Saturday, February 05, 2011

Lagu, Kenangan, dan Korelasi Antar Keduanya

Minggu, 30 Januari 2011

Hari Minggu itu, seperti biasa saya datang ke Toko Buku Kecil di Jl. Aceh no. 56, untuk menghadiri komunitas kecil akhir pekan.

Kakak saya, yang sudah lebih dulu nongkrong di sana bersama Klab Rajut, menyambut saya setelah seminggu tak bersua. Pipinya hangat terpapar mentari yang menembus kisi-kisi fiber glass atap garasi tempat kami berkumpul. Pertanyaan pertama saya padanya adalah tentang salah seorang anggota Klub Kuliner kami yang baru saja bertolak ke Australia. Hanya kakak saya seorang yang sempat menemuinya sebelum berangkat. “Dia menitipkan kenang-kenangan untukmu,” ujarnya ceria. “Apa itu?” Tanya saya, pura-pura tak tahu menahu.

“Sebuah pelukan!”

Serta merta kakak memeluk saya sekali lagi, dengan erat. Di benak saya terbayang jelas kawan kami. Cantik jelita, dengan busana favorit yang biasanya bernuansa biru toska atau biru marlin. Lengkap dengan syal serta kalung etnik khas dirinya. “Semoga nona Artyana betah serta sukses di sana,” ucapku sembari menepuk bahu kakak. Ia bercerita, syal rajutan tangannya sendiri telah disampaikan pada yang empunya sebelum ia berangkat ke bandara. Syal berwarna ilalang kering yang amat senada dengan pakaian batik yang sahabat kami kenakan hari itu. Meski awalnya saya mutung karena tidak diajak bertemu terakhir kali, mustahil untuk ngambek lama-lama pada orang seperti kakak. Toh saya sendiri yang tidak menghubunginya selama seminggu, perkara kesibukan.

Hari itu, Klab Klasik yang kami ikuti membahas tema “Apresiasi Playlist Favorit”. Saya membawa satu file lagu lengkap dengan lirik yang sudah di-print. Karena tidak diharuskan lagu klasik, saya memilih “The Man Who Can’t Be Moved” dari The Script. Saya pulalah yang kebagian presentasi pertama kali. Kami beserta semua kawan membahas mengenai kekuatan lirik, yang kini jarang ditemui di lagu-lagu industri. Bagaimana lagu bertema Cinta seakan tidak pernah habis-habisnya diangkat, dan lagu saya merupakan contoh bahwa kisah romantis yang sedih tidak melulu harus diberi melodi yang sedih pula.

Giliran berikutnya adalah Mas Tikno. Ia membuat kami cukup terhenyak dengan lagu Iwan Fals yang berjudul “Nak”. Liriknya yang kaya akan kritik sosial mampu membuat siapa saja resah, termasuk penguasa. Lagu tersebut juga diakui masih relevan dengan kondisi saat ini. Mas Diecky, yang datang tak lama kemudian, melemparkan bahan untuk diskusi. Apa yang akan terjadi seandainya Iwan Fals menggunakan musik klasik alih-alih musik Rock n’ Roll? Musik Klasik lebih subtil dan tidak gamblang dalam menyampaikan pesan komposernya. Contohnya, komposisi musik flute dari musisi Prancis yang sebenarnya berkisah mengenai kehidupan lesbian. Kesimpulannya, andai Iwan Fals menggunakan musik klasik, mungkin beliau bisa tertawa dalam hati meski tidak semua orang mengerti, bahwa sesungguhnya dia sedang mengkritik para penguasa.

Giliran selanjutnya adalah kakak saya. Karena laptop yang tersedia tidak ada yang bisa memutar CD darinya, akhirnya lagu tersebut diunduh dari YouTube. Sambil menunggu unduhan selesai, mas Wawan mempresentasikan sebuah lagu choir dari Paduan Suara Unpar. Lagu acapella itu bercerita mengenai masa muda yang hilang. Dinamik lagu yang berubah dari forte ke pianissimo menggambarkan kemarahan serta penyesalan ketika mengetahui waktu sudah berjalan begitu cepat, usia sudah keburu bertambah tanpa pencapaian, yang akhirnya berujung pada penerimaan kondisi diri.

