Friday, July 15, 2011

KlabKlassik: Meneropong Musik Klasik dari Beranda Toko Buku


Petikan gitar akustik melayang di udara; terbang ke jalan raya. Suaranya berderap, bersahutan, tetapi tertib seperti barisan semut yang mengangkut remah makanan. Gesekan cello lalu mengiringi. Seorang pendengar menajamkan telinganya. Suara ini berbeda dengan yang biasa ditemukannya di radio atau televisi. Ia menghampiri sumbernya. Langkahnya berakhir di beranda sebuah toko buku kecil. Para musisi masih sibuk memainkan instrumennya, tetapi pesan mereka sudah jelas: “Halo! Selamat datang di KlabKlassik!”

Berbagi beranda dengan sekelompok orang yang tekun merajut, Minggu sore (12/12) para penggiat KlabKlassik sedang berlatih dalam bentuk ensambel. Empat gitaris dan seorang cellist duduk mengelilingi meja kayu tempat partitur diletakkan. Sementara yang lain menyimak, jemari musisi-musisi ini lincah berpindah membunyikan instrumen musiknya. Pandangan mereka lekat pada not-not balok. Saat lagu selesai, masing-masing langsung mengomentari permainannya:

“Mas Yunus, senarnya ada yang mati ya?” tanya Diecky, pengaransemen lagu. “Padahal di bass-nya ada bagian yang enak. Sebaiknya sebelum main nanti diganti atau pinjam gitar teman.”

“Saya ketinggalan di bagian D,” kata Trisna, gitaris ketiga.

“Tantangan memainkan lagu dansa adalah bagaimana membuat pendengarnya berdansa,” ujar Syarif, koordinator klab. “Sebetulnya di setiap bagian ada nada yang menonjol. Kalau kita terpeleset, paling nggak nada itu mesti keluar.”

“Ulang?” pinta Trisna.

“Ga, Pat,” gitaris pertama, Kris, memberi aba-aba. Dan lagu pun kembali dimulai.

Kris dkk. membawakan “La Cumparsita” (“Parade Kecil”), salah satu lagu berirama tango paling populer sedunia. Lagu gubahan komponis Uruguay, G.H. Matos Rodriguez (1897-1948), ini menjadi musik latar dalam lebih dari dua puluh lima film, antara lain Some Like It Hot-nya Marilyn Monroe (1959), serta Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004). Saking cintanya kepada “La Cumparsita”, Uruguay mengajukan protes resmi ketika Argentina menggunakannya sebagai pengiring kontingen mereka pada pembukaan Olimpiade Sidney.

Beberapa hari lagi, KlabKlassik akan tampil dalam sebuah pertunjukan musik klasik di Universitas Padjadjaran. “La Cumparsita” termasuk repertoar yang hendak dimainkan. “Padahal kuartet gitarnya baru dibentuk Jumat kemarin,” ungkap Trisna sembari tertawa. Untungnya KlabKlassik Guitar Quartet terdiri dari wajah-wajah yang sering meramaikan pertemuan mingguan KlabKlassik. Selain Kris dan Trisna, ada juga Yunus sebagai gitaris kedua, serta Aldi yang memetik gitar pengganti flute. Keempatnya sudah saling mengenal sehingga latihan pun terasa akrab. Kebetulan sore itu hadir pula seorang cellist bernama Ferry Matias. Ferry lantas ditodong ikut menggesek cello-nya.

“Nah, sekarang sudah lumayan enak,” tukas Syarif, setelah berkali-kali percobaan. “Kamis besok kita latihan lagi di rumah saya. Sekarang kita bicara dulu tentang teknis pementasan. Saya dan Diecky punya ide bikin buklet informasi buat dibagikan ke penonton. Sebetulnya panitianya nggak minta, tapi kita inisiatif saja. Menurut kalian isinya apa?”

KlabKlassik adalah komunitas pencinta musik klasik di Bandung. Berdiri sejak 9 Desember 2005, komunitas ini berkembang sebagai ruang apresiasi dan edukasi alternatif di luar sekolah-sekolah musik yang cenderung formal dan kompetitif. KlabKlassik tak mengenal sistem keanggotaan. Siapapun boleh bergabung dengan cuma-cuma. Para penggiatnya biasa bertemu setiap Minggu jam satu siang di Tobucil, toko buku berbasis komunitas di Jl. Aceh No. 56. Pertemuan ini biasanya dimanfaatkan untuk berlatih dan berdiskusi dalam suasana kekeluargaan.

