Monday, January 25, 2010

Materi Ririungan Gitar Bandung (If I Fell, arr. Yunus Suhendar)

Materi untuk Ririungan Gitar Bandung (RGB) sudah dapat didownload. Ini adalah materi yang diharapkan bisa rampung pada latihan tanggal 14 Februari. Bagi yang baru download (belum ikut latihan 24 Januari kemarin), peran gitarnya (gitar 1, 2, 3, atau 4?), bisa hubungi Sutrisna di 081573682961. Adapun dilampirkan lagu dalam format MIDI maupun lagu asli yang dimainkan The Beatles, sebagai referensi tambahan. Terima kasih. Bach Memberkati. Lennon Memberkati.
If I Fell (The Beatles, arr. Yunus Suhendar)

Wednesday, January 20, 2010

Blog KlabKlassik 2010

Setelah banyak berjanji untuk mengupdate blog setiap hari Senin di tahun 2009, kali ini KK mencoba lebih realistis. Sadar bahwa masing-masing aktivis KK punya kesibukannya sendiri, dan sadar pula bahwa KK adalah semacam ruang apresiasi alternatif, maka update blog yang seminggu sekali dirasakan sulit terwujud secara konsisten. Maka itu, untuk tahun 2010 ini, KK hanya akan diupdate sebulan dua kali, yaitu pada hari senin setelah minggu kedua dan keempat. Mengapa demikian? Karena di minggu kedua dan keempat, KK selalu berkumpul secara rutin di Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Maka itu, sangat cocok jika liputannya ngumpul-ngumpulnya dihadirkan, tentunya ditambah artikel-artikel lainnya. Meski demikian, KK akan mengupdate dengan jumlah artikel yang lebih banyak dan lebih beragam. Adapun KK juga membuka ruang bagi siapapun untuk berkontribusi tulisan mengenai musik klasik, ke klabklassik@yahoo.com. Demikian kiranya, semoga dapat dimaklumi.

Bach Memberkati

Harapan KlabKlassik 2010

Setelah kemarin KlabKlassik (KK) telah memaparkan soal tahun 2009, sekarang KK akan mencoba berharap-harap di tahun 2010. Sebenarnya sama-sama saja dengan orang kebanyakan: KK ingin berbuat yang lebih baik. Tidak ada slogan-slogan semacam: Tahun go international, atau tahun menguasai Bandung atau sebagainya. KK memilih untuk berbuat saja. Barangkali ada rancangan-rancangan program yang sudah rutin, misalnya, Classical Guitar Fiesta yang memang sudah masanya, yakni dua tahun sekali. Lalu konser Ririungan Gitar Bandung yang rencananya akan diadakan setiap tahun. Adapun April String Festival yang pernah terselenggara tahun 2006, ada rencana digelar kembali. Hanya tiga acara tersebut sebetulnya yang pokok. Tapi seperti biasa, KK sering menerima tawaran dari pihak lain untuk ikut serta membantu sebuah acara. Sudah ada tiga acara, yakni resital Funtastic String Ensemble, yakni semacam ensembel string anak-anak, lalu resital D’Java String Quartet, yakni resital kuartet gesek yang tahun lalu sempat sukses penyelenggaraannya di Bandung, serta konser Let’s Play Violin dari Ammy Alternative String yang akhir 2009 kemarin juga sukses.

Adapun program-program lainnya semisal diskusi dan workshop juga tidak luput dari rencana. KK menginginkan adanya workshop teori harmoni dari Royke Koapaha, atau sesekali workshop performance dari Ammy C. Kurniawan. Adapun rencana menarik dari Kang Tikno seperti kunjungan ke saung aklung Mang Udjo. Banyak hal yang mesti dilakukan, dan ada beberapa program yang memang seperti di luar konteks “klasikal”. Tapi demikian, ternyata tak banyak yang protes. Karena memang, KK adalah ruang apresiasi. Sehingga tidak melulu musik klasik yang mampu diapresiasi, tapi banyak hal juga. Dan kemudian, jika bisa mengapresiasi banyak hal di luar musik klasik, maka tentu saja akan menunjang apresiasi musik klasik itu sendiri. Dan lagipula, apalah itu musik klasik? Sampai sekarang KK tidak tahu, dan kemungkinan tidak mau, mendefinisikannya secara gamblang.

