Sunday, January 11, 2009

Misteri Kehebatan Paganini


Niccoló Paganini adalah virtuoso violin yang hebat tidak hanya pada jamannya saja, teknik dan kemampuannya masih relevan hingga sekarang. Begitu menawannya permainan Paganini, hingga masyarakat pada jamannya berspekulasi mengenai keterkaitan Paganini dengan iblis. Rumor ini didasari oleh banyak hal, diantaranya kebiasaan Paganini yang selalu tampil di konser dengan mengenakan baju hitam. Sebelumnya, ia datang dengan kereta kuda dimana baik kereta maupun kudanya berwarna hitam pula. Penampilan Paganini semakin mengerikan dengan rambutnya yang hitam panjang, tampangnya yang pucat dan gigi-giginya yang tanggal di tahun 1828.
Paganini yang kemudian dijuluki Hexensohn atau Anak Penyihir itu juga memiliki teknik diluar jangkauan manusia normal. Pernah dalam suatu konser, tiga senarnya yang paling atas putus dan menyisakan hanya senar G, namun Paganini tetap mampu memainkannya secara gemilang. Momen lainnya, yaitu ketika Paganini ditantang “duel” oleh Lafont, violinis asal Prancis. Lafont yang juga cukup terkenal, kala itu menawarkan diri untuk ikut konser bersama Paganini. Penonton yang memprediksikan pertemuan keduanya akan berlangsung alot dan menarik ternyata salah. Paganini “menang mudah” dengan improvisasi yang mencapai tiga hingga enam oktaf. Dalam kesempatan lain di sebuah konser di Paris (1832), Paganini mampu memainkan sebuah sonata dengan 12 not per detik! Hal yang sulit dibayangkan bahkan hingga kini.
Paganini juga memiliki aura yang aneh, membuat penonton tercengang luar biasa kala menyaksikan dia tampil. Aura tersebut tidak hanya datang dari kemampuan “ajaib”nya, melainkan ada “sesuatu” yang sulit dipahami. Sebuah kesaksian menyatakan, "It was more than technical wizardry that attracted the masses: there was a demonic quality as well as an enticing poetry in his playing". "It was a heavenly and diabolical enthusiasm, I have never seen or heard its like in my life," menurut kesaksian lainnya.
Menjelang kematiannya, Paganini bahkan menolak melakukan sakramen terakhir, yang berbuntut pada jasadnya yang tidak dikuburkan. Jasad tersebut akhirnya dikubur atas desakan pihak keluarganya setelah lima tahun tersimpan. Isu yang beredar ada dua versi, Paganini menolak sakramen karena ia tidak percaya akan mati, satu lagi karena Paganini tidak mempercayai Tuhan.
Rumor bahwa Paganini telah menjual jiwanya pada iblis untuk ditukar dengan kemampuan bermain violin tersebut memang masih diperdebatkan hingga sekarang. Namun di luar segala kejanggalan tersebut, Paganini tetap merupakan legenda yang memberikan sumbangsih luar biasa bagi dunia violin.

No comments:

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.