Tuesday, June 30, 2009

Gitar dan Sejarah Perkembangannya

Pengantar

Sering ditemukannya gitar dalam berbagai kesempatan, membentuk stereotip sederhana bahwa popularitas instrumen tersebut memang sangat tinggi. Hanya saja kepopulerannya seringkali melahirkan anggapan yang keliru dari sudut pandang tertentu, seperti: potensi gitar yang sebatas instrumen genjrang-genjreng dan nirmakna dari sudut pandang historis. Padahal, seperti halnya instrumen yang dianggap “agung” macam piano atau violin, gitar pun punya sejarah nan panjang. Tak cuma sejarah, ia pun punya potensi yang lebih dari sekedar instrumen pengiring. Bahkan ada yang menjuluki gitar sebagai ”piano yang mudah dibawa-bawa”. Gitar pun punya tempat istimewa dalam alur sejarah raksasa musik klasik yang di dalamnya hampir selalu terlibat kekayaan harmoni dan musikalitas. Hanya saja, memang, oleh karena segala keterbatasan dan pengaruh jaman tertentu, ia tak serta merta terus mencuat. Kestabilannya kalah dari piano dan instrumen gesek, tapi tak berarti ia minim peran. Seringkali berkat popularitas gitarlah, musik klasik diselamatkan dari imej eksklusifitas dan marjinalitas berlebihan.

Evolusi dan Istilah Gitar

Gitar adalah sebuah instrumen musik dengan akar sejarah yang digunakan di berbagai jenis musik. Secara umum, gitar memiliki 6 (enam) senar, meskipun gitar lain yang memiliki 4 (empat), 7 (tujuh), 8 (delapan), 10 (sepuluh), 11 (sebelas), 12 (duabelas), 13 (tigabelas), 18 (delapanbelas), masih tetap ada dan digunakan.
Popularitas gitar sangat terasa khususnya dalam aliran musik flamenco, jazz, blues, country, mariachi, rock, dan berbagai bentuk musik pop, karena dalam aliran-aliran tersebut, gitar mendapatkan porsi yang sangat besar dan juga menjadi instrumen utama. Tak hanya dalam aliran musik yang umumnya dimainkan secara berkelompok, gitar juga dapat digunakan sebagai instrumen solo dalam musik klasik. Gitar dapat dimainkan secara akustik, yang suaranya dihasilkan dari getaran senar dan kemudian dimodulasi oleh lubang resonansi. Namun, gitar juga dapat dimainkan secara elektrik dengan menggunakan amplifier.
Secara tradisional, gitar dibuat dari kombinasi berbagai bahan, misalnya kayu untuk bagian badan gitar, dan usus binatang untuk senarnya (yang belakangan digantikan dengan bahan nilon ataupun kawat).
musik yang menyerupai gitar telah muncul semenjak dulu. Akar perkembangan Gitar dapat ditelusuri hingga 4000 tahun kebelakang, dengan mengkhususkan pada wilayah Asia Tengah hingga Asia Barat. Tetapi dokumentasi tertulis pertama yang menyebutkan gitar, berasal dari abad ke-14. Ada pendapat yang mengatakan bahwa bentuk gitar yang paling mendekati bentuk modern pada saat ini berasal dari wilayah Spanyol, yang pada abad ke-16 digunakan oleh masyarakat kelas menengah kebawah sebagai pengganti dari vihuela (instrumen yang memiliki kemiripan bentuk dengan gitar) yang digunakan oleh kalangan aristokrat. Pada abad ke-16 dan 17, penggunaan instrumen gitar menjadi populer di negara-negara Eropa selain Spanyol. Setelah melalui evolusi yang panjang, gitar mencapai bentuknya yang kita kenal seperti sekarang pada abad ke-18, dengan menggunakan enam senar untuk menggantikan bentuk senar-berpasangan yang dikenal sebelumnya.
Vihuela yang berasal dari Spanyol, atau disebut juga viola da mano, merupakan instrumen penting yang berpengaruh dalam perkembangan gitar modern, yang disebabkan karena kemiripan antara vihuela dengan gitar. Vihuela memiliki penalaan yang sama dengan lute, dan memiliki bentuk yang mirip dengan gitar. Instrumen ini sempat sangat populer dalam waktu yang singkat di kawasan Spanyol dan Italia. Publikasi musik yang terakhir diketahui untuk vihuela muncul pada tahun 1576. Hingga saat ini belum ada kejelasan, apakah vihuela merupakan instrumen transisi menuju bentuk gitar modern, atau hanya sekedar kombinasi dari oud Arab dan lute Eropa. Menurut beberapa pendapat, perubahan bentuk vihuela menjadi serupa dengan gitar modern, adalah sebuah strategi untuk membedakan lute Eropa dari oud Arab/Moor.
Selama Abad Pencerahan (Renaissance), gitar belum sepopuler lute. Karena pada saat itu, gitar tidak dianggap sebagai sebuah instrumen yang serius. Karya dari Alonso Mudarra yang berjudul “Tres Libros de Musica en Cifras para Vihuela” dianggap sebagai karya pertama untuk instrumen gitar pada saat itu. Kemudian, gitar mulai menarik perhatian berbagai musisi, sehingga karya bagi gitar bermunculan dan bertambah banyak.
Penggunaan istilah gitar (bahasa Inggris, guitar) juga memiliki sejarah yang panjang. Bahasa Inggris mengadopsinya dari bahasa Spanyol guitarra. Istilah guitarra sendiri “dipinjam” dari bahasa Andalusia-Arab qitara, yang berasal dari bahasa Latin chitara, yang juga memiliki akar dari bahasa Yunani khitara. Sehingga ada beberapa istilah yang mungkin menjadi akar terbentuknya istilah “guitar”, yaitu :
1. Guitare – Prancis
2. Gitarre – Jerman
3. Guitarra – Spanyol
4. Chitarra – Italia
5. Violão – Portugis
6. Khitara – Yunani Kuno
7. Guittern – Abad Pertengahan
Sementara itu, gitar elektrik dibuat untuk musik populer di Amerika Serikat pada tahun 1930an, yang umumnya memiliki badan yang penuh, tanpa lubang resonansi. Suara dari gitar elektrik dihasilkan oleh amplifier dan direkayasa secara elektronik oleh para gitaris yang menggunakannya. Les Paul, salah seorang musisi Amerika Serikat, membuat sebuah prototipe untuk gitar elektrik, yang kemudian menjadi sangat populer di awal tahun 1940an.

Perkembangan Fisik Gitar

Pada awal evolusinya, gitar memiliki 4 (empat) course, yaitu 3 (tiga) pasang senar yang dimainkan bersamaan, dan sebuah senar untuk nada tertinggi seperti instrumen berdawai lainnya, yaitu ukulele. Selama masa Barok, gitar mendapatkan course ke-5.
Course ke-5 dapat ditala dengan nada :
1. “A", seperti yang dikenal sekarang.
2. Nada "A" rendah, dan satu oktaf lebih tinggi untuk pasangan senar lainnya
3. Keduanya bernada “A” dalam oktaf yang lebih tinggi dibandingkan gitar modern.
Pada akhir masa Barok, ada 2 (dua) perubahan signifikan terhadap gitar. Perubahan pertama yaitu senar yang berpasangan berkurang menjadi satu senar, dan penambahan satu senar lainnya, sehingga jumlahnya menjadi 6 (enam) senar. Hingga perubahan ini, gitar masih berbentuk kecil dan sempit.
Kemudian, Antonio de Torres (1817-1892) nembuat desain dan konstruksi gitar yang baru. Dirinya memperbesar ukuran dan bereksperimen dengan bahan apapun yang mungkin dapat meningkatkan kualitas suara dari gitar, khususnya untuk meningkatkan volume suara. Dia juga yang pertama kali menggunakan penahan berbentuk kipas di dalam bagian atas dari badan gitar. Dari berbagai eksperimen yang dilakukannya, dia sempat membuat gitar menggunakan bahan spruce untuk bagian atas dan bahan paper-mache untuk bagian belakang serta samping, yang membuktikan pendapatnya bahwa sebagian besar volume dari gitar dihasilkan dari bagian atas. Dari karyanya ini, dia dapat disebut sebagai the father of the modern guitar.
Selain evolusi bentuk dan jumlah senar, bagian lain yang juga turut berubah dari waktu ke waktu adalah senar. Pada mulanya, gitar menggunakan senar dengan bahan dari usus hewan atau sutra. Namun pada tahun 1946, usus hewan digantikan dengan senar berbahan nilon. Penggunaan senar berbahan nilon merupakan kemajuan besar semenjak penggunaan usus hewan. Senar berbahan nilon dibuat oleh Albert Augustine, seorang pembuat instrumen musik yang berasal dari New York. Menurut istrinya, Rose Augustine, Augustine tidak mampu untuk memperoleh bahan senar dari usus hewan karena pembatasan yang diberlakukan akibat Perang Dunia II, dan mendapatkan ide setelah mengetahui bahwab ada surplus persediaan nilon untuk militer.
Augustine kemudian mendekati perusahaan DuPont, yang memproduksi nilon untuk militer, agar mau membuat senar berbahan nilon. Pada mulanya, perusahaan tersebut tidak yakin bahwa para pemain gitar akan mau memakai senar berbahan nilon yang memiliki karakter suara “sonik”. Untuk meyakinkan DuPont, Augustine membuat sebuah blind-test yang didengarkan oleh perwakilan dari DuPont. Pada ujicoba tersebut, perwakilan dari DuPont menyatakan bahwa gitar dengan senar berbahan nilon memiliki kualitas suara yang jauh lebih baik. Semenjak itulah, DuPont menyetujui permintaan Augustine untuk membuat senar gitar berbahan nilon. Andres Segovia sendiri, langsung mengganti senarnya yang lama dengan senar berbahan nilon semenjak mengetahui penemuan dari Augustine. Belakangan ini, senar berbahan fluorocarbon polymer digunakan sebagai alternatif dari penggunaan senar berbahan nilon. Suara yang dihasilkan senar berbahan polimer tersebut, lebih disukai oleh sebagian luthier (pembuat gitar) dan gitaris.