“Sampai sekarang kami sendiri masih sering bingung, ‘Musik klasik itu apa, sih?’,” tutur Syarif, mahasiswa pascasarjana yang belajar gitar klasik sejak sepuluh tahun silam. “Waktu pertanyaan ini dilempar ke teman-teman, jawabannya macam-macam. Ada yang menjawab musik seni, musik yang ‘dipetik’, musik sastra, musik serius ... padahal kalau Peterpan didengarkan serius, jadinya juga musik serius, kan?”

Sebutan ‘Musik Klasik’ (Classical Music) mengemuka pada abad ke-19 di Eropa. Awalnya kata klasik dipakai untuk merujuk masa keemasan periode Barok. Pada masa itu sederet musisi besar, seperti Haydn, Mozart, Beethoven, dan Schubert, menghasilkan karya-karya terbaiknya yang tak lekang dimakan waktu (classic). Maka ‘Musik Klasik’ digunakan sebagai sebutan bagi semua musik serius yang berkembang di Eropa pada periode Klasik, 1750-1830. Sebutan itu kemudian mengalami perluasan makna. Sekarang musik klasik tak hanya digunakan untuk menyebut musik yang dihasilkan pada periode Klasik, tetapi semua musik serius yang berkembang dari abad ke-11 sampai saat ini.

“Di Indonesia kata klasik berkonotasi tua,” timbrung Diecky, musikolog lulusan Sekolah Tinggi Musik Bandung. “Kita sering mendengar sebutan ‘radio klasik’, ‘kamera klasik’, atau ‘mobil klasik’.” Seringkali orang keliru menyebut musik-musik dari dekade sebelumnya – misalnya lagu Utha Likumahuwa dari dekade ’80-an – sebagai musik klasik.

Konon, musik klasik pertama kali masuk ke ‘Indonesia’ ketika Inggris menguasai Jawa, 1811-1816 (Tempo, 5 April 2004). Batavia pada pemerintahan Sir Thomas Stamford Raffles memiliki slogan ‘Beauty, Music and Wine’. Musik klasik lantas menjadi bagian acara makan malam di rumah-rumah kalangan menengah ke atas. Alhasil banyak orang menganggap musik klasik sebagai musik yang eksklusif. Hanya kalangan tertentu yang dapat menikmatinya. Mahalnya instrumen musik klasik dan besarnya biaya untuk mempelajarinya semakin mengukuhkan anggapan ini.

Uniknya kesan eksklusif itu justru menjadi semacam daya tarik musik klasik. Seperti remaja yang berlatih band di garasinya karena terpikat klise rock and roll, sejumlah orang mendengarkan dan mempelajari musik klasik demi menunjukkan eksistensinya di kelas sosial tertentu. “Banyak orang yang belajar musik klasik sebagai gaya hidup,” jelas Syarif. “Padahal di era Mozart, musik klasik justru merupakan musik rakyat.”

Berdirinya KlabKlassik erat terkait situasi tersebut. Para penggiat klab menyadari meskipun kesan eksklusif itu ada benarnya, musik klasik menawarkan lebih dari sekadar pencitraan semu. “Saya mendapat banyak dari musik klasik: disiplin, kegigihan, bertemu orang-orang baru, kesenangan bermain dan tampil di depan penonton,” Syarif mengakui. Bersama teman-temannya, ia yakin musik klasik juga bisa sederhana, santai dan membumi, asalkan para musisi dan penikmatnya mampu memilah inti musik klasik dari kemasannya. Seluruh kegiatan KlabKlassik merupakan upaya sedikit demi sedikit meruntuhkan citra eksklusif yang telanjur melekat pada genre ini. Moto mereka: “Bach memberkati.”

Jumat malam (17/12), jelang duet gitarnya dengan Kris, Yunus memperkenalkan lagu kepada para hadirin, “Lagu kedua masih dari Franz Schubert. Judulnya “Serenade”, berasal dari kata sereno yang artinya teduh atau tenang.” Laki-laki jangkung ini berhenti sejenak. “Mudah-mudahan kami juga tenang selagi memainkannya.” Hadirin tertawa.

