertinya harus lebih diperhatikan. Bagaimana dekorasi sebagai elemen visual juga penting untuk mendukung kualitas acara serta totalitas sebuah entertainment. Disini Diecky menambahkan ketika ia mengobrol dengan seniman boneka dari Eropa yang manggung di STSI, untuk lampu sorot, kursi ataupun benda-benda yang dianggap tidak penting si seniman itu membawa sendiri karena menurutnya lampu tersebut sudah menjadi bagian dari pertunjukkannya tak tergantikan. Maka saya pikir wajarlah jika band sekelas L'arc en ciel misalnya ingin membawa sound system, tim kreatif visual, dekorasi panggung sendiri, karena bagi mereka performance musik bukanlah bertumpu dengan musiknya saja, tapi seluruh elemen dibelakangnya ialah bagian yang tak tergantikan dari performance tersebut.

Akhirnya diskusi yang berjalan melebihi durasi filmnya ini harus selesai juga bersamaan dengan adzan maghrib berkumandang :)

Yunus Suhendar

KlabKlassik Edisi Playlist #10: Blacklist Wedding Song

 

Tentang Edisi Playlist

Edisi Playlist bertujuan untuk melatih apresiasi. Memberi pengetahuan tentang keberbedaan selera yang berkembang di masing-masing persona, dan bagaimana cara menghargainya. Terlebih ketika hari ini musik sudah jarang sekali diperlakukan sebagai "musik an sich". Musik sekarang kita dengar sebagai latar belakang, mulai dari berbelanja di mal, menonton televisi, hingga menyetir di mobil. Mari kita duduk, menghargai musik sebagai musik, didengarkan dalam entitasnya yang sejati. Semoga ada kebenaran yang bisa diraih disana. Amin.

Tatacara

Peserta kumpul-kumpul berpartisipasi dengan cara membawa satu lagu favoritnya (tidak harus klasik loh!) dalam flashdisk untuk diputar dan diapresiasi bersama-sama. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Latar Belakang Edisi Kali Ini

Bulan Februari adalah bulan cinta, katanya. Penyebabnya sudah jelas, adanya perayaan hari Valentine pada tanggal 14 lalu. Berbicara cinta dan musik, playlist kali ini hendak menyikapinya dengan sedikit berbeda.

Ada yang berpendapat bahwa acara pernikahan adalah perayaan cinta (sah-sah saja jika anda hendak didebat). Musik pun jadi bagian penting, terlihat dari populernya "genre" Wedding Song. Namun apa sejatinya wedding song? Mengapa dalam sejumlah pernikahan yang penulis hadiri dalam beberapa tahun terakhir selalu lagu yang sama dimainkan terus menerus? "L - O - V - E", "The Prayer", "Cinta", dan sejumlah lagu wajib lainnya. Apakah memang ada norma yang harus dipatuhi?

Nah, dalam edisi playlist kali ini, peserta diwajibkan membawa sebuah lagu yang menurut peserta pas untuk dimainkan dalam sebuah pernikahan, namun karena berbagai alasan, tidak bisa dimainkan begitu saja.

Silakan! Mari kita rayakan dengan musik-musik yang kita bawa!


Friday, February 10, 2012

KlabKlassik Edisi Film: Manuel Barruecco “A Gift and a life”


Minggu, 12 Februari 2012
Pk. 15.00 - 18.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Gratis!

Alangkah indahnya ketika di masa tua bisa berbagi pengalaman hidup, romantika, karir, itulah yang disajikan di film kali ini: Manuel Barruecco “A Gift and a life” sebuah dokumentasi perjalanan karir gitaris klasik dari kuba Manuel Barruecco yang harus eksodus ke amerika sejak berumur 6 tahun, kuba di masa itu ialah negara dibawah kepemimpinan rezim fidel castro, barruecco berkisah bahwa hidup di negaranya sangatlah tidak bebas dan terintimidasi sehingga keluarganya memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahirannya kuba.

