Thursday, March 26, 2009

Latihan RGB (Ririungan Gitar Bandung) -lagi-

Latihan RGB berikutnya akan berlangsung tanggal 12 April pukul 13.00 di Tobucil, Jl. Aceh 56. Mohon maaf karena kesalahan teknis, partitur Moliendo Cafe tidak bisa diupload di blog ini. Untuk yang belum dapat, bisa diambil langsung aja ke Tobucil.
Sebagai info tambahan, partitur berikut ini (Canon in D) wajib diupload untuk bahan bahasan RGB berikutnya. Jadi tanggal 12 April nanti gambaran programnya sebagai berikut:
- Latihan Moliendo Cafe sampai tamat
- Pembagian gitar untuk Cannon in D

Terima kasih

Bach Bless You

Sunday, March 22, 2009

Gathering WCC kedua: Cross Culture Classic-Country

Aula RS Santo Borromeus, 19 Maret 2009

Dengan konsisten, Walagri Classical Club (WCC) kembali diselenggarakan dengan tema yang cukup unik, yakni: Cross Culture Classic-Country. Acara persembahan radio kesehatan Walagri ini seperti sebelum sebelumnya, selalu mengedepankan tema kesehatan dan pendidikan. Tema kesehatan terlihat dari slogan besarnya yaitu Be Healthy With Musical World. Sedangkan tema pendidikan terasa dari bobot yang diberikan oleh Pak Tono Rachmad, pembicara langganan Walagri yang memang statusnya merupakan seorang pendidik di UPI. Menilik judulnya, tampaknya WCC kali ini punya unsur kultural juga, yang pastinya akan semakin melengkapi misi mulia Walagri.
Dijadwalkan mulai pukul 18.00, acara ternyata berlangsung pukul 18.30. Hal ini sebenarnya cukup wajar, mengingat jam 18.00 bukanlah waktu yang populer di masyarakat kita yang mayoritas beragama Islam. Jam 18.00 bertepatan dengan waktu shalat maghrib, dan biasanya orang baru akan bersiap setelah itu. Walhasil, kendati dimulai jam 18.30, orang belum banyak yang datang. Pembukaan acara oleh musik country yang dibawakan oleh “Trio Bingung” pun disaksikan oleh segelintir orang saja. Mengapa Trio Bingung? Begitulah mereka menamakannya. Karena mungkin seperti sebagian besar orang yang datang, saat itu susah untuk menghindari kebingungan bagaimana bisa musik klasik dan musik country disilangkan. Trio Bingung membawakan pembukaan dari Allegro Eine Kleine Nachtmusic karya Mozart, dilanjutkan dengan beberapa potongan tema dari lagu-lagu country. Menarik, meriah, dan mencairkan untuk sebuah penampilan pembuka. Sayangnya, peserta baru memenuhi ruangan kala waktu menunjukkan hampir pukul 19.00 atau ketika Pak Tono sudah memulai materinya.
Hari itu Pak Tono tak sendiri, ada Pak Japie, seorang pakar musik country yang sangat fasih. Ini jelas sebuah pertemuan yang menggoda peserta, ketika dua pakar di bidangnya dipertemukan, dan membicarakan semacam persilangan budaya. Maka yang menjadi musik ilustrasi memang datang dari kedua jenis musik tersebut. Ketika Pak Japie berbicara, country menjadi latar. Demikian halnya ketika Pak Tono membagi materi, musik klasik yang menemani. Yang menarik, memang, ternyata Pak Tono sukses menyadarkan bahwa musik country punya akar yang sama dengan musik klasik, yakni musik renaissans. Pak Tono pun tak luput menyuguhkan contoh musiknya. Musik renaissans tersebut kemudian mengembangkan dirinya di Irlandia, dan demikianlah yang menjadi akar kuat bagi musik country yang dibawa oleh para imigran ke Amerika. Acara bertambah meriah kala WCC kedatangan seorang tamu tak diduga, yakni penyanyi country nan cantik jelita, Beybee Astheria. Beybee pun oleh pembawa acara Grace Pietersz didaulat untuk tampil dan bermain langsung bersama Trio Bingung, jadilah peserta bersorak sorai, suasana semakin cair.

