Wednesday, February 17, 2010

From Zappa with Love*

oleh: Diecky K. Indrapradja**




















Frank Zappa, seniman yang multi talenta, kreatif, jenius, berani, dan juga mandiri dalam bermusik. Selain dikenal sebagai komposer, gitaris, dirigen, ilustrator musik, produser, dan sutradara film. Zappa dapat dikategorikan sebagai komponis pada “dua dunia musik” sekaligus, yakni dunia musik populer (progressive rock dan jazz), serta dunia musik kontemporer .

PENGHARGAAN:
• Grammy Award kategori Best Rock Instrumental Performance (1988) - Jazz From Hell
• Nama Frank Zappa dimasukkan dalam Rock and Roll Hall of Fame (1995)
• Grammy Lifetime Achievement Award (1997)
• National Recording Preservation Board’s National Recording Registry Amerika Serikat (2005) - We’re Only in It for The Money
• 100 Artis Terhebat Sepanjang Masa, versi majalah Rolling Stones (2005)
• Zappa telah dipilih untuk menjadi salah satu dari empat komposer besar dunia dan tampil pada Frankfurt Festival (1992). Komposer lainnya adalah John Cage, Karlheinz Stockhausen dan Alexander Knaifel. Zappa menerima tepuk tangan 20-menit.
• The Premier Grand Prix at the First International Music Festival in Paris 1981 - The Dub Room Special (1982)
• Patung perunggu yang dipasang di kota Bad Doberan Jerman, 1995
• Di kota kelahirannya-Baltimore, setiap tanggal 9 Agustus secara resmi sebagai Hari Frank Zappa, sejak tahun 2007

Selama karir bermusiknya, Zappa telah bekerja dengan lebih dari 325 seniman musik (instrumentalis dan dirigen), diantaranya adalah: Steve Vai (gitar), Terry Bozzio (drums), Eric Clapton (gitar), John Lennon (vokal), Yoko Ono (vokal), Jean-Luc Ponty (violin), Sting (vokal), Tina Turner (vokal), Zubin Mehta (dirigen), Pierre Boulez (dirigen).

KELUARGA ZAPPA
• Berasal dari ayah Yunani-Arab dan ibu Italia-Perancis.
• Ayahnya, seorang ahli kimia dan matematika dan mengajar metalurgi di Naval Postgraduate School
• Zappa mengaku tumbuh dipengaruhi oleh komposer avant-garde seperti Varese, Igor Stravinsky dan Anton Webern
• Pada saat SMA, Zappa pernah memainkan sepeda sebagai alat musik, namun ditolak oleh Dot Records karena tidak memiliki "potensi komersial"

OTHERSIDE:
• Pernah menjadi dubber dalam film episode Shelley Duvall's Faerie Tale Theatre, Miami Vice dan The Ren, Stimpy Show dan The Simpsons.
• Kadang kala menjadi seniman desain grafis pada sebuah agen periklanan
• Musik soundtrack film sejak SMA

ZAPPA ORCHESTRA:
• Los Angeles Philharmonic conductor Zubin Mehta, 1970 + Rock Band
• London Symphony Orchestra conductor Kent Nagano
• Ensemble InterContemporain conductor Pierre Boulez.
• The Ensemble Modern conductor Zappa.
• The Royal Philharmonic Orchestra conductor Zappa
• Berkeley Symphony Orchestra conductor Zappa

MUSICAL FORM
• Electric Chamber Music
• Rock Opera: Billy the Mountain
• Tentang Papan reklame di Sunset Boulevard

KARYA:
• Lagu "The Black Page" adalah komposisi yang awalnya ditulis untuk drums dan perkusi, namun selanjutnya dikembangkan menjadi format band yang lebih besar, konon karya ini terkenal karena kompleksitas struktur ritmik, perubahan tempo yang radikal
• Highly Difficult Jazz Fusion : "Inca Roads", "Be-Bop Tango”
• Lagu “Amnesia Vivace" mengambil bagian dari sequence "The Firebird- Stravinsky”
• Lagu “Status Back Baby” di bagian tengahnya mengambil opening dari sequence "Petrouchka- Stravinsky "
• Lagu "Soft-Sell Conclusion" diakhiri dengan intro dari sequence "A Soldier's Tale- Stravinsky "
• The "Invocation & Ritual Dance of the Young Pumpkin" mengambil bagian dari sequence "Jupiter, the Bringer of Jollity-The Planets suite-Gustav Holst"
• Lumpy Gravy merupakan karya dengan bentuk musik parade yang terdiri atas kutipan-kutipan motif yang bisa diambil dari mana saja atau disebut teknik kolase

