Sunday, December 25, 2011

Ulang Tahun Keenam KlabKlassik

Minggu, 18 Desember 2011

Merujuk pada acara Clasicares yang berlangsung pada 9 Desember 2005, tanggal itulah yang ditetapkan sebagai hari ulangtahun KlabKlassik. Meski tidak selalu diselenggarakan tepat hari H, namun bulan Desember biasanya ada saja acara kumpul-kumpul yang diadakan dalam rangka syukuran dan silaturahmi.

Ulangtahun keenam ini terasa agak spesial oleh sebab dipersiapkannya sebuah pameran kecil-kecilan. Apa yang dipamerkan adalah perjalanan singkat KlabKlassik, mulai dari awal berdiri, acara-acara yang pernah diselenggarakan, hingga kegiatan klab sekarang dan harapan klab ke depan. Pameran yang diadakan di Garasi 10 itu juga sekaligus menjadi latar acara paling utama: Makan-makan.





Untuk acara yang satu ini, makan-makan diisi dengan tumpeng nasi uduk, kue buatan Mba Kenti Tobucil, sirup ABC, dan kue ulangtahun dengan lilin bertuliskan angka enam. Oleh sebab awak Klab yang sebagian sudah cukup umur, tak lupa juga dituangkan bir botol dari Thailand di akhir acara. Acara langsung dibuka dengan pembacaan doa dan potong tumpeng. Setelah itu, sambil makan kami nonton bareng film dokumenter The Stomp.


Setelah puas nonton, acara berikutnya adalah pemotongan kue ulangtahun yang dilanjutkan dengan performance. Bilawa, Beben, dan saya mengawali performance dengan memainkan lagu-lagu Spanyol dari Garcia Lorca. Setelah itu Royke dan saya lanjut berduet gitar memainkan Carawitta and Fugue. Acara menjadi sedikit mengharukan ketika saya mencoba menerangkan detail pameran perjalanan Klab mulai dari awal hingga akhir. Petikan gitar Bilawa-lah yang menjadikan suasana agak sendu, plus pembacaan puisi oleh Beben di tengahnya. Setelah itu semua kami berangsur-angsur pulang dan seperti biasa, ada bincang kecil-kecilan hingga larut malam.



Thursday, November 24, 2011

Resital Klarinet & Piano: Urs Bruegger & Ratna Sari Tjiptorahardjo




Yogyakarta
Jumat, 25 November 2011
Lembaga Indonesia Prancis (LIP)
Jl. Sagan no.3
Pk. 19.30

Bandung
Rabu, 30 November 2011
Auditorium CCF
Jl. Purnawarman no. 32
Pk. 19.30

Surabaya
Sabtu, 3 Desember 2011
Pusat Kebudayaan Prancis - Surabaya (CCCL)
Jl. Darmokali no. 10
Pk. 19.30

Informasi
Syarif (0817-212-404)
Studio Musik Melodia, Jl. Cipunagara no. 15 (022-727-3390)

Urs Brugger (Klarinet)

Lahir di Biel, Switzerland. Meraih Teaching Diploma di bawah Kurt Weber. Urs Brugger menyelesaikan studinya meraih gelar Soloist Diploma di Hannover Academy of Music di bawah Proffessor Hans Deinzer. Semenjak tahun 1970, dia berkarir sebagai principal clarinet player Orchestra Biel, Lucerne * Basel. Dia juga mengajar para peniup clarinet professional di Lucerne Conservatory. Dia telah beberapa kali mengunjungi Indonesia mengadakan Concert Tour sebagai anggota Trio La Tache. Sebagai dosen tamu mengajar Clarinet di Studio Musik Melodia, mulai bulan Agustus 2011.

Ratna Tjiptorahardjo (Piano)

Lahir di Bandung , dalam lingkungan keluarga yang musikal.Pelajaran musik piano dimulai sejak umur 7 tahun dengan guru-guru pertamanya Mnr Domm, Ibu Yenly Kasim dan Ibu Ibrahim.
Pelajaran musik tingkat lanjut diterima dari Bapak Oerip Santoso, Bapak Su Saw Ching di Bandung meraih Diploma LRSM, ABRSM, London.
Pelajaran musik formal pertama didapatkan dengan bea siswa di Royal College of Music, London dibawah bimbingan Prof. Peter Element dan Mrs Judith Burton untuk pelajaran Music Performance dan Pedagogy. Pendidikan musiknya dilanjutkan di University of Melbourne, Australia dengan meraih gelar Master of Music Studies dibawah bimbingan Dr. Mikhail Solovey, Caroline Almonte dan Julie Haskell.
Ketika mengajar di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung pada tahun 1995-2000, banyak menerima bimbingan dari dosen tamu dari Jerman, Prof. Dieter Mack, seorang komponist dan musikolog bersama almarhum Hansjoerg Koch,seorang pianis konser. Sampai sekarang hubungan kerja dalam bidang musik masih terus berlanjut.
Di Melbourne aktif mengajar music sebagai guru piano privat dan aktif sebagai konduktor koor di Keluarga Katolik Indonesia, Melbourne. Konser yang akan diadakan Sepember 2012 untuk merayakan 25 th anniversary KKI Melbourne ini akan membawakan Missa Mozart, the Great Mass in C minor.
Di Bandung, membimbing dan mengelola sekolah musiknya, Studio Musik Melodia , Jalan Cipunegara 15 Bandung.Banyak diantara siswa/i didiknya yang berhasil menyelesaikan study musiknya dan berprofesi sebagai guru musik yang baik.

Program

Schumann - Fantasiestuecke Opus 73 fuer Klavier und Klarinette
Francis Poulenc - Sonata for Clarinet and Piano
Saint-Saens - Sonata for Clarinet and Piano
Darius Milhaud – Scaramouche

Membahas Seluk Beluk Hak Cipta Musik

Minggu, 13 November 2011

Di sore yang hujan itu, KlabKlassik (KK) mengadakan pertemuannya. Hari itu bahasannya agak lain, yaitu lebih berat ke arah hukum. Diundanglah seorang pakar hukum bernama Pirhot Nababan, ia berbagi tentang hak cipta musik.

"Hak cipta itu ada ketika kita selesai mencipta, bukan ketika kita mendaftar," demikian kalimat pembuka Pirhot yang biasa dipanggil Iyok itu. "Namun mendaftarkan hak cipta itu ada baiknya juga, terutama jika suatu saat kita bersengketa," tambahnya. Iyok juga mengatakan bahwa tentu saja mendaftar itu perlu uang, ia menambahkan ada solusi lain yang berkekuatan hukum jika memang dirasa pendaftaran itu terlalu mahal, "Amplopi karya tersebut, partitur, contoh rekaman, dan lain sebagainya, lalu kirim pos ke alamat sendiri. Itu sudah berkekuatan hukum jika ada yang mengklaim yang mengatakan bahwa dirinya membuat karya lain duluan."

Kebetulan hari itu juga kedatangan Mba Uci, seorang sarjana hukum dari Solo yang tertarik datang. Selain menjadi peserta, ia juga ternyata bisa memberikan pandangan-pandangan tentang hukum, terutama menjawab beberapa kegalauan peserta. Obrolan itu meluas menjadi banyak hal tentang hukum seperti pidana, perdata, kasus-kasus tertentu, hingga undang-undang pornografi. Hal tersebut disebabkan oleh tidak banyaknya diantara peserta yang betul-betul mengerti soal hukum, sehingga ini jadi semacam kesempatan untuk bertanya-tanya.

Kegiatan ini rencananya akan dibuat secara berkala, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang hukum secara umum. Karena, kata Mba Uci, "Kita adalah bagian dari hukum, kita tidak bisa mengelak dari hukum dengan argumen 'saya tidak tahu'." Lalu pesan terakhir dari Iyok, "Jika ada sengketa, jadikanlah pengadilan sebagai jalan terakhir, usahakan selesaikan dengan jalur damai dulu. Ada yang dikenal dengan economic analysis of law, yaitu biaya gugatan kamu lebih besar dari kemungkinan hasil gugatannya, itu harus dipertimbangkan betul."

Friday, November 11, 2011

KlabKlassik: Membahas Hak Cipta Musik bersama Pirhot Nababan

Minggu, 13 November 2011

Tobucil, Jl. Aceh no. 56

jam 15.00 - 18.00

Gratis

Masalah hak cipta musik masih menjadi isu yang cukup serius di Indonesia. Perlu diketahui, pelanggaran hak kekayaan intelektual di Indonesia tergolong besar. Di tahun 1999, petugas Direktorat Bea dan Cukai di Bandara Soekarno-Hatta membongkar paket yang berisi ribuan keping video porno dan VCD ilegal. Negara telah dirugikan sebesar Rp 3,655 miliar akibat insiden ini

Selain itu, selain negara telah dirugikan dalam jumlah yang sangat besar dari sektor pajak, akibat adanya pembajakan. Kerugian ini juga dialami oleh pencipta lagu karena tidak menerima royalti.

Masalah lain yang muncul adalah keluhan dari pencipta lagu yang tidak menerima honor sesuai berdasarkan perjanjian dengan perusahaan rekaman. Produser rekaman, tak jarang, memaksakan kemauannya dalam semua aspek seperti sistem kontrak, besar honor, sampai waktu pembayaran honor.

Lebih jauh, pembayaran royalti atas karya cipta musik atau lagu yang diputar atau dinyanyikan di hotel, karaoke, diskotik, restoran, kapal terbang dan lain-lain, tetap menimbulkan berbagai persepsi dari publik.