Gitar dari Waktu ke Waktu

• 1265 Juan Gil of Zamora menyebutkan gitar bentuk awal dalam karyanya berjudul “Ars Musica”.
• 1283-1350 Guitarra Latina & Guitar Moresca disebutkan beberapa kali dalam puisi karya Archpriest of Hita
• 1306 "Gitarer" dimainkan dalam Festival Westminster di Inggris.
• 1404 "Der mynnen regein" karya Eberhard Von Cersne menyebutkan referensi ke "quinterne."
• 1487 Johannes Tinctoris menjelaskan bahwa “guitarra” ditemukan oleh orang Catalan. Pendapat ini merujuk pada gitar dengan 4 (empat) course. Setiap course memiliki sepasang senar.
• 1546 "Tres Libros de Musica en Cifras para Vihuela" yang dibuat oleh Alonso Mudarra menjadi karya pertama bagi musik gitar.
• 1551-1555 Adrian Le Roy mempublikasikan 9 (sembilan) buku tablatur. Kesembilan buku ini mengikutsertakan karya pertama bagi gitar dengan 5 (lima) course
• 1600-1650 Publikasi untuk gitar menjadi semakin banyak, dan popularitasnya mulai menyaingi lute.
• 1674 Publikasi "Guitarre Royal" yang dibuat oleh F. Corbetta semakin meningkatkan popularitas instrumen gitar. Karya ini didedikasikan untuk Louis XIV.
• 1770-1800 Senar keenam ditambahkan pada gitar, dan course yang ada digantikan oleh senar tunggal.
• 1800-1850 Gitar menjadi sangat populer, baik dari konser-konser maupun publikasi yang dihasilkan. Fernando Sor, Mauro Guiliani, Matteo Carcassi and Dioniso Aguado menjadi komposer-komposer yang produktis
• 1850-1892 Antonio de Torres mengembangkan gitar dengan memperbesar lubang resonansi hingga berbentuk seperti yang kita kenal saat ini.
• 1916 Andres Segovia membuat konser di Ateneo, sebuah aula konser terpenting yang ada di Madrid. Sebelum adanya konser ini, gitar dianggap tidak mampu menghasilkan suara yang cukup besar untuk aula seukuran Ateneo.
• 1946 Senar berbahan nilon menggantikan senar berbahan usus hewan.

Para Komposer Gitar

Kemunculan instrumen petik di Eropa dimulai di era Renaissance, sekitar tahun 1400-1600. Walaupun demikian, keberadaan instrumen petik diperkirakan sudah ada jauh sebelum itu, berkembang di kawasan Timur Tengah dan Yunani. Di era Renaissance ini, instrumen petik yang dikenal orang banyak adalah lute dan vihuela.
Vihuela berkembang dari Spanyol, merupakan instrumen yang bentuknya mendekati gitar modern. Dalam perkembangan terakhirnya, vihuella memiliki enam buah senar double-string yang terbuat dari gut, ditala sebagaimana gitar modern kecuali senar tiga, yang ditala setengah laras lebih rendah. Suaranya “tinggi” dan memiliki ukuran yang cukup besar untuk dipegang. Komposer untuk instrumen vihuella yang paling terkenal adalah Luis Milan (1500-1561). Karya terpenting dalam hidupnya adalah buku berjudul Libro de Musica de Vihuela de Mano Intitulalo "El Maestro", dipublikasikan di tahun 1535.
Sementara itu di belahan Eropa lain, lute menjadi instrumen favorit di kalangan bangsawan. Bentuk umumnya biasanya ditandai dengan bentuk badan yang mendekati oval tebal serta jumlah senar yang bervariasi (dari 4 hingga 12). Manuskrip musik lute tertua ditemukan berasal dari Italia pada tahun 1500-an. Namun, perkembangan yang signifikan berada di Inggris.
Salah satu komposer penting lute di era renaissance adalah John Dowland (1563–1626) dari Inggris. Karya – karya Dowland berkisar dari karya untuk solo lute hingga kombinasi antara vocal dan lute. Publikasi karya Dowland pertama pada tahun 1597 berjudul First Book of Songs. Sebagian besar karya Dowland adalah untuk Lute. Sebagian besar bentuk karyanya adalah solo lute, lute song (untuk vocal satu suara dan lute), dan viol-consort dengan akompanimen lute.
Di era baroque (1600-1750) mulai berkembang instrumen baroque guitar. Instrumen ini lebih kecil dari gitar modern, konstruksi yang lebih ringan, dan menggunakan gut strings. Jumlah senar pada umumnya 5 buah, dimana pada umumnya digunakan system double-string. Komposer yang umumnya dikenal untuk instrumen ini adalah Gaspar Sanz (1640-1710) dan Robert de Visée (1658-1725).
Namun walau demikian, raksasa musik petik baroque tetap jatuh kepada karya Johann Sebastian Bach (1685–1750) dan Silvius Leopold Weiss (1687-1750). Keduanya memiliki karya dengan cirri musik yang kaya dengan harmonic modulation dan counterpoint. Walau demikian, Bach hanya menulis empat buah suite untuk lute dibandingkan range besar repertoar karya Weiss (yang mencapai 600 pieces).
Weiss menulis karya solo, chamber, dan concerto. Namun sayang, yang berhasil ditemukan hanya karya – karya lute solonya saja. Karya Weiss berbentuk sonata (yang bukan sonata form di era klasik) berisi baroque dance pieces. Weiss dan Bach saling mengenal, seringkali bersaing dalam hal improvisasi.
Yang menarik dari musik gitar adalah penggunaan istilah Early Romantic dibandingkan Classical dalam beberapa referensi, untuk mengategorikan periodisasi musik dengan rentang tahun 1785-1909. Periode ini dikenal sebagai Golden Age musik gitar karena bermunculannya composer – composer gitar yang menghasilkan karya dengan value tinggi. Selain itu, hal ini dengan alasan bahwa sebenarnya tahun lahirnya karya – karya ini, serta gaya komposisi yang digunakan, mengacu kepada era Late Classical namun belum sepenuhnya menggunakan unsure Romanticism.
Instrumen gitar yang digunakan pada masa itu lebih kecil, lebih ringan, serta lebih mudah dimainkan. Tone yang dihasilkan didominasi warna treble, dengan keseimbangan yang baik antara bass, mid, dan treble. Lebih renyah dan tajam, dengan respon attack yang lebih cepat dibandingkan dengan gitar modern yang memiliki bass berat serta mellow sustain. Senar yang digunakan mirip dengan yang digunakan oleh gitar modern, umumnya jumlah senar bervariasi dari 6 hingga 10 senar. Secara umum, kategori composer dibagi menjadi dua, berdasarkan kecendrungan gaya komposisi.
Periode awal dari early romantic dikategorikan dengan era Fernando Sor (1778-1839) dan Mauro Giuliani (1781-1829). Kedua composer ini seringkali dijadikan acuan periodisasi karena output karyanya yang besar dan bentuk karyanya yang bervariasi.
Giuliani adalah komposer yang berbasis di Vienna, dengan gaya komposisi khas Vienna: hidup, menarik, dan sangat meyakinkan. Giuliani merupakan teman dekat dari Beethoven, Schubert, Rossini, Paganini dan Hummel. Kedekatan ini satu sama lain saling mempengaruhi bentuk musik dari para composer ini sehingga terbentuk gaya yang khas serta memiliki kemiripan tersendiri. Karya Giuliani memiliki spectrum besar dari concerto, chamber, vocal works, ensemble, dan solo gitar.
Sor adalah gitaris-komposer yang menetap di Paris. Sor, selain menulis untuk gitar, dikenal juga sebagai komposer ballet. Sor selalu menulis musik serius dengan kemampuan lirikal,ditunjang dengan struktur voicing dan harmony yang ketat. Sor selalu menganggap dirinya seorang harmonist. Sumbangsih terbesarnya untuk perkembangan teknik gitar adalah Method for the Spanish Guitar yang diterbitkan di tahun 1832.
Era selanjutnya ditandai dengan komposer Napoleon Coste (1805 – 1883) dan Johann Kaspar Mertz (1806 - 1856). Idiom romatik mulai dipergunakan oleh kedua komposer ini. Gaya komposisi Coste mengacu pada gaya klasik dari Sor, namun dengan tambahan khas idiom French-romanticism. Sedangkan Mertz musiknya mengacu kepada gaya lirikal dan penggunaan appergio yang mirip dengan karya – karya piano romantik. Keduanya adalah gitaris yang menggunakan gitar romantik dengan jumlah senar di atas 6.
Setelah era ini, baru berkembang musik romantik untuk gitar, yang umumnya menjadikan Fransisco Tarrega (1852 – 1909) sebagai penutup era early romantic dan memulai era romantik (dan modern). Yang membuat Tarrega begitu terkenal adalah berkat jasa murid – muridnya dan metode pembelajaran gitar serta etude – etude-nya. Selain itu, musik Tarrega umumnya ringan dan mudah untuk didengarkan, sehingga membentuk cirri tertentu bagi karya – karyanya. Di era ini, penggunaan gitar dengan model Torres umum digunakan, yang merupakan model gitar modern hingga saat ini.
Tentu saja disamping komposer – komposer yang dibahas di atas, masih banyak komposer – komposer gitar lain yang layak mendapat perhatian dan apresiasi karyanya. Sebut saja naman – nama seperti Regondi, Aguado, Carcassi, Arcas, Legnani, dan lain – lain. Umumnya kebanyakan orang kurang mengenal karya – karya mereka karena “termakan” jaman romantik yang lebih menyukai orchestra dan piano. Gitar tenggelam di era romantik. Timbul kembali pada periodisasi modern serta kembali mendapat pengakuannya sebagai instrumen konser.
Berkembang banyak sekali posibilitas permainan gitar dari segi teknik hingga gaya komposisi musik di era modern (hingga kini). Komposer – komposer yang layak mendapat perhatian serta apresiasi seperti Villa-Lobos, Castelnuovo-Tedesco, Dyens, Rodrigo, dan lain – lain. Komposer – komposer di era modern selain kembali menggali potensi musik untuk gitar, juga membuka kemungkinan – kemungkinan baru tentang bagaimana instrumen ini dapat dimainkan.
Dari sejarah perkembangan gitar, selalu terlihat pola berulang dimana seorang komposer gitar umumnya adalah pemain gitar juga. Kemungkinan hal ini disebabkan kerumitan teknikal gitar yang walau di satu sisi seolah membatasi kreativitas komposer, namun di sisi yang lain justru membutuhkan skill serta kreativitas tersendiri dalam membuat komposisi – komposisinya.

