Monday, December 21, 2009

Testimonial untuk Ulang Tahun Keempat KlabKlassik

Kemarin, ya kemarin, hari Minggu siang yang panas itu, Tobuciler dan KlabKlassik berkumpul merayakan hari jadinya yang keempat. Maka itu dibagikan semacam kertas, untuk diisi testimoni yang ditujukan bagi KlabKlassik. Berikut pengakuannya:

Yunus Suhendar: Mau menginjak usia lima tahun, KlabKlassik harus semakin matang, seperti mangga atau buah-buahan lainnya. Pasti enak rasanya kalau lebih matang, semoga KlabKlassik semakin jaya.



Nyimas Ina Winangsih: Disini ga kumpul terus main aja, tapi belajar juga. Gak cuma musik, tapi belajar yang lain juga. Udah kayak keluarga. Kereeen. (Awas galau) Hehe :D



Tikno Guntoro: Mudah-mudahan bisa jadi wadah dan tempat yang nyaman bagi teman-teman yang haus dan butuh info tentang teori, lagu, dan hal-hal yang berkaitan dengan musik klasik. Masukan tambahan:

· Eksplor musik lokal kalau bisa ditambah agar ada pembanding dan nuansa kedaerahan tidak dilupakan.

· Esensial bermusik ada tiga: wawasan, apresiasi dan diapresiasi. Mudah-mudahan KlabKlassik bisa jadi sarana dan jembatan buat orang-orang awam (selain mencerdaskan anggota KlabKlassik, moga-moga kita juga bisa mencerdaskan masyarakat umum).

· Jaga suasana kekeluargaan agar jadi tempat yang nyaman dan aman untuk berkumpul.

Afifa Ayu: Semoga KlabKlassik semakin maju dan established tapi tetap mempertahankan ciri-ciri KlabKlassik, misalnya galau (haha) dan kekeluargaan. Semoga tahun 2010 semua kegiatan KlabKlassik berhasil dengan sukses. Yeah! Loads of love for KlabKlassik

Royke Ng: KlabKlassik sudah lebih maju. Orang-orangnya gokil-gokil. Yang baru ikutan sebentar lagi jadi ikutan error gokil (siap-siap aja). Maju terus klab. Terus berkarya ke dalam dan ke luar.



Mohammad Ilham Akbar: KlabKlassik bikin aku makin seneng main musik. Pokoknya KlabKlassik harus tetep ada. Mudah-mudahan nanti KlabKlassik lebih dikenal masyarakat, dalam dan bahkan luar negeri.

Sutrisna: KlabKlassik sekarang lebih berwarna, lebih segar, suasana kekeluargaan dan persahabatan terasa semakin kental. Terutama munculnya orang-orang baru membuat Klab semakin lengkap, rasanya semua ada di KlabKlassik.

Bilawa Ade Respati: Makin variatif dan menyenangkan. Apresiasinyan juga meningkat. Banyak wajah baru yang segar, sehingga klab semakin berwawasan (naon deui). Sukses marilah kita selalu.

Azisa Noor: KlabKlassik itu kayak warung yang nyaman dan rame J Kayak keluarga ketemu gede, Maju Terus KlabKlassik!





Kelvin Simeone Kwee:
KlabKlassik kumpulan para galau’ers, keluarga baru dan komunitas galau. How lovely to join and wishing all the best.




Pirhot Nababan:
Tobat! Lembaga ke progresif revolusioner yang sering berbenturan dengan feodalisme dan konservatisme akut. Agen penyebar galau: galau progresif revolusioner.

Hendy Reinaldo: Mantap, orangnya pada jago-jago, baik-baik, kacau-kacau hahaha. Sering-sering kabarin kalo ada acara ya.

Tobucil & Klabs: Klab Klassik, berhasil membuktikan kekonsistenannya dalam berkomunitas (termasuk galau dengan konsisten.. :D) selamat ulang tahun ..

