Thursday, November 24, 2011

Resital Klarinet & Piano: Urs Bruegger & Ratna Sari Tjiptorahardjo




Yogyakarta
Jumat, 25 November 2011
Lembaga Indonesia Prancis (LIP)
Jl. Sagan no.3
Pk. 19.30

Bandung
Rabu, 30 November 2011
Auditorium CCF
Jl. Purnawarman no. 32
Pk. 19.30

Surabaya
Sabtu, 3 Desember 2011
Pusat Kebudayaan Prancis - Surabaya (CCCL)
Jl. Darmokali no. 10
Pk. 19.30

Informasi
Syarif (0817-212-404)
Studio Musik Melodia, Jl. Cipunagara no. 15 (022-727-3390)

Urs Brugger (Klarinet)

Lahir di Biel, Switzerland. Meraih Teaching Diploma di bawah Kurt Weber. Urs Brugger menyelesaikan studinya meraih gelar Soloist Diploma di Hannover Academy of Music di bawah Proffessor Hans Deinzer. Semenjak tahun 1970, dia berkarir sebagai principal clarinet player Orchestra Biel, Lucerne * Basel. Dia juga mengajar para peniup clarinet professional di Lucerne Conservatory. Dia telah beberapa kali mengunjungi Indonesia mengadakan Concert Tour sebagai anggota Trio La Tache. Sebagai dosen tamu mengajar Clarinet di Studio Musik Melodia, mulai bulan Agustus 2011.

Ratna Tjiptorahardjo (Piano)

Lahir di Bandung , dalam lingkungan keluarga yang musikal.Pelajaran musik piano dimulai sejak umur 7 tahun dengan guru-guru pertamanya Mnr Domm, Ibu Yenly Kasim dan Ibu Ibrahim.
Pelajaran musik tingkat lanjut diterima dari Bapak Oerip Santoso, Bapak Su Saw Ching di Bandung meraih Diploma LRSM, ABRSM, London.
Pelajaran musik formal pertama didapatkan dengan bea siswa di Royal College of Music, London dibawah bimbingan Prof. Peter Element dan Mrs Judith Burton untuk pelajaran Music Performance dan Pedagogy. Pendidikan musiknya dilanjutkan di University of Melbourne, Australia dengan meraih gelar Master of Music Studies dibawah bimbingan Dr. Mikhail Solovey, Caroline Almonte dan Julie Haskell.
Ketika mengajar di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung pada tahun 1995-2000, banyak menerima bimbingan dari dosen tamu dari Jerman, Prof. Dieter Mack, seorang komponist dan musikolog bersama almarhum Hansjoerg Koch,seorang pianis konser. Sampai sekarang hubungan kerja dalam bidang musik masih terus berlanjut.
Di Melbourne aktif mengajar music sebagai guru piano privat dan aktif sebagai konduktor koor di Keluarga Katolik Indonesia, Melbourne. Konser yang akan diadakan Sepember 2012 untuk merayakan 25 th anniversary KKI Melbourne ini akan membawakan Missa Mozart, the Great Mass in C minor.
Di Bandung, membimbing dan mengelola sekolah musiknya, Studio Musik Melodia , Jalan Cipunegara 15 Bandung.Banyak diantara siswa/i didiknya yang berhasil menyelesaikan study musiknya dan berprofesi sebagai guru musik yang baik.

Program

Schumann - Fantasiestuecke Opus 73 fuer Klavier und Klarinette
Francis Poulenc - Sonata for Clarinet and Piano
Saint-Saens - Sonata for Clarinet and Piano
Darius Milhaud – Scaramouche

Membahas Seluk Beluk Hak Cipta Musik

Minggu, 13 November 2011

Di sore yang hujan itu, KlabKlassik (KK) mengadakan pertemuannya. Hari itu bahasannya agak lain, yaitu lebih berat ke arah hukum. Diundanglah seorang pakar hukum bernama Pirhot Nababan, ia berbagi tentang hak cipta musik.

"Hak cipta itu ada ketika kita selesai mencipta, bukan ketika kita mendaftar," demikian kalimat pembuka Pirhot yang biasa dipanggil Iyok itu. "Namun mendaftarkan hak cipta itu ada baiknya juga, terutama jika suatu saat kita bersengketa," tambahnya. Iyok juga mengatakan bahwa tentu saja mendaftar itu perlu uang, ia menambahkan ada solusi lain yang berkekuatan hukum jika memang dirasa pendaftaran itu terlalu mahal, "Amplopi karya tersebut, partitur, contoh rekaman, dan lain sebagainya, lalu kirim pos ke alamat sendiri. Itu sudah berkekuatan hukum jika ada yang mengklaim yang mengatakan bahwa dirinya membuat karya lain duluan."

