Monday, January 17, 2011

Ririungan Gitar Bandung: Canarios untuk Trio


Minggu, 17 Desember 2011

Bulan Januari memang sudah sewajarnya menjadi momen bagi banyak hal untuk dimulai atau dimulai kembali. Demikian halnya dengan kegiatan-kegiatan di Tobucil, setelah kelas Scrapbook diputuskan untuk dimulai secara paket, lalu Klab Nulis mulai berbenah menyiapkan angkatan baru dengan lebih bergairah, Ririungan Gitar Bandung (RGB) juga memulai gerakannya. Cabang kegiatan dari KlabKlassik ini merupakan latihan ensembel gitar untuk umum. Siapa saja boleh gabung, berbayar Rp. 50.000 untuk tiga bulan latihan. Sebetulnya RGB sudah dimulai dari tanggal 3 Desember silam, namun pertemuan saat itu masih dianggap briefing biasa, belum mulai latihan.

Materi tiga bulan pertama adalah Canarios untuk tiga gitar, yang diusulkan oleh salah seorang peserta, Kristianus. Canarios adalah karya dari jaman Barok yang ditulis oleh komposer Spanyol, Gaspar Sanz. Dengan time signature 6/8, tempo 120, dan aksen di ketukan pertama, Diecky memaparkan bahwa karya ini jelas merupakan karya dance. Artinya, "Karya ini pastinya dipakai untuk acara-acara dansa di jaman Barok." Jaman Barok sendiri adalah periode sekitar tahun 1600 hingga 1750-an.

Pertemuan RGB ini ditandai dengan hadirnya beberapa wajah baru, semisal Dini Afiandri yang biasa aktif di Klab Nulis serta dosen di STT Tekstil, Pak Ato Hardianto. Semuanya melebur menjadi satu, dalam alunan dansa dansi Espagnola. Bagi yang berminat ikutan, belum terlambat, silakan datang ke Tobucil, Jl. Aceh no. 56 dua minggu ke depan atau tanggal 30 Januari. Permintaan partitur bisa dipenuhi dengan menuliskan alamat e-mail di komentar posting ini.

Akademi KlabKlassik: Studi Kontrapung

Latar Belakang:

Dewasa ini, musik seolah milik dua lembaga: kampus-kampus dan sekolah musik. Kampus, disana ada pengetahuan yang relatif menyeluruh soal musik. Mulai dari teknis, sejarah hingga teori. Persoalannya, akses terhadap kampus tidak bebas dan terbuka. Disertai biaya pendidikan yang semakin mahal, maka itu pada titik ini musik mengekslusifkan dirinya. Pelajaran holistik soal musik yang banyak diajarkan di kampus-kampus, seolah "dilarang" untuk keluar dari kampus. Hanya ia yang belajar dan membayar disana yang berhak memperoleh hak-hak semacam ini. Sekolah musik lebih umum dan membumi, hanya saja kepadatan jam belajar-mengajar membuat lembaga ini seringkali memfokuskan diri pada urusan teknis ketimbang sejarah ataupun teori. Kedua persoalan ini cukup dilematis dan memang tak bisa sepenuhnya menyalahkan dua lembaga tersebut.

Atas dasar itu, KlabKlassik sebagai komunitas non-profit yang independen, mencoba menengahi persoalan ini dalam rangka mensinergikan seluruh pihak-pihak yang dianggap punya andil mengenalkan musik pada masyarakat. Pendidikan sejarah musik, analisa karya, teori dasar, aransemen, dan komposisi yang biasanya diperoleh di kampus-kampus, akan dicoba diperkenalkan di ruang alternatif yang mudah diakses: garasi rumah. Sedangkan menyoal biaya, akan diupayakan agar terjangkau masyarakat lebih umum: yakni mereka yang mencintai musik, mempelajarinya sungguh-sungguh, ingin berkontribusi dengannya, namun tidak memilih untuk belajar di kedua lembaga tersebut atas alasan tertentu. Akademi KlabKlassik, begitu program ini disebut, tidak ingin menyaingi kedua lembaga di atas dalam hal pengajaran musik. Melainkan mengajak seluruhnya agar tetap menjalankan fungsinya sendiri-sendiri dengan baik, untuk kemudian bersinergi mencerdaskan dan meningkatkan apresiasi masyarakat.

Tema Besar (Counterpoint Study):

Kontrapung adalah struktur melodi pokok atau lazim disebut dengan cantus firmus (c.f.) dilawan dengan struktur melodi lainnya, keduanya mempunyai aturan-aturan yang berlaku. Ilmu terkait: sejarah musik, analisa karya, musik teori dasar, aransemen, dan komposisi.



