Sunday, August 30, 2009

Partitur RGB -baru- (The Entertainer)

Silahkan download kedua-duanya. Ini adalah materi untuk latihan tanggal 6 September jam 14.00 di Tobucil. Penentuan posisi gitarnya akan ditentukan kemudian. Harap dibawa aja dulu semua partiturnya. Jangan lupa bawa gunting dan lem, siapa tahu kita akan memotong partitur bersama sambil nunggu berbuka puasa.

The Entertainer (3 Guitars)

The Entertainer (4 Guitars)

Bagi-Bagi Partitur

Yunus Suhendar, seorang yang rajin nongkrong di KK, ingin jadi dermawan. Maka ia beramal lewat bagi-bagi partitur. Silakan download gratis.

Roland Dyens - Djembe

Hommage to Andrew York

Saturday, August 29, 2009

Balada Konser yang Tertunda



diambil dari www.tobucil.blogspot.com

Malam itu ada konser lagi, letaknya sama, CCF namanya. Namun pengisinya beda lagi, sekarang bernama Fauzie Wiriadisastra dan Andrew Sudjana. Siapa mereka? Yang satu pemain flute, satu lagi piano, mereka main bersama, namanya duet. Lagu pertama, konsepnya cukup unik, Fauzie minta tiada lampu satupun yang dinyalakan, auditorium gelap gulita. Penonton celingak-celinguk, setelah disuguhkan MC yang tidak muncul ke panggung (invisible kalo bahasa YM), sekarang mereka dihadapkan pada kegelapan. Lalu sayup-sayup terdengar bunyi suling baja itu, mengalun lirih dan merintih. Menyanyikan karya Debussy berjudul Syrinx. Apa itu Syrinx? Itu nama alat tiup yang dipakai Pan, Dewa dalam mitologi Yunani yang mirip kambing. Saat itu Fauzie masih sendiri, Andrew gundah gulana di samping panggung. Beres lagu pertama, panitia menyalakan lampu, oh, penonton lega, melihat kerabat di kiri kanannya masih ada. Sekarang Andrew naik panggung, jadilah mereka berdua.
Lagu kedua katanya susah sekali. ”Main Bach itu, orang yang belajar sebulan dan setahun bisa sama saja hasilnya, bahkan sering lebih bagus yang sebulan,” demikian pengakuan Fauzie kepada Tobuciler. Lalu Tobuciler mengamati, ah, tidak, mereka tetap bermain apik biarpun belajar sepuluh bulan. Iya lah, Fauzie kan bilangnya sebulan atau setahun, sepuluh bulan tidak ia teliti. Sesi pertama ditutup dengan lagu karya komposer lokal berjudul Rescuing Ariadne. Komposer lokal itu yakni Ananda Sukarlan.
Masuk sesi dua, diawali piano solo dari Andrew Sudjana, judulnya Jeux d’eau karya Maurice Ravel. Kau tahu, lagu inilah yang membuat Andrew cedera sehingga konser yang seyogianya tanggal 31 Juli itu jadi kamis kemarin. Awalnya cederanya memang gara-gara jatuh menahan motor, namun saat itu tak terasa apa-apa. Puncaknya terjadi ketika ia berlatih Jeux d’eau ini. Yang membuat ia langsung menelpon Fauzie di tengah malam tanggal 29 Juli, mengabarkan hal buruk yakni pembatalan hari konser. Tapi di konser kemarin Andrew nampak prima, tak terasa itu bekas-bekas cedera. Penonton memberi aplaus panjang, yang artinya mereka senang. Sesi kedua konser ditutup oleh suita dari John Rutter dan Concertino Op. 107 dari Cecile Chaminade. Dua lagu yang menarik itu membuat penonton tepuk tangan tak berhenti, namanya encore. Encore menghasilkan kedua pemain yang mestinya pulang, jadinya naik panggung lagi, memainkan lagu bonus. Yang ini lagunya terkenal, judulnya Badinerie karya Bach, mengapa terkenal? Karena sering dijadikan ringtone HP Nokia. Konser ditutup dengan pembagian karangan bunga. Semua senang, senang semua, viva la musica.

Fauzie Wiriadisastra, Multi-Instrumentalis yang Multi-Sumbangsih




Fauzie Wiriadisastra namanya. Ia baru saja melangsungkan debut resitalnya pada 20 Agustus lalu. Berduet dengan pianis Andrew Sudjana, resital berjudul Flute & Piano Recital itu sukses menampilkan karya-karya dari Bach, Debussy, Rutter, Chaminade, dan Ananda Sukarlan. Di akhir resital tersebut, kami menyempatkan berbincang-bincang. Fauzie bukanlah orang baru bagi KlabKlassik (KK), sejak partisipasinya di Classical Guitar Fiesta (CGF) 2006 sebagai pemain, ia nyaris tak pernah absen memberikan dukungannya dalam berbagai bentuk. Di tahun 2007, pada Konser Gitar Klasik Syarif Maulana & Johan Yudha Brata, Fauzie menyumbangkan satu karya komposisi duet yang jenius, berjudul Carawitta & Fugue. Lalu di CGF 2008, Fauzie kembali berpartisipasi sebagai pemain. Jika di pagelaran CGF sebelumnya ia tampil sebagai gitaris, di 2008 itu ia bermain flute, berduet dengan Widjaja Martokusumo. Di tahun yang sama, pada konser Resital Tiga Gitar, pria yang juga bertindak sebagai konduktor di Gereja St. Laurentius ini kembali menyumbangkan komposisinya untuk trio, lagi-lagi sebuah karya yang unik dan "penuh selera humor", berjudul Irregular Waltz. Sumbangsihnya di tahun ini, adalah komposisinya untuk kuartet, berjudul Pela Yangan, yang ditampilkan perdana di Resital Tiga Gitar Plus Satu tanggal 9 Agustus kemarin. "Partisipasi" terbarunya, tentu saja, resital debutnya, bukan cuma bagi KK, tapi bagi masyarakat Bandung pada umumnya, yang mendapat masukan berharga tentang instrumen flute yang masih langka. Mari simak obrolan KK dengan Fauzie yang lahir pada 17 Oktober 1981 dan lulusan University of Illinois jurusan Mechanical Engineering ini.

KK: Hai Fauzie, ngobrol-ngobrol yuk, dengar-dengar anda ini multiinstrumentalis, instrumen apa sajakah itu? Lalu, diantara semuanya, instrumen mana yang paling dikuasai?

F : Kalau diurut dari yang paling bisa ke paling tidak bisa untuk instrumen klasik: flute, gitar, saxophone, oboe, trumpet, kontrabas, piano. Selain itu saya juga main instrumen tradisional, khususnya dhizhi (seruling china) dan tentu saja suling sunda. Saya juga suka membuat alat-alat musik aneh-aneh.

KK: Oke, pertanyaan berikutnya. Memainkan instrumen dan mengomposisi, berbedakah? Apa perbedaan esensialnya?
F: Sebuah lagu yang biasa saja, jika dimainkan oleh seorang performer yang baik, akan terdengar baik. Sebuah lagu yang baik, jika dimainkan oleh seorang performer yang kurang baik, tidak akan menjadi baik. Saya rasa pemain musik memiliki porsi tanggung jawab yang lebih besar, karena ialah yang memainkan musik. Ketika saya menulis sebuah notasi balok di atas kertas, apakah saya sudah menghasilkan musik?