Tak lama setelahnya, unduhan selesai. “Book of Love” dari Peter Gabriel, mantan vokalis utama Genesis, diperdengarkan pada semua. Lagu ini punya cerita tersendiri, terutama untuk saya dan kakak saya. Selain merupakan lagu pernikahan kak Reza (abang kandung kakak saya), ini juga merupakan lagu istimewa yang dipersembahkan kakak pada saya. Tentu saja bukan karena kami hendak menikah. Pasalnya, lagu Book of Love punya tiga kata kunci: Reading, Singing, dan Giving Things. Kesemuanya itu, menurut kakak, sangat mengacu kepada saya. Bahkan lagu itu, mulai dari alunan, ritme, sampai nadanya juga sangat “gue banget”, khususnya buat saya.

Di akhir curhat panjang lebar kakak mengenai kisah kami di balik lagu itu, Mas Syarief bertanya, adakah yang hendak saya sampaikan selaku ‘korban’ dari lagu tersebut. Saya tertawa. Singkat, saya berkata: “Saya berterima kasih pada kakak yang sudah menemukan lagu itu, and then dedicated it to me.... Thank you, Sista.” Kakak saya tersenyum. “You’re welcome, my little sister.” Hadirin yang mayoritas pria spontan bereaksi ramai, dan Mas Syarief menyeletuk. “Benar-benar deh, sesi Klab paling melankolis sepanjang masa. Banyak khutbah terselubung, mulai dari sabar menanti (The Script), pendidikan (Iwan Fals), sampai yang terakhir.” Ucapan ini disambut gelak tawa.

Sharing hari itu ditutup dengan lagu yang sangat sesuai, yaitu “Everything” dari Michael Buble. Petikan serta cabikan gitarnya yang riang menutup sesi kami hari itu. Lagu yang sangat easy listening, lebih gombal dalam segi lirik bila dibandingkan lagu-lagu sebelumnya, juga lagu terakhir yang memancing perbincangan hangat mengenai progresi, modulasi, serta transposisi akor dalam menciptakan sebuah lagu. Setelah sesi resmi ditutup agar semua rekan bisa saling berbagi lebih jauh, secara tak sengaja saya memainkan “Denting” milik Melly Goeslaw dengan gitar saya yang sejak tadi menganggur. Mas Tikno kemudian meminjam gitar itu, dan memainkan Denting dengan lebih lengkap. Saya menyanyikan penggalan-penggalan liriknya.

Mendengarnya, Mas Syarief bertanya. “Apa itu?”

“Soundtrack-nya Ada Apa dengan Cinta, Mas,” jawab saya.

“Ayo kita cabut dari sini sebelum jadi terlalu melankolis,” tukas Mas Syarief enteng, dan berlalu bersama Kang Yunus dan Mas Tikno.

Mbak Upi memanggil mereka semua kembali dari pelataran parkir karena speaker beserta kumparan kabel yang digunakan tadi belum dibereskan. Setelah semua rapi dan hampir semua anggota pulang, saya menghabiskan malam itu dengan bercengkrama bersama hingga Tobucil tutup. Satu lagi hari Minggu berlalu dengan menyenangkan serta hangat. Diskusi kami sore itu sempat menyimpulkan, bahwa isi lagu tidak selamanya berkorelasi dengan kenangan yang muncul di benak orang yang mendengarnya. Lagu itu bisa menumbuhkan kesan buruk, juga baik.

Namun, sejak saya mengenal Tobucil, ada begitu banyak lagu, melodi, puisi, juga cerita yang saya bagi dan dapatkan di sini. Mungkin suatu hari nanti, toko buku ini akan menjadi tempat bersejarah bagi saya, tempat yang penuh dengan pengalaman serta kenangan.

Kenangan dan melodi yang akan kami semua ukir sejak sekarang.




Dini Afiandri

No comments:

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.