Tuesday, December 07, 2010

Apresiasi Lagu Favoritmu

Mengapa kita diberi dua telinga dan dua tangan, karena berlatih atau bermain musik, porsinya mesti sama dengan mendengarkan musik."

Minggu, 28 November 2010

Petikan kalimat diatas diucapkan oleh Diecky K. Indrapradja di tengah forum diskusi KlabKlassik yang menyajikan acara apresiasi bersama. Ini program baru, intinya, masing-masing peserta diskusi yang hadir membawa serta satu lagu untuk didengarkan dan dibahas bersama. Yang hadir saat itu adalah Fathimah, Kristianus, Yunus, Tesla, Aldi dan Ali. Semua nama itu diluar saya dan Diecky sebagai host diskusi. Fathimah mendapat kesempatan pertama, pianis muda itu memperdengarkan karya Chopin berjudul Piano Concerto #1 gerakan pertama berjudul Allegro Maestoso. Fathimah menyukai karya itu, karena digubah oleh Chopin dalam usia sangat muda, yakni 17 atau 18 tahun. Karya berdurasi sembilan belas menit itu diperdengarkan sampai tuntas dan peserta kagum oleh kemahiran Chopin dalam mengomposisi di usia muda.

Berikutnya adalah aldi, yang memperdengarkan karya Tchaikovsky, judulnya Waltz of the Flowers. Karya waltz yang cukup mahsyur ini, sangat kaya akan instrumen-instrumen orkestra, termasuk oboe hingga triangle. Diecky kemudian membandingkan, bahwa jelas Tchaikovsky sudah lebih matang dalam mencipta Waltz of The Flowers ketimbang kala Chopin saat mencipta Piano Concerto. Hal tersebut terlihat dari kekayaan instrumen yang digunakan Tchaikovsky. Lalu pasca Aldi, tiba giliran Kristianus yang menampilkan soundtrack film Pirates of Caribbean, yang berjudul Pirates of Caribbean, dimainkan oleh Epica, band rock bersama dengan orkestra. Apakah ini bukan klasik? Iya, memang bisa dibilang bukan, secara periodisasi. Tapi memang acara apresiasi bersama ini terbuka bagi semua jenis musik. Tesla mengritik bahwa musik Epica ini kurang detail. Tapi Ali membela bahwa untuk musik-musik ilustrasi film, tidak usah kedetailan yang diperhatikan, tapi yang menjadi titik berat adalah kesesuaian dengan adegan.

Acara mendengarkan bersama ditutup oleh karya Tesla yaitu Play Dead. Tesla memperdengarkan karya ciptaannya sendiri, yang merupakan interpretasi pada karya rupa yang akan dipamerkan 11 Desember nanti. Durasinya 9:31, cukup panjang dan melelahkan didengarkannya. Absurd dan "Nadanya mengkhianati saya," demikian komentar Ali. Maksudnya, sulit ditebak, dikira kesini taunya kesana. Lalu kami membahas soal interpretasi, bahwa kesesuaian antara karya rupa dan karya musik bisa dipertanyakan ternyata. Karena apa yang dinamakan "sesuai", itu bisa jadi karena direka-reka oleh penikmat. Saya ingat karya Marchel Duchamp yang menhadirkan kloset dalam kondisi apa-adanya-ia di sebuah galeri. Awalnya kloset itu ditolak karena dianggap bukan seni. Tapi kala dipajang, pengunjung jadi berpikir, "Iya juga ya, seni itu, jangan-jangan tergantung konteks ruang dan waktu. Dulu kita percaya bahwa ada benda yang indah pada dirinya sendiri, tapi ketika melihat kloset ini di galeri, mendadak kloset tempat buang air menjadi sebuah karya seni."

Pesan akhir karya Tesla ini dirumuskan oleh Diecky. Bahwa interpretasi apapun adalah bebas dan diserahkan pada masing-masing penikmat. Yang dilarang adalah memaksakan keragaman interpretasi pada orang lain. Padahal sudah jelas, manusia berbeda satu sama lainnya, tak bisa dipaksakan sama dalam memahami sesuatu. Tertarik ikut acara mendengarkan bersama KlabKlassik ini? Setiap minggu keempat setiap bulannya ya, bawa lagu favoritmu dalam format mp3. Sampai jumpa bulan depan!

1 comment:

joe black said...

nada dalam alat musik itu imitasi dari nada alam. Sementara nada alam intinya adalah jembatan atau jalur penghubung komunikasi antara kholik dan makhluknya. Hanya mungkin ada yg faham ada yg tdk. Seni bukan sesuatu yang harus diperdebatkan, seni adalah sesuatu yg harus dinikmati. Good luck. selamat berkarya

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.