Yunus dan Kris memainkan serenade, suatu bentuk komposisi yang sudah ada pada periode Medieval, 500-1400. Awalnya komposisi ini dimainkan untuk menyapa kekasih, teman, maupun orang yang dihormati. Di pekarangan rumah kekasihnya, seorang pria akan menyanyikan serenade diiringi alat musik yang dimainkannya sendiri – biasanya gitar atau instrumen petik lainnya. Sementara itu, wanitanya menyaksikan dari jendela kamar. Kedengarannya romantis memang, tetapi tergantung serenade-nya juga. “Serenade” Franz Schubert, Opus 90 No. 11, penuh nada-nada minor dan repetisi yang mengharukan. Daripada merayu, lagu ini lebih cocok mengantar perpisahan sepasang kekasih. Bila seseorang ingin terus diingat, tetapi tahu diri untuk tak memintanya langsung, barangkali memainkan “Serenade” Schubert dapat menjadi pilihannya.

Secara akustik, sebetulnya ruang audiovisual Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran kurang tepat untuk pertunjukan musik apapun. Suara instrumen hanya dikeraskan dengan deretan mikrofon. Panggung disorot lampu TL bercahaya biru. Hadirin menempati kursi-kursi kayu sempit yang dirancang supaya diduduki dengan tegak. Kendati demikian, tak seorangpun mengeluh. Hadirin yang didominasi anak-anak muda bertepuk tangan riuh setiap kali Kris, Yunus, dan musisi-musisi lainnya selesai membawakan lagu.

Sebelum konser, para penggiat KlabKlassik membagikan buklet informasi kepada hadirin. Buklet yang dicetak empat puluh lima lembar itu habis dalam sekejap. Di dalamnya tercantum profil KlabKlassik, esei komponis Gatot D. Sulistiyanto, intisari diskusi world music di Tobucil, serta deskripsi program-program KlabKlassik. Setelah hadirin pulang, saat nada-nada yang didengarkan tadi menguap, paling tidak ada sesuatu yang bisa dibolak-balik. Jika penasaran mereka tahu harus mencari ke mana. “Ada usulan memasukkan sejarah gitar,” kata Syarif. “Tapi menurut Diecky, sebaiknya isinya bukan sesuatu yang bisa dibaca di Wikipedia. Kita nggak bisa terus-terusan menengok ke belakang, tapi juga harus melihat perkembangan saat ini.”

Konser malam itu sedikit lain dengan konser musik klasik pada umumnya. Biasanya, musisi tak berinteraksi dengan penonton kecuali melalui musiknya. Begitu naik ke panggung, ia segera membungkuk untuk memberi hormat. Tanpa basa-basi, sang musisi langsung memainkan instrumennya. Setelah tepuk tangan penonton mereda, ia turun panggung tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Musik klasik sangat mementingkan kemurnian bunyi,” komentar Tikno, guru musik SMA Plus Al-Muthahhari yang rajin menyambangi pertemuan KlabKlassik. “Bunyi apapun di luar bunyi instrumen musik dianggap mengganggu kenikmatan mendengarkan musik.”

Namun, pertunjukan tanpa kata semacam itu memunculkan ketegangan bagi siapapun yang belum terbiasa. “Apalagi di Indonesia, kita nggak memiliki budaya menonton pertunjukan sambil diam,” Tikno berpendapat. “Di pementasan wayang saja, celetukan-celetukan penonton bisa menjadi bagian dari lakon dalangnya.”

Sejak 2005, KlabKlassik terlibat dalam penyelenggaraan lebih dari dua puluh konser musik klasik, baik sebagai panitia utama maupun sebagai penanggung jawab logistik. Selain secara berkala menampilkan diri sendiri, mereka juga menyelenggarakan konser-konser musisi profesional, antara lain: Resital Andrew Sudjana dan Fauzie Wiriadisastra, The Sound of Flute: Andika Candra dan Yuty Lauda, Resital Trompet dan Piano: Eric Awuy dan Iswargia R. Sudarno, dll. Dalam konser yang diselenggarakan KlabKlassik umumnya para musisi tampil lebih komunikatif. Mereka bebas menyapa penonton, memperkenalkan lagu yang dimainkan, dan seperti yang dilakukan Yunus, bercanda.

