Monday, January 23, 2012

Resital Empat Gitar


Kamis, 26 Januari 2012
Auditorium IFI - Bandung
Jl. Purnawarman no. 32
Jam 19.30 - 21.00
Info Tiket:
Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-4261548)
Syarif (0817-212-404)

Program acara:

Polonaise Concertante Op. 137 no. 2 (Mauro Giuliani) - Royke, Syarif
Brandenburg Concertos no.3 BWV 1048 (Johann Sebastian Bach, arr. Jeremy Sparks) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja
Danza Espanola no. 2 "Oriental" (Enrique Granados) - Bilawa, Widjaja
La Cumparsita (Matos Rodrigues, arr. Diecky K. Indrapraja) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja

Interval

Carawitta & Fugue (Fauzie Wiriadisastra) - Royke, Syarif
Danza de "La Vida Breve" (Manuel de Falla) - Bilawa, Widjaja
Carmen Suite: Introduction, Habanera, Entr'act (George Bizet) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja
Obituari (Bilawa Ade Respati) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja



Profil pemain:

Bilawa Ade Respati (Balikpapan, 24 Mei 1987) mulai belajar gitar klasik pada Benjamin Limanauw di sekolah musik Dita Corona Balikpapan dari tahun 2000-2002. Sempat belajar secara otodidak dan kemudian melanjutkan belajar gitar pada Ridwan B. Tjiptahardja di Bandung tahun 2005-2010. Selain belajar gitar, juga sempat mempelajari komposisi musik pada Fauzie Wiriadisastra. Beberapa kali mengadakan resital bersama grup trio Tiga Gitar dalam Resital Tiga Gitar (Bandung, 2008), dan kuartet Tiga Gitar Plus Satu dalam Resital Tiga Gitar Plus Satu (Bandung, 2009), dan duet dengan Widjaja Martokusumo dalam Romantic Music at Kerkhoven (Bandung, 2009). Bilawa juga sering berpartisipasi dalam konser di Bandung maupun Jakarta baik sebagai solois atau duet dengan violinis Fiola Christina Rondonuwu. Masterclass yang pernah diikuti yaitu dengan Iwan Tanzil (2006) dan Miguel Trapaga (2010). Baru saja menyelesaikan studinya di Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung tahun 2011, kini aktif di komunitas Klabklassik Tobucil, Ririungan Gitar Bandung, sebagai program manager Garasi 10 dan mengajar gitar klasik.

Royke Ng (Bandung, 11 Januari 1982) pertama kali belajar gitar klasik kepada Bapak Joko. Lalu ia belajar pula kepada Bapak John Korompis, Bapak Krishnan Mohammad, Bapak Kadar, dan Bapak Ridwan B. T. Prestasi yang pernah diraih oleh lulusan Matematika ITB ini adalah: Juara I BTC Guitar Competition kategori klasik senior (2003), Juara I BTC Guitar Competition kategori pop (2003 & 2005), Juara I Pesta Musik Yamaha Tingkat Jawa Barat (2003 & 2004), Juara I Pesta Musik Yamaha Tingkat Nasional (2004). Selain itu, ia adalah semifinalis Spanish Guitar Awards (2001) dan Singapore International Guitar Competition (2006). Selain mengajar gitar, ia juga menjadi juri di beberapa kompetisi musik dan penguji. Masterclass oleh gitaris dalam dan luar negeri pun ia ikuti. Royke Ng juga tampil dalam Acara Beasiswa Nias, ITB Untuk Indonesia, dan lain-lain. Pada tahum 2009, dia bersama rekan-rekannya malam ini menggelar Konser Tiga Gitar Plus Satu. Di tahun 2011 Royke Ng dan rekan-rekan mendirikan Stretto (klab hobi bermain musik klasik) dan Musici Parvi (2012, wadah untuk pemusik klasik anak dan remaja).

