Monday, December 21, 2009

Testimonial untuk Ulang Tahun Keempat KlabKlassik

Kemarin, ya kemarin, hari Minggu siang yang panas itu, Tobuciler dan KlabKlassik berkumpul merayakan hari jadinya yang keempat. Maka itu dibagikan semacam kertas, untuk diisi testimoni yang ditujukan bagi KlabKlassik. Berikut pengakuannya:

Yunus Suhendar: Mau menginjak usia lima tahun, KlabKlassik harus semakin matang, seperti mangga atau buah-buahan lainnya. Pasti enak rasanya kalau lebih matang, semoga KlabKlassik semakin jaya.



Nyimas Ina Winangsih: Disini ga kumpul terus main aja, tapi belajar juga. Gak cuma musik, tapi belajar yang lain juga. Udah kayak keluarga. Kereeen. (Awas galau) Hehe :D



Tikno Guntoro: Mudah-mudahan bisa jadi wadah dan tempat yang nyaman bagi teman-teman yang haus dan butuh info tentang teori, lagu, dan hal-hal yang berkaitan dengan musik klasik. Masukan tambahan:

· Eksplor musik lokal kalau bisa ditambah agar ada pembanding dan nuansa kedaerahan tidak dilupakan.

· Esensial bermusik ada tiga: wawasan, apresiasi dan diapresiasi. Mudah-mudahan KlabKlassik bisa jadi sarana dan jembatan buat orang-orang awam (selain mencerdaskan anggota KlabKlassik, moga-moga kita juga bisa mencerdaskan masyarakat umum).

· Jaga suasana kekeluargaan agar jadi tempat yang nyaman dan aman untuk berkumpul.

Afifa Ayu: Semoga KlabKlassik semakin maju dan established tapi tetap mempertahankan ciri-ciri KlabKlassik, misalnya galau (haha) dan kekeluargaan. Semoga tahun 2010 semua kegiatan KlabKlassik berhasil dengan sukses. Yeah! Loads of love for KlabKlassik

Royke Ng: KlabKlassik sudah lebih maju. Orang-orangnya gokil-gokil. Yang baru ikutan sebentar lagi jadi ikutan error gokil (siap-siap aja). Maju terus klab. Terus berkarya ke dalam dan ke luar.



Mohammad Ilham Akbar: KlabKlassik bikin aku makin seneng main musik. Pokoknya KlabKlassik harus tetep ada. Mudah-mudahan nanti KlabKlassik lebih dikenal masyarakat, dalam dan bahkan luar negeri.

Sutrisna: KlabKlassik sekarang lebih berwarna, lebih segar, suasana kekeluargaan dan persahabatan terasa semakin kental. Terutama munculnya orang-orang baru membuat Klab semakin lengkap, rasanya semua ada di KlabKlassik.

Bilawa Ade Respati: Makin variatif dan menyenangkan. Apresiasinyan juga meningkat. Banyak wajah baru yang segar, sehingga klab semakin berwawasan (naon deui). Sukses marilah kita selalu.

Azisa Noor: KlabKlassik itu kayak warung yang nyaman dan rame J Kayak keluarga ketemu gede, Maju Terus KlabKlassik!





Kelvin Simeone Kwee:
KlabKlassik kumpulan para galau’ers, keluarga baru dan komunitas galau. How lovely to join and wishing all the best.




Pirhot Nababan:
Tobat! Lembaga ke progresif revolusioner yang sering berbenturan dengan feodalisme dan konservatisme akut. Agen penyebar galau: galau progresif revolusioner.

Hendy Reinaldo: Mantap, orangnya pada jago-jago, baik-baik, kacau-kacau hahaha. Sering-sering kabarin kalo ada acara ya.

Tobucil & Klabs: Klab Klassik, berhasil membuktikan kekonsistenannya dalam berkomunitas (termasuk galau dengan konsisten.. :D) selamat ulang tahun ..

Minggu Siang di Kediaman Afifa, Azisa dan Ilham


Hari itu hari Minggu, dan KK mendapati undangan. Undangan yang sebenarnya dari KK juga. Undangan yang berisi soal makan-makan. Makan-makan yang merupakan syukuran atas konser Ririungan Gitar Bandung (RGB) yang berlangsung tepat sebulan lalu, yakni tanggal 20 November. Makan-makan yang, tidak cuma itu, tapi juga merupakan syukuran atas ulang tahun keempat KlabKlassik. Yang sebetulnya jatuh pada tanggal 9 Desember, tapi tak apa-apa kan dirayakan terlambat?

KK berkumpul, di kediaman Afifa, Azisa, dan Ilham. Maksudnya, mereka semua bersaudara, sehingga bukan artinya kami datang ke tiga rumah. Janjinya pukul sepuluh siang, tapi kebanyakan baru datang menjelang jam dua belas, termasuk KK sendiri. Disana ada seluruh anggota RGB kecuali Hin Hin yang tidak bisa hadir karena istrinya tengah mengandung di bulan kesembilan. Kang Trisna pun sama, tapi ia tetap hadir, entah karena dirinya adalah ketua dan pemrakarsa acara ini, atau memang sangat rindu berkumpul. Yang lainnya ada Mas Yunus, Mas Tikno, Ina, Royke, Iyok, Bilawa, Kelvin dan Kevin.

Di jam yang dinanti, yakni jam dua belas. Kami semua berkumpul, di hadapan meja yang penuh makanan. Alhamdulillah ada spaghetti, ayam goreng, asparagus, dan kentang goreng. Membuat KK sulit berkonsentrasi ketika memberi sambutan, ”Paling berat adalah memberi sambutan menjelang makan-makan, karena pasti diharapkan ingin cepat selesai. Jadi kita langsung berdoa aja ya.” Demikian kami berdoa, dan setelah itu kami makan.

Setelah makan, diadakan semacam rapat, mengenai agenda klab tahun 2010. Diskusi berlangsung renyah penuh tawa, sama sekali tidak serius. Akhirnya diputuskan, bahwa di tahun 2010, ada dua konser gitar dan satu konser biola. Sisanya? Kami mencoba memperbanyak diskusi-diskusi serta usulan baru: kunjungan ke saung angklung Mang Udjo untuk memperlebar apresiasi. Agenda 2010 tersebut menyiratkan bahwa klab siap untuk ”memperpanjang umur” dan tidak merasa cepat puas atas apa yang sudah dialami empat tahun ini. Ketika makan-makan dimulai, kami bersyukur bahwa klab ”sudah” empat tahun. Tapi kala rapat, mendadak semuanya dimaknai bahwa klab ”baru” menginjak empat tahun, sehingga amat penting untuk terus berkarya. Bach Memberkati.

Sunday, December 20, 2009

Ammy C. Kurniawan dan Persiapan Konsernya


Di Bandung yang tercinta ini, ada seorang violinis. Violinis handal yang jam terbangnya sangat tinggi. Banyak orang mengenalnya, tapi juga barangkali banyak yang tidak. Karena ia, Ammy C. Kurniawan, lebih sering menjadi penyokong dan tulang punggung bagi musisi lainnya. Ia sering jadi additional player band-band ternama semisal Nidji, Hijau Daun, Mocca, dan She, tapi tentunya banyak publik yang lebih fokus pada band-band tersebut ketimbang dirinya. Tapi jika tahu band di Bandung yang bernama 4 Peniti, pasti dengan mudah mengenalnya. Pemain biola yang atraktif, yang dengan memejamkan mata berlenggak-lenggok tubuhnya mengikuti sayatan melodi sang biola.
Tapi lagi-lagi, sebentar lagi, ia kembali jadi tulang punggung. Ia tak mau lagi dikenal, ia memilih di belakang dan menyokong yang lain untuk tampil. Sekarang adalah murid-muridnya sendiri. 23 Desember nanti, ia yang mendirikan semacam lembaga pendidikan biola independen bernama Ammy Alternative Strings, akan mengadakan konser berjudul Let’s Play Violin. Acara diselenggarakan di CCF hari rabu ini, pukul 19.30-21.00. Alhamdulillah, KlabKlassik ikut ambil bagian. Berikut petikan wawancara dengan Ammy C. Kurniawan.

Ceritakan singkat awal mula Kang Ammy belajar biola.

Mulai belajar biola dari kelas 5 SD, tapi ketika SMP malah lebih mendalami gitar, baru ketika memasuki bangku SMA mulai mendalami biola lagi.

Soal Alternative Strings. Memang ada gitu? Apa yang Kang Ammy ketahui tentang Alternative Strings?

Di Amerika dan Eropa belakangan ini, terdapat kurikulum musik baru yang tengah melanda generasi mudanya, yakni Alternative Strings. Walaupun metode pelajaran tetap bersumber pada musik klasik yang merupakan dasar, tetapi Alternative Strings sebagai kurikulum baru membuka wawasan kita bahwa biola tidak hanya terpaku pada musik klasik, tetapi ada juga non klasik seperti blues, jazz, folk, rock dan tradisional atau yang lebih dikenal dengan world music. Bermain biola tidak lagi berdasarkan pada satu jenis musik tetapi memainkan sebuah musik itu sendiri, yang menuntut seorang pemainnya untuk menciptakan teknik baru dengan materi yang sudah ada. Kepekaan berimprovisasilah yang pada akhirnya akan berbicara dalam bermusik atau bermain biola.

Kenapa Kang Ammy memutuskan untuk mendalami Alternative Strings? Padahal mungkin belum seberapa populer dibanding fungsi string yang kebanyakan untuk musik klasik.

Karena menurut saya, kalau bermain musik itu harus dengan hati dan jiwa, alternative strings sesuai dengan jiwa saya, dengan alternative string saya bisa mendapatkan kebebasan bermusik dan bereksplorasi dengan permainan biola saya. Selain itu saya lebih sering memainkan musik dengan gaya seperti itu dalam kehidupan sehari-hari saya, kalau saya tampil di acara-acara atau kegiatan musik pun saya lebih banyak menampilkan musik-musik alternative bukan klasik.

Kang Ammy, apa saja yang Kang Ammy lakukan untuk menyosialisasikan Alternative Strings ini? Apakah memang iya perlu disosialisasikan, atau bisa untuk konsumsi pribadi saja?

Salah satunya dengan mendirikan Ammy Alternative String, sebagai wadah komunitas untuk belajar dan berkumpul. Selain itu dengan mengadakan home concert juga, workshop dan memperbanyak perform.

Kang Ammy, sepertinya tidak sedikit yang mengira Alternative Strings ini sebagai ajaran "sesat" hehe karena dianggap melenceng jauh dari kaidah-kaidah musik klasik. Bagaimana Kang Ammy menanggapi ini?

Kalau menurut saya pada dasarnya semua jenis musik di dunia ini baik dan tidak ada yang sesat, tergantung bagaimana musisi itu sendiri membawakannya, selama musik yang dibawakannya tidak merugikan orang lain.

Oke, terakhir, tanggal 23 ini Kang Ammy akan mengadakan konser Let's Play Violin yang merupakan cara Kang Ammy menyosialisasikan Alternative Strings. Jelaskan pada kami, kenapa sedemikian penting untuk menyaksikan konser tersebut?

Karena konser ini bertujuan untuk membuka wawasan bermusik terutama biola, bahwa di alternative string itu bermain biola tidak dipilah-pilah dalam genre musik tetapi lebih mengkaji teknik bahasa musik pelakunya. Dengan nonton konser ini mudah-mudahan orang akan lebih tertarik lagi terhadap biola, karena ternyata dengan biola pun segala jenis musik bisa dimainkan. Yang penting kan membuat orang tertarik dulu, suka dulu sama biolanya, kalau sudah menyukai biola, akan terasa lebih mudah untuk mempelajarinya. Nanti juga dia bisa memilih sendiri jenis musik apa yang lebih dia sukai, tidak dibatasi hanya pada satu jenis musik saja.

Konser Ammy Alternative Strings: "Let's Play Violin!"


Rabu, 23 Desember 2009
Auditorium CCF, Jl. Purnawarman no. 32
Jam 19.30-21.00


Di Amerika dan Eropa belakangan ini, terdapat kurikulum musik baru yang tengah melanda generasi mudanya, yakni Alternative Strings. Walaupun metode pelajaran tetap bersumber pada musik klasik yang merupakan dasar, tetapi Alternative Strings sebagai kurikulum baru membuka wawasan kita bahwa biola tidak hanya terpaku pada musik klasik, tetapi ada juga non klasik seperti blues, jazz, folk, rock dan tradisional atau yang lebih dikenal dengan world music. Bermain biola tidak lagi berdasarkan pada satu jenis musik tetapi memainkan sebuah musik itu sendiri, yang menuntut seorang pemainnya untuk menciptakan teknik baru dengan materi yang sudah ada. Kepekaan berimprovisasilah yang pada akhirnya akan berbicara dalam bermusik atau bermain biola.

