Monday, December 31, 2012

Catatan di Tahun Ketujuh

KlabKlassik tanpa terasa berulangtahun yang ketujuh di bulan Desember 2012 kemarin. Berdiri sejak 9 Desember 2005, KlabKlassik rutin menyelenggarakan sejumlah kegiatan baik dalam bentuk komunitas mingguan maupun konser-konser. Berikut sejumlah catatan kegiatan KlabKlassik di tahun 2012:

1. Konser-Konser
Di tahun 2012, KlabKlassik termasuk aktif mengadakan sejumlah konser. Bulan Januari langsung dibuka dengan Resital Empat Gitar, bulan-bulan berikutnya berentetan konser-konser menarik semisal konser Anime String Orchestra, Resital Piano Levi Gunardi, Classical Guitar Fiesta 2012, Resital Gitar Jardika Eka dan Syarif Maulana, dan Resital Oboe Afdhal Zikri. Kecuali Resital Piano Levi Gunardi yang diadakan di gedung Dana Mulia, konser-konser lainnya diselenggarakan di Auditorium CCF Bandung yang sekarang sudah berganti nama menjadi IFI.

2. Konsistensi Kegiatan Komunitas
Penyelenggaraan kegiatan komunitas mingguan yang berlangsung di Tobucil mendapatkan angin segar seiring dengan konsistensi dan penjadwalan yang baik. Minggu pertama libur, minggu kedua untuk Edisi Nonton garapan Yunus Suhendar, minggu ketiga untuk Edisi Playlist garapan Adrian Benn, sedangkan minggu keempat adalah Edisi Bincang-Bincang yang dipimpin oleh Diecky K. Indrapraja. Penyelenggaraan ini berlangsung konsisten dan menciptakan topik-topik yang menarik minat seperti membahas music scoring film 2001: Space Odyssey, Malena, dan Social Network. Sedangkan Edisi Playlist yang sudah berlangsung sejak tahun lalu, sekarang mulai dikenakan sejumlah tema seperti Blacklist Wedding Song, Musik Indonesia tahun 2000-an atau Merayakan Kehidupan sehingga lagu yang dibawa menjadi lebih terspesifikkan. KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang bertemakan topik-topik musik yang amat luas mulai dari Psikedelik, Ska, hingga Black Metal. Imbasnya, sejumlah peserta yang datang ke KlabKlassik pun semakin beragam.

3. Perginya Sejumlah Punggawa
Meski di awal hingga pertengahan tahun cukup stabil dan konsisten, menjelang akhir terdapat semacam cobaan yaitu perginya empat punggawa KlabKlassik secara hampir bersamaan. Afifa Ayu ke Jepang, Diecky K. Indrapraja menikah dan tinggal di Pontianak, Bilawa Ade Respati ke Jerman, dan Rahar Palsu ke Prancis. Kepergian empat orang yang cukup krusial bagi penyelenggaraan komunitas ini, menimbulkan guncangan sesaat sehingga kegiatan sempat diliburkan beberapa minggu. Namun di akhir tahun, KlabKlassik kembali aktif lewat latihan gitar bersama Ririungan Gitar Bandung.

Sunday, December 23, 2012

Dua Lagu Baru untuk RGB

Minggu, 23 Desember 2012

Meskipun rata-rata aktivitas di Tobucil sudah mulai libur akhir tahun, grup Ririungan Gitar Bandung (RGB) belum juga mau menyerah. Mereka masih tetap berlatih rutin seperti biasanya. Hal ini tentu saja didorong oleh kenyataan bahwa mereka harus konser di bulan Maret nanti. Kata sang ketua, Sutrisna, "Persiapan tidak boleh longgar."


Konser yang akan digelar Maret nanti, seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya, akan bertemakan lagu-lagu The Beatles. Setelah cukup lancar dengan sejumlah stok lagu seperti Drive My Car dan Come Together, RGB mendapatkan asupan lagu baru yaitu Let It Be dan Imagine. Meski Imagine adalah lagu yang digubah setelah John Lennon lepas dari The Beatles, namun karya tersebut tetap dilatih. Hanya dihadiri enam orang, RGB tetap bersemangat. Terbukti dengan karya Let it Be yang sukses dibaca hingga akhir. Imagine tidak langsung dilatih karena peserta tidak memenuhi kuorum -Imagine diaransemen untuk delapan gitar!-.


Meski waktu konser sudah dekat, RGB ini mengandung sejumlah persoalan. Misalnya, jumlah peserta yang hadir terlalu sedikit dan jauh di bawah peserta konser tahun 2009 silam yang mencapai lebih dari sepuluh. Padahal, keanggotaan RGB kali ini sudah sangat murah, yakni lima ribu per bulan -bandingkan dengan tahun 2009 dimana kebijakan administrasi diterapkan lima puluh ribu untuk tiga bulan-. Untuk RGB kali ini, sebenarnya jumlah repertoar serta kesempatan tampil pun cukup meningkat. Dalam sebulan terakhir, RGB sudah main di dua acara publik yakni Car Free Day Buahbatu dan sebuah acara sekolah musik di Metro Trade Centre. 

Memang kehadiran yang secara kuantitas sedikit ini, sama sekali tidak menyurutkan semangat peserta. Namun alangkah indahnya jika label 'ririungan' sejalan dengan kuantitas yang cukup. Setidaknya dari sudut pandang penonton, kelihatan bahwa yang tampil di atas panggung begitu meriah, semangat, dan terkesan para gitaris sedang bersilaturahim: 'ngariung' sambil bercanda tawa. 

Saturday, December 15, 2012

Page Turner (2)

Ini adalah kali kedua saya didaulat menjadi petugas pembalik halaman partitur alias page turner. Ini kali kedua juga saya merasa harus menuliskannya karena betapa pengalaman ini sedemikian berkesan.
Pengalaman pertama datang setahun lalu tepatnya tanggal 3 Desember 2011. Waktu itu di Surabaya, debut saya tak tanggung-tanggung: Menjadi page turner bagi resital yang melibatkan dua pemain berkelas, yang satu adalah Urs Bruegger, klarinetis asal Swiss, dan Ratnasari Tjiptorahardjo, pianis Indonesia domisili Australia. Ketegangan yang dialami luar biasa, terutama disebabkan itu merupakan pengalaman pertama. Pada akhirnya, kegiatan membulak balik halaman itu berlangsung cukup lancar -Ibu Ratna mencatat saya satu kali terlambat membalik-. Saya mendapat kesimpulan istimewa: Inilah posisi VVIP dalam apresiasi musik klasik. Tidak ada senot pun yang terlewat untuk diapresiasi. Adrenalin khas konser pun mau tak mau ikut ditularkan pemain, sehingga saya terseret untuk tegang. 
Kesempatan kedua kali baru saja datang tadi malam. Pianis Mutia Dharma meminta saya untuk membukakan tiga dari empat karya yang dibawakan malam itu. Resital Sarah Tunggal (flute) dan Arya Pugala Kitti (biola) tersebut membawakan komposisi dari Bach, Schubert, Dvorak, dan Faure. Dengan penuh rasa syukur, sekali lagi saya mendapatkan kesempatan untuk duduk di samping pianis dan merasakan aura konser secara utuh penuh. Liukan sahut menyahut ala Bach, sentimentalitas Schubert, serta keluasan Dvorak -bagai ia sedang memandangi tanah baru bernama Amerika yang penuh harapan- sanggup dinikmati tanpa kehilangan satu not pun. Sayang sekali saya tidak kebagian menikmati Faure dari tempat istimewa tersebut, padahal sungguh saya ingin mengapresiasi geliat scale janggal yang penuh kejutan dari sang impresionis. Rasa ngantuk yang sebelum konser sempat melanda, hilang entah kemana -berubah menjadi terjaga sepenuhnya-.Terdengar jelas bagaimana sang pianis sesekali berdecak kesal, bernapas tersengal, hingga melepaskan napas penuh kemenangan. Saya belum kehilangan nikmat itu, sebagaimana setahun lalu saya mendapati karya-karya Poulenc, Verdi dan Schumann bisa dikonsumsi tanpa sedikitpun gizinya terbuang. 
Foto diam-diam dari posisi page turner di samping Mutia Dharma.











