Sunday, March 22, 2009

Gathering WCC kedua: Cross Culture Classic-Country

Aula RS Santo Borromeus, 19 Maret 2009

Dengan konsisten, Walagri Classical Club (WCC) kembali diselenggarakan dengan tema yang cukup unik, yakni: Cross Culture Classic-Country. Acara persembahan radio kesehatan Walagri ini seperti sebelum sebelumnya, selalu mengedepankan tema kesehatan dan pendidikan. Tema kesehatan terlihat dari slogan besarnya yaitu Be Healthy With Musical World. Sedangkan tema pendidikan terasa dari bobot yang diberikan oleh Pak Tono Rachmad, pembicara langganan Walagri yang memang statusnya merupakan seorang pendidik di UPI. Menilik judulnya, tampaknya WCC kali ini punya unsur kultural juga, yang pastinya akan semakin melengkapi misi mulia Walagri.
Dijadwalkan mulai pukul 18.00, acara ternyata berlangsung pukul 18.30. Hal ini sebenarnya cukup wajar, mengingat jam 18.00 bukanlah waktu yang populer di masyarakat kita yang mayoritas beragama Islam. Jam 18.00 bertepatan dengan waktu shalat maghrib, dan biasanya orang baru akan bersiap setelah itu. Walhasil, kendati dimulai jam 18.30, orang belum banyak yang datang. Pembukaan acara oleh musik country yang dibawakan oleh “Trio Bingung” pun disaksikan oleh segelintir orang saja. Mengapa Trio Bingung? Begitulah mereka menamakannya. Karena mungkin seperti sebagian besar orang yang datang, saat itu susah untuk menghindari kebingungan bagaimana bisa musik klasik dan musik country disilangkan. Trio Bingung membawakan pembukaan dari Allegro Eine Kleine Nachtmusic karya Mozart, dilanjutkan dengan beberapa potongan tema dari lagu-lagu country. Menarik, meriah, dan mencairkan untuk sebuah penampilan pembuka. Sayangnya, peserta baru memenuhi ruangan kala waktu menunjukkan hampir pukul 19.00 atau ketika Pak Tono sudah memulai materinya.
Hari itu Pak Tono tak sendiri, ada Pak Japie, seorang pakar musik country yang sangat fasih. Ini jelas sebuah pertemuan yang menggoda peserta, ketika dua pakar di bidangnya dipertemukan, dan membicarakan semacam persilangan budaya. Maka yang menjadi musik ilustrasi memang datang dari kedua jenis musik tersebut. Ketika Pak Japie berbicara, country menjadi latar. Demikian halnya ketika Pak Tono membagi materi, musik klasik yang menemani. Yang menarik, memang, ternyata Pak Tono sukses menyadarkan bahwa musik country punya akar yang sama dengan musik klasik, yakni musik renaissans. Pak Tono pun tak luput menyuguhkan contoh musiknya. Musik renaissans tersebut kemudian mengembangkan dirinya di Irlandia, dan demikianlah yang menjadi akar kuat bagi musik country yang dibawa oleh para imigran ke Amerika. Acara bertambah meriah kala WCC kedatangan seorang tamu tak diduga, yakni penyanyi country nan cantik jelita, Beybee Astheria. Beybee pun oleh pembawa acara Grace Pietersz didaulat untuk tampil dan bermain langsung bersama Trio Bingung, jadilah peserta bersorak sorai, suasana semakin cair.

Beberapa Catatan Subjektif

Ide untuk mengangkat tema cross-culture adalah ide yang jarang dan berani. Ini tentu saja tak mudah, karena nantinya yang hadir berasal dari para penggemar kubu tersebut. Setiap penggemar, tentunya, punya tingkat fanatisme yang berbeda-beda. Adalah menyenangkan jika fanatisme yang dibawa masih punya nilai toleransi yang besar terhadap sesama. Namun berbahaya juga jika fanatisme tersebut terfokus pada nilai-nilai milik sendiri, sedangkan yang lainnya dianggap benar-benar sebagai “yang lain”. Panitia, pembicara, atau siapapun fasilitator yang berada di tengah-tengah acara cross-culture, mestilah mengemban tugas berat untuk “mendamaikan” kedua kubu agar sama-sama mencapai satu titik toleransi yang memang dapat dipahami bersama, bahwa benar, kedua kultur tersebut punya banyak kesamaan yang positif.
Musik klasik pada dasarnya punya basis yang cukup untuk menjadikan dirinya sebagai landasan bagi banyak budaya-budaya musik di seluruh dunia, khususnya Barat. Hingga sekarang, musik klasik belum terdengar akan mati, dan masih menyebarkan pengaruhnya. Ini mengapa, ketika mendengar musik klasik akan bersilangan dengan musik country, terasa tak terlalu aneh bahwa ujung-ujungnya tentu saja musik klasik akan punya andil akan kelahiran musik country. Ini juga berlaku jika kelak ada acara cross culture Classic-Jazz, Classic-Pop, Classic-Rock, Classic-Reggae, dan sebagainya. Namun ini belum mampu dibilang “cross”, jika musik yang lain-lain itu belum menyumbangkan apa-apa bagi musik klasik.
Ya, dalam WCC tersebut, terlalu sering musik klasik diposisikan sebagai pemberi andil terhadap musik country. Tapi sumbangsih country untuk musik klasik, belumlah jelas. Barangkali musik klasik memang sudah terlampau baku, sehingga sulit untuk dipengaruhi lagi. Tapi tidakkah ada banyak faktor dalam musik klasik, yang bisa dibenahi disamping musik itu sendiri? Seperti performansi, protokol, cara mengapresiasi, dan sebagainya. Yang mana musik country, boleh diakui boleh tidak, punya beberapa kelebihan dibanding musik klasik yang kerapkali punya stereotip kaku dan menegangkan.
Lainnya, kedua pembicara yang hadir malam itu, jika boleh dibilang, adalah sesama penganut aliran konservatif di bidangnya. Pak Tono adalah salah satu musikolog kondang di Bandung, yang amat ketat dalam batas-batas musik klasik. Sedangkan Pak Japie terasa sekali fanatismenya di musik country, ketika menyinggung Beybee yang sekarang sudah mulai memasuki dunia pop. Pak Japie menegaskan, bahwa Beybee mesti mempertahankan nilai-nilai country. Kondisi ini membawa para hadirin pada situasi yang serba kontras. Kala Pak Japie yang berbicara, nilai-nilai country yang diusung. Demikian halnya kala Pak Tono yang memaparkan, meski sebenarnya tingkat toleransi Pak Tono masih terasa lebih baik. Walhasil, hal tersebut menjadikan WCC kedua ini sebagai acara country. Keklasikan yang digadang-gadang Walagri tak mendapati dirinya muncul di permukaan. Ini jelas merupakan bentuk toleransi yang besar dari Pak Tono, tapi tidak dari Pak Japie.

1 comment:

Sastra Jingga said...

saya suka konsep-konsep perubahan. walupun jangan melepas dari pengajaran etika dalam berestetika. saya suka dengan konsep-konsep keksperimen selagi tidak menyakitkan telinga. slam buat pemusik indonesia yang ikit serta membangun bangsnya lewat musik. bravo musik indonesia.

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.