Saturday, February 05, 2011

Musik Klasik India

Minggu, 23 Januari 2011

Saya sempat tertegun ketika di Facebook terdapat grup Musik Klasik Indonesia (MKI). Secara naluriah saya sudah tahu bahwa ini pasti grup tentang Musik Klasik Barat yang umum itu (Bach, Beethoven, dsb), tapi ditujukan untuk penggemar musik semacam itu di Indonesia. Namun terdapat kerancuan juga, bagaimana jika mengartikan bahwa Musik Klasik Indonesia adalah angklung, karawitan, dan sebagainya? Rasa-rasanya boleh juga, dan gak salah-salah amat. Berangkat dari itu, maka Klab Klassik mengadakan diskusi soal Musik Klasik India, seolah-olah menyejajarkan posisinya dengan istilah Musik Klasik Indonesia. Kebetulan Kang Hardianto mau memberikan materi ini, terkait dengan pengalamannya studi S2 di India selama dua tahun. Pemaparannya cukup lengkap dan asyik. Dan menjadi menarik ketika segalanya bisa dikaitkan dengan Musik Klasik Barat.

Kang Hardianto memulai presentasinya dari deskripsi berbagai macam alat musik di India. Mulai dari sitar, sarod, sarangi, tanpura, esraj, santoor, dan tabla. Keseluruhan instrumen yang disebutkan tersebut, yang patut dicermati adalah kekhasan penggunaan dawai simpatetik yang sangat khas terdapat pada alat musik India. Dawai simpatetik adalah dawai kecil yang jumlahnya sangat banyak (hingga sembilan belas), dan berada tepat di bawah dawai utama. Gunanya adalah mengeraskan suara. Karena bahannya yang ringan, dawai simpatetik selalu ikut bergetar setiap dawai utama dibunyikan. Kang Tikno menambahkan, bahwa setelah diteliti, dawai simpatetik betul-betul cuma ada di India. Barat pernah mencoba, tapi gagal terus dan akhirnya tidak diteruskan.

Kang Hardianto juga menambahkan, bahwa di India, setiap minggu pasti ada pertunjukkan musik klasik ini. Mereka tampil di semacam amphiteater dan peminatnya masih sangat banyak. Hal tersebut menunjukkan upaya pelestarian musik klasik-nya masih sangat besar dan tidak mudah tergerus oleh arus instrumen barat. Adapun violin, instrumen yang akrab di barat, ternyata dimainkan dengan cara yang sama sekali berbeda oleh para musisi India. Lazimnya violin dimainkan dengan disimpan di bahu, dan dijepit oleh leher. Tapi di India, mereka memainkannya di daerah sekitar lengan dan dada.


dari kiri ke kanan: tabla, sitar, sitar, dan flute. gambar diambil dari sini


Terakhir, diungkapkannya pula bahwa instrumen musik India sering erat kaitannya dengan upacara keagamaan. Sederhana saja, karena para Dewa pun katanya bermain musik. Atas dasar itu, tak jarang mereka-mereka menyakralkan instrumen musiknya masing-masing. Memujanya dan kadang-kadang memberikan sesajen. Menurut Kang Hardianto, jangankan instrumen musik, benda-benda lainnya seperti buku, sapu lidi pun dihargai sebagaimana halnya makhluk hidup. Kafir, musyrik? Bisa saja, dalam kacamata tauhid sempit. Tapi ini justru cara tertentu dari bagaimana masyarakat India melestarikan alamnya.

No comments:

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.