Posisi page turner barangkali sedang dalam ancaman disebabkan keberadaan tablet yang sejumlah pianis sudah mulai menggunakannya. Partitur ditampilkan dalam tablet sehingga untuk membaliknya tinggal disentuh saja. Saya bisa paham jika lama-lama page turner tak digunakan. Selain digantikan teknologi, keberadaannya juga kerap mengganggu pemandangan dan tetap menyisakan kemungkinan human error yang fatal. Tapi sebelum kita ucapkan selamat tinggal pada posisi page turner ini dalam sepuluh atau dua puluh tahun mendatang, saya akan sekali lagi bertestimoni: Inilah posisi terbaik dalam apresiasi musik klasik. Kalian yang sanggup membaca notasi secara cepat, seyogianya pernah mencoba duduk di sana. Sebelum istilah page turner tinggal sejarah.
 

Wednesday, November 14, 2012

KlabKlassik Edisi Nonton: Menyimak Musik Latar dari Film The Social Network (2010)



Minggu, 18 November 2012
pk. 15.00 - 18.00
Tobucil n Klabs, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan terbuka untuk umum

Diangkat dari buku The Accidental Billionaires karya Ben Mezrich, sutradara David Fincher (Fight Club, Se7en)  dengan penulis skenario Aaron Sorkin (The West Wing) bekerja sama untuk mengeksplorasi makna sukses di awal abad ke-21 dari perspektif para inovator teknologi yang merevolusi cara berkomunikasi jutaan orang di seluruh dunia. Di tahun 2003, internet yang sebelumnya teknologi mahal menjadi terjangkau oleh massa. Internet membuat mudah untuk tetap saling berhubungan dengan berbagai orang dari belahan dunia ketika seorang programer komputer dari Universitas Harvard, Mark Zuckerberg (Jesse Eisenberg), meluncurkan sebuah website jejaring sosial dengan potensi untuk mengubah tatanan masyarakat dunia.

Zuckerberg menjadi milyuner dan menikmati kesuksesan hidup. Meski demikian, dibalik kesuksesannya, Zuckerberg harus membayar mahal dengan kehidupan pribadinya yang menderita karena sengketa hukum dan kenyataan pahit lima ratus orang temannya yang awalnya mendukung ia hingga ke puncak karir akhirnya mengkhianatinya

Pemilihan musik latar yang bernuansa techno di film ini sepertinya cocok mewakili kegalauan alam pikir masyarakat digital saat ini. Digarap apik oleh Trent Reznor (eks Nine Inch Nails) berdua dengan Atticus Ross sukses meraih Academy Award untuk Best Original Score. Kerjasama mereka dengan sutradara David Fincher terus berlanjut belakangan mereka menggarap latar untuk film The Girl with The Dragon Tattoo.

Monday, November 12, 2012

Kursi Panas KlabKlassik

Minggu, 11 November 2012

KlabKlassik mempunyai program baru tapi lama, namanya 'kursi panas'. Apa gerangan? Satu per satu pemain tampil, menunjukkan satu dua karya untuk diapresiasi bersama. Meski baru diadakan kembali, sesungguhnya kegiatan ini justru yang paling purba. Awal mula KK berkumpul, acara inilah satu-satunya andalan untuk memikat pengunjung.  

Yang hadir untuk tampil tidak banyak, hanya berempat. Ada Rendy, Tubagus, Mas Dudi dan Syarif. Namun penampilan yang sedikit itu menjadi cukup berbobot oleh sebab kehadiran mahasiswi psikologi bernama Irsa yang tengah dalam penelitian. Ia sedang meneliti apa yang disebut dengan flow dalam bermusik, yaitu suatu kondisi yang berada di ambang sadar dan tidak sadar, yang amat mungkin dialami musisi ketika ia sedang peak performance.

Sebelum satu per satu peserta tampil, semuanya larut dalam diskusi bersama Irsa. Diskusi tersebut ada di seputar definisi peak performance sendiri. "Sangat relatif," menurut Beben, "Saya termasuk orang yang latihan menjadi semangat ketika ada penonton," Ada juga, kata Rendy, "Orang yang melamai peak performance justru ketika sendiri. Ketika tampil eh malah kacau." Mengukur peak performance dalam musik terbilang sulit. Barometer yang digunakan oleh Irsa pun tadinya lebih banyak diaplikasikan dalam dunia olahraga. "Di dunia olahraga," kata Irsa, "lebih mudah untuk mengukur peak performance." Ini belum ditambah faktor-faktor lain seperti jenis musik, penonton, tingkat kemahiran, ataupun situasi bermain. Tidak satupun bisa menunjukkan kemutlakkan dalam menentukan peak performance dalam musik.



Akhirnya, ketimbang berlarut-larut, Irsa diminta untuk melakukan penilaian terhadap performa mereka-mereka yang akan tampil di "kursi panas". Satu per satu bergiliran mereka "naik panggung" memainkan mulai dari Etude karya Francisco Tarrega, Revoir Paris karya Charles Trenet yang diaransemen ulang oleh Roland Dyens, Etude no. 20 karya Leo Brouwer dan Danza Caracteristica juga karya Leo Brouwer. Keempat penampilan tersebut malah membuat Irsa semakin bingun, terutama oleh kehadiran Jazzy yang dengan enteng berkata, "Peak performance? Ya ketika lagu selesai. Itu artinya tugas selesai." Kalimat yang dicetuskannya membuat seisi beranda berderai tawa.

Thursday, November 01, 2012

Resital Kecil Afdhal Zikri

Rabu, 31 Oktober 2012

Tepat di hari terakhir bulan Oktober, publik Bandung kembali mendapatkan suguhan konser musik klasik. Kali ini pemain utamanya adalah peniup oboe asal Yogyakarta bernama Afdhal Zikri. Lulusan kampus ISI tersebut memainkan empat karya ditambah dua encore.

Sebelum memulai lagu pertama, pemain oboe yang agak pemalu tersebut memperkenalkan penampilannya sebagai "resital kecil". Sedari awal, Afdhal dan seorang pianis pengiring bernama Andika Dyaniswara, sudah mengajak bintang tamu bernama Eya Grimonia, pemain biola asal Bandung. Memainkan karya barok dari J.S. Bach berjudul Concerto for Oboe and Violin in D minor, antara oboe dan biola bergerak dinamis seolah berkejaran. Pasca penampilan mereka bertiga, setelah itu Afdhal mempersilakan pianisnya yang dipanggil Denis, untuk bermain solo. Katanya, "Agar ia tidak hanya tampil sebagai pengiring, melainkan juga diberi kesempatan untuk unjuk gigi."Setelah Denis bermain solo, Afdhal kembali naik panggung untuk berduet. Kali ini karya yang dimainkannya adalah Le Lever de Lune karya Camille Saint-Saëns.

Sayang sekali rupanya Afdhal tidak mempertimbangkan waktu yang terlalu singkat, sehingga break yang dilakukan pasca Le Lever de Lune  terbilang janggal karena penampilan sesi pertama baru berlangsung sekitar lima belas menit. Sepuluh menit kemudian, setelah sesi istirahat selesai, terdapat insiden kecil: Ada gangguan pada oboe milik si pemain! Gangguan ini nyaris membatalkan konser karena oboe tersebut tidak bisa dipakai kembali. Beruntung ada salah satu penonton yang membawa instrumen oboe, sehingga Afdhal bisa melanjutkan sesi kedua dengan lagu Sonata in D Major karya Camille Saint-Saëns dan sebuah karya dari komposer asal Yogya, Gardika Gigih Pradipta, berjudul Kita Kan Naik Kereta yang Sama.

Meski resitalnya terbilang singkat, namun penampilan Afdhal sendiri cukup memikat sehingga penonton meminta encore. Lagu yang dipilih untuk encore ini terbilang menarik. Pertama, Afdhal memainkan satu karya cukup terkenal dari film The Mission (1976) berjudul Gabriel's Oboe. Karya garapan Ennio Morricone ini, meski pendek, namun lantunannya amat membius. Penonton rupanya tidak merasa cukup hanya dengan satu encore. Tepuk tangan panjang membuat Afdhal terpaksa memainkan lagu Cinta Satu Malam yang ternyata menjadi penutup yang hangat untuk malam yang dingin.


Monday, October 29, 2012

Kampanye Musik Tanpa Jarak

Minggu, 29 Oktober 2012



Sore itu hujan teramat deras. Beranda Tobucil yang bersiap diwarnai suara gesekan biola Ammy Kurniawan, menjadi tertunda untuk beberapa saat.