Musisi biola di Bandung, Ammy C. Kurniawan, merupakan salah satu musisi yang memperdalam Alternative Strings. Selain memperdalam, ia juga tengah berusaha mengembangkan kurikulum tersebut lewat lembaga pendidikan independen yang bernama: Ammy Alternative Strings, Ammy Alternative Strings merupakan tempat berkumpul dan belajar bagi siapapun yang tertarik pada alat musik string, khususnya biola. Harapannya adalah dapat menjadi suatu wadah pembinaan bagi para siswa dalam mempelajari biola.

Sebagai bentuk nyata upaya pengembangan dan pendalamannya, Ammy Alternative Strings menggelar sebuah konser yang bertajuk “Let’s Play Violin”. Konser tersebut nantinya menitikberatkan pada siswa yang tengah mempelajari biola dengan segala kesukaannya, keberaniannya dan kemampuan berbahasa musiknya serta pemahamannya dalam bermusik. Mereka belajar untuk mengetahui bagaimana proses latihan dan diharapkan juga untuk berani tampil di muka umum, berekspresi dan diapresiasi serta dapat mengapresiasi musik itu sendiri.

Pagelaran ini ditata dalam bentuk pertunjukan yang bersifat menghibur, sebagai ungkapan para siswa dalam mengekspresikan permainan biolanya dalam berbagai jenis musik. Mereka tampil diiringi oleh band yang terdiri dari para musisi profesional. Semoga pagelaran ini dapat menjadi ajang saling mengenal, menghargai dan bertukar informasi yang nantinya mendukung perkembangan potensi bermusik para siswa

Pengisi Acara:
Adita, Afifa, Alifia, Andani, Anggindita, Firas, Gillian, Hana, Ilham, Inggita, Izzati, Miranti, Pangestu, Tiara, Retno.
Ammy, Rudi, Ari.
Teddy A.B., Arif, Nissan, Jimmy, Heru.

Informasi Tiket (Rp. 10.000):
Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Telp. 022-4261548
Utet. 08122019152
Syarif. 0817212404
----

Pasca Konser RGB: Catatan Pengalaman Eksistensial

KK pernah tahu, beberapa atau bahkan banyak konser musik klasik yang skalanya lebih besar dari apa yang KK selenggarakan tanggal 20 November kemarin. Pasti banyak yang lebih besar dan luas, jika ukurannya dana, ukurannya jumlah penonton, ukurannya banyaknya pemain yang tampil, atau ukurannya gedung yang digunakan. Tapi jika ukurannya pemaknaan orang per orang, konser Ririungan Gitar Bandung (RGB) kemarin, bisa jadi terasa besar dan bermakna. Artinya, soal besar tidaknya, bukan melulu barometer-barometer fisikal seperti uang, gedung dan kuantitas pemain, tapi betapa, bagi setiap orang yang tampil disana, punya makna tersendiri yang barangkali sangat pribadi dan bisa jadi tak terpahami bagi orang lain. Ini yang Sartre sebut sebagai: pengalaman eksistensial. Tobuciler tak mungkin menanyai semua yang tampil, karena jumlahnya tiga puluh orang lebih. Maka itu diambil tiga, yakni Sutrisna, Yunus Suhendar, dan Nyimas Ina Winangsih.

Bagi Sutrisna alias Kang Trisna, pengalamannya di RGB ini adalah menyenangkan sekaligus menegangkan. “Saya sudah tiga kali konser, yang pertama di Indra Music, yang kedua juga. Yang pertama formatnya duo, yang kedua adalah trio. Yang ketiga ya RGB kemarin. Tapi yang penampilannya paling ternikmati oleh saya sendiri, ternyata yang terakhir. Selain itu, saya sangat berbahagia, karena seluruh kegiatan bisa terlaksana, padahal tadinya pesimis,” Demikian pengakuan pria menikah yang hobinya bertani dan mencangkul tersebut. Ia bahkan menambahkan, bahwa dipercayanya ia menjadi ketua RGB, bukanlah sesuatu yang pernah dibayangkan sebelumnya. Bahkan, yang ini kata KK, istri Kang Trisna sedang hamil menjelang bulan kesembilan. Yang artinya, dalam setiap latihan menjelang konser, Kang Trisna sering panik karena di sisi lain, istrinya bisa melahirkan kapan saja, dan ia mestilah jadi pria siaga. Pernah dalam suatu kesempatan latihan, ia pamit pulang duluan karena istrinya mual-mual. Jadilah ia pulang, menumpang Kelvin naik motor, dan memintanya ngebut. Karena apa? Karena Kang Trisna sayang istrinya, dan sayang anak yang dikandung oleh istrinya. Tidakkah jika demikian, konser RGB ini boleh dibilang bermakna baginya, karena pengorbanannya?


Sedangkan bagi Yunus Suhendar alias Yunus Muslimanto, beda lagi. Ini adalah kali kedua ia konser, tampil sendiri dalam suasana klasikal. Dulu pernah ia tampil di gereja di Sukajadi, namanya Gereja Kristen Oukumene. Ia main dua lagu, pertama Bouree karya Bach, kedua, ia main En Los Trigales karya Joaquin Rodrigo. Tapi katanya, ia jauh dari puas, bahkan cenderung malu dan kecewa. Tapi yang menarik, bagi KK, ia tak patah arang. Dan dibayar lunas dengan penampilan mengagumkan di konser RGB kemarin. Membawakan Galih dan Ratna yang diaransemen sendiri, ia tampil tenang dan mengundang decak kagum. Walaupun secara gestural memang terlihat malu-malu, tapi andai kau ada ketika awal ia dibujuk rayu untuk tampil di konser RGB. Yunus sangat malu-malu dan tadinya menolak keras untuk tampil. Tapi bujuk rayu KK barangkali juga tak kalah keras dan tak lupa terus memberikan dorongan dan kepercayaan, sehingga akhirnya Yunus mau, tanpa lupa juga diberi julukan Yunus Muslimanto, sebagai penghargaan kami atas kemampuan aransemennya yang menyamai Jubing Kristianto. Setelah ditanya, apakah Yunus mau tampil lagi? Ia jawab: ketagihan. Sesuatu yang melegakan buat KK, karena tidakkah keinginan untuk tampil dan mau diapresiasi, adalah bentuk kepercayaan diri seseorang untuk mau berada dalam zona tak nyaman? Itu hebat, dan mestilah dihargai.


Terakhir yang ditanyai adalah Nyimas Ina Winangsih alias Ina. Usianya empat belas, dan sedang duduk di bangku SMP, yakni SMPN 14. Baginya, ini justru debutnya. Ia, katanya, tak pernah betul-betul serius belajar gitar klasik. Pernah sebentar saja di Gelanggang Generasi Muda ia belajar, dan tak terbayangkan bisa tampil dalam sebuah konser. Yang mana dalam usia yang masih sangat muda. Yang bermakna baginya pula, katanya, ia sedang dalam proses membuat novel, judulnya “Tertawa Bersama Awan”. Ini, katanya, soal cewek yang kehilangan ayahnya, dan novel ini menceritakan soal perjalanan pencarian figur ayah. Novel tersebut belum selesai, dan ia masih belum tahu bagaimana akhirnya. Tapi yang pasti, ia mau memasukkan inspirasinya dari RGB. Yakni ketika Callista, si cewek itu, dalam rangka mengenang ayahnya yang gemar musik klasik, ia mau mengikuti komunitas musik klasik dan bermain gitar bersamanya. Tentunya, Insya Allah, akan sama-sama kita nantikan nantinya novelnya seperti apa.

Konser itu Datang Jua


Setelah dari Januari 2009 berlatih bersama, akhirnya Ririungan Gitar Bandung (RGB) bermain di konsernya yang pertama. Konser yang digelar dari RGB, oleh RGB, dan untuk RGB. Konser yang pada akhirnya diselenggarakan tanggal 20 November kemarin itu, berlangsung cukup, apa ya, KK sulit menjelaskan, karena KK merupakan penyelenggara. KK akan memaparkan dari sudut pandang persiapan panitia saja:

Konser tersebut cukup rumit, karena apa? Karena banyak sekali pengisi acara, yang juga merupakan orang-orang yang biasa menjadi panitia dalam acara-acara KK. Memang, awalnya, KK mengusulkan, bahwa acara ini mestilah menjadi semacam hadiah, untuk para aktivis klab yang sudah sering susah payah membuat orang lain senang. Orang lain disini, maksudnya, penonton dan pengisi acara. Demikianlah, saking para aktivis klab sudah beberapa kali memanitiai acara, terkadang mereka lupa, apakah mereka juga senang? Maka itu konser RGB ini dibuat, agar salah satunya, kami, para panitia, juga senang. Tapi ujungnya malah, pemain tidak konsentrasi karena mereka mesti juga mengurusi acara, dan sebaliknya.

RGB adalah, kau tahu, kelompok ensembel yang keanggotaannya dibuka untuk umum. Siapa saja boleh ikut, asal membayar biaya anggota sebesar 50.000 per tiga bulan dan bisa baca not balok. RGB ini cukup sering diberitakan di blog Tobucil kemarin-kemarin. Akhirnya diputuskan, bahwa konser RGB, tak cuma RGB yang main, tapi juga beberapa penampil dalam berbagai format. Seperti: Bernadette Yodia dan Yunus Suhendar (gitar solo), KlabKlassik String Trio dan Pirhot Elisa (gitar dan instrument lainnya), serta Royke D-K-K, ISO Divisi Gitar, dan Sebelas Duabelas Guitar Dup (ensembel gitar). Yang kemudian, kesemuanya itu ditutup oleh penampilan RGB dengan empat karya, yakni Canon dari G.Ph. Telemann, Canon in D dari Johann Pachelbel, Lagrima dari Francisco Tarrega, dan The Entertainer karya Scott Joplin. Yang disebut terakhir, dimainkan secara beramai-ramai, dengan seluruh pengisi acara.

Acara yang diberi judul Ririungan Gitar Bandung: Maen! itu, meski cukup rumit karena campuran panitia-pemain itu tadi, tapi Alhamdulillah, cukup memuaskan, setidaknya bagi kami sendiri. Bagi KK sendiri, yang dimaknai dari acara ini, bukan soal apakah acara tersebut diselenggarakan dalam lingkup kecil dan minim sponsor. Tapi lebih ke merupakan, bahwa ada makna yang berbeda bagi setiap pemain. Bagi Yunus Suhendar alias Mas Yunus misalnya. Baginya, ini penampilan debutnya solo di atas panggung, dan itu membangkitkan kepercayaan dirinya. Bahkan ia bersemangat untuk tampil terus pada kesempatan-kesempatan lainnya. Lalu bagi ketua RGB, Sutrisna, ini juga diakuinya sebagai pengalaman berharga, karena ia dipercaya sebagai ketua, dan berperan dalam hampir keseluruhan acara. Pengalaman berharga, mengingat ketika pertama kali ia datang ke klabklassik, KK sempat melihatnya tanpa kata, memojok, dan terasa ada keminderan dalam dirinya. Demikian, dan mungkin juga ada banyak makna yang tersirat dalam setiap penampil yang lain. Yang KK tidak tahu dan tidak perlu tahu. Tapi bukan berarti KK tak peduli, kau tahulah kenapa.


Monday, October 19, 2009

Bandung String Camp

Pada Januari 2010 mendatang, Classicorp Indonesia akan mengadakan Bandung String Camp, sebuah program pendidikan untuk meningkatkan kualitas permainan maupun pengajaran alat musik gesek (string) di Indonesia, terutama di kota Bandung.

Melihat pesatnya pertumbuhan peminat alat musik ini, Classicorp bermaksud membuka berbagai kesempatan bagi musisi-musisi muda maupun musisi amatir yang menekuni alat musik biola, biola alto, cello dan kontrabas untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan maupun kemampuan teknis mereka. Ini dilakukan dengan mengundang beberapa musisi yang kompeten dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia untuk membagikan ilmu yang mereka miliki.