Beberapa Catatan Subjektif

Ide untuk mengangkat tema cross-culture adalah ide yang jarang dan berani. Ini tentu saja tak mudah, karena nantinya yang hadir berasal dari para penggemar kubu tersebut. Setiap penggemar, tentunya, punya tingkat fanatisme yang berbeda-beda. Adalah menyenangkan jika fanatisme yang dibawa masih punya nilai toleransi yang besar terhadap sesama. Namun berbahaya juga jika fanatisme tersebut terfokus pada nilai-nilai milik sendiri, sedangkan yang lainnya dianggap benar-benar sebagai “yang lain”. Panitia, pembicara, atau siapapun fasilitator yang berada di tengah-tengah acara cross-culture, mestilah mengemban tugas berat untuk “mendamaikan” kedua kubu agar sama-sama mencapai satu titik toleransi yang memang dapat dipahami bersama, bahwa benar, kedua kultur tersebut punya banyak kesamaan yang positif.
Musik klasik pada dasarnya punya basis yang cukup untuk menjadikan dirinya sebagai landasan bagi banyak budaya-budaya musik di seluruh dunia, khususnya Barat. Hingga sekarang, musik klasik belum terdengar akan mati, dan masih menyebarkan pengaruhnya. Ini mengapa, ketika mendengar musik klasik akan bersilangan dengan musik country, terasa tak terlalu aneh bahwa ujung-ujungnya tentu saja musik klasik akan punya andil akan kelahiran musik country. Ini juga berlaku jika kelak ada acara cross culture Classic-Jazz, Classic-Pop, Classic-Rock, Classic-Reggae, dan sebagainya. Namun ini belum mampu dibilang “cross”, jika musik yang lain-lain itu belum menyumbangkan apa-apa bagi musik klasik.
Ya, dalam WCC tersebut, terlalu sering musik klasik diposisikan sebagai pemberi andil terhadap musik country. Tapi sumbangsih country untuk musik klasik, belumlah jelas. Barangkali musik klasik memang sudah terlampau baku, sehingga sulit untuk dipengaruhi lagi. Tapi tidakkah ada banyak faktor dalam musik klasik, yang bisa dibenahi disamping musik itu sendiri? Seperti performansi, protokol, cara mengapresiasi, dan sebagainya. Yang mana musik country, boleh diakui boleh tidak, punya beberapa kelebihan dibanding musik klasik yang kerapkali punya stereotip kaku dan menegangkan.
Lainnya, kedua pembicara yang hadir malam itu, jika boleh dibilang, adalah sesama penganut aliran konservatif di bidangnya. Pak Tono adalah salah satu musikolog kondang di Bandung, yang amat ketat dalam batas-batas musik klasik. Sedangkan Pak Japie terasa sekali fanatismenya di musik country, ketika menyinggung Beybee yang sekarang sudah mulai memasuki dunia pop. Pak Japie menegaskan, bahwa Beybee mesti mempertahankan nilai-nilai country. Kondisi ini membawa para hadirin pada situasi yang serba kontras. Kala Pak Japie yang berbicara, nilai-nilai country yang diusung. Demikian halnya kala Pak Tono yang memaparkan, meski sebenarnya tingkat toleransi Pak Tono masih terasa lebih baik. Walhasil, hal tersebut menjadikan WCC kedua ini sebagai acara country. Keklasikan yang digadang-gadang Walagri tak mendapati dirinya muncul di permukaan. Ini jelas merupakan bentuk toleransi yang besar dari Pak Tono, tapi tidak dari Pak Japie.

Selamat Berbahagia, Kang!