Pertemuan minggu nanti adalah momen yang baik untuk berdiskusi tentang persoalan hak cipta musik ini. Dipandu oleh pakar hukum Pirhot Nababan, acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Thursday, November 10, 2011

Musik Garasi: Introduction to Castanet Playing by Marina Bollain




Minggu, 20 November 2011
15.00 WIB - Selesai
Garasi 10 | Jl. Rebana 10, Turangga, Bandung

Biaya:
Rp20.000 (membawa kastanyet masing-masing)

Pendaftaran dan informasi:
Mutia - (022) 700 21 446
classic.indonesia@gmail.com

Profil Maria Bollain:
Marina Bollaín, soprano of wide experience in the European scene, brings her beautiful voice, and charm rhythmic castanets. She graduated in singing and opera stage direction by the Hanns Eisler Hochschule fr Musik in Berlin and Germanic Studies from the Universidad Complutense de Madrid. He has recorded three CDs of Spanish music with Federico Garcia Lorca songs, Fernando Sor, and Enrique Granados. With her guitar chords in the experienced hands of Teresa Folgueira, they give the public a performance of high artistic level. (Sumber: Abrebrecha)

Musik Garasi: Guitar Master Class by Teresa Folgueira




Senin, 21 November 2011
Jam 10.00 WIB - Selesai
Garasi 10 | Jl. Rebana 10, Turangga, Bandung

Biaya:
Rp50.000 - penonton
Rp400.000 - peserta aktif

Pendaftaran dan informasi:
Mutia - (022) 700 21 446
classic.indonesia@gmail.com

Profil Teresa Folgueira:
Teresa Folgueira (guitar) was born in Madrid, Spain, and started studying music in her childhood at the Art and Music Academy with Carlos Perón until intermediate level. Later she went to the Real Conservatorio Superior de Música of Madrid where she received tuition from José Luis Rodrigo, and afterward took her postgraduate qualification under the tutelage of Miguel Angel Jiménez.

Currently she completed her training with Gerardo Arriaga. She also attended lessons by Demetrio Ballesteros, Manuel Estévez, Carles Trepat, Margarita Escarpa, Miguel Trápaga, José Tomás, Ana Jenaro, Odair Assad, Zoran Dukic, Eduardo Fernández, David Russell and Pepe Romero.

She has given concerts at the Cultural Centre of the Village of Madrid, Centro Cultural Conde Duque of Madrid, IFEMA, the Railway Museum, The Juan March Foundation, The Polish Embassy in Spain, French Institute in Madrid, Ateneo of Madrid and in different theaters in Spain. Abroad, she has performed in several cities in Poland, in China, Nigeria, Gabon, Venezuela, Morocco, Ghana, Portugal, either as part of groups or as soloist.

In 2002 she was awarded the second prize at the XV Guitar Competition of Cantabria (Comillas). She now divides her time between performing and teaching classical guitar at several conservatories of music in Madrid.

KlabKlassik: Nonton Bareng Film "Notes Interdites"


There are three things i don't believe in:
i don't believe in medicine
i don't believe in sunspots
and i don't believe in the art of conducting
--Leo Tolstoy

Tagline tersebut menjadi pembuka film "Notes Interdites", film dokumenter yang mengisahkan tentang konduktor Gennadi Rozhdestvensky, seorang konduktor ternama asal Rusia. Film ini bertutur tentang persiapan, rehearsal, dan kebijaksanaan dari sang konduktor ketika tengah mempersiapkan orkestra untuk konser. Ada juga adegan ketika Gennadi mengajar murid-muridnya di konservatorium Moskow. Gennadi bukanlah konduktor konvensional. Gayanya atraktif, aktif, dan menghibur. Ia ingin orkestra hidup bersama dengan gestur tubuhnya.

Film ini menarik, selain atraksi Gennadi dan juga caranya mengajar yang cukup keras, ada beberapa review sejarah tentang perkembangan orkestra musik di Rusia. Gennadi mengutip banyak kalimat-kalimat dari Prokofiev, Stalin, Tolstoy hingga Gorky. Mereka semua berdebat tentang musik apa yang bagus, tentang musik apa yang cocok bagi Rusia (kala itu Soviet). Apakah musik yang menyentuh? Apakah musik yang menyemangati orang banyak? Atau apa? Demikian adalah hal yang lumrah bagi negara dengan ideologi keras semisal Uni Soviet.

Monday, October 17, 2011 KlabKlassik: Menyimak Music Scoring Film Taxi Driver (1976)

Minggu, 16 Oktober

KlabKlassik kali ini tidak melulu mendengarkan musik, melainkan ada juga acara menyaksikan film. Hanya saja dari film tersebut tetap dibahas music scoring-nya, atau musik latarnya (bukan soundtrack). Untuk memahaminya betul-betul, film diputar dari awal sampai akhir.

Taxi Driver adalah film garapan Martin Scorsese yang diperankan oleh Robert de Niro dan Jodie Foster. Ceritanya adalah tentang supir taksi yang gelisah oleh keadaan di sekitarnya. Ia merasa bahwa "Animals come out at night," setelah menyaksikan fakta disana-sini terdapat pelacur, penjahat, dan berbagai ragam keburukan lainnya. Sebagai supir taksi, ia ingin melakukan perubahan, ingin menjadi pahlawan. Maka itu ia membeli pistol, menembaki para penjahat dan menyelematkan salah seorang pelacur untuk dipulangkan pada kedua orangtuanya. Film ini, meski alur ceritanya seperti sederhana, namun penggambarannya agak gelap dan absurd. Betul-betul mencerminkan kegelisahan eksistensial seorang supir taksi yang bisa dibilang tidak tinggi secara strata sosial masyarakat.

Robert de Niro sebagai Travis Bickle.

Meskipun yang datang tak terlalu banyak, Diecky sukses memancing kekritisan para pendatang. Ia menyebutkan bahwa dalam music scoring garapan Bernard Hermann tersebut, hanya ada dua lagu yang dominan. Pertama, lagu jazz sendu. Kedua, lagu dengan interval berdekatan yang menyebabkan disonan. Kata Diecky, "Lagu jazz biasa diputar ketika sang supir tengah bermonolog dan mengendarai taksinya, sedangkan lagu dengan interval berdekatan digunakan ketika adegan-adegan yang dianggap 'penting' dan harus diberi aksen." Kedua lagu dominan tersebut dianggap berhasil menyuguhkan dinamika emosi antara yang ideal dan yang riil, termasuk ketika film memasuki sesi akhir: ada adegan yang tidak masuk akal ketika supir taksi itu berambut normal kembali (sebelumnya di mohawk) dan sehat seperti sediakala (sebelumnya kena tembak tangannya), lalu ia mengantarkan wanita yang sempat menjadi pujaannya. Menilai lagu yang dimainkan adalah lagu jazz itu, maka para pendatang memberi kesimpulan bahwa jangan-jangan adegan terakhir itu semacam sesi nostalgia saja, tidak riil dan mungkin hanya ada dalam pikirannya.

Minggu depan Diecky akan mengusulkan sebuah film musikal yang katanya, "Saya jamin sembilan puluh persen orang belum nonton." Mari kita tunggu!

Friday, October 14, 2011

Menyimak Music Scoring Film Taxi Driver (1976)

Minggu, 16 Oktober 2011

Pukul 16.00 - 19.00

Tobucil, Jl. Aceh no. 56

Gratis

Taxi Driver adalah film garapan Martin Scorcese yang berkisah tentang kehidupan urban di Amerika pasca Perang Vietnam. Diperankan oleh Robert de Niro, Jodie Foster, Harvey Keitel, dan Cybil Shepherd, film ini dinominasikan empat Academy Awards dan memenangkan Palme d'Or pada Cannes Film Festival tahun 1976. American Film Institute memasukkan Taxi Driver dalam daftar seratus film terbaik sepanjang masa. Music Scoring film Taxi Driver yang digarap oleh Bernard Hermann merupakan karya terakhirnya sebelum ia meninggal di tahun 1975. Film ini didedikasikan untuk mengenangnya.

"Menyimak Music Scoring" adalah program baru KlabKlassik yang diselenggarakan kedua kalinya setelah film Apocalypse Now (1979) pada 11 September lalu. Tujuannya adalah mengetahui signifikansi penggarapan musik bagi dramatisasi sebuah film.

Kompetisi Piano untuk Pianis Muda Bandung


Unduh Infopack

Wednesday, September 28, 2011

Resital Kuartet Gesek: Djava String Quartet

desain poster oleh vitarlenology


Djava String Quartet:
Ahmad Ramadhan - biola
Danny Ceri - biola
Dwi Ari Ramlan - biola alto
Ade Sinata - cello

Jumat, 7 Oktober 2011
Auditorium CCF
Jl. Purnawarman no. 32
jam 19.30 - 21.00

Tiket seharga Rp. 25.000 dijual mulai tanggal 30 September di
Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-426-1548) atau Syarif (0817-212-404)
Berawal dari semangat bermain tanpa konsep, akhirnya Danny Ceri (biola), Ahmad Ramadhan (biola), Dwi Ari Ramlan (biola alto) dan Ade Sinata (cello) memutuskan untuk membentuk kuartet gesek pada tanggal 22 November 2008 yang diberi nama D’Java String Quartet (DSQ).

Meski terbilang pendatang baru, namun DSQ aktif menunjukkan eksistensinya dengan menyelenggarakan konser bersama maupun tunggal. Pada 9 Maret 2009, DSQ mengadakan konser apresiasi di UKRIM Yogyakarta. Tanggal 27 Maret 2009, bersama dengan dua string quartet lainnya yang tergabung dalam Yogyakarta Youth String Quartets (YYSQ), DSQ mengadakan konser di Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta. Dan 17 April 2009 d’Java menggelar resital tunggal perdananya di auditorium CCF Bandung.

Selain program apresiasi, DSQ mencoba membawa misi edukasi dengan mengadakan Workshop Chamber Music di Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta yang berlangsung dari tanggal 13-30 Oktober 2009 bekerjasama dengan YYSQ dan Jogjakarta Pilharmonic Orchestra, tampil sebagai bintang tamu di acara Music Classic Concert di Purwokerto untuk penggalangan dana bagi anak-anak SLB ( Sekolah Luar Biasa ), memainkan karya Eugene Ysaye Harmonie du Soir for String Quartet and String Orchestra diiringi F-Hole String Orchestra dari Institut Seni Indonesia dalam acara Chamber Music Concert, tampil di acara Chamber Music Festival di Yogyakarta, dan Youth Artist Chamber Music Festival di Goethe Haus Jakarta.

