Monday, August 24, 2009

Latar Belakang dan Permulaan Gaya Barok (Bagian II)

II. Permulaan Gaya Barok

Gaya musik Barok muncul di Italia, pada umumnya, paling terasa di sana. Perkembangan gaya tersebut di Italia dapat kita amati dari beberapa segi khusus.

A. Seconda Prattica

Akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 ditandai dengan banyak eksperimen dalam teknik-teknik menciptakan musik, khususnya dalam tradisi madrigal Italia. Hal ini memprihatinkan pemusik-pemusik yang terikat pada tradisi musik polifoni yang lama. Mereka memprotes kehadiran harmoni baru, dengan nada-nada disonan tidak menyiapkan akord konsonan pada akord sebelumnya, menurut kebiasaan tradisi yang lama. Mereka juga tidak senang akan progresi-progresi kromatik yang mengaburkan sistem modal berdasarkan delapan modus gerejawi, dan susunan yang tidak stabil. Pada um,umnya, tradisi lama tersebut terus dipakai di gereja dan disebut Prima Prattica atau tradisi pertama. Tradisi lama menjadi dasar dari pelajaran komposisi bagi para komponis muda selama abad ke-17 walaupun dianggap kuno di luar gereja.
Menurut anggapan para pemusik dan teoretikus dari awal masa Barok, tradisi baru atau Seconda Prattica (tradisi kedua) dianggap dimulai pada tahun 1550-an, dalam madrigal-madrigal terakhir Cipriano del Rore. Dalam madrigal-madrigal ini, Rore mencoba menggambarkan dunia emosi yang dikandung dalam teks. Perubahan sifat yang terdapat dalam teks langsung dicerminkan dalam susunan musiknya. Unsur stabilitas yang begitu penting bagi pemusik-pemusik Renaisans, biasanya tampak dalam sebuah motet Willaert atau Palestrina, sering tidak terasa dalam madrigal-madrigal terakhir dari Rore. Ia menggantikan susunan atau memasukan progresi kromatik sesuai makna teks. Teks lebih menentukan gubahan lagu pada teknik-teknik musik. Kebebasan demikian lebih tampak lagi dalam madrigal-madrigal komponis generasi ketiga, dari tradisi madrigal Italia pada akhir abad ke-16, misalnya dalam madrigal Wert, Gesualdo, dan Claudio Monteverdi.