KK: Lah, kok malah bertanya balik. Oke, perihal interpretasi. Bagaimana anda menyikapi para pemain yang menginterpretasi karya anda? Apakah ketat atau boleh bebas?
F: Saya rasa perubahan dinamika, artikulasi, dan tempo terhadap sebuah karya komposisi adalah hal yang sah, selama kita menambahkannya secara sadar dan bertanggung jawab, maksudnya, perubahan itu harus membuat musik yang dihasilkan menjadi lebih baik.

KK: Lebih spesifik lagi. Karya anda pernah dimainkan oleh pianis kelas dunia Ananda Sukarlan, bagaimana perasaan anda?
F: Sungguh suatu pengalaman yang sangat berharga. Saya belajar banyak sekali dari perjumpaan kami yang tidak terlalu lama.

KK: Lalu, setelah mengetahui kemampuan komposisi dan permainan anda. Akan kemanakah cita-cita anda nantinya? Pemain atau komposer?
F: Di masa lalu, semua pemain musik adalah komposer. Saya rasa kedua hal itu tidak perlu dipisahkan.

KK: Oke, pertanyaan terakhir. Apakah penting komunitas semisal KlabKlassik ini? Apa pentingnya?
F: Dalam sejarah musik, kita mengenal kelompok Camerata dan kontribusi mereka terhadap perkembangan seni. Saya rasa keberadaan komunitas seperti Klabklassik telah menunjukkan kontribusi yang cukup jelas terhadap perkembangan musik di kota Bandung.

KK: Adakah pesan-pesan untuk disampaikan pada khalayak musik klasik di kota Bandung? Silakan.
F: Dukunglah para musisi kita. Jika menurut anda tidak ada yang layak didukung, jadilah musisi.

Tuesday, August 25, 2009

Latar Belakang dan Permulaan Masa Barok (Bagian III - Selesai)


III. Giovanni Gabrieli dan Seconda Prattica di Venezia

Sampai tahun 1565, jabatan pemimpin musik di Katedral Santo Marco, di Venezia, dipegang oleh para komponis Belanda yang melanjutkan tradisi polifoni Josquin. Adrian Willaert (1490-1562) dan Cipriano del Rore (1516-1565) mengakhiri tradisi tersebut. Di antara karya Willaert ada sebuah kumpulan susunan mazmur, khusus untuk dua kor (Cori Spezzati) yang diciptakan sekitar tahun 1550 dan menjadi terkenal. Mungkin ide memakai dua kor ini didapat Willaert dari Ruffino d'Assisi, seorang komponis dari Padua, yang menciptakan mazmur-mazmur untuk dua kor, sekitar tahun 1524. Karya ini sebenarnya lebih mendekati gaya Venezia akhir abad ke-16, dari musik Willaert.
Katedral Santo Marco menjadi tempat yang ideal untuk perkembangan musik untuk dua kor karena di dalam gedung gereja tersebut ada dua balkon, masing-masing lengkap dengan satu organ. Balkon-balkon ini menjadi tempat untuk dua kor yang bernyanyi secara bersahut-sahutan dari satu balkon ke balkon lain, seperti sejenis dialog. Karena ruang katedral pada umumnya begitu besar dan jarak di antara balkon-balkon cukup jauh, bunyi musik pun bergema. Untuk mencegah hal ini, disusun lagu-lagu untuk dua kor, gubahan homofonik lebih sering digunakan daripada yang biasa.
Setelah Wilaert meninggal, seorang komponis Italia yang belajar dari Rore, Andrea Gabrieli (1520-1586), menjadi pemain organ di Santo Marco. Sebelum Andrea Gabrieli mendapat jabatan ini, ia bertugas untuk pangeran Albrecht V di Kota Munchen, tempat ia dipengaruhi oleh musik Orlandu Lassus.
Gabrieli mengembangkan teknik cori spezzati tersebut dengan memasukkan alat-alat musik yang mendobel suara-suara dari kor. Sering kali kor pertama terdiri dari suara-suara dan alat-alat yang lebih tinggi, dibandingkan kor kedua yang bersuara rendah. Dengan demikian, ia mendapat suatu kontras yang jelas di antara kedua kelompok ini.
Pengganti Andrea Gabrieli sebagai pemain organ di Santo Marco pada tahun 1585 adalah kemenakannya, bernama Giovanni Gabrieli (sekitar tahun 1555-1612). Dia membawa tradisi cori spezzati pada puncaknya. Pamannya mendidik Giovanni dalam musik. Kemudian, seperti pamannya ia pun bertugas di istana Munchen di bawah pimpinan Lassus, lalu kembali ke Venezia dan berhasil dalam ujian untuk mendapat jabatan sebagai pemain organ pertama di Santo Marco. Pada saat itu, ia masih sangat muda untuk mendapat suatu posisi yang begitu bergengsi.
Setelah Andrea Gabrieli meninggal pada tahun 1586, Giovani mengedit dan menerbitkan sebagian besar dari karya pamannya. Ia juga menggantikan pamannya sebagai komponis utama untuk Santo Marco, khususnya musik untuk hari-hari besar dalam tahun gerejawi. Ia menerbitkan kumpulan dari musiknya pada tahun 1597, dengan judul Sacrae Symphoniae. Minat untuk mendengarkan musik Gabrieli menjadi sangat kuat di Jerman dan Austria, sehingga beberapa pangeran dari Jerman mengirim murid-murid kepadanya dengan harapan mereka kembali dan dapat menciptakan musik dalam gaya Venezia.
Pengajaran Gabrieli berpusat pada tradisi lama, begitu juga pada gaya madrigal Italia yang paling modern. Muridnya yang paling berhasil dan paling penting adalah Heinrich Schutz, komponis Jerman pada abad ke-17. Mulai dari tahun 1606, Gabrieli menderita sakit batu ginjal sehingga ia sering absen dari tugasnya di Santo Marco. Akhirnya, ia meninggal karena penyakit tersebut.
Musik Gabrieli merupakan suatu transisi antara zaman Renaisans dan Barok. Di samping teknik-teknik dari gaya lama yang telah dikuasainya, khususnya dalam musik sebelum tahun 1600, Gabrieli juga memakai kromatisisme, interval-interval yang disonan, ritme-ritme yang bersifat tarian dan akord-akord yang dianggap disonan dalam musiknya. Semua teknik ini diambil dari gaya madrigal yang paling modern dan sangat berlawanan dengan gaya lama. Efek-efek modern lebih tampak dalam musiknya setelahn tahun 1600, yang dikumpulkan dan diterbitkan setelah ia meninggal pada tahun 1615 sebagai buku kedua dari Sacrae symphoniae. Unsur-unsur besar dan agung yang terdapat dalam motet-motet Gabrieli untuk dua, tiga, dan empat kor serta lagu-lagu untuk alat-alat tiup merupakan pendahuluan gaya "kolosal" yang sering dijumpai dalam awal musik Barok.
Partitur-partitur Gabrieli sering termasuk bagian-bagian instrumen-instrumen, kadang-kadang sebagai salah satu kor sebagai kontras terhadap kor-kor yang terdiri dari para penyanyi saja. Istilah konserto pertama kali terdapat dalam karya-karya Gabrieli, khususnya pada unsur kontras tersebut. Pemakaian kontinuo bas sebagai dasar ansambel menjadi tampak dalam musik yang diciptakannya setelah tahun 1600. Dalam hal ini, mungkin Gabrieli dipengaruhi oleh rekannya di Santo Marco yang bernama Giovani Croce, sekitar tahun 1557-1609, yang pada tahun 1594 dan 1596 menerbitkan buku berisi motet-motet dan misa-misa untuk dua kor lengkap dengan bagian organ yang terdiri dari suara-suara bas dari kedua kor tersebut. Dengan demikian, karya Croce ini adalah musik gerejawi yang pertama (yang masih ada) untuk memperlihatkan pemakaian kontinuo bas. Karya besar seperti In Ecclesiis untuk empat suara solo, kor, alat-alat musik, dan kontinuo, yang disusun dalam beberapa bagian yang kontras, merupakan suatu pendahuluan kantata sakral. Gaya karya ini menjadi dasar untuk gaya konserto yang terdapat dalam musik gerejawi Claudio Monteverdi.
Dalam Sacrae Symphoniae, buku kedua, Gabrieli memasukkan tanda-tanda dan perintah-perintah mengenai dinamika dan orkestrasi dalam partiturnya. Hal ini dapat dilihat dalam beberapa lagu yang memakai instrumen-instrumen dan beberapa kor, atau hanya instrumen-instrumen saja; lagu-lagu yang mungkin pertama untuk memakai tanda-tanda dinamika. Alat-alat yang ditentukan dalam partiturnya termasuk kornetto, trombon, biola dan viol.

