Wednesday, January 20, 2010

Let's Play Violin yang Membahagiakan
















Malam itu adalah malam yang berbahagia. Hanya saja, gerah dan panas. Karena di tempat itu, Auditorium CCF, sedang terlaksana sebuah konser yang amat meriah. Saking meriahnya, hingga penonton membludak, dan menyebabkan, itu tadi, gerah dan panas. Konsernya bernama Let’s Play Violin, sebuah konser biola yang diselenggarakan oleh Ammy Alternative Strings, bekerjasama dengan KlabKlassik dan Tobucil. Pada konser tersebut, hadir seorang pemain biola hebat dan cukup dikenal, namanya Ammy C. Kurniawan. Malam itu, Ammy dan murid-muridnya, tampil bersama. Hanya saja, Ammy tidak banyak bermain biola, ia lebih sering bermain gitar mengiringi murid-muridnya. Menjadi pengayom. Seolah menunjukkan bahwa ia tidak hanya seorang pemain biola yang baik, tapi juga guru yang baik.
Meski diselenggarakan oleh KlabKlassik, yang secara reguler sering mengadakan konser musik klasik yang hening dan sunyi, tapi khusus sekarang, suasananya hingar bingar. Karena Ammy khusus mendatangkan band, lengkap dengan drum set dan sound system. Ammy sepertinya tidak ingin menitikberatkan konsernya, seperti konser musik klasik, pada kemurnian bunyi dan harmoni. Untuk Ammy, tidak apa-apa salah, tidak apa-apa tak semua bunyi bersih, yang penting performa menghibur dan suasana meriah. Dan memang, tercapailah cita-cita Ammy.
Awalnya, performa dibuka oleh Ilham yang membawakan lagu Tanah Air, dengan diiringi permainan Ammy dan istrinya, Utet yang bermain cello. Lagu tersebut sendu dan menyayat. Meski dimainkan oleh Ilham yang berumur sebelas, tapi penghayatannya luar biasa. Setelah itu, band yang diperkuat Nissan, Arif, Jimmy dan Kang Heru, masuk menggantikan Utet, sehingga suasana menjadi meriah. Lewat band tersebut, diiringi violinis-violinis muda lainnya seperti Estu, Adita, Anggindita, Gillian, Hana, Izzati, Tiara dan Retno memainkan lagu-lagu semisal Haste to the Wedding, Spain, Dark Eyes, dan Turkey in the Straw. Afifa sempat menyeling dengan suasana sendu dalam karya Vittorio Monti berjudul Czardas. Keseluruhan performa tersebut sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda klasikal, karena biola disulap menjadi tempat berimprovisasi yang liar dan penuh semangat.
Sebelum konser ditutup, Ammy sempat bermain biola dengan membawakan karya-karya populer yakni Cicak-cicak dan Kopi Dangdut. Bermain trio dengan Ari (drum, perkusi) dan Rudi (bass), Ammy tampil luar biasa memukau dan mengundang decak kagum. Ari juga tampil menarik dengan tidak memainkan drum, tapi kursi yang dipukuli Koran. Setelah penampilan memukau tersebut, keseluruhan pengisi acara masuk dan memainkan lagu terakhir beramai-ramai, berjudul World Dance. Selesailah rangkaian konser KlabKlassik tahun ini, ditutup oleh apresiasi meriah, dan ternyata, tidak perlu melulu klasikal. Yang penting pemain senang, penonton gembira. Tidakkah memang seharusnya demikian musik itu diciptakan?





2 comments:

rizka hany said...

memang keren... suaranya terus mengiang sampai terbawa mimpi...

saya juga nulis disini:
http://theothersideoffireflies.blogspot.com/2009/12/bunyi-bunyian-yang-membuatku-bermimpi.html

^_^

minomino said...

wow, kayanya kenal fotonya yg terakhir :)

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.