Sunday, December 20, 2009

Pasca Konser RGB: Catatan Pengalaman Eksistensial

KK pernah tahu, beberapa atau bahkan banyak konser musik klasik yang skalanya lebih besar dari apa yang KK selenggarakan tanggal 20 November kemarin. Pasti banyak yang lebih besar dan luas, jika ukurannya dana, ukurannya jumlah penonton, ukurannya banyaknya pemain yang tampil, atau ukurannya gedung yang digunakan. Tapi jika ukurannya pemaknaan orang per orang, konser Ririungan Gitar Bandung (RGB) kemarin, bisa jadi terasa besar dan bermakna. Artinya, soal besar tidaknya, bukan melulu barometer-barometer fisikal seperti uang, gedung dan kuantitas pemain, tapi betapa, bagi setiap orang yang tampil disana, punya makna tersendiri yang barangkali sangat pribadi dan bisa jadi tak terpahami bagi orang lain. Ini yang Sartre sebut sebagai: pengalaman eksistensial. Tobuciler tak mungkin menanyai semua yang tampil, karena jumlahnya tiga puluh orang lebih. Maka itu diambil tiga, yakni Sutrisna, Yunus Suhendar, dan Nyimas Ina Winangsih.

Bagi Sutrisna alias Kang Trisna, pengalamannya di RGB ini adalah menyenangkan sekaligus menegangkan. “Saya sudah tiga kali konser, yang pertama di Indra Music, yang kedua juga. Yang pertama formatnya duo, yang kedua adalah trio. Yang ketiga ya RGB kemarin. Tapi yang penampilannya paling ternikmati oleh saya sendiri, ternyata yang terakhir. Selain itu, saya sangat berbahagia, karena seluruh kegiatan bisa terlaksana, padahal tadinya pesimis,” Demikian pengakuan pria menikah yang hobinya bertani dan mencangkul tersebut. Ia bahkan menambahkan, bahwa dipercayanya ia menjadi ketua RGB, bukanlah sesuatu yang pernah dibayangkan sebelumnya. Bahkan, yang ini kata KK, istri Kang Trisna sedang hamil menjelang bulan kesembilan. Yang artinya, dalam setiap latihan menjelang konser, Kang Trisna sering panik karena di sisi lain, istrinya bisa melahirkan kapan saja, dan ia mestilah jadi pria siaga. Pernah dalam suatu kesempatan latihan, ia pamit pulang duluan karena istrinya mual-mual. Jadilah ia pulang, menumpang Kelvin naik motor, dan memintanya ngebut. Karena apa? Karena Kang Trisna sayang istrinya, dan sayang anak yang dikandung oleh istrinya. Tidakkah jika demikian, konser RGB ini boleh dibilang bermakna baginya, karena pengorbanannya?


Sedangkan bagi Yunus Suhendar alias Yunus Muslimanto, beda lagi. Ini adalah kali kedua ia konser, tampil sendiri dalam suasana klasikal. Dulu pernah ia tampil di gereja di Sukajadi, namanya Gereja Kristen Oukumene. Ia main dua lagu, pertama Bouree karya Bach, kedua, ia main En Los Trigales karya Joaquin Rodrigo. Tapi katanya, ia jauh dari puas, bahkan cenderung malu dan kecewa. Tapi yang menarik, bagi KK, ia tak patah arang. Dan dibayar lunas dengan penampilan mengagumkan di konser RGB kemarin. Membawakan Galih dan Ratna yang diaransemen sendiri, ia tampil tenang dan mengundang decak kagum. Walaupun secara gestural memang terlihat malu-malu, tapi andai kau ada ketika awal ia dibujuk rayu untuk tampil di konser RGB. Yunus sangat malu-malu dan tadinya menolak keras untuk tampil. Tapi bujuk rayu KK barangkali juga tak kalah keras dan tak lupa terus memberikan dorongan dan kepercayaan, sehingga akhirnya Yunus mau, tanpa lupa juga diberi julukan Yunus Muslimanto, sebagai penghargaan kami atas kemampuan aransemennya yang menyamai Jubing Kristianto. Setelah ditanya, apakah Yunus mau tampil lagi? Ia jawab: ketagihan. Sesuatu yang melegakan buat KK, karena tidakkah keinginan untuk tampil dan mau diapresiasi, adalah bentuk kepercayaan diri seseorang untuk mau berada dalam zona tak nyaman? Itu hebat, dan mestilah dihargai.


Terakhir yang ditanyai adalah Nyimas Ina Winangsih alias Ina. Usianya empat belas, dan sedang duduk di bangku SMP, yakni SMPN 14. Baginya, ini justru debutnya. Ia, katanya, tak pernah betul-betul serius belajar gitar klasik. Pernah sebentar saja di Gelanggang Generasi Muda ia belajar, dan tak terbayangkan bisa tampil dalam sebuah konser. Yang mana dalam usia yang masih sangat muda. Yang bermakna baginya pula, katanya, ia sedang dalam proses membuat novel, judulnya “Tertawa Bersama Awan”. Ini, katanya, soal cewek yang kehilangan ayahnya, dan novel ini menceritakan soal perjalanan pencarian figur ayah. Novel tersebut belum selesai, dan ia masih belum tahu bagaimana akhirnya. Tapi yang pasti, ia mau memasukkan inspirasinya dari RGB. Yakni ketika Callista, si cewek itu, dalam rangka mengenang ayahnya yang gemar musik klasik, ia mau mengikuti komunitas musik klasik dan bermain gitar bersamanya. Tentunya, Insya Allah, akan sama-sama kita nantikan nantinya novelnya seperti apa.

No comments:

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.