Subang, 7 Maret 2009

Sejak awal mula klab dimulai sekitar tiga tahun lalu, Sutrisna sudah rajin menghadiri. Bagi kami, keberadaannya cukup mengherankan. Sutrisna tak pernah berkata apa-apa, hanya diam di sudut ruangan, dan sesekali tertawa bersama jika diantara kami ada yang melontarkan candaan. Setelah dikorek dan digali dengan susah payah, barulah kami tahu bahwa ia adalah orang Subang yang tengah mencari pencerahan. Sulit dipercaya bahwa klab kami yang kegiatannya ngalor ngidul ini dianggapnya sebagai tempat yang mungkin mencerahkan. Tapi kegiatan pencariannya ternyata bukan main-main, ia memang sengaja datang dari Subang, mengikuti acara klab selama dua atau tiga jam, lantas pulang lagi, semuanya dengan kendaraan umum! Ini jelas nonsens buat sebagian besar orang dari kami.
Namun entah bagaimana, namun kami tak yakin bahwa kamilah penyebabnya, bahwa pencerahan itu terasa bagi kami yang sering bersamanya. Sutrisna yang tadinya pendiam, sekarang jadi ceria dan malah cerewet =). Ia semakin aktif dalam kegiatan kami, dan tak pernah berhenti memberikan sumbangsih tenaga serta pikiran. Bahkan ia ditunjuk secara aklamasi sebagai ketua Ririungan Gitar Bandung (RGB) Ini jelas kontras kala ia masih rajin bergumul sendirian di sudut ruangan. Selidik punya selidik, Sutrisna memang sempat punya persoalan yang sangat pribadi, yang membuatnya sering minder dan sulit bergaul. Tak etis tentunya jika persoalannya dipaparkan di blog ini, tapi setidaknya kekontrasan yang kami lihat hingga hari ini, terasa sekali merupakan efek dari keterlepasan dirinya dari beban hidup yang sudah lama ia tanggung.
Akhirnya, kabar yang mengharukan bagi kami pun tiba: Sutrisna akan menikah. Sesuatu yang ia deskripsikan sebagai ”tidak terpikir sedikit pun oleh saya untuk sampai pada fase ini”. Kalimat tersebut tidak muncul dari pesimisme yang sembarangan, tapi serius dan mendalam. Maka ketika kami mendapati undangan warna pink itu, tak ada sedikit pun keraguan untuk datang, biarpun undangan nun jauh di Subang. Izinkan kami menyapamu, kawan, saudara, atau apapun nama-nama yang menunjukkan kedekatan, karena kami ingin sekedar merangkum seserpih kebahagiaan yang kau rasakan. Selamat berbahagia, Kang! Selamat menempuh hidup baru! Selamat menempuh “sesuatu yang tak terpikirkan sebelumnya”, itulah misteri hidup!

Antara Menikmati Musik, Merajut Bangku, dan Mendengarkan Gemuruh Hujan


-Tobucil, 22 Februari 2009-

Hari Minggu itu ada yang lain di Tobucil. Jika biasanya kelompok rajut asuhan Mba Upi adem ayem menjalin benang hingga matahari terbenam, kali ini mereka mesti merasa tidak nyaman oleh kegiatan merajut yang lain. Ya, menjelang jam tiga sore, Tobuciler beserta Mas Wiku, Chris, Aka, dan Mas Yunus, jadi pria-pria yang merajut seperti halnya liputan Trans TV minggu sebelumnya. Namun yang dirajut bukanlah benang, melainkan deretan kursi panjang yang akrab menyesaki beranda Tobucil. Ibarat gulungan benang, dari tadinya kusut kala diurai, rajutan kemudian membentuknya menjadi rapi berpola membentuk sesuatu. Tepat jam tiga, kursi-kursi panjang Tobucil menjadi pola yang belum pernah ada sebelumnya. Maklum saja, yang kelak menduduki para bangku itu juga belum seberapa akrab dengan gaya Tobucil. Tobuciler dan kawan-kawan pun sempat deg-degan.

Lalu datanglah satu per satu anak-anak seusia SMP. Tiga, empat, sepuluh, dua belas. Sekonyong-konyong Tobucil jadi dipenuhi anak-anak berbaju biru muda. Uniknya lagi, mereka semua membawa biola. Lantas ada yang sempat bertanya, Tobuciler lupa namanya, ”Kita maen dimana, Kak?” Tobuciler hanya menunjuk deretan bangku berpola tadi, dan menjawab singkat, ”Disini.” Ekspresi mereka pun beragam. Ada yang tampak adem-adem saja, tapi ada juga yang kaget, ”Loh kok konser kayak gini?”

Demikianlah, adik-adik. Tobucil jelas bukanlah gedung konser yang kalian bayangkan. Tempatnya mungil, kursinya tak empuk, duduknya berjejalan, ruangannya tak berpendingin, terbuka pula. Tapi tak ada salahnya dicoba sejenak.

Minggu itu adalah debut dari acara Musik Sore Tobucil (MST) yang rencananya akan digelar dua bulan sekali. Acara perdana itu diisi oleh empat grup, yaitu Fun-tastic String Ensemble (FSE), KlabKlassik String Trio, Baby Eats Crackers, dan Jack and Sally. Meski di bawah naungan KlabKlassik, tapi pengisi acara MST tak melulu menampilkan klasik. Contohnya dua grup yang disebut terakhir, memainkan musik masa kini yang pastinya tak masuk dalam kategori Renaissans hingga Romantik.