Dilangsungkan selama 3 hari, program ini dibuka untuk instrumen biola, biola alto, cello dan musik kamar. Selain master class, dalam program ini akan juga diadakan lokakarya (workshop) dan program diskusi, sehingga program ini bisa diikuti tidak hanya oleh musisi tingkat tinggi, melainkan juga musisi-musisi pemula dan muda yang baru menekuni instrumen tersebut di atas. Untuk pilot project ini, Classicorp mengundang Brian Larson, anggota Malaysian Philhamornic Orchestra dan Leslie Tan, anggota T’ang Quartet yang ternama dan pengajar di Yong Siew Toh Conservatory, Singapura, untuk membagikan ilmu yang mereka miliki.



Informasi selengkapnya mengenai kegiatan ini dapat diakses melalui homepage Classicorp

Romeo dan Juliet: Opera Cinta nan Abadi


Romeo dan Juliet adalah opera dalam lima babak karya Charles Gounod. Diangkat dari karya sastra William Shakespeare. Penampilan pertama adalah di Theatre Lyrique, Paris, 27 April 1867.

Alkisah, di sebuah pesta topeng milik keluarga Capulet, Juliet mengekspresikan kegembiraannya hari itu dalam sebuah waltz berjudul Je veux vivre dans ce reve. Romeo, seorang anak dari keluarga Montague ikut pesta. Akibat keberadaan Romeo yang diketahui Tybalt, sepupu dari Juliet, Romeo pun diminta pergi. Larangannya tersebut tidak terlepas dari permusuhan keluarga Capulet dan Montague yang dianggap sudah bebuyutan.

Romeo dan Juliet pelan-pelan saling jatuh cinta. Di bawah jendela kamar Juliet, Romeo sering bernyanyi serenade berjudul Ah, leve-toi, soleil. Juliet menanggapi nyanyian tersebut, dan seringkali terpotong oleh panggilan dari perawatnya.

Karena dilarang oleh kedua orangtua masing-masing, mereka menikah secara rahasia di sel yang ditempati oleh Pendeta Laurence. Keadaan kemudian tidak serta bahagia setelah mereka menikah. Terjadi perang terbuka antara keluarga Capulet dan Montague, yang menyebabkan terlukanya kawan Romeo bernama Mercutio. Romeo membalas dendam dan berbuntut kematian Tybalt; yang membuat Romeo mesti diasingkan.

Sadar akan diasingkan, Romeo masuk ke kamar Juliet untuk mengucapkan perpisahan. Bersamaan dengan itu, Pendeta Laurence mengumumkan kabar menyedihkan: Sudah diatur pernikahan bagi Juliet di Paris, yang mana sang mempelai pria sudah ditentukan oleh sang ayah. Juliet tidak mau pernikahan itu terjadi, dan akhirnya meminum ramuan dari sang pendeta, agar ia mati suri. Pendeta sengaja memberikan ramuan itu, agar pernikahan batal dan Juliet bisa pergi bersama Romeo. Juliet "mati" di pelukan ayahnya, pernikahan tersebut pun seperti diduga, tidak terjadi.

Romeo yang mengetahui kabar kematian Juliet, mendatangi rumah duka dengan sangat sedih. Menyanyikan hymne untuk kecantikannya, berjudul Salut! tombeau sombre et silencieux. Karena tidak tahu bahwa kematian itu sementara, Romeo memutuskan untuk ikut mati dengan minum racun. Tak lama setelah Romeo meninggal, Juliet bangun dari mati surinya. Mendapati sang suami meninggal, Juliet ikut mati dengan menikam diri.



Sumber literatur: Ewen, David. The Home Book of Musical Knowledge. Prentice Hall, Inc. 1954. Hal 271-271.

Bentuk-Bentuk Dasar untuk Musik Instrumen (bagian 2)

Scherzo: Scherzo sangat familiar dalam bentuk orkestra, yang mana seringkali ia menjadi bagian ketiga. Scherzo juga sering dipakai sebagai salah satu gerakan dalam sonata. Dalam konteks ini, scherzo biasa diinterpretasikan sebagai lagu yang berkarakter ringan dan cepat. Ini kurang lebih sesuai dengan arti harfiahnya, yakni "candaan". Meski demikian, Chopin tidak mengacu pada definisi tersebut. Ia menulis empat scherzi untuk piano, dengan karakter yang kuat dan agung.

Tarantella:
Dansa yang sangat cepat, populer di Kota Naples, Italia Selatan. Biasanya dalam ketukan 3/8 atau 6/8. Tarantella yang terkenal adalah milik Chopin berjudul Tarantelle in A Flat Major; Annes de pelerinage karya Liszt; Song Without Words dari Mendelssohn; serta karya Rossini berjudul Peches de vieillesse.

Toccata:
Karya untuk organ atau piano, bergaya improvisasional dan karyanya menekankan pentingnya virtuositas sang pemain.
Awal mula dipakainya kata "toccata" ditemukan pada publikasi pada tahun 1508. Bagian prelude dalam karya Monteverdi yang berjudul Orfeo adalah toccata. Namun para kontrapungtis awal semacam Gabrielis dan Sweelinc yang pertama mengembangkan bentuk toccata, dan kemudian dikembangkan lagi secara lebih luas oleh para komposer organ semisal Frescobaldi, Froberger, Scheidt, dan Buztehude. Toccata kemudian mengalami puncaknya pada karya Johann Sebastian Bach. Yang paling terkenal adalah Toccata in D Minor yang menunjukkan kekuatan yang dramatis dan efek yang kuat. Toccata lain dari Bach adalah toccata di C mayor, yang terdiri dari tiga bagian: bagian pertama adalah toccata itu sendiri, bagian dua adalah bagian adagio yang pendek, dan ketiga adalah fugue yang agung.
Setelah periode Bach, ada beberapa toccata lagi yang terkenal, diantaranya karya Schumann untuk piano dan Ravel yang berjudul Le Tombeau de Couperin untuk piano.

Sunday, September 06, 2009

G dalam RGB: Gitar atau Galau?



Ririungan Gitar Bandung

Diambil dari www.tobucil.blogspot.com

Hari Minggu itu (30/8), rencananya ada acara buka bersama KlabKlassik (KK) di kediaman Syarif. Meski semua orang tahu acara buka bersama itu seyogianya di kala adzan maghrib, tapi anehnya yang ini berkumpul sejak pukul empat. Tidak aneh sebenarnya, jika tahu alasannya. Ya, ada latihan RGB dulu, alias Ririungan Gitar Bandung, yang mana merupakan proyek KK sejak Desember silam. Konser yang akan dibuat untuk RGB sudah dekat, yakni 20 November. Sudah saatnya ensembel gitar ini menunjukkan kemampuan gitarnya, alih-alih giginya. Di acara buka bersama itu, memang telah direncanakan, untuk menjadi penampilan perdana RGB.

Akhirnya, setelah latihan selama dua jam. Tiba juga waktu berbuka yang dinanti seluruh umat Islam di dunia. Acara buka bersama hari itu dihadiri cukup banyak orang. Ini cukup wajar, mengingat salah satu misi KK menggelarnya, adalah untuk syukuran. Syukuran karena tahun ini, KK bisa menyelenggarakan tiga kali resital, yakni D’Java String Quartet, Resital Tiga Gitar Plus Satu, dan Flute & Piano Recital. Soal bagus tidaknya, itu di luar perkara, yang penting terselenggara. Setelah pembacaan doa dan surat Al-Fatihah yang bukan dipimpin oleh Pirhot Nababan, acara makan dimulai. Dan apa artinya itu? Artinya, RGB sebentar lagi akan tampil.

Saat semua telah selesai makan, satu per satu penampil RGB naik ke kursi. Ada Royke, Alka, Yunus, Bilawa, Calvin, Hin-hin, Pirhot dan Ina. Tampilnya RGB di depan membuat penonton kosong melompong. Ini karena buruknya RGB? Bukan, tapi karena nyaris seluruh penonton adalah pemain RGB juga. Akhirnya, dibantu Afifa pada violin dan Azisa pada cello, dimainkanlah itu dua lagu. Yang pertama, berjudul Canon karya G.P. Telemann. Yang kedua, Canon juga, tapi karya Johann Pachelbel. Keduanya singkat, padat, namun penampilan perdana selalu berharga.

Berakhirnya penampilan RGB tidak membuat acara bubar. Dalam duduk-duduk silaturahmi yang hangat, terdapat gerakan separatis bernama RGB juga, kependekan dari Ririungan Galau Bandung. Mereka menampilkan karya-karya galau seperti Cavatina dari Stanley Myers dan Alhambra dari F. Tarrega. Dan di penghujung penampilan RGB yang ini, disajikan lagu-lagu kebangsaan semisal Tanah Airku dan ”lagu mengheningkan cipta” (maaf, Tobuciler lupa namanya, karena dulu selalu telat pas upacara). Ini cocok sekali dengan isu nasionalisme kita yang tengah diuji. RGB, yang manapun, hari itu bergembira ria, menapakkan kakinya yang pertama. Mari kita doakan agar sukses di konsernya.


Ririungan Galau Bandung

Sutrisna: Dedikasi dari Hati


Begini, sebenarnya maksud KlabKlassik (KK) adalah mewawancara Sutrisna, atau biasa KK panggil Kang Trisna. Tidak ada alasan KK untuk tidak mewawancarainya, apa lagi kalo bukan dedikasi tinggi Kang Trisna dan posisinya sebagai ketua RGB (Ririungan Gitar Bandung). Hanya saja, ketika pertanyaan-pertanyaan selesai diajukan via e-mail, -tidak seperti responden lain yang menjawab per pertanyaan- Kang Trisna memilih untuk menuliskannya secara narasi dalam paragraf. Tadinya KK bersikukuh untuk memecah paragraf ini kembali ke bentuk tanya jawab, tapi setelah melihat narasinya sudah baik, jadinya KK biarkan saja, dengan sedikit editan. Jadilah ini, Sutrisna, siapakah dia?

Saya lahir pada tanggal 5 September 1973. Saya mulai belajar gitar sekitar tahun 2000, telat memang, di usia 27 baru belajar :-). Kenapa memilih gitar? saya kesulitan kalau ditanya alasan memilih gitar, ada banyak pernyataan yang bisa dicari cari, misalnya karena bentuknya sexy mirip body perempuan dan karena praktis bisa dibawa kemana-mana. Saya juga bisa tuliskan alasan-alasan lainnya tapi alasan sebenarnya sy sendiri tak tahu, sudah takdir, itu mungkin jawaban yang paling tepat: Tuhan menakdirkan sy untuk memilih gitar daripada alat musik lain.

Perkenalan dengan KK, dimulai dari menghadiri pertemuan-pertemuan KlabJazz. Dari situ saya mengetahui adanya KK, yang mana setelah saya mencoba menclok, ternyata atmosfer KK membuat saya betah. Diskusi-diskusi dan seminar yang diadakan KK membuat pengetahuan saya tentang musik klasik menjadi bertambah. Sy bahkan merasa KK tuh seperti perpustakaan; buku-buku, partitur-partitur, juga CD musik atau DVD yang teman-teman punya membuat saya kagum. Terimakasih teman-teman, karena mau meminjamkan itu semua, kalian baik, he he...

Menurut saya keberadaan KK itu penting, ada pandangan yang beredar di masyarakat, bahwa musik klasik itu musik kuno, berat, kaku dan susah dinikmati. Di sinilah peran KK, merubah pandangan-pandangan seperti itu. Siapapun bisa bermain, mengapresiasi dan menikmati menikmati musik ini. Selain itu KK juga bisa juga menjadi tempat belajar, tempat belajar yang bebas, tidak dibatasi oleh aturan-aturan. KK bisa dimana saja, cuma kebetulan sekarang bermarkas di tobucil, tapi sebenarnya kegiatan KK bisa dimana saja semua bisa gabung tanpa dipungut biaya, gratis, he he... Buat saya KK adalah pemberontak, :-).

Perasaan jadi ketua RGB?, awalnya tidak percaya, kenapa teman-teman lain mempercayakan pada saya, mungkin karena usia saya paling tua dibanding teman-teman lain, he he..., tapi apapun alasan teman-teman untuk memilih, saya ucapkan trimakasih tak terhingga, buat kepercayaan dan dukungannya.