Berbagai program itu memang membuat tahun 2010 terasa akan melelahkan dan bahkan terasa kurang. Kurang apa? Kurang mempunyai bulan yang banyak. Karena memang, jika digelar di atas kalendar, acara KK cukup padat ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Namun kami memilih untuk santai saja dan mengetahui kepadatannya via berbuat. KK tidak memaksakan diri dan berbuat sesuai kapasitasnya selama ini. KK memilih untuk larut dalam dinamika perubahan yang ada, tapi tetap bersikukuh untuk ikut serta dalam perubahan itu sendiri. KK bukan event organizer, bukan pula organisasi. Tak ada anggota, tak ada pengurus, dan tak ada ketua. Semuanya adalah sama dan bebas. Sehingga jika ditanya siapa KK? Kami bisa mendefinisikan sesuatu demi kepentingan praktis. Tapi apakah sesungguhnya yang betul-betul bisa mendefinisikan KK melampaui kepraktisan itu sendiri? Kami lebih senang menggambarkannya sebagai: semangat.

Bach memberkati.

Perekrutan Ririungan Gitar Bandung 2010 Dibuka Kembali!

Pendaftaran Ririungan Gitar Bandung (RGB) 2010 dibuka kembali. Rencananya, RGB ini akan diproyeksikan untuk konser di bulan November dengan tema RGB plays The Beatles. Latihan RGB pertama akan dimulai tanggal 24 Januari jam 13.00 di Tobucil, Jl. Aceh. 56. Biaya pendaftaran turun menjadi Rp. 49.000 untuk tiga bulan keikutsertaan.
Tidak ada audisi, tidak ada persyaratan ketat. Yang penting bisa membaca partitur dengan cukup lancar, dan bisa bermain gitar ala fingerstyle (gitar klasik). Membawa gitar sendiri, yakni gitar bersenar nylon. Jika bersedia ikut, dilarang terlambat lebih dari lima belas menit, kecuali dengan ijin sebelumnya. Sedangkan bagi RGB angkatan sebelumnya, dilarang terlambat lebih dari sepuluh menit, kecuali dengan ijin sebelumnya. Latihan akan dilakukan setiap minggu kedua dan keempat di Tobucil pukul 13.00-15.00.
Pemberitahuan lebih lanjut mengenai materi yang akan dibawakan, akan diberitahukan kemudian. Terima kasih.
Bach Memberkati

Partitur Galih dan Ratna, aransemen Yunus Suhendar

Jika menonton konser Ririungan Gitar Bandung (RGB) pada 20 November kemarin, pasti ingat sosok Mas Yunus Suhendar yang bermain gitar solo dengan menampilkan karya aransemennya sendiri. Aransemen tersebut diangkat dari tema lagu populer karya Guruh Soekarno Putra berjudul Galih dan Ratna. Aransemennya terbilang rumit, atraktif, tapi juga harmonis. Sedari dulu, Mas Yunus telah didesak untuk menuliskan karya aransemennya oleh para awak KK, agar banyak orang bisa memainkannya. Akhirnya, ia pun sukses menuliskannya. Silakan klik di sini untuk mengunduhnya secara gratis. Pesan bagi yang kemudian menampilkannya, sebagai rasa hormat kita bagi Mas Yunus, alangkah baiknya jika kita menyebutkan atau menuliskan nama Yunus Suhendar pada setiap penampilan kita yang melibatkan aransemen tersebut. Selamat mencoba, semoga diberkati Bach.

Franz Liszt, Merevolusi Citra Piano




Franz Liszt lahir di Raiding, Hungaria, pada 22 Oktober 1811. Adalah ayahnya, seorang petugas di ketentaraan, yang memperkenalkan Liszt pada piano. Pada usia sembilan, Liszt sudah menunjukkan kemajuan pesat dan bisa membuat publik terkagum dalam sebuah konser yang diisi oleh para aristokrat. Kekaguman para bangsawan tersebut membuat beberapa dari mereka tertarik untuk membiayai pendidikan Liszt. Lizst kemudian pergi ke Vienna dan melanjutkan studi bersama Carl Czerny. Setelah itu, ia pergi ke Konservatorium Paris. Meski demikian, ia ditolak karena kewarganegaraan asingnya. Akhirnya, Liszt memutuskan untuk belajar privat pada Reicha dan Paƫr. Pada tanggal 8 Maret 1824, Liszt konser dalam sebuah opera dan memukau banyak hadirin. Sejak itu, ia menjadi idola banyak orang Paris, dan menjadi idola dimanapun ia tampil. Padahal, umurnya belum menginjak 13 tahun.