Glosarium Gitar

A. Simbol untuk jari manis kanan. Singkatan dari anular.
Akor. Kesatuan bunyi dalam musik yang mengandung tiga not atau lebih.
Akustik. Jenis gitar yang dapat dimainkan langsung, tanpa harus memakai amplifier atau piranti elektronik lain untuk memperkuat bunyinya.
Apoyando. Teknik memetik gitar dengan jari, dengan arah petikan sejajar posisi senar hingga jari tertahan di senar berikutnya setelah memetik.
Arch top. Desain gitar dengan permukaan maupun punggung tidak datar, melainkan melengkung/cembung seperti pada biola. Bianya gitar dengan desain ini digemari gitaris jazz.
Backboard. Sisi belakang gitar yang menempel ke dada gitaris.
Balalaika. Alat musik khas Rusia yang termasuk kerabat gitar dengan bentuk badan segitiga serta ukuran yang beragam.
Banjo. Instrumen musik mirip gitar dengan bagian badan berbentuk bulat, digunakan terutama untuk musik country dan folk. Yang paling populer adalah banjo dengan lima senar yang ditala membentuk akor G mayor: GDBGD.
Capotasto. Biasa disebut capo saja. Semacam penjepit yang dipasang pada leher gitar untuk menekan keenam senar pada posisi tertentu. Berfungsi untuk menghasilkan nada dasar yang lebih tinggi (modulasi).
Ceja. Ada pula yang menyebutnya barre. Penggunaan jari 1 (telunjuk) untuk menekan sekaligus dia hingga enam senar.
Cut away. Lekukan/potongan bagian bodi gitar di dekat leher yang bertujuan memudahkan jari kiri menjangkau not-not tertinggi pada leher gitar.
Etude. Komposisi yang dirancang secara khusus agar dapat meningkatkan kemampuan teknik pemainnya.
Falseta. Improvisasi permainan gitar dalam musik flamenco. Dimainkan di antara bait-bait nyanyian untuk memberi kesempatan penyanyi bernafas sejenak sebelum melanjutkan nyanyiannya.
F-Hole. Lubang suara pada bagian depan gitar elektrik maupun akustik yang menyerupai huruf F. Biasanya sepasang.
Fingerstyle. Teknik memetik gitar dengan memanfaatkan ibu jari dan jari-jari tangan kanan untuk memetik langsung senar-senar gitar.
Flamenco. Musik tradisional dari kawasan Spanyol Selatan yang memiliki karakter unik dan eksotis. Teknik terpenting dalam bermain gitar flamenco adalah rasquedo, tremolo, dan golpe.
Golpe. Teknik memukul permukaan gitar dengan jari untuk memberi efek perkusif.
Harmonik. Efek nada tinggi –pada gitar klasik menyerupai suara harpa- yang diperoleh dengan menyentuh lembut (bukan menekan) senar lepas pada fret tertentu lalu memetiknya. Bisa dilakukan pada fret 3, 4, 5, 7, 9, 12, 19, dan 24.
Headstock. Desain ukiran pada kepala gitar.
I. Simbol untuk jari telunjuk kanan. Singkatan dari indice.
Lap Steel. Jenis gitar berdawai logam yang didesain khusus untuk dimainkan dengan posisi dipangku.
Lute. Alat musik berdawai mirip gitar dengan bentuk tubuh menyerupai buah pir dibelah dua. Amat populer di Eropa sejak Abad Pertengahan hingga abad ke-18.
Luthier. Pembuat gitar.
M. Simbol untuk jari tengah kanan. Singkatan dari medio.
Mandolin. Instrumen musik mirip gitar dengan tubuh lebih kecil serta berbentuk mirip tetesan air yang berasal dari Italia dan populer sejak abad ke-17.
Nut. Bilah kecil keras yang menjadi tempat sandaran atau melintasnya senar di ujung leher gitar.
Open tuning. Tala alternatif pada gitar hingga keenam senar lepas menghasikan bunyi sebuah akor mayor ataupun minor. Contohnya E-G#-B-G#-B-E menghasilkan bunyi akor E mayor.
P. Simbol untuk ibu jari kanan. Singkatan dari pulgar.
Plektrum. Peranti untuk memetik senar gitar.
Rasqueado. Teknik strumming dengan memukulkan secara berurutan empat jari kanan ke semua senar. Dimulai dari kelingking sampai telunjuk.
Senar. Biasa disebut juga dawai. Pada zaman dulu senar gitar terbuat dari kawat maupun usus hewan. Pada masa kini, hanya ada dua jenis pokok senar: nilon dan logam.
Solid body. Gitar dengan bagian tubuh yang tidak berongga, padat.
Soundhole. Lubang pada bagian depan gitar akustik/klasik untuk melepaskan gelombang suara yang dihasilkan dari dalam tubuh gitar.
Strumming. Membunyikan beberapa senar sekaligus secara serentak dengan menggunakan jari atau plektrum.
Tabalet. Efek suara tambur atau drum. Dengan tangan kanan, pilin senar 5 dan 6 hingga bertukar tempat, lalu tekan/tahan kedua senar itu pada fret ke-9 (boleh juga posisi lain) dengan telunjuk kiri agar tak kembali ke posisi semula. Petik kedua senar bersamaan. Melodi pada senar 1 atau 2 bisa dimainkan berbarengan dengan suara “tambur” ini.
Tirando. Teknik memetik gitar dengan jari, dengan arah petikan mengayun ke bagian telapak tangan. Juga disebut dengan al aire atau free stroke.
Ud (oud). Instrumen berdawai dari Arab yang diduga merupakan nenek moyang instrument gitar modern. Catatan sejarah menunjukkan ud sudah dikenal sejak abad ke-7. Ud tak memiliki fret alias fretless dan dipetik dengan menggunakan plektrum. Ud masuk ke Spanyol saat pendudukan kaum moor.
Ukulele. Instrumen berdawai yang mirip gitar dalam skala mini dan hanya memiliki empat senar. Diperkenalkan ke Kepulauan Hawaii tahun 1870 oleh para pelaut Prtugis, namun baru populer di Amerika Serikat di awal abad ke-20.
Vihuela. Alat musik petik dari abad ke-15 dan 16 di Spanyol yang merupakan nenek moyang gitar modern.

DAFTAR PUSTAKA
• Gitarpedia. Kristianto, Jubing. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta: 2005.
• The Home Book of Musical Knowledge. Ewen, David. Prentice-Hall, Inc. London: 1960.
• www.wikipedia.org

Monday, June 22, 2009

Clarinet Trio dan Musik Sore Tobucil

Chamber Music Series akan menampilkan Clarinet Trio, beranggotakan Katherine Ann Spencer (klarinet), Damien Ventula (cello), dan Sam Haywood (Piano). Acara akan berlangsung di Auditorium CCF, Jl. Purnawarman no. 32, pada hari Jumat, 26 Juni 2009 mulai pukul 19.30. Adapun tiket seharga Rp. 25.000 dapat diperoleh di Aquarius Dago (tel. 022-4241433), atau di CCF sebelum pertunjukkan dimulai. Clarinet Trio akan menampilkan karya-karya dari Brahms, Beethoven, Bruch, dan Glinka. Keesokan harinya setelah konser, diselenggarakan masterclass untuk instrumen woodwind di Indra Music, Jl. Progo no. 28. Untuk informasi, bisa hubungi Mutia di 0812-237-9243.

Musik Sore Tobucil (MST) akan kembali diselenggarakan oleh KlabKlassik dan Tobucil untuk ketiga kali. Meski diselenggarakan oleh KlabKlassik, tapi tidak semua penampil membawakan karya musik klasik. Ini justru sengaja, dalam rangka upaya KlabKlassik untuk mengembangkan para apresiator yang tidak terbatas pada dikotomi musik tertentu saja. KMST akan digelar di Tobucil, Jl. Aceh no. 56 pada hari Minggu, 28 Juni 2009 pukul 15.00-17.00. Acara tersebut gratis. Penampil: KlabKlassik String Trio feat. Yeyen dan Dian, D'Java String Quartet, Deu Galih, dan Tesla Manaf Effendi Jazz Duo.