Harapan
, semoga RGB menjadi tempat yang mempersatukan gitaris-gitaris klasik (atau yang bukan pemain, tapi menyukai gitar klasik) yang ada di Bandung, tanpa menutup kemungkinan dari daerah lain, (saya juga dari subang, he he..) kita hargai perbedaan, biarlah perbedaan menjadi indah, seperti pelangi yang disusun dari banyak warna berbeda, seperti sebuah komposisi lagu, disusun dari not-not/bunyi bunyi berbeda yang menghasilkan harmoni. Perbedaan usia dan kemampuan teknis permainan bukan halangan untuk kita main bersama di RGB, tak ada yang lebih hebat, lebih penting, semua saling membutuhkan, saling mengisi.
Satu dari sekian banyak keinginan saya adalah ingin menulis, mendokumentasikan perihal semua yang ada hubungannya dengan musik, mungkin itu bisa berguna buat yang membutuhkannya. Saya nikmati dan hayati hidup ini, hidup yang membawa ke wilayah-wilayah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Tak pernah terbayangkan sebelumnya saya bermain gitar, butuh awalnya saya kesulitan dan pernah terbersit untuk berhenti belajar karena lelah akan pencapaian yang didapat, sedikit demi sedikit saya belajar, memperbaiki diri, karena jika memainkan alat musik dengan baik, maka kita harus memperbaiki diri kita dulu, jiwa dan raga kita. Mungkin usaha yg saya lakukan harus lebih keras dan butuh waktu lebih lama jika dibanding orang lain, tapi pengalaman membuktikan bahwa usaha, kerja keras dan kesabaran bisa menghantarkan pada apa yang kita tuju/ingin dicapai.

Hidup sudah mempertemukan saya dengan KK, terima kasih buat semuanya. Terimakasih juga buat orang-orang yang pernah mengajari sy bermain gitar, terutama untuk Om Venche Manuhutu dan Bilawa Ade Respati, trimakasih untuk kesabarannya, :-)
Hatur nuhun

Friday, September 04, 2009

Modest Mussorgsky: "Lima Besar Rusia" itu Nyaris jadi Tentara


Modest Mussorgsky lahir di Karevo, 21 Maret 1839. Anak dari pemilik tanah yang berada, Mussorgsky dididik musik sejak masa kecilnya. Meski demikian, ia juga meniti karir di kemiliteran. Hingga akhirnya pada tahun 1857, ia bertemu komposer Rusia, Dargomijsky, yang mana kejadian tersebut menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Lewat Dargomijsky, Mussorgsky bertemu Balakirev dan Borodin, yang semakin menguarkan kecintaannya akan musik. Pada tahun 1858, ia memutuskan untuk keluar dari kemiliteran dan fokus pada musik. Kebanyakan ia belajar sendiri dalam hal musik, lebih dipandu oleh insting ketimbang pelajaran-pelajaran teknis. Secara mayor, Mussorgsky bermain piano.
Pada tahun 1861, Rusia mengalami satu gejolak, yang mana membuat para pemilik tanah sulit mendapat tempat. Keluarga Mussorgsky kena imbasnya, ia terpaksa kerja pada pemerintah karena mendadak jatuh miskin, hal yang sebenarnya tidak disukainya, tapi mesti dilakukannya hingga akhir hayat.
Karir Mussorgsky berkembang terus, hingga hingga bersama Balakirev dan Borodin, dengan idealisme nasionalisnya, mereka mendirikan ”The Russian Five”. Selain ketiga itu, yang termasuk diantaranya adalah Cesar Cui dan Nikolai Rimsky-Korsakov. Tujuan Lima Besar Rusia adalah menciptakan musik seni khas Rusia, yang diimitasi dari aspek-aspek tradisional. Karya Mussorgsky yang terpenting datang dari periode tahun 1864 hingga 1867. Banyak lagu rakyat ia ciptakan, termasuk salah satu yang terkenal, satu-satunya untuk orkestra, yakni Night on Bald Mountain. Pada periode ini, Mussorgsky menelurkan teorinya sendiri, yang membuat ia berbeda dari "Kelompok Lima". Dia ingin memproduksi melodi yang didasari oleh dialog manusia, yang dinamakan "melodies of life". Eksperimentasinya pertama kali diwujudkan dalam sebuah opera berjudul The Marriage pada tahun 1868. Kesuksesan ekperimennya baru terlihat dalam opera Boris Godunov, di tahun yang sama. Namun akibat ketidakpopuleran temanya, opera tersebut ditolak untuk ditampilkan dalam waktu yang lama, hingga tanggal 27 Januari 1874. Selain itu, Mussorgsky menulis dua opera lainnya, berjudul Khovantchina dan The Fair at Sorochinsk.
Ada beberapa kritikus yang menyerang Mussorgsky, diantaranya yang menyebutkan bahwa gayanya nakal dan tidak disiplin. Ini kemungkinan disebabkan dari kurangnya ia atas pemahaman teori-teori musik dan kemampuan komposisinya berasal dari insting semata. Meski demikian, banyak juga yang membela bahwa kemampuan instingtif itu justru membentuk kekuatan kreatif yang mahadahsyat. Bahkan ada yang mengatakan ia sebagai yang terbaik diantara kelima koleganya, dari segi kreativitas, meski yang lain lebih manis dan kuat akar budayanya. Musiknya memiliki kekuatan, individualitas, dan bahan-bahan yang tidak dipunyai nasionalis lainnya.
Mussorgsky meninggal muda dalam umur 41 tahun karena epilepsi. Ini disebabkan salah satunya oleh kebiasaan alkoholnya yang cukup kuat. Setelah kematiannya, Rimsky-Korsakov mengedit beberapa bagian Boris Godunov, dan menjadi karya yang cukup terkenal hingga saat ini, dimainkan di banyak opera house. Mussorgsky dimakamkan di St. Petersburg pada 28 Maret 1881.

Sunday, August 30, 2009

Partitur RGB -baru- (The Entertainer)

Silahkan download kedua-duanya. Ini adalah materi untuk latihan tanggal 6 September jam 14.00 di Tobucil. Penentuan posisi gitarnya akan ditentukan kemudian. Harap dibawa aja dulu semua partiturnya. Jangan lupa bawa gunting dan lem, siapa tahu kita akan memotong partitur bersama sambil nunggu berbuka puasa.

The Entertainer (3 Guitars)

The Entertainer (4 Guitars)

Bagi-Bagi Partitur

Yunus Suhendar, seorang yang rajin nongkrong di KK, ingin jadi dermawan. Maka ia beramal lewat bagi-bagi partitur. Silakan download gratis.

Roland Dyens - Djembe

Hommage to Andrew York

Saturday, August 29, 2009

Balada Konser yang Tertunda



diambil dari www.tobucil.blogspot.com

Malam itu ada konser lagi, letaknya sama, CCF namanya. Namun pengisinya beda lagi, sekarang bernama Fauzie Wiriadisastra dan Andrew Sudjana. Siapa mereka? Yang satu pemain flute, satu lagi piano, mereka main bersama, namanya duet. Lagu pertama, konsepnya cukup unik, Fauzie minta tiada lampu satupun yang dinyalakan, auditorium gelap gulita. Penonton celingak-celinguk, setelah disuguhkan MC yang tidak muncul ke panggung (invisible kalo bahasa YM), sekarang mereka dihadapkan pada kegelapan. Lalu sayup-sayup terdengar bunyi suling baja itu, mengalun lirih dan merintih. Menyanyikan karya Debussy berjudul Syrinx. Apa itu Syrinx? Itu nama alat tiup yang dipakai Pan, Dewa dalam mitologi Yunani yang mirip kambing. Saat itu Fauzie masih sendiri, Andrew gundah gulana di samping panggung. Beres lagu pertama, panitia menyalakan lampu, oh, penonton lega, melihat kerabat di kiri kanannya masih ada. Sekarang Andrew naik panggung, jadilah mereka berdua.
Lagu kedua katanya susah sekali. ”Main Bach itu, orang yang belajar sebulan dan setahun bisa sama saja hasilnya, bahkan sering lebih bagus yang sebulan,” demikian pengakuan Fauzie kepada Tobuciler. Lalu Tobuciler mengamati, ah, tidak, mereka tetap bermain apik biarpun belajar sepuluh bulan. Iya lah, Fauzie kan bilangnya sebulan atau setahun, sepuluh bulan tidak ia teliti. Sesi pertama ditutup dengan lagu karya komposer lokal berjudul Rescuing Ariadne. Komposer lokal itu yakni Ananda Sukarlan.
Masuk sesi dua, diawali piano solo dari Andrew Sudjana, judulnya Jeux d’eau karya Maurice Ravel. Kau tahu, lagu inilah yang membuat Andrew cedera sehingga konser yang seyogianya tanggal 31 Juli itu jadi kamis kemarin. Awalnya cederanya memang gara-gara jatuh menahan motor, namun saat itu tak terasa apa-apa. Puncaknya terjadi ketika ia berlatih Jeux d’eau ini. Yang membuat ia langsung menelpon Fauzie di tengah malam tanggal 29 Juli, mengabarkan hal buruk yakni pembatalan hari konser. Tapi di konser kemarin Andrew nampak prima, tak terasa itu bekas-bekas cedera. Penonton memberi aplaus panjang, yang artinya mereka senang. Sesi kedua konser ditutup oleh suita dari John Rutter dan Concertino Op. 107 dari Cecile Chaminade. Dua lagu yang menarik itu membuat penonton tepuk tangan tak berhenti, namanya encore. Encore menghasilkan kedua pemain yang mestinya pulang, jadinya naik panggung lagi, memainkan lagu bonus. Yang ini lagunya terkenal, judulnya Badinerie karya Bach, mengapa terkenal? Karena sering dijadikan ringtone HP Nokia. Konser ditutup dengan pembagian karangan bunga. Semua senang, senang semua, viva la musica.

Fauzie Wiriadisastra, Multi-Instrumentalis yang Multi-Sumbangsih




Fauzie Wiriadisastra namanya. Ia baru saja melangsungkan debut resitalnya pada 20 Agustus lalu. Berduet dengan pianis Andrew Sudjana, resital berjudul Flute & Piano Recital itu sukses menampilkan karya-karya dari Bach, Debussy, Rutter, Chaminade, dan Ananda Sukarlan. Di akhir resital tersebut, kami menyempatkan berbincang-bincang. Fauzie bukanlah orang baru bagi KlabKlassik (KK), sejak partisipasinya di Classical Guitar Fiesta (CGF) 2006 sebagai pemain, ia nyaris tak pernah absen memberikan dukungannya dalam berbagai bentuk. Di tahun 2007, pada Konser Gitar Klasik Syarif Maulana & Johan Yudha Brata, Fauzie menyumbangkan satu karya komposisi duet yang jenius, berjudul Carawitta & Fugue. Lalu di CGF 2008, Fauzie kembali berpartisipasi sebagai pemain. Jika di pagelaran CGF sebelumnya ia tampil sebagai gitaris, di 2008 itu ia bermain flute, berduet dengan Widjaja Martokusumo. Di tahun yang sama, pada konser Resital Tiga Gitar, pria yang juga bertindak sebagai konduktor di Gereja St. Laurentius ini kembali menyumbangkan komposisinya untuk trio, lagi-lagi sebuah karya yang unik dan "penuh selera humor", berjudul Irregular Waltz. Sumbangsihnya di tahun ini, adalah komposisinya untuk kuartet, berjudul Pela Yangan, yang ditampilkan perdana di Resital Tiga Gitar Plus Satu tanggal 9 Agustus kemarin. "Partisipasi" terbarunya, tentu saja, resital debutnya, bukan cuma bagi KK, tapi bagi masyarakat Bandung pada umumnya, yang mendapat masukan berharga tentang instrumen flute yang masih langka. Mari simak obrolan KK dengan Fauzie yang lahir pada 17 Oktober 1981 dan lulusan University of Illinois jurusan Mechanical Engineering ini.

KK: Hai Fauzie, ngobrol-ngobrol yuk, dengar-dengar anda ini multiinstrumentalis, instrumen apa sajakah itu? Lalu, diantara semuanya, instrumen mana yang paling dikuasai?

F : Kalau diurut dari yang paling bisa ke paling tidak bisa untuk instrumen klasik: flute, gitar, saxophone, oboe, trumpet, kontrabas, piano. Selain itu saya juga main instrumen tradisional, khususnya dhizhi (seruling china) dan tentu saja suling sunda. Saya juga suka membuat alat-alat musik aneh-aneh.