Minggu Siang di Kediaman Afifa, Azisa dan Ilham


Hari itu hari Minggu, dan KK mendapati undangan. Undangan yang sebenarnya dari KK juga. Undangan yang berisi soal makan-makan. Makan-makan yang merupakan syukuran atas konser Ririungan Gitar Bandung (RGB) yang berlangsung tepat sebulan lalu, yakni tanggal 20 November. Makan-makan yang, tidak cuma itu, tapi juga merupakan syukuran atas ulang tahun keempat KlabKlassik. Yang sebetulnya jatuh pada tanggal 9 Desember, tapi tak apa-apa kan dirayakan terlambat?

KK berkumpul, di kediaman Afifa, Azisa, dan Ilham. Maksudnya, mereka semua bersaudara, sehingga bukan artinya kami datang ke tiga rumah. Janjinya pukul sepuluh siang, tapi kebanyakan baru datang menjelang jam dua belas, termasuk KK sendiri. Disana ada seluruh anggota RGB kecuali Hin Hin yang tidak bisa hadir karena istrinya tengah mengandung di bulan kesembilan. Kang Trisna pun sama, tapi ia tetap hadir, entah karena dirinya adalah ketua dan pemrakarsa acara ini, atau memang sangat rindu berkumpul. Yang lainnya ada Mas Yunus, Mas Tikno, Ina, Royke, Iyok, Bilawa, Kelvin dan Kevin.

Di jam yang dinanti, yakni jam dua belas. Kami semua berkumpul, di hadapan meja yang penuh makanan. Alhamdulillah ada spaghetti, ayam goreng, asparagus, dan kentang goreng. Membuat KK sulit berkonsentrasi ketika memberi sambutan, ”Paling berat adalah memberi sambutan menjelang makan-makan, karena pasti diharapkan ingin cepat selesai. Jadi kita langsung berdoa aja ya.” Demikian kami berdoa, dan setelah itu kami makan.

Setelah makan, diadakan semacam rapat, mengenai agenda klab tahun 2010. Diskusi berlangsung renyah penuh tawa, sama sekali tidak serius. Akhirnya diputuskan, bahwa di tahun 2010, ada dua konser gitar dan satu konser biola. Sisanya? Kami mencoba memperbanyak diskusi-diskusi serta usulan baru: kunjungan ke saung angklung Mang Udjo untuk memperlebar apresiasi. Agenda 2010 tersebut menyiratkan bahwa klab siap untuk ”memperpanjang umur” dan tidak merasa cepat puas atas apa yang sudah dialami empat tahun ini. Ketika makan-makan dimulai, kami bersyukur bahwa klab ”sudah” empat tahun. Tapi kala rapat, mendadak semuanya dimaknai bahwa klab ”baru” menginjak empat tahun, sehingga amat penting untuk terus berkarya. Bach Memberkati.

Sunday, December 20, 2009

Ammy C. Kurniawan dan Persiapan Konsernya


Di Bandung yang tercinta ini, ada seorang violinis. Violinis handal yang jam terbangnya sangat tinggi. Banyak orang mengenalnya, tapi juga barangkali banyak yang tidak. Karena ia, Ammy C. Kurniawan, lebih sering menjadi penyokong dan tulang punggung bagi musisi lainnya. Ia sering jadi additional player band-band ternama semisal Nidji, Hijau Daun, Mocca, dan She, tapi tentunya banyak publik yang lebih fokus pada band-band tersebut ketimbang dirinya. Tapi jika tahu band di Bandung yang bernama 4 Peniti, pasti dengan mudah mengenalnya. Pemain biola yang atraktif, yang dengan memejamkan mata berlenggak-lenggok tubuhnya mengikuti sayatan melodi sang biola.
Tapi lagi-lagi, sebentar lagi, ia kembali jadi tulang punggung. Ia tak mau lagi dikenal, ia memilih di belakang dan menyokong yang lain untuk tampil. Sekarang adalah murid-muridnya sendiri. 23 Desember nanti, ia yang mendirikan semacam lembaga pendidikan biola independen bernama Ammy Alternative Strings, akan mengadakan konser berjudul Let’s Play Violin. Acara diselenggarakan di CCF hari rabu ini, pukul 19.30-21.00. Alhamdulillah, KlabKlassik ikut ambil bagian. Berikut petikan wawancara dengan Ammy C. Kurniawan.

