Monday, December 29, 2008

The Miracle of Finger

Konser Amal Jubing Kristianto
(Istana Muara, 5 Desember 2008)














Luar biasa, mungkin apresiasi itu cukup pantas untuk diberikan kepada seorang Jubing Kristianto ketika ia memainkan gitar akustik dalam konser tunggalnya yang bertajuk 1001 face of guitar di Gedung Istana Muara, Bandung pada hari Jumat, 5 Desember 2008. Permainan gitar akustik yang dinamis dan penuh dengan teknik-teknik gitar klasik yang memukau ditampilkan Jubing dengan sangat apik dan ekspresif. Penonton yang hadir pada saat itu juga dibuat berdecak kagum dengan permainan gitar akustik Jubing yang pada saat itu membawakan lagu-lagu dari dua album solo gitarnya, Becak Fantasy (2007) dan Hujan Fantasy (2008). Selain dari dua album solonya tersebut, malam itu juga ia membawakan komposisi-komposisi lain baik dari musisi dalam negeri mau pun luar negeri dengan dipandu secara interaktif dan menghibur oleh Ananda Buddhisuharto. Lagu-lagu dalam negeri seperti lagu anak-anak Hujan Fantasy ciptaan ibu Soed yang sangat sederhana, dibuat komposisinya sendiri oleh Jubing menjadi begitu variatif dan ceria, dengan beberapa tehnik-tehnik gitar klasik yang begitu terlatih. Sementara itu, lagu Becak Fantasy sendiri yang merupakan jagoan dari album solo Jubing yang pertama, ia mainkan duet bersama bintang cilik Cha-Cha yang merupakan juara Bintang Cilik RCTI 2004. Juga lagu-lagu tradisional daerah seperti beungong jeumpa dari Nangroe Aceh Darussalam dan Ayam den Lapeh lagu pop dari Minang, dimainkan Jubing dengan sangat unik dan terasa sekali sentuhan-sentuhan melodi bernuansa kedaerahan yang begitu harmoni.

Konser amal Jubing, yang juga merupakan acara amal untuk lembaga sosial SOS Kinderdorf-Desa Taruna Indonesia ini, turut juga dimeriahkan oleh hadirnya bintang tamu yang dihadirkan secara khusus dari solo yaitu Suryadi Plente Percussion, cucu dari Gesang, yang malam itu tampil berduet bersama Jubing membawakan lagu Gundul-Gundul Pacul , cukup membuat penonton terkesiap dan mendapat sambutan yang cukup meriah, terbukti dengan beberapa kali penonton bersorak dan bertepuk tangan di sela-sela lagu tersebut sebagai apresiasi terhadap permainan mereka. Selain lagu-lagu diatas, Jubing juga membawakan lagu-lagu hasil ciptaannya sendiri diantaranya yaitu Song for Reny sebuah karya Jubing yang diperuntukkan bagi istrinya sendiri Renny Yaniar, seorang penulis cerita anak-anak, yang pada malam itu hadir dan menyempatkan diri untuk naik keatas panggung, juga Once Upon a Rainy Day yang dibawakan jubing dengan melodi-melodi yang mengalun romantis dengan tempo yang lambat.

Untuk lagu-lagu dari musisi luar negeri, lagu Bohemian Rhapsody dan Mission Impossible tentunya merupakan lagu-lagu yang cukup kompleks dan sedikit rumit untuk memainkannya, Jubing sendiri mengakui bahwa dia perlu sedikit konsentrasi untuk memainkannya terutama pada lagu Bohemian Rhapsody yang merupakan karya dari Queen, dan memang luar biasa hasilnya, Jubing memainkan lagu-lagu tersebut dengan sangat rapi, megah dan begitu jelas petikan demi petikan dengan tempo yang dinamis menyuguhkan sebuah komposisi musik yang sangat indah, sampai-sampai penonton yang hadir saat itu berdecak kagum dan memberikan tepuk tangan sambil berdiri setelah ia selesai membawakan lagu-lagu tersebut.

Yah, tidak mudah memang untuk menjadikan sosok Jubing Kristianto hingga sampai seperti saat ini, segala sesuatunya butuh proses dan tidak instan dibutuhkan ketekunan, kesabaran, rajin berlatih dan tentunya juga didampingi oleh seorang pembimbing pada saat belajar bermain gitar klasik untuk mencapai hasil yang optimal, walau pun bisa seseorang memainkan gitar klasik secara otodidak, akan tetapi dengan adanya seorang pembimbing maka diharapkan pencapaian seseorang untuk bisa memainkan gitar klasik hasilnya akan lebih cepat, begitu menurut Jubing ketika menjawab sebuah pertanyaan dari peserta Coaching Clinic Guitar yang diadakan di Student Lounge SBM-ITB Bandung, sehari sebelum Jubing mengadakan konser amalnya.

Sulit dipercaya memang bahwa dalam satu gitar yang terdiri dari enam senar mampu menghasilkan suara yang sangat beragam dengan petikan-petikan yang bersahutan antara bas, melodi dan akord yang menjadikan sebuah gitar sebagai layaknya sebuah mini orkestra. Tapi Jubing Kristianto adalah salah satu dari musisi gitar klasik tanah air yang sudah membuktikan bahwa hanya dengan satu gitar akustik saja sudah cukup untuk menampilkan sebuah orkestra gitar tunggal. Keberanian Jubing Kristianto untuk mengeksplorasi kemampuannya dengan beberapa konser baik di dalam maupun diluar negeri juga karya-karya lain yang dibuat olehnya baik dari buku maupun CD, mudah-mudahan dan berharap optimis dapat menjadi awal yang baik bagi musisi-musisi gitar klasik lainnya mengikuti jejak langkah sang maestro gitar tersebut untuk mensosialisasikan kepada masyarakat luas tentang potensi keindahan seni bermain gitar akustik tunggal.

dr. Hengki Stepanus Ranjabar


No comments:

Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.