Kang Ammy adalah pemain biola band 4 Peniti yang juga aktif sebagai pengajar di jalan Progo nomor 15. Ini bukan pertama kalinya ia menghangatkan Tobucil. Selain memberikan workshop seperti kemarin ini, Kang Ammy juga pernah tampil di Crafty Days bersama sejumlah anak didiknya. Pertemuan yang menjadi bagian dari agenda KlabKlassik kali ini, Kang Ammy juga mengusung tema: Tentang bagaimana mengapresiasi musik secara live. Yang hadir cukup banyak, sekitar lima belas orang. Hal tersebut terhitung lumayan karena hujan berlangsung deras sekali.

Kang Ammy memulainya dengan pembukaan sedikit. "Saya pernah berusaha merekam permainan seorang pemain biola dengan handycam. Namun karena terlalu terpesona, saya menjadi tidak peduli akan niat saya untuk merekam," ujar Ammy. Ia justru heran, hari ini orang-orang yang menonton konser musik begitu giat merekam, padahal tujuan musik live, kata Kang Ammy, "Agar kita bisa menghayati langsung musik dengan seluruh indra kita. Karena hal tersebut tidak bisa dinikmati sepenuhnya ketika di layar kaca ataupun radio. Tapi mengapa kita seringkali memberi jarak lagi dengan cara merekamnya? Apa karena gadget yang canggih?"

Selain penekanan pada apresiasi, kang Ammy juga menekankan pentingnya para musisi untuk berimprovisasi pada saat live. "Improvisasi ini tidak hanya dalam bentuk musik itu sendiri, tapi juga dalam bentuk performa," ujar Kang ammy yang mengingatkan bahwa ia pernah mengangkat telepon ketika di atas panggung dan berkata, "Saya sedang main!" Intinya, bermain musik, bagi Kang Ammy, berarti menghibur dengan berbagi. Lebih jauh lagi ia merenungkan, bahwa sangat bagus kalau berbagi itu tanpa jarak, "Ya seperti sekarang ini," katanya sambil menunjuk suasana di beranda Tobucil yang tidak ada panggung dan relatif egaliter. Kang Ammy ingin agar konser-konser berikutnya ia selenggarakan dari garasi ke garasi.

Kang Ammy tidak langsung bermain biola, ia terlebih dahulu memainkan gitar demi mengiringi orang-orang yang hadir. Shandieka mendapat gilirannya dengan memainkan All My Loving karya The Beatles. Kang Ammy memuji Shandieka karena keberaniannya untuk berimprovisasi di tengah-tengah lagu. Untuk menularkan keberanian ini ke peserta lainnya, Kang Ammy menyuruh para pemain untuk berimprovisasi satu per satu hanya dengan lima nada. Kang Ammy kemudian mengiringinya dengan progresi blues.





Suasana makin menghangat ketika Kang Ammy mulai beraksi dengan biolanya. Ia tidak hanya bermain akustik, melainkan menggunakan sejumlah efek. Efek ini, katanya, "Karena saya selalu sendirian kalau main, jadi saya menggunakan efek ini untuk mengiringi diri sendiri." Kang Ammy pun kemudian mendemonstrasikan permainan yang memukau, sangat orkestratif, meskipun sendirian. Kata Kang Ammy, "Nyesel kalau tidak mencoba alat ini, saya tidak akan mengajarkannya di saat les," Atas "ancaman" tersebut, satu per satu peserta yang tadinya pemalu pun mencoba satu per satu. Para peserta menjadi sadar akan satu hal: Bahwa hanya dalam kondisi musik tanpa jarak seperti ini, interaksi dan dialog intens terjadi.



Sunday, October 28, 2012

RGB Manggung Lagi

Minggu, 28 Januari 2012

Ririungan Gitar Bandung (RGB) terakhir tampil adalah di acara Classical Guitar Fiesta 2012 Juli lalu. Penampilan kali ini tidak seperti sebelumnya yang mengambil tempat di gedung konser. RGB mendapat kesempatan tampil di acara Car Free Day (CFD) Buah Batu. Artinya, RGB tampil di aspal jalan, di tengah kerumunan.

Jam kumpul yang cukup pagi, yakni jam delapan, membuat Rendy Lahope, pemain RGB senior, urung hadir. Yang kemudian tampil sebagai pembuka rata-rata adalah RGB seusia SMP. Lagu pertama adalah Come Together dari The Beatles dengan formasi Trisna, Angga, Lalang, dan Alka. Setelah sukses menyelesaikan lagu pertama, berikutnya RGB memainkan lagu karya Mozart berjudul Romance.. Penampilan RGB kemarin adalah bentuk kerjasama dengan Sekolah Musik Purwatjaraka dan Radio MGT. Sebagian pemain RGB memang les di Purwatjaraka di bawah bimbingan Kang Sutrisna. 


Friday, October 26, 2012

Musik Sore dan Diskusi bersama Ammy Alternative Strings: Bagaimana Mengapresiasi Musik secara Live?



Minggu, 28 Oktober 2012
Pk. 15.00 - 17.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan Terbuka untuk Umum

Penampilan musik secara live tentu saja bukan hal yang aneh di sekitar kita. Kita bisa menemukannya di pinggir jalan, restoran, café, mal, hingga stadion sepakbola. Seiring dengan kecanggihan teknologi, penampilan live tersebut sering terlalu disayangkan untuk hanya disaksikan. Rata-rata orang dengan gadget canggihnya mengabadikan momen langka tersebut agar bisa dikonsumsi kembali di kemudian hari. Namun mari kita pertanyakan ulang: Jika momen live ditujukan agar para apresiator bisa merasakan musik dengan segenap indranya -hal yang tidak bisa maksimal jika disaksikan lewat layar kaca-, maka tidakkah aneh momen tersebut dikembalikan ke "layar kaca" lewat gadget? Dalam arti kata lain, tidakkah aneh ketika jarak antara musisi dan apresiator sudah begitu dekat, kita jauhkan kembali?

Hal ini akan kita perbincangkan bersama-sama dengan Kang Ammy Kurniawan dan kelompok Alternative Strings-nya. Bukan hanya lewat diskusi kata-kata, melainkan juga diskusi bunyi dan rasa.


Monday, October 22, 2012

Resital Oboe "A Debut Recital" oleh Afdhal Zikri


Rabu, 31 Oktober 2012
Auditorium IFI - Bandung
Jl. Purnawarman no. 32, Bandung
Pk. 19.30 - 21.00
HTM: Rp.24.900

Informasi tiket (dijual mulai selasa, 23 Oktober):

Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-426-1548)
Syarif (0817-212-404)

Susunan acara:


- Sonata in d mayor , bagian I dan 2 : “Camille saint saens”
- Kita Kan Naik Kereta yang sama : “Gardika Gigih Pradipta”
- (Trio Oboe violin dan Piano). Feat denish dan eya grimonia
- Concerto for oboe and violin in D minor,bagian 1 “Johan Sebastian Bach” (feat Eya grimonia)

Profil penampil:

AFDHAL ZIKRI ZZ, Oboe
Pertama belajar musik kelas 3 Sd dimulai dengan Instrument gitar kepada Alm. Suhapri (paman), dan setelah lulus Smp melanjutkan pendidikan musiknya ke SMM Jogjakarta. Pertama belajar oboe tahun 2004 dengan bimbingan Drs Sritanto dan melanjutkan pendidikan nya ke ISI Jogjakarta pada tahun 2007, dan menyelesaikan studi disana pada tahun 2012.
Pernah mengikuti SAYOWE (Southeast Asian Youth orchestra and wind ensemble), di Thailand pada tahun 2008, dan menjadi salah satu solis dalam Konsert F hole string ensemble pada tahun 2010 , Pengalaman lain berkesempatan menjadi talent salah seorang “Pemusik Soewito” pada film “SOEGIJA” dengan arahan sutradara Garin nugroho dengan peñata musik Djadug ferianto ,yang dirilis juli kemaren. Dan pernah mengikuti beberapa master class oboe yaitu Dengan Shigeki Sasaki ,2008 di Thailand, Joost flach, 2010 dan 2012 di Malaysia, Amy power di Yogyakarta 2011 dan Niels Hartmann 2012, di Malaysia.