Kebetulan hari itu juga kedatangan Mba Uci, seorang sarjana hukum dari Solo yang tertarik datang. Selain menjadi peserta, ia juga ternyata bisa memberikan pandangan-pandangan tentang hukum, terutama menjawab beberapa kegalauan peserta. Obrolan itu meluas menjadi banyak hal tentang hukum seperti pidana, perdata, kasus-kasus tertentu, hingga undang-undang pornografi. Hal tersebut disebabkan oleh tidak banyaknya diantara peserta yang betul-betul mengerti soal hukum, sehingga ini jadi semacam kesempatan untuk bertanya-tanya.

Kegiatan ini rencananya akan dibuat secara berkala, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang hukum secara umum. Karena, kata Mba Uci, "Kita adalah bagian dari hukum, kita tidak bisa mengelak dari hukum dengan argumen 'saya tidak tahu'." Lalu pesan terakhir dari Iyok, "Jika ada sengketa, jadikanlah pengadilan sebagai jalan terakhir, usahakan selesaikan dengan jalur damai dulu. Ada yang dikenal dengan economic analysis of law, yaitu biaya gugatan kamu lebih besar dari kemungkinan hasil gugatannya, itu harus dipertimbangkan betul."

Friday, November 11, 2011

KlabKlassik: Membahas Hak Cipta Musik bersama Pirhot Nababan

Minggu, 13 November 2011

Tobucil, Jl. Aceh no. 56

jam 15.00 - 18.00

Gratis

Masalah hak cipta musik masih menjadi isu yang cukup serius di Indonesia. Perlu diketahui, pelanggaran hak kekayaan intelektual di Indonesia tergolong besar. Di tahun 1999, petugas Direktorat Bea dan Cukai di Bandara Soekarno-Hatta membongkar paket yang berisi ribuan keping video porno dan VCD ilegal. Negara telah dirugikan sebesar Rp 3,655 miliar akibat insiden ini

Selain itu, selain negara telah dirugikan dalam jumlah yang sangat besar dari sektor pajak, akibat adanya pembajakan. Kerugian ini juga dialami oleh pencipta lagu karena tidak menerima royalti.

Masalah lain yang muncul adalah keluhan dari pencipta lagu yang tidak menerima honor sesuai berdasarkan perjanjian dengan perusahaan rekaman. Produser rekaman, tak jarang, memaksakan kemauannya dalam semua aspek seperti sistem kontrak, besar honor, sampai waktu pembayaran honor.

Lebih jauh, pembayaran royalti atas karya cipta musik atau lagu yang diputar atau dinyanyikan di hotel, karaoke, diskotik, restoran, kapal terbang dan lain-lain, tetap menimbulkan berbagai persepsi dari publik.

Pertemuan minggu nanti adalah momen yang baik untuk berdiskusi tentang persoalan hak cipta musik ini. Dipandu oleh pakar hukum Pirhot Nababan, acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Thursday, November 10, 2011

Musik Garasi: Introduction to Castanet Playing by Marina Bollain




Minggu, 20 November 2011
15.00 WIB - Selesai
Garasi 10 | Jl. Rebana 10, Turangga, Bandung

Biaya:
Rp20.000 (membawa kastanyet masing-masing)

Pendaftaran dan informasi:
Mutia - (022) 700 21 446
classic.indonesia@gmail.com

Profil Maria Bollain:
Marina Bollaín, soprano of wide experience in the European scene, brings her beautiful voice, and charm rhythmic castanets. She graduated in singing and opera stage direction by the Hanns Eisler Hochschule fr Musik in Berlin and Germanic Studies from the Universidad Complutense de Madrid. He has recorded three CDs of Spanish music with Federico Garcia Lorca songs, Fernando Sor, and Enrique Granados. With her guitar chords in the experienced hands of Teresa Folgueira, they give the public a performance of high artistic level. (Sumber: Abrebrecha)

Musik Garasi: Guitar Master Class by Teresa Folgueira




Senin, 21 November 2011
Jam 10.00 WIB - Selesai
Garasi 10 | Jl. Rebana 10, Turangga, Bandung

Biaya:
Rp50.000 - penonton
Rp400.000 - peserta aktif

Pendaftaran dan informasi:
Mutia - (022) 700 21 446
classic.indonesia@gmail.com

Profil Teresa Folgueira:
Teresa Folgueira (guitar) was born in Madrid, Spain, and started studying music in her childhood at the Art and Music Academy with Carlos Perón until intermediate level. Later she went to the Real Conservatorio Superior de Música of Madrid where she received tuition from José Luis Rodrigo, and afterward took her postgraduate qualification under the tutelage of Miguel Angel Jiménez.

Currently she completed her training with Gerardo Arriaga. She also attended lessons by Demetrio Ballesteros, Manuel Estévez, Carles Trepat, Margarita Escarpa, Miguel Trápaga, José Tomás, Ana Jenaro, Odair Assad, Zoran Dukic, Eduardo Fernández, David Russell and Pepe Romero.