Ceritakan singkat awal mula Kang Ammy belajar biola.

Mulai belajar biola dari kelas 5 SD, tapi ketika SMP malah lebih mendalami gitar, baru ketika memasuki bangku SMA mulai mendalami biola lagi.

Soal Alternative Strings. Memang ada gitu? Apa yang Kang Ammy ketahui tentang Alternative Strings?

Di Amerika dan Eropa belakangan ini, terdapat kurikulum musik baru yang tengah melanda generasi mudanya, yakni Alternative Strings. Walaupun metode pelajaran tetap bersumber pada musik klasik yang merupakan dasar, tetapi Alternative Strings sebagai kurikulum baru membuka wawasan kita bahwa biola tidak hanya terpaku pada musik klasik, tetapi ada juga non klasik seperti blues, jazz, folk, rock dan tradisional atau yang lebih dikenal dengan world music. Bermain biola tidak lagi berdasarkan pada satu jenis musik tetapi memainkan sebuah musik itu sendiri, yang menuntut seorang pemainnya untuk menciptakan teknik baru dengan materi yang sudah ada. Kepekaan berimprovisasilah yang pada akhirnya akan berbicara dalam bermusik atau bermain biola.

Kenapa Kang Ammy memutuskan untuk mendalami Alternative Strings? Padahal mungkin belum seberapa populer dibanding fungsi string yang kebanyakan untuk musik klasik.

Karena menurut saya, kalau bermain musik itu harus dengan hati dan jiwa, alternative strings sesuai dengan jiwa saya, dengan alternative string saya bisa mendapatkan kebebasan bermusik dan bereksplorasi dengan permainan biola saya. Selain itu saya lebih sering memainkan musik dengan gaya seperti itu dalam kehidupan sehari-hari saya, kalau saya tampil di acara-acara atau kegiatan musik pun saya lebih banyak menampilkan musik-musik alternative bukan klasik.

Kang Ammy, apa saja yang Kang Ammy lakukan untuk menyosialisasikan Alternative Strings ini? Apakah memang iya perlu disosialisasikan, atau bisa untuk konsumsi pribadi saja?

Salah satunya dengan mendirikan Ammy Alternative String, sebagai wadah komunitas untuk belajar dan berkumpul. Selain itu dengan mengadakan home concert juga, workshop dan memperbanyak perform.

Kang Ammy, sepertinya tidak sedikit yang mengira Alternative Strings ini sebagai ajaran "sesat" hehe karena dianggap melenceng jauh dari kaidah-kaidah musik klasik. Bagaimana Kang Ammy menanggapi ini?

Kalau menurut saya pada dasarnya semua jenis musik di dunia ini baik dan tidak ada yang sesat, tergantung bagaimana musisi itu sendiri membawakannya, selama musik yang dibawakannya tidak merugikan orang lain.

Oke, terakhir, tanggal 23 ini Kang Ammy akan mengadakan konser Let's Play Violin yang merupakan cara Kang Ammy menyosialisasikan Alternative Strings. Jelaskan pada kami, kenapa sedemikian penting untuk menyaksikan konser tersebut?

Karena konser ini bertujuan untuk membuka wawasan bermusik terutama biola, bahwa di alternative string itu bermain biola tidak dipilah-pilah dalam genre musik tetapi lebih mengkaji teknik bahasa musik pelakunya. Dengan nonton konser ini mudah-mudahan orang akan lebih tertarik lagi terhadap biola, karena ternyata dengan biola pun segala jenis musik bisa dimainkan. Yang penting kan membuat orang tertarik dulu, suka dulu sama biolanya, kalau sudah menyukai biola, akan terasa lebih mudah untuk mempelajarinya. Nanti juga dia bisa memilih sendiri jenis musik apa yang lebih dia sukai, tidak dibatasi hanya pada satu jenis musik saja.

Konser Ammy Alternative Strings: "Let's Play Violin!"


