Sunday, May 17, 2009

Ahmad Ramadhan: Biola itu Seksi, Manis, dan Genit


Ahmad Ramadhan alias Rama, baru saja melangsungkan resital bersama kuartetnya, tepat sebulan lalu. Violinis yang lahir pada tanggal 17 Desember 1989 ini, awalnya merupakan aktivis KlabKlassik (KK) yang cukup militan. Hanya saja, demi karir musiknya, selepas SMA ia memutuskan sekolah di ISI Yogya, yang menyebabkan KK tidak lagi menjadi prioritas. Benarkah begitu? Berikut petikan wawancara dengan Rama via facebook:

KK : Rama oh Rama, belajar biola sama siapa?
Rama (R) : Mulainya tahun 1998, sama Bu Yalezh. Waktu itu belajar dua tahunan sebelum pindah ke Pak Nyoman selama tiga tahun. Setelah itu saya belajar sendiri, sampai akhirnya dibimbing oleh Pak Pipin Garibaldi di ISI Yogya hingga sekarang.

KK : Eh, Ram, kenapa memilih biola sebagai instrumen favorit?
R :Awalnya saya gak terlalu ngerti soalnya masih polos.
Kalo sekarang, saya punya alasan: soalnya biola itu seksi, tonenya manis dan genit, trus di warna nada bawahnya bikin grrrr..gitu. Disamping itu, kita juga bisa banyak eksplor warna nada di biola.

KK : Kalo gak salah ya, awalnya kamu ini kan ada rencana resital solo biola aja di Bandung, kok malah jadi bareng D'Java Quartet?
R : Saya kurang latihan, terus kepentok masalah teknis juga. Banyak juga hal-hal mendasar yang harus diperbaiki, dan itu ketahuannya waktu baru balik dari Thailand (Rama sempat menjadi anggota orkestra Asia Tenggara yang berlatih dan konser di Thailand –red). Jadi setelah dipikir-pikir, mending nguatin basic dulu biar lebih joss..gitu. Kalo ama D'Java, soalnya emang lagi enjoy2nya maen quartet, jadi kenapa tidak kita sekalian ngadain konser? Daripada tidak berbuat sama sekali.

KK : Oh, ya, kemarin kan main di Bandung tuh (17 April). Adakah suka dukanya?
R : Moodnya naik turun, soalnya capek. Trus agak stress juga, terutama gara-gara bahan duet nya. Wah itu sampe jungkir balik gila deh. Kalo bahan-bahan quartetnya sih udah lumayan enjoy, malahan waktu itu kita pernah ngelakuin latihan yang ga perlu lama banget ampe jam satu pagi, padahal biasanya latihan yang serius sekitar 1-2 jam. Demi nge-refresh mood sih..hehe.
Terus aku juga pas maen di radio itu pas lagi sakit perutnya, bahkan dah sampai di ujung tanduk. Wah, konsentrasinya kebagi dua antara maen quartet ma menahan agar tembakan-tembakan nan nista dari belakang tidak keluar dan mengisi ruangan dengan wewangian semerbak khas bunga rafflesia..hehe
Tapi pas hari H, liat penontonnya penuh, moodnya langsung naik 300 %, ampe rasanya mo terbang. Pas di panggung meski ngomong keplintat plintut, tapi yang penting enjoy deh, konser di bandung emang paling asik

KK : Wah, wah, siapa dulu dong manajernya hehe.. =p jadi ada rencana maen lagi di Bandung ga?
R : Tergantung yang ngundang deh.. hehe. Tapi kita ada rencana mau konser di Bandung lagi sih, mungkin akhir tahun kalo enggak tahun depan. Ya tunggu aja deh infonya.

