Wednesday, April 27, 2011

KlabKlassik Edisi Playlist #5: Dari Gito Rollies hingga Secret Garden

KlabKlassik Edisi Playlist #5 digelar di sore yang hampir-hujan itu. Seperti biasa, seluruh peserta memulai acara dengan memasukkan lagu favoritnya masing-masing ke dalam laptop Beben, sang operator. Kegiatannya sederhana, semuanya mengapresiasi lagu yang dibawa oleh masing-masingnya, untuk kemudian dikomentari oleh yang lain, sementara narasumber Diecky K. Indrapraja dan Ismail Reza memberi semacam analisis singkat. Yang datang hari itu cukup banyak, termasuk beberapa mahasiswa jurusan seni musik UPI dan dosen apresiasi musik UPI, Pak Tono Rachmad. Berikut lagu-lagu yang diputar hari itu berikut pembahasan singkatnya:

Gito Rollies - Burung Kecil
Lagu yang dibawa oleh Kang Tikno ini cukup datar dan tidak banyak perubahan dinamika, namun liriknya diam-diam cukup dalam serta suara Gito Rollies sangat dipenuhi penghayatan. Hal ini, menurut Mas Reza, sekali lagi menunjukkan hebatnya musisi Indonesia, namun yang sangat disayangkan adalah pengarsipannya yang kadang kurang teliti. Kang Tikno menambahkan bahwa pemilihan lagu ini disebabkan oleh mulai digunakannya efek-efek synthesizer yang pada masa itu masih sangat langka.
Itzhak Perlman - OST Schindler's List
Lagu yang dibawa oleh Aldi ini sepaket dengan videonya. Sehingga beberapa dari peserta bisa melihat raut wajah serius dan penuh kesan mendalam dari Itzhak Perlman, sang violinis keturunan Yahudi itu. Pembahasan menjadi cukup serius ketika Mas Reza berbagi pengalamannya ke museum Yahudi di Jerman. Betapa bangsa Yahudi sangat pandai dalam menuturkan kembali tragedi-tragedi yang mereka alami sehingga suasana dramatis menjadi terbangun. Ini barangkali cukup mendasari bagaimana seorang Yahudi seperti Perlman sanggup menerjemahkan karya yang ditujukan bagi film Schindler's List itu dengan sangat sukses. Schindler's List sendiri adalah film tentang holocaust.

L.V. Beethoven - Symphony no. 5
Lagu ini dibawa oleh saya sendiri, agar kemudian menjadi pembahasan yang cukup analitikal terutama dari sudut pandang akademisi dari UPI seperti Pak Tono dan mahasiswanya. Symphony no. 5 dibahas cukup dalam oleh Pak Tono, dari sudut bagian-bagiannya seperti eksposisi, pengembangan, dan rekapitulasi. Serta kalimat-kalimat lagunya yang diulang-ulang, namun sesungguhnya menggambarkan suasana hati Beethoven yang waktu itu sudah mulai kesulitan pendengaran. Bagi orang yang kesulitan pendengaran, bunyi yang didengar biasanya hanya berupa gelombang-gelombang saja, dan demikian Beethoven menuangkan "kegelombangan" itu dalam kalimat lagu yang diulang-ulang dan berbeda range suara tersebut.

Pat Metheny - Last Train Home
Lagu ini dibawa oleh Martina. Melodinya relatif sederhana, namun pembahasannya cukup asyik. Ternyata ada bunyi drum yang dibunyikan secara konstan, mengilustrasikan roda kereta yang berputar. Lagu diakhiri secara fade out, karena menurut Mas Reza, agar pesan "kereta menuju pulang"-nya terasa, mesti ada kesan "menjauh". Dicky pun membenarkan dengan mengatakan bahwa lagu seperti ini, dengan konstanta seperti ini, haruslah di-fade-out-kan.

Bilie Holiday - Gloomy Sunday
Lagu yang dibawa oleh Nia ini dijuluki juga dengan Hungarian suicide song. Memang lagu ini sangat lambat, melendut, mengawang-ngawang, dan liriknya seolah mengajak "pergi dari dunia", dengan bas konstan yang sengaja dipasang keras-keras. Meski demikian, ada beberapa peserta yang tidak sepakat akan efek bunuh diri yang ditimbulkan oleh lagu ini, meskipun Nia sudah memaparkan "data-data mitos" tentang lagu ini yang konon meningkatkan angka bunuh diri di Hungaria. Bisa dicoba untuk didengarkan.

Maurice Ravel - Bolero
Lagu berdurasi lima belas menit yang dibawa oleh Gilang ini adalah lagu yang terpanjang hari itu. Temanya diulang dalam instrumen yang berbeda-beda, dan dinamikanya turun-naik sepanjang karya. Karya jaman Romantik tersebut tidak banyak dibahas oleh sebab waktu yang sudah melebihi jam yang ditentukan, sedang karya yang belum diputar masih banyak.