Walagri Classic Club: Kala Komunitas dan Akademisi Bertukar Pengetahuan



Sabtu (20/6) itu, boleh dibilang sebagai hari yang penting bagi KlabKlassik. Untuk pertama kalinya, sejak tiga setengah tahun berdiri, KK dipercaya sebagai pemateri dalam sebuah seminar musik klasik. Ini jelas membanggakan, karena basis KK sungguh bukanlah akademik. Sepanjang KK berdiri, yang ada hanyalah saling berbagi tentang pengalaman masing-masing. Ketika membahas sesuatu yang berbau akademis pun, setiap orang nyaris tak ada yang dominan, hanya menyumbang sedikit yang diketahuinya, namun ternyata lama-lama menjadi bukit.
Demikianlah, kala KK didaulat berbagi materi, artinya ada kepercayaan disana. Kepercayaan yang tentu tidak KK sia-siakan, karena sesuai dengan misinya untuk bergerak secara total di bidang edukasi. Pada hari itu, acara digelar di Aula RS Borromeus. Ini wajar, mengingat penyelenggara adalah Radio Walagri, yang notabene merupakan bagian dari RS Borromeus. KK mengirimkan dua wakilnya untuk berbicara dalam seminar yang bertajuk "Peran Gitar dalam Musik Klasik" itu, yakni Bilawa Ade Respati dan Syarif Maulana.
Setelah dibuka oleh penampilan Ensembel Mawar Music Course, acara dilanjutkan dengan seminar yang membahas sejarah gitar. Moderator adalah Pak Tono Rachmad, seorang dosen Seni Musik di UPI. Syarif dan Bilawa bergantian tampil sebagai penyaji. Syarif berbagi tentang sejarah gitar pra-Renaisans, sedangkan Bilawa memulai gitar dari sejak Renaisans hingga Modern. Pemaparan tersebut cukup menyita waktu, dan terpaksa dipotong oleh moderator karena melebihi waktu yang ditentukan. Intinya, sejarah gitar ini sangat panjang dan tidak bisa digambarkan secara linear. Ada banyak versi tentang bagaimana gitar ini dimunculkan. Apa yang ditampilkan oleh KK adalah salah satu versinya saja.
Sebelum dilanjutkan pada sesi seminar berikutnya, KK menyempatkan untuk menampilkan satu buah karya dari Mozart berjudul Eine Kleine Nachtmusic bagian Allegro dalam format trio gitar. Setelah itu, barulah tampil akademisi dalam definisi sebenarnya, yang oleh standar tertentu dianggap lebih layak untuk terlibat dalam penyajian edukasi macam ini. Namanya Pak Hendry Nusantara, seorang dosen yang juga dari UPI Jurusan Seni Musik. Topiknya lepas dari yang pertama, yakni Strategi Pembelajaran Gitar. Dengan waktu sekitar empat puluh menit, Pak Hendry dengan lugas menceritakan situasi belajar gitar jaman sekarang, suka duka, dan solusi untuk memecahkannya. Pak Hendry juga dengan cerdik mengilustrasikan berbagai strateginya dengan penampilan beberapa anak didiknya. Anak didiknya terbagi atas dua kuartet gitar. Yang pertama, yang beliau sebut dengan "Geng Malas Baca", menampilkan karya-karya komposisinya. Sedangkan yang kedua, yang disebut sebagai "Geng Rajin Baca", menampilkan dua karya, yang pertama adalah karya Vivaldi berjudul Spring, yang berikutnya adalah karya populer Pergi untuk Kembali yang dinyanyikan oleh Ello.
Di akhir penyajian, ada dua penampil lagi. Yang pertama adalah penampilan dadakan dari Al Kautsar, seorang gitaris cilik berusia sebelas, yang sebetulnya rajin mengikuti kegiatan Ririungan Gitar Bandung dari KK. Penampilannya dengan karya Villa-Lobos berjudul Choros no. 1 menuai kekaguman. Acara lalu ditutup oleh kuartet gitar dari KK yang memainkan lagu Cannon in D karya Johann Pachelbel.
Seminar tersebut berlangsung baik, meski ada kemoloran jadwal sekitar satu jam, yang mana disebabkan oleh terlalu lamanya KK tampil sebagai pembicara juga. Namun yang terpenting, adanya dialog antara UPI yang berbasis akademik, dengan KK yang berbasis komunitas serta hobi. Ternyata, pada saat keduanya dipersatukan dalam satu acara, dikotomi tersebut tak lagi berlaku ketat. Di satu sisi, karena hobi, KK melengkapi pengetahuannya dengan kesenangan yang bersumber dari hati. Hobi, bagaimanapun juga, mestilah sebuah kesenangan. Komunitas lalu memperkuat distribusi pengetahuan yang diperoleh masing-masing individu KK. Di sisi lain, UPI dengan basis akademik, tak bisa lepas juga dari kehobian. Agar seluruh pengetahuan dapat diserap dan diaplikasikan, maka ada baiknya semangat hobi yang diusung. Pertukaran inilah yang membuat masing-masing kita menjadi kaya. Terima kasih Walagri! Terima kasih UPI!

*Makalah dari seminar ini akan dimuat di blog minggu depan

Sunday, June 21, 2009

Para Komposer dan Opera yang Pernah Dihasilkannya

Beethoven: Fidelio
Bellini: Norma
Berg: Wozzeck
Bizet: Carmen
Britten: Peter Grimes
Charpentier: Louise
Debussy: Pelleas et Melisande
Delibes: Lakme
Donizetti: Lucia di Lammermoor
Gershwin: Porgy and Bess
Giordano: Andrea Chenier
Gluck: Alceste
Gluck: Orfeo ed Euridice
Gounod: Faust
Gounod: Romeo and Juliet
Halevy: La Juive
Hanson: Merry Mount
Humperdinck: Hansel and Gretel
Leoncavallo: Pagliacci
Mascagni: Cavalleria Rusticana
Massenet: Manon
Massenet: Thais
Menotti: Amahl and the Night Visitors
Menotti: Amelia Goes to The Ball
Menotti: The Consul
Menotti: The Medium
Menotti: The Telephone
Meyerbeer: L’Africaine
Montemezzi: Love of Three Kings
Mozart: The Abduction from the Seraglio
Mozart: Cosi fan tutte
Mozart: Don Giovanni
Mozart: The Magic Flute
Mozart: The Marriage of Figaro
Mussorgsky: Boris Godunov
Offenbach: Tales of Hoffmann
Ponchielli: La Gioconda
Puccini: La Boheme
Puccini: Madame Butterfly
Puccini: Tosca
Puccini: Turandot
Purcell: Dido and Aeneas
Rossini: The Barber of Seville
Rossini: William Tell
Saint-Saens: Samson and Delilah
Smetana: The Bartered Bride
Strauss, R.: Elektra
Strauss, R: Der Rosenkavalier
Strauss, R: Salome
Taylor: The King’s Henchman
Taylor: Peter Ibbetson
Thomas: Mignon
Verdi: Aida
Verdi: Falstaff
Verdi: Otello
Verdi: Rigoletto
Verdi: La Traviata
Verdi: La Trovatore
Weber: Der Freischuetz
Wagner: Lohengrin
Wagner: Die Meistersinger
Wagner: Parsifal
Wagner: The Ring of the Nibelungs
Wagner: Tannhauser
Wagner: Tristan und Isolde
Wolf-Ferrari: The Secret of Suzanne

Musik Kontemporer: Sebuah Introduksi

(diambil dari makalah Diskusi Musik Kontemporer [14/6/09])

Istilah kontemporer sering kali kita dengar, istilah tersebut biasanya melekat dengan idiom musik, tari, teater, lukisan, dan bidang seni lainnya. Dalam tulisan ini pemahaman kontemporer dibatasi dalam ranah musik, musik kontemporer.
Istilah kontemporer (contemporary) bukan merupakan produk budaya masyarakat Indonesia, sehinga sering kali diadopsi berdasarkan pemahaman yang beragam. Secara spesifik, musik kontemporer hanya dapat dipahami dalam hubungannya dengan perkembangan sejarah musik Barat di Eropa dan Amerika . Meskipun dapat mengacu pada pengertian yang spesifik, sesungguhnya label kontemporer yang dibubuhkan pada kata musik, sama sekali tidak menunjuk pada sebuah pengertian yang per-definisi bersifat normatif. Sehingga pada kenyataannya bagi mereka yang awam, sering terjebak (bahkan dijebak) dalam kredo kontemporer yang salah kaprah, hingga berlarut-larut.
Musik kontemporer memiliki benang merah yang cukup erat dengan perkembangan musik di Barat. Kendatipun demikian, musik kontemporer bukanlah sebuah aliran musik, genre musik, zaman, sebagaimana kita memahami dalam konotasi zaman Barok, Klasik, Romantik.
Beberapa catatan tentang peristilahan kontemporer:
• Dr. Fuad Hasan berpendapat, bahwa seni kontemporer adalah seni yang menggambarkan “zeitgeist” atau jiwa waktu masa kini .
• Dr. Umar Kayam berpendapat, bahwa seni kontemporer menunjukkan kondisi kreatif dari masa terakhir .
• Kontemporer berarti kejadian, keberadaan, kehidupan, yang ditandai oleh karakteristik periode sekarang .
• Musik kontemporer di Barat adalah perkembangan karya seni otonom, dalam hal ini musik seni (art music) di Eropa dan Amerika sejak awal abad ke-20, sebagai suatu sikap seniman dalam menggarap di ujung perkembangan seni yang digeluti, hal ini merupakan reaksi atas dipandangnya musik seni sebelumnya yang tidak lagi sesuai dengan tuntutan zaman .

Kontemporer, kekinian, dan akan datang
Tahun 1910 dianggap sebagai ancar-ancar tonggak sejarah musik baru abad ke-20 (musik kontemporer) . Pada sekitar tahun tersebut kejayaan masa lampau dianggap berakhir, bersamaan dengan munculnya gerakan-gerakan musik baru secara yang secara signifikan membedakan dengan musik-musik abad sebelumnya. Namun demikian, sebuah karya (seni) seharusnya memiliki sifat-sifat ke-kontemporerannya. Artinya, karya-karya cantata-nya Bach (sebagai contoh) adalah karya kontemporer di zamannya, begitu juga dengan karya-karya Sonata Mozart dizamannya.
Slamet Abdul Sjukur mengemukakan, bahwa setiap karya musik (art music) itu memiliki ide-ide baru yang ditawarkan (contemporary idea) pada zamannya, maka tidak mengherankan kalau Bach ditinggalkan jemaah gereja St. Thomas, karena musiknya dikecam sebagai karya yang “norak” pada saat itu .
Ontologi yang berubah merupakan hasil dari tindakan mengubah, tetapi setelah hasil tersebut terbentuk sebagai suatu entitas, maka padanya tidak melekat lagi perubahan. Ia telah menetap menjadi sesuatu (dalam hal ini karya seni musik).
Kita sebagai orang Indonesia, terkadang mengetahui dan menerima salah satu karya John Cage dan salah satu karya Beethoven secara bersamaan (dalam waktu yang relatif sama), sehingga menganggap karya Cage dan Beethoven adalah sama saja dirasakan kebaruannya (kekiniannya). Kemudian bagi orang Indonesia tersebut, merasa punya hak untuk menciptakan karya musik ala Beethoven, lantas kemudian menganggap karya ciptaannya tersebut adalah karya modern, kontemporer, atau karya musik saat ini. Sebuah fenomena salah kaprah mengartikan konteks kekinian dalam sebuah karya. Hal ini sering kali terjadi dan bisa dimaklumi?.
Kontemporer memang memiliki hubungan erat dengan masa kini (dalam konteks ruang), sekaligus memiliki cita-cita tinggi di masa yang akan datang (dalam konteks waktu). Masa yang akan datang diartikan sebagai suatu sikap (being) avantgarde , maksudnya memiliki daya melintasi estetika seni dan budaya yang berlaku pada saat ini.