LYRIC:
• Ciri khs lirik lagu yang kritis, tajam, sexual, sosial-politik
• Zappa menyatakan dirinya adalah wartawan dengan media adalah lagu-lagunya

TEKNIK KOMPOSISI ZAPPA :
• Musique Concrète : (Bahasa Prancis) adalah suatu bentuk musik yang memanfaatkan electroacoustic suara acousmatic sebagai komposisi sumber daya. Komposisi bahan yang tidak terbatas pada pencantuman sonorities dari alat-alat musik atau suara, ataupun elemen-elemen yang secara tradisional dianggap sebagai "musik" (melodi, harmoni, ritme, meter dan seterusnya). Dasar-dasar teoritis estetika dikembangkan oleh Pierre Schaeffer, dimulai pada akhir 1940-an.
• Kolase : (Dari Perancis: collage) adalah karya seni visual, terbuat dari sekumpulan bentuk-bentuk yang berbeda, untuk kemudian dibangun kembali, sehingga menciptakan suatu keseluruhan baru. Asal usul kolase dapat ditelusuri kembali ratusan tahun, namun teknik ini membuat kemunculan dramatis pada awal abad ke-20 sebagai bentuk seni baru oleh Georges Braque dan Pablo Picasso.
Polyrhythm: Jelas...!!!
• Xenochrony : Yunani "xeno" (asing atau aneh) dan "chrono" (waktu). Mengambil kutipan dari pertunjukan live dan dari rekam studio, kemudian memadukan ke dalam komposisi yang berbeda menjadi potongan-potongan baru, terlepas dari tempo atau sukat dari sumber kutipan tersebut (bahkan cenderung ekstrim). Zappa menyebut teknik komposisi ini dengan "konseptual kontinuitas, yang berarti bahwa setiap proyek atau album adalah bagian dari proyek yang lebih besar, semuanya terhubung, dan tema dan lirik musik muncul kembali dalam bentuk yang berbeda di kemudian album. Bisa juga disebut Polyrhythm dalam arti yang berbeda. Contoh pada album Joe’s Garage.
• Sprechstimme (setengah bicara) teknik komposisi yang di populerkan oleh Arnold Schoenberg dan Alban Berg. Keunikannya juga terdapat pada bahasa musikalnya, di mana ia menganggap bahasa juga memegang peranan penting dalam musik sama seperti aspek musikalnya itu sendiri. Hal ini terlihat jelas pada ritme-ritme yang digunakan untuk berbagai instrumen. Konstruksi ritme-ritme dalam instrumentalnya sejajar dengan ritme bahasa atau bertolak dari ritme bahasa, maka musik instrumentalnya seolah-olah “berbicara”.

ZAPPA DAN WARISAN ILMU PENGETAHUAN
• Zappa sebagai nama Ikan: Zappa Confluentus
 Alasan musik, karena ia suka musik dan lirik Zappa
 Alasan politik dan prinsipil, untuk menghormati Frank Zappa dalam peran mengartikulasikan dan bijaksana membela Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat
 Alasan bahwa nama Zappa itu baik, adalah nama yg pendek, tajam, dan mudah untuk diucapkan
• Zappa sebagai nama Moluska yang telah punah di Nevada : Amaurotoma Zappa
• Zappa sebagai nama Ubur-Ubur : Phialella Zappai
• Zappa sebagai nama Laba-laba : Pachygnatha Zappa
• Zappa sebagai nama Bakteri : Zappa Proteus Mirabilis penyebabkan infeksi saluran kemih itu tahun 1995
• Zappa sebagai nama Fosil : Spygori Zappania
• International Astronomical Union's Minor Planet Center memberikan nama Zappa pada Asteroid temuannya

WAFAT:
Meninggal 1993 karena dengan Kanker Prostat




*) Makalah yang disajikan pada pertemuan KlabKlassik 14 Februari 2010
**) Komposer musik kontemporer

Debussy: Kekayaan Nasionalisme Prancis


Claude Debussy lahir di Saint-Germain-en Laye tanggal 22 Agustus 1862. Orangtua Debussy sedemikian miskinnya, sehingga ketika usia Debussy baru tiga tahun, ia mesti dititipkan pada bibinya. Namun ternyata hal tersebut membawa berkah, karena bibinya adalah seorang yang menyukai seni, dan mendukung penuh Debussy untuk berkenalan dengan musik. Akhirnya, Maute de Fleurville, seorang guru piano yang pernah menjadi murid Chopin, diminta mengajar Debussy. Dibawah asuhannya, Debussy berkembang menjadi seorang pianis yang mahir. Pada umur sebelas, Debussy lulus ujian masuk konservatorium Paris.