Rabu, 23 Desember 2009
Auditorium CCF, Jl. Purnawarman no. 32
Jam 19.30-21.00


Di Amerika dan Eropa belakangan ini, terdapat kurikulum musik baru yang tengah melanda generasi mudanya, yakni Alternative Strings. Walaupun metode pelajaran tetap bersumber pada musik klasik yang merupakan dasar, tetapi Alternative Strings sebagai kurikulum baru membuka wawasan kita bahwa biola tidak hanya terpaku pada musik klasik, tetapi ada juga non klasik seperti blues, jazz, folk, rock dan tradisional atau yang lebih dikenal dengan world music. Bermain biola tidak lagi berdasarkan pada satu jenis musik tetapi memainkan sebuah musik itu sendiri, yang menuntut seorang pemainnya untuk menciptakan teknik baru dengan materi yang sudah ada. Kepekaan berimprovisasilah yang pada akhirnya akan berbicara dalam bermusik atau bermain biola.

Musisi biola di Bandung, Ammy C. Kurniawan, merupakan salah satu musisi yang memperdalam Alternative Strings. Selain memperdalam, ia juga tengah berusaha mengembangkan kurikulum tersebut lewat lembaga pendidikan independen yang bernama: Ammy Alternative Strings, Ammy Alternative Strings merupakan tempat berkumpul dan belajar bagi siapapun yang tertarik pada alat musik string, khususnya biola. Harapannya adalah dapat menjadi suatu wadah pembinaan bagi para siswa dalam mempelajari biola.

Sebagai bentuk nyata upaya pengembangan dan pendalamannya, Ammy Alternative Strings menggelar sebuah konser yang bertajuk “Let’s Play Violin”. Konser tersebut nantinya menitikberatkan pada siswa yang tengah mempelajari biola dengan segala kesukaannya, keberaniannya dan kemampuan berbahasa musiknya serta pemahamannya dalam bermusik. Mereka belajar untuk mengetahui bagaimana proses latihan dan diharapkan juga untuk berani tampil di muka umum, berekspresi dan diapresiasi serta dapat mengapresiasi musik itu sendiri.

Pagelaran ini ditata dalam bentuk pertunjukan yang bersifat menghibur, sebagai ungkapan para siswa dalam mengekspresikan permainan biolanya dalam berbagai jenis musik. Mereka tampil diiringi oleh band yang terdiri dari para musisi profesional. Semoga pagelaran ini dapat menjadi ajang saling mengenal, menghargai dan bertukar informasi yang nantinya mendukung perkembangan potensi bermusik para siswa

Pengisi Acara:
Adita, Afifa, Alifia, Andani, Anggindita, Firas, Gillian, Hana, Ilham, Inggita, Izzati, Miranti, Pangestu, Tiara, Retno.
Ammy, Rudi, Ari.
Teddy A.B., Arif, Nissan, Jimmy, Heru.

Informasi Tiket (Rp. 10.000):
Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Telp. 022-4261548
Utet. 08122019152
Syarif. 0817212404
----

Pasca Konser RGB: Catatan Pengalaman Eksistensial

KK pernah tahu, beberapa atau bahkan banyak konser musik klasik yang skalanya lebih besar dari apa yang KK selenggarakan tanggal 20 November kemarin. Pasti banyak yang lebih besar dan luas, jika ukurannya dana, ukurannya jumlah penonton, ukurannya banyaknya pemain yang tampil, atau ukurannya gedung yang digunakan. Tapi jika ukurannya pemaknaan orang per orang, konser Ririungan Gitar Bandung (RGB) kemarin, bisa jadi terasa besar dan bermakna. Artinya, soal besar tidaknya, bukan melulu barometer-barometer fisikal seperti uang, gedung dan kuantitas pemain, tapi betapa, bagi setiap orang yang tampil disana, punya makna tersendiri yang barangkali sangat pribadi dan bisa jadi tak terpahami bagi orang lain. Ini yang Sartre sebut sebagai: pengalaman eksistensial. Tobuciler tak mungkin menanyai semua yang tampil, karena jumlahnya tiga puluh orang lebih. Maka itu diambil tiga, yakni Sutrisna, Yunus Suhendar, dan Nyimas Ina Winangsih.