KK: Oke, pertanyaan berikutnya. Memainkan instrumen dan mengomposisi, berbedakah? Apa perbedaan esensialnya?
F: Sebuah lagu yang biasa saja, jika dimainkan oleh seorang performer yang baik, akan terdengar baik. Sebuah lagu yang baik, jika dimainkan oleh seorang performer yang kurang baik, tidak akan menjadi baik. Saya rasa pemain musik memiliki porsi tanggung jawab yang lebih besar, karena ialah yang memainkan musik. Ketika saya menulis sebuah notasi balok di atas kertas, apakah saya sudah menghasilkan musik?

KK: Lah, kok malah bertanya balik. Oke, perihal interpretasi. Bagaimana anda menyikapi para pemain yang menginterpretasi karya anda? Apakah ketat atau boleh bebas?
F: Saya rasa perubahan dinamika, artikulasi, dan tempo terhadap sebuah karya komposisi adalah hal yang sah, selama kita menambahkannya secara sadar dan bertanggung jawab, maksudnya, perubahan itu harus membuat musik yang dihasilkan menjadi lebih baik.

KK: Lebih spesifik lagi. Karya anda pernah dimainkan oleh pianis kelas dunia Ananda Sukarlan, bagaimana perasaan anda?
F: Sungguh suatu pengalaman yang sangat berharga. Saya belajar banyak sekali dari perjumpaan kami yang tidak terlalu lama.

KK: Lalu, setelah mengetahui kemampuan komposisi dan permainan anda. Akan kemanakah cita-cita anda nantinya? Pemain atau komposer?
F: Di masa lalu, semua pemain musik adalah komposer. Saya rasa kedua hal itu tidak perlu dipisahkan.

KK: Oke, pertanyaan terakhir. Apakah penting komunitas semisal KlabKlassik ini? Apa pentingnya?
F: Dalam sejarah musik, kita mengenal kelompok Camerata dan kontribusi mereka terhadap perkembangan seni. Saya rasa keberadaan komunitas seperti Klabklassik telah menunjukkan kontribusi yang cukup jelas terhadap perkembangan musik di kota Bandung.

KK: Adakah pesan-pesan untuk disampaikan pada khalayak musik klasik di kota Bandung? Silakan.
F: Dukunglah para musisi kita. Jika menurut anda tidak ada yang layak didukung, jadilah musisi.

Tuesday, August 25, 2009

Latar Belakang dan Permulaan Masa Barok (Bagian III - Selesai)


III. Giovanni Gabrieli dan Seconda Prattica di Venezia

Sampai tahun 1565, jabatan pemimpin musik di Katedral Santo Marco, di Venezia, dipegang oleh para komponis Belanda yang melanjutkan tradisi polifoni Josquin. Adrian Willaert (1490-1562) dan Cipriano del Rore (1516-1565) mengakhiri tradisi tersebut. Di antara karya Willaert ada sebuah kumpulan susunan mazmur, khusus untuk dua kor (Cori Spezzati) yang diciptakan sekitar tahun 1550 dan menjadi terkenal. Mungkin ide memakai dua kor ini didapat Willaert dari Ruffino d'Assisi, seorang komponis dari Padua, yang menciptakan mazmur-mazmur untuk dua kor, sekitar tahun 1524. Karya ini sebenarnya lebih mendekati gaya Venezia akhir abad ke-16, dari musik Willaert.
Katedral Santo Marco menjadi tempat yang ideal untuk perkembangan musik untuk dua kor karena di dalam gedung gereja tersebut ada dua balkon, masing-masing lengkap dengan satu organ. Balkon-balkon ini menjadi tempat untuk dua kor yang bernyanyi secara bersahut-sahutan dari satu balkon ke balkon lain, seperti sejenis dialog. Karena ruang katedral pada umumnya begitu besar dan jarak di antara balkon-balkon cukup jauh, bunyi musik pun bergema. Untuk mencegah hal ini, disusun lagu-lagu untuk dua kor, gubahan homofonik lebih sering digunakan daripada yang biasa.
Setelah Wilaert meninggal, seorang komponis Italia yang belajar dari Rore, Andrea Gabrieli (1520-1586), menjadi pemain organ di Santo Marco. Sebelum Andrea Gabrieli mendapat jabatan ini, ia bertugas untuk pangeran Albrecht V di Kota Munchen, tempat ia dipengaruhi oleh musik Orlandu Lassus.
Gabrieli mengembangkan teknik cori spezzati tersebut dengan memasukkan alat-alat musik yang mendobel suara-suara dari kor. Sering kali kor pertama terdiri dari suara-suara dan alat-alat yang lebih tinggi, dibandingkan kor kedua yang bersuara rendah. Dengan demikian, ia mendapat suatu kontras yang jelas di antara kedua kelompok ini.
Pengganti Andrea Gabrieli sebagai pemain organ di Santo Marco pada tahun 1585 adalah kemenakannya, bernama Giovanni Gabrieli (sekitar tahun 1555-1612). Dia membawa tradisi cori spezzati pada puncaknya. Pamannya mendidik Giovanni dalam musik. Kemudian, seperti pamannya ia pun bertugas di istana Munchen di bawah pimpinan Lassus, lalu kembali ke Venezia dan berhasil dalam ujian untuk mendapat jabatan sebagai pemain organ pertama di Santo Marco. Pada saat itu, ia masih sangat muda untuk mendapat suatu posisi yang begitu bergengsi.
Setelah Andrea Gabrieli meninggal pada tahun 1586, Giovani mengedit dan menerbitkan sebagian besar dari karya pamannya. Ia juga menggantikan pamannya sebagai komponis utama untuk Santo Marco, khususnya musik untuk hari-hari besar dalam tahun gerejawi. Ia menerbitkan kumpulan dari musiknya pada tahun 1597, dengan judul Sacrae Symphoniae. Minat untuk mendengarkan musik Gabrieli menjadi sangat kuat di Jerman dan Austria, sehingga beberapa pangeran dari Jerman mengirim murid-murid kepadanya dengan harapan mereka kembali dan dapat menciptakan musik dalam gaya Venezia.
Pengajaran Gabrieli berpusat pada tradisi lama, begitu juga pada gaya madrigal Italia yang paling modern. Muridnya yang paling berhasil dan paling penting adalah Heinrich Schutz, komponis Jerman pada abad ke-17. Mulai dari tahun 1606, Gabrieli menderita sakit batu ginjal sehingga ia sering absen dari tugasnya di Santo Marco. Akhirnya, ia meninggal karena penyakit tersebut.
Musik Gabrieli merupakan suatu transisi antara zaman Renaisans dan Barok. Di samping teknik-teknik dari gaya lama yang telah dikuasainya, khususnya dalam musik sebelum tahun 1600, Gabrieli juga memakai kromatisisme, interval-interval yang disonan, ritme-ritme yang bersifat tarian dan akord-akord yang dianggap disonan dalam musiknya. Semua teknik ini diambil dari gaya madrigal yang paling modern dan sangat berlawanan dengan gaya lama. Efek-efek modern lebih tampak dalam musiknya setelahn tahun 1600, yang dikumpulkan dan diterbitkan setelah ia meninggal pada tahun 1615 sebagai buku kedua dari Sacrae symphoniae. Unsur-unsur besar dan agung yang terdapat dalam motet-motet Gabrieli untuk dua, tiga, dan empat kor serta lagu-lagu untuk alat-alat tiup merupakan pendahuluan gaya "kolosal" yang sering dijumpai dalam awal musik Barok.
Partitur-partitur Gabrieli sering termasuk bagian-bagian instrumen-instrumen, kadang-kadang sebagai salah satu kor sebagai kontras terhadap kor-kor yang terdiri dari para penyanyi saja. Istilah konserto pertama kali terdapat dalam karya-karya Gabrieli, khususnya pada unsur kontras tersebut. Pemakaian kontinuo bas sebagai dasar ansambel menjadi tampak dalam musik yang diciptakannya setelah tahun 1600. Dalam hal ini, mungkin Gabrieli dipengaruhi oleh rekannya di Santo Marco yang bernama Giovani Croce, sekitar tahun 1557-1609, yang pada tahun 1594 dan 1596 menerbitkan buku berisi motet-motet dan misa-misa untuk dua kor lengkap dengan bagian organ yang terdiri dari suara-suara bas dari kedua kor tersebut. Dengan demikian, karya Croce ini adalah musik gerejawi yang pertama (yang masih ada) untuk memperlihatkan pemakaian kontinuo bas. Karya besar seperti In Ecclesiis untuk empat suara solo, kor, alat-alat musik, dan kontinuo, yang disusun dalam beberapa bagian yang kontras, merupakan suatu pendahuluan kantata sakral. Gaya karya ini menjadi dasar untuk gaya konserto yang terdapat dalam musik gerejawi Claudio Monteverdi.
Dalam Sacrae Symphoniae, buku kedua, Gabrieli memasukkan tanda-tanda dan perintah-perintah mengenai dinamika dan orkestrasi dalam partiturnya. Hal ini dapat dilihat dalam beberapa lagu yang memakai instrumen-instrumen dan beberapa kor, atau hanya instrumen-instrumen saja; lagu-lagu yang mungkin pertama untuk memakai tanda-tanda dinamika. Alat-alat yang ditentukan dalam partiturnya termasuk kornetto, trombon, biola dan viol.

Sumber: McNeill, Rhoderick. Sejarah Musik 1. BPK Gunung Mulia. Jakarta: 1998. Hal 176-178.

Monday, August 24, 2009

Antonin Dvořák: Si Jenius dari Bohemia


Dvořák lahir di Nelahozeves, Bohemia, pada 8 September 1841. Ia menerima pendidikan musik dari sejak kecil. Pada tahun 1857, Dvořák pergi ke kota Praha untuk belajar sekolah organ. Lulus tahun 1860, ia menjadi anggota orkestra dari National Theatre. Pada tahun-tahun berikutnya, ia mengintensifkan studi pada analisis komposisi. Pada tahun 1873, salah satu karyanya yang berjudul Hymnus (untuk chorus), berhasil ditampilkan di Praha; dan dua tahun kemudian, karyanya yang berjudul Symphony in E Flat memenangkan Austrian State Prize. Prestasinya yang meningkat terus membuat ia dipercaya untuk mempimpin National Theatre untuk proyek opera nasionalistik. Dipengaruhi Wagner, ia mengimitasi gaya-gayanya dalam sebuah opera berjudul The King and The Collier, yang kemudian sukses. Setelah diperdengarkan di Vienna, ia juga memenangkan penghargaan dari pemerintah setempat.
Dvořák dan Brahms bertemu di Vienna. Brahms, yang lebih senior, memperkenalkan Dvořák pada agen publikasi bernama Simrock. Simrock memberi komisi pada Dvořák untuk menulis karya orkestra yang didasari oleh tarian tradisional Bohemia. Pada tahun 1878, Dvořák berhasil membuat karya berjudul Slavonic Dances, dan karyanya tersebut membawa ia mahsyur di seluruh Eropa.
Pada tahun 1890, ia menerima penghargaan istimewa dari Cambridge University. Dua tahun berikutnya, ia diundang ke AS untuk menjadi direktur di National Conservatory di New York. Tinggalnya ia di AS, membuatnya tertarik lebih jauh pada musik-musik tradisi milik Negro Amerika dan Indian. Hal tersebut membuatnya terinspirasi, dan menjadikan karya-karyanya yang termahsyur: Symphony from the New World; American Quartet; Piano Quintet in E Flat Major.
Dvorak mundur dari posisinya tahun 1895 dan pulang kembali ke negaranya. Pada tahun 1901, ia menjadi direktur di Prague Conservatory, posisi yang dipegangnya hingga ia meninggal. Tahun-tahun terakhirnya diisi oleh kondisi kesehatan yang buruk. Dvořák meninggal dalam keadaan stroke pada 1 Mei 1904 di Praha.
Dvořák merupakan salah satu komposer Romantik yang kental dengan bentuk tradisionalnya. Amat melodis dan mudah dicerna. Kebanyakan karyanya punya gaya Slavic yang kuat, meskipun itu terdapat dalam karya-karya yang dibuat di Amerika. Karya-karya terkenal lainnya adalah Humoresque, op. 101, Slavonic Rhapsodies, Carnival Overture, Dumky Trio.

Latar Belakang dan Permulaan Gaya Barok (Bagian II)

II. Permulaan Gaya Barok

Gaya musik Barok muncul di Italia, pada umumnya, paling terasa di sana. Perkembangan gaya tersebut di Italia dapat kita amati dari beberapa segi khusus.