DSQ juga rajin mengikuti beberapa masterclass dari grup string chamber seperti Doric String Quartet dari Inggris, Trio Storioni dari Belanda, Prof. Takashi Shimizu dari Jepang, serta mengikuti Bandung Music Camp 2009 dengan tutor Damien Ventula ( Cellist/France ).

Selain tampil secara kelompok, para personil d’Java pun aktif untuk mengikuti event musik skala Internasional seperti South East Asian Youth Orchestra and Wind Ensemble (SAYOWE) di Thailand dan Hida Takayama Music Festival di Jepang. Bulan Juni 2010 d'Java String Quartet mendapatkan First Price pada acara Chamber Music Competition di Singapore.

Sebelum tampil di Bandung 7 Oktober nanti, seminggu sebelumnya d'Java tampil di Filipina.

Seminar Musik Kontemporer dan Problem Interkultural

MInggu, 25 September 2011

Hari Minggu adalah jadwal rutin kumpul KlabKlassik. Meski pada Minggu itu KK tidak berkumpul di Tobucil, mereka tetap mengadakan kegiatannya di Studio Musik Melodia, jalan Cipunagara nomor 15. Ini punya kaitan dengan kerjasama antara Studio Musik Melodia dan KK dalam rangka menggelar suatu seminar berjudul "Musik Kontemporer dan Problem Interkultural". Pembicara dalam seminar tersebut adalah Dieter Mack, seorang guru besar komposisi asal Jerman dan satu lagi tidak lain adalah aktivis Tobucil yang aktif di Madrasah Falsafah maupun KK, yaitu Diecky K. Indrapraja.

Sebetulnya acara tersebut tak tepat benar disebut seminar. Karena jika berbicara seminar, biasanya konotasinya langsung ke suatu pertemuan besar di gedung besar yang mana suasananya kurang lebih formal. Acara ini tidak. Tempatnya relatif kecil, suasananya santai, dan terjadi dialog yang cukup intens antara peserta dan pembicara.

Awalnya, Dieter Mack menyatakan awal mula mengapa ia hendak membicarakan topik tersebut. Ini terkait dengan acara yang akan digelar di Taman Budaya Jawa Barat dari tanggal 2 hingga 9 Oktober. Acara yang disponsori oleh Goethe Institut itu merupakan semacam kompetisi bagi komposer muda se-Asia Tenggara. Dieter Mack menjadi penggagas sekaligus juri, sedangkan Diecky menjadi salah satu dari sepuluh finalis terpilih dalam kompetisi tersebut (mari beri selamat). Kemudian Dieter masuk ke apa yang disebutnya sebagai interkultural, dengan menyajikan empat contoh lagu yang mengandung baik instrumen barat maupun timur. Pertanyaannya sederhana, namun agak sulit menjawabnya, "Diantara keempat ini, manakah yang terasa seperti ditempelkan atau digabungkan, dan mana yang terasa seperti satu kesatuan?"

Jawabannya beragam. Namun kesimpulan Dieter cukup mengena, "Soal kepekaan kita tentang mana yang terasa digabungkan dan mana yang terasa sebagai satu kesatuan, ditentukan oleh sebanyak apa kita mendengar. Jika mendengarkan tak terlalu banyak, kita akan sulit menerima pelbagai kemungkinan-kemungkinan dari komposisi baru." Kemudian Diecky tampil mengemuka, memperdengarkan karya pemenangnya pada para peserta. Namun di tengah presentasinya, ketika ia menyebut kalimat, "Tradisi Barat yang sistematis..", Dieter Mack langsung memotong, "Kata siapa tradisi Barat sistematis?" Dieter langsung melanjutkan, "Di Barat sistematis dengan tradisi tulisan. Di Timur sistematis dengan tradisi lisan. Kalau Timur tidak sistematis, bagaimana mungkin kita bisa menabuh gamelan, sekarang ini?"

Menjelang akhir diskusi yang berlangsung selama dua setengah jam itu, peserta boleh bertanya secara bebas. Misalnya, Ulung bertanya, "Apakah betul fungsi musik itu terbagi dua antara musik seni dan hiburan? Apakah ada musik yang seni sekaligus hiburan?" Dieter menjawab dengan contoh, ia memainkan dua lagu dalam piano, yang satu agak jazz, satu lagi kontemporer. Setelah lagu yang terakhir, ia berujar, "JIka saya memainkan lagu seperti itu, saya pasti diusir."Kata Dieter, "Musik hiburan tidak salah. Tapi ia tidak ditujukan untuk menarik perhatian. Ia bisa dimainkan sambil orang melakukan apapun. Tidak harus dinikmati sebagai sesuatu yang independen. Penghasil musik hiburan bisa disebut juga tukang atau pengrajin. Tapi sekali lagi ia tidak salah, tidakkah kita semua butuh tukang atau pengrajin?"

Setelah dua jam setengah yang mengasyikkan sekaligus memabukkan (oleh sebab musik kontemporer yang kadang-kadang tidak cocok untuk semua telinga), diskusi itu ditutup jua. Diakhiri dengan makan kudapan ringan di halaman belakang.

Monday, September 12, 2011

Seminar "Komposisi Kontemporer dan Masalah Interkultural"

KlabKlassik dan Studio Musik Melodia bekerjasama untuk menyelenggarakan seminar bertemakan "Komposisi Kontemporer dan Masalah Interkultural". Tema ini akan dibawakan oleh dua orang narasumber yaitu Dieter Mack (foto) dan Diecky K. Indrapraja. Penyelenggaraan akan dilakukan pada:

Hari/ Tanggal : Minggu, 25 September 2011
Jam : 15.00 - 18.00
Tempat : Studio Musik Melodia, Jl. Cipunagara no. 15

Profil Dieter Mack: http://dieter-mack.de:8081/dieter_mack?set_language=id
Profil Diecky K. Indrapraja: http://www.diecky.jigsy.com/

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.
Informasi: Studio Musik Melodia (022-7273390)

Moderator: Syarif Maulana

Nonton Bareng KlabKlassik: Apocalypse Now


Minggu, 11 September 2011




Hari Minggu kemarin KlabKlassik punya program baru. Atas usul Ismail Reza, KK sebaiknya memutar sebuah film, lantas dibahas scoring-nya, atau musik latarnya. Setelah melalui diskusi, diputarlah film tahun 1979 berjudul Apocalypse Now. Film garapan sutradara Francis Ford Coppola yang berlatarbelakang perang Vietnam itu diperankan oleh dua aktor kawakan, Martin Sheen dan Marlon Brando.

Ceritanya, Martin Sheen berperan sebagai Kapten Benjamin Willard, yang ditugaskan untuk membunuh Kolonel Kurtz yang diperankan (secara gemilang) oleh Marlon Brando. Keduanya adalah sesama Amerika, dan misi ini terbilang rahasia, tidak resmi, atau biasa disebut black ops. Cerita menjadi menarik karena sebagian besar berisikan pergulatan batin dari Kapten Willard, karena ia bertanya-tanya, bagaimana mungkin ia ditugaskan membunuh sesama Amerika? Segila apakah Kolonel Kurtz itu sehingga harus dilenyapkan?

Film tersebut, meskipun berjudul "film perang", namun yang ditampilkan justru aspek psikologisnya. Mas Daus, salah seorang peserta menyebutkan, "Ini film perang vietnam yang anti-hero, disamping Platoon dan Killing Fields." Film berdurasi sekitar dua setengah jam itu cukup menguras tenaga, beberapa peserta bahkan pulang sebelum berakhirnya film. Terutama juga karena musiknya secara subjektif agak kurang nyaman di telinga, sehingga berpengaruh sekali terhadap endurance. Selain itu, gambar-gambarnya gelap, betul-betul jauh dari hingar bingar heroisme ala Rambo atau Green Berets.

Setelah film berakhir, terjadi diskusi singkat. Pertama, bagaimana scoring mempengaruhi dramatisasi film itu sendiri. Bagi Mas Daus, scoring sangat penting dan boleh dibilang vital. Itulah yang terjadi pada perfilman Indonesia yang mana scoring seringkali digarap asal-asalan. Bahkan dalam banyak sinetron, scoring dicomot saja dari lagu yang sudah ada, tanpa memperhitungkan kecocokan dengan adegan. Profesi penggarap musik bahkan, kata Mas Reza, "Kawan saya di Berkeley, mengambil jurusan khusus music scoring, dan katanya susah. Jadi di luar sana, profesi music scorer gak main-main."

Program perdana kemarin menginspirasi KK untuk menyusun program berikutnya. Kemungkinan di akhir September ini akan diputar film G 30 S/PKI karya Arifin C. Noor, dengan agenda sama, yaitu membahas scoring musik. Kata Mas Daus, "Inilah film Indonesia terbaik sepanjang sejarah, bagi saya."

Monday, September 05, 2011

Silaturahim KlabKlassik 2011

Sabtu, 3 September 2011

Setelah tahun lalu melakukan silaturahim keliling rumah ke rumah, tahun ini KlabKlassik (KK) melakukan hal serupa. Ide cetusan Kang Tikno ini katanya ditujukan untuk, "Agar KK tidak semata-mata komunitas berbasiskan hobi musik klasik saja, tapi juga lebih dari itu, berbasiskan persaudaraan yang tulus."

Peserta halal bi halal yang start bersama-sama dari ada enam orang, yaitu Syarif, Kristianus, Pak Ato, Aldi, Jardika, dan Kang Aka. Pertama-tama KK mengunjungi rumah Kristianus terlebih dahulu di daerah Cicadas. Setelah itu lanjut mengunjungi rumah Mas Yunus di Sukajadi, yang kemudian Mas Yunus sendiri bergabung dengan rombongan. Setelah itu perjalanan dilanjutkan agak jauh ke daerah Cihanjuang, Parongpong, untuk mengunjungi rumah Pak Ato. Dari rumah Pak Ato, lanjut ke rumah Kang Aka di Cibuntu, yang salah satu tujuannya adalah juga menyantap Tahu Cibuntu. Dari Cibuntu yang terkenal dengan tahu nya itu, rombongan bergegas menjauh ke Bandung Timur, ke rumah Aldi di Riung Bandung. Setelah itu, KK mengunjungi rumah Jardika di daerah Margahayu. Tapi ternyata itu belum selesai, KK juga menyambangi rumah Mba Tarlen, pemilik Tobucil, di kawasan Gudang Selatan.