Kekinian dalam musik populer
Lantas apakah istilah kontemporer dan kekiniannya bisa melekat pada musik popular (pop, jazz, rock) yang aktual sekalipun? Kenyataanya banyak orang yang melontarkan pendapat demikian. Permasalahan ini harus segera diluruskan, agar kita tidak terjebak berlarut-larut dan mendapatkan penyelesaian yang memadai.
Musik popular (pop, jazz, rock) pada hakekatnya adalah musik hiburan. Musik yang diangkat oleh system kapitalisme dan berorientasi pada komersialisme. Artinya, karya-karya yang dibuat dalam musik popular, haruslah bersandar pada pasar. Kualitas karya tersebut tidak dinilai dari ide atau konsep kekaryaan, tidak pula dinilai dari aspek musikalnya, melainkan dinilai dari seberapa banyak diminati orang. Di satu sisi, orang bisa menikmati karena biasa. Merubah pakem-pakem yang biasa dalam musik popular adalah melawan musik popular itu sendiri.
Kekinian dalam musik popular tidak berarti kontemporer. Untuk disebut kontemporer, masih harus dikaji dan dianalisa lebih dalam lagi.

Diecky K. Indrapradja

Monday, June 15, 2009

KlabKlassik di Walagri Classic Club: Peran Gitar dalam Musik Klasik

Gitar merupakan salah satu instrumen musik yang populer. Namun benarkah kepopulerannya itu menumbuhkan satu stereotip bahwa: gitar adalah alat musik yang mudah dimainkan? Musik klasik identik dengan instrumen gesek dan piano, adakah peran gitar disana? Lalu bagaimana strategi pembelajaran yang efektif lagi optimal? Lantas, bagaimana masa depan gitar di tengah centang perenang dunia permusikan sekarang?

Ikuti seminarnya!

Hari dan tanggal: Sabtu, 20 Juni 2009
Jam: 09.00-11.00 pagi

Lokasi: Aula RS. Boromeus, Jl. Surya Kencana no. 2


Pembicara: Tono Rachmad (pengajar Seni Musik UPI), Hendry Nusantara (pengajar Seni Musik UPI), Syarif Maulana (koordinator KlabKlassik), Bilawa A. Respati (gitaris klasik)
Pengisi acara : Bilawa A. Respati, KlabKlassik Guitar Ensemble, Mawar Music Course Guitar Ensemble, UPI Guitar Ensemble
Partisipasi : Rp. 5.000 untuk anggota, Rp. 10.000 untuk non-anggota. Cara menjadi anggota adalah mendaftarkan diri ketika acara, dengan biaya Rp. 10.000

Heitor Villla Lobos: Cinta Tradisi Sampai Mati




Villa-Lobos lahir di Rio de Janeiro, Brasil pada tanggal 5 Maret 1887. Ayahnya meninggal ketika ia berumur sebelas tahun, yang menyebabkan dirinya mesti menghidupi diri sendiri. Villa-Lobos melakukannya hingga dewasa, dengan cara bermain di restoran dan orkestra.
Pasca pendidikannya di Institut Musik Nasional Rio de Janeiro –yang konon ia kecewa terhadapnya-, Villa-Lobos melakukan perjalanan keliling Brasil untuk mempelajari berbagai musik rakyat dan musik tradisional. Ekspedisi tersebut banyak memberikan wawasan pada pengetahuan musiknya, yang mana unsur-unsur musik rakyat dan tradisional selalu dilibatkan dalam setiap karya-karya Villa-Lobos selanjutnya. Sejak itu, dalam setiap karyanya, ia selalu berusaha mengadaptasi melodi, ritmik, dan unsur-unsur tonal dari musik dan tarian Brasil. Karya-karya pria yang multi-instrumentalis ini juga hampir selalu menginterpretasi kultur, geografi, masyarakat, dan latar belakang kedaerahan negaranya. Secara garis besar, karya interpretasi tradisi Villa-Lobos dibagi dua: Satu, Bachianas Brasiliera, suita yang menggambungkan gaya Barok Bach dengan elemen tradisi kerakyatan Brasil. Dua, Choros, yang diistilahkan dengan ”street serenade”, diangkat dari musik populer Brasil, namun dikombinasikan dengan musik tradisi tak hanya dari Brasil sendiri, tapi juga India.
Atas dukungan pemerintah, Villa-Lobos pergi ke Paris pada tahun 1923 dan menetap selama tiga tahun. Kepergiannya ke Paris, meski sebentar, menyisakan kesan cukup dalam bagi masyarakat Brasil. Kepulangannya dari Paris disambut hangat, dan menempatkan dirinya sebagai salah satu figur penting dalam dunia permusikan Brasil. Ia kemudian diangkat menjadi direktur dari pendidikan musik di Rio de Janeiro, yang mana kemudian dimanfaatkan oleh Villa-Lobos untuk merevolusi metode mengajar musik disana.
Pada tahun 1944, Villa-Lobos mengunjungi Amerika Serikat dan menjadi konduktor dari berbagai program orkestra yang memainkan karya-karyanya. Selain bentuk komposisi Bachianas Brasileras dan Choros tadi, Villa-Lobos juga produktif dalam melahirkan berbagai karya.untuk gitar, piano, string quartet, ballet, dan opera, seperti beberapa yang terkenal: twelve etudes, five preludes, Prolo de Bebe, Suite for Piano and Orchestra, dan masih banyak lagi. Villa-Lobos meninggal pada 17 November 1959 di tanah kelahirannya.

Diskusi Musik Kontemporer

diambil dari www.tobucil.blogspot.com

”Apakah yang dinamakan musik kontemporer? Apakah istilah ini berkaitan dengan situasi ’kekinian’ atau ’masa akan datang’? Jika berkaitan dengan kekinian, lantas apa bedanya dengan musik populer? Jika berkaitan dengan yang akan datang, lantas apa bedanya dengan musik avant-garde atau garda depan? Lantas apa andil musik klasik terhadap kemunculan musik kontemporer? Ayo ikuti diskusi ini, gratis dan tidak memihak capres manapun. Peserta tamu: Royke B. Koapaha (dosen ISI Yogya), Diecky K. Indrapradja (komposer kontemporer).”

Demikianlah promosi yang dibuat oleh KlabKlassik baik di facebook maupun di blog dalam rangka menyambut diskusi musik kontemporer. Seyogianya diskusi yang diadakan hari Minggu (14/6) kemarin menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, tapi apakah yang terjadi? Begini ceritanya, diskusi mulai jam tiga, yang datang ada sepuluhan. Berbekal laptop dan televisi, Diecky K. Indrapradja memulai presentasinya. Kemana Pak Royke Koapaha? Katanya tertidur, jadinya telat, duluan saja, begitu katanya. Cerita Diecky tentang fenomena musik kontemporer di Indonesia cukup menjadi perhatian. Menurutnya, ada permasalahan serius tentang pendefinisian musik kontemporer di Indonesia. Dia pernah menemui, dalam suatu instansi pemerintah, -yang konon isinya pakar-pakar kebudayaan- mendefinisikan kontemporer sebagai: musik jaman sekarang, yang konotasinya Nidji dan kawan-kawan.

Lalu ia melanjutkan panjang lebar, masuk ke wilayah definisi, Chris lantas memotong, “Penting nampaknya untuk melakukan standarisasi secara internasional definisi musik kontemporer ini, karena nampaknya tidak jelas dan abu-abu sekali.” Entah karma atau bukan, Chris kemudian dipotong lagi oleh kehadiran Pak Royke yang nampak cukup dinanti. Wajar saja, Pak Royke ini bisa dibilang salah satu komposer musik kontemporer yang telah cukup lama malang melintang di blantika musik Indonesia. Kehadirannya di Tobucil terasa cukup berharga. Cukup, cukup, cukup terus.

Kedatangan Pak Royke bak kiai di akhir film horror: menyejukkan. Ini terlebih setelah sajian video dari laptop Diecky, -sebuah komposisi karya John Cage berjudul First Construction in Metal- yang dirasa secara subjektif oleh Tobuciler: kurang nyaman didengar. Isinya berupa sekelompok orang yang memukuli benda-benda keras seperti baja, seng, dan besi-besian, namun berupaya untuk mencapai harmoni. Harmoni yang dimaksud jelas bukan estetika yang kita kenal secara umum, melainkan harmoni yang tak wajar, sungguh tak nyaman didengar. Lalu laptop Diecky seolah tak henti menyuguhkan sajian “abnormal”: ada duet piano dan sopran, tapi sang soprano menyanyi dengan duduk di atas piano, dan pianisnya pun tak main tuts piano, tapi hanya memukul-mukul tutupnya; lalu ada gambar-gambar partitur yang ditulis secara tidak wajar: alih-alih macam toge biasa, ini malah ada yang berbentuk spiral, benang kusut, hingga diagram atom!

Dengan candaan yang renyah, Pak Royke selalu mampu menengahi ketakwajaran sajian sore itu, dengan kengernyitan dahi para peserta. Menurutnya, “Berbagai ‘keanehan’ ini, jangan dilepaskan juga dari semangat jaman itu. Waktu itu tahun 1950-an, ketika Amerika baru menang Perang Dunia II. Wajar jika komposer Amerika banyak yang aneh-aneh. Pertama, status pemenang perang membuat mereka merasa punya hak untuk menentukan nilai kebudayaan. Kedua, pemain musik hebat kebanyakan ada di Eropa, sehingga ini juga yang mendorong orang-orang Amerika untuk menampilkan musik anti-virtuositas. Yah, yang begitu, yang bisa dibilang ‘asal bunyi’. Ketiga, Amerika tidak punya tradisi kebudayaan yang kuat. Ya beginilah jadinya, mereka menciptakan semacam kebudayaan yang baru. Bahkan sempet ada pemeo, ‘kalo ga aneh namanya bukan seni!’” Ujaran Pak Royke ini cukup menyegarkan, setidaknya ada semacam kesadaran: bahwa yang “aneh-aneh” itu, ada latar belakang yang masuk akal dan bolehlah dimaklumi.