Ia berkembang menjadi seorang virtuoso muda yang sangat berbakat. Pernah ia tidak tampil dimanapun selama dua tahun, demi memperkuat latihan tangga nadanya. Dari periode persiapan yang keras tersebut, ia dicap sebagai seorang yang mahir dalam berteknik, salah satu pianis terbaik di generasinya. Salah satu pengakuannya datang di tahun 1837, kala ia memasuki “duel” melawan Thalberg dalam satu konser, seorang yang dianggap pianis populer di masa itu. Liszt “memenangkannya”, karena banyak penonton yang lebih menyukainya. Di masa-masa itu, ia juga tur keliling Eropa. Sejak Liszt juga, seorang pianis mulai dikenal sebagai resitalis solo. Sebelumnya, pianis hanya dikenal sebagai pengiring.

Pada tahun 1848, Liszt menjadi seorang Kapellmeister di Weimar. Pada sebelas tahun jabatannya, ia mengembangkan orkestra dan pertunjukan opera pertama. Diantara tahun-tahun itu juga, tepatnya tahun 1849, Richard Wagner mengunjungi Liszt. Mereka berteman, dan akhirnya banyak bekerjasama. Namun puncak hubungan mereka terjadi setelah Liszt menjadi mertua dari Wagner. Anak dari Liszt, bernama Cosima, meninggalkan suaminya dan menikah dengan Wagner.

Pada tahun 1870, Liszt menjadi direktur dari Akademi Musik Budapest. Disana, ia memfokuskan diri pada mengajar, dan banyak menginspirasi murid-murid yang belajar padanya, seperti Tausig, Hans von Bulow, Emil Sauer, dan Moritz Rosenthal. Pada saat penyelenggaraan festival Wagnerian di kota Bayreuth, Jerman, di tahun 1876, Liszt menjadi salah seorang figur yang familiar di kota tersebut. Akhirnya Liszt menjadikan Bayreuth sebagai kota tempat tinggalnya sampai ia meninggal dunia. Liszt meninggal pada tanggal 31 Juli tahun 1886, atau tiga tahun setelah menantunya, Wagner juga meninggal.

Lizst juga adalah seorang komposer yang produktif. Ia menulis banyak karya yang variatif dari segi gaya, namun paling sering adalah gaya romantik yang menggabungkan aspek sentimentalitas dan bombastisitas. Karya-karyanya yang terkenal antara lain Faust, Dante Symphonies, Anees de pelerinage, Les Preludes, Liebestraum, Mephisto Waltz, dan yang paling mahsyur: Hungarian Rhapsody. Pada musik-musik orkestranya, ia banyak terinspirasi aspek dramatikal dari Wagner.

Kisah Yeyen dan Dian yang Sedang Rekaman
























Jika pernah menyaksikan Musik Sore Tobucil edisi kedua, pasti ingat dengan Yeyen dan Dian. Duet penyanyi dari Jakarta yang tampil memukau membawakan lagu Cinta dari Vina Panduwinata, Manuk Dadali, Halo dari Beyonce, dan Tue Es Mon Autre dari Lara Fabian. Pada 17 Januari kemarin, mereka kembali ke Bandung. Bukan untuk menyanyi di musik sore tapinya, karena musik sore belum terselenggara lagi akibat menghindari resiko hujan. Yeyen dan Dian datang ke Bandung untuk rekaman. Rekaman untuk apa? Rekaman untuk dirinya sendiri, semata-mata demi kesenangan. Maksudnya, pasti ada hal di balik senang-senang, misalnya, demo rekaman itu bisa dipakai untuk apapun, misalnya, untuk referensi job kawinan. Tapi kenyataannya, memang senang-senang yang menjadi inti rekaman kemarin.