Ini dia foto-fotonya:

Jardika bermain gitar di kediaman Kristianus


Ini Aldi bermain di rumah Kristianus


Kediaman Mas Yunus

Tahu Cibuntu di kediaman Kang Aka

Wednesday, August 24, 2011

KlabKlassik: Discovering Music in Ourself

Minggu, 21 Agustus 2011

Hari Minggu itu Tobucil kedatangan oleh-oleh dari Jerman. Berupa pengalaman yang dibawa oleh Fiola Christina Rondonuwu. Ia baru saja mengikuti sebuah festival musik di sana selama kurang lebih dua minggu. Lewat forum KlabKlassik ia berbagi.

Berbekal power point dan catatan yang cukup panjang, Fiola membagikan sejumlah pengalamannya selama di sana. Mula-mula ia berbagi tentang usia dengan pertanyaan kritis, "Apakah usia berpengaruh dalam belajar musik?" Menurutnya, "Pengaruh pasti ada, tapi soal apakah orang lanjut usia bisa belajar musik, jawabannya bisa!" Jawaban ini ia peroleh setelah menyaksikan sendiri wanita berusia 65 tahun di festival musik tersebut, masih mempelajari vokal dan bahkan bernyanyi dengan sangat baik. Fiola juga meminta forum untuk mengetik kata kunci Late Bloomer di Wikipedia untuk mengetahui banyak orang yang justru produktif di masa tuanya.

Bahasan berikutnya, Fiola menceritakan tentang sikap apa yang mendukung seseorang dalam belajar musik. Ia menyebutkan kalimat kuncinya, "Bahwa seseorang mesti tahu alasannya bermain musik, dan sebaiknya itu memang ditujukan untuk dirinya sendiri." Dengan mempunyai alasan kuat, ia bisa beradaptasi dengan lingkungan yang ketat seperti yang disaksikannya di Jerman sana. Di Jerman, kompetisinya amat keras dan nyaris tidak ada toleransi. Terlambat hingga 30 detik dapat diceramahi hingga nyaris setengah jam. Fiola pun tidak jarang menemukan sesama pemain saling mengritik secara pedas. Fiola juga menambahkan, "Sikap-sikap lain seperti rendah hati, disiplin, kontrol ego, dan sikap baik juga sangat mendukung dalam belajar musik." Di akhir kalimat Fiola sering menambahkan, "Tidak cuma dalam belajar musik, tapi juga dalam kehidupan pada sehari-hari."

Fiola tengah mempresentasikan pengalamannya (kiri)

Fiola juga menjelaskan tentang bagaimana latihan musik yang baik, mulai daristretching (peregangan), tuning (penalaan), pemanasan (dengan memainkan tangga nada misalnya), memainkan lagu, membuat catatan latihan dan membuatprogress latihan. Soal ini Mas Yunus bertanya, "Bagaimana cara agar kita bisa rajin latihan?" Fiola menjawab, "Mula-mula coba letakkan instrumen di tempat yang mudah kelihatan dan dekat dengan sehari-hari kita. Di samping tempat tidur misalnya." Mba Tarlen juga menambahkan, "Teknik sungguh penting. Karena orang yang mau berkreasi secara bebas pertama-tama harus melampaui teknik dasar dulu hingga mumpuni."

Penjelasan dari Fiola berlangsung cukup panjang dan bahkan hingga empat jam. Dipotong oleh buka puasa, Fiola melanjutkan lagi dengan berbagi soalperformance atau penampilan. Fiola meminta forum untuk maju ke depan orang demi orang untuk mempraktekkan tata cara berjalan ke panggung, hormat, memulai dan mengakhiri lagu, hingga meninggalkan panggung. Ternyata semuanya mengandung detail-detail yang menarik. Kata Fiola, "Performancedimulai bukan ketika lagu dimulai, tetapi ketika kita mulai menjejak panggung."


Pertemuan hari itu pun ditutup dengan manis. Dengan duet Fiola dan kekasihnya, Bilawa, memainkan Waltz of the Flowers-nya Tchaikovsky. Setelah itu Fiola tampil sendiri, membuat sendu beranda Tobucil dengan lagu Allemande dari Johann Sebastian Bach.

Monday, August 15, 2011

Discovering Music in Ourself: Berbagi Pengalaman Mengikuti Sebuah Festival Musik di Jerman

Fiola Christina Rondonuwu, seorang violinis dan juga mahasiswi jurusan Arsitektur ITB, mendapat kesempatan untuk mengikuti InterHarmony Festival Musik Internasional yang diselenggarakan di kota Hinterzarten/Schwarzwald - Birklehof, Jerman Selatan, minggu-minggu kemarin. Selama dua minggu itu, ia mendapatkan banyak sekali pengalaman mengenai pegembangan kemampuan musik, pencapaian pertumbuhan artistik, peningkatan pelatihan profesional, serta jaringan dengan sesama musisi dan tampil di konser.

Atas dasar pengalaman berharga yang sudah diperolehnya, Fiola berniat untuk berbagi sekaligus mendiskusikannya di Tobucil pada hari Minggu, 21 Agustus 2011 jam 15.00 - 17.00. Diskusi akan berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  • Apakah umur berpengaruh dalam belajar musik?
  • Sikap/ attitude seperti apa yang bisa membantu dalam belajar musik dan berkembang lebih lanjut?
  • Bagaimana cara berlatih yang baik dan benar?
  • Bagaimana cara untuk melatih penampilan agar baik dan benar?

Sharing dan diskusi ini gratis dan terbuka untuk umum.

Saturday, August 06, 2011

KlabKlassik Edisi Playlist #8: Dari Haydn sampai Zappa

Minggu, 31 Juli 2011

KlabKlassik Edisi Playlist #8 mengusung tema "Musik Religi". Musik religi yang dimaksud bukan seperti Haddad Alwi atau Maher Zain, melainkan "musik apapun yang meningkatkan spiritualitasmu". Keenam orang yang hadir membawa musiknya dalam flashdisk. Semuanya bercerita tentang kisah dibalik musik yang ia bawa, ternyata suasana spiritual tidak bisa dihindari.

1. Joseph Haydn - String Quartet in D Minor
Lagu pembuka ini diusung oleh Mba Tarlen. Mengingatkan ia pada pengalamannya menemani proses rekaman Djava String Quartet (kuartet gesek dari Yogya). Proses rekamannya berlangsung dari jam delapan malam hingga lima pagi, materinya ya lagu Haydn ini. Bagi Mba Tarlen sendiri, ia terkesan pada ambience yang dihasilkan oleh ruangan dan juga karya itu sendiri, "Seperti bertemu Yesus Kristus." Pembahasan meluas menjadi bagaimana band-band dulu, yang proses rekamannya masih analog, mencari tempat-tempat rekaman yang ambience-nya disesuaikan. Mereka tidak mengandalkan efek-efek digital seperti sekarang. Misalnya Pink Floyd yang kata Mas Ismail Reza pernah rekaman di kastil berhantu.

2. Dream Theater - Spirit Carries Within
Lagu yang dibawa oleh Mas Yunus ini baginya sangat spiritual. Katanya, "Tengok liriknya:"

Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

Untuk Dream Theater yang biasa memainkan rock progresif yang cepat, lagu ini agak anomali. Dream Theater memainkan sebuah lagu balad bertempo lambat. Di tengah-tengah, sayatan gitar John Petrucci mengundang komentar Mas Reza, "Bagian ini yang bikin lagu tersebut terasa religius."

3. Burzum - Kaimadaltas Nedstigning
Lagu yang dibawa oleh Mas Ismail Reza ini mengusung genre Black Metal. Artis dari Norwegia tersebut memang menawarkan isu religi. Burzum "marah" pada agama Kristen yang notabene telah mendominasi kepercayaan di Norwegia yang tadinya beragama pagan (menyembah Thor, Odin, dsb). Di lain kesempatan, Burzum juga pernah membakar beberapa gereja. Namun, kata Mas Reza, "Burzum sudah tepat, ia menyerang institusinya. Ia tidak pernah menyerang personal manusia yang memeluk agama. Yang ia serang adalah klaim sepihak dari gereja yang sering menuduh pagan sebagai sesat." Lagunya sendiri berdurasi cukup panjang dengan distorsi sangat tinggi namun anehnya bertempo lambat. Rudi menyebutnya, "Aneh, metal biasanya bikin segar, tapi ini bikin ngantuk."

4. Steve Reich - Tehilim
Lagu yang ditulis tahun 1981 ini berdurasi sebelas menit. Ditulis oleh komposer minimalis AS, Steve Reich. Materi lagunya adalah ayat-ayat yang diambil dari kitab suci Yahudi, yang kemudian dinyanyikan oleh choir. Dengan apik, Steve Reich menjadikan komposisinya bergaya canon atau sahut-sahutan susul-menyusul. Meskipun durasinya panjang, namun peserta Playlist cukup betah mendengarkannya. Hal tersebut diperkuat Diecky kala pertama jatuh cinta pada Tehilim, "Aku menemukan ini di rumah Mas Slamet Abdulsjukur. Mendengarkannya sungguh membuatku terlena, seperti dzikir." Lagu tersebut juga merangsang Diecky untuk membuat sebuah karya yang bermaterikan ayat Al-Qur'an, tapi kemudian dikomposisi ulang.