ANDIKA DYANISWARA
Mulai belajar musik pada saat usia 6 tahun dengan belajar keyboard. Pada usia 9 tahun mulai belajar electone dan pada usia 13 tahun mulai belajar piano di bawah bimbingan Tabita Indri Nugroho di Salatiga. Pada tahun 2007 melanjutkan studi di Sekolah Menengah Musik Yogyakarta dengan instrumen mayor Piano, di bawah bimbingan Utari Isfandini. Lalu tahun 2010 melanjutkan ke ISI Yogyakarta, instrument mayor Piano klasik di bawah bimbingan L. Agus Wahyudi M.
Pengalaman :
1. Pianis Orkestra Gita Bahana Nusantara ( 2009 & 2010 )
2. Pianis acara “The Spirit of Love” bersama J-Fantasy Orchestra ( 2009 )
3. Pianis Novell Orchestra ( 2010 – sekarang )
4. Performer 3rd International Chamber Music Festival di Yogyakarta ( 2012 )
5. Peserta Yogyakarta International Music Festival Academy ( 2012 )
6. Pianis pagelaran musik karya Gatot Danar S. “Nawangsari” ( 2012 )
Masterclass dan Workshop
1. Iswargia R. Sudarno ( 2010 )
2. Angela Lopez – Spanyol ( 2010 )
3. Cicilia Yudha – USA ( 2011 )
4. Maestra Ivon Maria ( 2011 )
5. Nadya Janitra ( 2011 )
6. Pujiwati Insia M. Effendi ( 2012 )
7. Ananda Sukarlan ( 2012 )
8. Wibi Soerjadi – Netherland ( 2012 )
9. Aryo Wicaksono – USA ( 2012 )
10. Spencer Myer – USA ( 2012 )

EYA GRIMONIA
Eya mulai belajar piano dan vokal umur 4 (empat) tahun, setahun kemudian ia tertarik dengan biola. Tahun 2004, Eya lulus ujian ABRSM/Royal piano dan biola grade 8 dengan nilai tertinggi. Pendidikan dan lingkungan musik klasiknya selalu Eya pertahankan dari pengajar-pengajarnya diantaranya dari Iswargia R Sudarno (piano) dan Dr. Tomislav Dimov (biola). Selain aktif melakukan resital/konser tunggal iapun aktif mengikuti masterclass dari Prof. Ikuyo Nakamura (Japan), Prof. Sherban Lupu dan Prof. Semion Yerosevich (USA).

Eya Grimonia adalah musisi remaja yang dimiliki Indonesia. Eya mengawali karirnya saat usia 6 (enam) tahun dengan berduet dengan Sherina. Sebagai solois dara manis kelahiran Bandung April 1995 ini terus tampil baik off-air maupun on-air di televisi-televisi nasional. Namun Eya juga sering berkolaborasi dan duet dengan artis/musisi Indonesia lainnya. Sebut saja Vina Panduwinata, Ruth Sahanaya, Bunga Citra Lestari, Elfa’s Singer, Padi, Dwiki Darmawan, Karimata Band dan masih banyak yang lain. Yang mengesankan baginya saat Eya berduet dengan Idris Sardi di Istana Negara tahun 2003. Juga saat Eya tampil pada “Carnival of the Animals” diiringi Jakarta Chamber Orchestra pimpinan Avip Priatna. Tak heran kemampuan dan wawasan bermusiknya dapat berimbang di Klasik dan Kontemporer. Selain bermusik dewasa ini Eya diundang sebagai pembicara dalam program TEDx Bandung dan Future Leader Summit di Undip Semarang.

Sunday, October 21, 2012

Tersedia Dokumentasi Lengkap Classical Guitar Fiesta 2012


Sebelumnya kami mohon maaf karena dokumentasi dari acara yang sudah berlangsung lebih dari tiga bulan yang lalu ini baru bisa disediakan sekarang oleh sebab beberapa kendala.

Classical Guitar Fiesta adalah acara dwitahunan yang diselenggarakan oleh KlabKlassik. Isinya adalah penampilan gitar yang mana para pengisi acaranya dibuka untuk umum dan siapa saja yang mau mendaftar. Dalam setiap pagelarannya, CGF selalu menampilkan bintang tamu gitaris yang sudah malang melintang baik dalam skala nasional maupun internasional. Tahun 2006, bintang tamu yang hadir adalah Royke B. Koapaha; tahun 2008 ada Jubing Kristianto; tahun 2010 adalah Phoa Tjun Jit dan tahun 2012 kembali menghadirkan Jubing Kristianto.

Momen CGF 2012 diabadikan dalam bentuk dua keping DVD dengan durasi total hampir tiga jam dan termasuk di dalamnya penampilan live dari gitaris fenomenal Jubing Kristianto. DVD ini dapat diperoleh dengan memesan melalui Kristianus (0857-205-26364) dengan harga Rp. 50.000. Pemesanan di wilayah Bandung dapat diantar gratis, sedangkan di luar kota Bandung akan dikenakan biaya ongkos kirim. Harga yang dikenakan ini, selain untuk mengganti ongkos produksi, juga untuk mendanai kegiatan komunitas KlabKlassik yang independen dan non-profit.

Sebagai keterangan tambahan, DVD ini sengaja dibuat dalam format yang hanya bisa dibaca di komputer untuk memudahkan memunggah ke Youtube. Meski demikian, DVD player tertentu bisa juga membaca format semacam ini.

Tarkus dan Pemberontakan Kaum Proletar

Minggu, 21 Oktober 2012


KlabKlassik tengah mencoba inovasi baru. Yang menjadi perbincangan kali ini adalah per karya setelah sebelumnya biasanya pembahasan menyangkut satu tema besar seperti genre musik tertentu. Tarkus karya Emerson, Lake and Palmer (ELP) tahun 1971 -sebuah karya berdurasi dua puluh menit- diperdengarkan hingga tuntas sebelum dibicarakan bersama-sama.

Karya tersebut dihadirkan tanpa jeda. Semua terdiam selama dua puluh menit, menyimak Tarkus yang dibagi tujuh bagian berjudul Eruption, Stones of Years, Iconoclast, Mass, Manticore, Battlefield, dan Aquatarkus. Hanya bermodalkan tiga pemain, band beraliran symphonic progressive rock tersebut menghentak dengan musik yang kompleks dan mengguncang. Sesekali disisipkan juga irama yang lebih lembut agar apresiator bisa menghela napas sebentar, sebelum dipaksa menahan kembali di menit-menit berikutnya. Musik berhenti di dua puluh menit tiga puluh lima detik, menimbulkan tepuk tangan meriah di beranda Tobucil.

"Bosen, ngantuk," begitu tanggapan Kristianus, meski ia juga mengakui kualitas musiknya yang njelimet. Hal yang sama juga diamini oleh Dody dan Mas Dudi yang mengaku memang sedikit jenuh karena durasinya yang panjang. Namun kompleksitas musiknya membuat para peserta diskusi yang hari itu berjumlah delapan tetap bertahan dalam tempat duduknya. "Membuatku ingat animasi yang biasa diproduksi oleh Marvel," ujar Permata yang hari itu hadir mendampingi Iqbal. "Padahal pada masa itu, orang mudah sekali mengapresiasi musik sepanjang dua puluh menit. Sekarang, rasanya lima menit pun sudah kehilangan konsentrasi. Apa karena industri?" tanya Rendy yang dijawab anggukan Kristianus.

Diskusi menjadi menghangat ketika Mas Ismail Reza ikut. Mas Reza langsung mengeluarkan isi pikirannya tentang Tarkus, "Ada orang-orang yang menginterpretasikan Tarkus sebagai representasi ideologi komunis. Hal tersebut wajar karena masa itu komunis sedang hangat-hangatnya, menunjukkan kebesarannya yang mewujud dalam negara semacam Uni Soviet dan RRC." Mengapa ada kekaguman pada komunisme? Bukankah ELP adalah representasi anak muda AS yang notabene waktu itu sedang gencar-gencarnya berperang dingin melawan Uni Soviet? "Iya, justru ini semacam pemberontakan. ELP berasal dari kaum hippies yang tidak setuju terhadap Perang VIetnam. Komunisme menjadi semangat yang diambil untuk menunjukkan masyarakat bawah, jika bersatu, akan mampu menggulung diri seperti Tarkus yang berwujud armadillo alias trenggiling."

