Thursday, March 31, 2011

KlabKlassik Edisi Playlist #4: Dari Metallica hingga Jason Becker

Seperti biasa, minggu keempat KlabKlassik mesti diisi edisi Playlist. Yakni kumpul-kumpul dimana masing-masing orang membawa satu lagu dalam flashdisk. Diputar dan didengarkan sama-sama, acara ini mengharuskan stamina dan konsentrasi yang sangat tinggi, karena seringkali kita dipaksa untuk mendengarkan musik yang bukan selera kita.

Seperti biasa juga, dua analisator dihadirkan agar listening party ini menjadi agak berbobot, yakni Ismail Reza dan Diecky K. Indrapraja. Awalnya acara diadiri beberapa orang saja, yakni Deni dan Firman dari Bandung Guitar Network, Nia dari Reading Lights dan Martina Klab Rajut. Hanya saja menit demi menit berlalu, mulai berdatangan orang-orang ke Tobucil dan akhirnya hadirlah sekitar total dua belas orang. Kedua belas orang tersebut sukses memutar lagunya masing-masing di mesin bernama laptop yang disambungkan pada speaker.

Meski dua belas orang, tapi lagu yang ditampilkan ada sekitar lima belas. Ini dikarenakan Mas Reza dan Mas Beben masing-masing menyuguhkan dua lagu. Maksudnya, mereka ingin mengkomparasi dua lagu yang bertemakan sama.