Sumber: McNeill, Rhoderick. Sejarah Musik 1. BPK Gunung Mulia. Jakarta: 1998. Hal 176-178.

Monday, August 24, 2009

Antonin Dvořák: Si Jenius dari Bohemia


Dvořák lahir di Nelahozeves, Bohemia, pada 8 September 1841. Ia menerima pendidikan musik dari sejak kecil. Pada tahun 1857, Dvořák pergi ke kota Praha untuk belajar sekolah organ. Lulus tahun 1860, ia menjadi anggota orkestra dari National Theatre. Pada tahun-tahun berikutnya, ia mengintensifkan studi pada analisis komposisi. Pada tahun 1873, salah satu karyanya yang berjudul Hymnus (untuk chorus), berhasil ditampilkan di Praha; dan dua tahun kemudian, karyanya yang berjudul Symphony in E Flat memenangkan Austrian State Prize. Prestasinya yang meningkat terus membuat ia dipercaya untuk mempimpin National Theatre untuk proyek opera nasionalistik. Dipengaruhi Wagner, ia mengimitasi gaya-gayanya dalam sebuah opera berjudul The King and The Collier, yang kemudian sukses. Setelah diperdengarkan di Vienna, ia juga memenangkan penghargaan dari pemerintah setempat.
Dvořák dan Brahms bertemu di Vienna. Brahms, yang lebih senior, memperkenalkan Dvořák pada agen publikasi bernama Simrock. Simrock memberi komisi pada Dvořák untuk menulis karya orkestra yang didasari oleh tarian tradisional Bohemia. Pada tahun 1878, Dvořák berhasil membuat karya berjudul Slavonic Dances, dan karyanya tersebut membawa ia mahsyur di seluruh Eropa.
Pada tahun 1890, ia menerima penghargaan istimewa dari Cambridge University. Dua tahun berikutnya, ia diundang ke AS untuk menjadi direktur di National Conservatory di New York. Tinggalnya ia di AS, membuatnya tertarik lebih jauh pada musik-musik tradisi milik Negro Amerika dan Indian. Hal tersebut membuatnya terinspirasi, dan menjadikan karya-karyanya yang termahsyur: Symphony from the New World; American Quartet; Piano Quintet in E Flat Major.
Dvorak mundur dari posisinya tahun 1895 dan pulang kembali ke negaranya. Pada tahun 1901, ia menjadi direktur di Prague Conservatory, posisi yang dipegangnya hingga ia meninggal. Tahun-tahun terakhirnya diisi oleh kondisi kesehatan yang buruk. Dvořák meninggal dalam keadaan stroke pada 1 Mei 1904 di Praha.
Dvořák merupakan salah satu komposer Romantik yang kental dengan bentuk tradisionalnya. Amat melodis dan mudah dicerna. Kebanyakan karyanya punya gaya Slavic yang kuat, meskipun itu terdapat dalam karya-karya yang dibuat di Amerika. Karya-karya terkenal lainnya adalah Humoresque, op. 101, Slavonic Rhapsodies, Carnival Overture, Dumky Trio.

Latar Belakang dan Permulaan Gaya Barok (Bagian II)

II. Permulaan Gaya Barok

Gaya musik Barok muncul di Italia, pada umumnya, paling terasa di sana. Perkembangan gaya tersebut di Italia dapat kita amati dari beberapa segi khusus.

A. Seconda Prattica

Akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 ditandai dengan banyak eksperimen dalam teknik-teknik menciptakan musik, khususnya dalam tradisi madrigal Italia. Hal ini memprihatinkan pemusik-pemusik yang terikat pada tradisi musik polifoni yang lama. Mereka memprotes kehadiran harmoni baru, dengan nada-nada disonan tidak menyiapkan akord konsonan pada akord sebelumnya, menurut kebiasaan tradisi yang lama. Mereka juga tidak senang akan progresi-progresi kromatik yang mengaburkan sistem modal berdasarkan delapan modus gerejawi, dan susunan yang tidak stabil. Pada um,umnya, tradisi lama tersebut terus dipakai di gereja dan disebut Prima Prattica atau tradisi pertama. Tradisi lama menjadi dasar dari pelajaran komposisi bagi para komponis muda selama abad ke-17 walaupun dianggap kuno di luar gereja.
Menurut anggapan para pemusik dan teoretikus dari awal masa Barok, tradisi baru atau Seconda Prattica (tradisi kedua) dianggap dimulai pada tahun 1550-an, dalam madrigal-madrigal terakhir Cipriano del Rore. Dalam madrigal-madrigal ini, Rore mencoba menggambarkan dunia emosi yang dikandung dalam teks. Perubahan sifat yang terdapat dalam teks langsung dicerminkan dalam susunan musiknya. Unsur stabilitas yang begitu penting bagi pemusik-pemusik Renaisans, biasanya tampak dalam sebuah motet Willaert atau Palestrina, sering tidak terasa dalam madrigal-madrigal terakhir dari Rore. Ia menggantikan susunan atau memasukan progresi kromatik sesuai makna teks. Teks lebih menentukan gubahan lagu pada teknik-teknik musik. Kebebasan demikian lebih tampak lagi dalam madrigal-madrigal komponis generasi ketiga, dari tradisi madrigal Italia pada akhir abad ke-16, misalnya dalam madrigal Wert, Gesualdo, dan Claudio Monteverdi.