Gurunya di konservatorium, bernama Marmontel dan Durrand. Awalnya, mereka berdua tidak langsung mengakui talenta bermusik Debussy. Namun lama kelamaan, Marmontel duluan menyadarinya, dan memasukkan Debussy untuk bekerja sebagai pianis pada Nadejda von Meck. Dari keluarga von Meck ini, Debussy keliling ke beberapa negara di Eropa seperti Prancis, Italia, Austria dan Russia, sepanjang tahun 1880 hingga 1882.

Pada tahun 1885, Debussy memenangkan salah satu kompetisi bergengsi di Eropa, yakni Prix de Rome, dengan karyanya, L'Enfant prodigue. Kemenangan tersebut, membuatnya mesti tinggal di Italia selama tiga tahun. Meskipun demikian, ia tidak betah di Italia, karena makanan, cuaca, dan musiknya. Ia pulang ke Paris sebelum waktu yang ditentukan bagi para pemenang Prix de Rome.

Di Paris, ia bertemu beberapa tokoh yang mengusahakan gerakan artistik baru di Paris, seperti pujannga Mallarme, dan para pelukis Impresionis seperti Manet dan Degas. Dengan banyak bertukar pikiran bersama mereka, Debussy semakin mengorijinalisasikan karya-karyanya, mencari akar-akar musik Prancis itu sendiri. Pada waktu yang sama, Debussy berteman dengan seorang musisi eksentrik bernama Erik Satie. Satie adalah seorang pemberontak besar terhadap ide Romantisme Jerman. Bersama, kedua tokoh itu saling mempengaruhi dan memberi semangat dalam menciptakan apa yang disebut "Musik Prancis". Dalam era nasionalisme yang kuat saat itu, memang pencarian musik-musik atas nama suatu negara sedang banyak didengungkan.

Karya-karya Debussy yang terkenal, antara lain Quartet in G Minor, yang dimainkan pertama tahun 1893, lalu The Afternoon of a Faun, yang terinspirasi puisi dari Mallarme. Lalu adapun karya lainnya seperti La Mer, Nocturnes, dan Images. Ia juga membuat perpustakaan musik piano yang di dalamnya berisi dua buku prelude, dua buku etude, dan Suite bergamasque-nya yang termahsyur (di dalamnya berisi karya agungnya, Claire de Lune). Debussy meninggal pada 25 Maret 1918 di Paris akibat digerogoti kanker. Ia disebut sebagai pendiri aliran Impresionisme dalam bermusik. Kekuatannya, seperti halnya para pelukis Impresionis, ada pada warna, mood, dan efek. Melodinya juga terkenal eksotik dan sering menggunakan tangga nada yang tak lazim. Bagi banyak kalangan, musiknya disebut sebagai representasi Prancis itu sendiri.

Tuesday, February 16, 2010

Selamat Ulang Tahun, KlabKlassik String Trio



KlabKlassik String Trio (KKST) adalah kelompok instrumen dawai yang beranggotakan Afifa Ayu (violin/vokal), Azisa Noor (cello), dan Syarif Maulana (gitar). Jika pernah menyaksikan Musik Sore Tobucil (MST) beberapa edisi, maka kelompok bertiga ini beberapa kali sempat mengisi. Berhubung ketiganya aktif dalam kegiatan Tobucil, maka bolehlah jika KKST ini dibilang sebagai “home musician”-nya Tobucil. Selain itu, KKST ini juga bisa disebut sebagai sisi entertainment dari KlabKlassik sendiri. Nah, berkaitan dengan itu, KKST, di hari valentine kemarin, diperingati sebagai ulang tahunnya yang kesatu. Dulu, KKST didirikan di kala valentine tahun 2009, dimana KKST bermain untuk kafe Lara Jonggrang, Jakarta. Dulu, KKST cuma punya lima belas repertoar untuk dua jam permainan, sehingga mesti diulang-ulang lagunya, atau dipanjangkan hingga 10 menit per lagu. Sekarang, Alhamdulillah, lagunya sudah lebih beragam, dan tak perlu secara berlebihan memanjangkan lagu per lagunya. KKST punq dalam setahun terakhir, sudah tampil di beberapa acara, seperti even pernikahan, reguler, launching, konser musik klasik, dan seminar.

