Tuesday, June 01, 2010

KlabKlassik Diliput 'Hang Out' STV

(15/02/10)

Siang itu, pukul satu, lima orang awak klabklassik berkumpul di Tobucil. Hari itu hari Selasa, dan jelas bukan jadwal rutin kumpul klabklassik. Tapi di beranda Tobucil itu, tak cuma terdapat para awak klab, tapi juga dua orang lainnya. Yang satu membawa mikrofon, satu lagi membawa kamera. Ternyata, mereka berdua dari STV, sebuah stasiun televisi lokal di Bandung. Memang, malam sebelumnya, saya mendapat telepon dari seseorang bernama Aga. Ia meminta klabklassik untuk diliput demi acara yang digawanginya, yakni Hang Out. Hang Out adalah acara yang berisikan tentang liputan pelbagai komunitas dan kegiatan. Meski mendadak, saya tetap memenuhi pertemuan tersebut, karena memang ya jujur saja, tampaknya asyik juga masuk tivi.

Dari klabklassik, terkumpulah lima orang, yang kebetulan semuanya pemain gitar. Selain saya, ada pula Bilawa, Diecky, Mas Yunus dan Luthfi. Kami bersama Aga, yang ternyata host acara tersebut, dan seorang kameramen. Syuting pun dimulai, sekitar dua lebih dua puluh menit. Awalnya, kami kira, semacam syuting kegiatan, sehingga beberapa figuran (diproyeksikan Wiku dan Eri) akan menambah semarak liputan. Ternyata, syuting itu adalah semacam wawancara. Jadi kami duduk berjajar berlima, mengapit Aga, dan kami diwawancara satu persatu layaknya sebuah band.

Kami ditanya banyak hal, mulai dari soal visi misi klab, soal asyiknya ikut klab ini, hingga acara-acara yang sudah digelar oleh klabklassik. Berganti-ganti kami berlima menjawabnya, tidak dominan di satu dua orang saja. Yang menarik adalah ketika tiba saatnya diantara kami-kami mesti mendemonstrasikan beberapa karya. Bilawa memulainya dengan Requerdos de la Alhambra dari Tarrega, lalu berturut-turut saya dengan Close to You, Mas Yunus dengan Felicidade, dan Luthfi dengan Asturias. Diecky sendiri memilih tidak bermain. Syuting itu sendiri menjadi cukup menggelikan, karena kami sungguh tidak menyangka akan mendapat sorotan kamera yang cukup intensif, terutama ketika bermain gitar. Aga sempat bertanya, “Kenapa sih, kalo main klasik, jarang ada yang ketawa?” Diecky menjawab simple, “Karena urat ketawanya tidak tersentuh.” Demikian kami semua gembira setelah wawancara selesai. Semua kembali ke aktivitas masing-masing.

No comments:

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.