Monday, November 22, 2010

Apa Lagu Favoritmu?

KlabKlassik hari Minggu, tanggal 28 November, akan diskusi dengan membawakan program baru. Program tersebut akan berisi apresiasi bersama tentang lagu-lagu favorit masing-masing peserta diskusi. Setelah apresiasi, akan diadakan pembahasan dan analisis tentang lagu favorit tersebut. Syaratnya, membawa satu buah lagu dalam format mp3 dan dimuat dalam flashdisk. Lagu yang diputar, bebas-bebas saja, boleh pop, rock, klasik, jazz, ataupun dangdut. Setelah diperdengarkan, peserta diskusi akan sama-sama membahas dan menganalisa beberapa aspek yang mungkin. Pukul 15.00 sampe 18.00, di Tobucil, Jl. Aceh. no. 56. Mari mendengar lebih banyak, karena telinga kita dua, sedang mulut cuma satu.

Mengenal World Music




World Music adalah idiom yang rajin sekali diangkat belakangan ini. Ada dua even, yaitu Bandung World Jazz Festival dan Monju (Monumen Perjuangan) West Java World Music Festival. Walaupun even pertama dibumbui kata "jazz", namun esensi yang ingin diraihnya kira-kira sama: Ada unsur etnis, lokal, dan non-Barat disana. KlabKlassik kemudian melihat fenomena penamaan World Music ini sebagai hal yang menarik sekaligus bermasalah. Untuk itu dibuka diskusi, minggu kemarin, dengan judul Mengenal World Music yang dibawakan oleh Diecky K. Indrapraja.

Diecky awal mulanya melemparkan pernyataan membingungkan: Apakah perbedaan musik Barat dan musik Timur? Seluruh peserta diskusi kesulitan menjawabnya, sebelum ditengahi oleh Diecky sendiri. Musik Barat, adalah musik yang diciptakan untuk musik sendiri. Mereka rasional, bisa dijelaskan, dan bisa dipertanggungjawabkan secara akal. Sedang musik Timur, adalah musik yang seringkali ditujukan untuk segala hal di luar musik itu sendiri. Misal, musik angklung untuk persembahan pada Dewi Sri, sedang beberapa musik tertentu untuk minta hujan. Hal tersebut, bagi kacamata Barat adalah irasional, tapi juga eksotik. Timur tidak mengenal pengilmiahan musik sekaligus pertanggungjawaban secara akal. Bagi Timur, musik adalah bagian harmonisasi alam, yang artinya "Ya memang begitu adanya", tak usah dijelaskan.

Yang menarik kemudian, World Music adalah istilah yang merangkul musik-musik "irasional" tersebut, dalam satu kesatuan kata "world" itu. Permasalahannya kemudian, karena Barat yang memberi istilah World Music, hal tersebut dicurigai sebagai penyederhanaan, dan pemiskinan atas kekayaan kebudayaan masing-masing komunitas. Bayangkan jika sekitar tiga ratus etnis dan budaya di Indonesia memiliki musiknya masing-masing, lalu seluruhnya dirangkum secara sederhana dalam istilah "Musik Indonesia", barangkali keunikannya masing-masing menjadi tak tampak dan malah kehilangan jati dirinya.

Setelah itu, Diecky memaparkan beberapa contoh musik, yang meminta peserta diskusi menebak: Ini komposer Barat atau Timur yang buat? Ada beberapa contoh seperti Krakatau, atau Discus, ataupula seorang komposer Jerman yang membuat karya piano dengan latar pengiring gamelan Bali. Ada pula sinden orang Amerika juga diiringi gamelan Bali. Pertemuan sore itu memperkaya telinga peserta, karena playlist milik Diecky banyak berisi lagu-lagu yang jarang ditemui di pasar-pasar umum. Pertemuan hari itu sampai pada kesimpulan yang mendalam: Orang Barat yang mempelajari musik Timur, biasanya ia telah lebih dahulu paham musiknya sendiri, baru eksplorasi ke luar. Sedangkan orang Timur kebanyakan, ia lebih dahulu belajar musik Barat, tanpa paham akar tradisinya sendiri. Efek negatifnya, mereka mudah terseret-seret kemanapun Barat pergi. Dan yang selamat adalah mereka: orang Timur yang belajar musik Barat, agar kemudian mengenal siapa dirinya. Dari mana ia berasal.