“Pada dasarnya penonton mendengarkan musik klasik dalam keadaan tegang,” Syarif berteori. “Sebetulnya jauh di lubuk hatinya, mereka ingin tertawa.” Ini membuat lelucon yang paling garing sekalipun akan mengundang gelak tawa. “Waktu awal-awal mengadakan konser, saya bilang ‘Assalamualaikum’ saja mereka tertawa. Dikiranya itu bercanda. Padahal saya kan mendoakan mereka,” katanya serius. Menurut Syarif, semakin penonton rileks, semakin mudah mereka berkonsentrasi menyimak lagu-lagu yang dimainkan.

Hal lain yang identik dengan menonton konser musik klasik adalah keharusan mengenakan setelan jas. “Kalau di Eropa, mungkin memakai jas itu wajar karena udara di sana dingin,” ujar Syarif, menduga-duga. “Kadang-kadang ada teman yang SMS, ‘Kak, nonton musik klasik enaknya pakai baju apa?’ Sebetulnya menurut saya baju apapun boleh-boleh saja, asalkan kita nggak malu dan nyaman menikmati musiknya. Lagipula pakaian nggak memengaruhi permainan musisinya, kan?”

Meskipun begitu, ada juga aturan-aturan yang tetap dipegang KlabKlassik. Konser selalu dimulai tepat waktu. Penonton diminta untuk menonaktifkan ponselnya, tidak keluar masuk ruangan, tidak berbicara dan bertepuk tangan ketika lagu masih dimainkan, tidak memotret dengan blitz, tidak merokok, serta tidak melakukan tindakan lain yang sekiranya mengganggu kenyamanan musisi dan penonton lain.

“Selain itu kami selalu memainkan lagu-lagu klasik sesuai dengan komposisi aslinya,” Syarif menambahkan. “Sebetulnya sah-sah saja membuat musik klasik lebih seru dengan menambah beat-beat, seperti Maxim. Atau cuma memainkan bagian yang catchy-nya saja.” Gitaris ini memainkan potongan “Canon in D” gubahan Johann Pachelbel (1653-1706). “Tapi saya yakin musik klasik yang kompleks sekalipun akan jadi ringan kalau pendengar memahami konteksnya: siapa komposernya, dari periode kapan, dan apa yang menginspirasinya. Pengetahuan itu meringankan. Sambil menyimak, pendengar bisa membayangkan cerita yang disampaikan sebuah lagu.”

Penulis India-Inggris, Vikram Seth, bercerita tentang para musisi klasik dalam novelnya, An Equal Music (1999). Keseharian kuartet gesek The Maggiore: sesi latihan, pemahaman lagu, tur, rekaman, sampai perburuan instrumen, menjadi menu utama novel ini. Tokoh utamanya adalah Michael Holme, pemain biola kedua The Maggiore yang mencintai seorang pianis yang kehilangan pendengarannya. Seth berupaya menyampaikan bagaimana dinamika kehidupan musisi, tanpa bisa dicegah, memengaruhi permainan musiknya; bahwa musik klasik – yang mengukung musisi dalam berbagai aturan kaku itu – bagaimanapun merupakan bagian kehidupan yang direkonstruksi komponis dan musisinya.

Sekali lagi, perlu ditegaskan bahwa sebutan musik klasik mengacu ke sebuah genre tertentu. Sebagaimana genre lainnya, musik klasik memiliki kaidah-kaidahnya sendiri. Musik yang dibuat di Indonesia pada periode Klasik, 1750-1830, tak serta merta dapat dikatakan sebagai musik klasik Indonesia. “Jangan-jangan nanti senimannya malah protes,” komentar Diecky. “Seniman karawitan saja masih belum menerima istilah musik. Bagi mereka, apa yang mereka lakukan itu karawitan, bukan musik karawitan.”

Ferry si pemain cello lantas bertanya, “Kita kan tinggal di Indonesia, kenapa kita perlu belajar dan mendengarkan musik klasik Eropa?” Para penggiat KlabKlassik pun tertawa. “Nah, itu bagaimana, Kang Tikno?” Syarif melempar pertanyaan.