Berkarir sebagai gitaris klasik profesional di amerika tidaklah mudah, barruecco harus menjajal kemampuannya dalam berbagai kompetisi gitar klasik, barruecco muda perlahan mendekati ketenaran John Williams gitaris australia yang skil dan tekniknya mendekati sempurna saat itu berdasarkan interview David Tannenbaum teman sesama gitaris.

Kini di usianya yang flamboyant barruecco menikmati karirnya sebagai gitaris konser, artist recording dan pengajar masterclass, juga collaborator music yang sukses, kolaborasinya dengan seniman diluar ranah klasik antara lain dengan gitaris jazz Al dimeola mengikuti jejak Kazuhito Yamashita yang pernah berkolaborasi dengan Larry Coryell, kemudian dengan former The Police Andy Summer, dan album non klasiknya yang sukses ialah “Manuel Barruecco Plays Lennon and McCartney” direkam di studio yang sama dengan the Beatles di Abbey Road, barruecco ialah fans The Beatles sejak kecil ia sangat menyukai lagu Penny Lane, tetapi di negaranya Kuba dilarang keras untuk mendengarkan The Beatles. Scene yang sangat menarik ialah ketika kunjungan gitaris klasik David Russell, Assad Brothers dan David Tannenbaum ke rumahnya di Baltimore, para gitaris ini ber jam session ria dan memainkan Etude No.1 villa lobos berlima dalam satu gitar.
Film besutan Michael Lawrence ini berdurasi 59 menit, dan didalamnya banyak berisikan interview, rekaman masterclass dan sesekali diselingi dengan footage konser.

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Shoegaze, Sikap atau Style?

Minggu, 29 Januari 2012


KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang hari itu diisi oleh sebuah topik tentang musik shoegaze. Diecky K. Indrapraja selaku koordinator mengundang Riyan Hidayat untuk membicarakan topik yang bagi sebagian dari anak-anak KlabKlassik tergolong asing. Yang hadir pada diskusi itu ada sekitar enam orang.
My Bloody Valentine, contoh band shoegaze yang melakukan gaya khas "melihat sepatu". Gambar diambil dari sini.
Riyan yang cukup aktif di komunitas KlabJazz ini, memulai presentasinya dengan membicarakan sejarah shoegaze itu sendiri. Riyan menyebutkan awal berkembangnya shoegaze dimulai dari sekelompok band yang tampil dalam satu kafe. Seorang pengamat yang duduk di antara penonton dengan jeli melihat kesamaan diantara kelompok band yang tampil tersebut, yaitu: Semuanya beraksi panggung dengan diam, melihat ke bawah, seolah pada sepatunya sendiri! Itulah cikal bakal kenapa disebut dengan shoegaze. Pertanyaan berikutnya: Apakah shoegaze itu sikap (melihat sepatu) atau suatu style (punya ciri musikal)?
Pertanyaan ini mengemuka setelah Riyan menemukan bahwa band shoegaze kontemporer tidak lagi bersikap "melihat sepatu", artinya suatu musik disebut shoegaze pastilah punya ciri khas musikal. Untuk mendiskusikan ini, Riyan memutar empat contoh musik shoegaze dari empat kelompok yang berbeda, salah satunya yang terkenal adalah My Bloody Valentine. Berdasarkan apa yang didengarkan, diperoleh beberapa kesimpulan tentang apakah shoegaze itu, misalnya Diecky, "Ada riff gitar yang diulang-ulang.", lalu Afifa, "Vokal yang terdengar seperti mengawang-awang," Galih menyebutkan, "Sedikit monoton."
Apapun itu, tapi setidaknya pengetahuan tentang shoegaze mulai terfondasikan pada para peserta. Sebelum datang ke tempat diskusi, Rahar dan Afifa mengeluhkan hal yang sama, "Pengetahuan tentang shoegaze nol banget nih." Loh, bukannya hanya gelas kosong yang bisa diisi?
Syarif Maulana

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.