Rekaman kemarin, dilakukan di Studio Aru, di jalan Riau. Rekaman ini disponsori dan didukung oleh banyak awak KlabKlassik. Semisal Mas Yunus, Afifa, Kang Ammy Kurniawan, dan saya sendiri. Yeyen dan Dian juga membawa manajernya tercinta, yang bernama Dega. Dari semula dipatok lima lagu selesai dalam satu shift rekaman (satu shift = enam jam), namun akhirnya, hanya dua lagu yang selesai digarap. Tapi memang, menurut pengakuan Afifa dan Kang Ammy yang sudah lebih terbiasa rekaman, dua lagu dalam enam jam adalah yang paling realistis. Karena ketika mendengarkan diri sendiri di rekaman, mendadak kita bisa ketahui banyak hal yang tidak tidak diketahui ketika main secara live. Lagipula, ketika mendengarkan sendiri, mendadak para pengisi rekaman menjadi sangat perfeksionis. Beda ketika main live, yang banyak ditonjolkan adalah performa ketimbang kesempurnaan.

Akhirnya, dua lagu yang berhasil dibungkus dan dibawa pulang ke Jakarta. Yakni Cinta dari Melly dan Krisdayanti, serta Tu Es Mon Autre dari Lara Fabian. KK dan Yeyen dan Dian juga, pada akhirnya tidak terlalu ambil pusing apa kemudian kegunaan praktis dari rekaman ini. Yang penting adalah, kami bertemu, bersilaturahmi, dan tertawa-tawa. Bukankah itu yang membuat musik sedemikian indahnya?

Balada Tamu dari STT Tekstil

















Hari minggu itu, KlabKlassik (KK) mengadakan pertemuannya yang pertama di tahun 2010. Seperti biasa, dua kali sebulan, di minggu genap. Saya datang pertama, yang memang sebaiknya seperti itu, sebagai salah seorang pengurus KK. Saat itu, jam satu siang itu, belum ada yang datang. KK sendirian, untungnya tidak lama. Karena ada tiga orang dari STT Tekstil, yang salah duanya bernama Iskan dan Panji. Mereka bermaksud mengajak ngobrol saya, sekaligus ikut serta dalam pertemuan KK. Dalam obrolan itu, ternyata mereka ingin Tobuciler jadi pelatih mereka. Pelatih apa, memangnya sirkus? Bukan, tapi pelatih dari unit gitar klasik, yang telah didirikan sejak 1994 di kampus mereka.
Satu-satu awak KK berdatangan. Ada Mas Tikno, Jazzy, Mas Yunus, Iyok dan lainnya. Dan kala Tobuciler ceritakan apa gerangan maksud STT Tekstil ini datang, yang lain kaget. Kaget karena, dari kampus yang berbasiskan teknik, yang mata kuliahnya soal kimia dan tekstil, ada semangat membangun unit gitar klasik. Dan antusiasmenya luar biasa, di angkatan sekarang, ada 27 orang pendaftar! Cukup banyak untuk ukuran gitar klasik yang tak seberapa populer. Hal tersebut bahkan mencengangkan bagi orang yang baru datang ke KK, namanya Luthfi. Ia anak jurusan musik di UNPAS. Dan ia mengaku malu, karena yang mendalami mayor gitar klasik di kampusnya tinggal dia seorang. Ini jelas ironi, karena dari kampus yang mata kuliahnya tak ada unsur musik sedikitpun, ada geliat besar di bidang musik. Yang mana KK pun malu dibuatnya, apalagi menilik anggota RGB yang kemarin konser pun cuma ada sepuluh.
Akhirnya dibahas tentang apakah ada kaitannya antara jurusan musik dan non-musik, dengan antusiasme mahasiswanya? Ternyata bisa jadi tidak ada. Karena pada dasarnya, orang yang kuliah di jurusan musik, bisa jadi “semekanis” mereka-mereka yang kuliah di teknik, jika tidak dibarengi pencarian pribadi atas musik itu sendiri. Karena mereka yang kuliah di musik, mendapatkan pelajaran musik bak disuapi saja. Pasif dan hanya penerimaan semata. Maka ujungnya tetap, KK memuji semangat mahasiswa STT Tekstil ini setinggi langit. Dalam situasi musik yang serba tak tentu, mereka masih berpegang teguh pada gitar klasik yang sudah pasti kurang populer. Mereka mau dan dengan semangat mengembangkannya. Seperti Sisyphus yang menggelindingkan batu ke atas bukit. Ia tak tahu untuk apa. Tapi ia tahu tugasnya demikian, dan ia suka menjalaninya.