John Zorn - The Big Gundown (OST Spaghetti Western)
Karya kontemporer bawaan Mas Reza ini mempunyai banyak sekali elemen kejutan sepanjang tujuh menitnya. Mulai dari irama country, hentakan-dentuman, musik Afrika, hingga piano fur-elise dicampur adukkan dengan "seenaknya", membuat beberapa peserta tertawa-tawa. Kata Diecky, ini adalah salah satu bentuk karya kolase. Menempelkan potongan-potongan karya untuk jadi sesuatu karya yang baru.

Leonard Cohen - Hallelujah
Karya ini dibawa oleh Margaretha. Leonard Cohen adalah seorang penyair-musisi, maka itu lagunya seringkali digarap dengan lirik-lirik yang puitis. Lagu tersebut menjadi lebih relevan karena Edisi Playlist #5 bertepatan dengan hari paskah. Karya tersebut juga tidak dibahas panjang-panjang karena lagu-lagu lain masih menanti.

Tom Waits- Walk Away
Lagu ini dibawa oleh Mba Tarlen. Lagu "blues murni" tersebut membuat peserta terkagum-kagum karena dalam era sekarang ini sulit sekali menemukan musisi yang betul-betul menjiwai blues. Blues sendiri, sering didengungkan Mas Reza sebagai bentuk penghayatan mendalam, alih-alih sebagai aliran musik saja.Tom Waits punya kekuatan dalam bertutur, sehingga satu lagu pun, bagi Mba Tarlen, punya arti yang baru terus setiap kali didengarkan.

The Project - Fables of Faubus
Lagu jazz ini dibawa oleh Jazzy via iPod. Lagu tersebut baru ia dengar hari itu sehingga ia pun tidak bisa membahas secara mendalam. Akhirnya Mas Reza membahas bahwa lagu ini adalah ciptaan komposer jazz Charles Mingus yang mengritik Gubernur Arkansas di tahun 1957, Orval Faubus, atas kebijakannya yang melarang beberapa anak sekolah keturunan Afrika untuk bersekolah.

Lukas Sulic & Stepjan Hauser - Smooth Criminal
Lagu ini dibawa oleh Beben, sang operator. Karya yang dipopulerkan oleh Michael Jackson tersebut dibawakan oleh duet cellist muda Kroasia, Lukas Sulic dan Stepjan Hauser. Meskipun hanya berdua, tapi karya tersebut ditampilkan dengan sangat penuh dan spektakuler. Peserta terhibur dibuatnya, dan banyak mengira lagu itu dimainkan dalam format kuartet.

Secret Garden - Hymn to Hope
Lagu penutup ini dibawa oleh Haris. Tidak banyak pengetahuan yang mendasari mengapa ia memilih lagu ini, namun jelas bahwa lagu ini sarat dengan kedekatan emosional dengan si pembawa lagu. Lagu yang menenangkan dengan instrumen utama bagpipe Skotlandia itu berlangsung datar tapi sangat melodius.

Demikian kedua belas lagu yang diputar dalam Edisi Playlist #5. Sesungguhnya pertemuan tersebut bukan ditujukan untuk mencari kesepahaman atau objektivitas musik. Hanya sekedar sebagai tempat dimana kita bisa menghargai "kepercayaan" yang dipunyai oleh orang lain. Metallica, yang menjadi teman saya di kala SMP, dari bangun tidur hingga tidur lagi, tidak ada guna apapun bagi saya kala ia dibahas aspek musikalnya sekalipun. Bagi saya ia sudah melekat, mendarah daging, dan yang pribadi itulah yang jauh lebih penting dari kesepahaman apapun.

Monday, April 18, 2011

Bersiaplah untuk KlabKlassik Edisi Playlist #5

Bersiaplah untuk KlabKlassik Edisi Playlist #5 yang akan berlangsung tanggal 24 April 2011 jam 15.00-18.00. KlabKlassik Edisi Playlist adalah kumpul-kumpul rutin yang terbuka untuk umum. Peserta kumpul -kumpul berpartisipasi dengan cara membawa satu lagu favoritnya dalam flashdisk untuk diputar dan diapresiasi bersama-sama. Di akhir pemutaran setiap lagu, akan dianalisis oleh komposer Diecky K. Indrapraja dan penggalau musik Ismail Reza. Calon peserta diharapkan mendaftarkan dahulu lagu yang akan diputar ke tobucil@gmail.com atau syarafmaulini@gmail.com untuk diatur urutan pemutarannya.

Edisi Playlist bertujuan untuk melatih apresiasi. Memberi pengetahuan tentang keberbedaan selera yang berkembang di masing-masing persona, dan bagaimana cara menghargainya. Terlebih ketika hari ini musik sudah jarang sekali diperlakukan sebagai "musik an sich". Musik sekarang kita dengar sebagai latar belakang, mulai dari berbelanja di mal, menonton televisi, hingga menyetir di mobil. Mari kita duduk, menghargai musik sebagai musik, didengarkan dalam entitasnya yang sejati. Semoga ada kebenaran yang bisa diraih disana. Amin.

