Sunday, September 06, 2009

G dalam RGB: Gitar atau Galau?



Ririungan Gitar Bandung

Diambil dari www.tobucil.blogspot.com

Hari Minggu itu (30/8), rencananya ada acara buka bersama KlabKlassik (KK) di kediaman Syarif. Meski semua orang tahu acara buka bersama itu seyogianya di kala adzan maghrib, tapi anehnya yang ini berkumpul sejak pukul empat. Tidak aneh sebenarnya, jika tahu alasannya. Ya, ada latihan RGB dulu, alias Ririungan Gitar Bandung, yang mana merupakan proyek KK sejak Desember silam. Konser yang akan dibuat untuk RGB sudah dekat, yakni 20 November. Sudah saatnya ensembel gitar ini menunjukkan kemampuan gitarnya, alih-alih giginya. Di acara buka bersama itu, memang telah direncanakan, untuk menjadi penampilan perdana RGB.

Akhirnya, setelah latihan selama dua jam. Tiba juga waktu berbuka yang dinanti seluruh umat Islam di dunia. Acara buka bersama hari itu dihadiri cukup banyak orang. Ini cukup wajar, mengingat salah satu misi KK menggelarnya, adalah untuk syukuran. Syukuran karena tahun ini, KK bisa menyelenggarakan tiga kali resital, yakni D’Java String Quartet, Resital Tiga Gitar Plus Satu, dan Flute & Piano Recital. Soal bagus tidaknya, itu di luar perkara, yang penting terselenggara. Setelah pembacaan doa dan surat Al-Fatihah yang bukan dipimpin oleh Pirhot Nababan, acara makan dimulai. Dan apa artinya itu? Artinya, RGB sebentar lagi akan tampil.

Saat semua telah selesai makan, satu per satu penampil RGB naik ke kursi. Ada Royke, Alka, Yunus, Bilawa, Calvin, Hin-hin, Pirhot dan Ina. Tampilnya RGB di depan membuat penonton kosong melompong. Ini karena buruknya RGB? Bukan, tapi karena nyaris seluruh penonton adalah pemain RGB juga. Akhirnya, dibantu Afifa pada violin dan Azisa pada cello, dimainkanlah itu dua lagu. Yang pertama, berjudul Canon karya G.P. Telemann. Yang kedua, Canon juga, tapi karya Johann Pachelbel. Keduanya singkat, padat, namun penampilan perdana selalu berharga.

Berakhirnya penampilan RGB tidak membuat acara bubar. Dalam duduk-duduk silaturahmi yang hangat, terdapat gerakan separatis bernama RGB juga, kependekan dari Ririungan Galau Bandung. Mereka menampilkan karya-karya galau seperti Cavatina dari Stanley Myers dan Alhambra dari F. Tarrega. Dan di penghujung penampilan RGB yang ini, disajikan lagu-lagu kebangsaan semisal Tanah Airku dan ”lagu mengheningkan cipta” (maaf, Tobuciler lupa namanya, karena dulu selalu telat pas upacara). Ini cocok sekali dengan isu nasionalisme kita yang tengah diuji. RGB, yang manapun, hari itu bergembira ria, menapakkan kakinya yang pertama. Mari kita doakan agar sukses di konsernya.


Ririungan Galau Bandung

Sutrisna: Dedikasi dari Hati


Begini, sebenarnya maksud KlabKlassik (KK) adalah mewawancara Sutrisna, atau biasa KK panggil Kang Trisna. Tidak ada alasan KK untuk tidak mewawancarainya, apa lagi kalo bukan dedikasi tinggi Kang Trisna dan posisinya sebagai ketua RGB (Ririungan Gitar Bandung). Hanya saja, ketika pertanyaan-pertanyaan selesai diajukan via e-mail, -tidak seperti responden lain yang menjawab per pertanyaan- Kang Trisna memilih untuk menuliskannya secara narasi dalam paragraf. Tadinya KK bersikukuh untuk memecah paragraf ini kembali ke bentuk tanya jawab, tapi setelah melihat narasinya sudah baik, jadinya KK biarkan saja, dengan sedikit editan. Jadilah ini, Sutrisna, siapakah dia?

