Tuesday, June 01, 2010

Kompetisi Musik Klasik: Perlukah?


(14/03/2010)

KlabKlassik kembali berkumpul tanggal 14 Maret kemarin. Saya, yang biasa ikut serta dalam pertemuan dan menjadi moderator diskusi, urung hadir. Meski demikian, Royke sukses membawakan diskusi yang bertemakan kompetisi musik klasik tersebut. Yang hadir ada Bilawa, Mas Yunus, Kang Trisna, dan dua orang murid Royke, yakni Kevin dan Kelvin. Diskusi dimulai dengan cerita mengenai kompetisi yang banyak diwarnai macam-macam motivasi dari si peserta. Ada yang memang untuk mengukur kemampuan diri, motivasi untuk bermain lebih baik, cermin teknik, dan latihan mental. Pada titik itu, kompetisi adalah acara yang sangat positif. “Itu dengan catatan, si pemain mampu menerima subjektivitas penilaian juri,” kata Bilawa. Apalagi di banyak negara maju, tambah Bilawa, kompetisi adalah salah satu cara meningkatkan karir pemain. Karena disana, banyak orang menjadikan musik klasik sebagai bahan mata pencahariaan utama. Dan gelar-gelar kompetisi bisa menambah kelancaran berkarir mereka di bidang musik.

Tapi ada pula yang menganggap kompetisi sebagai adu gengsi belaka dan menjadi ajang superior-inferior. Peserta seperti ini, dalam forum diskusi tersebut, juga mengikuti kompetisi atas dasar orientasinya pada hadiah. Memang, hal tersebut sulit dihindari sebagai bagian dari motivasi peserta dalam mengikuti sebuah kompetisi. Kang Trisna menambahkan, “Memang, jika hadiahnya kurang bergengsi, peserta menjadi kurang tertantang untuk ikut.” Tapi, yang dinilai kemudian adalah dampaknya. Ketidaksehatan motivasi ini membuat peserta seringkali ada yang sulit menerima keputusan juri. Padahal, “Kompetisi memang soal subjektivitas juri,” demikian Royke, sang moderator, menambahkan.

Lantas, apa solusinya? Mas Yunus mencoba menanggapi, bahwa yang pertama ditanamkan adalah, kenyataan bahwa kompetisi bukanlah suatu ajang untuk mengukur musik secara objektif. Kompetisi adalah cara untuk mengukur kemampuan lewat mata juri. Juri yang pastinya subjektif juga. Dan menurut Bilawa, mustahil kompetisi objektif, kecuali misalnya diadakan kompetisi dengan lagu sama, partitur sama, instrumen sama. Lalu yang diukur pun teknis saja, ekspresi adalah poin tambahan. Eh jangan lupa, pastikan juga seluruh peserta berada dalam kondisi yang sama. Jika demikian, barulah kompetisi dapat dibilang mendekati objektivitas.

Pertemuan KlabKlassik berikutnya adalah tanggal 28 Maret. Rencananya, KK akan melakukan Listening Session. Artinya, setiap yang hadir, membawa musik dalam soft copy, untuk kemudian diperdengarkan dan dibahas. Bach memberkati.

No comments:

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.