B. Monodi dan Stile Recitativo

Perkembangan tradisi vokal solo yang mengutamakan unsur teknik virtuoso mulai terasa sekitar tahun 1570. Meskipun ada tradisi hiasan dalam menyanyikan musik polifonik sebelumnya, kompleksitas ornamentasi tersebut dalam satu suara dibatasi. Satu suara yang terlalu menonjol demikian dapat merusak susunan polifoni yang berdasarkan prinsip Renaisans, bahwa semua suara mempunyai kepentingan yang hampir sama. Suatu tanda perkembangan teknik vokal solo adalah madrigal-madrigal untuk satu, dua, atau tiga suara dengan iringan harpsikord yang diciptakan oleh Luzzachi (1545-1607) untuk tiga penyanyi wanita di Istana Ferrara yang terkenal sebagai virtuoso. Pada kadens, suara tertinggi sering diberikan kadensa-kadensa yang hebat.
Hal-hal seperti itu juga tampak dalam lagu-lagu untuk suara solo dan kontinuo yang diciptakan untuk penyanyi-penyanyi virtuoso pada masa itu, Jacopo Peri (1561-1633) dan Giulio Caccini (sekitar tahun 1545-1618), dua komponis di antara para pencipta jenis lagu ini, juga adalah penyanyi yang terkenal. Norma-norma awal dalam hal pemakaian kontinuo untuk mengiringi suara, termasuk bas berangka, juga dapat diamati dalam musik mereka.
Buku berisi madrigal-madrigal untuk satu suara dan kontinuo yang sangat berpengaruh pada masa itu adalah Nuove Musiche (Musik Baru), ciptaan Caccini pada tahun 1580-1600. Madrigal-madrigal ini termasuk lagu yang berbentuk strofik (musik yang sama untuk setiap bait dan teks) dan lagu yang bersifat "monodi" atau "stile recitativo". Nuove Musiche ini diterbitkan pada tahun 1602 dan terkenal di seluruh Eropa Barat.
Gaya monodi yang baru ini mendasari opera-opera yang pertama. Opera adalah sebuah sandiwara yang dinyanyikan secara keseluruhan. Konsepsi awal mengenai opera, yang menjadi bentuk kesenian paling populer di Italia pada abad ke-17, mulai dalam suatu kelompok sastrawan dan pemusik di Kota Florenzia yang membentuk perhmpunan sekitar tahun 1580 (yang mereka sebut Camerata Florentina) untuk membicarakan kesenian, termasuk musik. Satu topik khusus yang menarik perhatian mereka adalah drama musik dari Yunani Kuno. Seorang pemusik di antara mereka yang bernama Vincenzo Galilei (ayah dari Galileo Galilei, ahli astronomi yang begitu terkenal) mengarang risalah mengenai topik itu. Ia mendorong komponis-komponis lain untuk kembali pada gaya Yunani Kuno, supaya mereka dapat mengembangkan suatu gaya drama dalam musik yang lebih mendekati gaya berbicara serta emosi yang realistis. Menurut dia, musik polifonik dalam masanya tidak begitu berguna untuk musik vokal yang mengungkapkan emosi-emosi manusia: musik itu lebih sesuai dengan instrumen-instrumen. Ide Galilei ini dipraktekkan oleh pendukungnya yang bernama Jacopo Corsi serta seorang penyajak bernama Ottavio Rinuccini dan Jacopo Peri, penyanyi dan komponis. Mereka merencanakan suatu drama disusun dalam musik yang berdasarkan cerita dari Yunani Kuno yang berjudul Dafne. Meskipun mereka mulai mengerjakan proyek ini pada tahun 1594, produk drama dalam musik ini (opera) tida siap untuk pementasan sampai sekitar tahun 1598. Pada saat itu, seorang komponis yang lain, Emilio de Cavalieri (sekitar tahun 1550-1602), sudah menyelesaikan dua opera yang pendek dan Caccini juga sedang menciptakan opera.
Peri, Cavalieri, dan Caccini memakai gaya recitativo untuk menyusun teks-teks libretto-libretto mereka. (Libretto berarti teks atau buku yang berisi kata-kata dari sebuah opera.) Recitativo terdiri dari satu suara yang menyanyikan teks sesuai dengan gaya ucapan, irama, dan intonasi bahasa Italia yang biasa, diiringi oleh alat-alat bas (Seperti cello) dan akord-akord dalam susunan homofonik dari lut-lut dan alat-alat keyboard. Iringan sejenis ini disebut kontinuo.
Kadens-kadens diornamentasikan oleh penyanyi. Dalam jangka waktu yang cukup pendek, gaya monodi ini dikembangkan dengan cepat oleh Peri. Dalam opera pertama yang masih ada, yaitu Euridice (1600), recitativo dari Peri sudah cukup maju dan sudah penuh dengan unsur ekspresivitas. Dia juga memasukkan lagu-lagu yang bersifat lebih melodis, dan bagian-bagian dalam gaya madrigal untuk kor supaya ada unsur kontras dalam susunan musik itu. Namun, puncak opera-opera awal dan pemakaian monodi terdapat dalam musik Claudio Monteverdi (1567-1643).