Catatan: Lagu tak perlu lagu klasik biarpun ini KlabKlassik.

Menghayati Musik lewat Piringan Hitam

Minggu, 10 April 2011

Ada yang menarik di hari minggu genap pertemuan KlabKlassik kemarin. Ismail Reza atau Mas Reza, turun dari mobilnya membawa tiga tas besar ke beranda Tobucil. Perlahan-lahan ia memburaikan isinya, dan kamipun mulai tertegun. Mulai dari alat pemutar (jangan lupa jarumnya), trafo, speaker, kabel, dan yang pamungkasnya: piringan hitam! Hari itu memang sesuai rencana, Klablassik menyelenggarakan suatu diskusi mengenai piringan hitam. Sesungguhnya bukan diskusi, yang esensial justru “mendengar”, mengetahui kualitas audio yang dihasilkan oleh benda tersebut.


Mas Reza dan Kang Tikno di hadapan piringan hitam beserta pemutarnya

Piringan hitam yang dicobakan pertama untuk didengarkan dalam forum adalah karya Piotr Ilyich Tchaikovsky. Karya panjang berdurasi sekitar lima belas menit itu, sukses melahirkan ambience yang betul-betul berbeda di Tobucil: Sayatan biola terasa jernih, gegap gempita orkestra terasa di dada, ketebalan musik menjadi sangat mengenyangkan. Satu jam pertama forum tiada berbicara apa-apa, kecuali hanya duduk kagum, seolah kami adalah masyarakat Indian yang tertegun menyaksikan telur diberdirikan oleh Kolombus. Padahal telur itu, kita tahu, bukanlah sesuatu yang istimewa. Hanya benda yang sesungguhnya berasal dari keseharian yang luput dari pengamatan, persis seperti kasus piringan hitam ini.

Berturut-turut kemudian diputar piringan hitam dari komposer Denmark, Craig Nielsen, lalu Louis Armstrong (ah, indahnya kala ia memainkan La Vie en Rose), dilanjut Stanley Clarke, hingga Emerson, Lake & Palmer. Tidak ada suatu diskusi serius sampai tiba di beranda Tobucil, Pak Tono, seorang dosen apresiasi musik dari UPI. Pak Tono mengangkat tema menarik, bahwa ada dua macam karya musik, yang pertama adalah yang dimanipulasi, yang kedua adalah yang murni. Manipulasi berarti sudah direkam, diedit, dan dipadatkan, sedangkan yang murni berarti musik pertunjukkan atau live music. Piringan hitam jelas masuk dalam jenis manipulasi. Hanya saja, manipulasi piringan hitam masih mengupayakan agar experience (saya tidak menerjemahkannya dengan pengalaman) musik pertunjukannya masih terasa. Beda dengan format mp3 hari ini yang mana experience musik pertunjukkan tidak lagi menjadi inti. Yang penting manusia bisamengunduh lagu sebanyak-banyaknya. Tidak perlu capek-capek beli piringan hitam dengan ukuran besar, mahal, tapi durasinya pendek, cukup download gratis, atau beli enam ribu bajakan, lagu isinya berlimpah, tanpa mempertimbangkan lagi aspek kualitas experience itu tadi.

Pembahasan menjadi masuk kepada sistem perekaman piringan hitam yang masih analog. Dengan sistem analog, kata Kang Tikno, sesungguhnya memang ada proses yang lama dan melelahkan. Tapi sebenarnya detail-detail seperti timbre, dinamika, dan ketebalan masih dijaga. Sedangkan dalam proses digitalisasi, proses menjadi mudah, cepat, massal, tapi ada pengompresian kualitas yang cukup serius. Pada akhirnya, musisi-musisi yang pernah dipasarkan karyanya dalam piringan hitam, niscaya lebih mementingkan kualitas bermain, karena proses editing masih belum canggih, dan output suara lebih detail. Beda dengan musisi sekarang yang melemparkan output pada kualitas digitalisasi alih-alih kualitas permainan.

Mas Reza juga menyayangkan cara mendapatkan musik hari ini yang begitu mudah, cepat, tapi kemudian gagal untuk mengenal si kreator. Dalam piringan hitam, dengan eksklusifitasnya, penikmat musik dapat bersentuhan langsung dengan si musisi lewat kualitas suara, dan juga lewat desain grafik si bungkus piringan hitam itu sendiri. Di piringan hitam Emerson, Lake & Palmer misalnya, terdapat semacam gambar yang mengilustrasikan isi keseluruhan album tersebut. Dengan membeli piringan hitam beserta paket desain itu, kita sesungguhnya tidak hanya membeli musik, tapi juga membeli experience.

Demikian kami mengobrol. Mengobrol yang sebetulnya cuma selingan. Selingan dari sajian musik yang hari itu membius kita semua.


Ketika Louis Arsmstrong diputar, banyak yang tertunduk bagai berdoa

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.