Tuesday, June 01, 2010

Gatot Danar Sulistiyanto: Pendekar Bunyi dari Yogya


(28/02/10)

Awal mula ia datang ke Tobucil, tak menyangka bahwa buah pikirannya begitu kompleks dan mendalam. Karena Gatot ini, terlihat sangat sederhana, dan pembawaannya terlalu ramah dan santun untuk seorang pemikir yang tengah mendobrak kemapanan. Setelah diskusi yang mencerahkan itu, Saya sempat untuk mewawancarai Gatot barang sebentar. Sebentar, karena pria kelahiran Magelang 10 Mei 1980 itu cukup terburu-buru, ada janji rekaman tak lama kemudian.


Mas Gatot, tadinya kuliah dimana, ISI Yogya ya? Hahaha. Saya langsung nebak gitu.
Iya, saya lulusan ISI Yogya. Dulunya mengambil mayor gitar, dan minat ilmu musikologi.

Mas Gatot kan aktif sebagai komponis, coba ceritakan.
Sejak tahun tahun 2001 saya mulai aktif dalam komposisi musik. Saya juga pernah mengikuti beberapa workshop komposisi dan improvisasi antara lain dari Carlos Michan-Belanda, Workshop Musik Elektronik oleh Prof. Wilfried Jentzsch,- Hochschule fur Musik "Carl Maria von Weber" Dresden Studio fur Elektronische Musik-Austria, musik dunia oleh Kim Sanders-Australia, Musik Interkultural oleh Prof. Vincent McDermont-Amerika, Free Improvisasi oleh The Geizer-Mazzolla Duo-Switzerland, Jack Body-Selandia Baru. Saya juga pernah mengikuti studi komposisi singkat dibawah bimbingan Roderik de Man-Belanda, dalam program Mini-Composition-Project atas prakarsa Cantus Music Center & the Cultural and Development Program pemerintah Belanda.


Hmmmm. Banyak juga ya, jika demikian, siapa guru Mas Gatot yang istilahnya, lebih “tetap” ketimbang workshop-workshop tersebut?
Saya bisa dibilang tidak punya guru, jika guru diartikan secara kaku dalam konteks institusional. Bagi saya, semua orang adalah guru. Di Yogya juga sangat mendukung iklim tersebut, dalam artian, guru adalah sahabat, dan sahabat juga sekaligus guru.


Oke, menurut Mas Gatot, setelah diskusi panjang tadi, bagaimana kelihatannya iklim apresiasi musik di Bandung ini?
Menurut saya, iklim disini sangat kondusif, dan mesti terus disupport dan dikembangkan. Saya melihat bahwa komunitas-komunitas seperti KlabKlassik ini justru lebih masuk ke persoalan, ketimbang institusi atau seminar-seminar. Pembicaraan mengenai musik sebaiknya dilakukan dalam tataran semacam ini, sehingga lebih intim dan dipahami secara mendalam. Di Yogya, saya biasa melakukannya dengan dua atau tiga orang saja, asalkan konsisten.


Oke, kegiatan Mas Gatot sekarang ini apa?
Ada tiga, yang pertama, saya membuat musik alias mengomposisi. Lalu saja juga bekerja sebagai networker di Art Music Today, dan ketiga, saya bekerja sebagai tukang rekam keliling.


Maksudnya?
Maksudnya, saya membantu merekam dengan alat yang bisa saya bawa kemanapun. Jadi, saya tidak punya studio. Saya justru mendatangi orang yang ingin direkam.


Hehe menarik juga. Kembali ke persoalan, sebenarnya problem musik di Indonesia ini apa ya?
Problemnya adalah, kita bergerak seperti bola pingpong. Setelah memantul ke tanah, kadang mundur, kadang maju. Nenek moyang kita, telah mengenal musik dengan sangat baik. Contohnya gamelan, bunyinya sangat natural dan cengkoknya bisa merasuk ke batin. Ini bukti betapa musik sesungguhnya bukan lagi hal yang eksklusif di masa silam. Tapi belakangan, sejak era pasca-kolonial, musik menjadi sesuatu yang eksklusif, terlembagakan, dan milik sebagian orang saja. Mendadak ada istilah musikal dan non-musikal. Lantas kita-kita disini yang belajar musik klasik secara tekun dan serius, menganggap sedang belajar musik dalam arti sesungguhnya, yang lantas mengabaikan bahwa bunyi-bunyi lainnya juga sebetulnya musik. Itu pengaruh kolonialisme, atau secara spesifik, Barat, yang hobi mengotak-otakan. Musik sudah dekat dengan diri kita, sejak lahir.


Saya punya pertanyaan pribadi, situasi diam itu, musik bukan ya?
Coba tutup telingamu. Ada suara apa? Berdengung kan? Nah, itu bunyi tinitus, gendang telinga. Artinya, kondisi senyap adalah mustahil. Tidak ada situasi yang betul-betul tanpa bunyi, tanpa musik. Bahkan mungkin saja, musik itu adalah bunyi paling pekak, sehingga kita sulit mendengarkan.


Hehehe. Betul juga yah. Lantas, punya solusi apa kira-kira untuk menuntaskan problem musik di Indonesia?
Ya, setidaknya, meski bunyi adalah musik, dan berarti pula musik sangat dekat dengan diri, orang mesti tetap paham teori. Untuk apa? Untuk menerjemahkan problem kehidupan. Contohnya, berapa banyak kasus orang ketinggalan pesawat, karena suara yang mengumumkan kepergian pesawat tidak cukup jelas? Atau di kantor imigrasi juga misalnya. Orang seringkali ngawur dalam menempatkan sesuatu.


Baiklah, Mas Gatot, terima kasih atas waktunya, terima kasih juga telah hadir dalam diskusi tadi.
Terima kasih juga, sama-sama.

1 comment:

setyo budi said...

mantep thot...sukses buatmu...
setyo budi sanaya_musicstore@yahoo.com

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.