Syarif Maulana (Bandung, 30 November 1985), belajar gitar klasik sejak usia tiga belas tahun pada Kwartato Prawoto. Pada usia delapan belas, Syarif melanjutkan belajar gitar klasik pada Ridwan B. Tjiptahardja. Prestasi yang pernah diraih antara lain Juara III BTC Guitar Competition Kategori Pop (2005), Semifinalis Festival Gitar Nasional Yogyakarta (2006), Juara III Yamaha Student Contest Tingkat Sekolah Musik (2007), dan Juara III Bandung Spanish Guitar Festival Kategori Senior (2007). Syarif juga sempat mengikuti masterclass oleh Iwan Tanzil dan Alessio Nebiolo. Aktif di komunitas KlabKlassik sejak 2005 dan mengajar gitar klasik di beberapa tempat. Syarif pernah mengadakan empat kali resital, yaitu Resital Gitar Klasik Syarif Maulana (2006), Konser Gitar Klasik Syarif Maulana & Johan Yudha Brata (2007), Resital Tiga Gitar (2008) dan Resital Tiga Gitar plus Satu (2009). Syarif juga lulus dari grade 8 ABRSM untuk praktek dan grade 5 ABRSM untuk teori.

Widjaja Martokusumo (Jakarta, September 1966) belajar gitar klasik pertama kali tahun 1978, kemudian 1979-1982 berguru pada David H. di Yayasan Pembinaan Musik Indonesia, Jakarta. 1982-1984 melanjutkan pendidikan musik di Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik (YPM) yang dikelola oleh pianis Rudi Laban. Di sini, dia belajar gitar pada Adis Sugata dan teori/sejarah musik pada Alex Paat, dan ikut pagelaran Konser 30 Tahun berdirinya YPM dan Sekolah YPM (Jakarta, 1983) dan Konser Musik Remaja YPM I (RRI Bandung, 1984). 1984-1986 ia belajar privat gitar klasik dengan Reiner Chaidir Wildt dan mengikuti beberapa masterclass gitaris Suzuki dan Julian Byzantine. Bergabung dengan Klabklassik sejak Classical Guitar Fiesta (CGF) Agustus 2006 dan menjadi anggota juri dalam CGF 2008. Sejumlah resital yang dilakukan meliputi Resital Tiga Gitar (Gramedia, Bandung, 2008), Quintet Gitar (acara International Year of Astronomy 2009) dan Resital Tiga Gitar plus Satu (CCF Bandung, 2009). Ia juga bermain duet bersama Bilawa Ade Respati (Wisma Kerkhoven, Lembang, 2009) dan acara pembukaan Pameran Dua Arsitektur Jerman 1949-1989 (Campus Centre ITB, September 2011). Widjaja Martokusumo adalah dosen pada Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB, dan saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Akademik SAPPK.

KlabKlassik Edisi Playlist #9: Dari OST Final Fantasy #8 sampai King Crimson

Minggu, 22 Januari 2012

Setelah berbulan-bulan edisi playlist tidak muncul, hari Minggu kemarin akhirnya muncul lagi. Yang hadir tidak terlalu banyak, namun pembahasan melebar hingga dua setengah jam. Ditambah lagi, di tengah-tengah kegiatan, operator Adrian Benn mempresentasikan hal yang menarik: Musik Video Game.
The Fragment of Memory Theme of Final Fantasy 8
Lagu yang dibawa oleh violinis Angsa dan Serigala, Afifa Ayu ini, adalah musik yang keluar dari format string quartet. Katanya, "Karena saya sering dengar kakak saya main game tersebut, jadi terngiang-ngiang." Mas Ismail Reza menyebutkan, "Final Fantasy memang selalu menggarap musik di game secara serius, sehingga impresi pemain menjadi kuat." Musik bawaan Afifa ini menimbulkan diskusi segar yang digagas Benn. Ternyata diam-diam ia membawa materi presentasi tentang evolusi musik dalam game mulai dari console Atari, Nes, SEGA, hingga PC. "Keterbatasan hardware," kata Benn, "Membuat musik pada mulanya hanya dua suara saja, hingga lanjut empat suara, dan akhirnya bisa digital recording." Presentasi Benn ini membuat para peserta playlist jadi diwawaas, ingat masa kecilnya.
 Presentasi Adrian Benn. Foto oleh Ismail Reza.