Bagi Sutrisna alias Kang Trisna, pengalamannya di RGB ini adalah menyenangkan sekaligus menegangkan. “Saya sudah tiga kali konser, yang pertama di Indra Music, yang kedua juga. Yang pertama formatnya duo, yang kedua adalah trio. Yang ketiga ya RGB kemarin. Tapi yang penampilannya paling ternikmati oleh saya sendiri, ternyata yang terakhir. Selain itu, saya sangat berbahagia, karena seluruh kegiatan bisa terlaksana, padahal tadinya pesimis,” Demikian pengakuan pria menikah yang hobinya bertani dan mencangkul tersebut. Ia bahkan menambahkan, bahwa dipercayanya ia menjadi ketua RGB, bukanlah sesuatu yang pernah dibayangkan sebelumnya. Bahkan, yang ini kata KK, istri Kang Trisna sedang hamil menjelang bulan kesembilan. Yang artinya, dalam setiap latihan menjelang konser, Kang Trisna sering panik karena di sisi lain, istrinya bisa melahirkan kapan saja, dan ia mestilah jadi pria siaga. Pernah dalam suatu kesempatan latihan, ia pamit pulang duluan karena istrinya mual-mual. Jadilah ia pulang, menumpang Kelvin naik motor, dan memintanya ngebut. Karena apa? Karena Kang Trisna sayang istrinya, dan sayang anak yang dikandung oleh istrinya. Tidakkah jika demikian, konser RGB ini boleh dibilang bermakna baginya, karena pengorbanannya?


Sedangkan bagi Yunus Suhendar alias Yunus Muslimanto, beda lagi. Ini adalah kali kedua ia konser, tampil sendiri dalam suasana klasikal. Dulu pernah ia tampil di gereja di Sukajadi, namanya Gereja Kristen Oukumene. Ia main dua lagu, pertama Bouree karya Bach, kedua, ia main En Los Trigales karya Joaquin Rodrigo. Tapi katanya, ia jauh dari puas, bahkan cenderung malu dan kecewa. Tapi yang menarik, bagi KK, ia tak patah arang. Dan dibayar lunas dengan penampilan mengagumkan di konser RGB kemarin. Membawakan Galih dan Ratna yang diaransemen sendiri, ia tampil tenang dan mengundang decak kagum. Walaupun secara gestural memang terlihat malu-malu, tapi andai kau ada ketika awal ia dibujuk rayu untuk tampil di konser RGB. Yunus sangat malu-malu dan tadinya menolak keras untuk tampil. Tapi bujuk rayu KK barangkali juga tak kalah keras dan tak lupa terus memberikan dorongan dan kepercayaan, sehingga akhirnya Yunus mau, tanpa lupa juga diberi julukan Yunus Muslimanto, sebagai penghargaan kami atas kemampuan aransemennya yang menyamai Jubing Kristianto. Setelah ditanya, apakah Yunus mau tampil lagi? Ia jawab: ketagihan. Sesuatu yang melegakan buat KK, karena tidakkah keinginan untuk tampil dan mau diapresiasi, adalah bentuk kepercayaan diri seseorang untuk mau berada dalam zona tak nyaman? Itu hebat, dan mestilah dihargai.


Terakhir yang ditanyai adalah Nyimas Ina Winangsih alias Ina. Usianya empat belas, dan sedang duduk di bangku SMP, yakni SMPN 14. Baginya, ini justru debutnya. Ia, katanya, tak pernah betul-betul serius belajar gitar klasik. Pernah sebentar saja di Gelanggang Generasi Muda ia belajar, dan tak terbayangkan bisa tampil dalam sebuah konser. Yang mana dalam usia yang masih sangat muda. Yang bermakna baginya pula, katanya, ia sedang dalam proses membuat novel, judulnya “Tertawa Bersama Awan”. Ini, katanya, soal cewek yang kehilangan ayahnya, dan novel ini menceritakan soal perjalanan pencarian figur ayah. Novel tersebut belum selesai, dan ia masih belum tahu bagaimana akhirnya. Tapi yang pasti, ia mau memasukkan inspirasinya dari RGB. Yakni ketika Callista, si cewek itu, dalam rangka mengenang ayahnya yang gemar musik klasik, ia mau mengikuti komunitas musik klasik dan bermain gitar bersamanya. Tentunya, Insya Allah, akan sama-sama kita nantikan nantinya novelnya seperti apa.