She has given concerts at the Cultural Centre of the Village of Madrid, Centro Cultural Conde Duque of Madrid, IFEMA, the Railway Museum, The Juan March Foundation, The Polish Embassy in Spain, French Institute in Madrid, Ateneo of Madrid and in different theaters in Spain. Abroad, she has performed in several cities in Poland, in China, Nigeria, Gabon, Venezuela, Morocco, Ghana, Portugal, either as part of groups or as soloist.

In 2002 she was awarded the second prize at the XV Guitar Competition of Cantabria (Comillas). She now divides her time between performing and teaching classical guitar at several conservatories of music in Madrid.

KlabKlassik: Nonton Bareng Film "Notes Interdites"


There are three things i don't believe in:
i don't believe in medicine
i don't believe in sunspots
and i don't believe in the art of conducting
--Leo Tolstoy

Tagline tersebut menjadi pembuka film "Notes Interdites", film dokumenter yang mengisahkan tentang konduktor Gennadi Rozhdestvensky, seorang konduktor ternama asal Rusia. Film ini bertutur tentang persiapan, rehearsal, dan kebijaksanaan dari sang konduktor ketika tengah mempersiapkan orkestra untuk konser. Ada juga adegan ketika Gennadi mengajar murid-muridnya di konservatorium Moskow. Gennadi bukanlah konduktor konvensional. Gayanya atraktif, aktif, dan menghibur. Ia ingin orkestra hidup bersama dengan gestur tubuhnya.

Film ini menarik, selain atraksi Gennadi dan juga caranya mengajar yang cukup keras, ada beberapa review sejarah tentang perkembangan orkestra musik di Rusia. Gennadi mengutip banyak kalimat-kalimat dari Prokofiev, Stalin, Tolstoy hingga Gorky. Mereka semua berdebat tentang musik apa yang bagus, tentang musik apa yang cocok bagi Rusia (kala itu Soviet). Apakah musik yang menyentuh? Apakah musik yang menyemangati orang banyak? Atau apa? Demikian adalah hal yang lumrah bagi negara dengan ideologi keras semisal Uni Soviet.

Monday, October 17, 2011 KlabKlassik: Menyimak Music Scoring Film Taxi Driver (1976)

Minggu, 16 Oktober

KlabKlassik kali ini tidak melulu mendengarkan musik, melainkan ada juga acara menyaksikan film. Hanya saja dari film tersebut tetap dibahas music scoring-nya, atau musik latarnya (bukan soundtrack). Untuk memahaminya betul-betul, film diputar dari awal sampai akhir.

Taxi Driver adalah film garapan Martin Scorsese yang diperankan oleh Robert de Niro dan Jodie Foster. Ceritanya adalah tentang supir taksi yang gelisah oleh keadaan di sekitarnya. Ia merasa bahwa "Animals come out at night," setelah menyaksikan fakta disana-sini terdapat pelacur, penjahat, dan berbagai ragam keburukan lainnya. Sebagai supir taksi, ia ingin melakukan perubahan, ingin menjadi pahlawan. Maka itu ia membeli pistol, menembaki para penjahat dan menyelematkan salah seorang pelacur untuk dipulangkan pada kedua orangtuanya. Film ini, meski alur ceritanya seperti sederhana, namun penggambarannya agak gelap dan absurd. Betul-betul mencerminkan kegelisahan eksistensial seorang supir taksi yang bisa dibilang tidak tinggi secara strata sosial masyarakat.

Robert de Niro sebagai Travis Bickle.

Meskipun yang datang tak terlalu banyak, Diecky sukses memancing kekritisan para pendatang. Ia menyebutkan bahwa dalam music scoring garapan Bernard Hermann tersebut, hanya ada dua lagu yang dominan. Pertama, lagu jazz sendu. Kedua, lagu dengan interval berdekatan yang menyebabkan disonan. Kata Diecky, "Lagu jazz biasa diputar ketika sang supir tengah bermonolog dan mengendarai taksinya, sedangkan lagu dengan interval berdekatan digunakan ketika adegan-adegan yang dianggap 'penting' dan harus diberi aksen." Kedua lagu dominan tersebut dianggap berhasil menyuguhkan dinamika emosi antara yang ideal dan yang riil, termasuk ketika film memasuki sesi akhir: ada adegan yang tidak masuk akal ketika supir taksi itu berambut normal kembali (sebelumnya di mohawk) dan sehat seperti sediakala (sebelumnya kena tembak tangannya), lalu ia mengantarkan wanita yang sempat menjadi pujaannya. Menilai lagu yang dimainkan adalah lagu jazz itu, maka para pendatang memberi kesimpulan bahwa jangan-jangan adegan terakhir itu semacam sesi nostalgia saja, tidak riil dan mungkin hanya ada dalam pikirannya.

Minggu depan Diecky akan mengusulkan sebuah film musikal yang katanya, "Saya jamin sembilan puluh persen orang belum nonton." Mari kita tunggu!

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.