Narasumber:

Diecky K. Indrapraja. Komponis dan Pendidik. Belajar gitar dan teori musik di Lembaga Musik Mayura Surabaya lalu melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Musik Bandung. Pada saat ia masih mahasiswa, ia menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Komposisi, Kontrapung, Harmoni dan Komputer Musik. Ia memperoleh gelar Sarjana pada tahun 2008 dan mengajar di universitas tempat ia pernah belajar. Sekarang ia melanjutkan studi di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung untuk mendapatkan gelar masternya. Workshop komposisi yang pernah diikuti, diantaranya oleh Dieter Mack, Shin Nakagawa, Jody Diamond, Roderik de Man, Armeno Alberts, Jonas Bisquert, dan Jurgen Sligter. Saat ini ia berkarya sebagai seorang komposer lepas di Bandung. Selain berbagai karyanya untuk solo instrumen, musik kamar dan musik orkestra, ia juga pernah bekerja sama dengan perupa dan penari kontemporer, serta ansambel tradisional untuk jenis musik baru. Beberapa karyanya telah direkam dan diterbitkan oleh "Cantus Music Center", dan dipentaskan tidak hanya di Indonesia, tapi juga di beberapa negara di Amerika dan Asia lainnya. "G-Spot Tornado Ensemble Modern", merupakan ansambel musik kamar yang ia dirikan bersama "New Music Colony (NMC)", sebuah komunitas untuk musik kontemporer di Bandung. Ia juga sering menjadi pembicara dalam seminar dan workshop untuk apresiasi musik seni modern dan komposisi musik. 

Silabus:

Lesson 1: Introduction (3 Februari & 10 Februari)

* Music History
* Musical Textures
* Counterpoint Overview
* Consonance and Dissonance
* Identifying Ratios, Intervals, and Motions

Lesson 2: Contrapuctal Basics (17 Februari & 24 Februari)

* 1:1 Ratios
* Applying Ratio Principles
* Linear and Vertical Awareness
* Two Part Counterpoint
* Writing Contrapuntal Basics

Lesson 3: Unessential Notes (3 Maret & 10 Maret)

* 2:1 Ratios
* What are Unessential Notes
* Examples of Unessential Notes
* Writing Counterpoint with Unessential Notes

Lesson 4: Unessential Notes II (17 Maret & 24 Maret)

* 3:1 and 4:1 Ratios
* Unessential Notes based on 3:1 and 4:1 Ratios
* Examples of Unessential Notes
* Writing Counterpoint with Unessential Notes

Lesson 5: Florid Counterpoint (31 Maret & 7 April)

* Syncopations
* Suspentions
* Appoggiaturas
* Anticipations
* Imitations
* Examples of Florid Counterpoint
* Writing Counterpoint with Florid Counterpoint

Lesson 6: Canon (14 April & 21 April)

* What is a Canon?
* Early Examples of Canon
* Writing a Simple Canon
* Canonic Phrasing
* Analyzing Pachelbel's Canon in D
* Accompanied Canon in Popular Music

Jadwal & Tempat:

Akademi KlabKlassik Angkatan II diselenggarakan setiap hari Kamis pukul 18.30-20.00 dari mulai 3 Februari sampai 21 April. Tempat penyelenggaraan adalah ruang alternatif Garasi 10, Jl. Rebana no. 10, Bandung.

Persyaratan:

* Umum
* Bisa membaca not balok.
* Membayar biaya keikutsertaan sebesar Rp. 150.000,- / 12x pertemuan (Dengan fasilitas sertifikat, konsumsi, kertas paranada, dan alat tulis). Biaya keikutsertaan boleh dicicil 3x.
* Peserta dibatasi hingga 20 orang.
* Informasi dapat menghubungii Syarif (0817-212-404)

Profil KlabKlassik:

KlabKlassik (KK) adalah komunitas dan ruang apresiasi musik klasik yang berdiri di Bandung pada tanggal 9 Desember 2005. Dasar kemunculannya tidak lepas dari stereotip orang kebanyakan yang menganggap musik klasik sebagai musik yang eksklusif, kompleks, berat, dan serius. Meski stereotip itu terkadang ada benarnya, namun musik klasik ternyata bisa “terjangkau”, santai, sederhana, dan membumi juga, jika berhasil memilah mana yang menjadi inti, dan mana kemasannya. Sebagai upaya untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, KK mencobanya lewat berbagai acara kumpul komunitas, diskusi santai, konser musik klasik yang jauh dari kesan eksklusif, serta keterbukaan tukar pikiran via dunia maya.