Saya lahir pada tanggal 5 September 1973. Saya mulai belajar gitar sekitar tahun 2000, telat memang, di usia 27 baru belajar :-). Kenapa memilih gitar? saya kesulitan kalau ditanya alasan memilih gitar, ada banyak pernyataan yang bisa dicari cari, misalnya karena bentuknya sexy mirip body perempuan dan karena praktis bisa dibawa kemana-mana. Saya juga bisa tuliskan alasan-alasan lainnya tapi alasan sebenarnya sy sendiri tak tahu, sudah takdir, itu mungkin jawaban yang paling tepat: Tuhan menakdirkan sy untuk memilih gitar daripada alat musik lain.

Perkenalan dengan KK, dimulai dari menghadiri pertemuan-pertemuan KlabJazz. Dari situ saya mengetahui adanya KK, yang mana setelah saya mencoba menclok, ternyata atmosfer KK membuat saya betah. Diskusi-diskusi dan seminar yang diadakan KK membuat pengetahuan saya tentang musik klasik menjadi bertambah. Sy bahkan merasa KK tuh seperti perpustakaan; buku-buku, partitur-partitur, juga CD musik atau DVD yang teman-teman punya membuat saya kagum. Terimakasih teman-teman, karena mau meminjamkan itu semua, kalian baik, he he...

Menurut saya keberadaan KK itu penting, ada pandangan yang beredar di masyarakat, bahwa musik klasik itu musik kuno, berat, kaku dan susah dinikmati. Di sinilah peran KK, merubah pandangan-pandangan seperti itu. Siapapun bisa bermain, mengapresiasi dan menikmati menikmati musik ini. Selain itu KK juga bisa juga menjadi tempat belajar, tempat belajar yang bebas, tidak dibatasi oleh aturan-aturan. KK bisa dimana saja, cuma kebetulan sekarang bermarkas di tobucil, tapi sebenarnya kegiatan KK bisa dimana saja semua bisa gabung tanpa dipungut biaya, gratis, he he... Buat saya KK adalah pemberontak, :-).

Perasaan jadi ketua RGB?, awalnya tidak percaya, kenapa teman-teman lain mempercayakan pada saya, mungkin karena usia saya paling tua dibanding teman-teman lain, he he..., tapi apapun alasan teman-teman untuk memilih, saya ucapkan trimakasih tak terhingga, buat kepercayaan dan dukungannya.

Harapan
, semoga RGB menjadi tempat yang mempersatukan gitaris-gitaris klasik (atau yang bukan pemain, tapi menyukai gitar klasik) yang ada di Bandung, tanpa menutup kemungkinan dari daerah lain, (saya juga dari subang, he he..) kita hargai perbedaan, biarlah perbedaan menjadi indah, seperti pelangi yang disusun dari banyak warna berbeda, seperti sebuah komposisi lagu, disusun dari not-not/bunyi bunyi berbeda yang menghasilkan harmoni. Perbedaan usia dan kemampuan teknis permainan bukan halangan untuk kita main bersama di RGB, tak ada yang lebih hebat, lebih penting, semua saling membutuhkan, saling mengisi.
Satu dari sekian banyak keinginan saya adalah ingin menulis, mendokumentasikan perihal semua yang ada hubungannya dengan musik, mungkin itu bisa berguna buat yang membutuhkannya. Saya nikmati dan hayati hidup ini, hidup yang membawa ke wilayah-wilayah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Tak pernah terbayangkan sebelumnya saya bermain gitar, butuh awalnya saya kesulitan dan pernah terbersit untuk berhenti belajar karena lelah akan pencapaian yang didapat, sedikit demi sedikit saya belajar, memperbaiki diri, karena jika memainkan alat musik dengan baik, maka kita harus memperbaiki diri kita dulu, jiwa dan raga kita. Mungkin usaha yg saya lakukan harus lebih keras dan butuh waktu lebih lama jika dibanding orang lain, tapi pengalaman membuktikan bahwa usaha, kerja keras dan kesabaran bisa menghantarkan pada apa yang kita tuju/ingin dicapai.