5. Frank Zappa - G-Spot Tornado
Lagu Frank Zappa ini dibawa oleh saya. Menghadirkan sebuah komposisi cepat yang diramu oleh Zappa dengan teknologi komputer yang ia kuasai. Yang menjadi menarik adalah motif Zappa membuat karya ini. Kata Diecky, "Zappa berambisi membuat karya yang tidak bisa dimainkan oleh manusia." Meski demikian, menjelang akhir hayatnya, Pierre Boulez dan orkestranya sanggup mengimitasi G-Spot Tornado dengan sangat cantik. Zappa yang meninggal setahun setelah orkes tersebut manggung memainkan karyanya, mengatakan, "Boleh saja manusia menirunya, tapi tetap saya yang harus menjadi konduktornya." Demikian sang maestro meninggal dengan wasiat yang mengesankan.

6. Pearl Jam - Sometimes
Lag yang dibawa oleh Mba Tarlen ini diambil dari album Pearl Jam yang "gagal" yaitu No Code. Dianggap gagal karena hanya terjual 500.000 kopi dan isi dari album tersebut hampir semuanya bertempo lambat. Tidak ada grunge cepat yang menjadi khas Pearl Jam di album seperti Ten. Mba Tarlen merasa bahwa meski Eddie Vedder sang vokalis dikenal ateis, tapi dalam lagu ini ia menunjukkan sisi spiritualitasnya. Terlihat dari liriknya yang mendalam, menyiratkan kerinduannya pada Tuhan:
Sometimes I know sometimes I rise
Sometimes I fall sometimes I don't
Sometimes I cringe sometimes I live
Sometimes I walk sometimes I kneel
Sometimes I speak of nothing at all...
Sometimes I reach to myself, hear God..

7. Ennio Morricone - Gabriel's Oboe
Gabriel's Oboe adalah lagu kedua yang dibawa oleh Mas Yunus. Diambil dari film The Mission. Ceritanya Gabriel, seorang misionaris, berjalan menuju air terjun dan ia meniupkan oboe nya. Di belakangnya, menguntit beberapa orang dari suku setempat yang siap membunuh sang pastur. Namun mereka urung karena mendengar suara oboe nya yang begitu menyayat. Bagi Diecky, ini sangat spiritual, "Ketika kamu punya satu nafas terakhir sebelum mati, apa yang kamu lakukan?"


KlabKlassik Edisi Playlist #8 seolah menunjukkan adanya upaya untuk mendahului MUI yang masih sibuk menentukan awal mula Ramadhan. Karena di Tobucil kemarin, kegiatan spiritual sudah dimulai sebelum Ramadhan ditentukan.

From French with a Lot of Surprises: Liputan Resital Violin dan Viola Satryo Aryobimo Yudomartono

Oleh: Bilawa Ade Respati

Rabu, 13 Juli 2011

Malam itu tidak berlebihan rasanya jika penampilan Satryo Aryobimo Yudomartono, yang akrab dipanggil Bimo, disebut pertunjukan yang special dan penuh kejutan. Penampilan Bimo menyuguhkan kenangan dan kesan tersendiri bagi para penontonnya malam itu dengan suguhan pilihan repertoar, pembawaan, dan permainan instrumennya. Resital dengan judul “Violin and Viola Recital” itu dipertunjukan di Auditorium CCF Bandung pada Rabu (13/7/11) yang lalu. Penampilan Bimo malam itu dinanti oleh banyak penonton, setelah sebelumnya ia “absen” dari pertunjukan musik klasik di Bandung karena studinya di Perancis.

Resital dibuka dengan karya Georg Philipp Telemann, Fantaisie no.9 TWV 40:32. Bimo masuk panggung yang ditata pencahayaannya dengan hangat dan serius. Suasana yang sempat agak tegang ini langsung dicairkan oleh Bimo dengan mengajak penonton bertepuk tangan sambil berjalan masuk. Setelah karya solo dari Telemann, Bimo menampilkan berturut-turut Fantaisie Op. 94 (Hummel), movement pertama dari Concerto in C Minor Op.25 (Bowen), dan Beau Soir (Debussy). Akompanimen piano dari Andrew Sudjana mengiringi kepiawaian Bimo menggesek violin dan viola.

Kemampuan teknik Bimo memukau penonton, terutama pada karya romatik dari Bowen yang menuntut presisi tinggi pada rangkaian scale dan arpeggio, disamping menjaga keindahan estetika yang menjadi ciri romantisisme. Karya Beau Soir, ia persembahkan untuk mendiang kakeknya yang telah berpulang. Alunan melodi khas Debussy memancing suasana haru. Bimo terlihat menitikan air mata, sambil samar-samar terdengar isak tangis yang mungkin berasal dari kerabatnya. Karya yang sangat sentimental ini menutup babak pertama recital dengan tepuk tangan puas dari penonton.

Babak kedua dibuka dengan penampilan karya 3 Pieces for 2 Violin and Piano (Shostakovich) yang Bimo bawakan bersama violinis Fiola Christina Rondonuwu dan pianis Dina Kamalita. Hal yang cukup mengejutkan penonton setelah karya Shostakovich adalah kemunculan MC yang mengatakan bahwa, “Penonton dipersilahkan untuk memotret dengan blitz, menyalakan telepon genggam, bertepuk tangan kapanpun mereka mau, dan ikut bernyanyi jika mengetahui lagu yang dibawakan.” Penonton terlihat sangat penasaran dengan bentuk pertunjukan di babak kedua ini.

Bimo kembali ke atas panggung bersama pianis Fero Aldiansya Stefanus. Bimo bersama dengan Fero menyuguhkan penampilan yang sangat kontras dengan babak pertama. Penampilan pada babak ini sangat komikal, ekspresif, dan penuh kenakalan. Fero dan Bimo seolah sedang bermain-main dengan musik yang mereka bawakan. Lagu – lagu popular dari Czardas, beberapa aransemen jazz, bossa nova, dan tango sukses membuat penonton ikut tertawa dan bersorak.

Bimo sukses mengajak penonton menyanyi bersama saat memainkan medley lagu film animasi anak-anak seperti Doraemon, Sailor Moon, dan Sponge Bob. Bahkan Bimo sempat keluar panggung dan tiba-tiba muncul di belakang penonton. Guru violin-nya dulu, Ammy Kurniawan (4Peniti), di-“paksa” untuk naik panggung bersamanya memainkan improvisasi pada lagu Panon Hideung dan Duo Etude karya Ammy Kurniawan. Bimo dan Fero makin menguasai panggung saat menyuguhkan karya Libertango (Piazzolla) dan encore yang merupakan medley dari lagu-lagu pop justin Bieber, Britney Spears, 7 Icon, dan Smash. Mereka melompat-lompat, berjoget, memukul-mukul instrumen mereka, bahkan mengenakan kaca mata hitam sebagai properti.

Penonton pulang dengan sangat puas, terlihat dari standing applause yang diberikan oleh penonton. Sebuah recital yang lain dari biasanya, karena Bimo berhasil menarik penonton untuk ikut dalam alur musikalnya, dengan rentang repertoar yang luas dan beragam. Bimo kini masih melanjutkan studinya di Perancis di Conservatoire Rayonement Regional de Boulogne-Billancourt dibawah bimbingan Sébastien Levy dan Damien Nedonchelle. Bimo tergabung di beberapa orkes di Perancis diantaranya Orcheste Sostenuto (Direction Takashi Kondo) dan Orchestre de la Cite International de Paris (Direction Julien Leroy & Adrian McDonnell) dan telah mendapat Diplôme d’Etudes de Musique Violon di tahun 2009. Benar-benar sebuah recital yang spesial oleh Satryo Aryobimo!



Foto oleh: Hilmiani Yudomartono dan Arief Darmawan

Monday, July 25, 2011

Musik Klasik masuk Pesantren

Minggu, tanggal 24 Juli kemarin, KlabKlassik dipercaya untuk mempresentasikan program-programnya di Pesantren Manba'ul Huda, daerah Cijawura. Hal tersebut dimungkinkan karena sang kepala sekolah, Rosihan Fahmi, menginginkan adanya sentuhan musik bagi siswa-siswinya. Katanya, "Agar pola berpikir mereka tidak jadi hitam putih."

Musik (as-sama') bukanlah sesuatu yang terlalu akrab dengan dunia keislaman, setidaknya itu yang menjadi stereotip. Aliran-aliran tertentu dalam Islam bahkan mengharamkan musik. Contoh konkritnya ada di Afghanistan. Ketika Taliban menguasai pemerintahan, mereka yang ketahuan memutar musik di rumah atau di mobilnya, akan dihukum. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa musik punya efek "memabukkan". Dalam kadar tertentu, musik dipercaya dapat membuat insan pendengarnya "melupakan Allah".

Namun pertanyaan kritisnya, apakah dengan demikian tidak ada musik dalam tubuh Islam itu sendiri? Coba dengarkan lantunan adzan ataupun seseorang yang mengaji. Dengan sentuhan "musikal" atau nilai-nilai estetika dalam lantutan tersebut, adzan ataupun ayat-ayat Al-Qur'an bisa lebih masuk ke hati daripada jika diucapkan secara datar. Aliran dalam Islam lainnya, seperti sufisme, bahkan mewajibkan musik sebagai syarat untuk tawajjud alias ekstase. Dalam ekstase ini, makhluk bersatu dengan khalik, tiada perbedaan antara keduanya. Artinya, haramnya musik adalah tergantung dari penggunaannya. Musik itu sendiri secara an sich barangkali susah didefinisikan. Karena apapun bisa jadi musik, seperti bunyi curahan air hujan atau orkestra kodok di sawah. Yang terpenting, tujuan dari penggunaan musik itu sendiri bukanlah untuk menjauhkan diri dari yang khalik. Melainkan justru untuk lebih mengenal-Nya.

Pro dan kontra, halal dan haramnya musik tidak menjadi halangan bagi KK untuk mengenalkan musik klasik di Pesantren Manba'ul Huda. Setiap hari Minggu jam 10.30, KK mendapat kesempatan untuk berbagi dan mengupayakan insan pendengarnya untuk menghargai apapun yang mereka dengarkan. Selain itu, KK juga akan berbagi tentang dasar-dasar bermain musik dalam format solo maupun ensembel. Tidak ada harapan berlebihan yaitu si murid harus mencapai tawajjud. Tujuannya sederhana saja, selain mengasah hati seperti yang kepala sekolah siratkan tadi, KK juga ingin membuat siswa-siswi pesantren mengenal musik secara lebih mendalam, sebagai salah satu ciptaan Allah yang agung.