Nessun Dorma and Joy to the World (Twelve Girl Band)
Lagu yang diputar oleh Benn ini, menampilkan orkestra instrumen Cina yang tampil di Shanghai. Pembahasan menjadi masuk ke perbandingan orkestra instrumen Barat dan instrumen Cina. Kata Diecky, "Bagaimanapun orkestra Barat lebih kompleks daripada Cina. Namun perlu diingat bahwa Cina dalam satu oktaf punya 24 nada yang dua kali lipat lebih banyak dari Barat. Artinya, Cina punya kompleksitas yang lain daripada Barat."

Amazing Grace between Violin and Erhu Instruments
Lagu yang dibawa oleh saya ini adalah lagu Amazing Grace yang ditampilkan oleh dua instrumen yang berbeda dari dua peradaban yang berbeda, yaitu biola dan erhu. Meski sama-sama instrumen gesek, namun nuansa yang hadir berbeda. Kata Afifa, "Biola adalah instrumen ekspresif, namun erhu ternyata lebih ekspresif." Kedua instrumen tersebut memang terdengar berbeda, namun pertanyaan dalam forum itu adalah: apakah cuma bahan dan konstruksinya yang membuat berbeda, atau lebih dari itu, idiom, dialek, cengkok bangsanya juga menentukan instrumen musik apa yang dianggap pantas mewakilinya?

Red (King Crimson)
Menjelang tahun baru Imlek, Mas Reza memutar satu lagu yang mengambil esensi "merah" yang memang terasosiasi dengan perayaan Imlek. "Bedanya", kata Reza sambil menunjukkan sampul album King Crimson, "Di sampul album ini yang dominan justru warna hitam, warna merahnya hanya ada di tulisan Red." Yang ditampilkan oleh Reza adalah progressive rock yang katanya, "Satu dari seratus lagu gitar paling penting versi majalah Rolling Stones." Gara-gara diputarnya lagu ini, pembahasan menjadi melebar, yaitu membahas geliat progressive rock di Indonesia, termasuk keberadaan RIO alias Rock In Opposition yang sangat bersemangat untuk dibahas Diecky di bulan depan.
Minggu depan tanggal 29 Januari, KlabKlassik akan menghadirkan bintang tamu Riyan Hidayat untuk mempresentasikan apa itu musik "Shoegaze". Hadirilah!

KlabKlassik: Nonton Bareng "Amadeus" (1984)

Minggu, 15 Januari 2012


Pertemuan pertama KlabKlassik tahun ini diawali dengan nonton bareng. Sang koordinator, Mas Yunus memilih film Amadeus (1984) yang menceritakan tentang perjalanan dua komposer besar era Klasik yaitu W.A. Mozart dan Antonio Salieri. Film tersebut lebih menyoroti dari sudut pandang Salieri yang terjebak pada rasa bersalah karena merasa telah membunuh Mozart. Film Amadeus kemudian menjadi flashback, cerita bagaimana awal pertemuan Salieri dan Mozart, disertai perjalanan tumbuhnya rasa cemburu Salieri pada karir Mozart. Film berdurasi 161 menit yang disutradarai oleh Milos Forman itu sebetulnya diangkat dari karya drama tulisan Peter Shaffer. Pemeran Salieri yaitu F. Murray Abraham meraih Oscar karena penampilan gemilangnya.
Setelah film tersebut selesai diputar, ada diskusi singkat seputar film itu sendiri. Misalnya, Jazzy mengomentari logat para pemain dalam dialog tersebut yang seringkali terjebak pada logat American. Padahal biasanya jika latarnya Eropa, ketika dialog berbahasa Inggris biasanya menjadi agak British. Sedangkan Pirhot sangat suka dengan berbagai tagline dalam filmnya, seperti "Mediocrity is everywhere" atau "Kamu tidak bisa menulis ulang apa yang sudah sempurna". Kang Beben melihat Mozart yang dalam film itu digambarkan nyleneh dan bengal, sebagai hal yang dibutuhkan jika seseorang mau maju dan ingin menjadi sesuatu. Harus ada upaya mendobrak tatanan meski berisiko dimusuhi.
Perbincangan menjadi berkembang membahas opera, misa, serta perkembangan piano. Kemudian juga menjadi membahas hubungan antara seni dan kekuasaan. Dalam film itu terlihat adanya intervensi terlalu banyak dari Joseph II, Holy Roman Emperor kala itu, pada karya-karya Mozart. Artinya, agar kesenian itu diakui, barangkali akses terhadap kekuasaan harus ada. Seperti misalnya Salieri yang waktu itu menjadi salah satu orang dekat Joseph II, sehingga karya-karya begitu mudah diakui.
KlabKlassik minggu depan (tanggal 22 Januari) akan menampilkan edisi Playlist. Bawa satu lagu favoritmu apa saja, kita dengarkan sama-sama!