A. Seconda Prattica

Akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 ditandai dengan banyak eksperimen dalam teknik-teknik menciptakan musik, khususnya dalam tradisi madrigal Italia. Hal ini memprihatinkan pemusik-pemusik yang terikat pada tradisi musik polifoni yang lama. Mereka memprotes kehadiran harmoni baru, dengan nada-nada disonan tidak menyiapkan akord konsonan pada akord sebelumnya, menurut kebiasaan tradisi yang lama. Mereka juga tidak senang akan progresi-progresi kromatik yang mengaburkan sistem modal berdasarkan delapan modus gerejawi, dan susunan yang tidak stabil. Pada um,umnya, tradisi lama tersebut terus dipakai di gereja dan disebut Prima Prattica atau tradisi pertama. Tradisi lama menjadi dasar dari pelajaran komposisi bagi para komponis muda selama abad ke-17 walaupun dianggap kuno di luar gereja.
Menurut anggapan para pemusik dan teoretikus dari awal masa Barok, tradisi baru atau Seconda Prattica (tradisi kedua) dianggap dimulai pada tahun 1550-an, dalam madrigal-madrigal terakhir Cipriano del Rore. Dalam madrigal-madrigal ini, Rore mencoba menggambarkan dunia emosi yang dikandung dalam teks. Perubahan sifat yang terdapat dalam teks langsung dicerminkan dalam susunan musiknya. Unsur stabilitas yang begitu penting bagi pemusik-pemusik Renaisans, biasanya tampak dalam sebuah motet Willaert atau Palestrina, sering tidak terasa dalam madrigal-madrigal terakhir dari Rore. Ia menggantikan susunan atau memasukan progresi kromatik sesuai makna teks. Teks lebih menentukan gubahan lagu pada teknik-teknik musik. Kebebasan demikian lebih tampak lagi dalam madrigal-madrigal komponis generasi ketiga, dari tradisi madrigal Italia pada akhir abad ke-16, misalnya dalam madrigal Wert, Gesualdo, dan Claudio Monteverdi.

B. Monodi dan Stile Recitativo

Perkembangan tradisi vokal solo yang mengutamakan unsur teknik virtuoso mulai terasa sekitar tahun 1570. Meskipun ada tradisi hiasan dalam menyanyikan musik polifonik sebelumnya, kompleksitas ornamentasi tersebut dalam satu suara dibatasi. Satu suara yang terlalu menonjol demikian dapat merusak susunan polifoni yang berdasarkan prinsip Renaisans, bahwa semua suara mempunyai kepentingan yang hampir sama. Suatu tanda perkembangan teknik vokal solo adalah madrigal-madrigal untuk satu, dua, atau tiga suara dengan iringan harpsikord yang diciptakan oleh Luzzachi (1545-1607) untuk tiga penyanyi wanita di Istana Ferrara yang terkenal sebagai virtuoso. Pada kadens, suara tertinggi sering diberikan kadensa-kadensa yang hebat.
Hal-hal seperti itu juga tampak dalam lagu-lagu untuk suara solo dan kontinuo yang diciptakan untuk penyanyi-penyanyi virtuoso pada masa itu, Jacopo Peri (1561-1633) dan Giulio Caccini (sekitar tahun 1545-1618), dua komponis di antara para pencipta jenis lagu ini, juga adalah penyanyi yang terkenal. Norma-norma awal dalam hal pemakaian kontinuo untuk mengiringi suara, termasuk bas berangka, juga dapat diamati dalam musik mereka.
Buku berisi madrigal-madrigal untuk satu suara dan kontinuo yang sangat berpengaruh pada masa itu adalah Nuove Musiche (Musik Baru), ciptaan Caccini pada tahun 1580-1600. Madrigal-madrigal ini termasuk lagu yang berbentuk strofik (musik yang sama untuk setiap bait dan teks) dan lagu yang bersifat "monodi" atau "stile recitativo". Nuove Musiche ini diterbitkan pada tahun 1602 dan terkenal di seluruh Eropa Barat.
Gaya monodi yang baru ini mendasari opera-opera yang pertama. Opera adalah sebuah sandiwara yang dinyanyikan secara keseluruhan. Konsepsi awal mengenai opera, yang menjadi bentuk kesenian paling populer di Italia pada abad ke-17, mulai dalam suatu kelompok sastrawan dan pemusik di Kota Florenzia yang membentuk perhmpunan sekitar tahun 1580 (yang mereka sebut Camerata Florentina) untuk membicarakan kesenian, termasuk musik. Satu topik khusus yang menarik perhatian mereka adalah drama musik dari Yunani Kuno. Seorang pemusik di antara mereka yang bernama Vincenzo Galilei (ayah dari Galileo Galilei, ahli astronomi yang begitu terkenal) mengarang risalah mengenai topik itu. Ia mendorong komponis-komponis lain untuk kembali pada gaya Yunani Kuno, supaya mereka dapat mengembangkan suatu gaya drama dalam musik yang lebih mendekati gaya berbicara serta emosi yang realistis. Menurut dia, musik polifonik dalam masanya tidak begitu berguna untuk musik vokal yang mengungkapkan emosi-emosi manusia: musik itu lebih sesuai dengan instrumen-instrumen. Ide Galilei ini dipraktekkan oleh pendukungnya yang bernama Jacopo Corsi serta seorang penyajak bernama Ottavio Rinuccini dan Jacopo Peri, penyanyi dan komponis. Mereka merencanakan suatu drama disusun dalam musik yang berdasarkan cerita dari Yunani Kuno yang berjudul Dafne. Meskipun mereka mulai mengerjakan proyek ini pada tahun 1594, produk drama dalam musik ini (opera) tida siap untuk pementasan sampai sekitar tahun 1598. Pada saat itu, seorang komponis yang lain, Emilio de Cavalieri (sekitar tahun 1550-1602), sudah menyelesaikan dua opera yang pendek dan Caccini juga sedang menciptakan opera.
Peri, Cavalieri, dan Caccini memakai gaya recitativo untuk menyusun teks-teks libretto-libretto mereka. (Libretto berarti teks atau buku yang berisi kata-kata dari sebuah opera.) Recitativo terdiri dari satu suara yang menyanyikan teks sesuai dengan gaya ucapan, irama, dan intonasi bahasa Italia yang biasa, diiringi oleh alat-alat bas (Seperti cello) dan akord-akord dalam susunan homofonik dari lut-lut dan alat-alat keyboard. Iringan sejenis ini disebut kontinuo.
Kadens-kadens diornamentasikan oleh penyanyi. Dalam jangka waktu yang cukup pendek, gaya monodi ini dikembangkan dengan cepat oleh Peri. Dalam opera pertama yang masih ada, yaitu Euridice (1600), recitativo dari Peri sudah cukup maju dan sudah penuh dengan unsur ekspresivitas. Dia juga memasukkan lagu-lagu yang bersifat lebih melodis, dan bagian-bagian dalam gaya madrigal untuk kor supaya ada unsur kontras dalam susunan musik itu. Namun, puncak opera-opera awal dan pemakaian monodi terdapat dalam musik Claudio Monteverdi (1567-1643).

C. Bas Kontinuo

Pemakaian kontinuo adalah suatu ciri khas dari musik Barok, pada awal sampai akhir masa itu. Kontinuo, lengkap dengan bas berangka, sudah tampak dalam opera-opera pertama dari Peri, Cavalieri, dan Caccini, juga dalam musik gerejawi dari Venezia ciptaan Giovanni Gabrieli (sekitar tahun 1666-1612) dan karya Ludovico Viadana (sekitar tahun 1560-1627). Kontinuo mencerminkan perkembangan suatu pikiran musikal yang vertikal atau homofonik, bukan bergarisseperti tradisi polifoni Renaisans lama. Sebenarnya, polifoni atau kontrapung tidak dibuang, tetapi lebih bersifat "polifoni harmonik".
Suara-suara yang terpenting dalam musik Barok awal adalah sopran dan bas. Bas merupakan dasar dari semua akord. Biasanya suara bas dimainkan dengan alat-alat melodik seperti viol atau cello dengan akord-akord, yang sesuai dengan angka-angka yang dituliskan di bawah bas, yang disuarakan oleh lut, harpa, harpsikord, atau organ. Kadang-kadang, kelompok kontinuo terdiri dari sepuluh pemusik.

D. Perkembangan Tonalitas

Selama abad ke-16, kekuatan sistem modal dikurangi sedikit demi sedikit akibat pemakaian musica ficta dan kromatisisme. Musik yang lebih kedengaran seperti mayor atau minor dari modal pernah diciptakan selama abad ke-16. Kecenderungan ini menjadi tampak sekali sekitar tahun 1600, sehingga dalam 50 tahun sesudahnya sistem modal diganti dengan sistem tonal yang berdasarkan tangga nada mayor dan minor.
Akan tetapi, teknik bermodulasi menurut lingkaran kuin yang dianggap suatu segi utama dari tonalitas tidak dikembangkan sampai tahun 1670-an. Oleh sebab itu, komponis-komponis menyusun lagu mereka dalma bagian-bagian pendek dalam satu nada dasar saja atau memakai harmoni kromatik secara bebas. Bentuk-bentuk yang tidak memerlukan modulasi, seperti tema dan variasi, menjadi sangat populer selama awal dan pertengahan abad ke-17.

E. Perkembangan Repertoar Musik untuk Instrumen yang Bersifat "Virtuoso"

Pada awal masa Barok, perkembangan musik instrumental, yang sudah tampak pada akhir masa Renaisans diteruskan. Unsur teknik menjadi sangat penting, khususnya kemampuan mengimprovisasikan ornamentasi pada melodi yang telah ditentukan oleh komponis dalam partitur. Sekitar tahun 1600, suatu repertoar sonata untuk satu atau dua biola dengan iringan kontinuo mulai dikembangkan di Italia. Teknik menulis variasi pada suatu tema dengan figurasi virtuoso juga dikembangkan oleh komponis-komponis keyboard dari Inggris dan Jerman

F. Pentingnya Unsur Kontras


Kontras-kontras dalam susunan dan warna suara (orkestrasi) adalah suatu hal yang sangat penting pada awal musik Barok. Hal ini dapat diamati dalam musik gerejawi dan musik tiup ciptaan Giovanni Gabrieli serta opera-opera pertama. Untuk pertama kali tercatat perintah-perintah dalam pertitur komponis mengenai orkestrasi yang dikehendakinya. Unsur kontras dalam dinamika juga mulai dimasukkan dalam partitur.
Kebanyakan hal-hal yang merupakan ciri-ciri dari awal musik Barok terdapat dalam musik Claudio Monteverdi. Sebelumnya, kita perlu meninjau musik gerejawi yang berkembang pada akhir abad ke-16 di Venezia, khususnya musik Giovanni Gabrieli, yang juga memperlihatkan tanda-tanda permulaan masa Barok dan sangat mempengaruhi banyak komponis pada awal abad ke-17.

(Bersambung. Minggu depan: Giovanni Gabrieli dan Seconda Prattica di Venezia)

Sumber: McNeill, Rhoderick. Sejarah Musik 1. BPK Gunung Mulia. Jakarta: 1998. Hal 170-172

Dari Resital Tiga Gitar Plus Satu


Sajian musik klasik dalam format trio ataupun kuartet gitar belum menjadi sebuah suguhan yang lazim di Kota Kembang Bandung. Meski telah melahirkan sejumlah gitaris papan atas tingkat nasional (bahkan internasional), gitaris-gitaris Bandung belum terlalu sering berkolaborasi satu sama lain, dan lebih banyak mengaktualisasikan dirinya dalam format solo. Kalaupun mereka berkolaborasi, sajian yang ditampilkan hanya dinikmati oleh kalangan terbatas saja, entah itu berbasis kursus musik ataupun pendidikan formal musik. Di tengah ketiadaan sajian musik klasik dalam format ansambel, Resital Tiga Gitar Plus Satu menjadi sebuah sajian yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Resital Tiga Gitar Plus Satu ini sebenarnya bukanlah hal yang baru, karena di tahun 2008, suguhan serupa juga pernah ditampilkan. Hanya saja, pada saat itu beluma ada penambahan “Plus Satu” di belakang “Resital Tiga Gitar”. Gitaris yang berkolaborasi dalam Resital Tiga Gitar Plus Satu adalah Widjojo Martokusumo, Syarif Maulana, Bilawa Respati, dan Royke Ng. Gitaris yang disebut terakhir merupakan gitaris yang baru bergabung dengan Resital Tiga Gitar, yang akhirnya memunculkan “Plus Satu” dalam nama kelompok ini. Keempat gitaris diatas, merupakan gitaris-gitaris top Indonesia yang telah mencatatkan prestasi di berbagai kompetisi gitar klasik tingkat lokal dan nasional. Dengan kemampuan mereka bereempat yang diatas rata-rata, maka tak heran repertoar yang dimainkan pun cukup sulit.