KlabKlassik Edisi Playlist #8: Menyambut Ramadhan dengan Musik Religi


Secara sederhana, religi diartikan sebagai sistem kepercayaan. Lebih dari itu, religi biasanya dikaitkan dengan "sistem kepercayaan yang ditujukan untuk membangun spiritualitas". Contoh kegiatan religi yang cukup besar yakni Bulan Ramadhan - yang akan disambut oleh umat Islam dalam beberapa hari lagi saja-. Di dalamnya terkandung seperangkat latihan untuk membangun spiritualitas, mulai dari puasa dan shalat malam bersama-sama. Atas dasar itu, -sehubungan dengan kedekatannya dengan Ramadhan- pertemuan KlabKlassik Edisi Playlist berikutnya akan bertemakan "musik religi" atau jika dimaknai secara bebas: "Musik yang kamu percayai telah berhasil membangun spiritualitasmu".

Pertemuan ini akan berlangsung hari Minggu, tanggal 31 Juli 2011 jam 14.30 sampai 17.30. Sistem kepercayaan edisi playlist ini masih sama, yaitu masing-masing orang membawa satu lagu "religi"-nya dalam flashdisk, yang nantinya akan didengarkan sama-sama lewat laptop dan speaker yang sudah disediakan oleh pihak kami. KlabKlassik Edisi Playlist ditujukan untuk membangun kesadaran apresiasi, lewat saling mendengarkan musik yang barangkali bukan yang disukainya. Acara ini rutin dipandu oleh dua komentator yaitu Ismail Reza dan Diecky K. Indrapraja. Pertemuan akan dilaksanakan di Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Terbuka untuk umum dan gratis.

Musik Klasik di Halaman Belakang

Akhir pekan di Bandung seringkali tidak membuat saya merasa bisa menikmati terputusnya siklus rutinitas. Kemacetan yang setia menanti dalam perjalanan biasanya membuat saya memilih untuk tinggal di rumah saja. Namun, hari itu saya memilih untuk menembus antrian panjang kendaraan, berputar-putar melewati jalur-jalur alternatif yang bisa membawa saya sampai ke Rumah Buku/Kineruku, sebuah perpustakaan yang terletak di Hegarmanah. Hari itu saya menginginkan akhir pecan bersama teman-teman, jauh dari keramaian, melakukan hal yang saya sukai, menikmati musik, lalu mengobrol tentang banyak hal; menikmati waktu istirahat.

Malam itu, Sabtu 23 Juli 2011, Rukustik #3 diadakan di Kineruku. Sebuah acara yang terselenggara atas kerjasama KlabKlassik dan Kineruku, yang juga didukung oleh teman-teman ITB Student Orchestra (ISO). Acara ini bertajuk, “Everything You Always Wanted to Know About Classical Music but Were Too Afraid to Ask.” Merupakan sebuah gagasan yang mencoba membangun komunikasi yang lebih baik antara penampil musik klasik dengan penonton, serta membawa musik klasik ke publik yang lebih luas dengan mempertunjukannya di luar suatu gedung konser.



Acara dimulai pukul tujuh malam, dibuka oleh Ariani Darmawan pemilik Kineruku dan Syarif Maulana dari KlabKlassik. Penonton disuguhi Air on G String karya Johann Sebastian Bach yang dibawakan dalam format ensemble biola dan flute dari teman-teman ISO. Kemudian disusul dengan penampilan gitar Ryan Sentosa yang membawakan karya Giulliani, Sonata Op. 15. Suasana yang awalnya agak ‘tegang’ mulai mencair saat duet Syarif Maulana dan Lutfi Farabi memainkan Polonaise Concertante dengan sangat ‘jujur’: kita akan menemui mereka janjian untuk memulai permainan, mengulangi satu bagian jika ada kesalahan, dan sekaligus melihat betapa mereka menikmati permainan di atas panggung.

Rentang karya yang dibawakan malam hari itu mencakup era renaisans hingga modern. Setelah duet Syarif dan Lutfi berturut-turut penonton disuguhi solo piano Todora membawakan Valse milik Chopin, duet violin piano oleh Ecko dan Ibrahim membawakan Humoresque karya Dvorak, duet violin Nabila dan Fida membawakan Hungarian Dance No.5 karya Brahms, Autumn Song karya Hohmann oleh duet violin Mei dan Poppy. Saya sendiri kemudian dapat giliran untuk menampilkan Koyunabab karya Domeniconi, kemudian disusul penampilan ensemble gitar Ririungan Gitar Bandung membawakan La Cumparsita karya Matos Rodriguez yang diaransemen composer Diecky K. Indrapraja dan Canarios karya Gaspar Sanz. Sesi penampilan ditutup oleh trio Ibrahim, Mei, dan Akbar membawakan Elegie karya Sostakovich. Mood dari periode late-romantic/modern kental sekali dalam komposisi ini, dalam alunan suara piano dan sahut-sahutan duet violin.


Penampilan Ensembel Gitar KlabKlassik alias Ririungan Gitar Bandung (RGB)
Foto oleh Wahdini Degayanti


Sesi diskusi kemudian dimulai, dipandu Ariani Darmawan dan Syarif Maulana. Tema pembicaran terpusat pada topik pengistilahan “classical music” serta pemaknaannya. Komposer Diecky K. Indrapraja serta dosen apresiasi musik Bapak Tono Rachmad ikut serta memberikan jawaban-jawaban dari sudut pandang akademisi. Beberapa penonton ikut serta dalam diskusi, walau topic yang kemudian berkembang menurut saya pribadi menjadi cukup berat bagi penonton yang masih awam. Pembedaan kata “classical”, “classic”, lalu kemudian berlanjut hingga pembahasan mengenai hubungan “kelas” dengan “musik” pada periodisasi tertentu. Acara ditutup oleh penampilan ISO membawakan bagian Largo dari komposisi Winter karya Vivaldi.

Merupakan sebuah pengalaman baru yang menyenangkan, di mana saya seperti mendapatkan akhir pekan saya kembali. Setiap orang menikmati pertunjukan dan seolah enggan untuk lansung membubarkan diri, masih memilih untuk mengobrol satu sama lain seusai acara. Bagi saya, acara ini seperti sebuah eksperimen. Di mana percobaannya adalah mencoba membawa musik klasik ke ruang-ruang publik yang lebih luas. Mencoba memberikan kesempatan kepada musisi-musisi muda untuk mendapatkan kesempatan perform. Mencoba menjembatani kaum akademisi, seniman, masyarakat umum untuk duduk bersama kemudian berbagi cerita, dengan satu sama lain mempelajari bahasa yang digunakan oleh masing-masing pihak. Akhir pekan yang memuaskan, dengan sajian musik klasik di halaman belakang.

Bilawa Ade Respati

Wednesday, July 20, 2011

Program KlabKlassik Akhir Minggu

Rukustik #3: Everything You Always Wanted to Know About Classical Music, but Were Affraid to Ask
Sabtu, 23 Juli 2011
Kineruku, Jl. Hegarmanah no. 52
19.00-21.00
(Konser dari KlabKlassik dan ITB Student Orchestra, diselingi dengan diskusi. Gratis.)

Workshop Apresiasi Musik
Minggu, 24 Juli 2011
Pondok Pesantren Al-Huda, Cijawura
09.00-12.00
(Perkenalan KlabKlassik pada siswa-siswi pesantren. Memasukkan musik sebagai suplemen dalam kehidupan beragama)

Munggah
Minggu,24 Juli 2011
Garasi 10, Jl. Rebana no. 10
18.00 - 21.00
(Acara musik yang digelar di garasi rumah sebagai bentuk penghayatan pra-Ramadhan. Menampilkan Orkes Keroncong Jempol Jenthik dan dibuka oleh KlabKlassik. Gratis.)

Belajar Musik bersama KlabKlassik
Minggu, 24 Juli 2011
Maestro 92,5 FM
22.00-23.00
(Program radio rutin setiap hari Minggu. Diisi oleh KlabKlassik yang pada hari itu akan berbicara tentang istilah musik klasik itu sendiri.)

Monday, July 18, 2011

Rukustik #3: KlabKlassik feat. ITB Student Orchestra (Konser dan Diskusi)




Rukustik #3: KlabKlassik featuring ITB Student Orchestra

Konser & Diskusi
Sabtu, 23 Juli 2011
Pk 19:00 WIB
(harap datang 15 menit sebelumnya)
Gratis.

Kineruku
Jl. Hegarmanah 52
Bandung

.

Musik klasik adalah istilah yang sering kita dengar. Namun, penggunaannya seringkali mengalami kerancuan. Misalnya, apakah musik klasik itu berarti musik ‘lama’, sehingga musik The Beatles atau Frank Sinatra pun dapat dikategorikan musik klasik? Atau, musik klasik itu adalah musik-musik non-populer? Bagaimana dengan Mozart dan Beethoven, bukankah mereka sebenarnya populer di jamannya? Dan lagi, atas barometer apakah suatu musik dapat dikategorikan sebagai musik populer?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jarang sekali ditanyakan. Orang sudah kadung menggunakan kata ‘musik klasik’ secara semena-mena. Ujung-ujungnya, karena pertanyaan-pertanyaan tadi dilupakan, tidak jarang istilah ‘musik klasik’ secara sederhana didefinisikan sebagai ‘musik yang eksklusif’. Titik. Atau dalam kalimat yang lebih lengkap, “Musik klasik adalah musik yang berat, berkelas, dan hanya mampu menjangkau kalangan tertentu.”