Thursday, January 12, 2012

Program KlabKlassik Bulan Januari

Tahun 2012 ini KlabKlassik akan kembali rutin dengan program mingguannya. Program mingguan dalam satu bulan akan selalu terdiri dari:
1. Edisi Film: Berisikan acara nonton film yang bisa bermuatan sejarah musik klasik, tokoh-tokoh dalam musik klasik, atau bisa juga membahas music scoring dalam sebuah film. Pemandu: Yunus Suhendar.
2. Edisi Playlist: Berisikan apresiasi musik bersama dengan cara masing-masing peserta membawa satu lagu favoritnya (bebas, tidak usah musik klasik loh!) dalam format mp3. Lagu favorit masing-masing akan didengar serta dikomentari secara santai oleh Ismail Reza. Pemandu: Adrian Benn.
3. Edisi Bincang-Bincang: Berisikan diskusi santai tentang isu-isu musik yang kekinian. Untuk edisi ini, selalu diupayakan kehadiran narasumber untuk berbagi pengalaman secara lebih luas. Pemandu: Diecky K. Indrapraja.
4. Edisi Panggung Gembira: Berisikan performa musik klasik yang ditujukan bagi apresiator yang ingin merasakan suasana pertunjukkan yang hangat, dekat, dan tidak berjarak seperti di gedung-gedung pertunjukkan pada umumnya. Pemandu: Bilawa Ade Respati.

Semua edisi diselenggarakan setiap hari Minggu di Tobucil, Jl. Aceh no. 56 umumnya pukul 15.00 (perubahan jam akan diberitahukan kemudian). Semua edisi adalah TERBUKA UNTUK UMUM dan GRATIS!

Untuk januari ini, edisi yang hadir beserta temanya adalah sebagai berikut:

15 Januari jam 15.00: Edisi Film akan mengetengahkan film produksi tahun 1984 berjudul Amadeus. Film yang berkisah tentang hidup W.A. Mozart dan Antonio Salieri ini, masuk dalam urutan ke-53 dari 100 film terbaik sepanjang masa versi American Film Institute. Durasi film yang disutradarai Milos Forman tersebut adalah 161 menit.



22 Januari jam 15.00: Edisi Playlist, oleh karena esok harinya adalah Tahun Baru Imlek, maka temanya adalah "Enter The Dragon". Peserta silakan membawa satu lagu favoritnya yang berhubungan (atau dihubung-hubung-kan) dengan peringatan Tahun Baru Imlek, boleh tentang naga, merah, angpao, keluarga, hujan, ramalan, tahun baru, atau apapun yang asyik. Nantikan juga komentar-komentar seru dari Ismail Reza yang seringkali mencengangkan.



29 Januari jam 15.00: Edisi Bincang-Bincang akan menghadirkan Riyan Hidayat yang siap menampilkan topik bahasan "Membedah Shoegaze Music". Dinamai Shoegaze karena setiap tampil, para pemain bandnya seringkali melihat pada sepatunya sendiri. Tentu saja kita perlu informasi lebih daripada itu. Maka itu datangilah!




Ingat bahwa musisi klasik bukanlah alien yang hanya hidup di tumpukan partitur!

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.