Mas Reza tidak berhenti sampai di situ. Ia menambahkan simbolisasi Manticore yang disebut dalam movement kelima dalam Tarkus. "Manticore adalah binatang dalam mitos yang jika ia hadir, bisa membusuki lingkungan sekitarnya. Ini bisa jadi merupakan representasi ideologi kapitalis." Lebih lanjut, Mas Reza mengomentari bagian terakhir dari Tarkus berjudul Aquatarkus. Katanya, "Dalam pertarungannya dengan Manticore, Tarkus mengalami kekalahan. Ia pergi ke air dan melahirkan anak-anaknya. Disitulah representasi komunisme kembali ditunjukkan: Meski kalah melawan kapitalisme, namun idenya selalu menggaung."

Pembahasan menjadi masuk ke band ELP itu sendiri. Pada masa itu, lanjut Mas Reza, ada semacam upaya agar musik rock sejajar dengan musik klasik. "Keith Emerson, sang kibordis, kerap membawa wine ketika bermain. Ia ingin menunjukkan bahwa rock juga bisa bergaya aristokrat." Tidak hanya dari gaya, dalam hal bermusik pun, ada semangat untuk memperlihatkan bahwa rock bisa sedemikan kompleks dan dinikmati secara serius. "Keith Emerson tidak hanya berkemampuan tinggi, ia juga pandai bereksperimen. Contohnya adalah penggunaan moog modular synthesizer yang ia gunakan dalam banyak lagu-lagu ELP," lanjut Mas Reza. Alat tersebut adalah yang memungkinkan Emerson menghasilkan bebunyian yang luar biasa aneh pada masanya. "Segala yang berbau elektronis, pada masa itu, sangatlah menghebohkan. Emerson adalah salah satu pelopornya," tambah Mas Reza.

Setelah pemaparan panjang lebar yang bergizi, Mas Reza menambahkan beberapa suplemen musik agar peserta semakin memahami apa itu progressive rock. Mas Reza memutar Mahavishnu Orchestra dan King Crimson beberapa lagu. Pertanyaan semisal, "Apa ciri-ciri progressive rock?" tidak akan serta merta dijawab oleh Mas Reza sebagai rock yang punya ciri-ciri musik kompleks. Pertama-tama ia akan mengatakan bahwa, "Dengerin aja dulu sebanyak-banyaknya, maka kita akan tahu ciri-ciri progressive rock itu sendiri." Tapi jika terpaksa harus mengungkapkan dengan kata-kata, ia akan menjawab, "Pokoknya jika ada lagu cinta tapi alih-alih terdengar galau, tapi malah terdengar suram, maka kita bisa curigai itu progressive rock." Demikian pernyataan tersebut yang langsung disambut tawa para peserta.

Rendi (kiri) dan Mas Reza (kanan)

Thursday, October 18, 2012

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Bertualang Bersama Tarkus

Minggu, 21 Oktober 2012
Pk.15.00 - 17.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56, Bandung
Gratis dan terbuka untuk umum



Tarkus adalah makhluk yang muncul dari letusan gunung berapi. Ia melawan sejumlah musuh berat sebelum bertemu dengan lawannya yang paling pamungkas: Manticore. Sayangnya, melawan yang terakhir ini, Tarkus takluk. Meski takluk, kekalahannya menimbulkan versi lain dari Tarkus, yaitu Aquatarkus: Tarkus yang muncul dari air.

Cerita di atas -meski absurd- digambarkan dengan brilian dalam musik gubahan band progressive rock Emerson, Lake & Palmer berjudul Tarkus. Lagu Tarkus dibagi dalam tujuh bagian yang totalnya berdurasi 20 menit 35 detik. Bagian-bagian tersebut adalah sebagai berikut:

1. Eruption ; 0:00 - 2:43
2. Stones of Years ; 2:44 - 6:28
3. Iconoclast ; 6:29 - 7;44 
4. Mass ; 7:45 - 10:56
5. Manticore ; 10:57 - 12:49
6. Battlefield ; 12:50 - 16:41
7. Aquatarkus ; 16:42 - 20:41


Meski terdengar jenaka, namun ada versi yang mengatakan bahwa Tarkus adalah metafor dari komunisme. Komunisme berhadapan dengan kapitalisme yang diwakili Manticore. Meski komunisme kalah, namun idenya tetap bergema dalam bentuk Tarkus yang baru yaitu Aquatarkus. Karya yang ditulis tahun 1971 itu dimainkan oleh formasi trio yang terdiri dari Keith Emerson (keyboard), Greg Lake (bas) dan Carl Palmer (drum). Tidak bisa dipungkiri, lagu ini adalah salah satu yang paling fenomenal, rumit, tapi juga sukses dalam sejarah rock. 

Mari mengapresiasi dan memperbincangkan, agar kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang selamat telinganya!

Kisah petualangan Tarkus dalam gambar.


Mengapa tidak semua kegiatan KlabKlassik membahas musik klasik? Ini dia pertanggungjawabannya.

Sunday, October 14, 2012

Dari Beranda Mengintip Malena

Minggu, 14 Oktober 2012



Setelah bulan September tidak ada kegiatan sama sekali, KlabKlassik memulai lagi kumpul-kumpulnya bulan ini. Kekosongan di bulan September disebabkan oleh kepergian tiga punggawa KlabKlassik, yang salah satunya adalah yang paling aktif dalam mengkoordinasi kegiatan mingguan, yaitu Diecky K. Indrapraja. Setelah beristirahat sejenak, KlabKlassik memulai aktivitasnya dengan Edisi Nonton. Mas Yunus Suhendar sebagai koordinator membawakan film yang cukup segar: Malena (2000).

Mas Yunus memilih film ini karena selain cukup ringan secara alur cerita, music scoring-nya digarap oleh komposer kenamaan Ennio Morricone. “Ada beberapa karya opera yang ditampilkan dalam film ini,” kata Mas Yunus merujuk pada karya Morricone, komposer yang karyanya cukup terkenal di beberapa film seperti Fistful of Dollars, For a Few Dollars More; The Good, The Bad and The Ugly; The Mission, dan The Untouchables. “Ini adalah film yang Italia banget. Sutradaranya, pemainnya, penata musik, hingga bahasanya adalah Italia,” tambah Mas Yunus beberapa saat sebelum film mulai diputar.

Film Malena yang disutradarai oleh Giuseppe Tornatore ini berpusat pada seorang anak bernama Renato (diperankan oleh Giuseppe Sulfaro) yang sedemikian terobsesi pada seorang wanita cantik di kotanya, Castelcuto. Wanita bernama Malena Scordia (Monica Bellucci) tersebut tidak hanya menjadi idaman si anak, melainkan hampir seluruh pria di Castelcuto. Malena, meski jadi incaran, namun ia tampak setia pada suaminya, seorang serdadu bernama Nino Scordia. Setelah sang suami dikabarkan tewas di medan perang, perhatian seisi kota semakin menjadi-jadi pada Malena. Pun Renato, ia menjadi tambah terobsesi. Ia rajin mengintip Malena di rumahnya, pernah mencuri celana dalamnya, dan membayangkannya hampir di setiap waktu. Meski membuat penonton tertawa-tawa dalam enam puluh menit pertama, namun film ini menjadi tragis menjelang akhir. Terutama oleh pupusnya obsesi anak karena suami Malena, Nino Scordia, ternyata tidak gugur di medan perang.

Selesai menonton film berdurasi 94 menit tersebut, terjadi diskusi kecil. “Penampilan si anak, Renato, begitu fantastis. Menunjukkan gelora yang. belum bisa membedakan mana yang hasrat dan mana yang cinta. Tapi tampak begitu alamiah."ujar Tubagus. Rendy kemudian membandingan dengan film Malena versi yang lain, “Di versi ini, banyak adegan yang disensor karena sedikit porno. Namun adegan yang disensor tersebut, bagi saya, justru penting, Karena harus dieksploitasi bagaimana kegalauan si anak, Renato, yang belum bisa menyeimbangkan antara nafsu dan logikanya.” Mas Yunus kemudian mengomentari musiknya yang digarap Morricone, "Lagu utamanya, yaitu Ma L'Amore No sangat kuat dan menopang film secara keseluruhan. Suara klarinetnya sangat khas."