Valentine kemarin, KKST tampil lagi. Sekarang di Kafe 3 E’s View, Dago Pakar. Tampil bertiga dalam suasana remang-remang, KKST memainkan sekitar dua puluh lima lagu yang bercampur antara pop, jazz, ataupun klasik. Jangan lupa, bahwa Afifa sang violinis juga, bisa menyanyi dengan suara sopran. Jangan heran jika sesekali datang ke Tobucil, format musik kamar ini sedang berlatih ataupun membuat berisik beranda.



Photoshot: Wahdini Degayanti

Diskusi Musik Kontemporer: Frank Zappa


Minggu itu, KlabKlassik membahas soal apa siapa Frank Zappa. Pembicaranya adalah Diecky Kurniawan Indrapradja, seorang komponis musik kontemporer. Di KlabKlassik, yang berkumpul cukup banyak, ada sekitar 15 orang. Diecky mulai dari memperkenalkan siapa Zappa. Dan ini cukup menarik, karena ternyata, dari semua yang berkumpul, belum ada satupun yang betul-betul mengenal Zappa, kecuali mendengar sedikit saja namanya. Dan memang, prestasi Zappa begitu menjulang, kalau tidak bisa dibilang monumental. Bayangkan, di Baltimore, kota kelahiran Zappa, tanggal 9 Agustus diperingati sebagai hari Frank Zappa. Lalu katanya, Zappa juga menginspirasi beberapa nama ilmiah untuk jamur-jamuran serta spesies tertentu. Belum lagi, Dieter Mack menyebut Zappa sebagai komposer yang duduk di dua kursi, yakni musik populer dan musik kontemporer sekaligus. Lalu, Zappa juga, bayangkan, meninggal di tahun 1993, tapi hingga tahun 2009, albumnya masih keluar! Dirilis oleh anaknya, tapi sungguh, itu bukan karya “Best of” atau recycle, tapi musik-musiknya yang belum pernah ada di album sebelumnya. Artinya, Zappa ini luar biasa produktif.

Dan ketika mendengarkan beberapa contoh musiknya seperti Plastic People dan G-Spot Tornado, sebetulnya kami semua setuju, bahwa musik Zappa bukanlah sesuatu yang mudah didengar. Terdengar aneh, ritmisnya tidak biasa, dan tonalitasnya berubah selalu. Tapi, oleh pembicara satu lagi, Pak Tono dari UPI, ditanggapi bahwa Zappa ini sangat identik dengan komposer abad ke-20, yang mengutamakan pengulangan dalam bunyi-bunyian. Pengulangan itu, tapinya, kemudian berkembang jadi semacam repetisi yang dinamis. Atau kemudian dibahas lagi, bahwa komposer abad ke-20 lekat dengan teknik kolase, yakni menyambung-nyambungkan lagu yang pernah ada, menjadi sebuah lagu baru. Hanya saja, dalam konteks jaman sekarang, kolase seringkali dianggap pelanggaran HAKI. Padahal, kata Pak Tono, itu tak lebih dari sekedar akal-akalan bisnis. Sesungguhnya diantara seniman dan musisi, tak ada istilah pelanggaran macam itu.

Diskusi ditutup dengan kebingungan yang melanda para peserta diskusi. Jelas, karena dalam durasi dua jam, peserta diajak bertualang pada bunyi-bunyian yang jauh dari apa yang biasa didengar. Juga oleh suguhan video yang banal dan abnormal. Tapi ternyata, semuanya senang dan mengakui adanya tambahan wawasan. Segar seperti halnya hujan yang terus mengguyur di kala valentine tersebut. Tanggal 28 nanti, KlabKlassik akan “menormalkan” situasi dengan membahas Teknik Komposisi Bach.



Photoshot: Wahdini Degayanti

Latihan Ririungan Gitar Bandung Jilid Dua






Siang itu, pukul satu, akhirnya ensembel gitar Ririungan Gitar Bandung (RGB) melaksanakan latihan. Setelah libur dua minggu karena terbentur minggu kelima, RGB kembali berkumpul. Yang datang siang itu hanya sedikit, tak sebanyak biasanya, kemungkinan besar karena hujan yang sedang sering-seringnya melanda Kota Bandung belakangan. Latihan diikuti oleh Royke, Mas Yunus, Ina, dan saya sendiri. Untungnya, masing-masing dari keempat orang tersebut, memainkan peranan gitar yang berbeda-beda, sehingga bisa saling mengisi dan melengkapi. Kebetulan lagi, lagu If I Fell dari The Beatles yang diaransemen oleh Mas Yunus tersebut, memang ditujukan oleh empat gitar.