Masuk akhirnya ke pertanyaan Chris tadi, Pak Royke menjawab sederhana namun dalam, “Kontemporer berarti kekinian, namun didasari oleh sikap yang melampaui kemapanan.” Sebenarnya terjawabkah seluruh pertanyaan yang dilontarkan di awal paragraf ini? Tidak juga, karena tak mesti semuanya dijawab. “Tak mesti kita menanam pohon, kita yang memetik buahnya. Kenapa tidak berpikir anak cucu kita kelak yang akan memetiknya?” demikian ujar Diecky, menengahi sisa kebingungan yang masih menggelayuti peserta. Intinya, tak mestilah kita paham sekarang. Atau bahkan, jangan-jangan, diskusi ini bukan dalam rangka mencari pemahaman. Melainkan sekedar refleksi, dan sedikit mengguncangkan pikiran agar tetap waras senantiasa.


Pow Ensemble: Kala Segala Bunyi adalah Harmoni

,

Pada hari Kamis (11/6) kemarin, di Auditorium CCF diadakan pertunjukkan musik elektronik dari Pow Ensemble. Siapakah gerangan mereka? Dalam buku programnya, dijelaskan bahwa mereka-mereka ini menyebut dirinya sebagai "ensembel abad 21". Ditemukan pada tahun 2001 oleh Luc Houtkamp, ensembel ini mendasarkan kekuatan instrumennya pada bunyi-bunyian elektronik (baca: komputer). Pow Ensemble beranggotakan Wiek Hijmans (gitar elektrik), Luc Houtkamp (komputer, elektronik), dan Guy Harries (komputer, elektronik).
Konser dibuka dengan penampilan resital Wiek Hijmans pada sesi pertama. Pertunjukkan gitar tunggal biasanya akrab dilakukan di acara-acara musik klasik. Tapi Hijmans mendobraknya, ia mengatakan bahwa memainkan karya-karya klasik tak mesti menggunakan gitar akustik. Dengan gitar elektrik, ada kekayaan bunyi yang baru. Lagu pertama yang ia bawakan adalah Soneto 1 karya Enriquez de Valderrabano dengan gaya Renaisans yang kental. Lagu kedua barulah ia membawakan sebuah karya kontemporer, yang mana mengandalkan sensasi bunyi-bunyian alih-alih nada, judulnya Nightaway karya Betsy Jolas. Lagu berikutnya, ia ingin bercerita tentang perjalanan dari Yogya ke Bandung lewat kereta, dan terciptalah satu karya pendek. Terampil menggunakan efek delay, Hijmans menyuguhkan sensasi derak kereta bak kuda sedang dihela. Lagu berikutnya kembali ke karya kontemporer dari Maraatsj berjudul Happy End, Happy Beginning. Setelah itu Hijmans kembali mempertontonkan kehebatannya memainkan delay dalam lagu bernuansa jazz, judulnya Round Trip karya Ornette Coleman. Ia memainkan sekaligus walking bass, akord, dan melodi seorang diri. Sesi pertama ditutup dengan karyanya sendiri yang tanpa judul, masih dengan pertunjukkan kehebatan delay.
Sesi kedua barulah mereka tampil komplit. Bertiga mereka membawakan karya-karya dalam balutan musik elektronik yang amat kuat. Kira-kira mekanismenya seperti ini: Gitar elektrik Hijmans disambungkan pada peralatan elektronik yang dipunyai Harries dan Houkamp, lalu bunyi-bunyian dari gitar ditransformasi menjadi bunyi-bunyian baru lewat proses elektronis. Terkadang juga komputer (baca: laptop) yang mereka punyai, mengeluarkan bunyi-bunyi independen. Berturut-turut mereka menampilkan karya-karya Guy Harries (Safari TV), alalu Luc Houtkamp (Uiterste Staat), Wiek Hijmans (Wiipap), dan Gabriel Prokofiev (Stolen Guitars).
Secara subjektif, musik mereka sulit dicerna. Ini wajar, mengingat sikap kontemporer yang mereka usung. Ada unsur kebaruan dan perlawanan terhadap kemapanan. Bagi mereka, ensembel tak mesti berkaitan dengan instrumen konvensional, tapi juga boleh elektronis, atau dalam hal ini komputer. Apa yang mereka sajikan juga bukanlah sajian nada-nada atau harmoni-harmoni yang "wajar", melainkan bunyi-bunyian yang kadang absurd dan nakal. Mungkin ada benarnya jaman ini seringkali disebut pos-estetis. Karena estetika tak mesti indah dan menenangkan. Ada kalanya ia absurd, tak terpahami, dan membingungkan.

Selamat Bergabung, Ilham!



Audisi Ensembel Ririungan Gitar Bandung (RGB) yang dilaksanakan hari Minggu (14/6) kemarin hanya dihadiri oleh satu orang. Tapi tak apa, berhubung KlabKlassik (KK) telah komit untuk mengaudisi, tetap dijalanilah itu prosesi. Yang datang namanya Ilham, usianya baru sebelas. Bukan orang baru memang, Ilham ini adalah adik kandung dari Afifa (violin) dan Azisa (cello), dua orang yang telah lebih dulu aktif di KK baik sebagai apresiator maupun pemain.
Ujian pertama adalah mengetes sejauh mana Ilham mampu memainkan partitur Cannon in D, seperti yang telah disebutkan dalam syarat audisi sebelumnya. Sambil membaca partitur, Ilham memainkan Cannon in D secara tersendat-sendat. Loh, Ilham, kenapa? ternyata ia tidak tahu bahwa itu merupakan persyaratannya, jadilah Ilham lulus ujian: sight reading! Lantas apakah ia jadi tidak memenuhi persyaratan karena tidak mampu memainkan Cannon in D? Tidak perlu dibahas, karena lewat rapat yang tidak alot, Ilham diterima sebagai anggota RGB untuk persiapan konser tanggal 20 November. Mengapa? Karena pertama, ketidaktahuan Ilham untuk memainkan partitur Cannon in D, lebih pada kesalahan KK dalam komunikasi. Kedua, kemampuan sight reading yang relatif baik, membuat KK optimis bahwa Cannon in D tidak akan sulit dipelajari di kemudian hari. Ketiga, dalam sesi wawancara, Ilham berjanji untuk komit mengikuti latihan hingga konser. KK tidak profesional? Bisa jadi, jika dalam kacamata profesionalisme ala organisasi atau institusi. Tapi bagi KK -sebuah komunitas-, ujung dari segala profesionalisme mestilah sebuah kebersamaan dan kehangatan untuk berbagi. Artinya, kata "profesional" bermakna sungguh cair.
Setelah Ilham bergabung, sesi latihan Cannon in D dimulai. Ini bagian yang cukup merepotkan, karena karya tersebut adalah untuk kuartet yang ditulis dalam 19 halaman! Walhasil, daripada membuka bulak-balik kerepotan, Pirhot alias Iyok memutuskan untuk menebarkan partitur di atas meja dan kursi.



Jangan lupa, konser RGB, 20 November 2009.

Bach Memberkati

Sunday, June 07, 2009

Istilah dalam Musik Vokal dan Koral (bagian 2)


Folk Song: Musik rakyat, bentuk tertua dari ekspresi musikal. Berbeda dari musik seni yang dibuat oleh seorang komponis, folk song dibuat secara masal dan komunal, dimana dokumentasinya pun dilakukan secara sederhana dari mulut ke mulut pada setiap generasi. Biasanya folk song lebih sederhana secara estetik dan mengekspresikan lokalitas, seperti legenda dan kepercayaan. Ketertarikan dunia musik klasik Barat pada folk song baru dimulai pada abad ke-19 atau era Romantik. Sebelumnya, musik seni yang menjadi sentral.

Motet: Seting musik dalam gaya polifoni untuk nyanyian-nyanyian yang tidak diiringi oleh instrumen. Sumber motet biasanya dari teks-teks Injil, dan berbahasa latin. Motet disebut juga versi religius dari madrigal. Motet dipopulerkan oleh Palestrina, dimana dia menyelesaikan lebih dari dua ratus karya untuk motet.

Requiem: Requiem diartikan sebagai nyanyian untuk mengiringi kematian. Bentuk requiem pertama kali dikembangkan di awal musik polifoni oleh komposer-komposer semacam Palestrina dan Victoria. Requiem yang paling terkenal dan paling sering ditampilkan adalah milik Mozart, yang ia gubah tahun 1791.
Mengenai requiem Mozart, ada cerita menarik. Alkisah, ada seorang asing, berbaju abu dan bertopeng, datang ke kediaman Mozart dan minta dibuatkan sebuah requiem. Saat itu, sang peminta minta identitasnya dirahasiakan. Belakangan, ketahuan bahwa identitas peminta adalah Count von Walsegg. Namun hingga kematiannya, Mozart tidak pernah tahu dan ia masih menganggap peristiwa itu adalah kejadian supranatural, yang ia anggap seperti datangnya pembawa pesan.
Saat itu Mozart dalam keadaan sakit keras, namun ia tetap melanjutkan penulisannya, dan menganggap bahwa kedekatannya pada ajal membuat ia sangat menghayati pembuatan karyanya ini. Pada saat akhir ia akan menyelesaikannya, Mozart benar-benar kepayahan dan tak mampu melanjutkannya sendiri. Ia akhirnya memanggil seorang teman untuk membantunya menulis. Sebelum napas terakhirnya, ia menirukan suara trumpet, yang mana temannya menganggap itu sebagai suara Tuba. Requiem itu akhirnya tak selesai, dan dilanjutkan oleh Sussmayer. Mozart berhasil menyelesaikan dua belas bagian dari keseluruhan lima belas. Tiga terakhir -Sanctus, Benedictus, dan Agnus Dei- diselesaikan oleh Sussmayer.
Di era Romantik, Berlioz menjadi salah satu komposer yang menghasilkan requiem di tahun 1837l selain Faure di tahun 1887. Selain itu, Brahms juga menyelesaikan A German Requiem yang diadopsi dari Injil Lutheran. Brahms yang memulai menulis pada tahun 1861, menujukan requiem tersebut pada temannya, Robert Schumann. Requiem tersebut akhirnya selesai pada tahun 1866. Pembuat Requiem lainnya adalah Verdi, yang ia tujukan untuk novelis Italia, Manzoni yang meninggal tahun 1873. Selesai tahun 1874, requiem tersebut ditampilkan pertama kali di Katedral St. Mark di Milan.