  • Edisi Playlist dibuka dengan lagu dari saya yakni Metallica dengan judul Master of Puppets, disambung dengan lagu dari Deni yang sama-sama Metallica dengan judul Enter Sandman. Analisis dari Mas Reza adalah, bahwa Enter Sandman sudah dipadatkan dalam format radio friendly. Durasi lebih pendek, solo gitar lebih ringan, dan beat yang lebih familiar. Bahkan bagi penggila metal tertentu, Enter Sandman yang masuk dalam Black Album disebut-sebut sudah tidak metal. Ke-metal-an Metallica stop di album keempat, yakni And Justice For All.
  • Mas Beben dapat giliran berikutnya, yaitu menampilkan opera dari Rossini yang berjudul Miau Miau Miau ( Duetto Buffo di Due Gatti) yang ia setel dalam dua versi: yang dinyanyikan anak-anak dan orang dewasa. Lagu ini cukup menarik perhatian karena suara lengkingan opera yang khas hanya berisikan satu kata, yakni "Miau". Apresiasi yang terlalu serius mendapat kritikan dari salah seorang peserta yakni Brigitta. Katanya, "Kalian kok pada serius, aku sih malah geli denger lagu ini."
  • Mas Reza dapat giliran nomor tiga, ia membawakan karya band progresif Italia yakni Premiata Forneria Marconi dengan dua judul yaitu Per un Amico dan Dolcissima Maria. Seperti biasa Mas Reza yang mempunyai telinga khusus, lagu ini cukup sukar diapresiasi, karena musik yang diusung cukup asing. Mereka menyuguhkan skill tradisional klasik sekaligus akar musik Italia, digabung dengan rock progresif. Grup yang sejaman dengan Genesis dan Yes ini di masa itu dianggap menyuguhkan semacam estetika percampuran baru yang cukup segar dan konon "khas" Italia.
  • Nomor empat Mas Yunus yang maju. Masih dengan tema sama, yaitu akulturasi klasik dan rock, Mas Yunus menyuguhkan String Quartet tribute to Linkin Park dengan judul karya In The End. Meskipun riff rock nya sangat kena via hentakan cello, namun Royke menyayangkan aransemennya yang kelewat sederhana dan gagal mengeksplorasi potensi dari sebuah kuartet gesek. Namun Diecky cukup menetralisir dengan mengatakan, "Mungkin aransemen ini ditujukan bagi anak-anak atau orang yang baru belajar, sehingga dibuat sederhana saja."
  • Setelah berkutat di bau-bau klasik, akhirnya forum memutuskan untuk meninggalkan sejenak dan mendengarkan milik Nita. Ia membawa lagu Simon and Garfunkel berjudul America. Lagu melendut khas psychedelic di akhir 1960-an ini cukup menenangkan suasana dan membuat beberapa peserta berimajinasi ke alam lain. Seperti kata Firman, "Seperti tiduran di padang rumput disinari sang surya."
  • Lagu yang dibawa Nia yakni Adele berjudul Rolling in The Deep mendapat pembahasan yang cukup panjang. Salah satunya dikarenakan Adele dianggap sukses menyanyi seperti penyanyi kulit hitam padahal dia seorang putih. Intinya, soul dan blues Adele dianggap "dapet" dan "kena". Diecky malah tertipu karena dikiranya ini penyanyi era 80-an dimana skill penyanyi masih unggul.
  • Jethro Tull dengan Songs from The Wood kiriman AM (nama orang, semoga betul cara menulisnya) mendapat perhatian lebih karena aransemennya yang dahsyat. Tidak banyak kata terucap selain kekaguman. Royke menyentil bahwa menarik jika Jethro Tull diputar di kafe-kafe, bisa-bisa orang yang santai dan kerap mengetukkan kakinya akan salah ketuk karena Jethro Tull punya banyak sekali variasi ketukan.
  • Lagu dilanjutkan dengan Bubuka dan Mystical Mist dari Krakatau. Kiriman Kang Tikno itu membawa peserta playlist pada musik Indonesia untuk pertama kalinya hari itu. Pembahasan menjadi berkembang pada keprihatinan musik Indonesia yang lebih dihargai di luar ketimbang di dalam negeri. Contohnya ya Krakatau itu, yang begitu dicari di Eropa, hingga wanita-wanita bersedia mengetuk kamar hotelnya. Sedangkan di Indonesia job manggungnya relatif jarang dan apresiasinya kurang.
  • Brigitta dapat giliran berikutnya. Ia memutar karya band Indie Yogya bernama Frau yang berjudul Rat and Cat. Meski lokal, hidangan band ini betul-betul terasa jazzy dengan swing yang cukup mantap. Hadirin cukup kaget dengan logat vokalnya yang sangat Barat dan tidak medhok.
  • Firman berikutnya, menjelang akhir pertemuan, memutar karya Parkway Drive yang berjudul Idols and Anchors. Karya tersebut sangat menginspirasi dirinya untuk bermain drum hingga hari ini. Berhubung sudah berlangsung hingga tiga jam, akhirnya pembahasan dipersingkat dan langsung ke karya pamungkas yakni Jason Becker berjudul Air yang dibawa oleh Kang Aka. Karya terakhir sangat cocok sebagai penutup. Beraroma klasik, Jason Becker menampilkan teknik gitar elektrik yang amat tinggi.
Speaker yang dikitari bagai api unggun di malam hari

Playlist edisi keempat ditutup dengan aura cukup segar, karena ternyata beberapa diantaranya, seperti Nita, mengakui bahwa ia menemukan wadah tempat musik-musik favoritnya dihargai secara tulus. Ia mengaku sering mendapat cemoohan karena menyukai musik-musik macam The Doors. Dua minggu ke depan, KlabKlassik akan bertemakan "Mengenal Piringan Hitam dan Kualitas Suara yang Dihasilkannya". Jangan lupa hadiri ya. Gratis, ditraktir kopi pula.

Tuesday, March 15, 2011

Menghadirkan Alam Lain lewat Musik Psikedelik

Minggu, 13 Maret 2011

Eight miles high and when you touch down
You’ll find that it’s stranger than known
Signs in the street that say where you’re going
Are somewhere just being their own


Lirik di atas adalah penggalan dari lagu The Byrds yang berjudul Eight Miles High. Lagu tersebut menjadi pembuka pertemuan KlabKlassik yang bertemakan musik Psikedelik. Dipandu oleh Ismail Reza, diskusi tersebut berlangsung dalam kelompok kecil, sekitar lima orang, namun menarik. Secara sederhana, musik psikedelik diartikan sebagai musik yang terinspirasi oleh penggunaan obat-obatan seperti LSD, mariyuana, heroin dan sejenisnya. Dalam musik itu, diupayakan hadirnya ilustrasi dari "alam lain", yakni alam yang dihasilkan oleh pengaruh obat-obat tersebut.