B. Monodi dan Stile Recitativo

Perkembangan tradisi vokal solo yang mengutamakan unsur teknik virtuoso mulai terasa sekitar tahun 1570. Meskipun ada tradisi hiasan dalam menyanyikan musik polifonik sebelumnya, kompleksitas ornamentasi tersebut dalam satu suara dibatasi. Satu suara yang terlalu menonjol demikian dapat merusak susunan polifoni yang berdasarkan prinsip Renaisans, bahwa semua suara mempunyai kepentingan yang hampir sama. Suatu tanda perkembangan teknik vokal solo adalah madrigal-madrigal untuk satu, dua, atau tiga suara dengan iringan harpsikord yang diciptakan oleh Luzzachi (1545-1607) untuk tiga penyanyi wanita di Istana Ferrara yang terkenal sebagai virtuoso. Pada kadens, suara tertinggi sering diberikan kadensa-kadensa yang hebat.
Hal-hal seperti itu juga tampak dalam lagu-lagu untuk suara solo dan kontinuo yang diciptakan untuk penyanyi-penyanyi virtuoso pada masa itu, Jacopo Peri (1561-1633) dan Giulio Caccini (sekitar tahun 1545-1618), dua komponis di antara para pencipta jenis lagu ini, juga adalah penyanyi yang terkenal. Norma-norma awal dalam hal pemakaian kontinuo untuk mengiringi suara, termasuk bas berangka, juga dapat diamati dalam musik mereka.
Buku berisi madrigal-madrigal untuk satu suara dan kontinuo yang sangat berpengaruh pada masa itu adalah Nuove Musiche (Musik Baru), ciptaan Caccini pada tahun 1580-1600. Madrigal-madrigal ini termasuk lagu yang berbentuk strofik (musik yang sama untuk setiap bait dan teks) dan lagu yang bersifat "monodi" atau "stile recitativo". Nuove Musiche ini diterbitkan pada tahun 1602 dan terkenal di seluruh Eropa Barat.
Gaya monodi yang baru ini mendasari opera-opera yang pertama. Opera adalah sebuah sandiwara yang dinyanyikan secara keseluruhan. Konsepsi awal mengenai opera, yang menjadi bentuk kesenian paling populer di Italia pada abad ke-17, mulai dalam suatu kelompok sastrawan dan pemusik di Kota Florenzia yang membentuk perhmpunan sekitar tahun 1580 (yang mereka sebut Camerata Florentina) untuk membicarakan kesenian, termasuk musik. Satu topik khusus yang menarik perhatian mereka adalah drama musik dari Yunani Kuno. Seorang pemusik di antara mereka yang bernama Vincenzo Galilei (ayah dari Galileo Galilei, ahli astronomi yang begitu terkenal) mengarang risalah mengenai topik itu. Ia mendorong komponis-komponis lain untuk kembali pada gaya Yunani Kuno, supaya mereka dapat mengembangkan suatu gaya drama dalam musik yang lebih mendekati gaya berbicara serta emosi yang realistis. Menurut dia, musik polifonik dalam masanya tidak begitu berguna untuk musik vokal yang mengungkapkan emosi-emosi manusia: musik itu lebih sesuai dengan instrumen-instrumen. Ide Galilei ini dipraktekkan oleh pendukungnya yang bernama Jacopo Corsi serta seorang penyajak bernama Ottavio Rinuccini dan Jacopo Peri, penyanyi dan komponis. Mereka merencanakan suatu drama disusun dalam musik yang berdasarkan cerita dari Yunani Kuno yang berjudul Dafne. Meskipun mereka mulai mengerjakan proyek ini pada tahun 1594, produk drama dalam musik ini (opera) tida siap untuk pementasan sampai sekitar tahun 1598. Pada saat itu, seorang komponis yang lain, Emilio de Cavalieri (sekitar tahun 1550-1602), sudah menyelesaikan dua opera yang pendek dan Caccini juga sedang menciptakan opera.
Peri, Cavalieri, dan Caccini memakai gaya recitativo untuk menyusun teks-teks libretto-libretto mereka. (Libretto berarti teks atau buku yang berisi kata-kata dari sebuah opera.) Recitativo terdiri dari satu suara yang menyanyikan teks sesuai dengan gaya ucapan, irama, dan intonasi bahasa Italia yang biasa, diiringi oleh alat-alat bas (Seperti cello) dan akord-akord dalam susunan homofonik dari lut-lut dan alat-alat keyboard. Iringan sejenis ini disebut kontinuo.
Kadens-kadens diornamentasikan oleh penyanyi. Dalam jangka waktu yang cukup pendek, gaya monodi ini dikembangkan dengan cepat oleh Peri. Dalam opera pertama yang masih ada, yaitu Euridice (1600), recitativo dari Peri sudah cukup maju dan sudah penuh dengan unsur ekspresivitas. Dia juga memasukkan lagu-lagu yang bersifat lebih melodis, dan bagian-bagian dalam gaya madrigal untuk kor supaya ada unsur kontras dalam susunan musik itu. Namun, puncak opera-opera awal dan pemakaian monodi terdapat dalam musik Claudio Monteverdi (1567-1643).

C. Bas Kontinuo

Pemakaian kontinuo adalah suatu ciri khas dari musik Barok, pada awal sampai akhir masa itu. Kontinuo, lengkap dengan bas berangka, sudah tampak dalam opera-opera pertama dari Peri, Cavalieri, dan Caccini, juga dalam musik gerejawi dari Venezia ciptaan Giovanni Gabrieli (sekitar tahun 1666-1612) dan karya Ludovico Viadana (sekitar tahun 1560-1627). Kontinuo mencerminkan perkembangan suatu pikiran musikal yang vertikal atau homofonik, bukan bergarisseperti tradisi polifoni Renaisans lama. Sebenarnya, polifoni atau kontrapung tidak dibuang, tetapi lebih bersifat "polifoni harmonik".
Suara-suara yang terpenting dalam musik Barok awal adalah sopran dan bas. Bas merupakan dasar dari semua akord. Biasanya suara bas dimainkan dengan alat-alat melodik seperti viol atau cello dengan akord-akord, yang sesuai dengan angka-angka yang dituliskan di bawah bas, yang disuarakan oleh lut, harpa, harpsikord, atau organ. Kadang-kadang, kelompok kontinuo terdiri dari sepuluh pemusik.

D. Perkembangan Tonalitas

Selama abad ke-16, kekuatan sistem modal dikurangi sedikit demi sedikit akibat pemakaian musica ficta dan kromatisisme. Musik yang lebih kedengaran seperti mayor atau minor dari modal pernah diciptakan selama abad ke-16. Kecenderungan ini menjadi tampak sekali sekitar tahun 1600, sehingga dalam 50 tahun sesudahnya sistem modal diganti dengan sistem tonal yang berdasarkan tangga nada mayor dan minor.
Akan tetapi, teknik bermodulasi menurut lingkaran kuin yang dianggap suatu segi utama dari tonalitas tidak dikembangkan sampai tahun 1670-an. Oleh sebab itu, komponis-komponis menyusun lagu mereka dalma bagian-bagian pendek dalam satu nada dasar saja atau memakai harmoni kromatik secara bebas. Bentuk-bentuk yang tidak memerlukan modulasi, seperti tema dan variasi, menjadi sangat populer selama awal dan pertengahan abad ke-17.

