Thursday, November 10, 2011

Monday, October 17, 2011 KlabKlassik: Menyimak Music Scoring Film Taxi Driver (1976)

Minggu, 16 Oktober

KlabKlassik kali ini tidak melulu mendengarkan musik, melainkan ada juga acara menyaksikan film. Hanya saja dari film tersebut tetap dibahas music scoring-nya, atau musik latarnya (bukan soundtrack). Untuk memahaminya betul-betul, film diputar dari awal sampai akhir.

Taxi Driver adalah film garapan Martin Scorsese yang diperankan oleh Robert de Niro dan Jodie Foster. Ceritanya adalah tentang supir taksi yang gelisah oleh keadaan di sekitarnya. Ia merasa bahwa "Animals come out at night," setelah menyaksikan fakta disana-sini terdapat pelacur, penjahat, dan berbagai ragam keburukan lainnya. Sebagai supir taksi, ia ingin melakukan perubahan, ingin menjadi pahlawan. Maka itu ia membeli pistol, menembaki para penjahat dan menyelematkan salah seorang pelacur untuk dipulangkan pada kedua orangtuanya. Film ini, meski alur ceritanya seperti sederhana, namun penggambarannya agak gelap dan absurd. Betul-betul mencerminkan kegelisahan eksistensial seorang supir taksi yang bisa dibilang tidak tinggi secara strata sosial masyarakat.

Robert de Niro sebagai Travis Bickle.

Meskipun yang datang tak terlalu banyak, Diecky sukses memancing kekritisan para pendatang. Ia menyebutkan bahwa dalam music scoring garapan Bernard Hermann tersebut, hanya ada dua lagu yang dominan. Pertama, lagu jazz sendu. Kedua, lagu dengan interval berdekatan yang menyebabkan disonan. Kata Diecky, "Lagu jazz biasa diputar ketika sang supir tengah bermonolog dan mengendarai taksinya, sedangkan lagu dengan interval berdekatan digunakan ketika adegan-adegan yang dianggap 'penting' dan harus diberi aksen." Kedua lagu dominan tersebut dianggap berhasil menyuguhkan dinamika emosi antara yang ideal dan yang riil, termasuk ketika film memasuki sesi akhir: ada adegan yang tidak masuk akal ketika supir taksi itu berambut normal kembali (sebelumnya di mohawk) dan sehat seperti sediakala (sebelumnya kena tembak tangannya), lalu ia mengantarkan wanita yang sempat menjadi pujaannya. Menilai lagu yang dimainkan adalah lagu jazz itu, maka para pendatang memberi kesimpulan bahwa jangan-jangan adegan terakhir itu semacam sesi nostalgia saja, tidak riil dan mungkin hanya ada dalam pikirannya.

Minggu depan Diecky akan mengusulkan sebuah film musikal yang katanya, "Saya jamin sembilan puluh persen orang belum nonton." Mari kita tunggu!

No comments:

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.