Kilas Balik KlabKlassik 2009

Tahun 2009 kemarin, adalah barangkali yang paling produktif bagi klabklassik (KK), setidaknya demikian menurut KK sendiri. Tahun ini, KK menyelenggarakan lima kali kali konser. Yang pertama adalah resital kuartet gesek D’Java String Quartet, yang kedua adalah Resital Tiga gitar Plus Satu, yang ketiga adalah Resital Piano-Flute Fauzie Wiriadisastra dan Andrew Sudjana. Konser Ririungan Gitar Bandung, dan yang keempat adalah Let’s Play Violin yang baru terselenggara 23 Desember kemarin. Alhamdulillah, semuanya lancar, penonton penuh, dan tiket habis. Berikut akan KK ceritakan kilasan-kilasan masing-masing konser.

Resital D’Java String Quartet – Resital tersebut diadakan pada tanggal 28 April di Auditorium CCF. D’Java String Quartet merupakan kuartet gesek asal Yogya, yang di dalamnya diperkuat Ahmad (violin), Dani (violin), Dwi (viola), dan Ade (cello). Kuartet yang tadinya berawal dari coba-coba di kampus ISI Yogya sana, mendadak mendapat sambutan hangat saat konsernya di Bandung. D’Java membawakan karya-karya Debussy, Dvorak, Mozart dan Tsintsadze. D’Java String Quartet masih eksis hingga kini, dan berencana tur ke beberapa kota di tahun 2010.

Resital Tiga Gitar Plus Satu – Resital yang diadakan pada tanggal 9 Agustus tersebut, adalah lanjutan dari Resital Tiga Gitar yang diadakan tahun sebelumnya di Gedung Kompas Gramedia. Dinamakan tiga gitar plus satu, karena sesi pertama konser pertama ditampilkan trio Bilawa Ade Respati, Syarif Maulana, dan Widjaja Martokusumo. Sedangkan sesi dua, ditambah seorang lagi pemain gitar, yakni Royke Ng. Tampil membawakan karya-karya Bach, Mozart, Boccherini, Albeniz, Pachelbel dan Fauzie, Resital Tiga Gitar Plus Satu yang diadakan di CCF tersebut mendapat sambutan hangat dari penonton yang memadati seluruh bangku.

Resital Piano-Flute Fauzie Wiriadisastra dan Andrew Sudjana – Konser tersebut sempat tertunda karena Andrew yang mendadak cedera di H-2 penyelenggaraan. Berencana terselenggara 2 Agustus, konser ditunda jadi 20 Agustus. Meski sempat kerepotan karena mesti mengembalikan tiket, tapi ternyata penonton masih antusias dalam menyaksikan konser tundanya. Terbukti dari penuhnya kapasitas CCF. Duet Fauzie dan Andrew membawakan karya-karya Bach, Rutter, Chaminade dan Debussy.

Konser Ririungan Gitar Bandung – Ririungan Gitar Bandung (RGB) adalah ensembel yang dibentuk KK dalam rangka menampung orang-orang yang suka gitar klasik agar berlatih bersama. RGB kemudian dikonserkan pada tanggal 20 November. Bermodalkan sepuluh orang pemain, KK menampilkan karya-karya sederhana dari Telemann, Pachelbel dan Scott Joplin. Meski demikian, konser tetap menghibur, karena antara lain diperkuat oleh Yunus Suhendar, ISO Guitar Ensemble, KlabKlassik String Trio dan lain-lain. Mereka semua adalah penampil pembuka, yang turut memeriahkan acara dengan penampilan yang lebih santai dan tidak terlalu menyiratkan ketegangan klasikal.

Let’s Play Violin – Let’s Play Violin adalah konser pertama yang diselenggarakan KK yang menggunakan format band. Meski demikian, animonya tetap besar, dan ini tak lepas dari reputasi Ammy C. Kurniawan, sang penggagas. Pemain biola ternama tersebut, memilih untuk mempercayakan evennya pada KK, meski KK tidak berpengalaman dalam mengurus konser dalam format band. Meski demikian, acara tetap berlangsung baik dan meriah. Hal tersebut didorong oleh titik berat Ammy yang tidak pada kemurnian bunyi, melainkan pada performa dan improvisasi.