E. Perkembangan Repertoar Musik untuk Instrumen yang Bersifat "Virtuoso"

Pada awal masa Barok, perkembangan musik instrumental, yang sudah tampak pada akhir masa Renaisans diteruskan. Unsur teknik menjadi sangat penting, khususnya kemampuan mengimprovisasikan ornamentasi pada melodi yang telah ditentukan oleh komponis dalam partitur. Sekitar tahun 1600, suatu repertoar sonata untuk satu atau dua biola dengan iringan kontinuo mulai dikembangkan di Italia. Teknik menulis variasi pada suatu tema dengan figurasi virtuoso juga dikembangkan oleh komponis-komponis keyboard dari Inggris dan Jerman

F. Pentingnya Unsur Kontras


Kontras-kontras dalam susunan dan warna suara (orkestrasi) adalah suatu hal yang sangat penting pada awal musik Barok. Hal ini dapat diamati dalam musik gerejawi dan musik tiup ciptaan Giovanni Gabrieli serta opera-opera pertama. Untuk pertama kali tercatat perintah-perintah dalam pertitur komponis mengenai orkestrasi yang dikehendakinya. Unsur kontras dalam dinamika juga mulai dimasukkan dalam partitur.
Kebanyakan hal-hal yang merupakan ciri-ciri dari awal musik Barok terdapat dalam musik Claudio Monteverdi. Sebelumnya, kita perlu meninjau musik gerejawi yang berkembang pada akhir abad ke-16 di Venezia, khususnya musik Giovanni Gabrieli, yang juga memperlihatkan tanda-tanda permulaan masa Barok dan sangat mempengaruhi banyak komponis pada awal abad ke-17.

(Bersambung. Minggu depan: Giovanni Gabrieli dan Seconda Prattica di Venezia)

Sumber: McNeill, Rhoderick. Sejarah Musik 1. BPK Gunung Mulia. Jakarta: 1998. Hal 170-172

Dari Resital Tiga Gitar Plus Satu


Sajian musik klasik dalam format trio ataupun kuartet gitar belum menjadi sebuah suguhan yang lazim di Kota Kembang Bandung. Meski telah melahirkan sejumlah gitaris papan atas tingkat nasional (bahkan internasional), gitaris-gitaris Bandung belum terlalu sering berkolaborasi satu sama lain, dan lebih banyak mengaktualisasikan dirinya dalam format solo. Kalaupun mereka berkolaborasi, sajian yang ditampilkan hanya dinikmati oleh kalangan terbatas saja, entah itu berbasis kursus musik ataupun pendidikan formal musik. Di tengah ketiadaan sajian musik klasik dalam format ansambel, Resital Tiga Gitar Plus Satu menjadi sebuah sajian yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Resital Tiga Gitar Plus Satu ini sebenarnya bukanlah hal yang baru, karena di tahun 2008, suguhan serupa juga pernah ditampilkan. Hanya saja, pada saat itu beluma ada penambahan “Plus Satu” di belakang “Resital Tiga Gitar”. Gitaris yang berkolaborasi dalam Resital Tiga Gitar Plus Satu adalah Widjojo Martokusumo, Syarif Maulana, Bilawa Respati, dan Royke Ng. Gitaris yang disebut terakhir merupakan gitaris yang baru bergabung dengan Resital Tiga Gitar, yang akhirnya memunculkan “Plus Satu” dalam nama kelompok ini. Keempat gitaris diatas, merupakan gitaris-gitaris top Indonesia yang telah mencatatkan prestasi di berbagai kompetisi gitar klasik tingkat lokal dan nasional. Dengan kemampuan mereka bereempat yang diatas rata-rata, maka tak heran repertoar yang dimainkan pun cukup sulit.

Babak pertama resital ini menampilkan format trio. Tiga dari lima karya yang ditampilkan adalah karya-karya dari resital sebelumnya, yakni Menuett karya Luigi Boccherini, Eine Kleine Nachtmusic karya Wolfgang Amadeus Mozart, dan Irregular Waltz karya Fauzie Wiriadisastra. Sedangkan dua lagi adalah materi baru yang sengaja disiapkan untuk resital ini, yakni Bajo La Palmera karya Isaac Albeniz, dan Introktion und Fandango karya Luigi Boccherini. Karya pertama, sewajarnya, masih terasa tegang bagi setiap pemain. Untungnya repertoar tersebut terdengar sederhana dan tidak terlalu panjang, sehingga terasa cocok untuk pembuka dan pelepas tensi. Eine Kleine Nachtmusic karya Mozart adalah karya yang sangat familiar, meski judulnya sepertinya kurang dikenal. Komposisinya dahsyat, dinamis, dan meledak-ledak. Tentunya, tak lupa dengan interpretasi khas Mozart: nakal dan centil. Karya ketiga berjudul Irregular Waltz, yang dikomposisi oleh Fauzie Wiriadisastra, seorang multi-instrumentalis asal Bandung. Komposisi ini sangat unik, setiap perpindahan barnya berarti perpindahan ketukan juga. Namun melodi yang dibangun terasa unik dan harmoninya juga menyenangkan. Penonton yang mendengar bisa terhibur. Karya keempat, lagi-lagi para gitaris memilih karya yang didominasi unsur mayor. Sekarang berjudul Bajo La Palmera, satu komposisi tango yang ditulis oleh Isaac Albeniz untuk piano. Ditranskripsi ke gitar, terjadi semacam pergerakan melodi interval yang manis antara Bilawa dan Pak Widjaja, sementara Syarif memberikan landasan irama tango yang penuh aksentuasi. Lagu terakhir, akhirnya didominasi suasana minor, tepatnya D minor. Dengan irama Spanish yang kental, Introduktion und Fandango Boccherini menutup sesi pertama dengan sensual.

Babak kedua resital ini menampilkan format kuartet, yaitu tiga gitaris pada babak pertama ditambah dengan Royke Ng. Repertoar pertama pada babak ini adalah Canon in D, karya dari Johann Pachelbel, yang melodinya cukup familiar bagi para penonton, karena sering mendengarnya entah dari nada dering telepon selular maupun bel rumah. Harmonisasi yang dibangun oleh keempat gitaris sangat baik, sehingga sahut-sahutan yang menjadi ciri dari musik-musik kanon sangat terasa. Setelah Canon in D, komposisi yang dimainkan berikutnya berjudul Pela Yangan karya Fauzie Wiriadisastra lagi. Karya ini baru pertama kali dimainkan, dan menjadi premiere bagi para penikmat musik di Bandung. Berbeda dengan komposisi sebelumnya (Canon in D) yang dapat dibilang sangat “klasik” dan “konvensional”, karya Fauzie ini sangat dipengaruhi nuansa kontemporer, terutama dengan nada-nada dan kord-kord “miring” serta penggunaan beberapa bagian gitar yang dapat menghasilkan nada yang berbeda. Tak hanya nada dan kord, tuning gitar yang digunakan pun cukup aneh dan jarang ditemukan di karya-karya komposer lain. Contohnya, salah satu gitaris menggunakan susunan tuning : 1=C; 2=B 3/4 mol; 3=G; 4=B; 5=A ¾ mol; 6=E. Dengan tuning yang sedemikian rupa, karya ini menghasilkan nada-nada yang cukup “memeras” telinga karena interval antar senar yang tak lazim. Meski demikian, karya ini sanggup dimainkan dengan sangat baik dan mencapai klimaks-nya di penghujung komposisi. Sambutan penonton pun terdengar lebih meriah dibandingkan dengan sambutan-sambutan sebelumnya.