C. Bas Kontinuo

Pemakaian kontinuo adalah suatu ciri khas dari musik Barok, pada awal sampai akhir masa itu. Kontinuo, lengkap dengan bas berangka, sudah tampak dalam opera-opera pertama dari Peri, Cavalieri, dan Caccini, juga dalam musik gerejawi dari Venezia ciptaan Giovanni Gabrieli (sekitar tahun 1666-1612) dan karya Ludovico Viadana (sekitar tahun 1560-1627). Kontinuo mencerminkan perkembangan suatu pikiran musikal yang vertikal atau homofonik, bukan bergarisseperti tradisi polifoni Renaisans lama. Sebenarnya, polifoni atau kontrapung tidak dibuang, tetapi lebih bersifat "polifoni harmonik".
Suara-suara yang terpenting dalam musik Barok awal adalah sopran dan bas. Bas merupakan dasar dari semua akord. Biasanya suara bas dimainkan dengan alat-alat melodik seperti viol atau cello dengan akord-akord, yang sesuai dengan angka-angka yang dituliskan di bawah bas, yang disuarakan oleh lut, harpa, harpsikord, atau organ. Kadang-kadang, kelompok kontinuo terdiri dari sepuluh pemusik.

D. Perkembangan Tonalitas

Selama abad ke-16, kekuatan sistem modal dikurangi sedikit demi sedikit akibat pemakaian musica ficta dan kromatisisme. Musik yang lebih kedengaran seperti mayor atau minor dari modal pernah diciptakan selama abad ke-16. Kecenderungan ini menjadi tampak sekali sekitar tahun 1600, sehingga dalam 50 tahun sesudahnya sistem modal diganti dengan sistem tonal yang berdasarkan tangga nada mayor dan minor.
Akan tetapi, teknik bermodulasi menurut lingkaran kuin yang dianggap suatu segi utama dari tonalitas tidak dikembangkan sampai tahun 1670-an. Oleh sebab itu, komponis-komponis menyusun lagu mereka dalma bagian-bagian pendek dalam satu nada dasar saja atau memakai harmoni kromatik secara bebas. Bentuk-bentuk yang tidak memerlukan modulasi, seperti tema dan variasi, menjadi sangat populer selama awal dan pertengahan abad ke-17.

E. Perkembangan Repertoar Musik untuk Instrumen yang Bersifat "Virtuoso"

Pada awal masa Barok, perkembangan musik instrumental, yang sudah tampak pada akhir masa Renaisans diteruskan. Unsur teknik menjadi sangat penting, khususnya kemampuan mengimprovisasikan ornamentasi pada melodi yang telah ditentukan oleh komponis dalam partitur. Sekitar tahun 1600, suatu repertoar sonata untuk satu atau dua biola dengan iringan kontinuo mulai dikembangkan di Italia. Teknik menulis variasi pada suatu tema dengan figurasi virtuoso juga dikembangkan oleh komponis-komponis keyboard dari Inggris dan Jerman

F. Pentingnya Unsur Kontras


Kontras-kontras dalam susunan dan warna suara (orkestrasi) adalah suatu hal yang sangat penting pada awal musik Barok. Hal ini dapat diamati dalam musik gerejawi dan musik tiup ciptaan Giovanni Gabrieli serta opera-opera pertama. Untuk pertama kali tercatat perintah-perintah dalam pertitur komponis mengenai orkestrasi yang dikehendakinya. Unsur kontras dalam dinamika juga mulai dimasukkan dalam partitur.
Kebanyakan hal-hal yang merupakan ciri-ciri dari awal musik Barok terdapat dalam musik Claudio Monteverdi. Sebelumnya, kita perlu meninjau musik gerejawi yang berkembang pada akhir abad ke-16 di Venezia, khususnya musik Giovanni Gabrieli, yang juga memperlihatkan tanda-tanda permulaan masa Barok dan sangat mempengaruhi banyak komponis pada awal abad ke-17.

(Bersambung. Minggu depan: Giovanni Gabrieli dan Seconda Prattica di Venezia)

Sumber: McNeill, Rhoderick. Sejarah Musik 1. BPK Gunung Mulia. Jakarta: 1998. Hal 170-172

No comments:

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.