Latihan ternyata berlangsung lancar, dan karya tersebut sukses diselesaikan, meski beberapa kali tidak kedengaran karena gangguan hujan. Kang Trisna dan beberapa anak dari STT Tekstil juga menyaksikan latihan tersebut, namun karena tidak membawa gitar, jadinya tidak bisa bergabung berlatih. Sayang sekali yang hadir memang kurang banyak, jadinya terlalu cepat kalau menyimpulkan bahwa lagu ini telah sukses dibawakan. Perlu pembuktian lebih panjang, perlu perjuangan yang lebih keras. Sekedar mengingatkan, Insya Allah, November ini RGB akan konser dalam tajuk RGB: Tribute to Beatles. Latihan berikutnya akan digelar 28 Februari 2010. Semoga sukses, semoga diberkati Bach.




Photoshot: Wahdini Degayanti

Membahas Frank Zappa di KlabKlassik



Ini seperti sebuah laporan, tapi sebenernya bermuatan alasan. Minggu tanggal 14 Februari kemarin, bertepatan dengan Valentine dan Imlek, KlabKlassik mengadakan diskusi. Diskusi itu membahas soal musik kontemporer. Lebih spesifik lagi, diskusi nanti akan membahas soal komposer berkebangsaan Amerika, namanya Frank Zappa. Siapakah Zappa?

Jelas, orang ini tak bisa disamakan dengan komposer musik klasik semisal J.S. Bach, Mozart, Wagner, Brahms atau Debussy. Selain jamannya berbeda, Zappa juga terdengar kurang “klasik”, musiknya njelimet, dan yang terpenting, ia baru saja meninggal. Sekitar tahun 1993 tepatnya, setelah hidup dari sejak tahun 1940. Tapi jika dicari kesamaannya antara Zappa dan komposer-komposer yang disebut di atas, maka jawabannya: Sama-sama bisa menginspirasi banyak musisi dan komposer, bahkan artis dan ilmuwan. Ya, banyak sekali musisi akhir abad ke-20 yang mengaku diinspirasi oleh kejeniusan musik Zappa, seperti Alice Cooper, Primus, Steve Vai, Mike Portnoy, Billy Bob Thornton, hingga penyanyi parodi, Weird 'Al' Yankovic. Tak hanya itu, seorang paleontologis bernama Leo P. Plas, Jr. menemukan sebuah jenis moluska pada tahun 1967, dan ia beri nama Amaroutama zappa. Seorang biologis bernama Fernando Boero, menemukan ubur-ubur yang ia beri nama Phialella zappai, dengan alasan, "Suatu kepuasan bisa menamai suatu spesies dengan nama seorang komposer besar era modern."Baik, lantas mari kita cari pembenaran, bagaimana bisa KK mengadakan sesuatu diskusi diluar “musik klasik”? Sebenarnya pertanyaan yang sulit, tapi mudah menjawabnya.

Ketika berbicara “kontemporer”, maka tak mudah mendefinisikannya, tapi boleh dibilang, kontemporer adalah semacam sikap kebaruan, yang mana punya pola pikir yang jauh ke depan, ketimbang apa yang sudah mapan. Bach, pada mulanya, adalah seorang musisi kontemporer. Kenapa? Waktu itu, yang populer adalah musik polifoni dan homofoni. Lalu Bach datang, membawa format baru, namanya kontrapung. Yakni melodi dan bas jalan bersamaan biarpun jika dipilah, mereka sebenarnya bisa berbunyi independen. Lalu Bach pun sempat dikucilkan, dianggap aneh karena musiknya, tapi lama-lama diterima juga, dan mendadak jadi sebuah simbol jaman tertentu. Begitupun nasibnya dengan Mozart, Brahms, Debussy atau John Cage. Jadi jika membicarakan Zappa, apakah KK sedang membicarakan sesuatu di luar konteks musik klasik? Dimana yang menjadi tren ketika membicarakan musik klasik, adalah selalu soal Bach dan rekan-rekannya. Tentu bukan soal apakah KK ahli juga dalam membicarakan Zappa dan kontemporerisme. Tapi setidaknya, berusaha, membuka diri terhadap wawasan-wawasan baru, ketika musik klasik dianggap eksklusif dan berkutat di ranah itu-itu saja.

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.