Dua komposisi selanjutnya kembali menunjukkan skill para gitaris yang diatas rata-rata. Mereka memainkan Concerto in D Major karya Georg Philipp Telemann, dan Brandenburg Concerto No. 3 karya Johann Sebastian Bach. Kedua karya itu, khususnya komposisi dari Bach, tergolong repertoar yang cukup sulit, karena tidak hanya menekankan pada ketepatan nada dalam bermain, namun juga kerjasama yang baik antara para gitaris agar menghasilkan nada-nada yang sempurna dan tidak terkesan berkejar-kejaran. Sesudah kedua repertoar diatas, komposisi selanjutnya yang menjadi suguhan pamungkas dari acara resital ini adalah karya dari Bilawa Respati, berjudul Malam Yang Bersembunyi. Sama seperti Pela Yangan, suguhan Malam Yang Bersembunyi pun menjadi premiere bagi publik Bandung. Berdasarkan pengakuan sang komposer di atas panggung, komposisi ini merupakan interpretasi atas sebuah karya sastra dari seorang penulis bernama Raden Prisya. Meskipun komposer dari karya ini merupakan murid dari Fauzie, penggubah Pela Yangan, namun hampir tidak ada kemiripan antara Malam Yang Bersembunyi dengan Pela Yangan. Ketika Pela Yangan penuh dengan nuansa “miring” khas kontemporer, Malam Yang Bersembunyi justru masih sangat dekat dengan musik klasik yang lazim didengar oleh publik dan mematuhi koridor-koridor yang sudah lazim digunakan dalam musik klasik. Karena digubah oleh salah satu dari keempat gitaris, komposisi ini memang layak menjadi karya pamungkas penutup acara.

Meski Malam Yang Bersembunyi menjadi karya terakhir yang dimainkan berdasarkan program acara, namun masih ada satu komposisi tambahan yang dipakai untuk encore. Karya yang digunakan untuk encore adalah Lagrima dari Francisco Tarrega Agaknya persiapan para gitaris untuk karya encore ini sangatlah kurang, karena meskipun tergolong lebih mudah jika dibandingkan dengan karya-karya dalam babak pertama dan kedua, kesalahan yang muncul pada encore ini jauh lebih banyak dan dapat didengar dengan mudah. Berdasarkan pengakuan para personel Resital Tiga Gitar, karya untuk encore ini baru didapatkan pada Hari H penyelenggaraan resital, bahkan hanya beberapa jam sebelum acara dimulai.

Suguhan Resital Tiga Gitar Plus Satu menjadi sebuah bukti bahwa instrumen gitar klasik tak hanya sekedar dimainkan dalam format solo, namun juga dapat dimainkan dengan format trio atau kuartet, dan memiliki keindahan yang sama seperti instrumen lainnya yang lazim dimainkan dalam format ansambel. Acara ini juga menegaskan bahwa skill seorang pemain gitar tak hanya dilihat dari kemampuan bermain solo, tetapi juga dapat dilihat bagaimana seorang gitaris bisa menekan ego-nya untuk berbaur dengan gitaris lain dan memainkan sebuah karya ansambel dengan kerjasama yang apik.

Selain itu, suguhan ini pun menjadi sebuah tontonan yang sangat menarik di tengah-tengah himpitan musik popular yang terlalu tergantung pada selera pasar, dan lebih menginginkan keseragaman dibandingkan keberagaman dalam bermusik. Agaknya sajian Resital Tiga Gitar (entah itu Plus Satu, ataupun akan menjadi Plus Dua, Tiga, dan seterusnya) harus menjadi sebuah acara rutin agar semakin memasyarakatkan musik klasik pada umumnya dan gitar pada khususnya.

Pirhot Nababan


Thursday, August 06, 2009

Kompilasi Partitur RGB

Georg Philipp Telemann - Canon Menuet : Gitar I, Gitar II

Johann Pachelbel - Canon in D (4 Guitars)

Resital Tiga Gitar Plus Satu


Resital Tiga Gitar Plus Satu adalah pertunjukkan ensembel gitar yang terbagi atas dua bagian, sesi pertama berformat trio, sesi kedua adalah kuartet. Anggota trio adalah Bilawa A. Respati, Syarif Maulana, dan Widjaja Martokusumo. Sedangkan kuartet ditambah dengan Royke Ng. Keseluruhan resital akan menampilkan karya-karya sebagai berikut:

Trio:
Menuett and Trio - Luigi Boccherini
Allegro dari Eine Kleine Nachtmusic - Wolfgang A. Mozart
Irregular Waltz - Fauzie Wiriadisastra
Bajo La Palmera - Isaac Albeniz
Introduktion und Fandango - Luigi Boccherini
Kuartet:
Canon in D - Johann Pachelbel
Pela Yangan - Fauzie Wiriadisastra
Concerto in D Major - George Philipp Telemann
Brandenburg Concertos - Johann Sebastian Bach
Malam yang Bersembunyi - Bilawa A. Respati

Waktu resital adalah hari Minggu, 9 Agustus 2009 di Auditorium CCF, Jl. Purnawarman 32 jam 19.00-21.00. Tiket seharga Rp. 20.000 dapat diperoleh di Tobucil, Jl. Aceh 56 atau bisa hubungi Syarif (0817-212-404).

Latar Belakang dan Permulaan Masa Barok (Bagian 1)