Seyogianya yang tampil sebagai pembuka adalah anak-anak berbaju biru muda yang dinamakan FSE tadi. Tapi berhubung ada keterlambatan salah seorang personel, KlabKlassik String Trio didaulat tampil duluan. Dua lagu awal terdengar biasa-biasa saja. Namun memasuki lagu ketiga, hawa ke-Tobucil-an mendadak terasa. Lagu berjudul Canon in D karya Johann Pachelbel tiba-tiba direspons oleh anak-anak FSE yang berjumlah lima belas itu menjadi semacam aransemen orkestrasi yang cukup menarik. Tobuciler sampai merinding mendengarnya. Tak hanya karena kemegahan suasana orkes yang jarang terjadi di tempat semungil Tobucil, tapi juga merinding oleh interaksi spontan yang membuat Tobuciler merenung: mungkinkah dialog penampil dan penonton secair ini bisa terjadi di gedung konser? Karena jelas, sebelum terjadi interaksi itu, KlabKlassik String Trio berperan sebagai penampil, dan FSE hanya duduk-duduk menikmati.

Selesai itu giliran FSE yang benar-benar jadi penampil. Penonton yang hadir cukup banyak untuk sebuah acara debut yang terganggu hujan yang kadang reda kadang deras. Suasana orkestrasi yang megah disertai keluguan para personelnya menjadi kombinasi hiburan yang sukses mendukung apresiasi terhadap empat lagu yang dibawakan mereka. Setelah FSE selesai tampil, hujan yang tadinya rintik-rintik mendadak deras. Membuat dua penampil terakhir harus mengeraskan volume vokal dan instrumennya agar mampu didengar para pengunjung. Baby Eats Crackers tampil manis dengan lagu-lagu yang dinyanyikan dengan format storytelling. Lalu Jack and Sally menutup MST dengan penampilan hangat yang membuat hawa dingin dari hujan deras tak mampu mencapai Tobucil. Meski keduanya berjuang keras agar mampu mengimbangi suara hujan, tapi sepertinya penonton tak masalah. Ditemani kopi dan kebersamaan, telinga mereka terlihat nyaman dengan jalinan musik yang riuh dan harmonis. Bagaimanapun juga, bunyi hujan adalah musik tersendiri. Mereka punya harmoni, juga ritmik. Maka jika harus menempatkan dimana posisi Baby Eats Crackers dan Jack and Sally, maka mereka adalah melodinya. Melodi, harmoni, ritmik: jadilah musik. Sampai bertemu di MST selanjutnya!

Akhirnya di-Up Date juga

Setelah lebih dari satu bulan tercampakkan, blog ini akhirnya mendapat sentuhan. Alasan tentu ada, tapi permintaan maaf lebih dulu kami kemukakan. Blog ini tidak di-update karena alasan yang mungkin patut diterima tapi mungkin juga tidak. Yang mungkin patut diterimanya adalah kenyataan bahwa di Bandung belakangan ini minim even musik klasik, sehingga kami kekurangan bahan untuk memperbaharui tulisan. Tapi sebenarnya jika kami lebih kreatif, harusnya hal tersebut bukan menjadi alasan utama untuk tidak memunculkan berita. Sayangnya, ternyata, memang kami kurang kreatif. Tak dapat dipungkiri bahwa basis komunitas mempunyai kekuatan dalam kohesivitas sesama. Tapi di sisi lain, kelemahan komunitas adalah kenyataan bahwa ketiadaan pengikat formal membuat masing-masing anggotanya bergerak sesuai kesadaran. Lantas, jika kesadaran tidak sedang timbul, maka komunitas itu sendiri otomatis melemah. Dengan jujur, kami mengakui, bahwa ketiadaperbaharuan blog ini diakibatkan oleh kesadaran yang sedang minim dari updaters. Dengan sepenuh hati kami minta maaf, dan berharap bisa mengupdate blog ini sesuai janji kami dahulu: setiap Senin. Jikalau ada ketidaksadaran lagi seperti sebelumnya, maka sudah selayaknya kami memikirkan solusi alternatif agar blog tetap dapat dinikmati. Viva la Musica!

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.