Babak pertama resital ini menampilkan format trio. Tiga dari lima karya yang ditampilkan adalah karya-karya dari resital sebelumnya, yakni Menuett karya Luigi Boccherini, Eine Kleine Nachtmusic karya Wolfgang Amadeus Mozart, dan Irregular Waltz karya Fauzie Wiriadisastra. Sedangkan dua lagi adalah materi baru yang sengaja disiapkan untuk resital ini, yakni Bajo La Palmera karya Isaac Albeniz, dan Introktion und Fandango karya Luigi Boccherini. Karya pertama, sewajarnya, masih terasa tegang bagi setiap pemain. Untungnya repertoar tersebut terdengar sederhana dan tidak terlalu panjang, sehingga terasa cocok untuk pembuka dan pelepas tensi. Eine Kleine Nachtmusic karya Mozart adalah karya yang sangat familiar, meski judulnya sepertinya kurang dikenal. Komposisinya dahsyat, dinamis, dan meledak-ledak. Tentunya, tak lupa dengan interpretasi khas Mozart: nakal dan centil. Karya ketiga berjudul Irregular Waltz, yang dikomposisi oleh Fauzie Wiriadisastra, seorang multi-instrumentalis asal Bandung. Komposisi ini sangat unik, setiap perpindahan barnya berarti perpindahan ketukan juga. Namun melodi yang dibangun terasa unik dan harmoninya juga menyenangkan. Penonton yang mendengar bisa terhibur. Karya keempat, lagi-lagi para gitaris memilih karya yang didominasi unsur mayor. Sekarang berjudul Bajo La Palmera, satu komposisi tango yang ditulis oleh Isaac Albeniz untuk piano. Ditranskripsi ke gitar, terjadi semacam pergerakan melodi interval yang manis antara Bilawa dan Pak Widjaja, sementara Syarif memberikan landasan irama tango yang penuh aksentuasi. Lagu terakhir, akhirnya didominasi suasana minor, tepatnya D minor. Dengan irama Spanish yang kental, Introduktion und Fandango Boccherini menutup sesi pertama dengan sensual.

Babak kedua resital ini menampilkan format kuartet, yaitu tiga gitaris pada babak pertama ditambah dengan Royke Ng. Repertoar pertama pada babak ini adalah Canon in D, karya dari Johann Pachelbel, yang melodinya cukup familiar bagi para penonton, karena sering mendengarnya entah dari nada dering telepon selular maupun bel rumah. Harmonisasi yang dibangun oleh keempat gitaris sangat baik, sehingga sahut-sahutan yang menjadi ciri dari musik-musik kanon sangat terasa. Setelah Canon in D, komposisi yang dimainkan berikutnya berjudul Pela Yangan karya Fauzie Wiriadisastra lagi. Karya ini baru pertama kali dimainkan, dan menjadi premiere bagi para penikmat musik di Bandung. Berbeda dengan komposisi sebelumnya (Canon in D) yang dapat dibilang sangat “klasik” dan “konvensional”, karya Fauzie ini sangat dipengaruhi nuansa kontemporer, terutama dengan nada-nada dan kord-kord “miring” serta penggunaan beberapa bagian gitar yang dapat menghasilkan nada yang berbeda. Tak hanya nada dan kord, tuning gitar yang digunakan pun cukup aneh dan jarang ditemukan di karya-karya komposer lain. Contohnya, salah satu gitaris menggunakan susunan tuning : 1=C; 2=B 3/4 mol; 3=G; 4=B; 5=A ¾ mol; 6=E. Dengan tuning yang sedemikian rupa, karya ini menghasilkan nada-nada yang cukup “memeras” telinga karena interval antar senar yang tak lazim. Meski demikian, karya ini sanggup dimainkan dengan sangat baik dan mencapai klimaks-nya di penghujung komposisi. Sambutan penonton pun terdengar lebih meriah dibandingkan dengan sambutan-sambutan sebelumnya.

Dua komposisi selanjutnya kembali menunjukkan skill para gitaris yang diatas rata-rata. Mereka memainkan Concerto in D Major karya Georg Philipp Telemann, dan Brandenburg Concerto No. 3 karya Johann Sebastian Bach. Kedua karya itu, khususnya komposisi dari Bach, tergolong repertoar yang cukup sulit, karena tidak hanya menekankan pada ketepatan nada dalam bermain, namun juga kerjasama yang baik antara para gitaris agar menghasilkan nada-nada yang sempurna dan tidak terkesan berkejar-kejaran. Sesudah kedua repertoar diatas, komposisi selanjutnya yang menjadi suguhan pamungkas dari acara resital ini adalah karya dari Bilawa Respati, berjudul Malam Yang Bersembunyi. Sama seperti Pela Yangan, suguhan Malam Yang Bersembunyi pun menjadi premiere bagi publik Bandung. Berdasarkan pengakuan sang komposer di atas panggung, komposisi ini merupakan interpretasi atas sebuah karya sastra dari seorang penulis bernama Raden Prisya. Meskipun komposer dari karya ini merupakan murid dari Fauzie, penggubah Pela Yangan, namun hampir tidak ada kemiripan antara Malam Yang Bersembunyi dengan Pela Yangan. Ketika Pela Yangan penuh dengan nuansa “miring” khas kontemporer, Malam Yang Bersembunyi justru masih sangat dekat dengan musik klasik yang lazim didengar oleh publik dan mematuhi koridor-koridor yang sudah lazim digunakan dalam musik klasik. Karena digubah oleh salah satu dari keempat gitaris, komposisi ini memang layak menjadi karya pamungkas penutup acara.

Meski Malam Yang Bersembunyi menjadi karya terakhir yang dimainkan berdasarkan program acara, namun masih ada satu komposisi tambahan yang dipakai untuk encore. Karya yang digunakan untuk encore adalah Lagrima dari Francisco Tarrega Agaknya persiapan para gitaris untuk karya encore ini sangatlah kurang, karena meskipun tergolong lebih mudah jika dibandingkan dengan karya-karya dalam babak pertama dan kedua, kesalahan yang muncul pada encore ini jauh lebih banyak dan dapat didengar dengan mudah. Berdasarkan pengakuan para personel Resital Tiga Gitar, karya untuk encore ini baru didapatkan pada Hari H penyelenggaraan resital, bahkan hanya beberapa jam sebelum acara dimulai.

Suguhan Resital Tiga Gitar Plus Satu menjadi sebuah bukti bahwa instrumen gitar klasik tak hanya sekedar dimainkan dalam format solo, namun juga dapat dimainkan dengan format trio atau kuartet, dan memiliki keindahan yang sama seperti instrumen lainnya yang lazim dimainkan dalam format ansambel. Acara ini juga menegaskan bahwa skill seorang pemain gitar tak hanya dilihat dari kemampuan bermain solo, tetapi juga dapat dilihat bagaimana seorang gitaris bisa menekan ego-nya untuk berbaur dengan gitaris lain dan memainkan sebuah karya ansambel dengan kerjasama yang apik.

Selain itu, suguhan ini pun menjadi sebuah tontonan yang sangat menarik di tengah-tengah himpitan musik popular yang terlalu tergantung pada selera pasar, dan lebih menginginkan keseragaman dibandingkan keberagaman dalam bermusik. Agaknya sajian Resital Tiga Gitar (entah itu Plus Satu, ataupun akan menjadi Plus Dua, Tiga, dan seterusnya) harus menjadi sebuah acara rutin agar semakin memasyarakatkan musik klasik pada umumnya dan gitar pada khususnya.

Pirhot Nababan


Thursday, August 06, 2009

Kompilasi Partitur RGB

Georg Philipp Telemann - Canon Menuet : Gitar I, Gitar II

Johann Pachelbel - Canon in D (4 Guitars)

Resital Tiga Gitar Plus Satu


Resital Tiga Gitar Plus Satu adalah pertunjukkan ensembel gitar yang terbagi atas dua bagian, sesi pertama berformat trio, sesi kedua adalah kuartet. Anggota trio adalah Bilawa A. Respati, Syarif Maulana, dan Widjaja Martokusumo. Sedangkan kuartet ditambah dengan Royke Ng. Keseluruhan resital akan menampilkan karya-karya sebagai berikut:

Trio:
Menuett and Trio - Luigi Boccherini
Allegro dari Eine Kleine Nachtmusic - Wolfgang A. Mozart
Irregular Waltz - Fauzie Wiriadisastra
Bajo La Palmera - Isaac Albeniz
Introduktion und Fandango - Luigi Boccherini
Kuartet:
Canon in D - Johann Pachelbel
Pela Yangan - Fauzie Wiriadisastra
Concerto in D Major - George Philipp Telemann
Brandenburg Concertos - Johann Sebastian Bach
Malam yang Bersembunyi - Bilawa A. Respati

Waktu resital adalah hari Minggu, 9 Agustus 2009 di Auditorium CCF, Jl. Purnawarman 32 jam 19.00-21.00. Tiket seharga Rp. 20.000 dapat diperoleh di Tobucil, Jl. Aceh 56 atau bisa hubungi Syarif (0817-212-404).

Latar Belakang dan Permulaan Masa Barok (Bagian 1)

Latar Belakang Masa Barok
Istilah "Barok" biasanya dipakai oleh para sejarawan dalam bidang musik untuk mengklasifikasikan musik yang diciptakan antara tahun 1600-1750. Istilah ini juga dipakai dalam bidang seni lukis, seni patung, dan arsitektur. Akan tetapi, kata Barok tidak digunakan orang pada zaman itu, dan hanya bersifat istilah untuk mempermudah definisi dari suatu gaya utama pada masa tersebut. Awal dan akhir masa Barok tidak dapat ditentukan dengan pasti. Tidak ada perubahan gaya yang terjadi secara dramatis atau dengan tiba-tiba pada tahun 1600 atau tahun 1750. Sebenarnya, dapat diamati suatu transisi yang terjadi perlahan-lahan pada tahun 1580-1630. Ada suatu masa transisi lagi yang terjadi antara tahun 1725-1760, pada masa kahir Barok. Proses transisi yang tidak sama di setiap negara Eropa Barat. Seperti dalam masa transisi, ada kecenderungan pada konservatisme dari sebagian komponis, sementara pada komponis lain memelopori jenis-jenis dan gaya-gaya musik yang baru.
Sebelum membahas awal dari gaya Barok dalam musik, sebaiknya kita terlebih dahulu memperhatikan garis-garis besar latar belakang masa itu, supaya kita mendapat perspektif yang lebih luas.
Italiapada masa Barok belum berupa negara kesatuan, hanya suatu daerah besar yang terdiri dari bagian-bagian yang dikuasai oleh Spanyol dan Austria, provinsi-provinsi yang diperintah langsung oleh Paus dan enam negara kecil yang bersifat independen, misalnya, Venezia, Florenzia, serta Napoli. Walaupun Italia mendominasi masa Barok dalam musik, khususnya pada abad ke-17, ada juga suatu gaya musik nasional yang berkembang di Prancis setelah tahun 1630-an yang sanggup membatasi pengaruh musik Italia di sana selama hampir 100 tahun.
Di Jerman, perkembangan musik sangat dihambat dan diancam oleh musibah peperangan 30 tahun (1618-1648), namun sesudahnya musik Jerman meningkat dengan pesat menjadi setingkat dengan musik J.S. Bach. Seperti Italia, Jerman belum bersatu dan masih terdiri dari banyak kerajaan kecil. Di Inggris, masa "emas" dalam musik (1590-1625), yang dibahas dalam bab 16, dihancurkan oleh Perang Saudara dan Masa Republik (1642-1660).
Setelah tahun 1660, suatu gaya nasional yang kuat dibangkitkan kembali. Namun, gaya khas ini hanya berlangsung sampai akhir abad ke-17, sebelum dikuasai oleh musik Italia pada awal abad ke-18, misalnya opera-opera Italia ciptaan Handel.
Antara tahun 1600 sampai 1750, termasuk permulaan masa penjajahan Indonesia oleh Belanda, adalah suatu masa pemerintahan absolut di Eropa. Banyak istana Eropa menjadi pusat musik utama. Istana yang paling mengesankan, yang menjadi teladan bagi semua raja dan para pangeran selama akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18, adalah Istana Raja Louis XIV dari Prancis (yang berkuasa antara tahun 1643-1715).
Gereja masih mendukung kegiatan musik, namun peranannya masih berkurang dibandingkan dengan masa Renaisans atau sebelumnya. Konser-konser umum yang komersial sifatnya belum dibudayakan di Eropa. Namun, ada beberapa himpunan yang mulai mementaskan opera atau menyelenggarakan konser-konser untuk anggota-anggota mereka.
Kesusastraan dan kesenian lain dibidang musik berkembang sepanjang masa Barok. Penulis dan penyair yang berkarya selama abad ke-17 termasuk John Donne dan John Milton di Inggris, Cervantes di Spanyol, Corneille, Racine, dan Moliere di Prancis. Daerah Belanda menghasilkan lukisan-lukisan yang agung dari Rubens dan Rembrandt. Filsafat dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Bacon, Rene Descartes, dan Liebniz serta sains mulai menjadi bidang yang penting melalui tokoh-tokoh seperti Galileo, Keppler, dan Isaac Newton.