Latar Belakang Masa Barok
Istilah "Barok" biasanya dipakai oleh para sejarawan dalam bidang musik untuk mengklasifikasikan musik yang diciptakan antara tahun 1600-1750. Istilah ini juga dipakai dalam bidang seni lukis, seni patung, dan arsitektur. Akan tetapi, kata Barok tidak digunakan orang pada zaman itu, dan hanya bersifat istilah untuk mempermudah definisi dari suatu gaya utama pada masa tersebut. Awal dan akhir masa Barok tidak dapat ditentukan dengan pasti. Tidak ada perubahan gaya yang terjadi secara dramatis atau dengan tiba-tiba pada tahun 1600 atau tahun 1750. Sebenarnya, dapat diamati suatu transisi yang terjadi perlahan-lahan pada tahun 1580-1630. Ada suatu masa transisi lagi yang terjadi antara tahun 1725-1760, pada masa kahir Barok. Proses transisi yang tidak sama di setiap negara Eropa Barat. Seperti dalam masa transisi, ada kecenderungan pada konservatisme dari sebagian komponis, sementara pada komponis lain memelopori jenis-jenis dan gaya-gaya musik yang baru.
Sebelum membahas awal dari gaya Barok dalam musik, sebaiknya kita terlebih dahulu memperhatikan garis-garis besar latar belakang masa itu, supaya kita mendapat perspektif yang lebih luas.
Italiapada masa Barok belum berupa negara kesatuan, hanya suatu daerah besar yang terdiri dari bagian-bagian yang dikuasai oleh Spanyol dan Austria, provinsi-provinsi yang diperintah langsung oleh Paus dan enam negara kecil yang bersifat independen, misalnya, Venezia, Florenzia, serta Napoli. Walaupun Italia mendominasi masa Barok dalam musik, khususnya pada abad ke-17, ada juga suatu gaya musik nasional yang berkembang di Prancis setelah tahun 1630-an yang sanggup membatasi pengaruh musik Italia di sana selama hampir 100 tahun.
Di Jerman, perkembangan musik sangat dihambat dan diancam oleh musibah peperangan 30 tahun (1618-1648), namun sesudahnya musik Jerman meningkat dengan pesat menjadi setingkat dengan musik J.S. Bach. Seperti Italia, Jerman belum bersatu dan masih terdiri dari banyak kerajaan kecil. Di Inggris, masa "emas" dalam musik (1590-1625), yang dibahas dalam bab 16, dihancurkan oleh Perang Saudara dan Masa Republik (1642-1660).
Setelah tahun 1660, suatu gaya nasional yang kuat dibangkitkan kembali. Namun, gaya khas ini hanya berlangsung sampai akhir abad ke-17, sebelum dikuasai oleh musik Italia pada awal abad ke-18, misalnya opera-opera Italia ciptaan Handel.
Antara tahun 1600 sampai 1750, termasuk permulaan masa penjajahan Indonesia oleh Belanda, adalah suatu masa pemerintahan absolut di Eropa. Banyak istana Eropa menjadi pusat musik utama. Istana yang paling mengesankan, yang menjadi teladan bagi semua raja dan para pangeran selama akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18, adalah Istana Raja Louis XIV dari Prancis (yang berkuasa antara tahun 1643-1715).
Gereja masih mendukung kegiatan musik, namun peranannya masih berkurang dibandingkan dengan masa Renaisans atau sebelumnya. Konser-konser umum yang komersial sifatnya belum dibudayakan di Eropa. Namun, ada beberapa himpunan yang mulai mementaskan opera atau menyelenggarakan konser-konser untuk anggota-anggota mereka.
Kesusastraan dan kesenian lain dibidang musik berkembang sepanjang masa Barok. Penulis dan penyair yang berkarya selama abad ke-17 termasuk John Donne dan John Milton di Inggris, Cervantes di Spanyol, Corneille, Racine, dan Moliere di Prancis. Daerah Belanda menghasilkan lukisan-lukisan yang agung dari Rubens dan Rembrandt. Filsafat dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Bacon, Rene Descartes, dan Liebniz serta sains mulai menjadi bidang yang penting melalui tokoh-tokoh seperti Galileo, Keppler, dan Isaac Newton.


Sumber: McNeill, Rhoderick. Sejarah Musik 1. BPK Gunung Mulia. Jakarta: 1998. Hal 170-172

Bentuk-Bentuk Dasar untuk Musik Instrumen (Bagian 1)

Passacaglia: Asal mulanya adalah tarian Spanyol dalam tempo lambat, namun ditransformasikan ke dalam musik organ oleh para komposer Italia. Bentuknya kurang lebih mirip dengan chaconne (berkarakter empat ketuk yang mana secara konstan mengulang bunyi bas, dan di sisi lain, trebelnya memainkan variasinya). Frescobaldi dan Buxtehude adalah awal mula komposer yang menuliskan passacaglia dengan sangat baik untuk organ. Bach kemudian mengevolusinya ke dalam karyanya, Passacaglia in C Minor, yang mana ditranskripsi ke dalam banyak instrument, termasuk simfoni orkestra. Pasca-Bach, banyak sekali contoh passacaglia, seperti Thirty Two Variations karya Beethoven untuk piano, sera Brahms dalam bagian terakhir Fourth Symphony.

Rondo: Bentuk yang amat populer di akhir abad ke-18 dan awal ke-19, biasanya digunakan pada piano oleh para komposer Era Klasik. Jika diibaratkan abjad, maka dalam rondo ada yang disebut “A”, yakni bagian utama yang sering diulang beberapa kali dalam satu karya; lalu bagian “B”, “C”, dan “D” merepresentasikan bagian lainnya. Rondo biasanya merupakan kombinasi dari A-B-A-C-A, A-B-A-C-A-D-A, atau terkadang A-B-A-C-A-B-A.
Bentuk rondo merupakan pengembangan dari kombinasi tarian abad ke-13, serta nyanyian abad ke-15 dari Prancis yang dikenal dengan nama rondeaux. Rondo pertama dalam instrumen ditemukan pada literatur untuk harpsikor. Contoh yang baik untuk sebuah rondo ditemukan pada karya Joseph Haydn berjudul Gypsy Rondo untuk piano. Mozart juga menulis rondo untuk solo piano, piano dan orkestra, violin dan orkestra, serta horn dan orkestra. Beethoven juga membuat beberapa rondo untuk piano serta violin dan piano.

Rhapsody: Salah satu bentuk dalam musik piano. Rhapsody diciptakan oleh seorang komposer asal Bohemia bernama Tomaschek, yang mana ia menghasilkan enam karya rhapsody. Franz Liszt menjadi yang terdepan dalam pembuatan karya rhapsody secara nominal, dengan lima belas karyanya yang berjudul Hungarian Rhapsody. Liszt mengambil materi rhapsody tersebut dari musik tradisional Hungaria-Gipsi. Adapun Brahms juga membuat tiga rhapsody untuk piano, yang diambil dari konsep Yunani Kuno: Puitis dengan karakter epik dan heroik. Rhapsody juga sering dipakai di musik orkestra pada perkembangan berikutnya.

Diecky K. Indrapradja: Mengomposisi dan Memainkan Musik itu Sama


Nama lengkapnya Diecky Kurniawan Indrapradja. KlabKlassik (KK) ingat kapan awal mula mengenalnya. Waktu itu sekitar tahun 2006, ada semacam gathering musik klasik di Aula RS Borromeus. Pembicaranya seorang komposer ternama, Dieter Mack. KK menjadi peserta, Diecky menjadi pengisi acara. Ia dan teman-temannya, bermain gitar secara ensembel, dan KK tertarik untuk mengenalnya pasca acara. Oh, nama ensembelnya kala itu, Classical Guitar Community (CGC). Perkenalan itu tumbuh dan berkembang, hingga akhirnya KK tahu bahwa Diecky tak hanya bermain gitar, tapi juga mengomposisi. Selain komposisi, Diecky yang kelahiran Malang 16 Oktober 1979 yang juga lulusan Sekolah Tinggi Musik Bandung (StiMB) itu juga senang membuat even-even musik klasik. Keseluruhan aspek yang dimiliki Diecky inilah yang membuat ia sejalan dengan semangat KK, terutama oleh pendiriannya yang juga komit terhadap kemajuan musik klasik di Indonesia. Seperti apa orangnya? Mari.