Pembahasan menjadi masuk sedikit tentang voyeurism. Bagaimanapun, aktivitas Renato terhadap Malena bisa dikategorikan sebagai mengintip. Renato mengendap-endap dan melihat Malena di rumahnya lewat lubang kecil, untuk kemudian berfantasi seorang diri di kamarnya. Namun mengintip sendiri bukanlah semata-mata melihat dari lubang kecil. Orang yang menyaksikan televisi punya esensi sama dengan mengintip: Melihat seseorang, menikmati membayangkan kehidupannya, tapi tanpa perlu khawatir orang yang dilihat kemudian balas melihat balik. Apakah hal tersebut hanya terjadi di usia labil seperti Renato? "Tidak," jawab Mas Yunus, "Kawan-kawan saya yang sudah menikah, berfantasi lebih gila daripada remaja." Rudy melanjutkan, "Voyeurism bukan penyimpangan. Ia dimiliki semua pria. Bahkan norma kesusilaan tidak sanggup mengadili hal-hal semacam ini," tutup Rudy.   

Friday, October 12, 2012

KlabKlassik Edisi Nonton: Malena (2000) "Jika Anda Cantik, Bersiaplah untuk Diintip"






Minggu, 14 Oktober 2012
Pukul 15.00 s/d selesai
Tobucil & Klabs, Jl. Aceh No. 56
Gratis dan terbuka untuk umum


Mengambil setting tahun 1940-an era perang dunia kedua, Castelcutto ialah sebuah kota kecil di Italia yang panoramanya dikelilingi oleh pantai nan eksotik. Diceritakan seorang janda muda cantik bernama Malena Scordia (Monica Belucci) lama ditinggal suaminya pergi berperang ke Afrika untuk rezim pemerintahan Benito Musollini. Bertahun-tahun tidak kembali, semua orang mengira sang suami, Nino Scordia (Gaetano Aronica) meninggal di peperangan. Malena secara fisik ialah wanita dewasa yang rupawan sehingga dipuja oleh oleh setiap pria tua maupun muda di Castelcutto, keindahan Malena menyihir seorang bocah labil berumur 13 tahun bernama Renato Amoroso (Giuseppe Sulfaro) yang diam-diam memperhatikan dan memendam hasrat. Dia sangat terobsesi oleh Malena secara sembunyi ia selalu mengikuti kemanapun malena pergi setiap harinya bahkan ia sengaja mengintip ke dalam rumah Malena memperhatikan bagaimana janda cantik ini menjalani kehidupannya seorang diri.

Plot film ini pada dasarnya dibangun atas narasi Renato yang melihat Malena sebagai wanita dewasa dari kacamata bocah berumur tiga belas tahun. Dengan polosnya, ia melihat bagaimana orang-orang dewasa disekitarnya hidup penuh intrik dan kemunafikan. Peran Renato di film ini memberikan gambaran psikologis tentang fase kedewasaan anak manusia yang prosesnya sangat rumit. Banyak sekali hal tabu dalam kehidupan yang sengaja ditampilkan apa adanya, membuat Malena sangat renyah untuk ditonton. Film ini diadaptasi dari cerita yang dibuat Luciano Vincenzoni dan disutradarai oleh Giuseppe Tornatore yang pernah memenangkan Oscar lewat film Cinema Paradiso. Music-scoring yang indah sepanjang film berdurasi 94 menit ini digarap oleh Ennio Morricone.


Monday, October 01, 2012

Mengapa Tidak Semua Kegiatan KlabKlassik berkaitan dengan Musik Klasik?

Meskipun tidak ada yang sungguh-sungguh bertanya tentang hal di atas, namun saya entah kenapa merasa harus menjawabnya. Karena sejak awal tahun 2012, KlabKlassik punya program komunitas baru, yang penjabarannya seperti ini: 

  • Minggu Kedua: Edisi Nonton dengan koordinator Yunus Suhendar. Film yang ditonton memang pernah beberapa kali berkaitan dengan musik klasik seperti From Mao to Mozart dan Amadeus. Namun pernah juga film-film yang tidak ada hubungannya seperti Nosferatu.
  • Minggu Ketiga: Edisi Playlist dengan koordinator Adrian Benn. Ini adalah semacam sesi mendengarkan musik bersama. Peserta membawa lagunya sendiri untuk diapresiasi secara bersama-sama. Lagunya ini dibawa sesuai tema, misalnya: "Blacklist Wedding Song", "Lagu yang ingin Kamu Perdengarkan jika Kamu Mati", "Musik Pengantar Tidur" atau "Inspirasi versus Plagiarisme". Harus musik klasik? Tidak harus!
  • Minggu Keempat: Edisi Bincang-Bincang dengan koordinator Diecky K. Indrapraja. Diskusinya juga tidak melulu tentang musik klasik, bahkan hampir tidak pernah. Edisi ini biasanya mengundang narasumber untuk memperbincangkan musik seperti ska, black metal, blues, hingga psikedelik. 
Lantas, sebelah mana sisi musik klasiknya? Bukankah ini mengkhianati visi dan misi KlabKlassik sendiri? Hal seperti ini pernah berkerut di kening mahasiswa antropologi yang datang untuk meneliti KlabKlassik. Bukan mereka yang bertanya, tapi ketika mahasiswa-mahasiswa tersebut mempresentasikan tentang KlabKlassik di depan kelas, mereka dicecar pertanyaan dari mahasiswa lainnya, "Terus, mana musik klasiknya?" Adrian Benn ketika pertama kali bergabung dengan KlabKlassik pun bertanya-tanya, "Ini bahas apa sih?" tanyanya yang waktu itu sedang membahas musik India oleh Pak Hardianto.

Ini akan saya coba memberi jawaban yang belum tentu memuaskan, dan juga tidak bermaksud sebagai pembelaan diri. Melainkan semacam pertanggungjawaban saja tentang apa yang kami lakukan:

  1. Apa yang dilakukan terkait dengan musik klasik sudah dilakukan lewat konser-konser yang diadakan sekitar dua atau tiga bulan sekali. 
  2. Setiap minggunya, rutin KlabKlassik mengadakan latihan ensembel gitar bernama Ririuangan Gitar Bandung (RGB). Repertoarnya biasanya musik klasik atau minimal dilakukan dengan teknik fingerstyle.
  3. Ada satu kritik dari kami bahwa baik musisi maupun apresiator musik klasik kerap terjebak di menara gading. Misalnya, lagu yang didengar hanya musik klasik, repertoar yang dimainkan hanya musik klasik, sejarah yang dipelajari adalah hanya tentang sejarah musik klasik. Yang demikian tidak bisa dibilang salah jika atas nama profesionalitas musisi. Namun terutama sebagai apresiator, kami menganggap bahwa apresiator yang baik adalah mereka yang bisa mengapresiasi segala jenis musik dan kesenian. Karena kami berasumsi, bahwa tidak ada musik yang baik dan buruk, yang ada hanyalah bagaimana apresiator menempatkan sesuatu dalam konteksnya. Misalnya, membandingkan musik reggae dengan musik mozart tentu saja tidak kontekstual secara timeline sejarah. Namun melihat pengaruh reggae dalam masyarakat Jamaika tentu saja akan membuat kita lebih bijaksana dalam mengapresiasi.
  4. Mereka yang terbiasa mengapresiasi musik klasik, akan mempunyai pisau bedah analisis yang lebih lengkap untuk melihat musik-musik lainnya. Orang yang terbiasa mengapresiasi musik klasik (terutama yang akademisi) akan lebih bisa merasakan melodi, kadens, instrumentasi, harmoni, progresi, tema, dan lain sebagainya (meskipun hal ini tidak mutlak, karena ada apresiator musik klasik yang tak pandai dalam hal semacam ini, ada juga orang non-musik klasik yang peka terhadap analisis). Atas dasar itu, diharapkan pembahasan tentang musik dan kesenian lainnya akan lebih lengkap. Misalnya, membahas film tapi kita bisa dengan jeli mengamati musik latarnya, ditinjau dari instrumentasi dan ketegangan yang dibangunnya.
  5. Dengan membahas musik-musik dari non-klasik, akan hadir juga penikmat-penikmat yang lebih umum. Hal tersebut pernah diungkapkan oleh beberapa orang dari komunitas musik black metal yang hadir ke KlabKlassik. Katanya, "Di kalangan kami sendiri, jarang sekali diskusi seperti ini. Anehnya, diskusi black metal malah dihadirkan di komunitas musik klasik."
Demikian. Diharapkan, dengan program rutin KlabKlassik yang membedah berbagai jenis musik dan seni lainnya, para apresiator menjadi lebih bijak dan arif, bahkan ketika mereka kembali mengapresiasi musik klasik itu sendiri. Selain itu, citra eksklusivitas musik klasik yang kerapkali mengurung diri di menara gading juga bisa diusir jauh-jauh. Harusnya, musik klasik, sebagaimana seni secara umum, bertujuan -kembali lagi- untuk membuat manusia menjadi lebih manusiawi.