Atas dasar itu, kami merasa perlu mengadakan dialog mengenai musik klasik itu sendiri lewat sebuah konser sekaligus diskusi. Concert hall adalah tempat biasa digelarnya pertunjukan musik klasik, namun di sana minim kesempatan untuk berinteraksi dua arah, sehingga penonton yang datang seringkali manggut-manggut saja menikmati apapun yang tersaji. Acara Rukustik yang diadakan secara regular di Kineruku dipilih karena keinginan kami untuk mendekatkan pemain dan penonton, yang diharapkan dapat bertanya dan bersikap kritis terhadap musik yang dibawakan. Dengan demikian, terbuka kemungkinan adanya pemilahan secara jernih antara bungkus dan isi musik klasik. Mana yang esensial, dan mana yang semata-mata berperan sebagai pembentuk stereotip ‘berat dan eksklusif’.

.

Repertoire yang dibawakan:

“Sonata Op. 15 Mov. 1″
Ciptaan: Mauro Giulliani
Penampil: Ryan Sentosa
Instrumen: Gitar (solo)

“Polonaise Concertante”
Ciptaan: Mauro Giulliani
Penampil: Syarif & Lutfi
Instrumen: Gitar (duet)

“Valse Op. 69 no. 2″
Ciptaan: Frederic Chopin
Penampil: Todora Nadya T. Silitonga
Instrumen: Piano (solo)

“Humoresque”
Ciptaan: Antonin Dvorak
Penampil: Ecko F. Manalu & Ibrahim
Instrumen: Violin & Piano (duet)

“Hungarian Dance no. 5″
Ciptaan: Johannes Brahms
Penampil: Nabila Khrisna & Fida Amalia
Instrumen: Violin (duet)

“Autumn Song”
Ciptaan: Hohmann
Penampil: Arina Resyta & Poppy Rahayu
Instrumen: Violin (duet)

“The Swan”
Ciptaan: Cammile Saint-Saëns
Penampil: Aminah Nuraini, Aulia Fajar Rahmani, Guntario Sukma Cahyani, Irvito Adhy Sanjaya & Pandu Narendradewo
Violin & Piano (ensemble)

“Koyunbaba”
Ciptaan: Carlo Domeniconi
Penampil: Bilawa Ade Respati
Instrumen: Gitar (solo)

“La Cumparsita”
Ciptaan: Matos Rodriguez (arr. Diecky K. Indrapraja)
Penampil: Ririungan Gitar Bandung
Instrumen: Gitar (ensemble)

“Canarios”
Ciptaan: Gaspar Sanz
Penampil: Ririungan Gitar Bandung
Instrumen: Gitar (ensemble)

“Elegie”
Ciptaan: Dimitri Sostakovich
Penampil: Ibrahim Adrian Nugroho, Meirita Artanti Putri, Teuku Fawzul Akbar
Instrumen: Violin & Piano (ensemble)

.

Profil Penampil KlabKlassik

Bilawa Ade Respati
Belajar gitar secara serius mulai di usia 14 tahun pada Benjamin Limanaw dan kemudian pada Ridwan B. Tjiptahardja. Beberapa kali resital bersama grup trio Tiga Gitar dan kuartet Tiga Gitar Plus Satu (2008, 2009), duet dengan Widjaja Martokusumo (Romantic Music at Kerkhoven, 2009) serta berpartisipasi dalam konser di Bandung maupun Jakarta. Beberapa kali mengikuti kompetisi musik, juara 2 Yamaha Student Contest tingkat Jabar, Jabodetabek, dan Sumatera (kategori senior, Jakarta, 2007), juara 1 Yamaha Student Contest tingkat kota Bandung (kategori senior, Bandung, 2007), dan finalis dari Kompetisi Gitar Klasik UNY (Yogyakarta, 2006). Aktif di komunitas KlabKlassik, Ririungan Gitar Bandung, sebagai freelance acoustician/building physics engineer, dan mengajar gitar klasik.

KlabKlassik Guitar Duo
Merupakan proyek kolaborasi antara gitaris Syarif Maulana dan Luthfi Farabi.

Luthfi Farabi adalah gitaris dan pengajar di Sinfonia Music Center, belajar gitar pada gitaris Ridwan B. Tjiptahardja. Aktif berpartisipasi dalam konser di Bandung dan pernah menyelenggarakan resital tunggal (A Guitar Recital by Luthfi Farabi, 2010).

Syarif Maulana belajar gitar klasik sejak usia 12 tahun pada Kwartato Prawoto dan Ridwan B. Tjiptahardja. Pada tahun 2005 bersama kawan-kawan mendirikan KlabKlassik. Aktif mengikuti berbagai konser, ujian, maupun kompetisi. Pada tahun 2006, Syarif menyelenggarakan resital tunggal debutnya pada usia 20 tahun di Auditorium CCF. Syarif juga menjuarai beberapa kompetisi, seperti juara III Bandung Spanish Guitar Festival dan juara harapan III Festival Gitar Nasional Excellent di Jakarta.

Tidak hanya di bidang musik klasik, Syarif juga bermain secara reguler di hotel maupun kafe seperti Hilton, Sheraton, Papandayan, Selasar Sunaryo, dan Cafe Rumah 1930. Sekarang Syarif aktif sebagai pengajar gitar klasik di sekolah musik Allegria; menjadi koordinator KlabKlassik di Tobucil; aktif mengajar filsafat di Tobucil maupun di rumahnya, Garasi 10; menulis untuk blog pribadi dan blog Tobucil; serta menjadi dosen mata kuliah Logika di Universitas Padjajaran. Meski demikian, cita-cita tertinggi Syarif adalah menjadi pelatih sepakbola profesional.

Ririungan Gitar Bandung
Ririungan Gitar Bandung adalah ensemble gitar yang terbuka untuk umum, berlatih dan bersilaturahmi setiap 2 minggu sekali di hari minggu siang. Anggotanya tidak pernah tetap karena merupakan ensemble yang sangat terbuka, memberikan kesempatan berapresiasi dan tampil bersama bagi siapa pun. Pernah mengadakan konser Ririungan Gitar Bandung: Maen (2009) serta berpartisipasi dalam beberapa konser di Bandung. Anggotanya saat ini adalah Yunus Suhendar, Kristianus Tri Adisusanto, Ato Hardianto, Aldi, Syarif Maulana, dan Bilawa Ade Respati.

.

Profil Penampil ITB Student Orchestra

Ecko F. Manalu adalah lulusan teknik informatika ITB, aktif sebagai violinist ITB Student Orchestra, violinist dan mellophonist St. Laurentius Chamber Orchestra, dan pemain french horn Pavana Woodwind Quintet. Selain itu Ecko juga aktif di GKI Maulana Yusuf String Ensemble sebagai violinist dan arranger, pengajar Padus GKI Gatot Subroto.

Ibrahim Adrian Nugroho mulai belajar piano di bawah bimbingan Bapak Dwi di Braga Musik School Bandung pada saat kelas 5 SD, kemudian melanjutkan bimbingan piano di bawah asuhan Bapak Stephen Michael Sulungan. Ibrahim lulus ujian teori musik pada tahun 2006 dan ujian praktik Associated Board of the Royal Schools of Music (ABRSM) tingkat 8 pada tahun 2007.

Nabila Khrisna Dewi adalah mahasiswa Fisika ITB angkatan 2008. Mulai belajar biola sejak November 2008.

Fida Amalia Fathimah adalah mahasiswa Teknik Industri ITB angkatan 2007 dan telah aktif di ITB Student Orchestra sejak tahun 2008.

Ryan Sentosa
Ryan Sentosa adalah mahasiswa ITB angkatan 2010 yang belajar bermain gitar sejak 2006. Ia mengikuti les gitar klasik selama 2 tahun di Purwacaraka.

Aminah Nuraini adalah mahasiswa Teknik Informatika ITB 2009 yang belajar memainkan biola sejak 2009 dari I Nyoman Mahendra.

Aulia Fajar Rahmani belajar musik tahun 2007-2008 secara privat dan dilanjutkan tahun 2010 lewat ekskul musik SMAN 3 Bandung. Kini ia mahasiswa Teknik Lingkungan ITB angkatan 2010.

Guntario Sukma Cahyani mahasiswi Sains dan Teknologi Farmasi ITB angkatan 2009, belum lebih dari setahun belajar piano dibawah bimbingan Lina.

Irvito Adhy Sanjaya, mahasiswa Manajemen Rekayasa Industri ITB 2010, mempelajari musik flute sejak 2007 di bawah bimbingan Hery Udo dan biola di bawah bimbingan Weny Daratama.

Pandu Narendradewo mahasiswa SBM ITB angkatan 2009 yang mulai belajar musik sejak SMP. Ia pernah dibimbing oleh I. Nyoman Mahendra dan Ammy C. Kurniawan.

Arina Resyta, mahasiswa Arsitektur ITB angkatan 2010, belajar piano sejak kelas 6 SD hingga kelas 3 SMP. Mulai belajar bermain biola di kelas 2 SMP, namun tidak berlangsung lama. Kini Arina mulai mengikuti les biola di Swara Moriska.

Poppy Rahayu belajar musik dari tahun 2002 di sekolah musik Chic’s. Saat ini ia berkuliah di jurusan Seni Lukis FSRD ITB, angkatan 2010.

Meirita Artanti Putri adalah mahasiswa Planologi ITB 2007 yang pertama kali bermain biola saat SMA lewat bimbingan Henry Virgan.

Teuku Fawzul Akbar adalah mahasiswa Teknik Fisika ITB 2009, belajar biola sejak 2008 pada I Nyoman Mahendra.

Todora Nadya T. Silitonga Dora, mahasiswi Sains dan Teknologi Farmasi ITB angkatan 2010, belajar musik sejak kelas 1 SD di Pekanbaru.

.