“Karena pengarsipan musik klasik Eropa lengkap. Standarnya jelas, semua memakai tangga nada yang sama,” sahut Tikno. “Kalau dari pengalaman saya belajar degung, untuk mempelajari musik tradisional kita harus menyediakan alat musiknya dan mendatangi gurunya langsung. Guru ini akan mengajari kita secara lisan. Waktu pulang ke rumah, kita akan kesulitan mengulangi apa yang tadi diajarkan gurunya. Lain dengan musik klasik, semua sudah tercatat, kita bisa mengulangi pelajaran melalui buku, rekaman audio.” Ia menambahkan, “Ketika kita paham dan menghargai budaya bangsa lain, barangkali ketika itu juga kita mulai menghargai budaya sendiri. Kalau sudah begitu, tugas kita adalah mulai mengarsipkan musik tradisional seperti musik klasik.”

Sebelumnya, Syarif mengakui dirinya mendapatkan banyak dari menggeluti musik klasik. Namun, kegairahannya mempromosikan genre ini bersama KlabKlassik juga disebabkan alasan sederhana: “Saya sudah lama belajar gitar klasik. Dulu apresiasinya minim sekali. Setiap saya mengadakan resital, penontonnya sedikit, akhirnya malah nombok,” ungkap gitaris berambut jabrik ini. “Sekarang apresiasinya semakin bagus. Konsernya semakin banyak, meskipun kadang penuh dan kadang sepi. Di Indonesia juga ada majalah musik klasik, tapi sayang juga jika yang diangkat lagi-lagi citra eksklusif musik klasik. Misalnya, kalau yang diresensi cuma konser-konser besar. Sebetulnya wajar kalau musik klasik kurang populer di Indonesia, karena ini memang bukan budaya kita.”

Dalam wawancara dengan Tempo, pianis kebanggaan Indonesia, Ananda Sukarlan, pernah menilai, “Musik pop sebetulnya juga dari Barat, tapi itu gampang dicerna. Orang sudah mau mencerna musik ini. Kalau musik klasik mesti didengarkan berkali-kali supaya kita bisa masuk ke intinya. Materinya banyak. Sama seperti seni lukis, perlu warna yang banyak untuk mencapai kekayaan yang cuma bisa dicapai dengan warna sedemikian banyak.”

Akhirnya Syarif menyampaikan, “Sekarang harapan saya musik klasik diapresiasi dengan wajar. Nggak lagi sebagai musik bercitra eksklusif, tapi cukup sebagai satu dari sekian jenis musik yang ada.” Maksudnya, orang mendengarkan Bach sebagaimanamestinya orang menggemari Belle and Sebastian: kebetulan suka dan ingin tahu lebih banyak.

***

Bandung, 2 Januari 2011

Kepada Yang Terhormat Dewan Juri The 1st JakartaBeat Music Writing Contest:

Di beranda Tobucil saat ini Syarif, Kris, Yunus, dan Ato, seorang dosen, sedang berlatih “Canarios”. Lagu Gaspar Sanz ini bernada mayor, cocok untuk menyambut kepulangan prajurit dari medan perang. Mulanya jari-jari keempat gitaris ini sering berhenti. Kadang salah nada, kadang telat memetik. “Canarios” diulangi lagi dan lagi. Lambat laun petikan para musisi ini semakin tegas. Saat itu, entah bagaimana, kegembiraan yang meliputi wajah mereka merambat juga ke saya.

Ketika pertama kali duduk bersama mereka, saya bertanya dalam hati, Musik klasik, bagaimana mengapresiasinya?

Musik klasik menuntut para pemainnya membawakan komposisi sebaik mungkin. Apabila kurang latihan, hasilnya bisa seperti parodi di film-film kartun. Segelintir orang berkesempatan mempelajari dan memainkan musik klasik. Bisa dimengerti jika mereka paham dan mengapresiasi genre ini. Akan tetapi, bagaimana dengan kebanyakan orang yang tak punya akses terhadap pendidikan musik klasik? Apakah kita tetap dapat menghargainya?

Menyaksikan latihan KlabKlassik, saya menyadari, Memang perlu sekolah setinggi apa untuk mengapresiasi musik klasik? Untuk mengapresiasi seni? Seni apapun merupakan bagian kehidupan yang diceritakan kembali. Ia tak selalu dekat, tetapi penikmatnya bisa bertanya. Musik klasik sebetulnya tak terlalu asing dari telinga kita. Potongan-potongannya muncul di iklan, dering ponsel, hingga adegan film kesukaan kita. Untuk mengapresiasi musik klasik, barangkali yang terpenting adalah keterbukaan.


Andika Budiman

No comments:

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.