Monday, September 24, 2012

Resital Gitar Klasik Jardika Eka & Syarif Maulana





Sabtu, 6 Oktober 2012
Auditorium IFI - Bandung
Jl. Purnawarman no. 32
Pk. 19.30 - 21.00

Program:

Revoir Paris (Roland Dyens)
Xodo da Baiana (Dilhermando Reis)
Cancion y Danza no. 1 (Antonio Ruiz-Pipo)

Valses Poeticos (Enrique Granados)
Elegio de la Danza (Leo Brouwer)
La Muerte del Angel (Astor Piazzolla)

Six Petit Duos Dialogues #2 (F. Carulli)
Sanzen-in (Andrew York)
Ode untuk Pacar Merah (Bilawa Ade Respati)
Duo Etude (Ammy C. Kurniawan)

Profil Penampil:

Jardika Eka Tirtana lahir di Bandung 9 Februari 1989. Mulai belajar gitar klasik pada tahun 2007 dibawah bimbingan Edy Hartono (STIMB). Th 2009 melanjutkan studi di ISI Yogya sebagai mahasiswa jurusan musik dengan instrumen mayor gitar klasik dibawah bimbingan Rahmat Raharjo, Royke B. Koapaha, dan Ovan Bagus hingga sekarang. Pernah mendapat Master Class dari Miguel Trapaga (Spanyol), Karl Nyhlin (Swedia), Thibault Cauvin (Prancis), Christopher Mallett & Robert Miller (Amerika). Aktif tampil dalam acara konser intern rutin “Parade Gitar” yang diadakan KBM GEMA bekerjasama dengan HIMA Musik ISI Yogyakarta. Mengikuti beberapa konser a.l. Home Concert di Auditorium Musik ISI Yogyakarta pada bulan April 2012 dan konser “Bintang Muda” yang diselenggarakan oleh IFI Yogyakarta pada bulan September 2012. Mendapat Juara 2 pada Surabaya Guitar Festival pada bulan Juni 2012 dan bulan Juli 2012 mendapat Juara 1 pada Balikpapan Student Guitar Competition 2012.

Syarif Maulana (Bandung, 30 November 1985), belajar gitar klasik sejak usia tiga belas tahun pada Kwartato Prawoto. Pada usia delapan belas, Syarif melanjutkan belajar gitar klasik pada Ridwan B. Tjiptahardja. Prestasi yang pernah diraih antara lain Juara III BTC Guitar Competition Kategori Pop (2005), Semifinalis Festival Gitar Nasional Yogyakarta (2006), Juara III Yamaha Student Contest Tingkat Sekolah Musik (2007), dan Juara III Bandung Spanish Guitar Festival Kategori Senior (2007). Syarif juga sempat mengikuti masterclass oleh Iwan Tanzil dan Alessio Nebiolo. Selain aktif di komunitas KlabKlassik sejak 2005 dan mengajar gitar klasik di beberapa tempat, Syarif pernah mengadakan lima kali resital, yaitu Resital Gitar Klasik Syarif Maulana (2006), Konser Gitar Klasik Syarif Maulana & Johan Yudha Brata (2007), Resital Tiga Gitar (2008) dan Resital Tiga Gitar plus Satu (2009) dan Resital Empat Gitar (2012). Syarif juga lulus dari grade 8 ABRSM untuk praktek dan grade 5 ABRSM untuk teori. Pernah menjadi pelatih divisi gitar di STT Tekstil, sekarang Syarif menjadi pelatih divisi gitar di orkestra milik UNPAD bernama Padjadjaran Orchestra.

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum!

Sunday, September 23, 2012

Alunan Musik The Beatles di Beranda Tobucil

Minggu, 23 September 2012


Lagu If I Fell yang diaransemen oleh Yunus Suhendar

Ririungan Gitar Bandung (RGB) sedang bergairah kembali. Penyebabnya adalah rencana konser yang sudah ditentukan pada bulan Januari 2013. Temanya pun cukup menarik, yaitu semacam konser persembahan untuk band legendaris The Beatles. Saking bersemangatnya, Kang Sutrisna sebagai ketua pun giat mengumpulkan partitur lagu-lagu The Beatles. Setelah sukses menggali data-data lama milik RGB seperti If I Fell dan Drive My Car, ensembel gitar yang didirikan Januari 2009 ini juga mendapat suntikan dua partitur baru yaitu Come Together dan I Saw Her Standing There.

If I Fell sukses diselesaikan pada hari itu. Dengan sisa-sisa tenaga, latihan RGB yang hanya diikuti enam orang tersebut, melanjutkan latihannya dengan lagu Come Together dan I Saw Her Standing There. Lalang, anggota termuda, beberapa kali menyalahkan Kristianus karena melakukan kesalahan. "Ah, sayang banget kita berhenti padahal sedikit lagi selesai," katanya sambil disambut gelak tawa peserta lainnya.
Lalang, anggota RGB termuda
RGB generasi terbaru ini yang mendaftar mencapai sebelas orang. Latihan yang rutin dilakukan setiap hari Minggu pukul dua ini dikenakan biaya Rp. 5000 / bulan saja. Masih terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung, dengan target jangka pendek konser Purwatjaraka pertengahan Oktober dan konser tunggal bulan Januari.


Wednesday, September 05, 2012

Melepas Afifa Ayu ke Negeri Musashi

Minggu, 2 September 2012

Afifa Ayu (ketiga dari kiri) bersama band Angsa dan Serigala.

Afifa Ayu bukanlah orang baru di KlabKlassik (KK). Ia datang pertama ke KK masih berkumpul di CommonRoom -mengingat kepindahan KK ke Tobucil dari sejak tahun 2007, maka Afifa sudah aktif di KlabKlassik sejak lebih dari lima tahun yang lalu!-. Kehadirannya yang pertama kali itu datang bersama violinis Ammy Kurniawan. Afifa, yang berstatus sebagai murid, kala itu masih duduk di bangku SMP dan memainkan satu karya berjudul Korobushka.

Waktu demi waktu berlalu, Afifa akhirnya memasuki kehidupan kampus. Meski demikian, karirnya sebagai violinis tidak ditinggalkan. Ia malah semakin gemilang seiring dengan keaktifannya di berbagai acara musik. Terakhir ini, Afifa tengah aktif-aktifnya di band yang sedang naik daun, Angsa dan Serigala. Kecemerlangannya di wilayah musik ini ternyata juga sejalan dengan karirnya di bidang akademik. Ia mendapatkan semacam beasiswa untuk penelitian di Tokyo Institute of Technology selama setahun.

Kepergiannya ini "dirayakan" dengan mengadakan farewell party di rumahnya sendiri di daerah Pasteur. Afifa mengundang terutama rekan-rekannya di bidang musik untuk tampil sekaligus silaturahim karena juga berkaitan dengan momen pasca lebaran. Ada 4 Peniti, Angsa dan Serigala, serta Strangers Band menyumbangkan dua tiga lagu untuk memeriahkan acara yang -asyiknya- diselenggarakan di garasi rumah tersebut. Ruangan garasi yang relatif kecil justru menjadikan suasana lebih akrab.

Setelah dibuka dengan penampilan Afifa dan keluarga, yakni adiknya, Ilham, dan sepupunya, Rafdi, berturut-turut Afifa tampil berkolaborasi. Tidak hanya bermain violin, Afifa juga menunjukkan kepiawaiannya dalam menyanyi dan bermain keyboard.  Setelah penampilan apiknya dengan berbagai band, Afifa menutup acara perpisahannya tersebut dengan menampilkan lagu ciptaannya sendiri berjudul Rindu. Didampingi oleh Ilham dan Ammy, lagu yang sendu dan melankolik itu menjadi pamungkas yang tepat karena membuat suasana menjadi cukup mengharukan. Hal tersebut juga ditambah dengan pidato singkat dari Papa Afifa yang berkata, "Terima kasih pada kalian, teman-teman Afifa yang berharga, yang begitu penting artinya pada perkembangan anak saya."

Demikian. Mari kita doakan semoga Afifa bisa menimba ilmu sebanyak-banyaknya di negeri Musashi. Tidak hanya itu, semoga ia juga bisa membawa kembali ilmu tersebut dan membagi-bagikannya untuk memajukan negeri ini.