KlabKlassik (KK): Hai Dik, sibuk apa nih sehari-harinya?
Diecky (D): Sebagian besar waktu saya habis untuk berfikir dan berbicara dalam ranah musik. Berfikir dalam arti menggali ide-ide baru untuk kemudian diaplikasikan dalam sebuah karya musik, selanjutnya disajikan kepada publik, sedangkan berbicara maksudnya mentransver pengetahuan-pengetahuan musik yang saya miliki kepada teman-teman yang membutuhkan siraman rohani baru dalam bermusik, baik secara formal institusi, maupun secara non-formal, seperti forum-forum diskusi, private lessson, dan sebagainya. Selebihnya, menonton konser, mendengar musik, browsing, dan bermain-main dengan kucing-kucing peliharaan.

KK : Waduh, berat juga yah, Dik. Bicara musik, ada gak instrumen musik yang dikuasai?
D : Dari kecil sudah belajar gitar, karena konon gitar itu instrumen yang paling romantis. Kemudian piano, karena range suaranya yang lebar bisa mewakili instrumen lainnya. Terakhir kacapi dan gamelan, karena warna suaranya yang brilliance dan mendamaikan.

KK : Oke, lalu, mengapa tertarik komposisi? Dan mengapa mengambil jalur kontemporer?
D : Karena komposisi memacu saya untuk terus belajar hal-hal baru, membaca pergerakan zaman, dan mengaktualisasikannya ke dalam karya, syukur-syukur kelak bisa bermanfaat bagi kemaslahatan seni musik ke depannya. Kontemporer itu hanya sikap saya dalam berkarya, semangat untuk tidak terpenjara terlalu lama dalam kamar estetis tertentu dan cara pandang dalam melepaskan diri dari keangkuhan zaman yang terlanjur membentuk kita.

KK : Bicara komposisi, sejauh ini udah berapa komposisi yang ditulis?
D : Tidak terlalu hafal secara angka, tapi yang jelas kalau untuk katagori karya-karya komposisi sampai saat ini relatif tidak terlalu banyak, selebihnya karya-karya aransemen dan ilustrasi musik pesanan. Kalau saran saya sih jangan pernah menghitung berapa banyak karya yang sudah kita buat, tapi seberapa besar kualitas karya kita, baik secara kesegaran ide/konsepnya, originalitasnya, sisi filosofisnya, dan manfaat bagi perkembangan dunia musik. Setelah itu baru produktivitas berkaryanya harus tetap dijaga.

KK : Memangnya, siapa sih guru komposisi kamu?
D : Kalau secara formal, belajar komposisi musik dengan Royke B. Koapaha. Kemudian pernah belajar world music dengan Deni Hermawan, musik-musik Sunda dengan Heri Herdini, short lecture dengan Shin Nakagawa, Dieter Mack, Jody Diamont, dan Roderik de Man. Selebihnya sering sharing dan diskusi dengan beberapa komposer Senior, baik dari Indonesia maupun dari Luar Indonesia.

KK : Oke, sekarang, bicara pengaruh, siapa dan apa sajakah yang mempengaruhi komposisi kamu?
D : Yang mempengaruhi komposisi saya adalah lingkungan dimana saya berkarya, karena hampis setiap karya saya adalah aktualisasi musikal dari lingkungan itu sendiri. Tidak harus manusia, gonggongan anjing-pun bisa mempengaruhi, tidak harus mendengar salah satu symphony yang terkenal, tangisan bayi pun-bisa mempengaruhi, bahkan

KK : Masih tentang komposisi ya, menurut kamu, sejauh ini, apakah komposisi kamu punya karakter? kalau punya, apakah yang kamu tonjolkan?
D : Karya-karya komposisi musik semakin ke sini, semakin individual dan otonom. Artinya setiap komponis bukan lagi mewakili zamannya, melainkan mewakili dirinya sendiri. Begitu juga komposisi saya, tidak mewakili zaman(saat) saat ini. Dari keseluruhan komposisi saya, antara karya yang satu dengan karya lainnya memiliki kemerdekaan dan kemandirian sendiri-sendiri, baik kemandirian ide/konsep, aspek filosofis, teknik komposisi (composition tools), dan lain-lain. So, semuanya punya sesuatu yang menonjol, hanya dari sudut mana kita melihat tonjolan itu.

KK : Adakah pesan khusus yang mau disampaikan lewat komposisi-komposisi kamu?
D : Waktu berubah dan zaman berganti, disadari ataupun tidak, kita sebenarnya ikut berubah didalamnya. Bukan kita harus terhanyut, bukan pula harus berganti arah. Namun yang pasti sadari dimana kita berdiri dan bersikap.

KK : Oke, sedikit mengaitkan dengan yang lain, apa bedanya memainkan musik dan mengomposisi?
D : Mengkomposisi itu juga memainkan musik, namun dalam ranah imajinasi dan privasi (musik). Sedangkan memainkan musik itu juga mengkomposisi, namun dalam ranah interpretasi dan eksekusi (musik). Artinya baik mengkomposisi maupun memainkan musik, sama-sama memiliki peran yang penting dalam lingkaran seni pertunjukan, disamping peran musikolog, edukator, dan publik sendiri.

KK : Bagaimana sikap kamu terhadap interpretasi orang-orang yang mencoba memahami karya kamu? apakah ketat atau fleksibel? bagaimana juga tanggapan kamu terhadap konflik yang biasa terjadi dalam musik klasik karena urusan interpretasi?
D : Setiap pemain yang memainkan karya saya, mereka adalah eksekutor sekaligus apresiator pertama. Untuk itu dituntut harus benar-benar tahu ide/konsep setiap karya tersebut dan memahani naskah/score dengan baik. Selanjutnya pada saat pertunjukan, apresiator yang sebenarnya adalah publik/audience. Bagi saya mereka punya kebebasan menginterpretasikan karya yang baru saja mereka dengar/lihat.

Konflik interpretasi dalam musik klasik itu sangatlah wajar, karena karya-karya yang dimainkan dalam repertoar klasik (secara umum) tersebut adalah karya warisan, dimana naskah/score yang beredar saat ini sudah di campuri ribuan “tangan”, yaitu munculnya banyak versi, transkripsi, edited by, fingering by, dan sebagainya. Sementara para komponisnya sendiri sudah tidak bisa mempertanggungjawabkan kekaryaannya tersebut, karena memang sudah meninggal.

KK : Terakhir, Dik, apa arti Klabklassik buat kamu?
D : Bagi saya klabklassik adalah wadah bertemunya para seniman-seniman musik, pemain musik, komponis, pengamat musik, pengajar musik, bahkan publik secara umum. Sarana untuk berapresiasi, mengedukasi, memprovokasi (secara positif), hingga oborlan omong kosong yang setengah kosong setengah isi.

KK : Oh, sepertinya ada pesan yang ingin Diecky sampaikan, apa itu?
D : Kompleksitas sebuah karya seni (musik) terkadang membuat kita lebih memilih menghindar menikmati daripada mencoba memahami. Sementara laju budaya instan yang serba cepat dan serba mudah terlanjur ditawarkan di zaman ini. Pesan saya khusus buat klabklassik, semoga bisa menjadi harapan yang patut dicatat, atas segala kreativitas dan aktivitas yang menjembatani keduanya. Semangat terus Klabklassik!

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.