Untuk ukuran KK yang mengkhususkan diri pada komunitas alih-alih Event Organizer (EO), konser-konser diatas dirasa cukup. Terlebih disamping menggelar konser-konser tersebut, KK juga mengadakan diskusi-diskusi di Tobucil. Seperti diskusi musik kontemporer bersama Diecky K. Indrapradja dan Royke Koapaha, lalu Musik Sore tobucil (digelar tiga kali sepanjang tahun 2009), serta undangan-undangan workshop dan seminar di Walagri, Cahaya Bangsa Classical School, serta Universitas Pendidikan Indonesia. Ulang tahun keempat yang jatuh pada 9 Desember kemarin membawa KK pada rasa syukur dan sekaligus juga beban baru. Beban untuk berkarya lebih maksimal dan konsisten di tahun mendatang.
Bach memberkati.

Let's Play Violin yang Membahagiakan
















Malam itu adalah malam yang berbahagia. Hanya saja, gerah dan panas. Karena di tempat itu, Auditorium CCF, sedang terlaksana sebuah konser yang amat meriah. Saking meriahnya, hingga penonton membludak, dan menyebabkan, itu tadi, gerah dan panas. Konsernya bernama Let’s Play Violin, sebuah konser biola yang diselenggarakan oleh Ammy Alternative Strings, bekerjasama dengan KlabKlassik dan Tobucil. Pada konser tersebut, hadir seorang pemain biola hebat dan cukup dikenal, namanya Ammy C. Kurniawan. Malam itu, Ammy dan murid-muridnya, tampil bersama. Hanya saja, Ammy tidak banyak bermain biola, ia lebih sering bermain gitar mengiringi murid-muridnya. Menjadi pengayom. Seolah menunjukkan bahwa ia tidak hanya seorang pemain biola yang baik, tapi juga guru yang baik.
Meski diselenggarakan oleh KlabKlassik, yang secara reguler sering mengadakan konser musik klasik yang hening dan sunyi, tapi khusus sekarang, suasananya hingar bingar. Karena Ammy khusus mendatangkan band, lengkap dengan drum set dan sound system. Ammy sepertinya tidak ingin menitikberatkan konsernya, seperti konser musik klasik, pada kemurnian bunyi dan harmoni. Untuk Ammy, tidak apa-apa salah, tidak apa-apa tak semua bunyi bersih, yang penting performa menghibur dan suasana meriah. Dan memang, tercapailah cita-cita Ammy.
Awalnya, performa dibuka oleh Ilham yang membawakan lagu Tanah Air, dengan diiringi permainan Ammy dan istrinya, Utet yang bermain cello. Lagu tersebut sendu dan menyayat. Meski dimainkan oleh Ilham yang berumur sebelas, tapi penghayatannya luar biasa. Setelah itu, band yang diperkuat Nissan, Arif, Jimmy dan Kang Heru, masuk menggantikan Utet, sehingga suasana menjadi meriah. Lewat band tersebut, diiringi violinis-violinis muda lainnya seperti Estu, Adita, Anggindita, Gillian, Hana, Izzati, Tiara dan Retno memainkan lagu-lagu semisal Haste to the Wedding, Spain, Dark Eyes, dan Turkey in the Straw. Afifa sempat menyeling dengan suasana sendu dalam karya Vittorio Monti berjudul Czardas. Keseluruhan performa tersebut sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda klasikal, karena biola disulap menjadi tempat berimprovisasi yang liar dan penuh semangat.
Sebelum konser ditutup, Ammy sempat bermain biola dengan membawakan karya-karya populer yakni Cicak-cicak dan Kopi Dangdut. Bermain trio dengan Ari (drum, perkusi) dan Rudi (bass), Ammy tampil luar biasa memukau dan mengundang decak kagum. Ari juga tampil menarik dengan tidak memainkan drum, tapi kursi yang dipukuli Koran. Setelah penampilan memukau tersebut, keseluruhan pengisi acara masuk dan memainkan lagu terakhir beramai-ramai, berjudul World Dance. Selesailah rangkaian konser KlabKlassik tahun ini, ditutup oleh apresiasi meriah, dan ternyata, tidak perlu melulu klasikal. Yang penting pemain senang, penonton gembira. Tidakkah memang seharusnya demikian musik itu diciptakan?





Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.