Diskusi Musik Kontemporer: Sebuah Introduksi

Sudah lama KlabKlassik tidak mengadakan diskusi-diskusi yang sifatnya serius. Setiap bersua, biasanya nongkrong dan bercanda. Meski demikian, KK tidak menganggap kegiatan itu sia-sia. Selama ujung-ujungnya menguatkan silaturahmi, cara apapun boleh. Hanya saja, belakangan awak KK mulai mengeluh, tentang kejenuhan mereka tertawa-tawa. Akhirnya sebagai selingan, bolehlah kegiatan serius jadi ajang silaturahmi. Setelah menimbang-nimbang topik, akhirnya diputuskanlah untuk mengadakan diskusi musik kontemporer. Apa itu musik kontemporer? justru itu, kami mengadakannya, karena kami tak tahu jawabannya. Dalam rapat juga tanggal diputuskan, yakni 14 Juni jam 3 sore, tempatnya di Tobucil, Jl. Aceh no. 56.
Hanya saja begini, berlagak sok tau, kami akan coba memberikan pengantar, sebelum diskusi nantinya. Kontemporer adalah istilah yang sangat cair dan fleksibel. Alih-alih definisi ketat, kami cuma sanggup memberikan beberapa contoh penggunaan terminologi. Dalam obrolan kami dengan Pak Tono, dosen UPI, kami diberi pengetahuan bahwa yang membedakan "modern" dan "kontemporer" adalah sebagai berikut: "modern itu kekinian, kontemporer adalah sesuatu yang akan datang." Di kesempatan lain, jika anda sering buka wikipedia, maka akan ada kalimat yang jika diterjemahkan kira-kira akan berbunyi seperti ini, "Ludwig van Beethoven adalah seorang komposer kontemporer pada jamannya." Dalam obrolan lain lagi, dengan Dieter Mack, seorang komponis Jerman, kami malah tak diberi definisi atau contoh penggunaan kata kontemporer dalam sebuah kalimat, ia hanya menggunakan metafor, "memahami kontemporer adalah seperti mencicipi nasi goreng".
Jadi apa sebenarnya kontemporer itu? kekinian atau kemasadepanan? Jika memang kekinian, apa yang membedakannya dari musik populer? Jika memang kemasadepanan, lantas apa yang membedakannya dari avantgardisme? Adakah andil musik klasik dalam kemunculan musik kontemporer? Ikuti diskusi bersama kami, tidak perlu bayar, hanya perlu datang dengan sikap kritis dan terbuka. Oia, ada peserta diskusi tamu juga, yang kami anggap ahli di bidang kontemporer ini, yakni Royke B. Koapaha (dosen ISI Yogya), dan Diecky Kurniawan Indrapradja (Komponis). Jangan lupa, 14 Juni pukul tiga, Tobucil Jl. Aceh 56. Bach Memberkati.

Tambahan Informasi untuk Perekrutan Personel Ririungan Gitar Bandung

Tambahan persyaratan untuk keanggotaan baru RGB yang akan dimulai 14 Juni ini adalah: mampu memainkan salah satu bagian dari Cannon in D (gitar satu, dua, atau tiga). Partitur Cannon in D sendiri terdapat pada salah satu postingan di blog ini (tanggal 26 maret).
Perekrutan akan dimulai tanggal 14 Juni pukul 12.30 di Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Calon peserta diharapkan membawa gitar sendiri. Terima kasih. Bach Memberkati.

Monday, June 01, 2009

Tesla Manaf Effendi, Kacang Tidak Lupa Kulitnya



Ketika Tesla aktif di KlabKlassik, dia memang seorang gitaris klasik handal. Tekniknya mumpuni, keberaniannya tinggi. Yang berbeda adalah, tak seperti stereotip musisi klasik pada umumnya: dia sedikit ”nakal”. Nakal dari sudut pandang apa? Yakni ketika bermain, ia tak melulu fokus pada teknik dan kesempurnaan. Sedikit ”main kotor” tak apa, asalkan menghibur. Keliaran ini agaknya mendorong Tesla untuk beradaptasi dengan jazz, yang memang liar adalah bagian dari kesempurnaannya. Belajar pada Venche Manuhutu, seorang guru jazz berpengalaman, gitaris kelahiran Jakarta 22 tahun lalu ini segera berkembang menjadi gitaris jazz handal. Sekarang nyaris seluruh panggung jazz di Bandung dilahapnya. Meski demikian, evolusi ini tak membuatnya melupakan sang akar, yakni musik klasik. Ia mengaku berhutang budi pada musik klasik, bahkan sedang berupaya menjamah kembali. Tesla Manaf Effendi, kacang yang tidak lupa akan kulitnya.

Halo Tesla, lagi sibuk apa nih?

Aktivitas saya bermacam-macam, tapi yang paling mendominasi sih bermain musik dan kuliah. Saya amat jarang berpergian bila itu tidak berhubungan dengan musik atau kuliah. Dalam sehari saya banyak menghabiskan waktu berjam-jam untuk latihan musik, dan sedikit sekali waktu untuk belajar, hehe.

Trus Tes, gimana sih perjalanan belajar gitar kamu?

Awal belajar gitar tuh tepatnya 11-12 tahun yang lalu yaitu pada saat saya berumur sembilan tahun. Saya diajari oleh ayah saya yang mana beliau pernah bermain gitar juga pada masa mudanya. Awalnya sih hanya iseng, demi memenuhi tugas akademis sekolah dasar yang diwajibkan harus bisa memainkan instrumen musik apapun demi pelajaran kesenian, eh jadi keterusan deh sampai sekarang.
Perjalanan belajar gitar saya itu dimulai dari les gitar klasik di Bekasi, guru pertama saya adalah Ismail, beliau masih mengajar di Nuansa Musik Kalimalang. Lalu guru kedua saya di bekasi itu adalah Agus, beliau juga masih mengajar di Nuansa Musik Kalimalang. Selain itu, saya sempat belajar atau lebih tepatnya sharing dengan Jubing Kristianto di Kebon Jeruk, kami bertemu di berbagai festival gitar klasik tingkat wilayah dan nasional. Setelah saya kuliah di Bandung, saya belajar gitar klasik pada Karsono, oleh beliau saya mendapat banyak pencerahan dari segi aransemen lagu menjadi solo gitar klasik, yang dimana ilmu itu amat berguna untuk mengiringi orang bernyanyi secara spontanitas biarpun kita tidak tahu lagu yang akan dinyanyikan. Setelah belajar gitar klasik, saya ‘mangkir’ menjadi belajar gitar dengan spesialisasi jazz ke Venche Manuhutu, selama 2,5 tahun saya total belajar jazz, hingga benar-benar total meninggalkan gitar klasik saya (sekarang sih sudah mulai belajar main klasik lagi nih). Dari ketotalan itu akhirnya berbuah manis, banyak sekali pelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan dari kemaksimalan itu.

Terus mengapa memilih jazz setelah bisa main klasik?

Mengapa saya memilih jazz setelah bisa main klasik? sebenarnya saya tidak bisa main klasik, tapi bisa memainkan karya orang dalam aransemen gitar klasik. Dimana teorinya selama saya belajar sembilan tahun tidak pernah saya dapatkan. Dalam klasik, hanya teknik saja yang dijelaskan di buku-buku gitarnya. Bagi saya, itu membosankan, karena sejago-jagonya saya memainkan lagu klasik, labih jago lagi orang yang telah membuat lagu tersebut. Jadi, selama sembilan tahun, saya hanya menjadi orang lain yang dimana interpretasi, improvisasi, dan ekspresi dari seorang musisi itu tertahan oleh karya itu sendiri (itu yang dialami pemain gitar klasik pada umumnya). Biarpun pada zaman klasik entah itu romantik, kontemporer dan lain-lain (tidak hapal saya, hehe) belum diajarkan apa yang dinamakan dengan reharmonisasi, chordal, modes dan lain-lain, tapi komposer yang tinggal di zaman itu sudah tidak bisa diragukan lagi kejeniusannya dalam bermusik. Bagi saya, itu yang amat sulit kita kejar di zaman sekarang, dengan adanya teori-teori dasar dalam bermusik yang semuanya tertera dalam musik jazz, sedikit demi sedikit saya mulai mengerti teori musik klasik yang sebenarnya (saya banyak menganalisis teori karena solfeggio atau pendengaran saya lemah). Bosan akan ketidaktahuan dan dibatasinya segala interpretasi itulah yang membuat saya lebih memilih konsentrasi di dunia jazz.

Belajar dan bermain musik klasik itu, penting ga sih?

Wah, itu penting sekali. Di dalam klasik, itu semua bentuk harmoni yang ingin dan belum kita dengar sudah tertera dalam bentuk komposisi yang indah, percakapan antar harmonisasi di sebuah aransemen lagu klasik dalam bentuk orkestra itu membuat kita tahu betapa kayanya musik ini. Charlie Parker seorang saxophonis legendaris jazz bahkan mengatakan bahwa dia banyak mendengar harmoni dari musik klasik demi menciptakan lagu Be Bop ciptaannya (Be Bop adalah cabang dari musik jazz seperti swing, bossanova, fusion dan lain-lain). Dan yang pentingnya lagi, sebagai seorang musisi kita dituntut untuk bisa memahami not balok, biarpun hanya mengeja, setidaknya mengerti dan memahami.