Sunday, November 14, 2010

Trumpet-Piano Recital



Trumpet-Piano Recital
Eric Awuy (Trumpet)
Iswargia R. Sudarno (Piano)

Rabu, 24 November 2010
Auditorium CCF, Jl.Purnawarman no. 32
Bandung

Informasi & Reservasi:
Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-4261548)
Syarif (0817-212-404)

Program:

Intrada (Arthur Honegger)

Hungarian Peasant Songs for solo piano (Béla Bartók)

Sonata for Trumpet and Piano (Halsey Stevens)

-interval-

Slavische Fantasie (Carl Hohne)

Méditation (Marcel Mihalovici)

Carnival (J.B.Arban)


Profil Penampil:

Eric Awuy, trumpet

Lahir di Bern, Swiss, 21 Januari 1964. Belajar bermain musik sejak usia dini di bimbing oleh ibunya, Paule Awuy, asal Quebec, Kanada, seorang pianis dan pedagog musik. Selanjutnya masuk ke sekolah musik pada usia 5 tahun di Jerman. Diusia 5 tahun, ia sudah mahir memainkan alat music flute. Saat berusia 13 tahun ia memutuskan untuk belajar trompet. Dan pada tahun 1979 ia mempelajari trompet secara mendalam di Hull Music Conservatory (1979-1985) dan di Montreal Music Conservatory (1985-1988), keduanya di Kanada. Ia menyelesaikan studinya di Konservatorium ini pada tahun 1988 dengan penghargaan tertinggi, Premier Prix de Conservatoire, dalam bidang trompet dan musik kamar.

Setelah lulus dari Montreal Music Conservatory tahun 1988, Eric bergabung dengan orkestra profesional di Montreal,dan di akhir tahun itu ia tampil bersama dengan Montreal Symphony Orchestra di bawah pimpinan dirigen ternama Charles Dutoit.

Tahun tahun berikutnya ia kerap tampil bersama orkestra-orkestra lain, seperti National Arts Center, Quebec Symphony Orchestra dan World Youth Orchestra, yang membawanya keliling dunia ke Moskow, Berlin, Paris, Buenos Aires, dan New York.

Sebagai solis, ia juga tampil di berbagai resital dan sebagai solis tamu di Amerika Utara dan Eropa, diantaranya dengan Montreal I Musici. Dalam musik kamar, Eric pernah main bersama Brass Five Quintet, salah satu grup brass terbaik di Kanada, dan pernah mendapat penghargaan ‘Laureat’ dari International Brass Quintet Competition di Narbonne, Perancis.
Eric secara berkala tampil bersama pianis Iswargia Sudarno, disamping itu ia juga tergabung dalam beberapa orkestra di tanah air, diantaranya Twilite Orchestra.

Sebagai dirigen, Ia pernah menjadi dirigen tamu di Notre-Dame College Orchestra, World Youth orchestra, dan Indonesian Youth Orchestra. Sejak Juni 2004, Eric adalah Program Director dan dirigen Twilite Youth Orchestra.


Iswargia R. Sudarno, piano

Iswargia R. Sudarno tidak hanya dikenal sebagai seorang pianis, namun juga sebagai seorang pendidik dan pengarah acara serta perancang program kegiatan-kegiatan seni musik. Minatnya tidak hanya terbatas pada repertoar tradisional musik tradisi Barat, namun juga musik-musik baru. Ia kerap bekerja sama dengan komponis-komponis kawakan Indonesia seperti Trisutji D. Kamal, Otto Sidharta, Slamet Abdul Sjukur, dan Tony Prabowo. Disamping sebagai pianis, ia juga pernah menjabat sebagai tutor Nusantara Chamber Orchestra, direktur akademik Yayasan Musik Internasional, dan direktur musik National Youth Orchestra Indonesia. Ia juga menjadi direktur artistik Indonesia Piano Festival hingga kini.

Dilahirkan di Bandung, Iswargia memulai pelajaran pianonya di sana, berturut-turut bersama Ibu Wibanu, Partosiswojo, John Gobée, dan Oerip S. Santoso. Setelah menyelesaikan pendidikan S-1-nya di bidang arsitektur di Institut Teknologi Bandung; ia melanjutkan pendidikan S-2-nya di bidang musik di Manhattan School of Music, New York, Amerika Serikat, dibawah bimbingan pianis & pedagog legendaris Karl Ulrich Schnabel, hingga meraih gelar Master of Music. Selama musim-musim panas, ia juga berguru pada pianis-pianis kenamaan, seperti Bela Siki di Johanessen International School of the Arts (Kanada), Gabriel Chodos dan Rita Sloan di Aspen Music School (Amerika Serikat), dan Robert Levin di Mozarteum International Summer Academy (Austria). Ia juga mendapat beasiswa dari DAAD untuk memperdalam pengetahuan musiknya di Staatliche Hochschule für Musik Freiburg, Jerman, dibawah bimbingan Hansjörg Koch. Penghargaan lain yang pernah diterimanya adalah Norman Stanley Smith Award dari Manhattan School of Music atas studi piano pedagogi terbaik dan Beasiswa Aspen Music School.

Saat ini, selain menjabat sebagai direktur akademik Konservatorium Musik Jakarta, ia juga menjadi dosen dan pengajar ahli Konservatorium Musik Jakarta, Universitas Pelita Harapan, Universitas Pendidikan Indonesia. Secara berkala ia tampil dan mengajar di Asian International Piano Academy and Festival di Cheonan, Korea. Murid-muridnya telah banyak memenangkan berbagai kompetisi tingkat nasional, maupun internasional.

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.