Musik yang dihadirkan memang "sesuai", misalnya temponya yang mendayu, melendut, sampai terdapat bebunyian eksperimen yang tiba-tiba, persis seperti jika seseorang dalam pengaruh obat-obatan. Mas Reza kemudian menjelaskan, fenomena tahun 60-an dan 70-an di Amerika dan sebagian Eropa ini sebetulnya tak bisa langsung dicap sebagai penyalahgunaan. Bagi sebagian besar masyarakat Amerika, misalnya, ini adalah bentuk perlawanan terhadap Perang Vietnam yang kala itu sedang marak sebagai efek Perang Dingin. Masyarakat Amerika merasa bahwa realitas begitu menyedihkan, begitu menakutkan, rasionalitas ternyata bisa begitu dingin dan kejam, maka marilah kita cari kebenaran dan ketenangan di "alam lain". Ini juga didorong oleh pengaruh budaya Timur yang mulai masuk ke Amerika. Di Timur, orang-orang "berpindah alam" dengan meditasi, membuat Barat pun tergiur. Bedanya, Barat memakai obat-obat.

Diskusi berlangsung cukup padat dan mendalam, terutama ditambah dengan kehadiran Budi Warsito yang juga penggemar musik-musik macam ini. Pertanyaan kritisnya adalah, apakah Bach dan Beethoven, juga membutuhkan semacam "doping" dalam menelurkan mahakaryanya? Diecky K. Indrapraja menjawab begini, "Seniman manapun selalu membutuhkan sesuatu dari luar dirinya dalam mencipta. Doping itu tak mesti obat-obatan, bisa istri, bisa pacar, bisa kopi, ataupun bir. Tapi yang pasti, 'alat bantu' itu mustahil tidak ada." Di ranah agama, Rudi, salah seorang peserta memaparkan profil Jalaluddin Rumi, seorang sufi yang membutuhkan anggur dan tarian memutar untuk "mencapai hakekat".

KlabKlassik seolah berubah arah, berganti kiblat, tak lagi membahas komposer abad ke-16 hingga ke-18. Tapi tidakkah wikipedia sudah hadir memfasilitasi semuanya jika kau ingin tahu? Yang esensial barangkali adalah bukan soal tiadanya bahasan tentang abad Barok hingga Romantik tersebut, melainkan bagaimana caranya agar musik psikedelik ataupun musik Kangen Band sekalipun, bisa menjadi puzzle yang melengkapi cara kita dalam memandang perkembangan musik Barat secara komprehensif. Amin.

Kover album Santana, Abraxas, contoh gerakan psikedelik di bidang seni rupa.

Gambar diambil dari sini.


Playlist hari itu:

1. Pendahulu - American Scene:
The Byrds - Eight Miles High
13th Floor Elevator- You Don't Know (How Young You Are)
Jefferson Airplane - White Rabbit

2. Pendahulu - British Scene:

The Yardbirds - For Your Love
Soft Machine - A Certain Kind
Soft Machine - Pataphysical Introduction pt 2 / Out of Tunes
Pink Floyd - Mathilda's Mother / Interstellar Overdrive

3. yang Mempopulerkan:
The Beatles - Being for the Benefit of Mr. Kite!

‎4. Tell me a Story:
Cream - Tales of the Brave Ulysses
Gong - Oily Way

‎5. Soundtrack for the Era
Sly & the Family Stone - Thank You (Faletinme Be Mice Elf Agin)

6. Jazz
Miles Davis
- Black Satin

7. Grunge/Seattle Sound
Soundgarden - Black Hole Sun

‎8. Neo Psychedelia:
The Black Mountain - Wucan
Boris - My Neighbor Satan



Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.