Ada anggapan bahwa belajar jazz bisa merusak permainan klasiknya, bener ga tuh?

Haha, bener banget tuh, dari segi teknik ya, karena bermain gitar klasik itu kita cenderung diarahkan bagaimana semestinya yang benar, bahkan di partiturpun ditulis penjarian apa saja yang harus kita pakai. Pakem sekali memang, dan tentunya merusak teknik permainan tangan kanan karena musisi jazz cenderung menggunakan ‘picking style’ bukan ‘classic style’. Tapi dari segi teori, keluasan pendengaran, range yang kita dapat dari perpaduan antara klasik dengan jazz itu tak akan rusak, melainkan membuatnya semakin sempurna dan kaya. Terlatihnya solfeggio, aransemen, respon sesama pemain, respon sepersekian detik untuk apa yang akan kita mainkan, semua itu akan makin terasah selama kita konsisten mengapresiasi musik klasik dan jazz.

Siapa gitaris favoritmu? Dari genre manapun loh ya..


Sebenarnya saya lebih suka banyak pemain piano dibandingkan pemain gitar. Kalo saya disuruh menyebutkan musisi favorit saya, pasti pemain piano semua, tapi kalo gitaris, dari berbagai gitaris yang saya dengar, saya ulik permainannya, saya tiru tekniknya, saya analisis pendekatannya, dari puluhan gitaris tereliminasi hanya menjadi satu saja, yaitu Pat Metheny. Pat Metheny tidak hanya seorang gitaris jazz dengan aransemen dan teknik yang luar biasa, tetapi respon antar pemain bandnya dan antar penonton lah yang membuat saya takjub, dalam berbagai karyanya dia lebih memilih jenis musik ‘world music’, di karya-karya-nya itulah dia menghadirkan orkestra dengan aransemen khas klasik yaitu dengan teknik kontrapung atau percakapan antar harmoni di aransemennya.

Jika orang yang telah lama belajar klasik, lalu ingin mencoba main jazz, hal-hal apa yang menjadi hambatan, dan bagaimana cara mengatasinya?

Hambatan biasanya ada dalam diri sendiri, yaitu mulai bosannya belajar ketika kita hanya sekedar mengiringi permainan orang lain (tetapi itu dasar yang amat penting). Hambatan lainnya, yakni ketidakmauan mengapresiasi musik jazz standar (standar maksudnya, lagu-lagu yang harus wajib bisa dimainkan oleh musisi jazz), ketidakmauan dalam berkarya, membuat aransemen sendiri, lagu sendiri, improvisasi, mengiringi, diiringi, sosialisasi antar pemain, menunjukkan ekspresi, itulah kendala yang akan dihadapi oleh musisi yang transit tersebut. Hanya ada satu cara yang tepat, yaitu apresiasi musik jazz, cari tahu pesannya dari permainannya, baru kita pelajari teori dan tekniknya.

Trus Tesla, apa pengalaman paling menarik baik ketika bermain klasik maupun jazz?

Pengalaman paling menarik adalah menghibur banyak orang. Karena saya seorang entertainer, saya paling takut bila orang yang saya hibur itu tidak puas. Saya paling grogi bermain bila yang nonton sedikit, makin banyak dan makin berkualitas orang yang mengapresiasi saya, makin semangat saya menyajikan sesuatu yang belum pernah saya sajikan sebelumnya atau bisa disebut spontanitas di atas panggung (biasa terjadi pada musisi jazz). Tapi itu dibutuhkan pengalaman bertahun-tahun untuk mencari tahu apa yang dibutuhkan oleh apresiator dan dibutuhkan ‘jam terbang’ yang amat tinggi untuk membaca dinamika apresiator.

Hmmmm.. Baiklah, sekarang, apa pendapat kamu tentang Klabklassik?

Waduh, kalo gak ada klab ini, saya gak mungkin sesukses sekarang. Saya membangun berbagai koneksi dalam bermusik dan dalam berkeluarga yaitu di Klabklassik ini, klab yang dimana komunitas pertama sejak saya melabuhkan diri saya di Kota Kembang. Sayangnya, intensitas pertemuan dan acara masih amat sedikit, begitu pula apresiatornya. Tapi saya yakin itu proses kedewasaan, bagaimanapun juga kalian adalah payung terhangat yang melindungi saya dari air hujan kesepian teman bermain musik awal hidup saya di kota Bandung, hehe.

Oke, terakhir nih, musik itu apa sih buat kamu?

Wah, musik itu segalanya bagi saya, saya tumbuh oleh musik, dikelilingi musik, dipengaruhi musik, dihargai orang karena musik, disayangi orang karena musik, eksistensi saya meningkat tajam karena musik, saya cinta orang dipengaruhi musik, saya cinta keluarga dipengaruhi musik, saya mencintai alam dipengaruhi musik, karena musik juga saya jadi banyak bersyukur kepada-Nya karena bisa mencintai dan mempertahankan apa yang saya punya selama ini dan bakat untuk mencintai dan tidak mudah melepaskan sesuatu (berat euy).

Kronologi para Komposer berdasarkan Periodisasi (Era Modern)

Dalam periode Modern, terjadi semacam reaksi atas gaya Romantik dan Neo-Romantik. Reaksi tersebut tak lain merupakan respon atas struktur musikalnya, emosi yang berlebihannya, serta filosofinya. Periode modern merupakan kombinasi antara respon atas kritik tersebut, dengan berbagai ekplorasi serta eksperimen baru dalam hal gaya, teknik, dan idiom. Meski demikian, dalam tradisi Modern, terdapat beberapa gaya yang mengusung kembali ide Romantik, dan adapun yang jauh kembali ke era Klasik.

Impresionisme : Aliran yang tidak menekankan pada subjek dari karya musik, melainkan pada emosi dan sensasi yang dihasilkan oleh subjek. Nuansa, mood, atmosfir, cahaya, dan warna, mendapat tempat lebih ketimbang bentuk dan substansi.
Komposer : Debussy (1862-1918), Ravel (1875-1937), Delius (1862-1934)

Ekspresionisme : Ekspresionis menghindari nada utama dari tonal, atau dalam arti kata lain, kaum tersebut memilih bentuk-bentuk atonal. Salah satu teknik terpenting para ekspresionis adalah twelve-tone system.
Komposer : Schoenberg (1874-1951), Berg (1885-1935)

Neo-Klasik : Kembali ke bentuk-bentuk klasik beserta tekniknya, namun dengan kombinasi-kombinasi baru.
Komposer : Stravinsky (1882-1971), Hindemith (1895-1963), Respighi (1879-1936), Roussel (1869-1937)

Dinamisme : Penekanan terletak pada ritmik-ritmik primitif dan kekuatan dinamikanya, namun dalam bentuk yang lebih rumit.
Komposer : Stravinsky (1882-1971), Prokovief (1891-1953)

Nasionalisme : Aliran yang menggubah karya untuk kepentingan negara serta patriotisme. Biasanya karya-karyanya diinspirasi oleh tradisi lokal setempat.
Komposer berdasarkan negara : Armenia (Khatchaturian [1903-1978]), Bohemia (Martinu [1890-1959]), Brasil (Villa-Lobos [1887-1959]), Inggris (Vaughan-Williams [1872-1958]), Finlandia (Sibelius [1865-1957]), Hungaria (Bartok [1881-1945]), Kodaly [1882-1967]), Meksiko (Chavez [1899-1978]), Moravia (Janacek [1854-1928]), Polandia (Szymanowski [1883-1937]), Rumania (Enesco [1881-1955]), Spanyol (Falla [1876-1946], Turina [1882-1949]), AS (Ives [1874-1954]), Copland [1900-1990])

Popularisme : Akar tradisi biasanya masih diusung dalam komposisi-komposisinya, namun digabung dengan musik-musik populer negara setempat. Kepentingannya pun bukan untuk nasionalisme.
Komposer : Villa Lobos (1887-1959), Gershwin (1898-1937)

Musik Proletar : Aliran yang menulis karya untuk kepentingan masal, dan sangat dipengaruhi oleh ideologi Sosialis. Berkembang pesat di wilayah Uni Soviet.
Komposer : Shostakovich (1906-1975), Prokofiev (1891-1953), Kabalevsky (1904-1987), Maskovsky (1881-1950)

Neo-Barok : Aliran yang mengusung kembali gaya kontrapung abad ke-16 dan 17.
Komposer : Hindemith (1895-1963)

Neo-Mistisisme : Aliran yang mengombinasikan filosofi dan mistisisme dari era Romantik serta karakter Wagnerian.
Komposer : Scriabin (1872-1915).

Romantisisme : Aliran yang mengembalikan komposisi-komposinya pada semangat dan filosofi era Romantik.
Komposer : Saint Saens (1835-1921), Glazunov (1865-1936), Rachmaninoff (1878-1943).

Keanggotaan Ririungan Gitar Bandung Dibuka Kembali

Setelah empat bulan pertama menjalani latihan bersama ensembel Ririungan Gitar Bandung (RGB), kami kembali membuka pendaftaran untuk anggota baru. Persyaratan anggota baru ini adalah:
- Bisa bermain gitar dan membaca not balok.
- Mau konsisten ikut berlatih selama dua kali dalam sebulan, dengan jadwal setiap hari minggu kedua dan keempat, pukul 13.00-15.00. Lokasi latihan di Tobucil, Jl. Aceh no. 56.
- Datang di hari perdana latihan, yakni tanggal 14 Juni, pukul 13.00-15.00.
- Membayar iuran keikutsertaan, yakni Rp. 50.000 untuk tiga bulan. Iuran ini akan dikembalikan dalam bentuk fotokopian partitur dan konsumsi (minum) setiap latihan.
Saat ini RGB telah konsisten berlatih dan berencana untuk menggelar konser di akhir tahun. RGB juga diproyeksikan untuk tampil di beberapa acara klasik maupun umum. Untuk informasi selengkapnya, bisa hubungi Sutrisna (081573682961) dan Royke (08122445012).

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.