Tentang KlabKlassik

KlabKlassik (KK) adalah komunitas dan ruang apresiasi musik klasik yang berdiri di Bandung pada tanggal 9 Desember 2005. Dasar kemunculannya tidak lepas dari stereotip orang kebanyakan yang menganggap musik klasik sebagai musik yang eksklusif, kompleks, berat, dan serius. Meski stereotip itu terkadang ada benarnya, namun musik klasik ternyata bisa “terjangkau”, santai, sederhana, dan membumi juga, jika berhasil memilah mana yang menjadi inti, dan mana kemasannya. Sebagai upaya untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, KlabKlassik mencobanya lewat berbagai acara diskusi santai, konser musik klasik yang jauh dari kesan eksklusif, serta keterbukaan tukar pikiran via milis maupun blog.

Pada awal didirikannya, KlabKlassik hanya diniatkan sebagai kelompok musik insidental yang tampil pada acara JazzAid: Jazz untuk Korban Tsunami pada Februari 2005. Kala itu yang tampil adalah empat gitar yang terdiri dari Royke Ng, Christian Reza Erlangga, Ahmad Indra dan Syarif Maulana. Setelah penampilan tersebut, timbul dorongan dari Dwi Cahya Yuniman, koordinator KlabJazz (komunitas musik jazz), untuk membangun sebuah komunitas.

Dorongan tersebut akhirnya dicoba direalisasikan setelah mendapat kesempatan berkumpul sebulan sekali di Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8. Akumulasi dari kumpul-kumpul tersebut salah satunya berhasil mencetuskan ide untuk membuat sebuah pagelaran musik klasik bernama Classicares. Penyelenggaraan Classicares yang diadakan pada 9 Desember 2005 di Gedung Asia Afrika Cultural Center (sekarang Majestic), dianggap sebagai titik tolak kelahiran KlabKlassik sebagai komunitas yang mandiri. Sejak saat itu, penyelenggaraan konser secara berkala menjadi agenda rutin KlabKlassik disamping acara kumpul-kumpul yang terus berjalan.

Sejak pertengahan tahun 2007, KlabKlassik resmi berkomunitas di Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Kepindahan tersebut juga menandai munculnya beberapa agenda baru KlabKlassik, yang lahir dari proses evaluasi dan otokritik tiada henti. Agenda baru tersebut menggiring KlabKlassik untuk tidak melulu berkutat di ranah komunitas, melainkan juga ruang apresiasi, yang mana mendorong KlabKlassik untuk semakin membuka diri.

.

Tentang ITB Student Orchestra

ITB Student Orchestra (ISO) didirikan pada tanggal 2 Maret 2005 dan diresmikan sebagai sebuah unit kegiatan mahasiswa pada tanggal 8 Agustus 2005. ISO didirikan oleh mahasiswa secara swadaya dan mandiri sebagai sebuah orkestra mahasiswa di sebuah perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan seni musik.

ISO terus berkembang dari tahun ke tahun. Dari hanya sebuah kelompok seksi gesek berkekuatan 6 orang, menjadi sebuah orkestra yang mampu menawarkan pilihan keragaman bentuk orkestra. Kini ISO bermain dalam format string quartet yang terdiri dari 4 orang hingga chamber orchestra dengan 40 pemain. Repertoire ISO pun semakin berkembang, mulai dari lagu klasik hingga pop, rock dan etnik.

Dalam mengelola organisasi serta mengeksplorasi musiknya ISO bermitra dengan berbagai macam pihak, seperti Republic of Entertainment selaku event organizer, Addie M.S. sebagai musikus profesional, Orkes Simfoni Universitas Indonesia, Orkes Simfoni Bumi Siliwangi, Bandung String Ensemble, KlabKlassik, dan lain-lain.

***

Sunday, July 17, 2011

Persembahan dari AAS: Let's Play Violin 2!

Ammy Alternative Strings (AAS) bukanlah nama baru di antara kegiatan Tobucil. Tercatat sudah dua kali AAS tampil di beranda. Pertama ketika gelaran Musik Sore Tobucil, yang kedua adalah baru-baru kemarin ini, Crafty Days #5. Kang Ammy Kurniawan sebagai penggagas AAS itu sendiri, pernah mengadakan workshop bermain biola di Tobucil.

Penampilan AAS di Tobucil kala Crafty Days #5

Hari Minggu, 17 Juli kemarin, AAS mengadakan home concert-nya yang kedua. Setelah sukses digelar tanggal 23 Desember tahun 2009 dengan tajuk Let's Play Violin, AAS mengadakan edisi sekuelnya dengan judul Let's Play Violin 2. Berbeda dengan jilid satu yang diselenggarakan di Auditorium CCF, AAS kali ini bermain di Bumi Sangkuriang. Seperti biasa, AAS tampil dengan format anak-anak didik Kang Ammy yang seluruhnya bermain biola, diiringi oleh band, termasuk oleh Kang Ammy sendiri yang juga fasih dengan gitar.

Konser ini dibuka dengan penampilan solo Ilham Akbar yang membawakan lagu Indonesia Raya. Penonton berdiri dan ikut menyanyi, sehingga suasana menjadi cukup khusyuk. Tema Let's Play Violin 2 ini adalah memasyarakatkan lagu-lagu daerah. Kata Kang Ammy, "Harusnya sebelum orang mencari ke luar, gali dulu apa yang ada di negeri sendiri." Lagu-lagu daerah itu sendiri dibawakan dalam format medley. Misalnya, ada Java Medley, isinya mencakup lagu tradisional Jawa seperti Cingcangkeling dan Tanduk Majeng. Demikian ada juga Sulawesi Medley, Kalimantan Medley, meskipun ada juga lagu yang tampil "sendiri" seperti Janger dan Yamko Rambe Yamko. Seperti biasa, kang Ammy juga selalu menyelipkan lagu ciptaan sendiri seperti Kupu-Kupu Kecil, Duo Etude, dan Rose for You.

Kang Ammy sukses mengemas pertunjukkan AAS ini menjadi atraktif. Yang digali tidak cuma harmoni dan kekompakan musikal, tapi juga penampilan visual. Meskipun relatif sederhana, namun terlihat jelas bahwa Kang Ammy mengorganisasi beberapa koreografi. Ini menjadi nilai plus ketika instrumen biola secara stereotip sering dikaitkan sebagai alat musik yang dimainkan dengan duduk dan membaca partitur. Kang Ammy secara berani mengacaukan imej tentang instrumen biola dengan membawanya berlari, menari, dan melenggak-lenggok.

Duet Kang Ammy dan Bimo di Let's Play Violin 2.

Kang Ammy Kurniawan adalah musisi yang cukup aktif tidak hanya di blantika musik Bandung tapi juga nasional. Ia sering mengisi rekaman dan menjadi additional player untuk band seperti Nidji, Mocca, Ari Lasso, dan Hijau Daun. Ammy juga pernah menjadi bagian dari Violin All-Star yang tampil di RCTI bersama Henri Lamiri, Didit, dan Oni. Bandnya, 4 Peniti, cukup aktif dan dikenal. Sudah mengeluarkan satu album dan reguler tampil di Jakarta International Java Jazz Festival. Meski demikian, dari seluruh aktivitas musiknya, ia mempunyai tendensi untuk melabuhkan hatinya di bidang pengajaran dan komposisi. Terbukti dari kegiatan mengajarnya di Jalan Progo nomor 15 yang semakin berkembang serta produktivitasnya yang tinggi dalam menulis karya baru.

Saturday, July 16, 2011

Upaya Pengarsipan

Salam Barok,

Beberapa hari yang lalu kami mengadakan bincang-bincang singkat dan menghasilkan satu ide yang memerlukan kerjasama kita semua. KlabKlassik -komunitas non-profit pecinta musik klasik sejak tahun 2005-, bermaksud mengumpulkan data dari para komposer dan instrumentalis di Bandung (baca: vokalis termasuk instrumentalis). Hal tersebut bertujuan untuk hal-hal berikut ini:

1. Memudahkan penyebaran informasi konser, workshop, atau acara-acara lainnya.
2. Memudahkan pencarian komposer, musisi, atau guru musik untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu.
3. Menunjukkan semangat kebersamaan dan silaturahmi yang erat dari penggiat musik di Bandung.

Adapun pengarsipan ini akan diperbaharui per caturwulan atau setahun tiga kali. Misalnya: arsip yang dikumpulkan sekarang adalah untuk informasi bulan September - Desember 2011. Nanti akan ada pengarsipan baru untuk bulan Januari - April 2011. Siapapun yang memerlukan arsip ini, bisa menghubungi kami dan akan dikirim via email dalam format PDF.

Perlu diketahui bahwa semua hal yang berkaitan dengan kegiatan ini adalah gratis. Kami tidak memungut biaya bagi pengarsipan, kami juga tidak memungut biaya dalam pengiriman e-mail. Kegiatan ini murni berdasarkan alasan-alasan yang non-komersil. Hal yang berkaitan dengan kekurangan-kekurangan mohon segera disampaikan. Kami akan menampung secara terbuka karena kegiatan ini juga terbilang baru dan akan dipenuhi rintangan.

Komposer atau instrumentalis yang masuk ke dalam pengarsipan ini dibatasi sementara untuk yang berdomisili di Bandung. Silakan e-mail data diri dan foto ke syarafmaulini@gmail.com atau bilawarespati@ymail.com. Data diri meliputi poin-poin berikut ini:

1. Nama lengkap :
2. Nama panggilan :
3. Alat musik yang dikuasai :
4. Tempat tanggal lahir :
5. Nomor telepon :
6. E - mail / Facebook / Twitter :
7. Alamat rumah :
8. Prestasi (konser / ujian / rekaman / bergabung dengan orkes / dsb):
9. Karya yang pernah dibawakan / ditulis :
10. Aktivitas musik (misal: wedding entertainment, mengajar di sekolah musik, pemilik studio band, jual beli alat musik, dll)
11. Aktivitas non-musik (misal: dosen, penulis, pelatih sepakbola, dll):

Silahkan kirimkan data dirinya untuk membantu kami dalam pengarsipan komposer dan instrumentalis di Bandung. Kegiatan ini dikelola oleh Syarif Maulana, Bilawa A. Respati, Diecky K. Indrapraja dan Brigitta Arum Setyorini.

Akhirul kata, atas kerjasamanya kami ucapkan: Bach Memberkati.

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.