Hidup sudah mempertemukan saya dengan KK, terima kasih buat semuanya. Terimakasih juga buat orang-orang yang pernah mengajari sy bermain gitar, terutama untuk Om Venche Manuhutu dan Bilawa Ade Respati, trimakasih untuk kesabarannya, :-)
Hatur nuhun

Friday, September 04, 2009

Modest Mussorgsky: "Lima Besar Rusia" itu Nyaris jadi Tentara


Modest Mussorgsky lahir di Karevo, 21 Maret 1839. Anak dari pemilik tanah yang berada, Mussorgsky dididik musik sejak masa kecilnya. Meski demikian, ia juga meniti karir di kemiliteran. Hingga akhirnya pada tahun 1857, ia bertemu komposer Rusia, Dargomijsky, yang mana kejadian tersebut menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Lewat Dargomijsky, Mussorgsky bertemu Balakirev dan Borodin, yang semakin menguarkan kecintaannya akan musik. Pada tahun 1858, ia memutuskan untuk keluar dari kemiliteran dan fokus pada musik. Kebanyakan ia belajar sendiri dalam hal musik, lebih dipandu oleh insting ketimbang pelajaran-pelajaran teknis. Secara mayor, Mussorgsky bermain piano.
Pada tahun 1861, Rusia mengalami satu gejolak, yang mana membuat para pemilik tanah sulit mendapat tempat. Keluarga Mussorgsky kena imbasnya, ia terpaksa kerja pada pemerintah karena mendadak jatuh miskin, hal yang sebenarnya tidak disukainya, tapi mesti dilakukannya hingga akhir hayat.
Karir Mussorgsky berkembang terus, hingga hingga bersama Balakirev dan Borodin, dengan idealisme nasionalisnya, mereka mendirikan ”The Russian Five”. Selain ketiga itu, yang termasuk diantaranya adalah Cesar Cui dan Nikolai Rimsky-Korsakov. Tujuan Lima Besar Rusia adalah menciptakan musik seni khas Rusia, yang diimitasi dari aspek-aspek tradisional. Karya Mussorgsky yang terpenting datang dari periode tahun 1864 hingga 1867. Banyak lagu rakyat ia ciptakan, termasuk salah satu yang terkenal, satu-satunya untuk orkestra, yakni Night on Bald Mountain. Pada periode ini, Mussorgsky menelurkan teorinya sendiri, yang membuat ia berbeda dari "Kelompok Lima". Dia ingin memproduksi melodi yang didasari oleh dialog manusia, yang dinamakan "melodies of life". Eksperimentasinya pertama kali diwujudkan dalam sebuah opera berjudul The Marriage pada tahun 1868. Kesuksesan ekperimennya baru terlihat dalam opera Boris Godunov, di tahun yang sama. Namun akibat ketidakpopuleran temanya, opera tersebut ditolak untuk ditampilkan dalam waktu yang lama, hingga tanggal 27 Januari 1874. Selain itu, Mussorgsky menulis dua opera lainnya, berjudul Khovantchina dan The Fair at Sorochinsk.
Ada beberapa kritikus yang menyerang Mussorgsky, diantaranya yang menyebutkan bahwa gayanya nakal dan tidak disiplin. Ini kemungkinan disebabkan dari kurangnya ia atas pemahaman teori-teori musik dan kemampuan komposisinya berasal dari insting semata. Meski demikian, banyak juga yang membela bahwa kemampuan instingtif itu justru membentuk kekuatan kreatif yang mahadahsyat. Bahkan ada yang mengatakan ia sebagai yang terbaik diantara kelima koleganya, dari segi kreativitas, meski yang lain lebih manis dan kuat akar budayanya. Musiknya memiliki kekuatan, individualitas, dan bahan-bahan yang tidak dipunyai nasionalis lainnya.
Mussorgsky meninggal muda dalam umur 41 tahun karena epilepsi. Ini disebabkan salah satunya oleh kebiasaan alkoholnya yang cukup kuat. Setelah kematiannya, Rimsky-Korsakov mengedit beberapa bagian Boris Godunov, dan menjadi karya yang cukup terkenal hingga saat ini, dimainkan di banyak opera house. Mussorgsky dimakamkan di St. Petersburg pada 28 Maret 1881.

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.