Sumber: McNeill, Rhoderick. Sejarah Musik 1. BPK Gunung Mulia. Jakarta: 1998. Hal 170-172

Bentuk-Bentuk Dasar untuk Musik Instrumen (Bagian 1)

Passacaglia: Asal mulanya adalah tarian Spanyol dalam tempo lambat, namun ditransformasikan ke dalam musik organ oleh para komposer Italia. Bentuknya kurang lebih mirip dengan chaconne (berkarakter empat ketuk yang mana secara konstan mengulang bunyi bas, dan di sisi lain, trebelnya memainkan variasinya). Frescobaldi dan Buxtehude adalah awal mula komposer yang menuliskan passacaglia dengan sangat baik untuk organ. Bach kemudian mengevolusinya ke dalam karyanya, Passacaglia in C Minor, yang mana ditranskripsi ke dalam banyak instrument, termasuk simfoni orkestra. Pasca-Bach, banyak sekali contoh passacaglia, seperti Thirty Two Variations karya Beethoven untuk piano, sera Brahms dalam bagian terakhir Fourth Symphony.

Rondo: Bentuk yang amat populer di akhir abad ke-18 dan awal ke-19, biasanya digunakan pada piano oleh para komposer Era Klasik. Jika diibaratkan abjad, maka dalam rondo ada yang disebut “A”, yakni bagian utama yang sering diulang beberapa kali dalam satu karya; lalu bagian “B”, “C”, dan “D” merepresentasikan bagian lainnya. Rondo biasanya merupakan kombinasi dari A-B-A-C-A, A-B-A-C-A-D-A, atau terkadang A-B-A-C-A-B-A.
Bentuk rondo merupakan pengembangan dari kombinasi tarian abad ke-13, serta nyanyian abad ke-15 dari Prancis yang dikenal dengan nama rondeaux. Rondo pertama dalam instrumen ditemukan pada literatur untuk harpsikor. Contoh yang baik untuk sebuah rondo ditemukan pada karya Joseph Haydn berjudul Gypsy Rondo untuk piano. Mozart juga menulis rondo untuk solo piano, piano dan orkestra, violin dan orkestra, serta horn dan orkestra. Beethoven juga membuat beberapa rondo untuk piano serta violin dan piano.

Rhapsody: Salah satu bentuk dalam musik piano. Rhapsody diciptakan oleh seorang komposer asal Bohemia bernama Tomaschek, yang mana ia menghasilkan enam karya rhapsody. Franz Liszt menjadi yang terdepan dalam pembuatan karya rhapsody secara nominal, dengan lima belas karyanya yang berjudul Hungarian Rhapsody. Liszt mengambil materi rhapsody tersebut dari musik tradisional Hungaria-Gipsi. Adapun Brahms juga membuat tiga rhapsody untuk piano, yang diambil dari konsep Yunani Kuno: Puitis dengan karakter epik dan heroik. Rhapsody juga sering dipakai di musik orkestra pada perkembangan berikutnya.

Diecky K. Indrapradja: Mengomposisi dan Memainkan Musik itu Sama


Nama lengkapnya Diecky Kurniawan Indrapradja. KlabKlassik (KK) ingat kapan awal mula mengenalnya. Waktu itu sekitar tahun 2006, ada semacam gathering musik klasik di Aula RS Borromeus. Pembicaranya seorang komposer ternama, Dieter Mack. KK menjadi peserta, Diecky menjadi pengisi acara. Ia dan teman-temannya, bermain gitar secara ensembel, dan KK tertarik untuk mengenalnya pasca acara. Oh, nama ensembelnya kala itu, Classical Guitar Community (CGC). Perkenalan itu tumbuh dan berkembang, hingga akhirnya KK tahu bahwa Diecky tak hanya bermain gitar, tapi juga mengomposisi. Selain komposisi, Diecky yang kelahiran Malang 16 Oktober 1979 yang juga lulusan Sekolah Tinggi Musik Bandung (StiMB) itu juga senang membuat even-even musik klasik. Keseluruhan aspek yang dimiliki Diecky inilah yang membuat ia sejalan dengan semangat KK, terutama oleh pendiriannya yang juga komit terhadap kemajuan musik klasik di Indonesia. Seperti apa orangnya? Mari.

KlabKlassik (KK): Hai Dik, sibuk apa nih sehari-harinya?
Diecky (D): Sebagian besar waktu saya habis untuk berfikir dan berbicara dalam ranah musik. Berfikir dalam arti menggali ide-ide baru untuk kemudian diaplikasikan dalam sebuah karya musik, selanjutnya disajikan kepada publik, sedangkan berbicara maksudnya mentransver pengetahuan-pengetahuan musik yang saya miliki kepada teman-teman yang membutuhkan siraman rohani baru dalam bermusik, baik secara formal institusi, maupun secara non-formal, seperti forum-forum diskusi, private lessson, dan sebagainya. Selebihnya, menonton konser, mendengar musik, browsing, dan bermain-main dengan kucing-kucing peliharaan.

KK : Waduh, berat juga yah, Dik. Bicara musik, ada gak instrumen musik yang dikuasai?
D : Dari kecil sudah belajar gitar, karena konon gitar itu instrumen yang paling romantis. Kemudian piano, karena range suaranya yang lebar bisa mewakili instrumen lainnya. Terakhir kacapi dan gamelan, karena warna suaranya yang brilliance dan mendamaikan.

KK : Oke, lalu, mengapa tertarik komposisi? Dan mengapa mengambil jalur kontemporer?
D : Karena komposisi memacu saya untuk terus belajar hal-hal baru, membaca pergerakan zaman, dan mengaktualisasikannya ke dalam karya, syukur-syukur kelak bisa bermanfaat bagi kemaslahatan seni musik ke depannya. Kontemporer itu hanya sikap saya dalam berkarya, semangat untuk tidak terpenjara terlalu lama dalam kamar estetis tertentu dan cara pandang dalam melepaskan diri dari keangkuhan zaman yang terlanjur membentuk kita.

KK : Bicara komposisi, sejauh ini udah berapa komposisi yang ditulis?
D : Tidak terlalu hafal secara angka, tapi yang jelas kalau untuk katagori karya-karya komposisi sampai saat ini relatif tidak terlalu banyak, selebihnya karya-karya aransemen dan ilustrasi musik pesanan. Kalau saran saya sih jangan pernah menghitung berapa banyak karya yang sudah kita buat, tapi seberapa besar kualitas karya kita, baik secara kesegaran ide/konsepnya, originalitasnya, sisi filosofisnya, dan manfaat bagi perkembangan dunia musik. Setelah itu baru produktivitas berkaryanya harus tetap dijaga.

KK : Memangnya, siapa sih guru komposisi kamu?
D : Kalau secara formal, belajar komposisi musik dengan Royke B. Koapaha. Kemudian pernah belajar world music dengan Deni Hermawan, musik-musik Sunda dengan Heri Herdini, short lecture dengan Shin Nakagawa, Dieter Mack, Jody Diamont, dan Roderik de Man. Selebihnya sering sharing dan diskusi dengan beberapa komposer Senior, baik dari Indonesia maupun dari Luar Indonesia.

KK : Oke, sekarang, bicara pengaruh, siapa dan apa sajakah yang mempengaruhi komposisi kamu?
D : Yang mempengaruhi komposisi saya adalah lingkungan dimana saya berkarya, karena hampis setiap karya saya adalah aktualisasi musikal dari lingkungan itu sendiri. Tidak harus manusia, gonggongan anjing-pun bisa mempengaruhi, tidak harus mendengar salah satu symphony yang terkenal, tangisan bayi pun-bisa mempengaruhi, bahkan

KK : Masih tentang komposisi ya, menurut kamu, sejauh ini, apakah komposisi kamu punya karakter? kalau punya, apakah yang kamu tonjolkan?
D : Karya-karya komposisi musik semakin ke sini, semakin individual dan otonom. Artinya setiap komponis bukan lagi mewakili zamannya, melainkan mewakili dirinya sendiri. Begitu juga komposisi saya, tidak mewakili zaman(saat) saat ini. Dari keseluruhan komposisi saya, antara karya yang satu dengan karya lainnya memiliki kemerdekaan dan kemandirian sendiri-sendiri, baik kemandirian ide/konsep, aspek filosofis, teknik komposisi (composition tools), dan lain-lain. So, semuanya punya sesuatu yang menonjol, hanya dari sudut mana kita melihat tonjolan itu.

KK : Adakah pesan khusus yang mau disampaikan lewat komposisi-komposisi kamu?
D : Waktu berubah dan zaman berganti, disadari ataupun tidak, kita sebenarnya ikut berubah didalamnya. Bukan kita harus terhanyut, bukan pula harus berganti arah. Namun yang pasti sadari dimana kita berdiri dan bersikap.

KK : Oke, sedikit mengaitkan dengan yang lain, apa bedanya memainkan musik dan mengomposisi?
D : Mengkomposisi itu juga memainkan musik, namun dalam ranah imajinasi dan privasi (musik). Sedangkan memainkan musik itu juga mengkomposisi, namun dalam ranah interpretasi dan eksekusi (musik). Artinya baik mengkomposisi maupun memainkan musik, sama-sama memiliki peran yang penting dalam lingkaran seni pertunjukan, disamping peran musikolog, edukator, dan publik sendiri.

KK : Bagaimana sikap kamu terhadap interpretasi orang-orang yang mencoba memahami karya kamu? apakah ketat atau fleksibel? bagaimana juga tanggapan kamu terhadap konflik yang biasa terjadi dalam musik klasik karena urusan interpretasi?
D : Setiap pemain yang memainkan karya saya, mereka adalah eksekutor sekaligus apresiator pertama. Untuk itu dituntut harus benar-benar tahu ide/konsep setiap karya tersebut dan memahani naskah/score dengan baik. Selanjutnya pada saat pertunjukan, apresiator yang sebenarnya adalah publik/audience. Bagi saya mereka punya kebebasan menginterpretasikan karya yang baru saja mereka dengar/lihat.

Konflik interpretasi dalam musik klasik itu sangatlah wajar, karena karya-karya yang dimainkan dalam repertoar klasik (secara umum) tersebut adalah karya warisan, dimana naskah/score yang beredar saat ini sudah di campuri ribuan “tangan”, yaitu munculnya banyak versi, transkripsi, edited by, fingering by, dan sebagainya. Sementara para komponisnya sendiri sudah tidak bisa mempertanggungjawabkan kekaryaannya tersebut, karena memang sudah meninggal.

KK : Terakhir, Dik, apa arti Klabklassik buat kamu?
D : Bagi saya klabklassik adalah wadah bertemunya para seniman-seniman musik, pemain musik, komponis, pengamat musik, pengajar musik, bahkan publik secara umum. Sarana untuk berapresiasi, mengedukasi, memprovokasi (secara positif), hingga oborlan omong kosong yang setengah kosong setengah isi.

KK : Oh, sepertinya ada pesan yang ingin Diecky sampaikan, apa itu?
D : Kompleksitas sebuah karya seni (musik) terkadang membuat kita lebih memilih menghindar menikmati daripada mencoba memahami. Sementara laju budaya instan yang serba cepat dan serba mudah terlanjur ditawarkan di zaman ini. Pesan saya khusus buat klabklassik, semoga bisa menjadi harapan yang patut dicatat, atas segala kreativitas dan aktivitas yang menjembatani keduanya. Semangat terus Klabklassik!

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.