Monday, April 18, 2011

Menghayati Musik lewat Piringan Hitam

Minggu, 10 April 2011

Ada yang menarik di hari minggu genap pertemuan KlabKlassik kemarin. Ismail Reza atau Mas Reza, turun dari mobilnya membawa tiga tas besar ke beranda Tobucil. Perlahan-lahan ia memburaikan isinya, dan kamipun mulai tertegun. Mulai dari alat pemutar (jangan lupa jarumnya), trafo, speaker, kabel, dan yang pamungkasnya: piringan hitam! Hari itu memang sesuai rencana, Klablassik menyelenggarakan suatu diskusi mengenai piringan hitam. Sesungguhnya bukan diskusi, yang esensial justru “mendengar”, mengetahui kualitas audio yang dihasilkan oleh benda tersebut.


Mas Reza dan Kang Tikno di hadapan piringan hitam beserta pemutarnya

Piringan hitam yang dicobakan pertama untuk didengarkan dalam forum adalah karya Piotr Ilyich Tchaikovsky. Karya panjang berdurasi sekitar lima belas menit itu, sukses melahirkan ambience yang betul-betul berbeda di Tobucil: Sayatan biola terasa jernih, gegap gempita orkestra terasa di dada, ketebalan musik menjadi sangat mengenyangkan. Satu jam pertama forum tiada berbicara apa-apa, kecuali hanya duduk kagum, seolah kami adalah masyarakat Indian yang tertegun menyaksikan telur diberdirikan oleh Kolombus. Padahal telur itu, kita tahu, bukanlah sesuatu yang istimewa. Hanya benda yang sesungguhnya berasal dari keseharian yang luput dari pengamatan, persis seperti kasus piringan hitam ini.

Berturut-turut kemudian diputar piringan hitam dari komposer Denmark, Craig Nielsen, lalu Louis Armstrong (ah, indahnya kala ia memainkan La Vie en Rose), dilanjut Stanley Clarke, hingga Emerson, Lake & Palmer. Tidak ada suatu diskusi serius sampai tiba di beranda Tobucil, Pak Tono, seorang dosen apresiasi musik dari UPI. Pak Tono mengangkat tema menarik, bahwa ada dua macam karya musik, yang pertama adalah yang dimanipulasi, yang kedua adalah yang murni. Manipulasi berarti sudah direkam, diedit, dan dipadatkan, sedangkan yang murni berarti musik pertunjukkan atau live music. Piringan hitam jelas masuk dalam jenis manipulasi. Hanya saja, manipulasi piringan hitam masih mengupayakan agar experience (saya tidak menerjemahkannya dengan pengalaman) musik pertunjukannya masih terasa. Beda dengan format mp3 hari ini yang mana experience musik pertunjukkan tidak lagi menjadi inti. Yang penting manusia bisamengunduh lagu sebanyak-banyaknya. Tidak perlu capek-capek beli piringan hitam dengan ukuran besar, mahal, tapi durasinya pendek, cukup download gratis, atau beli enam ribu bajakan, lagu isinya berlimpah, tanpa mempertimbangkan lagi aspek kualitas experience itu tadi.

Pembahasan menjadi masuk kepada sistem perekaman piringan hitam yang masih analog. Dengan sistem analog, kata Kang Tikno, sesungguhnya memang ada proses yang lama dan melelahkan. Tapi sebenarnya detail-detail seperti timbre, dinamika, dan ketebalan masih dijaga. Sedangkan dalam proses digitalisasi, proses menjadi mudah, cepat, massal, tapi ada pengompresian kualitas yang cukup serius. Pada akhirnya, musisi-musisi yang pernah dipasarkan karyanya dalam piringan hitam, niscaya lebih mementingkan kualitas bermain, karena proses editing masih belum canggih, dan output suara lebih detail. Beda dengan musisi sekarang yang melemparkan output pada kualitas digitalisasi alih-alih kualitas permainan.

Mas Reza juga menyayangkan cara mendapatkan musik hari ini yang begitu mudah, cepat, tapi kemudian gagal untuk mengenal si kreator. Dalam piringan hitam, dengan eksklusifitasnya, penikmat musik dapat bersentuhan langsung dengan si musisi lewat kualitas suara, dan juga lewat desain grafik si bungkus piringan hitam itu sendiri. Di piringan hitam Emerson, Lake & Palmer misalnya, terdapat semacam gambar yang mengilustrasikan isi keseluruhan album tersebut. Dengan membeli piringan hitam beserta paket desain itu, kita sesungguhnya tidak hanya membeli musik, tapi juga membeli experience.

Demikian kami mengobrol. Mengobrol yang sebetulnya cuma selingan. Selingan dari sajian musik yang hari itu membius kita semua.


Ketika Louis Arsmstrong diputar, banyak yang tertunduk bagai berdoa

No comments:

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.