Pada awal didirikannya, KK hanya diniatkan sebagai kelompok musik insidental yang tampil pada acara JazzAid: Jazz untuk Korban Tsunami pada Februari 2005. Kala itu yang tampil adalah empat gitar yang terdiri dari Royke Ng, Christian Reza Erlangga, Ahmad Indra dan Syarif Maulana. Setelah penampilan tersebut, timbul dorongan dari Dwi Cahya Yuniman, koordinator KlabJazz (komunitas musik jazz), untuk membangun sebuah komunitas. Dorongan tersebut akhirnya dicoba direalisasikan setelah mendapat kesempatan berkumpul sebulan sekali di Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8.

Akumulasi dari kumpul-kumpul tersebut salah satunya berhasil mencetuskan ide untuk membuat sebuah pagelaran musik klasik bernama Classicares. Penyelenggaraan Classicares yang diadakan pada 9 Desember 2005 di Gedung Asia Africa Cultural Center, dianggap sebagai titik tolak kelahiran KK sebagai komunitas yang mandiri. Sejak saat itu, penyelenggaraan konser secara berkala menjadi agenda rutin KK disamping acara kumpul-kumpul yang terus berjalan.

Sejak pertengahan tahun 2007, KK resmi berkomunitas di Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Kepindahan tersebut juga menandai munculnya beberapa agenda baru KK, yang lahir dari proses evaluasi dan auto-kritik tiada henti. Agenda baru tersebut menggiring KK untuk tidak melulu berkutat di ranah komunitas, melainkan juga ruang apresiasi, yang mana mendorong KK untuk semakin membuka diri.

Sejak tahun 2005, KlabKlassik cukup aktif mengadakan konser-konser musik klasik. Hingga sejauh ini, kurang lebih dua puluh konser sudah diselenggarakan KlabKlassik baik statusnya sebagai penyelenggara ataupun pendukung. Beberapa konser yang diselenggarakan KlabKlassik diantaranya Classicares (2005), April String Festival (2006), Classical Guitar Fiesta (2006, 2008, dan 2010), Resital Tiga Gitar Plus Satu (2009), Resital Flute dan Piano Fauzie Wiriadisastra dan Andrew Sudjana (2009) Konser Ririungan Gitar Bandung (2009), Resital Piano Andrew Sudjana (2010), Resital Trumpet dan Piano Eric Awuy dan Iswargia R. Sudarno (2010) dan beberapa konser lainnya.

Informasi:

E- mail: klabklassik@yahoo.com
Blog : www.klabklassik.blogspot.com
Kontak: Syarif (0817-212-404)

KlabKlassik: Kenapa dengan Lembaga Pendidikan Musik?




Minggu, 9 Januari 2011

KlabKlassik (KK) hari itu berkumpul sejenak untuk rapat. Rapat soal Akademi KK yang akan diselenggarakan kembali tanggal 3 Februari. Atas dasar itu, pasca rapat ada baiknya kalau KK membahas soal lembaga pendidikan musik. Kenapa? karena pendirian Akademi KK tak lain sebagai bentuk kritik atas lembaga pendidikan musik seperti kampus dan sekolah-sekolah musik yang tengah marak.

Awalnya KK tidak langsung membahas itu, melainkan ngalor ngidul soal kebijakan politik, soal sepakbola, soal pemerataan kemiskinan. Namun kehadiran Diecky di tengah-tengah diskusi langsung menggiring arah pembicaraan untuk mengkritisi lembaga pendidikan musik. Alkisah, Dicky dahulunya adalah seorang dosen di sebuah lembaga pendidikan swasta. Ia keluar, karena tercerabut dari sistem. Merasa bahwa sistem tak demikian cocoknya. Dan ia pun menemukan hal yang sama kala kuliah S2 saat ini. Maksudnya: mahasiswa tidak terbiasa kritis, mereka diajarkan untuk mencatat teori apa saja yang dipaparkan dosennya. Mereka kaget jika ada dosen yang mengajak mahasiswanya untuk kritis.Mahasiswa telah tunduk dan patuh, dan bersaksi bahwa dosen adalah orang yang lebih pandai dari mereka-mereka. Dan kekritisan sesungguhnya mengancam "singgasana" dosen selama ini.