Tuesday, August 14, 2012

KlabKlassik Akan Tanpa Bilawa dan Diecky


Bagi KlabKlassik, Bilawa Ade Respati dan Diecky K. Indrapraja sumbangsihnya tak perlu diragukan lagi. Bilawa aktif sejak acara pertama KlabKlassik yakni Classicares: Classical Concert for Charity tahun 2005. Sedangkan Diecky mulai terlibat sejak Januari 2007 di seminar musik kontemporer  di IFI - Bandung (Dulu bernama CCF) yang di dalamnya menghadirkan pembicara Dieter Mack dan Royke B. Koapaha. 

Keduanya berbeda wilayah ketertarikan. Bilawa terutama, dia adalah seorang performer. Bilawa bermain gitar klasik dan mendalaminya cukup serius hingga mengikuti berbagai resital dan kejuaraan. Dalam ranah pergitaran klasik Bandung, Bilawa dikenal sebagai gitaris yang berteknik tinggi dan senang sekali bermain karya musik yang relatif rumit. Sedangkan Diecky lebih serius menekuni dunia komposisi. Ia bukan tipikal komposer yang realistik pro-pasar, melainkan idealistik dan boleh dibilang beraliran garda depan. Karya-karyanya pernah diikuti di festival musik kontemporer di Yogya hingga festival komposisi se-Asia Tenggara. 

Namun diantara keduanya ada kesamaan. Baik Bilawa maupun Diecky, mereka tipikal orang yang tak pernah terpuaskan dahaga keingintahuannya. Maka itu keduanya amat senang berdiskusi, berbagi maupun menyerap ilmu di komunitas. Hal yang agaknya menjadi landasan kuat mengapa mereka memilih suatu jalan yang meskipun mereka tahu tak akan memenuhi dahaganya, namun setidaknya baik Bilawa maupun Diecky, yang berharga adalah proses pencarian sumber air pengetahuan itu sendiri. 

Ya, terhitung sejak bulan September nanti, Bilawa maupun Diecky tidak akan terlihat lagi dalam keseharian komunitas KlabKlassik. Bilawa memilih untuk bersekolah di Jerman selama tiga tahun. Sedang Diecky, setelah menikah, ia memilih untuk tinggal di Pontianak dan menjadi dosen disana. Keduanya pergi, pasti bukan semata-mata dalam rangka mencari kenyamanan badani semata. Mereka justru berangkat oleh sebab meyakini bahwa hidup adalah tentang mencari dan mencari. Dilarang berpuas di satu permukiman, karena yang demikian bisa berbahaya dan membuat lupa diri.

Apapun itu, mari kita doakan agar baik Bilawa dan Diecky menemukan sesuatu yang berharga di perantauannya. Semoga bisa memberikan sumbangsih tidak cuma bagi musik klasik saja yang sifatnya khusus, tapi bagi kehidupan di dunia ini pada umumnya.

Monday, July 30, 2012

Inspirasi vs Plagiarisme

Minggu, 28 Juli 2012

KlabKlassik Edisi Playlist kali itu tidak seperti biasanya yang mewajibkan masing-masing pesertanya membawa satu lagu. Kali ini peserta mesti membawa dua lagu karena ada yang harus dipersandingkan. Topiknya adalah tentang inspirasi vs plagiarisme. Jika ada satu lagu mirip dengan lagu lainnya, kita bisa pertanyakan: Apakah itu inspirasi, ataukah itu plagiasi?

Meski yang hadir tidak terlalu banyak, namun edisi playlist kali ini justru menyuguhkan lagu cukup banyak. Selain karena memang yang dibawa masing-masing orang adalah dua, tapi penyebab utamanya adalah keberadaan Rahardianto yang membawa hingga belasan lagu. Katanya, "Mudah sekali menemukan lagu Indonesia yang mirip dengan lagu asing. Bahkan di youtube pun ramai-ramai mempersandingkan." Berikut adalah beberapa lagu yang kemarin diputar, yang dirasa punya kemiripan:

1. Le Marseilles (Lagu Kebangsaan Prancis) dengan Dari Sabang Sampai Merauke. Kemiripan ini cukup identik, meski yang sangat persis hanyalah dua bar pertamanya. Namun jika dicermati, bar-bar berikutnya dari lagu Dari Sabang Sampai Merauke hanyalah variasi sedikit dari Le Marseilles.

2. Frozen (Madonna) dan Ma Vie Fout Le Camp (Salvatore Acquaviva). Kemiripannya ada di beberapa bar bagian verse. Konon Acquaviva menggugat Madonna dan memenangkannya. Lagu Frozen pun dilarang diputar di Belgia. 

3. Kopi Dangdut (Fahmi Syahab) - Moliendo Cafe (Hugo Blanco). Siapa yang tidak kenal lagu Kopi Dangdut? Hampir semua lapisan masyarakat Indonesia tahu lagu dangdut populer ini. Namun tidak banyak yang tahu bahwa Moliendo Cafe nyaris tidak punya perbedaan dengan Kopi Dangdut.

4. Jangan Sakiti Aku Lagi (Radja) - No More Lonely Night (Paul McCartney). Rahar menyebut persamaan kedua lagu ini sebagai "persamaan pada intinya". Atau sekilas berbeda, tapi intinya sama-sama saja. Dalam arti kata lain, ini masuk kategori "plagiasi yang samar-samar".

5. Mari Bercinta (Aura Kasih) - Give it To You (Sean Paul). Kemiripan ini sangat identik. Hanya karena Aura Kasih memainkannya dengan beat disko dan Sean Paul hip-hop, maka bagi orang awam tidak akan terlalu kentara. Namun melodi lagunya sungguh persis.

6. Pupus (Dewa) - Life is Real (Queen). Ahmad Dhani terlihat sekali terinspirasi Queen dalam banyak lagunya. Rahar juga mengategorikan kemiripan ini sebagai cukup samar dan lebih terasa sebagai inspirasi daripada plagiasi.

7. Mak Comblang (Potret) - Alright (Supergrass). Kemiripan ini tidak terlalu jelas, namun terasa sekali dari ritem dan "semangat"-nya. Bahkan konsep video klip diantara keduanya pun punya kemiripan.

8. Bagaikan Langit (Potret) - Good Life (Weezer). Rahar mencium persamaan ini pada fill-in drum dan juga bagian tengah, semacam bridge dan solo-nya. Melly mengambil style yang luar biasa identik meski terlihat ia mengubahnya sedikit-sedikit.

9. Take em All (Cockspringer) - Iwa Peyek. Iwa Peyek orisinil? Tunggu sampai mendengarkan bagian reffrain lagu Cockspringer tersebut!

Ada cukup banyak lagu yang diputar, belum termasuk yang dihadirkan oleh Diecky -yang dengan niat ia sudah potong-potong lagu tersebut ke dalam satu file-. Namun yang lebih terpenting adalah membahasnya. Kata Diecky, dalam aturan hak cipta sendiri, lagu baru dianggap plagiasi jika menjiplak hingga delapan bar. Kenyataannya, banyak musisi, walaupun mirip, tapi secara cerdik berhasil menghindari aturan hingga delapan bar tersebut (simak Dari Sabang sampai Merauke yang cuma dua bar). "Selebihnya," lanjut Diecky, "Dikembalikan pada harga diri si musisi itu. Jika memang terasa menjiplak walaupun tidak bisa dibuktikan, ia bisa mendapat sanksi dari masyarakat berupa cap plagiator yang tidak resmi."


Tapi apa bedanya kemiripan seperti ini dengan misalnya Marcel Duchamp yang melukis monalisa dan hanya menambahkan kumis? Lanjut Diecky, "Beda, kalau Duchamp ada semacam mocking yang terang-terangan. Persis seperti parodi yang dilakukan oleh Project Pop. Namun musisi-musisi ini, sepertinya sengaja 'terinspirasi' oleh musisi yang kurang terkenal, yang asumsinya tak bisa dilacak oleh masyarakat banyak. Sedangkan 'menjiplak' Monalisa itu kasus lain, siapa yang tak tahu lukisan Monalisa?"  Inilah yang menjadi persoalan: Ketika akses terhadap internet sudah semakin marak, orang sudah bisa melacak lagu-lagu ke seluruh dunia, tidakkah sebaiknya pencipta lagu malah harus semakin mawas diri dalam mencipta? 


Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.