Tuesday, March 15, 2011

Menghadirkan Alam Lain lewat Musik Psikedelik

Minggu, 13 Maret 2011

Eight miles high and when you touch down
You’ll find that it’s stranger than known
Signs in the street that say where you’re going
Are somewhere just being their own


Lirik di atas adalah penggalan dari lagu The Byrds yang berjudul Eight Miles High. Lagu tersebut menjadi pembuka pertemuan KlabKlassik yang bertemakan musik Psikedelik. Dipandu oleh Ismail Reza, diskusi tersebut berlangsung dalam kelompok kecil, sekitar lima orang, namun menarik. Secara sederhana, musik psikedelik diartikan sebagai musik yang terinspirasi oleh penggunaan obat-obatan seperti LSD, mariyuana, heroin dan sejenisnya. Dalam musik itu, diupayakan hadirnya ilustrasi dari "alam lain", yakni alam yang dihasilkan oleh pengaruh obat-obat tersebut.

Musik yang dihadirkan memang "sesuai", misalnya temponya yang mendayu, melendut, sampai terdapat bebunyian eksperimen yang tiba-tiba, persis seperti jika seseorang dalam pengaruh obat-obatan. Mas Reza kemudian menjelaskan, fenomena tahun 60-an dan 70-an di Amerika dan sebagian Eropa ini sebetulnya tak bisa langsung dicap sebagai penyalahgunaan. Bagi sebagian besar masyarakat Amerika, misalnya, ini adalah bentuk perlawanan terhadap Perang Vietnam yang kala itu sedang marak sebagai efek Perang Dingin. Masyarakat Amerika merasa bahwa realitas begitu menyedihkan, begitu menakutkan, rasionalitas ternyata bisa begitu dingin dan kejam, maka marilah kita cari kebenaran dan ketenangan di "alam lain". Ini juga didorong oleh pengaruh budaya Timur yang mulai masuk ke Amerika. Di Timur, orang-orang "berpindah alam" dengan meditasi, membuat Barat pun tergiur. Bedanya, Barat memakai obat-obat.

Diskusi berlangsung cukup padat dan mendalam, terutama ditambah dengan kehadiran Budi Warsito yang juga penggemar musik-musik macam ini. Pertanyaan kritisnya adalah, apakah Bach dan Beethoven, juga membutuhkan semacam "doping" dalam menelurkan mahakaryanya? Diecky K. Indrapraja menjawab begini, "Seniman manapun selalu membutuhkan sesuatu dari luar dirinya dalam mencipta. Doping itu tak mesti obat-obatan, bisa istri, bisa pacar, bisa kopi, ataupun bir. Tapi yang pasti, 'alat bantu' itu mustahil tidak ada." Di ranah agama, Rudi, salah seorang peserta memaparkan profil Jalaluddin Rumi, seorang sufi yang membutuhkan anggur dan tarian memutar untuk "mencapai hakekat".

KlabKlassik seolah berubah arah, berganti kiblat, tak lagi membahas komposer abad ke-16 hingga ke-18. Tapi tidakkah wikipedia sudah hadir memfasilitasi semuanya jika kau ingin tahu? Yang esensial barangkali adalah bukan soal tiadanya bahasan tentang abad Barok hingga Romantik tersebut, melainkan bagaimana caranya agar musik psikedelik ataupun musik Kangen Band sekalipun, bisa menjadi puzzle yang melengkapi cara kita dalam memandang perkembangan musik Barat secara komprehensif. Amin.

Kover album Santana, Abraxas, contoh gerakan psikedelik di bidang seni rupa.

Gambar diambil dari sini.


Playlist hari itu:

1. Pendahulu - American Scene:
The Byrds - Eight Miles High
13th Floor Elevator- You Don't Know (How Young You Are)
Jefferson Airplane - White Rabbit

2. Pendahulu - British Scene:

The Yardbirds - For Your Love
Soft Machine - A Certain Kind
Soft Machine - Pataphysical Introduction pt 2 / Out of Tunes
Pink Floyd - Mathilda's Mother / Interstellar Overdrive

3. yang Mempopulerkan:
The Beatles - Being for the Benefit of Mr. Kite!

‎4. Tell me a Story:
Cream - Tales of the Brave Ulysses
Gong - Oily Way

‎5. Soundtrack for the Era
Sly & the Family Stone - Thank You (Faletinme Be Mice Elf Agin)

6. Jazz
Miles Davis
- Black Satin

7. Grunge/Seattle Sound
Soundgarden - Black Hole Sun

‎8. Neo Psychedelia:
The Black Mountain - Wucan
Boris - My Neighbor Satan



No comments:

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.