Konser itu Datang Jua


Setelah dari Januari 2009 berlatih bersama, akhirnya Ririungan Gitar Bandung (RGB) bermain di konsernya yang pertama. Konser yang digelar dari RGB, oleh RGB, dan untuk RGB. Konser yang pada akhirnya diselenggarakan tanggal 20 November kemarin itu, berlangsung cukup, apa ya, KK sulit menjelaskan, karena KK merupakan penyelenggara. KK akan memaparkan dari sudut pandang persiapan panitia saja:

Konser tersebut cukup rumit, karena apa? Karena banyak sekali pengisi acara, yang juga merupakan orang-orang yang biasa menjadi panitia dalam acara-acara KK. Memang, awalnya, KK mengusulkan, bahwa acara ini mestilah menjadi semacam hadiah, untuk para aktivis klab yang sudah sering susah payah membuat orang lain senang. Orang lain disini, maksudnya, penonton dan pengisi acara. Demikianlah, saking para aktivis klab sudah beberapa kali memanitiai acara, terkadang mereka lupa, apakah mereka juga senang? Maka itu konser RGB ini dibuat, agar salah satunya, kami, para panitia, juga senang. Tapi ujungnya malah, pemain tidak konsentrasi karena mereka mesti juga mengurusi acara, dan sebaliknya.

RGB adalah, kau tahu, kelompok ensembel yang keanggotaannya dibuka untuk umum. Siapa saja boleh ikut, asal membayar biaya anggota sebesar 50.000 per tiga bulan dan bisa baca not balok. RGB ini cukup sering diberitakan di blog Tobucil kemarin-kemarin. Akhirnya diputuskan, bahwa konser RGB, tak cuma RGB yang main, tapi juga beberapa penampil dalam berbagai format. Seperti: Bernadette Yodia dan Yunus Suhendar (gitar solo), KlabKlassik String Trio dan Pirhot Elisa (gitar dan instrument lainnya), serta Royke D-K-K, ISO Divisi Gitar, dan Sebelas Duabelas Guitar Dup (ensembel gitar). Yang kemudian, kesemuanya itu ditutup oleh penampilan RGB dengan empat karya, yakni Canon dari G.Ph. Telemann, Canon in D dari Johann Pachelbel, Lagrima dari Francisco Tarrega, dan The Entertainer karya Scott Joplin. Yang disebut terakhir, dimainkan secara beramai-ramai, dengan seluruh pengisi acara.

Acara yang diberi judul Ririungan Gitar Bandung: Maen! itu, meski cukup rumit karena campuran panitia-pemain itu tadi, tapi Alhamdulillah, cukup memuaskan, setidaknya bagi kami sendiri. Bagi KK sendiri, yang dimaknai dari acara ini, bukan soal apakah acara tersebut diselenggarakan dalam lingkup kecil dan minim sponsor. Tapi lebih ke merupakan, bahwa ada makna yang berbeda bagi setiap pemain. Bagi Yunus Suhendar alias Mas Yunus misalnya. Baginya, ini penampilan debutnya solo di atas panggung, dan itu membangkitkan kepercayaan dirinya. Bahkan ia bersemangat untuk tampil terus pada kesempatan-kesempatan lainnya. Lalu bagi ketua RGB, Sutrisna, ini juga diakuinya sebagai pengalaman berharga, karena ia dipercaya sebagai ketua, dan berperan dalam hampir keseluruhan acara. Pengalaman berharga, mengingat ketika pertama kali ia datang ke klabklassik, KK sempat melihatnya tanpa kata, memojok, dan terasa ada keminderan dalam dirinya. Demikian, dan mungkin juga ada banyak makna yang tersirat dalam setiap penampil yang lain. Yang KK tidak tahu dan tidak perlu tahu. Tapi bukan berarti KK tak peduli, kau tahulah kenapa.


Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.