Artinya, memang ini persoalan akademi kebanyakan. Bahwa akademisi seringkali paham teori semata, padahal yang terpenting adalah mengaitkannya dengan disiplin lain, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan. "Tidakkah iya, bahwa akademisi adalah orang yang mengukuhkan generasi bangsa yang bermartabat di kala wisuda, tapi di saat yang sama mereka adalah yang membuat macet di jalanan?"demikian salah seorang punggawa KK menukas. Itu pertanda bahwa akademisi berpikir kurang holistik, atau kurang menyadari adanya paradoks dalam tiap-tiap sendi kehidupan. Seperti halnya akademisi jualah yang menyebabkan terjadinya global warming jika tolok ukurnya jumlah kertas yang kita sia-siakan.

Kemudian pembicaraan mengerucut pada penyelenggaraan Akademi KK yang merupakan antitesis dari situasi akademi di atas. Akademi KK kelak akan menyelenggarakan semacam pelatihan teori komposisi musik barok. Formatnya persis seperti kelas-kelas kebanyakan. Namun apa yang jadi perhatian, menurut Diecky, "Adalah bagaimana peserta akademi mampu kritis dan tidak melulu menyerap apa yang diajarkan secara pasif." Apa yang nanti diajarkan adalah komposisi, dan komposisi tentu saja menuntut kreativitas dan kebebasan. Benar-salah bukanlah sesuatu yang patut dibicarakan. Situasi kelas dijamin akan dibuat macam diskusi, dan Diecky selaku dosen tidak akan merasa dirinya superior, begitu menurutnya. Mahasiswa adalah mereka yang mampu memberi masukan bagi dosennya sekalipun. Karena dunia informasi saat ini sangat berlimpah. Mereka yang pintar, jangan-jangan bukan mereka yang secara akademik berstrata lebih tinggi. Melainkan mereka yang punya akses informasi lebih luas.

Sebagai informasi, KlabKlassik memperluas diri dengan tidak hanya beraktivitas di Tobucil. Akademi KK sendiri akan diselenggarakan di ruang alternatif Garasi 10, Jl. Rebana no. 10 setiap hari Kamis jam 18.30 mulai 3 Februari 2010. Informasi keikutsertaan Akademi KK bisa hubungi Syarif di 0817-212-404. Kegiatan KK di Tobucil setiap hari Minggu tetap dilaksanakan seperti biasa.

KlabKlassik 2010: Lahirnya Akademi KlabKlassik

Akademi KlabKlassik

KlabKlassik merupakan salah satu klab yang konsisten berkumpul di Tobucil setiap hari Minggu. Salah satu yang menarik adalah hadirnya Akademi KlabKlassik (AKK) pada 10 Juni 2010. AKK ini awal mula kemunculannya adalah sebagai respon terhadap eksklusivikasi musik yang sepertinya dimiliki oleh lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah musik saja. AKK dicetuskan oleh Diecky K. Indrapraja, salah seorang aktivis KlabKlassik yang cukup aktif. Profesinya adalah komponis, dan sempat juga menjadi dosen di STiMB (Sekolah Tinggi Musik Bandung). Ia mengusulkan bahwa AKK dimulai dari pendidikan dasar tentang teori musik.

Debut AKK dimulai pada tanggal 10 Juni 2010 dengan sepuluh orang peserta. Bayarnya relatif murah, yaitu 65.000 untuk tiga bulan dan diselenggarakan tiap minggu. Meski AKK mendapat beberapa evaluasi sana sini terkait penyelenggaraannya, namun AKK edisi pertama ini menjadi pembuka jalan bagi kelanjutan AKK berikutnya. AKK sendiri diharapkan bisa menjadi ruang penting bagi penyelenggaraan pendidikan musik yang non-eksklusif. "Alasannya sederhana," kata Diecky, "musik adalah milik semua orang. Kenapa seolah-olah hanya milik lembaga musik saja?"

Selain AKK, KlabKlassik juga menyelenggarakan sejumlah konser sejak bulan Agustus, yaitu Resital Gitar Johan Yudha Brata, Resital Piano Andrew Sudjana, Classical Guitar Fiesta, serta Resital Piano-Trumpet Iswargia Sudarno dan Eric Awuy. Keseluruhan penyelenggaraan tersebut dilakukan di Auditorium CCF. Di samping itu, kumpul komunitas KK juga berlangsung cukup konsisten setiap minggunya. Menjelang tutup tahun, KK membuat semacam kuartet gitar yang dipersiapkan untuk acara-acara yang melibatkan KK sebagai performer.

Di tahun 2011, KK berharap tidak hanya aktif di Tobucil ataupun di blognya saja, melainkan juga menerbitkan semacam buletin yang disebarkan secara gratis. Buletin tersebut memuat konten seputar musik klasik dan keadaan musik secara umum saat ini.

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.