KK : Oke, kita ganti topik sejenak. Apa perbedaan atmosfer bermusik di Bandung dan di Yogya?
R : Kalo untuk atmosfer bermusik seni, kayaknya lebih kena di Yogya yah, soalnya tingkat apresiasi terhadap musik seninya lebih tinggi. Mungkin ini karena di Jogja, institut maupun sekolah kejuruan yang bernafaskan seni sudah ada sejak lama jadinya apresiasinya sudah terbentuk dengan sendirinya. Kemudian banyak seniman yang pada gila (dalam arti karya-karyanya mulai mencari bentuk-bentuk baru atau sesuatu yang berbeda). Bahkan di Yogya konser musik kontemporer boleh dibilang udah jadi hal yang biasa.
Kalo di Bandung sepertinya musik seni lagi pada tahap perkembangan dan apresiasinya masih awam, tapi sudah mulai terlihat adanya arah apresiasi yang lebih tinggi lagi. Seharusnya sekolah-sekolah tinggi musik yang ada di Bandung bisa mendorong apresiasi ini, tapi ya mungkin butuh waktu. Tapi aku pikir kinerja KlabKlassik untuk hal ini sudah luar biasa, tinggal terus berjuang jangan pantang menyerah, karena peran kalian di wilayah ini sangat penting..hehe.
Tapi kalo dari segi penonton/ penikmat musik, yang aku rasain sih lebih sip di Bandung, soalnya kalo di jogja kesannya yang nonton ya “dia artis, aku juga artis “ sama-sama artis gitu kasarnya, jadinya animonya biasa-biasa aja. Tapi kalo di Bandung, banyak yang datang sebagai pure penikmat musik, jadi penghargaan yang diberikan terhadap yang di panggung itu terdengar lebih ikhlas dan lebih dari sanubari gitu.

KK : Trus sekarang lagi sibuk apa, Ram?
R : Sekarang ya lagi sibuk mempersiapkan ujian mayor nih,
terus di sela-sela waktunya juga ikut orkes-orkes seperti NSO dan Yogya Philharmonic Orchestra, terus juga lagi ngebantuin anak-anak komposisi di ISI bwat pergelaran komposisinya sebagai yang maenin karya-karya mereka, konsernya tanggal 26-28 mei ini, udah deket nih. Sekedar info tambahan, komunitas ini namanya 6,5 Composers.

KK : Ngomong-ngomong, Rama latihan berapa lama sih per harinya?
R : Rata-rata 2- 3 jam, tapi targetnya pingin ampe 6-8 jam perharinya.

KK : Trus ngomong-ngomong lagi, apa pesan dan kesan selama di KlabKlassik?
R : Asik tenan, soalnya komunitas ini punya satu kelebihan: keintiman di dalam maupun di luar pertemuan musik itu sendiri, klab ini seakan-akan bisa membuat orang-orang yang berada di dalamnya nyaman untuk show apapun..hehe. Tapi, sayangnya, kenapa orang-orang string-nya malah jarang yang bergabung ya? ini juga dilema yang dirasakan di Yogya juga, dimana pemain orkes kesannya lebih angkuh untuk bergabung dengan komunitas rendah hati semacam ini. Kebanyakan yang bergabung adalah dari kalangan gitar. Di Yogya juga loh, aneh tapi nyata. Padahal di komunitas seperti inilah kita bisa berbagi pengalaman atau saling bertukar pikiran, sedikit menyentuh ranah intelektual atau sekedar perang pendapat atau menunjukkan keahlian, tapi itu positif
pokoknya jangan berpikir instrumen anda paling dahsyat deh, instrumen sekedar pilihan, tapi ’bagaimana memainkannya’, itulah perjuangan sebenarnya.

KK : Oke, terakhir, Ram, ada pesan-pesan yang mau kamu bagikan?
R : Apa ya?
You will never make music without enjoying every single note that you play.
Buat pemain biola ataupun instrumen lainnya, inti dari semua teknik bermain musik adalah rileks. Buat diri kita senyaman mungkin dengan alat kita, kalau kita sendiri tidak nyaman, apalagi suara yang kita hasilkan.

KK : Amin, nuhun ah, Ram! Maturnuwun!
Rama : Same-same!

No comments:

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.